" Pagi anak-anak..." seorang guru wanita berusia kisaran 40 tahunan menyapa para muridnya,buk Wulan...wali kelas 9 A,di salah satu high school ternama dan elite di daerah kepulauan dan bertetangga tetangga dengan Singapura itu.
" Pagi Buk..." balas dari para pelajar remaja kelas 9A.
" Anak-anak.. ibu minta perhatian nya sebentar ya,hari ini kita kedatangan teman baru...tolong bersikap baik dan ibu tidak ingin mendengar ada yang namanya bullying di kelas ini, paham ?"seperti biasa,sang guru berbicara dengan nada lembut namun terdengar begitu tegas.
" Baik Bu.." dengan kompak para remaja itu menjawab, kumpulan para anak-anak pintar yang berada di kelas unggulan.
" Terimakasih...nak silahkan masuk" perintah buk Wulan pada seorang siswi baru.
" Assalamualaikum..." masuk seraya mengucapkan salam, wajahnya menunduk,kedua tangannya menggenggam erat kedua sisi tali tas punggung nya.
" Waalaikumsalam...Shalom..." Guru dan siswa menjawab salam sesuai kepercayaan mereka masing-masing.
" Silahkan perkenalkan dirimu nak,nama kamu dan asal sekolah" perintah buk Wulan.
Mengaguk patuh,sedikit mengangkat wajahnya menatap kedepan,wajah para teman barunya.
" Assalamualaikum... selamat pagi semuanya..."sapanya berusaha ramah dan tak terlihat gugup.
"Waalaikumsalam..pagi.."dengan kompak para penghuni kelas itu menjawab.
" Perkenalkan nama saya Carabella Anisha... teman-teman bisa panggil saya Ara,saya pindahan dari boarding school xxx,semoga kita bisa menjadi teman,mohon bantuannya "
" Mau no WhatsApp nya dong"
" Info Alamat nya?"
" Udah punya pacar?"
Seperti biasa keusilan para remaja laki-laki saat melihat siswi baru dan terlihat cukup menarik.
" Sudah-sudah...sesi kenalan nya di lanjutkan nanti lagi ya,di jam istirahat,kalian bisa kenalan lebih dekat, sekarang, Ara kamu silahkan duduk di dekat Dara,Dara tunjuk tangan nak"
" Terimakasih bu" Ara melangkah menuju bangku nomor dua dari belakang,menuju siswi cantik yang mengangkat tangan nya tadi.
" CV..." Ara meletakkan tasnya di atas meja,ia tersenyum menatap teman sebangku nya,teman barunya.
Remaja yang di panggil Dara menjawab dengan anggukan dan senyuman sangat manis" Gue Aldara,Lo bisa panggil Dara aja" Dara mengulurkan tangannya.
" Aku Ara,kamu pasti udah dengar tadi siapa nama aku" Ara menyambut uluran tangan teman sebangkunya,remaja cantik dengan penampilan berkelas dan memiliki senyum yang manis.
" Hai...gue Balqis dan gue vira" dua gadis yang juga cantik berbalik mengulurkan tangan ke hadapan Ara, walaupun masih canggung Ara dengan cepat menyambut uluran tangan mereka.
" Ara" balas Ara ramah.
" Kita temen ya" putus tiga teman baru Ara.
" Thanks" hanya ucapan terimakasih singkat itu yang Ara berikan,ia masih kurang pandai dalam bergaul, mengingat saat di sekolah lama begitu sedikit yang mau berteman dengan nya,setelah mereka tau lingkungan kehidupan nya.
" Balqis, Savira,Aldara... lanjutkan nanti kenalan nya" tegur buk Wulan tegas.
" Maaf buk" dengan cepat Balqis meminta maaf mewakili para sahabat nya.
Ara tersenyum kikuk melihat tiga teman barunya itu kena tegur guru,ia segera mengeluarkan alat tulisnya.
" Lo liat di buku gue aja " perintah Dara,ia menyodorkan buku paket miliknya hingga berada di tengah meja,antara dirinya dan Ara, karena Dara tau pasti Ara belum memiliki buku yang sama seperti dirinya,buku itu fasilitas dari sekolah yang akan di ambil di perpustakaan.
Ara tersenyum tipis,ia memperhatikan buku di sebelah kanannya,seraya mempelajari sebaik mungkin,ia tidak akan mengecewakan dua wanita hebat yang telah berjuang keras memenuhi kebutuhan nya dan mengharapkan yang terbaik untuk nya.
Dua mapel selesai, saatnya waktu istirahat,guru sudah mengakhiri pembelajaran dan meninggalkan kelas.
" Kuy kantin" Savira yang paling semangat Setiap waktu istirahat tiba.
" Kuy lah,laper banget gue,ga sempat sarapan gara-gara Lo jemputnya pagi-pagi banget" cerocos Balqis mengomeli salah satu sahabatnya yaitu Savira.
" Aku di sini aja boleh?" Ara bertanya dengan nada sungkan.
" Boleh tapi besok ya,hari ini ikutan aja yuk,Lo juga harus tau tata letak sekolah baru Lo,Lo juga harus ke perpustakaan kan buat ambil buku,anggap aja kita-kita pemandu wisata buat Lo" Balqis dengan semangat memberikan ide.
Dara tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya,Balqis memang paling banyak ide di antara mereka,paling bar-bar juga, sedangkan Dara terkenal sebagai siswi cantik,Savira terkenal pintar, walaupun faktanya mereka semua cantik dan menjadi salah satu circle junior yang di idolakan.
Dengan berat hati akhirnya Ara mengangguk,ia ikut bangkit dari duduknya setelah selesai merapikan alat tulisnya ke dalam tas,tak lupa ia mengambil dompet mungilnya dan ponsel.
" Gitu dong,Lo tinggal di kelas yang ada di godain para anak ga jelas itu"
" Sembarangan Lo ya kikis bilang kita-kita ga jelas" omel salah satu teman sekelas mereka yang tadi Balqis lirik saat bicara, tentunya para siswa laki-laki yang terkadang memang memiliki ke usilan di atas rata-rata itu.
" Sensi amat,PMS Lo" ledek Dara santai.
" Kuy..jangan debat" Savira segera menarik tangan Balqis, sedangkan Dara ikut menarik tangan Ara.
" Ra Lo tau kan di sekolah kita ada senior SMA nya, gedung mereka di seberang sana,tapi fasilitas yang kita gunakan sama, seperti lapangan,pustaka dan kantin, karena letaknya di tengah antara dua sisi gedung " Dara menjelaskan tentang sekolah mereka pada Ara.
" Rame dong ya" tanya Ara.
" Banget, apalagi kantin,full dah pokoknya,tapi ga semua kantin,cuma kantin yang ini aja yang paling rame"
" Kenapa gitu?"
" Karena Kantin ini yang paling sering para senior idola kunjungi,ya walaupun mereka jarang nongkrong di kantin sih"
Ara mengaguk paham,ia mengikuti langkah tiga teman barunya mereka duduk di meja sedikit sudut, kedatangan mereka seperti biasa akan sedikit menjadi pusat perhatian para pengunjung kantin.
" Lo ga usah peduli mereka liatin kita,Dara itu termasuk juga salah satu famous di sekolah ini"
" Pantes aja mereka liatin terus sepanjang jalan tadi" ungkap Ara.
" Tapi ada juga yang lainnya, kakak senior kita, sayang nya tukang bully,tapi Lo tenang aja,ga perlu takut,ada kita"
" Dan cowok paling famous itu ketos kita and the Genk nya, mereka di kelas B,dan yang paling ga ada lawan tu senior kita kelas 12 Ipa1, mereka paling idola,paling di kagumi tapi juga paling di takuti "
" Mereka itu andalan nya tim basket tingkat SMA sekolah ini,sekarang mereka sedang di luar kota mengikuti olimpiade basket,dan Lo sebisa mungkin jangan pernah terlibat masalah apapun sama mereka" tiga teman baru Ara itu menjelaskan secara rinci 6666 circle senior mereka.
" Memang nya mereka kenapa kok di takuti?" penasaran Ara.
" Mereka itu para anak pemegang saham terkuat di yayasan sekolah ini,dan ketua dari mereka itu putra pemilik yayasan ini,siapa aja yang berurusan dengan nya akan di pastikan out dari sekolah ini dan akan sulit bisa masuk sekolah bagus lain nya" Dara ikut menjelaskan.
Ara mengaguk paham,baru mendengar cerita tentang mereka saja ia sudah merasa horor,apalagi jika sampai berurusan dengan mereka, rasanya Ara tidak akan seberani itu,ia akan berfikir berkali-kali lipat mencari ide untuk menghindar.
Istirahat tinggal beberapa menit lagi,para siswa menuju toilet untuk melakukan touch sedikit di wajah,biasa sekolah yang di isi para anak orang terpandang, membuat mereka terkadang datang ke sekolah dengan gaya trendi dan mahal pastinya.
Sedangkan Ara memilih untuk langsung kembali ke kelasnya yang berada di lantai dua gedung sekolah, sepanjang perjalanan nya Ara merasa risih dengan tatapan para siswa.
" Lo anak baru?" saat akan menuju kelasnya Ara bertemu sekelompok siswa laki-laki yang tengah nongkrong di depan kelas.
" Ia" Ara menjawab singkat.
" Di kelas mana?"
" Sembilan A" ..
Ara meninggalkan para siswa itu setelah menjawab beberapa pertanyaan mereka,masih sebatas wajar khas menyapa teman baru dan Ara tak merasa terganggu.
Kaivan ivander...sang leader tim basket andalan Senior high school.

Carabella Anisha...siswi baru..di junior high school.
Suara sorakan dan dukungan menggema di sebuah gelanggang olahraga,tepatnya di lapangan basket,para anak muda tengah bergerak lincah menunjukkan kebolehan mereka saat menggiring bola memasuki ring.
" Huuuu....." suara sorak Sorai kembali terdengar.
pertandingan berakhir saat wasit menyebutkan poin terakhir dan tim mana yang menjadi unggul,para pelajar cantik yang berseragam cheeleader mulai turun ke lapangan dan menunjukkan aksi mereka sebagai tim sorak.
" Lo hebat kai" beberapa pemuda gagah dengan tubuh atletis yang di banjiri keringat saling ber tos ria saat tim mereka di nyatakan unggul.
Yang di puji hanya tersenyum tipis,sedikit menyeringai menatap lawan nya yang begitu kentara terlihat tidak menerima kekalahan mereka.
Mereka semua menuju ruang ganti,setelah membersihkan badannya dan berganti pakaian, mereka meninggalkan lapangan, beberapa hari lagi mereka akan kembali ke kota asal mereka.
" Kita harus merayakan kemenangan kita bro.."
" Pasti, gimana kalau sebentar malam kita happy -happy " kata happy -happy itu sudah bisa di tebak tempatnya.
" Ok .siapa takut,dan Lo Kai..Lo harus ikut"
Tak menjawab,pelajar yang akrab di sapa kai itu memasuki mobil,bukan mobil yang di sediakan pihak panitia untuk para atlet,tapi sebuah mobil pribadi yang terlihat begitu mewah,bahkan di lengkapi dengan seorang supir.
Dua sahabatnya Melongo melihat kelakuan sahabatnya yang super irit bicara itu" Tu anak ya, bener-bener gunung es,batu banget"
Kedua sahabatnya tidak ambil pusing, keduanya ikutan memasuki mobil,Leon memilih di kursi penumpang bagian depan,di samping supir, sedangkan Erick masuk ke kursi belakang,bersama kaivan sang pemilik mobil.
Sedangkan guru pendamping dari sekolah tidak pernah bisa mengatakan apapun,sang guru olahraga cukup tau siapa ketiga pemuda itu, mereka bahkan tidak pernah menginap di penginapan yang disediakan panitia, yang terpenting ketiganya selalu memberikan nilai tebaik setiap kali bertanding,dan mereka selalu datang tepat waktu.
Walaupun tidak semua orang tau identitas pemuda yang bernama kaivan ivander itu,tapi dari tampilannya saja sudah cukup mencolok dengan wajah nyaris sempurna nya itu dan dengan style mahalnya.
"Tuan muda mau di siapkan apa malam ini?" Seorang wanita paruh baya dengan cepat bertanya pada putra majikannya yang sudah hampir satu Minggu berada di kediaman utama sang majikan.
" kami makan di luar " tak pernah ada jawaban panjang,selalu sangat singkat.
Kepala pelayan yang tadi menghampiri menghentikan langkahnya dan menunduk hormat" Baik tuan muda"
" Bik kami mau yang segar-segar ya sekarang" Leon meminta minuman segar.
" Baik den,akan segera saya siapkan" dengan cepat wanita paruh baya itu meninggalkan ruang tamu dan menuju dapur untuk menyiapkan minuman yang di inginkan para sahabat tuan mudanya, sedangkan tiga anak muda itu sudah menuju kamar untuk mandi pastinya.
📱-" Tinggal satu hari lagi ma,ia aku tau, ga perlu khawatir bilang ke papa" dengan wajah jengkel kai mematikan panggilan di ponselnya" sangat merepotkan " kesal nya.
Bagaimana tidak,mama nya menelpon nya menyampaikan perintah sang papa yang memintanya untuk datang ke sebuah jamuan makan malam salah satu rekan bisnisnya, karena pria paruh baya yang ia panggil papa itu saat ini tengah berada di Singapura.
Bukan kali pertama kai menggantikan papanya dalam hal itu, bahkan ia sudah sering menggantikan sang papa meeting dengan klien nya,sebagai putra tunggal keturunan pembisnis,kai di tuntut sempurna,bahkan sejak kecil ia sudah di haruskan belajar tentang bisnis,cara menghadapi klien dan cara mengambil keputusan.
Di luar orang melihat nya sangat beruntung, memiliki fisik nyaris sempurna,terlahir dari sendok emas yang mungkin kekayaan keluarganya tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan walaupun ia tidak kerja sekalipun, memiliki keluarga yang sangat harmonis di depan publik, walaupun benar kedua orang tuanya sangat menyayangi nya dan memberikan semua yang ia inginkan,tapi tentu dengan berbagai tuntutan yang harus ia lakukan.
Kai memasuki kamar mandi,ia ingin merilekskan tubuh dan pikiran nya yang terasa begitu lelah,bertemu dengan klien sang papa di perjamuan seperti itu sungguh membuatnya muak,begitu banyak penjilat bermuka dua di setiap acara berkumpul para penggila kuasa itu,dan kai paling membenci orang-orang seperti itu.
Belum lagi ia yang harus menghadapi mereka yang terus mempromosikan putri mereka padanya,di tambah banyaknya para gadis-gadis putri pembisnis yang membuatnya risih dengan tingkah menggoda mereka dan itu sangat menjijikan di matanya.
" Lo mau kemana kai?" tanya Leon saat melihat sang kapten tim nya sudah berpakaian rapi dan formal,setelan kemeja berwarna hitam dan celana bahan senada lengkap dengan dasi berwarna maroon,di lengannya ada jas berwarna senada, pergelangan tangan nya melingkar jam tangan branded,dan pastinya di sempurnakan dengan sepatu formal, tampilannya menipu mata yang memandang,ia terlihat bagaikan seorang pembisnis muda,tak akan ada yang menduga ia masih seorang pelajar sekolah menengah atas.
" Gue ada perlu sebentar" seperti biasa ia menjawab cuek, seorang pria dewasa telah menunggunya di ruang tamu,berdiri sopan dengan wajah menunduk.
Kai menghampiri pria dewasa yang berpenampilan rapi,sama seperti dirinya" Ayo" ajak Kai saat sudah berada di ruang tamu,ia berjalan gagah melewati orang tersebut,orang kepercayaan sang papa.
" Silahkan tuan muda" dengan sigap pria yang berusia kisaran 30 tahunan itu membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya,tuan mudanya masih berusia 17 tahun,tapi aura berkuasanya sangat mendominasi.
Dengan cekatan pria itu memasuki kursi penumpang bagian depan,di sebelahnya ada supir yang selalu siap mengantarkan mereka ke tujuan.
" Gue ga ada banyak waktu di sana" Kai mengintruksikan pada orang kepercayaan papa nya,itu kebiasaan nya setiap kali berurusan dengan pekerjaan sang papa,ia akan memberikan kode bahwa ia tidak ingin berlama-lama.
Hanya dengan kata itu saja,pria dewasa itu sudah paham,ia harus segera mengatasi mencari alasan yang tepat untuk meyakinkan klien sang bos tidak akan tersinggung jika pemuda itu datang hanya mengucapkan selamat atas acara yang di gelar.
" Tuan muda,besok pagi anda harus menggantikan tuan besar menemui klien yang berkunjung ke perusahaan pusat, mereka klien dari luar negeri yang akan bekerja sama dengan Global company bergerak di bidang pendidikan"
Kai memijat pelipisnya seraya memejamkan matanya, rasanya ia sangat bosan dengan hidupnya saat ini,bisnis keluarga kedua orang tuanya sangat besar dan mendunia,bahkan ia dan kedua orang tuanya terkadang bertemu hanya dua atau tiga kali dalam satu Minggu.
Lima tahun sudah mereka tinggal di kepulauan Riau itu,salah satu kota industri yang terkenal dengan banyaknya perusahaan yang di pimpin oleh para investor asing,dan papanya tengah mengembangkan salah satu perusahaan nya di kota itu,sebuah perusahaan elektronik yang cukup besar dan bekerja sama dengan Singapura dan jepang tentunya.
Kai memang selalu terpaksa jika harus mewakili papanya di acara bisnis,tapi ia akan tetap melakukan nya,sedingin dan arogan apapun dia,ia masih memikirkan ribuan bahkan mungkin ratusan ribu karyawan perusahaan keluarga nya yang bergantung hidup pada Global company, mereka makan dengan gaji bekerja pada Global company,kai tidak mungkin membuat mereka kehilangan penghasilan jika sampai global company bangkrut.
" Bagaimana sekolah kamu sayang?ada kendala?" suara seorang wanita paruh baya membuyarkan konsentrasi Ara saat sedang melahap makan malam nya.
Ara mengangkat wajahnya menatap wanita hebatnya, kebanggaan nya" Alhamdulillah lancar Bun, pekerjaan bunda sudah selesai?" angguk nya disertai seulas senyum.
Wanita yang ia panggil bunda mengangguk dan duduk di sampingnya" maafkan bunda sama mami ya sayang belum bisa kasi yang terbaik untuk kamu,belum bisa bawa kamu pergi dari tempat ini" dengan wajah sendu wanita paruh baya itu mengusap lembut puncak kepala Ara.
Ara mengaguk seraya tersenyum,hatinya memang sedih dan sakit harus tinggal di tempat haram dan di pandang hina oleh orang-orang,tapi ia harus kuat,dan selalu tersenyum di hadapan wanita hebat nya, yang mungkin lebih sakit darinya,harus tinggal di tempat itu sudah belasan tahun.
" Ara ga apa-apa Bun,mami juga sudah berkorban banyak, mami juga sayang banget sama Ara,selalu ajarin Ara yang baik-baik" wajah cantik nya selalu ceria dan tersenyum saat berbicara dengan Bunda atau mami nya.
Bunda Suci tersenyum lembut " mami memang sangat baik sayang, walaupun hidupnya di penuhi oleh hal kelam seperti ini,tapi hatinya begitu lembut,ada alasan tersendiri mengapa mami memutuskan menjalani profesi ini,tapi ini bukanlah pilihan nya, keadaan lah yang memaksanya untuk bertahan di sini"
" Ara udah tau Bun tentang masa lalu mami dan mbak Nabila,semoga kita dan mami bisa cepat terlepas dari semua ini Bun"
" Amin...habis ini langsung masuk kamar ya,bunda juga mau tidur,capek,hari ini tamunya lumayan ramai "
" Ia Bun,Ara akan langsung masuk kamar,tapi ada tugas yang belum selesai sedikit lagi"
" Selesaikan dulu tugas kamu,jangan kecewakan mami yang sudah susah payah mengurus sekolah kamu"
" Ia Bun,Ara tau"
" Terimakasih ya nak,atas pengertian kamu" setelah mengusap lembut puncak kepala Ara,bunda suci memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Ara.
****
" Belajar yang rajin ya sayang" mami Dona mengecup lembut kening Ara saat remaja cantik itu akan turun dari mobilnya.
" Terimakasih ya mi,Ara masuk ya.. assalamualaikum " Ara melambaikan tangannya pada wanita yang ia panggil mami,jika sempat wanita cantik nan seksi itu selalu mengantarnya ke sekolah.
" Waalaikumsalam..Bay... sayang..." balas mami Dona sebelum melajukan mobilnya meninggalkan sekolah baru Ara,satu Minggu sudah ia bersekolah di tempat baru itu,setelah dua tahun bersekolah di sekolah asrama.
Wanita yang akrab di panggil mami Dona itu adalah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan energik,memiliki tubuh yang seksi dan anggun, pekerjaan nya memang hina dan Allah melarang nya,tapi beliau selalu memberikan yang terbaik untuk putri nya,menjadi garda terdepan dalam setiap masalah yang Nabila dan carabella hadapi.
Nabila bahkan melanjutkan kuliahnya di salah satu pesantren di luar kota,beliau selalu berpesan pada Nabila dan Ara agar jangan pernah mengikuti jejaknya,dua gadis kesayangan nya itu harus hidup lebih baik dari nya dan bunda suci sahabat nya.
" Ara..sini" panggil Savira saat melihat Ara melewati parkiran.
" Kamu baru datang? Dara sama Balqis mana?"
" Mereka lagi di jalan,aku bareng Juno"
" Hai... adik..." sapa Juno yang baru keluar dari mobil nya.
Carabella tersenyum lembut saat melihat Juno,pria gemulai itu selalu memanggilnya adik, karena di antara mereka Ara lah yang lebih muda enam bulan,Ara baru mengenal Juno tiga hari lalu,pria gemulai itu libur beberapa hari saat pertama Ara masuk sekolah.
" Manis banget sih senyumnya,diabetes eyke" genit Juno.
Ia mengusap lembut puncak kepala Ara,Juno sangat suka melihat rambut panjang Ara yang terlihat begitu indah walaupun selalu di ikat atau di kepang dengan rapi,Ara tidak pernah menggerai rambut nya saat ke sekolah, bahkan ia selalu memakai seragam sekolah yang longgar,menutupi tubuh indahnya.
Sebenarnya ars sangat ingin berhijab seperti Nabila,tapi ia merasa tidak pantas dengan lingkungan tempat tinggalnya,berbeda dengan Nabila yang tinggal di asrama,gadis yang ia panggil mbak itu bahkan pulang hanya satu tahun sekali.
" Jijik gue liat keganjenan Lo" umpat Savira .
Juno mencebikkan bibir nya, memanyunkan nya kedepan " ayang gue kok belum pada kelihatan ya"
" Makan tu ayang,jeruk makan jeruk Lo" Savira selalu meledek sahabat satu-satunya berbeda genre itu.
" Udah ih debat terus,kita nunggu Dara sama Balqis?" tanya Ara,ia menyandarkan tubuhnya di samping mobil Juno.
"Males gue nunggu di sini,di kelas aja yuk" ajak Savira.
Juno dan Ara mengangguk setuju, ketiga nya berjalan beriringan menuju kelas,di iringi dengan candaan konyol Juno.
" Juni...awas tu BH Lo jatuh" ledek salah satu senior mereka yang entah sedang apa di daerah gedung para junior.
" Ih... apaan sih kak Erik... mulutnya,masih pagi juga,nama gue tu Juno ya" protes Juno pada siswa bernama Erik,senior mereka.
" Semalem gue liat Lo di alun-alun pakai nama Juni" ledek Erik .
" Sembarangan kakak ih,emang gue banci Pancoran yang suka nongkrong di alun-alun" dengan cepat Juno membantah tuduhan seniornya itu,mana mungkin dia akan nongkrong di alun-alun, tongkrongan dia itu cafe elite,secara papa nya seorang manager di perusahaan internasional, sedangkan mama nya pemilik beberapa salon ternama di kota itu.
" Aku duluan ya vir,mau ke perpus sebentar" Ara meminta izin duluan pada Savira,ia ingin ke perpustakaan.
" Oh ia,perlu gue temenin?"
Ara menggeleng cepat " Ga usah,ntar Dara sama Balqis nyariin lagi" tolak Ara lembut.
" Ok.. hati-hati ya,awas ada yang godain "
Ara mengangkat tangan nya seraya membentuk bulat jarinya,berbentuk ok.
" Gue aja yang nemenin" Juno baru akan melangkah mengikuti Ara,tapi Savira lebih dulu mencegahnya seraya menggelengkan kepalanya.
" Ara ga cuma ke perpus jun" Savira mengingatkan,satu Minggu ia dan kedua sahabatnya mengenal Ara dan memutuskan menjadikannya sahabat mereka,mereka sudah tau tentang kehidupan pribadi remaja cantik itu,Ara sudah menceritakan semuanya pada mereka.
" Anak baru ?" tanya Erik pada Savira dan Juno.
" Ia kak,baru satu minggu" jawab Savira apa adanya.
Erik mengangguk mengerti,gadis yang terlihat sangat sederhana menurutnya,tapi tak menutupi kecantikan alaminya,Ara bahkan tidak memoleskan pewarna pada bibirnya,hanya sunscreen yang remaja itu oleskan pada wajah nya.
Erik mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya" Gue nitip ini buat Aldara" sebuah kotak kecil ia sodorkan pada Savira.
Savira meraih benda yang Erik sodorkan dan memasukkan nya ke dalam tas" Oh ia kak nanti gue kasi, Daranya belum dateng" .
" Buat Dara doang kak? buat kita - kita mana?" Juno mencebik melihat wajah Erik yang tersenyum.
" Gue ga se tajir Kai.. yang mampu mentraktir seluruh siswa sekolah ini,you know lah" jawab Erik santai.
" Thanks ya vir" Erik meninggalkan Savira dan Juno setelah menyerahkan oleh-oleh yang ia bawa dari Jakarta untuk Savira,junior incaran nya.
Savira dan Juno melanjutkan langkah mereka menuju kelas, yang tak lama Dara dan Balqis juga muncul.
" Ara belum datang?" tanya Dara karena tak melihat salah satu sahabat nya itu,kursi di sebelah kursinya masih kosong,tas sahabat barunya itu juga belum terlihat.
" Ke perpus,biasa.. setoran ayat" Savira menjawab sesuai fakta.
Dara dan Balqis mengangguk paham" jujur gue ga tega banget lihat kehidupan yang harus Ara jalani" Balqis berbicara lirih.
Setoran ayat yang di maksud oleh Savira itu adalah kebenaran, carabella mengikuti pengajian online,setiap hari ia harus menyetor ayat-ayat pendek sesuai tugas yang di berikan oleh ustadz nya,dan ustadz itu atas rekomendasi Nabila.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!