Pegangannya di gelas mengencang saat ia melihat gadis di depannya tersenyum dingin.
Masih. Gadis itu masih berbicara.
Ia tahu dirinya belum bisa menyela gadis itu, tahu kalau ia terlalu terkejut untuk melakukannya.
Keriuhan pesta pertunangan di sekitarnya mendadak senyap.Sungguh aneh.Ia masih bisa melihat melihat beberapa orang bercakap, meneguk minuman dan tertawa di sudut- sudut ruangan. Tapi kenapa yang di dengarnya hanya helaan napas putus asa dari gadis dihadapannya?
Sesak dalam dadanya semakin menjadi ketika gadis itu menurunkan pandangan dan menggeleng, setelah mengatakan hal yang paling ditakutkan olehnya.
Seperti dugaannya, gadis itu mulai tahu.
Perlahan ia menghembuskan napas yang sejak tadi di tahannya, berharap gadis itu tidak membaca apa yang menjadi kegugupan dan kengerian yang telah terpancar di matanya.Tapi di matanya saat ini hanya ada kegelapan. Gadis itu pasti memperhatikan.
Dan ada yang berbeda dari cara gadis itu menatap dirinya. Bola mata cokelat terang itu Seakan-akan menusuk sesuatu di dalam dirinya, membuat nyeri di sekujur tubuhnya sekarang.
"Kau salah paham. " Tenggorokannya tercekat, dan suaranya terbata- bata saat mengucapkan kalimat itu. Ia berharap gadis itu percaya, meski mustahil gadis itu mau menelan mentah- mentah penjelasan singkat semacam itu."Dan kau keliru."
Tatapan gadis itu tampak terluka, ia semakin kalut dan lumpuh. Entah ekspresi apa yang terpantul di wajahnya sendiri saat ini, ia masa bodoh.
Satu hal disadarinya, saat ini, ia enggan menunggu lebih lama lagi. Cepat atau lambat, sebelum gadis itu semakin membencinya...
Ia harus pergi.
Bagaimanapun caranya.
Canberra, Australia.
Ruang tunggu bandara Canberra dipenuhi beberapa calon penumpang. Selain obrolan dalam berbagai bahasa asing yang menyeruak di udara terdengar deru pesawat lepas landas dan mendarat pun telah membuat situasi semakin bising.
Hari itu, di awal bulan Oktober, cuaca dilaporkan oleh pemberitaan media mengenai cuaca hari ini adalah cukup berangin. Hal ini dilihat dari pemandangan yang menaungi apron di luar sana. Hujan yang reda beberapa menit lalu meninggalkan jejak berupa langit biru yang jernih. Kini segalanya tampak jelas di sekitar dan terasa lebih menyenangkan.
Seperti perasaan Oscar Liu siang ini.
Diantara ratusan penumpang yang sibuk berceloteh, Oscar Liu duduk di salah satu bangku menghadap ke jendela kaca besar. Tas gitar abu- abu dan sebuah kotak violin bersandar di sebelahnya. Wajah Oscar Liu yang putih tampak berseri. Pancaran di matanya pun berkilat- kilat senang di balik kacamata hitam, ia merasa dirinya seolah-olah hidupnya sekarang ini tak memiliki beban apapun.
Dan detik ini, pendapat itu bisa dibilang benar.
Oscar Liu menyalakan IPod dan mulai mendengarkan lagu dari earphones.Sambil tersenyum lebar, ia mulai mengetukkan ujung telunjuknya pada layar IPod yang menampilkan foto lelaki berambut gondrong sedang memainkan violin. "Tunggu aku, Daniel, " katanya.
Oscar memang ingin secepatnya menyaksikan satu konser perdana musisi Inggris yang mempengaruhi musiknya di Hongkong,bulan depan. Hal ini membuat dirinya bersemangat sekali untuk hadir.
Saking senangnya, ia merasa perlu membagi sedikit keceriaannya kepada siapapun yang dilihatnya. Ia pun menyesap kopi di gelas kartonnya.Dan, seulas senyuman itu bertahan lama.
Ini mungkin bukan hanya tentang konser perdananya ataupun cuaca yang cerah. Tapi juga karena sudah lama sekali Oscar Liu menanti kesempatan ini untuk bepergian seperti saat ini. Bebas dari studio, bebas dari jadwal pembuatan video klip, dan bebas dari manajernya yang berisik. Sulit dipercaya, ternyata ini hidup bisa terasa seriang ini, pikirnya lega.
Oscar melepas earphones dan menaruh gelas karton di sisi violin. Lalu ia mengaduk ransel miliknya untuk mengeluarkan buku yang belum sempat dituntaskan olehnya sejak.. sejak.. entahlah, ia sendiri lupa.Oscar Liu hampir tidak bisa mengingat kegiatan normal itu yang biasa dilakukannya selain bermusik. Ia yakin ini hadiah dari awal latihan padat untuk tur dari album terbarunya di Hongkong tiga minggu lagi, sejak awal tahun ini atau beberapa bulan lalu. Karena itu pula, manajernya. Meski terpaksa, akhirnya memberikan Oscar Liu kelonggaran untuk cuti sejenak.
Beberapa detik kemudian hpnya Oscar Liu berbunyi. Ia meraba-raba saku mantel, mengeluarkan hpnya, kemudian tersenyum sekilas melihat nama Berliana, si manajernya, di layar. "Ada apa? "
"Kau sudah di bandara? "
"Ya."
"Kau hanya punya waktu dua minggu sebelum kamu ada rehearsal ".
" Aku tahu ", sahut Oscar ringkas melebarkan seulas senyumnya. " Jangan bilang kau sudah sangattttttt luar biasa merindukan aku, yang benar saja, Berli."
Terdengar umpatan di seberang sana, membuatnya menahan tawa sambil menyisir rambut lurusnya di belakang punggungnya.
"Lalu dimana kau akan menginap? " tanya Berliana di dengarnya mulai serius.
"Aku belum memikirkannya. Hotel, mungkin? "
"Sekadar informasi, kepergian kamu ke Hongkong di mulai mengundang rumor. "
"Rumor apa? "
Berliana berdecak. "Orang-orang berpikir bahwa kau akan menemui Selina di sana."
"Omong kosong. "
"Kau... Benar-benar tidak akan menghubungi Selina di sana. "
"Kenapa aku harus melakukannya? " Oscar Liu sedikit menurunkan pandangan saat menangkap keraguan pada suara Berliana. Tangannya masih menempel di atas kepala. "Dia sudah bahagia bersama pasangan pilihannya sendiri, " timpalnya pelan.
"Baiklah, kau keliru. Dia dan Ryan berhubungan jarak jauh saat ini. "
"Itu bukan urusanku. " suara Oscar Liu berubah datar. "Hei, Berli, bisakah kau membersihkan apartemenmu selama aku tidak ada?"
"Kau mengalihkan pembicaraan. " Berliana terdengar mendengus, lalu menambahkan. "Dan ingat, aku ini menjadi asisten rumah tangga tidak ada di dalam kausal kontrak kita. "
"Aku akan membuat adendum untuk itu. "
"Kau memang menjengkelkan, " gerutu Berliana. "Lalu kapan kau kembali? jangan bilang kau akan sangat menghabiskan waktu cutimu di Hongkong."
"Aku belum tahu. "
"Baiklah, terserah kau saja. " Berliana sangat enggan meneruskan obrolan. "Cukup kabari aku setibanya kau di Hongkong."
"Nah, kau terdengar seperti pacar yang posesif untuk ku sekarang ini. "
"Bedebah kau, Liu, " rutuk Berliana.
Oscar Liu tersenyum. "Sampai jumpa lagi, Berliana. " Lalu ia memutuskan percakapan sambil mengedik. Ia merasakan kelegaan karena Berliana tak lagi bicara tentang Selina lagi.
Menghubungi Selina? Gila. Mustahil dia mau untuk melakukannya. Dan sejak mendengar nama gadis itu lagi, perasaan Oscar Liu pun seketika berubah agak mendung. Mendung dan gelap.
Sialan, umpat Oscar Liu lalu memasukkan hpnya ke dalam sakunya. Kenapa Berliana manajernya yang sok tau itu harus membicarakan tentang Selina Tan di depannya?
"Bodoh! "
*****
Jelly Putri Wijaya mengintip orang-orang yang terlihat berseliweran di hadapannya sambil merapikan rok sifon gaun maxi berwarna silver. Kerumunan orang- orang yang menggiring koper membuatnya gugup di tempatnya dan ia pun mundur selangkah. Rasa takut membuatnya tidak bisa berpikir. Merasa kian gelisah, ia mencari cara untuk menenangkan diri.Namun, ia merasakan perasaannya kembali dihantui keraguan di setiap kali dirinya melirik ke ruang tunggu. Apa yang kulakukan di tempat ini sebenarnya? batinnya.
Bersambung!!
Ia memejam sekilas untuk berusaha menyamarkan ketegangan pada kedua matanya,tetapi gagal. "Ahh, bagaimana sekarang? " desisnya, menguatkan diri di cengkeraman pada tapi tasnya. Ia masih berdiri di sisi dinding seperti orang tersesat sejak tujuh belas menit lalu. "Mungkin sebaiknya aku pulang saja. Tapi.... "
Jelly melihat keramaian di seberangnya sekali lagi. Ini salah, pikirnya sambil menggeleng kalut. Jika ia diam saja, itu artinya...
Tiba-tiba Jelly terkesiap saat merasakan hp bergetar di dalam genggamannya. Nomor asing, pikirnya sambil mengerjap. Ia menempelkan hpnya ke telinga dan menjawab dengan ragu.
"Halo...? "
"Bagus! Ternyata kau masih hidup! " seru gadis yang berada di seberang handphone.
Jelly menggeleng kecil. "Ini tidak lucu. "
Zoya Amanda tertawa singkat." Oke- oke. Biar aku tebak kau pasti sedang menempel ketakutan di dekat pintu atau dinding saat ini. "
Jelly menatap aneh pada hpnya sebentar. Ah, kenapa bocah itu bisa tahu? "Tidak. Kau keliru. " Ia cepat - cepat menempelkan hpnya kembali ke telinga. " Aku sedang berada di kafe, menikmati kopi cappuccino. "
"Hmm, aku sangsi, " sahut Zoya Amanda menangkap keraguan dalam suara Jelly Putri Wijaya. "kau kan paling takut naik pesawat. "
"Aku berusaha melupakan kejadian itu, Zoya! "
"Aku tahu. Itu hanya kecelakaan. Dan aku bersyukur karena papamu selamat. "
Sambil mengobrol, Jelly berjalan kikuk mencari- cari bangku kosong di ruang tunggu. "Aku hanya ingin secepatnya kembali ke rumah nenekku. "
"Kalau kau kembali berarti pernikahan tetap berjalan. Bagaimana? "
Jelly semakin gusar. Beruntung ia menemukan satu bangku kosong di dekat jendela kaca yang sedikit membelakangi apron, setidaknya perasaannya juga sedikit terobati. "Ini bukan sesuatu yang bisa aku rencakan, " tukasnya ketus setelah beringsut duduk.
"Aku tahu. Tapi mamamu yang merencanakannya," sahut Zoya Amanda enggan." Kurasa mamamu itu selalu bersikap berlebihan. Aku jadi bertanya-tanya, apa dia akan selalu mendikte kamu dari jarak jauh seperti ini selamanya? "
Jelly memangku tasnya dan menurunkan pandangan matanya sedikit. "Entahlah, " sahutnya murung. "Aku selalu melakukan semua yang diinginkannya. Tapi kali diterbitkan.. "
"Aku mengerti, " sela Zoya Amanda. "Dengarkan kata hatimu. Lakukan apa yang menurutmu tepat. Kamu lebih tahu tentang hidupmu dibandingkan mamamu sendiri, bukan begitu? "
Jelly menghirup napas dalam-dalam dan perlahan- lahan menghembuskannya. "Terimakasih, Zoya. Aku akan menghubungimu lagi begitu tiba di hongkong. " sahutnya berusaha tersenyum.
"Aku menunggumu di rumah nenekmu, oke? "
"Baiklah.Sampai nanti".
Jelly menurunkan hpnya dari telinga setelah obrolan berakhir. Sesak di dadanya sejak semalam bahkan belum hilang, kini rasa bersalah ikut menusuk - nusuk pikirannya. " Maafkan aku, Mama. "bisiknya lirih dan kemudian menunduk. " Maafkan a... '
"Bodoh! "
Terkesiap mendengar umpatan cukup keras dari arah seberangnya, Jelly langsung mengangkat wajah. Ia mencari- cari sebentar, lalu matanya segera menyipit ke arah laki-laki berambut hitam pekat yang sedang mengetukkan hp di lutut. Merasa bingung, Jelly pun mengedik. Ada apa dengan laki-laki itu?
Laki-laki berkemeja biru dan celana jeans hitam itu, terlihat menggumam samar. Meski kacamata hitam dari gerak- geriknya yang gelisah, Jelly Putri Wijaya bisa menangkap kesan kalau laki-laki itu sepertinya sedang uring-uringan. Sama seperti dirinya saat ini.
Jelly Putri Wijaya mengangkat bahu dan berpaling ke arah lain. Rupanya bukan hanya dirinya sendiri yang mengalami siang yang berat hari ini. Tepat saat Jelly menoleh, gadis berambut pendek di sebelah kanan menepuk pundaknya.
"Bagaimana menurutmu? Apa kau juga mengagumi orang itu? "
Jelly menyipit ke arah gadis itu. "Mengagumi siapa? " tanyanya polos. Lebih tepatnya bingung.
Gadis tadi tersenyum penuh arti menatap laki-laki di seberang mereka. "Oscar Liu, siapa lagi? "
Jelly mengintip laki-laki itu, lalu melirik gadis yang di sebelahnya.
"Maksudmu laki-laki yang mengumpat barusan? " Ia bertanya ragu. Keningnya mengernyit saat ia melihat gadis itu tertawa.
"Tentu saja. Kau tidak mengenalnya? "
"Mengenali siapa? "
"Oscar Liu. "
"Siapa Oscar Liu itu? " tanya Jelly Putri Wijaya.
Gadis itu mendekap mulut melihat ekspresi kosong Jelly. "Sial, kau pasti bercanda. Mustahil kau tidak tahu Oscar Liu. "
Jelly mengangkat bahu sambil berusaha mengenal nama itu. "Aku... " Ia ragu melanjutkan kalimatnya. Ia berpikir sejenak. Oscar Liu? siapa itu Oscar Liu? Ia bertanya-tanya. Kenapa gadis di sebelahnya bereaksi seolah hanya Jelly Putri Wijaya yang tidak mengenal Oscar Liu di muka bumi ini?
"Kau ini tinggal di mana sih? "
"Aku tinggal di rumah nenekku, " jawab Jelly jujur saja memberitahu. "Di daerah Harbour City, " katanya apa adanya.
Gadis tadi melongo sejenak, lalu akhirnya hanya bisa menggeleng ke arah lain. "Sudahlah, lupakan saja. " Gadis itu mulai mengemasi barang- barangnya dan kemudian berlalu dari sebelah Jelly Putri Wijaya.
Jelly Putri Wijaya memperhatikan punggung gadis itu yang berjalan pergi barusan dengan perasaan aneh. Lalu ia melirik ke laki-laki berdagu lancip dan mulus yang bernama Oscar Liu. Kali ini laki-laki itu sedang membaca buku dan ekspresinya sudah jauh lebih tenang. Jelly masih mengamatinya sambil bertanya- tanya.
Memangnya siapa laki-laki itu?
"Oscar Liu! Itu Oscar Liu! Ternyata dia masih di sini, Australia! " pekik seorang gadis.
"Aku ingin memeluknya dari belakang sekarang juga! "
Obrolan di belakangnya membuat napas Oscar Liu di tempat duduknya tertahan di tenggorokan. Diam- diam ia menggeleng. Entah harus merasa kesal, agak keras kepala, atau ngeri, ia memutuskan berpura- pura tuli.Ia bahkan mencoba memperbaiki posisinya supaya lebih santai, tetapi tetap saja agak risih.
"Aku menonton konser musiknya di festival beberapa hari lalu! "
"Ya.Aku juga. Setiap ada kesempatan, aku selalu ada untuk menyaksikan penampilannya. Di Sydney, atau Melbourne, pokoknya aku selalu melihat penampilan musiknya".
"Aku merasa aneh sebagai laki-laki. Kenapa melihat dirinya bernyanyi di podium membuatku ingin buang air kecil di celana? "
Apa pula itu? Oscar Liu tercengang.
"Tutup mulutmu, Dennis! Dia bisa saja mendengar ucapanmu itu. "
Oscar Liu akhirnya menoleh dan melemparkan satu lirikan dan senyum pahit ke sebaris calon bangku di duduki para penumpang yang sedang membicarakan dirinya. Reaksi mereka persis seperti dugaannya di benaknya. Hening.
Beberapa membalas tatapannya sambil tersenyum malu- malu. Gadis yang berambut ikal kini melambai, tanpa memedulikan koper yang tadi dipegangnya itu terjatuh dalam posisi miring. Sementara laki-laki di sebelah gadis itu bangkit dan mendekat.
"Hei, Oscar Liu. Bolehkah kami mengambil gambar kamu? Kau keren sekali. "
Oscar Liu masih mematung saat laki-laki itu tiba-tiba di depannya. Lalu melirik gadis berambut pirang di sebelah laki-laki tadi.
"Dennis, kurasa dia sedang sibuk membaca, " desis gadis itu sambil mencuri pandang ke buku yang di pegang Oscar Liu.
Bersambung!!
"Sebentar saja, bolehkan? "
Oscar mengamati laki-laki tadi dan gadis di samping nya. Lalu sambil mengangguk pendek, ia mengubah posisi duduknya. "Ya, ya, tentu, " katanya singkat dan seraya menutup buku dan berdeham.
"Tersenyumlah." Laki-laki itu mengarahkan kamera di hpnya ketika Oscar berdiri.
Oscar menurut. Bibirnya bergerak kaku membentuk seulas senyum. Lalu... satu jepretan pun diabadikan.
"Sebentar, " kata gadis di sebelah laki-laki tadi sambil menulis sesuatu di belakang kertas yang ditebaknya sebuah peta. "Maukah kau menunjukkan kertas itu ke kamera hpku? ini untuk temanku. Kumohon? "
Teruntuk Erika, hidup terlalu singkat untuk dirimu ini menyimpan semua perasaan yang tak bisa dirimu ungkapkan.
Kedua alis Oscar terangkat membaca tulisan yang di berikan gadis itu. "Apa yang terjadi pada temanmu? " Ia kemudian bertanya setelah berfoto dengan tulisan itu.
"Maksudmu Erika? " Gadis itu langsung tersenyum. " Dia pelukis yang bermasalah dengan perasaannya sendiri. Namaku Cindy," Ia memperkenalkan dirinya kepada Oscar seraya menjulurkan tangan.
"Dan aku Dennis. Dennis Wu, kekasihnya, " kata laki- laki di sampingnya.
Oscar menjabat mereka bergantian.
"Apa yang kau lakukan di Hongkong? Berlibur atau..."
"Aku berencana mengelilingi Hongkong yang menjadi salah satu tempat yang aku kagumi."
"Lalu konsermu di berbagai negara? " tanya Dennis Wu lagi.
"Tur, sebetulnya, " ralat Oscar. "Lain waktu. Dimulai dari Tiongkok. "
Cindy mengangguk datar. "Kupikir kau akan menemui kekasihmu di Hongkong. Siapa namanya? Selina Lin? atau Selina Tan? "
"Selina Tan. " Dennis Wu menyikut kekasihnya. Lalu ia tersenyum sungkan ke arah Oscar. "Baiklah kalau begitu. Terimakasih atas waktumu, Oscar Liu. Hmm, selamat menikmati petualanganmu! "
Oscar tersenyum lebar melihat laki-laki itu menyeret kekasihnya cepat- cepat dari hadapannya.
"Apa? " tanya Cindy menarik tangannya.
"Mereka hanya berteman, " tukas Dennis Wu bisik- bisik. "Selina Tan tunangan William Chow. "
"Maksudmu William yang...? "
"Ya, William yang itu. "
Sambil menarik napas dalam-dalam, Oscar kembali duduk. Sepertinya ia perlu menenangkan dirinya ini sejenak. Kupikir kau akan menemui kekasihmu di Hongkong. Oscar memejamkan matanya sebentar dan menggeleng. Kalimat itu mengusik telinganya. Orang-orang masih saja berpikir dirinya dan Selina Tan berpacaran. Itu harus di hentikan.
Tiba-tiba sebuah ide melintas di benak Oscar Liu.Dan ide konyol sepertinya boleh di coba. Kenapa dia tidak mencari gadis yang bisa menepis rumor tentang diri nya dan Selina Tan? Benar , dirinya ini hanya perlu menemukan gadis yang cantik dan tepat untuk di ajak bekerjasama.Sepertinya mudah sekali,hmm.. ia mengingat banyak gadis mengantri untuk bisa di sisinya. Tapi, bagaimana caranya menemukan gadis yang tidak berharap lebih darinya?
Oscar mengeluarkan hpnya dari saku jeansnya sekali lagi ketika ia mendengar bunyi WA masuk. Alisnya itu langsung terangkat saat membaca pesan tersebut. Yang ternyata dari Berliana.
Sekali lagi aku bertanya, kau yakin tidak akan pernah menemui Selina Tan disana? Dia mungkin sedang memakai gaun seksinya saat ini?
Sial. Sesaat Oscar Liu tidak bisa berkata- kata. Tetapi kemudian dia menarik napas dan menghembuskan secara perlahan-lahan dengan kesal. "Sudah cukup. Kubilang tidak akan..." ia bergumam dan langsung menonaktifkan hpnya. Dan gaun seksinya? Apa - apaan sih ini...
Senyum masam perlahan membingkai bibir Oscar Liu bersamaan pandangannya yang kosong selama beberapa detik. "Berengsek kau, Berliana. " Ia tampak memberengut ke sekitarnya.Ini bukan tentang dirinya yang berlebihan menanggapi pesan sialan itu. Sikap Berliana lah yang berlebihan dan menyebalkan.
Oscar Liu tidak bisa menahan diri untuk merutuk. Ia merasa sesak dan amarah kembali mempermainkan dadanya saat ini. Mengingat Selina Tan sama halnya mengundang wajah William Chow ke dalam hati dan pikirannya, tunangan gadis itu.
Dan, Oscar Liu benci harus mengingat- ingat hal itu lagi. Mencintai seseorang yang sudah bertunangan mungkin bukan kebetulan yang luar biasa. Patah hati selalu menyakitkan, melumpuhkan, kewarasan, dan menciptakan trauma berkepanjangan. Tapi keadaan ini diperparah oleh kenyataan bahwa William Chow adalah saudara sepupu Oscar Liu.
"Sialan kau, Berliana, " sekali lagi ia menggerutu. Oh, Berliana harus tahu bahwa diantara Oscar Liu dan Selina Tan sudah tidak ada apa-apa. Tapi kemudian Oscar Liu merenungi pikirannya, sekarang ia bahkan bimbang dengan perasaannya sendiri.
Memang, segala hal yang menyangkut Selina Tan itu selalu samar dan membuatnya ragu. Oscar Liu selalu berpikir ia bisa mengatasi perasaan itu. Terbukti ia selama tujuh tahun bisa menghindari gadis itu. Tapi, saat ia teringat pesan Selina Tan yang masuk tadi malam ke hpnya, perasaannya kembali harus di pertanyakan.
Ku dengar kau mau berlibur ke Hongkong. Apa kira- kira kira bisa bertemu?
Omong kosong. Ia tahu Berliana pasti sudah bongkar rencananya mengunjungi Hongkong pada gadis itu. Meski sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengusik kehidupan Selina Tan lagi, kenyataannya sulit bagi Oscar Liu mengunjungi Hongkong tanpa memikirkan gadis itu. Terlebih mengetahui bahwa Selina Tan menatap disana.
Oscar Liu menghela napas sambil menggeleng. Ah, kenapa mengunjungi Hongkong bisa menjadi serumit ini? " pikirnya heran. Mungkin ia memang perlu mempertimbangkan ide tentang gadis asing di pikirannya untuk mengalihkan segala hal tentang si Selina Tan darinya. Baik dari perasaannya sendiri dan maupun perhatian media.
Kali ini Oscar Liu kembali membolak-balikan buku di pangkuannya, berusaha untuk menyibukkan dirinya. Ia perlu melupakan segala hal tentang William Chow dan Selina Tan saat ini. Bagaimanapun caranya.
Selama beberapa menit Oscar Liu mulai menikmati baris demi baris di tiap paragraf bukunya lagi, tetapi kemudian....
"Oscar Liu, benar? "
Bahu Oscar Liu langsung melesak.Ia kembali untuk menarik wajahnya dari bukunya sambil menggeram kesal sendiri. Apa lagi sekarang? pikirnya.
"Ya ampun! Ternyata memang Oscar Liu! " Gadis itu tercengang ketika Oscar Liu menoleh. "Apa aku juga boleh meminta tanda tanganmu? "
"Y.. Ya, tentu. " Oscar Liu mengangguk. Bukan, bukan gadis seperti ini yang diharapkannya.
Gadis itu mengaduk- aduk tas kecil, mengeluarkan bolpoin lalu menunduk dan menunjuk belahan ke arah belahan dadanya sendiri. "Aku mau kamu bisa tanda tangan disini. Bolehkah? "
"Baik.. " Oscar Liu terlihat canggung, tapi akhirnya ia setuju. "Okelah."
****
Percakapan dalam berbagai bahasa asing, bunyi ban karet koper yang menggesek lantai,dan juga suara pengumuman dari pengeras..
Sekujur tubuh Jelly mulai terasa dingin. Ia menarik napas panjang diam-diam tanpa menyadari bahwa ia mencengkeram pada lututnya menguat. Kengerian seakan-akan membuat segalanya melesat samar di dalam pandangannya.
Hari ini bukan hari yang mudah untuknya, terutama ia mengingat tujuannya ke Hongkong. Kenapa tiba-tiba semuanya menjadi lebih sulit hari ini? Padahal Jelly yakin semalam tekadnya sudah bulat untuk dirinya ini bisa melakukan perjalanan jauh seorang diri.
Bersambung!!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!