NovelToon NovelToon

Garis Takdir (Raya)

BAB 1: PROLOG

    Raya Calista Maharani

"Dasar anak tidak berguna! Bangun, kau anak sialan!" seru seorang wanita yang menerobos masuk ke kamar putrinya dengan membawa seember air. Seketika, gadis cantik yang tengah terlelap dalam tidurnya itu terbangun dengan kaget karena air dingin yang menyiram tubuhnya.

"Ibu..." ucap gadis itu terbata-bata, terkejut. Ia menoleh ke arah jendela yang masih gelap, tanda bahwa matahari belum terbit. Bergegas, ia turun dari ranjang dan berdiri di hadapan sang ibu.

"Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah ditampung, masih juga tidak punya malu. Apa kau tidak sadar, Tuan Putri, kalau kau ini hanyalah beban di keluarga ini? Cobalah sadar diri sekali saja! Jangan hanya bisa menyusahkan orang lain!" hardik wanita berusia empat puluh tahun itu, yang menyandang gelar sebagai ibu dari gadis tersebut.

Gadis itu hanya bisa menunduk, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Ia menyadari bahwa keluarganya tak pernah benar-benar menganggapnya ada. Namun entah mengapa, di lubuk hatinya, ia tetap berharap hidupnya bisa seperti orang lain yang lebih baik.

"Maaf, Bu. Semalam aku tidur larut karena mengerjakan tugas kampus ku," ucap gadis itu dengan suara pelan, tetap menunduk.

"Halah, alasan saja kau! Aku tidak mau dengar soal tugas kampus atau apa pun itu. Memangnya siapa yang menyuruhmu berkuliah? Tidak ada yang peduli! Mau kuliah atau tidak, kau tetap gadis bodoh!" bentak sang ibu dengan nada penuh kemarahan.

"Tapi, Bu... aku tetap ingin kuliah. Aku ingin mengejar impian terbesar dalam hidupku," jawabnya lirih, meski keberanian sempat terbersit dalam nada suaranya.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipinya yang mulus, meninggalkan rasa panas dan perih. Gadis itu memegangi pipinya, matanya memerah, menahan sakit sekaligus luka batin yang tak terungkapkan.

"Impian? Impian, katamu? Berhentilah menghayal di siang bolong, gadis bodoh! Sekali debu tetaplah debu! Apa kau berharap butiran debu sepertimu bisa menjadi apa? Hah?!" Sang ibu mendengus kasar. Wajahnya memerah karena amarah yang tak kunjung reda.

"Sudahlah, aku malas meladeni omongan tidak berguna dari anak seperti kamu. Daripada terus menghayal hal-hal tak penting, lebih baik kau pergi ke dapur dan masak untuk keluarga ini! Bersyukurlah, aku masih mau menganggap mu sebagai anakku. Kalau aku bisa memilih, lebih baik aku melahirkan seekor anjing daripada anak seperti dirimu. Sudah jadi beban keluarga, tidak berguna pula!" Ucap nya tanpa sedikit pun memikirkan perasaan Raya.

Setelah melontarkan kalimat penuh kebencian, wanita itu berbalik dan pergi, meninggalkan putrinya yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Gadis itu tidak menangis, meski hatinya terasa remuk. Kata-kata sang ibu terus terngiang-ngiang, menghujam jiwanya yang rapuh.

" Ibu kenapa kau selalu mengatakan bahwa lebih baik melahirkan seekor anjing dari pada diriku, apakah kau tidak bisa sekali saja menatap mata ku sekali saja ? Kau tau aku pun sama sekali tidak pernah meminta untuk dilahirkan jika harus seperti ini " Ujar wanita cantik itu sembari menghapus air matanya.

Wanita itu menghapus air matanya yang ntah sejak kapan sudah luruh begitu saja, dia mencepol rambut nya asal lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.

Raya Calista Maharani, seorang gadis cantik berusia 23 tahun, memiliki wajah tirus dengan struktur tulang pipi yang tegas namun tetap lembut. Alis tebalnya melengkung sempurna, memberikan ekspresi wajah yang tajam dan penuh percaya diri. Sepasang mata hitam pekatnya seolah menyimpan misteri, dengan bulu mata lentik alami yang memperindah sorotannya. Hidungnya mancung, berpadu dengan bibir kecil berbentuk hati yang berwarna merah alami, membuat setiap senyumnya memancarkan pesona menawan.

Rambut panjangnya yang hitam lebat menjuntai hingga punggung, dengan kilau sehat seperti sutra yang tertata sempurna. Kulitnya putih bersih dengan semburat rona merah di pipi, menunjukkan kecantikan alami tanpa cela. Tubuhnya proporsional, tinggi semampai dengan lekuk tubuh yang anggun, mencerminkan keanggunan seorang wanita modern. Dalam balutan pakaian sederhana namun elegan, penampilannya selalu memikat perhatian siapa pun yang melihatnya. Raya adalah definisi kecantikan yang klasik sekaligus memukau, sosok yang sulit dilupakan begitu saja.

Gadis cantik itu tengah sibuk membersihkan seisi rumah kecil yang sederhana. Walaupun ruangannya sempit, ia tetap bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Pagi itu, ia harus menyiapkan sarapan untuk keluarganya sebelum segera pergi ke kampus, karena ada kelas pagi yang tidak boleh ia lewatkan.

Setelah sekitar tiga puluh sembilan menit, akhirnya ia dapat menghela napas lega. Semua pekerjaannya sudah selesai. Tinggal mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus, pikir Raya.

"Pyuhhh... akhirnya selesai juga. Andaikan saja Ibu dan Ayah berubah menjadi baik dan menyayangiku, aku pasti akan menjadi anak yang merasa paling beruntung karena masih memiliki orang tua," gumam Raya sambil mematikan kompor setelah selesai memasak.

Raya melangkahkan kakinya dengan langkah pelan ke ruang makan, tempat seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul dan bersiap untuk menikmati sarapan yang telah ia masak. Suasana pagi itu terasa hening, hanya suara sendok garpu yang terkadang berbunyi saat menyentuh piring, seolah menjadi penanda adanya kehidupan di rumah yang sepi itu.

"Kenapa lama sekali, hah!?" ujar Ratna, ibunya, dengan nada yang penuh ketidaksenangan. Matanya yang tajam menyiratkan rasa jengkel. Raya tidak menjawab. Ia memilih untuk tetap diam dan langsung menyusun makanan di atas meja, berharap dengan begitu keluarganya bisa segera menikmati sarapan. Setiap gerakannya terkesan hati-hati, seakan ia ingin menghindari perdebatan lebih lanjut.

"Kak, kenapa bajumu basah seperti itu?" tanya seorang gadis muda yang duduk di meja makan dengan suara yang penuh rasa ingin tahu.

Gadis itu adalah Novita Anggraeni, yang biasa dipanggil Novi. Ia adalah adik bungsu Raya, berusia 18 tahun, lima tahun lebih muda darinya. Novi memandang Raya dengan cemas, seakan berharap ada penjelasan yang bisa melegakan hatinya. Raya menatapnya sejenak, merasakan rasa sayang yang tak terucapkan pada adiknya itu. Lalu, dengan senyum kecil yang terbentuk di bibirnya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

" Kakak tidak apa-apa, dek. Tadi saat mengepel lantai, kakak terpeleset dan airnya tumpah ke baju kakak," jawab Raya, berusaha terdengar tenang meskipun hatinya dipenuhi perasaan tak nyaman. Ia tidak mungkin mengungkapkan bahwa itu adalah ulah ibunya, yang dengan sengaja menyiramnya dengan seember air.

" Minggir kau, menghalangi jalan ku bodoh!" terdengar suara keras dari seorang lelaki yang baru saja memasuki ruang makan. Suaranya penuh kemarahan, seolah tidak ada sedikit pun rasa hormat kepada siapa pun di sekitarnya.

Lelaki itu adalah Yanto Wardana, putra pertama di keluarga Raya. Raya adalah putri kedua dari tiga bersaudara, namun kehadiran dirinya seolah tidak pernah diakui dengan sepenuh hati oleh sang ayah maupun ibu. Yanto, yang kini berusia 28 tahun, tampak baru saja bangun tidur. Dengan rambut yang kusut dan mata yang masih setengah terpejam, ia berjalan menuju meja makan tanpa peduli dengan suasana di sekitarnya. Raya memberikan jalan dengan terpaksa, merasakan betapa beratnya menjadi seorang anak yang selalu diperlakukan dengan dingin oleh keluarganya.

Pria yang biasa dipanggil Yanto itu, tanpa rasa bersalah, langsung duduk di kursi dan mengambil makanan yang terhidang di meja, seolah semuanya itu adalah haknya yang sudah seharusnya didapatkan.

"Untuk apa kau masih di sini? Pergilah mengganggu orang makan saja!" ujar Ratna, sang ibu, dengan nada tajam saat melihat Raya yang tengah berdiri memandangi mereka makan bersama, seolah terasing di tengah-tengah keluarga yang tampak begitu akrab.

Sejak dulu, Raya memang tidak pernah diizinkan untuk makan bersama keluarganya. Meskipun ia yang memasak dan menyiapkan makanan, ia selalu harus menunggu hingga semua orang selesai makan terlebih dahulu, baru ia bisa makan sendirian, jauh dari tatapan mereka. Kehadirannya di meja makan seolah tak berarti apa-apa bagi mereka.

Raya tersenyum kecil, sebuah senyum yang lebih mirip pada sebuah kebiasaan, lalu berbalik pergi meninggalkan ruang makan yang sederhana itu. Namun, baru saja langkahnya mulai menjauh, ia mendengar namanya dipanggil dengan suara keras.

"TUNGGU!!" teriak Yanto, sang kakak, membuat Raya terhenti seketika. Suara itu penuh dengan perintah yang tak bisa ditawar.

"Iya..." jawab Raya, suaranya lembut, nyaris tak terdengar.

Namun, sayangnya, ucapan lembut itu malah ditanggapi kasar oleh sang kakak. Raya hanya menghela napas pelan dan tetap tersenyum, meskipun hatinya terasa berat. Entah mengapa, ia tidak pernah bisa membalas apapun yang keluarganya lakukan padanya, meskipun ada keinginan besar untuk itu. Seolah kata-kata kasar mereka sudah terlalu biasa baginya.

"Rapikan kamarku terlebih dahulu! Aku selesai makan, kamarmu harus sudah rapi. Aku tidak menerima bantahan!!" perintah Yanto dengan nada tinggi, tanpa menoleh sedikit pun ke arah adiknya itu. Seolah dirinya adalah pusat dunia, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya harus dijalankan tanpa protes.

" Tapi kak, aku ada kelas pagi hari ini di kampus. Aku akan terlambat jika membersihkan kamarmu terlebih dahulu. Tolonglah, mengerti aku untuk kali ini saja," ucap Raya dengan wajah yang sedikit memohon, matanya berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Ia berusaha meminta pengertian, berharap ada sedikit kelembutan dalam hati kakaknya yang keras itu. Namun, harapan itu seolah sia-sia.

"Jika dia menyuruhmu untuk membereskan kamarnya, maka lakukan saja! Memangnya apa susahnya? Kau pikir, kalau sekolah setinggi itu, hidupmu akan jadi lebih berarti? Dasar anak tidak tahu diuntung! Menyesal aku melahirkan anak tak berguna seperti dirimu!" ujar Ratna, ibu mereka, dengan suara serak penuh kebencian yang menambah luka di hati Raya. Perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir ibunya, seakan tidak ada empati sedikit pun.

"Bukan seperti itu, Ibu. Aku memang ada kelas pagi hari ini. Biasanya juga aku selalu melakukan apa pun yang kalian perintahkan, tapi kali ini aku benar-benar harus pergi pagi-pagi," ujar Raya dengan nada lembut, mencoba menahan gejolak emosi di dalam dirinya. Ia memilih untuk tidak menggubris perkataan kasar sang ibu, berharap suasana tidak semakin panas.

"Kamu berani melawanku sekarang?!" suara Ratna meninggi, penuh amarah yang meledak-ledak. Ia bangkit dari kursinya dengan gerakan kasar, langkahnya mantap menghampiri putri keduanya.

Plakkk!

Tangan Ratna melayang begitu saja, mendarat keras di pipi Raya tanpa aba-aba.

"Katakan sekali lagi! Kau berani sekarang melawanku, hah?!" bentaknya, matanya menyala penuh kemarahan.

Raya terdiam. Ia hanya memegang pipinya yang memerah akibat tamparan itu, menunduk dalam-dalam tanpa berani mengangkat wajahnya. Tanpa sadar, air mata menetes perlahan dari sudut matanya, membasahi pipinya yang kini terasa perih.

"Hanya menangis dan menangis saja kerjaan mu! Sungguh menyebalkan!" Ratna berteriak lagi, suaranya menggema di ruangan sempit itu.

"Ibu, sudahlah! Masih pagi, kenapa Ibu sudah memarahi Kak Raya? Ibu ini kenapa? Dia juga anak Ibu. Kasihanilah dia!" Novi tiba-tiba berseru, memecah keheningan yang mencekam. Suaranya penuh keberanian, meskipun tubuhnya gemetar. Gadis itu selalu menjadi satu-satunya orang yang membela Raya, walau ia tahu ucapannya sering kali diabaikan.

"Sudah tidak berguna, tidak tahu diuntung, berani pula melawanku!" balas Ratna, matanya kini menatap tajam ke arah Raya yang masih menunduk, seolah keberadaan putrinya hanya membawa aib.

"Sudahlah! Kerjakan saja! Jangan membuat onar pagi-pagi begini. Aku pusing mendengar kalian bertengkar terus!" ujar Asgar, sang ayah, dengan nada dingin. Namun, nadanya tidak menunjukkan pembelaan untuk siapa pun. Ia berkata hanya untuk menghentikan kekacauan itu.

Raya masih menunduk, tetapi matanya mulai berkaca-kaca lebih deras. Dadanya terasa sesak, dan pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang ia tahu tak akan pernah terjawab. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, ibunya kembali berbicara.

"Seharusnya kau urus anakmu itu!" {kata Ratna kepada suaminya, nadanya penuh penyesalan.} "Anak pembawa sial ini sudah menjadi beban keluarga, tidak berguna pula!" Ratna lalu berbalik dan meninggalkan ruang makan, seolah kehadiran Raya benar-benar membuatnya jijik.

"Sudahlah, Raya! Apa masalahmu pagi-pagi begini membuat keributan seperti ini? Jika kakakmu menyuruhmu membereskannya, maka lakukanlah! Tidak akan menyita waktu sampai bertahun-tahun juga, begitu saja susah!" ucap Asgar, kali ini suaranya terdengar lebih tegas. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar ke atas meja, membuat Raya terperanjat.

Raya akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap ayahnya sejenak, sorot matanya penuh dengan keinginan untuk bicara, meskipun bibirnya tetap terkatup rapat.

"Apa kau tidak ingin membelaku, Ayah?" pikir Raya, bertanya dalam hati. Namun, ia tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab, bahkan jika ia berani mengucapkannya.

"APA?! KENAPA KAU MENATAPKU SEPERTI ITU?!" bentak Asgar tiba-tiba, tatapannya penuh dengan kemarahan yang memuncak.

Raya tersentak dari lamunannya. Ia segera menunduk kembali, meredakan tatapannya yang kini hanya membuat keadaan semakin buruk.

"Maaf, Ayah. Aku akan mengerjakannya. Tolong tunggu sebentar," ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan. Lalu, ia berbalik pergi dari ruang makan, meninggalkan suasana yang semakin mencekam di belakangnya.

Raya membereskan kamar kakaknya dengan telaten. Tangannya lincah melipat selimut dan merapikan bantal, meski pikirannya penuh dengan pertanyaan yang berputar-putar. Setelah semua selesai, ia menghela napas panjang dan mulai bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Raya memang terbiasa disuruh ini dan itu sejak kecil, namun ia selalu melakukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pagi ini terasa berbeda. Hatinya terasa lebih berat dari biasanya. Pukulan yang ia terima dari ibunya masih membekas, baik di pipinya maupun di hatinya. Bukan hanya rasa sakit fisik yang ia rasakan, tetapi juga luka emosional yang terus bertambah. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Raya tahu, ia tidak punya pilihan untuk memberontak. Ia hanya bisa diam dan menerima perlakuan keluarganya, apa pun itu.

Raya keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi. Rambutnya ia ikat sederhana, seragam kuliahnya tampak bersih dan rapi. Di tangannya, ia membawa beberapa buku tebal yang akan ia gunakan untuk kelas hari ini. Sebelum pergi, ia berhenti sejenak di ruang makan. Pandangannya tertuju pada orang-orang yang selama ini ia sebut keluarga, meskipun ia sering merasa tidak dianggap.

Di meja makan, ayah, kakak, dan adiknya sedang menikmati sarapan dengan santai. Piring-piring penuh makanan tersaji di depan mereka, sementara perut Raya masih kosong sejak pagi. Tidak ada yang memperhatikannya. Tidak ada yang memikirkan apakah ia sudah makan atau belum. Bagi mereka, Raya hanyalah seseorang yang tugasnya melayani kebutuhan keluarga.

Raya menatap mereka sejenak, lalu mengukir senyum kecil, meskipun hatinya penuh kepahitan. Dengan suara pelan, ia berkata.

"Aku berangkat dulu, Ayah. Novi, Kak, kamarmu sudah aku bereskan."

Tidak ada respons. Tidak ada yang menoleh atau sekadar melirik ke arahnya. Raya berdiri di ambang pintu rumah, menunggu, berharap ada yang menjawab, meskipun hanya satu kata. Tapi harapannya sia-sia. Mereka tetap melanjutkan sarapan, seolah keberadaannya tidak berarti apa-apa.

Raya menghela napas panjang, lalu melangkah keluar dari rumah itu. Sebelum benar-benar menutup pintu, ia sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kali. Sama seperti sebelumnya, tidak ada yang peduli.

"Memangnya kenapa? Mau aku ada di rumah atau tidak, mereka tidak pernah peduli," pikir Raya dalam hati. Ia menenangkan dirinya dan melangkah pergi dengan cepat.

Setiap hari, Raya menggunakan transportasi umum untuk pergi ke kampus. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun angkutan umum yang ia naiki sering penuh sesak. Raya bukanlah mahasiswa yang berasal dari keluarga berada. Keuangannya terbatas, dan ia tahu ia harus berhemat untuk menyelesaikan pendidikannya. Yang penting baginya adalah sampai di kampus tepat waktu.

Raya merasa bersyukur karena ia bisa masuk ke universitas terbesar di Indonesia berkat beasiswa yang ia dapatkan. Kepintarannya adalah satu-satunya hal yang ia banggakan dalam hidupnya. Namun, karena status ekonominya, ia sering menjadi bahan olokan mahasiswa lain. Perbedaan kasta yang begitu mencolok membuatnya sering merasa terasing.

Meskipun begitu, Raya tidak menyerah. Ia tidak membiarkan perlakuan buruk dari orang lain menghalangi tekadnya untuk belajar. Namun, di tengah semua ini, ia sering bertanya-tanya kepada Tuhan.

"Kenapa hidupku selalu penuh dengan cobaan? Kenapa aku yang harus menanggung semua ini?".....

Perjalanan dari rumah ke kampus hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit. Begitu sampai di halte dekat universitas, Raya turun dengan langkah tergesa-gesa. Ia menghirup udara pagi dalam-dalam, seolah udara kampus memberinya semangat baru. Terlepas dari semua hal yang telah terjadi dalam hidupnya, pendidikan adalah satu-satunya jalan yang ia yakini bisa mengubah masa depannya.

BAB 2: Raden Ryan Andriano Eza Sudradjat

"Tuan, bangunlah. Nyonya sudah menyuruh Anda bangun sedari tadi," ujar seorang pelayan dengan nada pelan namun tegas, mencoba membangunkan seorang pria yang masih asyik bergelung di balik selimut tebalnya.

"Pergilah! Jangan menggangguku!" gerutu pria itu tanpa membuka mata. Suaranya terdengar berat, mencerminkan rasa kesal karena tidurnya terganggu.

"Tapi, Tuan, Nyonya meminta saya membangunkan Anda. Mereka menunggu Anda untuk sarapan bersama," balas sang pelayan, tetap sabar meskipun merasa gugup menghadapi sikap keras pria tersebut.

Mendengar hal itu, pria itu bangkit perlahan dari tempat tidur. Dengan rambut acak-acakan dan mata yang masih setengah tertutup, ia menatap tajam ke arah pelayan tersebut. Tatapan itu cukup untuk membuat siapa pun merasa terintimidasi.

"Ihh... kau ini berisik sekali! Pergi sana! Tidak bisakah semua orang membiarkan aku tenang, barang sehari saja?" ucapnya dengan nada tinggi, membuat pelayan itu semakin kikuk.

"Tapi, Tuan, Nyonya benar-benar meminta saya untuk...." ucapan pelayan itu terpotong karena pria tersebut tiba-tiba melemparkan bantalnya ke arah lain dengan kasar.

"RADEN!"

Sebuah suara tajam menggema di ruangan itu. Seorang wanita dengan pakaian elegan berdiri di ambang pintu, membawa sebuah nampan di tangannya. Wajahnya tegas, dan sorot matanya memancarkan kemarahan yang tidak bisa disembunyikan.

"Mama..." gumam pria yang dipanggil Raden itu dengan nada terbata-bata. Ia langsung memalingkan wajahnya, terlihat jelas rasa panik di rautnya.

"Apa ini?!" seru sang ibu sambil memungut bantal yang tadi dilemparkan. Ia menyerahkannya kepada seorang pelayan lain yang berdiri di belakangnya.

"Aku masih mengantuk, Ma. Karena itulah aku kesal saat ada yang mengusik tidurku," jawab Ryan dengan suara rendah, mencoba mencari alasan. Sang ibu melangkah mendekat, tatapannya semakin tajam.

"Mama yang menyuruh mereka membangunkan mu, Raden. Siapa yang mengajarimu untuk berbuat kasar seperti itu pada orang lain? Mama tidak suka dengan sikapmu ini!" ucapnya dengan nada tegas.

"Tidak ada yang mengajariku, Ma. Tapi aku benar-benar mengantuk. Kalau Mama mau sarapan, sarapan saja duluan. Aku sudah dewasa, Mama tidak perlu menungguku lagi," jawab Raya, berusaha meredakan amarah ibunya.

Raden Ryan Andriano Eza adalah pria berusia 29 tahun dengan penampilan yang sempurna. Guratan wajahnya seolah terukir dengan sempurna oleh sang waktu. Rahangnya tegas, kulitnya putih bersih, dan alisnya rapi. Bola matanya berwarna cokelat terang, terbingkai oleh bulu mata lentik yang tidak biasa dimiliki pria Asia kebanyakan. Hidungnya yang mancung menjadi pelengkap kesempurnaan wajahnya, membuat siapa pun yang menatapnya sulit berpaling.

Namun, di balik ketampanannya itu, Ryan memiliki sifat buruk yang sulit diterima orang lain. Ia dikenal egois dan keras kepala. Baginya, apa yang ia katakan harus diikuti oleh semua orang. Ia tidak suka berbagi, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

Meski begitu, ada sisi lain dari dirinya yang tidak banyak diketahui orang. Ryan sangat patuh pada kedua orang tuanya, terutama pada ayahnya. Ia tidak pernah berani melawan perintah mereka, meskipun sikap keras kepala sering muncul di hadapan orang lain.

"Siapa yang mengajarimu hal seperti ini, Raden? Mama selalu mengajarkan hal-hal baik pada kalian, tapi kau malah berbuat kasar pada Bibi! Padahal, Bibi hanya melakukan apa yang Mama suruh. Dengan alasan kau masih mengantuk, kau melemparkan barang seperti itu? Kau kan bisa tinggal bilang, ‘Iya, Bi, aku akan turun,’ tanpa perlu bertindak kasar!" ujar sang ibu dengan nada tegas, berbicara cepat seperti emak-emak yang tak bisa lagi menahan kekesalannya. Raden menatap ibunya dengan malas, lalu melirik sang ART yang masih berdiri canggung di sudut ruangan.

"Lagipula dia tidak apa-apa, kan, Ma? Iya, kan, Bi?" ujar Ryan dengan santai, mencoba membela dirinya.

Sang ibu, Liu, mendesah panjang. Kekesalannya semakin memuncak. Tanpa menjawab Raden, ia meraih ponsel yang ada di tangan dan segera menelpon seseorang di ujung sana.

"Ya, Sayang, ada apa?" suara pria dari seberang terdengar tenang, kontras dengan suasana di kamar itu.

"Cepat datang ke kamar putramu sekarang juga! Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi pada anakmu ini!" ujar Liu dengan nada penuh emosi.

"Ada apa lagi, Liu?" tanya pria itu, terdengar sedikit bingung.

Liu tidak menjawab. Ia langsung mematikan panggilan dengan gerakan cepat, melempar ponselnya ke sofa terdekat. Suara benda yang jatuh itu membuat Raden merasa semakin tidak nyaman.

"Mama... kenapa malah memanggil Papa?" tanya Ryan dengan nada cemas. Ia memang keras kepala, tapi ketika berhadapan dengan ayahnya, ia selalu merasa terintimidasi.

"Kenapa tidak? Mama heran kenapa semakin dewasa, kau semakin sulit diatur!" balas Liu, kali ini tanpa menatap wajah putranya.

"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, Ma. Lagi pula, benar kan? Aku memang sudah dewasa," ujarnya dengan nada kesal. Liu hanya diam, menahan diri untuk tidak melanjutkan perdebatan. Ia memilih membiarkan suaminya yang akan berbicara langsung dengan Raden.

Tidak butuh waktu lama, seorang pria yang sudah cukup berumur muncul di pintu kamar. Rudianto Reza Segara Sudradjat, dengan tubuh tegap dan wajah penuh wibawa, melangkah masuk. Tatapannya penuh tanya saat ia mendekati ranjang putranya.

"Ada apa, Liu?" tanyanya dengan nada tenang, meskipun sorot matanya menunjukkan ketegasan. Rudianto, meskipun sudah memasuki usia yang tidak muda lagi, masih tampak berkarisma. Rambutnya sedikit memutih di sisi-sisi kepala, menambah aura kebijaksanaannya.

Liu, yang memiliki nama lengkap Putri Liu Ashanty namun akrab dipanggil Liu oleh keluarganya, mendesah berat.

"Tanyakan saja pada anakmu itu. Dia bilang dia sudah tidak mau diatur lagi oleh kita. Aku lelah selalu bertengkar dengannya hanya untuk masalah-masalah sepele seperti ini," ucap Liu, kali ini dengan nada yang lebih lemah, seolah menyerah.

"Kapan aku bicara seperti itu, Ma? Aku tidak pernah berkata seperti yang Mama ucapkan!" balas Ryan, kini tatapannya beralih ke arah ibunya. Wajahnya memerah, menahan emosi yang mulai menguasai dirinya.

Rudianto mengarahkan tatapannya pada Ryan, membuat pria muda itu langsung merasa gugup. Tatapan ayahnya itu begitu tajam, seperti pisau yang mampu menembus lapisan keras kepala Ryan. Ia tahu betul, tatapan itu bukan sesuatu yang bisa ia abaikan.

"Jadi bagaimana, Ryan?" tanya sang ayah dengan nada berat dan tegas. Meskipun kalimatnya singkat, intonasi dan sorot matanya cukup untuk membuat Ryan merasa terpojok.

Ryan menelan ludah, mencari-cari jawaban yang dapat meredam ketegangan. Namun, di hadapan sosok ayahnya, semua alasan terasa kurang masuk akal.

"Aku... aku semalam begadang untuk menyelesaikan pekerjaanku, Pah. Oleh sebab itu aku sangat kesal saat ada yang mengusik tidurku," ucap Ryan dengan nada yang terdengar setengah minta maaf.

Rudianto tidak langsung merespons. Ia hanya menatap putranya dalam diam, membuat suasana semakin mencekam. Liu, yang berdiri di sampingnya, mengambil alih pembicaraan.

"Aku hanya menyuruhnya untuk turun dan sarapan bersama kita, tapi dia malah bertingkah kasar pada Bibi. Dia bahkan berkata dia tidak ingin aku atur lagi karena merasa sudah dewasa. Apa kamu pikir aku salah, Mas? Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk putra-putriku," ujar Liu dengan suara bergetar, matanya mulai memerah menahan emosi.

"Mama... kenapa Mama malah berbicara seperti itu? Aku hanya berkata kalau aku memang sudah dewasa, dan jika kalian ingin makan, makanlah terlebih dahulu. Tidak perlu menungguku," balas Ryan, mencoba memberikan penjelasan yang menurutnya masuk akal.

Namun, sebelum ia bisa melanjutkan, suara Rudianto kembali terdengar, kali ini lebih tegas dan penuh wibawa.

"Siapa yang mengusik mu, Ryan? Ibumu hanya menyuruhmu untuk sarapan. Tidak ada alasan bagimu untuk berkata kasar, apalagi bertindak seperti itu. Dan dengar baik-baik, di rumah ini tidak ada istilah ‘aku sudah besar, tidak usah diatur lagi.’ Jangan pernah mengucapkan hal seperti itu lagi, paham, Raden Ryan Andriano Eza Sudradjat?!" Nada suara Rudianto yang meninggi di bagian akhir membuat suasana kamar terasa semakin tegang. Nama lengkap Raden keluar dari mulut ayahnya, tanda bahwa ia sedang benar-benar serius atau marah.

"Kamu pikir bagus berbicara seperti itu pada orang tua yang sudah membesarkan mu selama ini? Jangan mentang-mentang kamu sudah bisa mencari uang sendiri, kamu merasa bisa berlaku tidak sopan pada orang tuamu!" lanjut Rudianto dengan penekanan pada setiap kata, menunjukkan betapa ia tidak main-main dengan peringatan itu.

Ryan menundukkan kepala, menahan lidahnya untuk tidak berbicara lebih banyak. Dalam hati, ia tahu ayahnya benar. Namun, egonya terlalu besar untuk mengakuinya saat itu juga.

Sebagai putra sulung dari keluarga Sudradjat, Raden Ryan Andriano Eza Sudradjat dikenal sebagai pria muda yang tampan dan karismatik. Di lingkungan kerja dan pertemanan, ia biasa dipanggil Ryan, sebutan yang terdengar lebih modern dan kasual. Namun, di dalam rumah, keluarganya selalu memanggilnya Raden. Raden tahu satu hal pasti, jika ayahnya memanggilnya dengan nama lengkap, apalagi di dalam rumah, itu adalah tanda bahwa sang ayah tidak sedang main-main.

"Ingat satu hal. Sebesar apa pun kamu sekarang, orang tua tetaplah orang tua. Hormati mereka, karena tanpa mereka, kamu tidak akan berada di posisimu sekarang," ujar Rudianto dengan suara yang sedikit lebih tenang, namun tetap tegas.

"Tapi aku memang sudah dewasa, Papa. Aku sudah bisa memilih jalanku sendiri. Aku tahu apa yang baik dan apa yang buruk bagiku," balas Ryan, nadanya tetap tegas meskipun ia tahu ucapannya pasti tidak akan diterima begitu saja oleh ayahnya.

Mata Rudianto menyipit, menatap putranya dengan rasa tidak percaya. Ia menggelengkan kepala perlahan, mencoba menahan emosi yang mulai menggelegak.

"Orang dewasa, Ryan, adalah mereka yang tahu bagaimana menghormati orang tua. Kalau kamu benar-benar dewasa, buktikan! Bawa seorang wanita ke sini dan ajak dia menikah. Itu baru yang namanya pria dewasa, bukan hanya bicara besar tanpa tindakan!" ujarnya dengan nada tajam, penuh penekanan. Ryan mengerutkan kening, merasa ucapannya sama sekali tidak dipahami.

"Terakhir kali aku membawa wanita ke sini, kalian yang tidak setuju, kan? Ayolah, Pah. Jangan mengukur kedewasaan seseorang hanya dari hubungan dan statusnya. Itu sama sekali tidak masuk akal," ucapnya dengan nada frustrasi, mengingat kembali kejadian yang membuatnya kesal hingga kini.Liu, yang sedari tadi diam, kini angkat bicara.

"Wanita mana yang kamu maksud? Wanita tidak beretika yang bahkan tidak tahu sopan santun itu? Itu yang kamu bawa ke sini dan kamu harapkan kami terima?" Nada suaranya naik satu oktaf, memperjelas rasa tidak setujunya sejak awal.

"Mama selalu bicara seperti itu tentang dia," ujar Ryan pelan, namun jelas terdengar getir di setiap katanya. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang seolah memohon pengertian, tetapi tidak ada tanda-tanda Liu akan melunak.

"Karena dia berbicara berdasarkan fakta, bukan sekadar opini! Apa yang kamu harapkan dari wanita seperti dia, Ryan? Kami memang ingin kamu membawa seorang wanita ke sini, tapi bukan wanita begajulan seperti itu!" sahut Rudianto, menimpali ucapan istrinya tanpa ragu.

"Mama dan Papa tidak pernah mencoba mengenalnya lebih jauh. Kalian hanya melihat dia dari luarnya saja!" Ryan menaikkan suaranya, meski masih berusaha menjaga agar emosinya tidak meledak.

"Melihat dari luar? Kamu pikir kami tidak tahu? Kami tahu lebih banyak daripada yang kamu kira, Raden!" balas Liu tajam, matanya memicing "Wanita seperti itu hanya akan mempermalukan keluarga kita!" Lanjut nya lagi .

"Mempermalukan? Dia tidak seperti yang Mama pikirkan! Dia hanya..."

"Hanya apa? Hanya butuh waktu untuk berubah? Hanya butuh kesempatan? Raden, dunia ini tidak sesederhana itu! Orang seperti dia tidak akan berubah dengan mudah," potong Rudianto, kali ini nada suaranya lebih rendah, tetapi lebih tajam daripada sebelumnya.

"Apa salahnya memberi dia kesempatan? Kalian bahkan tidak mau mencoba! Dia tidak sempurna, tapi siapa yang sempurna? Apa aku harus mencari wanita yang persis seperti yang kalian inginkan tanpa memikirkan perasaanku?, aku tahu Mama wanita yang sempurna dalam segala aspek, tapi kekasih ku bukan Mama, dia orang yang berbeda. Tidak mungkin dia bisa menjiplak Mama," Ryan membalas dengan nada frustrasi, mencoba mempertahankan argumennya.

"Siapa yang meminta mu mencari wanita yang menjiplak Mama?" jawab Liu yang merasa tidak suka dengan ucapan putra nya itu.

"Dari semua yang terjadi sudah jelas, Mama ingin aku mencari wanita yang sama seperti Mama, yang sesuai dengan keinginan kalian. Bukan keinginan ku!" jawab Ryan, emosinya terasa meledak - lefak saat ini.

"Kamu tidak mengerti, Raden! Ini bukan hanya soal perasaanmu. Ini soal masa depanmu, soal keluargamu. Kamu ingin hidup dengan seseorang yang bahkan tidak bisa menjaga reputasinya sendiri?" Liu balas menyerang.

"Mama hanya mendengar dari orang lain! Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Kalian hanya..."

"Jangan membantah, Ryan! Kami ini orang tuamu. Kami tahu apa yang terbaik untukmu. Kalau kamu tidak mau mendengarkan kami, jangan salahkan kami kalau hidupmu berantakan nanti!," suara Rudianto menggelegar, memotong ucapan putranya.

Ryan terdiam sejenak, giginya terkatup rapat. Ia merasa seperti dihujani serangan dari segala arah tanpa bisa membela diri.

"Jadi kalian ingin aku hidup sesuai dengan harapan kalian, tanpa memikirkan apa yang aku rasakan?" ucapnya akhirnya, suaranya bergetar menahan emosi.

"Kalau harapan itu adalah untuk kebaikanmu, ya, Raden! Kami ingin kamu hidup sesuai harapan kami," balas Liu tanpa ragu.

"Kebaikan yang seperti apa, Ma? Menyuruhku meninggalkan seseorang yang aku cintai hanya karena dia tidak memenuhi standar kalian? Apa itu adil?" Ryan menatap ibunya, matanya penuh dengan luka yang dalam.

"Kadang cinta saja tidak cukup, Ryan, cinta harus dibarengi dengan logika dan realitas. Dan wanita itu, dia bukan bagian dari realitas yang ingin kami lihat untukmu, dia tidak pantas berada di samping mu, ada jutaan wanita yang mengejar mu di luar sana, dan wanita itu bukanlah bagian dari pilihan kita ," jawab Rudianto datar, menatap putranya dengan sorot mata penuh penekanan.

Ryan hanya bisa menunduk. Ia tahu percuma untuk membalas lebih jauh. Dalam keluarganya, suara orang tua selalu menjadi yang terakhir. Tapi di dalam hatinya, perdebatan itu terus bergema, menyisakan luka yang sulit sembuh.

Rudianto tidak ingin mendengar bantahan lagi. Ia menoleh ke arah asisten rumah tangga yang masih berdiri kikuk di ambang pintu.

"Bawa kembali nampan itu ke bawah. Biarkan dia turun sendiri. Jangan terlalu memanjakan anak ini," ujar Rudianto dengan nada tegas sebelum melangkah keluar kamar. Langkahnya terdengar berat, mencerminkan kekesalan yang belum mereda. Liu mengikuti di belakangnya tanpa berkata apa-apa, meskipun raut wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia masih kesal.

Setelah kedua orang tuanya pergi, Ryan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, pikirannya dipenuhi berbagai perasaan campur aduk.

"Kenapa mereka selalu menganggap ku anak kecil? Padahal aku sudah dewasa. Dan kenapa juga mereka selalu menyeret-nyeret namanya setiap kali ada masalah?" gumamnya dengan nada frustrasi. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha mengusir rasa sesak yang terus menggelayuti dadanya sejak pagi itu.

Karena sudah terlalu malas, Ryan akhirnya turun ke ruang makan menggunakan lift yang tersedia di kediaman utama keluarga Sudrajat. Saat ia melangkah masuk, tampak adik bungsunya, sudah sibuk dengan ponselnya, seperti biasa.

"Morning all!" sapa Ryan dengan nada datar sambil mengambil tempat duduk di kursinya yang biasa.

"Selamat pagi juga, Tuan Ryan , kenapa Anda bangun siang sekali? Lelah sekali adikmu ini menunggu kehadiranmu, duhai kakakku yang dingin,"balas suara ceria milik Cantika, gadis berusia 19 tahun yang menyandang gelar sebagai nona muda keluarga Sudrajat.

"Diamlah, kau, Cantika," balas Ryan dengan nada kesal, menatap adiknya yang tampak menikmati momen mengejek dirinya.

"Kalau aku tidak mau diam, bagaimana? Biasanya kau yang selalu marah-marah padaku karena aku bangun kesiangan dan mengataiku tidak disiplin. Lalu sekarang? Apa ini?" Cantika menimpali, nada suaranya penuh dengan nada mengejek.

"Terserah kamu saja. Kalau kamu mau makan, makan saja sendiri. Untuk apa heboh-heboh menungguku? Seperti orang yang tidak punya tangan saja," ucap Ryan, melontarkan komentar pedas yang membuat suasana semakin panas.

"Huh, dasar Tuan Beku! Kalau bicara selalu ingin menang sendiri. Padahal jelas-jelas kamu yang salah," sahut Cantika, merasa kesal karena tidak berhasil memenangkan argumen.

"Sudahlah, cukup, **Alessya Eza Cantika**. Diam dan makanlah, jangan banyak bicara. Ini masih pagi, jangan memancing keributan di rumah ini. Duduk dan makanlah dengan tenang," ujar Rudianto dengan nada geram, tatapannya tajam memandangi kedua anaknya yang terus berdebat.

Cantika langsung terdiam, namun masih sempat memutar bola matanya sebagai bentuk protes. Ryan yang melihat adiknya dimarahi ayahnya justru memanfaatkan momen itu untuk mengejek dengan menjulurkan lidahnya ke arah Cantika.

"Papa, lihatlah Kak Ryan! Dia mengejekku lagi!" Cantika merengek seperti anak kecil, menunjuk kakaknya dengan ekspresi kesal.

Rudianto melirik tajam ke arah Ryan. Hanya dengan tatapan itu, suasana di meja makan langsung berubah hening. Semua orang yang duduk di sana memilih untuk menunduk dan makan dengan tenang, tidak ada yang berani membuka suara lagi. Bahkan suara sendok yang menyentuh piring pun terdengar begitu jelas, seakan-akan seluruh rumah ikut merasakan keheningan yang tiba-tiba tercipta.

Rudianto bukanlah tipe seorang ayah yang kasar. Justru, dia sangat baik di mata anak dan istrinya. Selalu perhatian, selalu berusaha memenuhi kebutuhan mereka, dan dikenal sebagai sosok yang penyayang. Namun, di balik sifat baik dan penuh kasih sayang itu, ada satu hal yang memang sangat dihindari oleh semua orang di rumah itu terutama oleh Ryan dan Cantika.

Satu hal yang sangat dihindari adalah melanggar aturan, sebab Rudianto pernah berkata dengan tegas pada mereka, "***Papah dukung apapun yang kalian lakukan, namun jika kalian melampaui batas, jangan salahkan papah jika papah akan berbuat kasar pada kalian***."

Itulah sebabnya, baik Ryan maupun Cantika, tak pernah berani melanggar aturan yang berlaku di rumah itu. Walaupun terkadang jiwa iseng mereka sering kali berhasil memancing kekesalan kedua orang tua mereka, mereka tetap tahu batasannya. Mereka tahu betul, jika aturan sudah dilanggar, konsekuensinya tidak akan sepele.

Ryan menunduk, merasakan keheningan itu semakin menguar di udara. Namun, sepertinya dia tidak terlalu peduli dengan situasi itu. Dia sudah merasa lelah dengan suasana yang terkadang membuatnya sesak.

"Aku ada pertemuan dengan klien dari luar, jadi aku pamit duluan," ujar Ryan sembari bangkit dari duduknya, berusaha menyudahi ketegangan yang terjadi di meja makan.

"Tunggu..." Langkah Ryan harus terhenti ketika mendengar suara ibu yang memanggilnya.

"Ya..." jawab Ryan, kebingungannya jelas terlihat di raut wajahnya.

"Tidak ada ucapan selamat tinggal?" tanya Liu, dengan nada yang lembut namun tetap menunjukkan kebiasaan mereka yang sudah lama terjalin. Seperti biasa, Liu selalu berharap mendapat kecupan manis dari putranya sebelum dia pergi.

Ryan tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya pada sang ibu, memberikan satu kecupan lembut di pipi wanita yang paling dia sayangi itu. Sejenak dia melupakan perdebatan nya dengan kedua orang tuanya tadi pagi.

"Aku pergi, mah. I love you," ujar Ryan dengan suara yang lembut, meskipun ekspresinya tetap terlihat dingin. Liu mencium pipi putranya itu dengan penuh kasih sayang, lalu tersenyum.

"Love you too, sayang."

Setelah sesi berpamitan itu selesai, Ryan segera melangkahkan kakinya untuk pergi ke kantor. Meski suasana di rumah masih terasa berat, dia harus segera memimpin pertemuan yang sudah dijadwalkan.

BAB 3: Bullying

"Semoga aku tidak terlambat, Tuhan," ujar Raya sambil berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya.

Namun, sayangnya, di tengah berbagai pikiran yang menguasai benaknya, ia harus kembali menghadapi masalah yang tidak ada habisnya, mulai dari rumah hingga kini, di kampus. Rasanya, seperti ada saja yang menghalangi jalan hidupnya.

"Heeeeyyy..." ujar seorang wanita yang mendekati Raya dengan wajah penuh rasa arogan. Raya menghentikan langkahnya, mengenali siapa wanita yang ada di hadapannya itu.

"Songong banget sih lo," ujar salah satu wanita lain yang tampak sejalan dengan wanita pertama, nada suaranya penuh dengan sindiran.

"Lo bisu ya, beg*?" ujar wanita yang kesal karena Raya tidak kunjung membalas.

"Akhhh..." Rintihan keluar dari mulut Raya saat rambutnya ditarik dengan kasar oleh wanita yang berada di hadapannya itu.

"Dasar cewek beg*... Gue panggil-panggil dari tadi, nggak ada jawaban, lo jadi orang jangan songong, deh. Berasa banget nih kampus punya nenek moyang lo!" ujar wanita lainnya, mengejek dengan nada tinggi.

"Udah lah, Na, ayo bawa ke tempat biasa, kita kasih pelajaran ke cewek songong ini," ujar seorang wanita yang sejak tadi berdiri di samping wanita itu.

"Jangan... Tunggu, kak... Aku harus masuk kelas. Kalau nggak, aku pasti terlambat. Ini sudah terlalu siang, aku pasti terlambat!" ujar Raya, memohon agar masalahnya tidak semakin panjang. Meski suaranya hampir hilang dalam kepanikan, ia berusaha tegar.

"Ehh... Emang kita peduli kalau lo telat, hah? KAGAK!!!" teriak wanita itu sambil tetap menyeret tangan Raya, memaksanya untuk mengikuti langkahnya.

Tak butuh waktu lama, kini ketiga wanita itu sudah sampai di rooftop kampus. Tempat yang selama ini menjadi lokasi aksi bullying mereka terhadap mahasiswa dan mahasiswi yang dianggap lemah atau berbeda. Di sini, mereka merasa punya kekuasaan untuk menghancurkan orang yang tak sejalan dengan mereka.

Mereka bahkan sudah tidak segan-segan lagi melakukan tindakan yang lebih kejam. Ada satu mahasiswa yang meninggal dunia beberapa waktu lalu akibat ulah mereka. Namun, seperti biasa, hukum di negeri ini tampaknya hanya berlaku untuk orang-orang yang lemah. Meski keluarga korban sudah berusaha meminta pihak berwajib untuk menyelidiki lebih lanjut, kasus itu tak pernah dibawa ke pengadilan. Uang dan kekuasaan memang bisa mengubah segalanya, dan kenyataannya, yang kuat selalu bisa melangkahi yang lemah.

"Akhhhh..." Raya merintih lagi saat lututnya menyentuh lantai semen yang kasar itu.

"Heii, siapa nih?" Seorang pria yang sejak tadi duduk di ujung rooftop sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba menyapa.

"Mainan kita! Gue rasa dia cocok banget buat jadi mainan kita hari ini," ujar Anna, yang dengan santainya menggiring pembicaraan.

"Tiba-tiba?" tanya Arif, yang mulai merasa aneh dengan situasi ini.

"Biasalah... Si cantik ini berlagak sok jagoan di depan kita," jawab wanita lain yang ikut bergabung, menambahkan kekesalan pada Anna.

"Wow, Anna... Dia cantik juga, tapi kenapa lo sebut dia cewek songong?" ujar Arif sambil mengejek, matanya tak lepas dari Raya.

"Udah deh, Arif. Gue nggak mau ngomong panjang lebar. Lo tahu kan, gue butuh izin dari Arka," kata Anna, matanya menyipit.

"Dia belum datang. Mungkin lima menit lagi. Tapi, lo yakin Arka setuju kalau kita main-main sama cewek ini? Dia kan biasanya pilih - pilih loh," tanya Arif, sedikit ragu.

"Dia setuju kok... Nih, liat aja," kata Citra, yang tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan yang diterimanya.

"Seriusan, nih? Biasanya Arka lebih hati-hati, kan?" tanya Anna dengan tatapan tak percaya.

"Entahlah... Mungkin Arka juga lagi butuh hiburan. Gue denger dia ada masalah sama cewek penghibur yang minta pertanggungjawaban," ujar Citra, santai seperti nggak ada beban.

"Cewek penghibur?" Anna terlihat penasaran.

"Ehm... Cewek itu hamil," jawab Citra sambil mengangkat bahu.

"Hamil? Hahahaha," Arif langsung tertawa terbahak-bahak, diikuti tawa Anna yang hampir terbatuk.

"Bapaknya siapa, nih? Yang dimintain pertanggungjawaban siapa? Gila banget tuh cewek," ujar Arif, masih tertawa-tawa.

"Ya biasa lah, cewek-cewek murahan gitu," Citra menanggapi dengan santai.

"Ok, deh... Kita mulai dari mana?" tanya Anna, semangat seperti anak kecil yang baru dapet mainan baru.

"Main truth or dare aja, yuk. Gue rasa itu bukan permainan yang ngebosenin," kata Citra sambil menyeringai, memberikan usulan.

"Yuk, main... Tapi inget, jangan sampai dia kenapa-napa dulu, ya. Soalnya Arka belum datang," ujar Arif dengan serius, yang langsung disetujui oleh Anna dan Citra.

"Oke, gue yang mulai!" ujar Arif dengan penuh semangat, lalu memutar botol di atas meja. Botol itu akhirnya berhenti dan mengarah ke Anna. Arif yang melihat itu tersenyum penuh arti.

"Okay, Anna.. Truth or dare?!" tanya Arif dengan suara penuh tantangan.

"Truth..." jawab Anna sambil tersenyum bangga.

"Siapa orang pertama yang menikmati tubuh lo?" tanya Arif tanpa ragu, memberikan pertanyaan yang mengejutkan.

"Oh my God... Ini pertanyaan jebakan," ujar Anna sambil terkekeh geli, seolah pertanyaan itu adalah hal yang wajar saja.

"Martin," jawab Anna dengan bangga.

"Siapa Martin?" tanya Arif penasaran.

"Ketua BEM tahun lalu," jawab Anna, tetap dengan nada percaya diri. Citra tertawa mendengar jawaban itu. Dia tampaknya tidak percaya dengan apa yang baru saja diungkapkan.

"Hahaha... Berarti gue yang keberapa?" ujar Arif dengan nada bercanda.

"Emmm... I don't know, yang pasti bukan yang terakhir," jawab Anna sambil tertawa, merasa santai dengan suasana.

Raya, yang duduk di antara mereka, hanya diam dan menunggu apa yang akan mereka lakukan padanya. Dia tahu betul bahwa para kakak tingkatnya ini tidak mungkin hanya membiarkannya menonton permainan mereka begitu saja.

"Oke, sekarang giliran gue!" ujar Anna sambil memutar botol. Botol itu berhenti dan menunjuk ke arah Citra.

"WHAT? Giliran gue?" ujar Citra dengan nada terkejut yang terkesan di buat - buat .

"Truth or dare?" tanya Anna dengan semangat.

"Me? Dare!" jawab Citra dengan senyum sumringah, siap dengan tantangan.

"Baiklah... Sekarang, lo cium Arif, itu tantangannya," ujar Anna sambil tersenyum penuh arti. Citra tampak tidak terkejut dengan tantangan itu. Dia perlahan berjalan mendekat dengan langkah menggoda, menuju Arif yang sedang duduk santai dengan kaki terlipat di samping Anna.

"Permisi, Tuan... Saya ingin menjalankan tantangan saya," ujar Citra dengan suara menggoda. Anna yang mendengar itu hanya terkekeh geli.

"Sure, Nona!" jawab Arif tanpa ragu, lalu langsung melumat bibir Citra dengan penuh gairah. Raya, yang menyaksikan aksi tersebut, segera memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Namun, kejadian itu menarik perhatian Anna, yang dengan cepat berucap dan menghentikan aksi Citra dan Arif yang sedang sibuk berciuman.

"Kenapa lo? Pengen juga kaya gitu, huh?" ujar Citra, membuat Raya tertegun.

"Aku hanya tidak mau lihat," jawab Raya, berharap ucapannya tidak akan jadi masalah. Sayangnya, harapannya itu sia-sia, karena tiba-tiba tamparan keras melayang di pipi kanannya.

"Munafik..." ujar Citra sambil tertawa sinis.

"Lo kira lo itu malaikat, huh? Sok suci banget, loh jamet. Cewek kampung murahan gitu aja sok-sokan ngomong kaya gitu. Bukannya cewek kaya lo sering jual diri di tempat-tempat umum, hahaha. Nggak mau lihat karena dia bukan Om-om, kan? Cewek jamet kaya lo kan sukanya sama Om-om," ejek Citra, lalu tamparan kedua mendarat dengan sempurna di pipi Raya. Raya hanya memegangi pipinya, menahan rasa sakit yang bercampur panas akibat tamparan keras itu.

"Hey, sudah-sudah!" teriak Arif, melihat pipi Raya yang mulai memerah.

"Kesel banget gue sama cewek satu ini," ujar Citra dengan nada jengkel.

"Sudah, kita lanjutkan!" kata Anna, berusaha mengalihkan perhatian mereka. Dia kembali memutar botol tersebut, yang akhirnya mengarah kepada Citra lagi.

"Lah... Kok gue lagi?" ujar Citra, masih kesal karena kejadian barusan.

"Jadi, truth or dare, Citra?" tanya Anna, tetap tersenyum.

"Dare..." jawab Citra dengan nada menantang, meski emosinya belum sepenuhnya hilang.

"Lakukan tiga hal yang ingin kamu lakukan pada dia," ujar Anna, sambil tersenyum licik. Citra yang mendengar itu tersenyum lebar, lalu menatap Raya yang masih terdiam, menunggu apa yang akan dilakukan Citra padanya.

"Pertama, gue mau..."

PLAK! PLAK! PLAK!

Tiga tamparan mendarat dengan keras di pipi Raya, menggores kulit halusnya. Darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibir Raya. Raya mengusap darah yang keluar dari hidungnya, namun justru semakin banyak darah yang mengalir.

"Astaga, Citra! Lo nggak kasian apa? Hidung dia bisa patah, gimana?" ujar Anna dengan tawa pelan, disahuti gelak tawa dari Arif.

"Kejam banget lo, Cit! Kita belum puas main-main, lo udah langsung nendang gitu aja," ujar Arif, masih terbahak.

"Hahaha, serasa jadi psycho gue," ujar Citra sambil kembali duduk, meskipun matanya tetap terarah ke Raya yang meringis menahan sakit.

"Oke, are you ready, guys?" ujar Arif, lalu mulai memutar botol itu lagi. Akhirnya, botol itu berhenti dan mengarah ke dirinya sendiri. Anna dan Citra tertawa lepas, merasa puas dengan apa yang baru saja terjadi pada Arif.

"Oke, baby. Truth or dare?" tanya Anna dengan nada gemulai.

"Eummm... Truth deh," jawab Arif dengan santai.

"Sialan lo, curang!" ujar Anna sambil memanyunkan bibirnya, sedikit kesal.

"Hahaha, pilihan yang tepat. Gue yang bakal kasih pertanyaan," ujar Citra, sudah siap menjebak Arif.

"Diam lo, bocah! Biar gue yang kasih pertanyaan buat bajingan ini," ujar Anna, kesal karena tidak berhasil menjebak Arif.

"Sure, baby. Why not!" jawab Arif, tampak santai.

"Sebutin bagian mana dari wanita yang lo suka, dan yang paling bikin lo penasaran?" tanya Anna, menantang.

"Eummm... Sebenernya banyak sih, gue hampir suka semua bagian. Tapi kalau disuruh milih, gue lebih suka bagian miss V sama tengkuk belakang," jawab Arif dengan santai, tanpa rasa malu.

"Jadi, lo nggak suka bukit kembar?" tanya Anna, penasaran.

"Suka sih... Tapi gue lebih suka yang becek-becek," jawab Arif, yang langsung disambut dengan tawa geli dari semuanya, kecuali Raya tentu saja.

BEBERAPA WAKTU KEMUDIAN...

"Btw, di mana Arka? Kenapa belum datang juga? Gue udah bosen ngerjain orang ini, tapi masih aja nggak ada perlawanan. Mungkin kita harus lebih ekstrim lagi, ya?" ujar Anna, matanya bergerak cepat, mengedarkan pandangan kesana kemari, berharap bisa melihat orang yang dia tuju.

"Jangan dulu, tunggu Arka. Gue nggak mau liat dia murka. Ini aja kita udah main pukul-pukulan sama dia, semoga Arka nggak marah kalau dia liat dia udah berdarah-darah gini," ujar Arif, berbicara dengan nada agak khawatir sambil menatap ke arah Raya yang terkulai lemas, dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.

"Akhh... Lo sih sensi banget. Gue bilang juga kan, jangan pukul keras-keras," ujar Citra, dengan nada menyalahkan Anna.

"Lah, kok salahin gue?! Lo juga mukulin dia tadi, Citra, bego!" jawab Anna, tidak terima dengan ucapan Citra.

"Udah, cukup diam! Nggak ada yang salah, cuma cewek bego ini aja yang lemah. Kenapa juga dia nggak ngelawan? Gue bosen main sama orang kaya dia," ujar Arka, berusaha menengahi dua wanita yang sedang saling berargumen itu.

"Sorry, gue agak telat, salah pake motor," ujar suara yang tiba-tiba muncul, kemudian terdiam begitu menatap wajah Raya yang sedang duduk terkulai, darah masih menetes dari hidung dan sudut bibirnya. Keadaan Raya benar-benar membuat suasana di sekitar mereka terasa mencekam.

"Ar..." Panggil Anna, dengan nada yang cukup tajam. Suara itu berhasil membuat Arka tersadar dari lamunannya dan kembali fokus pada teman-temannya.

"Ya... Siapa yang bawa dia?" tanya Arka, pandangannya sesekali masih melirik ke arah Raya yang terkulai lemas, tubuhnya tampak tak berdaya.

"Gue... Emangnya kenapa?" Tanya Anna dengan nada yang santai, meskipun matanya tak lepas dari sosok Raya yang tergeletak di lantai.

"Gak... Lanjutkan aja. Dia belum tepar, kenapa pada berhenti? Hari ini gue nonton aja, lagi malas ngotorin tangan," jawab Arka sambil duduk di samping Citra, wajahnya kembali mengarah ke teman-temannya dengan ekspresi yang tak peduli.

Setelah mendapatkan persetujuan dari Arka, Citra, Anna, dan Arif kembali melanjutkan aksi mereka yang semakin brutal. Mereka mulai menyuruh Raya memakan dan meminum barang expired yang diletakkan di meja, hingga melakukan hal-hal konyol seperti menyuruhnya merangkak di tanah layaknya seekor anjing.

Namun, anehnya, Raya tidak pernah melawan. Dia berpikir, jika dia menurut dan menuruti mereka, mungkin mereka akan berhenti melakukan hal-hal yang tidak manusiawi ini. Namun, sayangnya, pepatah Sekali Iblis, Tetaplah Iblis itu memang benar adanya.

Walaupun Raya sudah terkulai tak berdaya lagi, mereka tetap memaksa dia untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan. Lebih parahnya lagi, mereka hanya tertawa terbahak-bahak saat Raya, dengan suara gemetar dan penuh rasa sakit, meminta pengampunan. Mereka tidak peduli, mereka menikmati setiap detik penderitaan yang dialami Raya.

"Bentaran guys.." ujar Arka akhirnya, dengan nada jenuh yang berhasil membuat ketiga orang yang sedang menyiksa Raya menghentikan aksinya. Mereka menatap Arka sejenak, lalu mundur dengan sedikit ragu, namun tetap dengan senyum yang sinis.

Setelah Arka mengeluarkan perintah untuk menghentikan penyiksaan, suasana menjadi sepi sejenak. Namun, tatapan mata Arka tetap tertuju pada Raya yang terkulai lemas, darah yang masih mengalir dari hidung dan sudut bibirnya membuatnya terlihat tak berdaya.

"Lo pikir, kalau lo diem, mereka bakal berhenti? Mereka gak akan berhenti bodoh, lawan mereka,," kata Arka dengan nada dingin, menatap Raya yang masih terdiam, wajahnya penuh luka.

Raya hanya menggigil, tidak bisa menjawab. Seluruh tubuhnya terasa berat, setiap gerakan begitu menyakitkan. Arka mendekat, seakan merasakan ketegangan yang masih ada di udara.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!