Sarah membanting pintu tepat di saat hujan begitu deras. Wajah terlihat mulai menangis, air mata samar mengalir di tengah suara hujan turun di sertai petir dan angin kencang.
" ibu udah gak sayang aku lagi....!!!! ". Sambil mengusap air matanya Sarah berlari sekuat tenaga menerobos derasnya hujan yang berangin, tak peduli saat itu saat itu pakaiannya sudah basah kuyup. Dia tetap berlari berharap luka di hatinya bisa terbawa oleh derasnya hujan. Malam itu tidak terlalu ramai lalu lintas, mungkin karena hujan yang cukup deras di tambah dinginnya cuaca malam. Sarah berhenti di halte bus sesaat dia sudah cukup jauh berlari meninggalkan rumah. Di halte itu dia tidak sendiri, ada tiga orang lelaki muda dan seorang perempuan paruh baya bersama seorang anak kecil yang berada di pangkuannya. Mereka terkejut dengan kedatangan Sarah yang tiba-tiba dengan pakaian yang sudah basah kuyup.
Sarah yang terlihat sedih dan murung tidak memperdulikan sekitar. Walau saat ini terlihat menjadi tontonan mereka yang berada di halte itu.
" Untukmu...". Salah satu dari tiga lelaki itu menghampiri Sarah, memberikan handuk kecil yang ia keluarkan dari tas Selempangnya. Awalnya Sarah tak ingin menerimanya karena lelaki itu tidak di kenalnya, dan lagi ada rasa curiga terhadap lelaki itu. Lelaki itu tak putus asa dengan wajah yang terlihat ramah dan bersahabat sedikit menurunkan rasa kecurigaan Sarah kepada dirinya. Sarah mengambil handuk kecil itu lalu mengucapkan terima kasih banyak. Lelaki itu hanya tersenyum dan berjalan kembali kepada dua temannya itu. Malam itu entah suasana sedikit mencekam, suara gemuruh petir dan derasnya hujan tidak ada yang mereda sedikitpun. Anak kecil perempuan yang kira-kira berumur delapan tahun itu nampak ketakutan dan memeluk erat sang ibu. Terdengar parau bisikannya bahwa ia sedang merasakan ketakutan yang luar biasa Ibunya hanya terus menenangkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, lalu tersenyum menghibur sang anak yang terlihat masih nampak ketakutan. Batin Sarah sedikit meronta, merasa iri dengan hubungan ibu dan anak perempuan itu.
Sarah melihat jam tangannya, baru saja pukul delapan malam, ia merasa masih sempat untuk pergi ke rumah sahabatnya itu Paula. Bus datang dan berhenti di halte pemberhentian. Tidak ada yang turun saat itu di pemberhentian halte hanya Sarah dan orang-orang yang sudah menunggu halte itu saja yang langsung naik ke dalam bus. Untungnya bus tidak terlalu ramai, terlihat di dalam hanya ada beberapa orang saja menyisakan beberapa tempat duduk yang kosong. Seorang pekerja kantoran dengan setelan kemeja dan celana bahan yang nampak sibuk dengan hp nya. Dua orang remaja putri yang duduk tepat di belakang sopir sambil sesekali mengobrol obrolan keseruan mereka. Seorang mahasiswa berkacamata dengan tas di punggungnya sambil mendengarkan earphone di kupingnya. Dan terakhir adalah dua pasangan dewasa yang tampak romantis, karena sang wanita tertidur pulas di bahu sang lelaki, sedang lelaki sibuk menelepon seseorang.
Sarah memilih bangku sedikit di belakang pojok kanan, wajahnya terus memperhatikan jendela bus yang sudah terlihat basah dengan rintikan hujan deras. Wanita paruh baya dan anak perempuannya itu duduk di bangku tengah, sedangkan ketiga lelaki itu duduk di bangku paling belakang.
" Berita ini sedang viral loh.... ". Jawab seseorang yang dari ketiga lelaki itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu dan kebetulan jarak tempat duduk Sarah dengan mereka hanya terpaut satu kursi kosong saja.
" Berita tentang apa..? ". Satu lagi temannya merasa sangat penasaran.
" Hilangnya beberapa orang secara misterius, lalu yang terakhir Ku baca adalah rombongan tur wisata anak SMA negeri yang akan melakukan perjalanan wisata ke pantai ". Mereka bertiga tampak serius dengan apa yang tertera di salah satu handphone milik temannya itu. Seorang dari mereka menyadari gelagat Sarah yang terlihat nampak sedang menguping obrolan mereka bertiga. Dia hanya tersenyum dan Sarah yang sedikit melirik ke arah mereka sedikit menyadari bahwa dia telah ketahuan. Sarah membetulkan posisi duduknya, dan kembali menatap rintikan hujan yang belum sama sekali reda. Hujan yang lumayan deras itu benar-benar sengat terasa dingin hawanya.
Bus masih berjalan santai, dengan sang supir yang masih fokus untuk menyetir dan melihat jalanan walau agak tidak jelas karena tertutup derasnya hujan yang turun. Bus itu melewati terowongan di bawah jalan, dan tiba-tiba lampu terowongan itu padam semua. Sang supir yang terkejut langsung mengerem mendadak sehingga membuat seluruh penumpang terkejut bukan main.
" Woy pak sopir, loe bisa nyetir gak sih ". Teriak kasar salah satu penumpang lelaki memakai kemeja setelan rapih itu. Supir itu tercengang tidak menghiraukan gubrisan para penumpang. Lampu terowongan yang tiba-tiba mati semua membuat semua gelap gulita dan hanya menyisakan lampu sorot bus yang masih menyala.
" Ada mobil di depanku yang tiba-tiba muncul setelah lampu padam, mobil itu nampak tidak baik-baik saja ". Sang supir mengatakan penyebab dirinya mengerem mendadak. Para penumpang baru menyadari sesuatu bahwa lampu terowongan telah padam. Suasana terlihat gelap gulita tanpa tahu apa yang ada di depan sana.
Beberapa penumpang melihat lebih dekat ke arah depan bus, dan benar saja apa yang di katakan sang supir bahwa ada mobil sedan sedang berhenti dengan posisi miring memakan setengah badan jalan dalam keadaan kap mesin sedikit berasap. Suasana mulai mencekam, hawa dingin membuat bulu kuduk berdiri seakan sesuatu yang berada di kegelapan itu sedang ikut memantau.
" Pak tolong buka kunci pintunya, saya akan memeriksanya ". Tawar salah seorang pasang dewasa itu maju dan sudah berdiri di depan pintu keluar. Sang perempuan yang nampak merasa khawatir tidak setuju dan menggeleng untuk tidak ke sana. Namun sang lelaki itu mencoba memberikan penjelasan bahwa semua akan baik-baik saja. Salah satu dari ketiga lelaki yang duduk di belakang Sarah maju ke depan.
" Saya akan menemani, dan kebetulan saya punya senter mini ". Lelaki dewasa itu mengangguk setuju, dan menyuruh sang supir untuk membuka kunci pintu dan terus menyorot ke depan. Mereka berdua akhirnya turun dari bus dengan perasaan penuh was-was dan rasa ingin tahu. Degup jantung berdetak lebih kencang, kedua laki-laki itu mengendap-endap perlahan dan terus mendekati mobil itu
" coba kau sorot dalam mobilnya ". PInta sang lelaki dewasa itu kepada lelaki yang membawa senter mini itu. Ia langsung menyorot bagian dalam mobil perlahan, dan memeriksa dengan teliti. Terlihat samar sesuatu yang mencurigakan, sementara lelaki satunya lagi memeriksa bagian kap mobil yang sejak tadi mengeluarkan asap. Sorot senternya itu menerangi bagian belakang mobil dan ia merasa ada sesuatu yang sedang tertidur di dalam mobil itu Perlahan ia mendekatkan wajah ke kaca mobil itu, menelisik dengan cukup cermat. Saatnya wajahnya sudah tertempel di kaca, seseorang langsung bangun dengan sangat mengejutkan, hingga sang lelaki yang memegang senter itu berteriak kencang dan terjatuh ke aspal dengan pose duduk. Teriakannya terdengar hingga ke dalam bus, membuat orang-orang di dalam bus panik seketika. Lelaki dewasa yang sejak tadi memeriksa kap mobil itu pun terkejut dan segera menghampiri rekannya itu.
" kau kenapa..? ". Lelaki dewasa itu langsung menghampiri rekannya yang sudah dalam kondisi ketakutan.
" Aaaadaaaaaa...". Ia menunjuk ke arah kaca mobil dengan kondisi syok berat.
" ngomong yang jelas ".
" Ada hantu di dalam mobil itu ". Lelaki itu berteriak histeris. Belum sepenuhnya pulih , dan rekannya juga masih nampak kebingungan tiba-tiba pintu mobil itu terbuka lebar. Seseorang keluar dari mobil itu. Seorang wanita perawakan kurus, tinggi, berambut pendek sebahu, dan hidung mancung serta berkulit putih. Tubuhnya di penuhi luka kecil termasuk di pergelangan tangan dan wajah.
" Perempuan ". Lelaki yang membawa senter mini itu menyorot langsung ke wajahnya. Sementara lelaki dewasa itu masih berdiri mematung. Orang-orang yang berada di bus seketika berkumpul di jendela depan bus. Melihat baik-baik apa yang sedang terjadi. Semua orang nampak terkejut dengan keadaan yang sedang terjadi itu. Sarah yang nampak sama sekali tidak tertarik masih tidak beralih dari tempat duduknya, baginya itu hal yang tidak menarik.
Pintu bis terbuka, tak kala kedua lelaki itu telah kembali, namun dengan satu tambahan orang. Wanita misterius itu di pakaikan jaket oleh lelaki yang membawa senter kecil, karena sedikit kasihan. Semua mata tertuju pada wanita itu yang masih terlihat nampak tenang dan sedikit syok. Perlahan ia melihat ke arah sekitaran, menatap satu per satu wajah orang-orang yang berada di bus itu. Pandangannya berubah ke satu arah yang membuatnya merasa terganggu dengan arah pandangannya.
" Kak SARAH ....". Wanita misterius itu memanggil seseorang yang masih duduk di kursinya. Sarah terkejut mendengar namanya di panggil. Orang-orang yang berkumpul pun kini menatap ke arah Sarah Wanita itu menangis, ia meneteskan air matanya dan berjalan cepat menuju Sarah. Sarah yang berdiri dari kursi nya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" ALENA.....".
Sarah meneteskan air mata, tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Sang adik yang di kiranya telah meninggal dua belas tahun lalu , terlihat nampak sehat dan baik-baik saja. Keduanya berpelukan erat , tenggelam dalam tangis haru dan kerinduan yang mendalam. Semua pasang mata yang melihat masih tampak bingung bercampur haru dengan pertemuan dua saudara kandung itu.
" Ini bener kamu...? ". Sarah mencoba melihat kembali wajah yang di kenalnya itu. Mengusap dengan kedua tangan seakan masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
" Iyah ,ini aku kak.... Alena, adik perempuanmu ". Sarah kembali memeluk Alena hingga benar-benar puas
" Maafin kakak.... Maafin kakak....". Tangisannya pecah seakan Sarah telah memendam penyesalan yang begitu dalam. Sarah melepaskan pelukannya, sambil mengusap air matanya.
" Bagaimana mungkin....? Kamu di nyatakan hilang saat mendaki gunung. Bahkan tim SAR pun tidak dapat menemukanmu ". Sarah mencecar banyak pertanyaan yang membuatnya ingin mendengar langsung dari adik perempuannya itu.
" panjang ceritanya kak ". Sambil menggeleng. Alena tidak bisa menceritakan untuk sekarang ini.
Tiba-tiba lampu terowongan kembali menyala terang. Semuanya di buat terkejut dengan menyalanya lampu terowongan yang sejak tadi berubah menjadi kuning remang-remang. Alena langsung terkejut, matanya memelotot tak percaya. Deru nafas memburu dengan cepat seakan ada ketakutan yang begitu besar akan hal yang akan terjadi.
" Pak supir cepat jalankan busnya ". Alena berteriak histeris hingga membuat semua yang berada di dalam bus terlihat keheranan dan sedikit panik. Alena terus memberontak dari pelukan Sarah.
" Alena tenanglah....". Sarah tetap berusaha memeluknya dengan erat, agar Alena tidak bergerak sembarangan.
" Pak supir cepat berangkat!!!!!!!! ". Dengan nada keras dan mengancam , Alena Tempak memelotot ke arah sang supir. Ia berusaha keras untuk lepas dari pelukan Sarah dan ingin segera menuju kursi supir. Sarah mulai kewalahan untuk menahan tubuh Alena yang teterusan memberontak. Sang supir merasa heran sekaligus bingung, ia tak tahu kenapa wanita misterius itu menyuruhnya untuk jalan. Hingga sesaat terdengar suara kencang, seperti seseorang berbicara dengan pengeras suara, dengan volume yang sangat kencang.
" SELAMAT DATANG DI PERMAINAN DUA PULUH LIMA ATURAN IBLIS. UNTUK PARA PEMAIN KUUCAPKAN SELAMAT KEPADA KALIAN YANG TERPILIH MENJADI PLAYER GAME INI. LALU MENANGKAN LAH HADIAH BESAR BAGI SIAPAPUN YANG BERTAHAN HINGGA AKHIR ". Bunyi pengeras suara itu entah darimana asalnya. Mereka semua di buat kebingungan kembali setelah melihat sikap Alena , dan kini sebuah suara aneh. Alena tidak lagi memberontak, tubuh mungilnya itu sudah tak bergerak tidak karuan lagi, membuat Sarah mengendurkan pelukannya. Alena terjatuh dan terduduk lesu. Ia menghembuskan nafas lalu perlahan di keluarkan, seakan nafasnya begitu berat dan parau.
" Sudah berakhir..... BRENGSEK.....!!!!! ". Alena mengepalkan tangannya dan meninju lantai bus berulang kali. Tangisannya pecah sembari mengumpat dengan kata-kata kasar. Sarah yang tidak tega melihat tangis Alena kembali memeluknya.
" Tidak apa Alena.... Kakak akan selalu bersamamu, kakak tidak akan melepasmu lagi ".
Sang supir berteriak histeris tak kala dia tak melihat satupun kendaraan di terowongan jalan itu. Lampu telah menyala terang,namun ia baru menyadari bahwa seluruh kendaraan telah hilang.
" Bagaimana mungkin...? ". Semua nampak terdiam. Masih mencerna semua kejadian ganjil yang tiba-tiba saja datang terus menerus.
" Ini adalah game. Game yang di buat untuk bertahan hidup. Hanya ada dua pilihan MATI atau HIDUP. Game yang di haruskan untuk menaklukan kedua puluh lima aturan iblis ". Alena membuka pembicaraan.
" Apa maksudmu....? ". Tanya salah seorang penumpang.
" Aku sudah bilang ini adalah game. Kita di paksa untuk ikut sampai kedua puluh lima aturan itu berhasil di taklukan. Tidak ada yang melarang menjadi pemenang untuk satu orang, namun aturan sederhana dari game ini harus kalian taklukan, barulah kalian akan menang dan mendapat hadiah yang luar biasa. Melebihi semua apa yang ada di dunia ".
Beberapa orang tertawa mendengarnya. Hanya lelaki dewasa, dan tiga lelaki yang duduk di bangku paling belakang yang tidak merespon dengan tawa. Bagi mereka itu adalah sebuah lelucon yang konyol. Alena ditertawai seisi bus. Anak perempuan yang sejak tadi di pegang oleh ibunya tiba-tiba menghampiri Alena. Dia memberi senyum dan menyemangati Alena yang masih diam terpaku. Suara langkah kaki terdengar, seseorang sedang berjalan mendekat dari arah belakang bus. Langkahnya terdengar karena terowongan itu terlihat sunyi dan cukup tenang, sehingga suara sekecil apapun akan terdengar.
" Sial....!!!!! Dia akhirnya datang juga ". Alena mengernyitkan kening dan menatap Sarah dengan wajah syok.
" Tenanglah Alena, ada apa sebenarnya ini...? "
" Sang master....... Dia adalah juri sekaligus pengawas game ". Alena menjauh dari belakang bus. Suara pintu belakang bus berderit seperti ada seseorang yang membuka paksa dari luar. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.
" Gak mungkin, pintu belakang bus sudah saya kunci loh.... ". Sang supir merasa terkejut. Langkahnya menaiki bus terdengar. Kini mereka semua bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang menuju ke arah mereka. Seorang lelaki muda yang usianya sekitar dua puluh tahun, dia memakai jas hitam tuxedo dan celana bahan hitam, rambut yang rapih dan mata belo
" AETER...". Alena mengertakan gigi dan memelotot seakan penuh dengan dendam dan kebencian. Kedua tangannya mengepalkan tinju seakan ingin sekali menghajar lelaki berjas itu. Lelaki itu melirik ke seluruh penumpang bus satu persatu, sambil memperlihatkan senyum tipis dengan barisan gigi putih nan rapih. Lirikannya berhenti tajam tepat ke arah Alena.
" Oya.... Kau seharusnya keluar dari sini... Kenapa kau kembali lagi, master ke tiga belas ". Lelaki itu nampak melirik Alena dengan senyuman tipis, namun terlihat penuh makna yang mencurigakan.
" Tunggu dulu....". Lelaki itu memegang dagunya, sambil berpikir sesaat. " Jika kau tak kembali artinya keinginanmu bukanlah pulang ". Masih memasang wajah yang berpikir keras. Lelaki itu melirik Sarah. Dia tersenyum lalu tertawa kencang.
" Inilah penyebabnya......Hahahahahahahha..... Master ke tiga belas selamat datang di game dua puluh lima aturan iblis. Karena dirimu adalah master , aku akan memberikanmu tiga aturan spesial dimana kau dapat menolak tiga aturan dari dua puluh lima ". Lelaki itu tertawa nyaring seakan bahagia melihat Alena dengan reaksi bencinya itu.
" Baiklah , semuanya ini adalah aturan pertama. Takut adalah sifat manusia, hanya mereka yang berani mengambil resiko mampu selamat dari permainan ini. Setiap sepuluh menit sekali lampu akan padam berganti cahaya kuning yang remang, hawa dingin dan ngeri akan menyeruak memenuhi setiap tempat di terowongan ini, bersembunyilah dari sang pemangsa, dan sembunyikan ketakutan mu atau dia akan datang melahap mu ". Semua masih terdiam bingung, lalu lelaki muda itu melanjutkan perkataannya lagi " Master ketiga belas, apakah kau ingin ikut atau tidak...? ". Sejenak suasana tampak hening, Alena bergetar takut seakan keringat dingin telah menyeruak dari seluruh tubuhnya. Ia sama sekali tak hentinya bergetar, seakan sangat takut dengan semua ini, namun sekali lagi Alena harus menguatkan tekadnya dan keluar dari dunia ini bersama kakaknya.
" Aku ikut ". Alena menguatkan tekadnya dan sekali lagi akan percaya kepada kemampuannya. Lelaki itu tersenyum menyeringai, lalu menghilang perlahan seolah ia pergi begitu cepat. Semuanya masih cukup bingung dengan apa yang terjadi. Alena mulai berpikir soal teka-teki aturan pertama. Waktu terus berjalan, sang supir mencoba menghidupkan kembali busnya namun tetap saja tak bisa.
Di saat pikirannya yang kacau itu, Alena mulai berusaha memecahkan teka-teki itu. Ia langsung menggandeng Sarah untuk turun dari bus.
" Alena ada apa..? ". Sarah yang masih bingung dengan sikap Alena hanya bisa mengikuti tarikan tangannya.
" Waktu kita tak banyak, nanti aku jelaskan. Pokoknya kita harus lari dari sini ". Alena melirik jam tangan milik Sarah. Dia meminta Sarah untuk memberikan jam tangannya itu, dan menghitung perkiraan waktu terakhir kali lelaki yang di sebut Aeter itu mulai pergi.
" Sudah lima menit berjalan ". Alena membuka pintu mobil.
" Setelah lampu mati, tolong bersembunyi lah. Jangan pernah bergerak ataupun keluar dari mobil ini. Tahan rasa takut kakak apa pun yang terjadi. Lalu setelah semua ini berakhir, kita akan keluar dari sini bersama-sama. Waktu kita hanya sepuluh menit ". Alena sudah duduk tenang. Ia menarik nafas perlahan dan memperkirakan waktu yang tersisa. Sarah melirik adiknya yang masih terlihat tegang, lalu memegang lembut rambut Alena dan mengelusnya.
" Tenanglah Alena, kakak ada di sini, dan apapun yang terjadi kita pasti akan melewatinya seperti yang sudah-sudah ". Tanpa di sadari air mata Sarah menetes, dia merasa bahagia dan itu sudah tak bisa terbendung lagi.
" Aku rindu sekali padamu..... Sangat rindu sekali ". Sarah mengusap wajah Alena untuk meyakinkan dirinya bahwa ini bukan sekedar mimpi. Alena benar-benar di buat tak berdaya, ini pertama kalinya Sarah menangis untuknya. Sejak dulu kakak perempuannya ini adalah wanita yang tangguh yang bahkan dia tak pernah melihat kakaknya menangis kecuali dua hal, yaitu ketika mereka kehilangan ayah dan kedua adalah saat dirinya jatuh sakit hingga harus di rawat inap.
" Jangan khawatir...... Aku tidak akan kemana-mana ". Alena tersenyum hangat, membuat Sarah merasa tenang saat ini. Lampu tiba-tiba mulai padam satu persatu, seluruh terowongan menjadi gelap gulita, lalu berubah menjadi sinar kekuningan yang sangat remang-remang. Semua orang terlihat panik , suara berisik mereka terdengar hingga Alena dan Sarah yang berada di mobil satunya lagi sangat terdengar gaduh. Alena masih tampak tenang, ia menajamkan pikirannya memecahkan teka-teki pertama, sambil menerka keadaan di luar. Suara tabuh layaknya genderang yang memekikkan telinga terdengar menggema di seluruh terowongan. Alena sudah memprediksi ada sesuatu yang akan datang.
" Aturan pertama, sembunyikan rasa takutmu atau dia ( sang pelahap ) akan memakanmu ". Alena mencoba mempersingkat perkataan sang Aeter. Lalu melirik ke arah Sarah agar tidak panik dan takut. Sarah menuruti perkataan adiknya itu dan tetap fokus, dia pun tidak tahu apa yang sedang di lakukannya itu, namun terlihat mata Alena yang sedari tadi melihat ke belakang kaca mobil dan tetap fokus sambil terus berpikir.
Tak membutuhkan waktu lama, suara teriakan seseorang terdengar sebelum akhirnya membuat seluruh orang-orang yang berada di dalam bus terdengar panik dan ketakutan. Suara itu sangat jelas di barengi suara tawa dan cakaran, hingga teriakan itu sudah tidak terdengar lagi. Makhluk itu tertawa menggelegar dan mulai terdengar semakin jauh. Beberapa detik kemudian lampu yang tadinya bercahaya remang kini telah berubah menjadi bercahaya terang seperti sedia kala. Cairan merah telah banjir dimana-mana memenuhi lantai bus. Semua orang terkejut bukan main tak kala mayat seorang wanita paruh baya dengan tubuh sudah sobek parah dan kepala yang sudah hilang tanpa jejak, seperti bekas gigitan yang kuat hingga memutuskan kepalanya. Orang-orang di dalam bus menyadari bahwa atap bisa telah berlubang. Wanita yang menjadi korban pertama makhluk itu adalah seorang wanita paruh baya yang bersama anaknya yang ikut menunggu bus di halte bersama Sarah. Sang anak menjerit histeris, melihat jasad ibunya telah tergeletak tanpa kepala ,dan di bahu sampai pinggang terlihat luka cakaran yang sangat dalam.
" Bawa anak perempuan itu turun, jauhkan dari jasad ibunya ". Sontak seorang langsung berteriak menyuruh anak itu untuk di jauhkan dari jasad ibunya yang tewas mengenaskan tanpa kepala. Untungnya kedua remaja putri itu, langsung sigap dan menurunkan anak itu dari bus. Salah satu remaja itu memeluk erat anak perempuan yang masih teriak histeris sambil terus memanggil-manggil ibunya. Di tempat lain, Sarah yang telah mendengar suara teriakan histeris anak kecil, melihat ke arah belakang mobil.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!