NovelToon NovelToon

Dinikahi Duda Kaya

Di ceraikan

Zara merasa seperti kehilangan napas. Saat Surat cerai di tangan suaminya sengaja di tujukan padanya, semua itu bagaikan pisau yang telah menusuk hati nya. "Aku tidak mencintaimu lagi," kata Jaka Suami Zara, suaranya kini telah membunuh harapannya. Zara terjatuh, air matanya mengalir tak terkendali. "Mengapa? Apakah yang telah aku lakukan salah?" tanya Zara, suaranya sempat terputus.

"Aku sudah muak denganmu, aku lelah dengan semua kepura-puraan ini!" jawab Jaka dengan entengnya, sepertinya hatinya sudah mati rasa ketika kata-kata menyakitkan itu iya lontarkan pada istri nya yang kini telah berubah menjadi mantan istri.

"Mas!" tubuh Zara jatuh terhuyung, ia mencoba mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di salah satu kaki suaminya

"Lepas!" jawabnya dengan kasar, kakinya seolah tidak ingin Zara sentuh.

Hatinya Zara benar-benar terasa begitu sakit, bahkan dadanya menjadi sesak.

lalu Jaka berjongkok agar bisa sejajar dan mencoba mencengkram kuat tengkuk leher Zara.

"Selama satu tahun ini, aku hanya berpura-pura mencintaimu demi ibuku, sekarang setelah ibuku pergi dari dunia ini, dengan sangat senang hati aku menceraikan mu, apa kau tidak pernah tersadar atau tahu diri, mengapa selama kita menikah aku tidak pernah sedikitpun menyentuhmu?" bentak kembali Jaka

Zara hanya menggeleng sambil menangis terisak, ya memang Zara akui jika selama ini suaminya tidak pernah sedikitpun menyentuhnya, tapi sebulan terakhir ini sikapnya telah berubah menjadi jauh lebih baik serta begitu perhatian padanya, dan Zara sempat berpikir jika suaminya sudah mulai menerima kehadirannya sebagai istrinya. Akan tetapi pada kenyataannya, Zara dan Jaka telah menikah karena di jodohkan oleh ibu Rosita, yakni ibu kandung dari Jaka yang sudah sangat menyayangi Zara layaknya putrinya sendiri.

"Aku merasa jijik denganmu, kau memiliki seorang anak, tapi tidak jelas siapa Ayahnya, oh apakah kau sulit mendeteksi benih dari pria mana yang telah meniduri mu, hah!" bentak Jaka begitu menggema, perkataannya benar-benar seperti sebilah pisau yang telah menghujam jantungnya, sakit itu yang di rasakan Zara saat ini.

Plak..

"Aku sudah tidak tahan atas tuduhan serta fitnah yang telah kau tujukan padaku." kali ini Zara telah berani menampar mantan suaminya

 "Kau berani menampar ku hah?" sungut Jaka dengan matanya yang melotot.

"Kau jahat, tidak ku sangka mulutmu begitu menyakitkan seperti ini Mas!" Zara terus menatap kedua bola mata suaminya yang nyalang, benar-benar telah di kuasai oleh amarahnya.

"Sudahlah, aku benar-benar tidak sudi melihatmu lagi, bawa sana anak haram mu itu keluar dari rumah ini, dasar wanita jal*ng yang tidak tahu di untung!" bentaknya kembali, sembari menunjuk oleh jari tangannya ke arah pintu keluar.

"Kau jahat Mas, kau tidak punya hati, aku akan memberitahu padamu kebenarannya bahwa Aqila adalah...!" perkataanya tiba-tiba saja di potong oleh Jaka.

"Alah, sudahlah! Aku tidak butuh penjelasan darimu, setelah aku bercerai darimu, aku akan segera menikahi Maya!"

Zara tercengang ketika Jaka yang saat ini telah menjadi mantan Suaminya, mengatakan kenyataan pahit untuknya, bagaimana tidak karena wanita yang iya sebutkan barusan adalah sahabat dekatnya sendiri dan ia benar-benar tidak menyangka hal itu.

"Kenapa harus Maya sahabatku Mas, kenapa harus dia?" tanya kembali Zara, karena masih belum bisa menerimanya.

"Ini sudah menjadi takdir, sebaiknya enyahlah kau dari hadapanku!" sungut Jaka kembali membentak

Kini Zara sudah tidak bisa mengendalikan emosinya akibat rasa kecewa dan sakit yang berkecamuk menjadi satu.

Aqila tiba-tiba saja telah keluar dari dalam kamarnya karena iya merasa terusik akibat pertengkaran ibu dan juga Ayah tirinya, iya mengucek kedua bola matanya karena baru saja terbangun dari tidurnya.

"Bunda, apa yang telah terjadi!" tanya Aqila dengan penglihatannya yang belum sempurna.

lalu Zara menghampiri putrinya."Ayo kita pergi dari rumah ini Lala!" ajak Zara yang sudah tidak tahan dengan kondisinya saat ini

"Loh kenapa Bunda?" tanya Aqila menatap heran wajah ibunya.

Sepertinya Zara sudah tidak ingin menjelaskan apa yang telah terjadi kepada Aqila, lebih baik ia tidak tahu apa-apa tentang masalah ini.

'Maafkan Bundamu ini Aqila, Bunda janji setelah ini kita akan hidup jauh lebih bahagia, Ibu Rosita, tolong maafkan aku, karena aku tidak bisa mempertahankan pernikahan ini, semoga ibu tenang di sana!' batinnya seraya ingin menjerit.

......................

Kali ini Zara memutuskan untuk pergi ke Kota Jakarta, Iya berfikir untuk mencari peruntungan di sana, mengais Rezeki sesuai dengan kemampuan yang di milikinya.

"Semoga saja Dewi bisa membantuku, cuma dia harapanku satu-satunya, aku yang hidup hanya sebatang kara ini, sudah tidak memiliki arah tujuan untuk mencari tempat berlindung.

kenapa dunia begitu kejam?" Zara hanya bisa menangis dalam hati, iya tidak ingin sampai aqila melihat kesedihan nya dan melihat air matanya terjatuh, karena Zara sudah berjanji kepada mendiang kakak nya untuk selalu membahagiakan Aqila, dan selama ini Zara sudah merawat Aqila seperti layaknya anak sendiri, tidak ada yang tahu jika Aqila adalah anak dari mendiang kakaknya yang sudah meninggal saat melahirkan Putrinya.

Kini Aqila tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang cantik dan juga baik, persis seperti ibunya. Entah sampai kapan Zara akan menyimpan rahasia ini. Baginya Aqila adalah satu-satunya anggota keluarganya yang masih tersisa.

"Abi, Ummi dan juga Kak Bila, doakan Zara dan Aqila, semoga bisa melalui semua cobaan ini." ucap nya dalam hati

Dengan menggunakan angkutan Bus antar kota, zara dan Aqila akhirnya tiba di kota Jakarta, dimana pernah ada slogan jika ibu kota itu lebih kejam dari pada ibu tiri.

Ketika Zara dan Aqila keluar dari terminal Bus, mereka disambut oleh pemandangan yang menakjubkan.

Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, lampu-lampu neon berkedip-kedip seperti bintang di malam hari.Suara klakson, deru mesin, dan pejalan kaki yang berlalu-lalang menciptakan harmoni yang tak terlupakan.

Zara merasa seperti berada di dunia lain, jauh dari kesederhanaan kampung halamannya. Dan Kini Zara mencoba mengambil napasnya dalam-dalam, iya harus siap menghadapi tantangan baru di kota metropolitan ini. Ia kembali terpaku di depan terminal Bis, matanya terbelalak. Baginya Kota ini begitu berbeda dari yang Iya bayangkan.

"Bunda, aku takut berada di sini! " ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Zara akhirnya berjongkok agar bisa sejajar dengan Aqila.

"Kenapa mesti takut Lala, kita akan memulai hidup baru di sini, dan semoga saja kehidupan kita bisa jauh lebih baik!" jawabnya berusaha meyakinkan Aqila.

"Bunda yakin kalau kita akan jauh lebih baik di sini?" tanya kembali Aqila, dirinya merasa ragu akan keputusan Ibunya.

"Sangat yakin Lala, karena kita punya Allah yang akan sellau melindungi dan menjaga kita, dan Bunda yakin jika Allah tidak akan pernah menutup pintu Rezeki untuk kita, selama kita mau berusaha dan terus memanjatkan doa, nah kebetulan ini sudah masuk waktu Isya, kita cari mushola yuk!" ajak Zara sembari mengandeng tangan Aqila.

Lalu Aqila pun mengangguk, senyum renyah telah terbit di bibirnya.

'Bismillah, semoga Engkau selalu meridhoi jalanku Yaa Robb, hanya kepadamu lah hamba memohon dan meminta.' doa Zara dalam hati.

Ada sesuatu yang membangkitkan semangatnya. Ia merasa ingin menjelajahi setiap sudut kota, merasakan denyut nadi kehidupan kota metropolitan yang begitu asing baginya.

Bersambung...

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Bertemu dengan Dewi

Dengan menggunakan kendaraan umum yakni Bajai, akhirnya Zara dan juga Aqila tiba di salah satu perkampungan yang memiliki gang sempit serta padat penduduk, beruntungnya Zara masih ingat dimana letak rumah sahabatnya.

"Semoga Dewi masih tinggal di sini!" ucapnya bermonolog.

Dengan langkahnya yang cepat, akhirnya mereka tiba di depan rumahnya Dewi, sahabat semasa SMU nya, dan dulu Dewi pernah menawarkan iya bekerja Di Jakarta sebelum dirinya menikah dengan Jaka.

Zara mencoba mengucapkan kata salam dan beberapa kali mengetuk pintu rumah nya Dewi, namun sepertinya tidak ada jawaban dari dalam.

"Bun, kok gak ada yang jawab? Apa tante Dewi nya lagi pergi ya?" ujar Lala sembari menatap wajah Bundanya.

"Hemmm, bisa jadi La, terus bagaimana ini? Bunda tidak kenal siapapun di sini!" jawabnya sembari tengok ke kanan dan kiri.

Kemudian datanglah seorang wanita sekitar usia lima puluh tahunan dan mengenakan pakaian daster.

"Situ cari siapa? Rumah kosong kok di gedor-gedor!"

"Rumah kosong? Memangnya penghuninya kemana Bu?" tanya Zara semakin khawatir.

"Sudah dua hari ibu perhatikan si Dewi gak pulang-pulang, mungkin lagi di booking sama tamunya!"

Deg

Perkataan dari wanita paruh baya tersebut membuat Zara merasa syok.

"Ibu kalau berbicara jangan sembarangan! bisa timbul fitnah nantinya, temanku tidak mungkin seperti itu!" balas Zara berusaha membela Dewi.

"Yaelah, situ gak percayaan amat sih, warga satu kampung sini tuh sudah pada tahu kalau si Dewi itu pelac*r, semenjak dia di ceraikan sama suaminya, eh jadi wanita nakal seperti ini, sangat di sayangkan, padahal Dewi itu cantik loh!"

Tidak lama kemudian, munculah Dewi bersama seorang pria, iya berjalan sempoyongan seperti wanita sedang mabuk.

"Permisi Mba, apakah anda saudaranya Mba Dewi?" tanya pria berseragam hitam kepada Zara.

"S saya temannya Dewi, Mas!" jawabnya kembali gugup.

"Kalau begitu perkenalkan Mba, saya Roni, dan saya adalah seorang Security di tempat Mba Dewi bekerja, bisakah anda membantu saya untuk membawa Mba Dewi masuk ke dalam rumahnya?"

Zara pun mengangguk lalu kemudian mencari kunci rumah di dalam tasnya Dewi.

"Tuh, apa yang aye bilang barusan itu bener kan? Yasudah lah kalau begitu aye pamit pulang, nanti kita ngobrol lagi ya Mba." pamit si wanita paruh baya yang tidak menyebutkan siapa namanya.

Kemudian Zara membawa tubuh Dewi ke dalam rumahnya yang di bantu oleh Roni.

"Baiklah Mba, kalau begitu saya pamit untuk kembali ke tempat saya bekerja, soalnya belum waktunya jam pulang!" ucapnya sembari membungkuk.

"Baiklah, Terimakasih Mas Roni, sudah membantu dan mengantar teman saya!"

"Sama-sama Mba!" jawab Roni yang akhirnya berani menatap wajah Zara.

'Masya Allah, cantiknya wanita di hadapanku ini ,seandainya Allah memberikan ku jodoh seperti ini, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan nya!' ucapnya dalam hati.

Di tatap seperti itu, Zara malah menundukkan kepalanya dan ia enggan untuk menatap balik pria di hadapannya.

Setelah pria yang mengantar sahabat nya pergi, Zara buru-buru menemui Dewi, dimana sudah ada Lala yang menjaganya di sana.

"Air..mana air, aku haus ingin minum!" pintanya yang kemudian bangkit dari atas kursi sofa ruang tamu.

"Kau duduk saja Dew, biar aku yang ambilkan kau minum!" kini Zara buru-buru pergi ke dapur, iya bergegas mengambil gelas dan menuangkan air dari dalam dispenser.

Saat Zara akan memberikan minum untuk Dewi, ia malah kembali pingsan, Zara sampai kembali menghela nafasnya.

"Ya ampun Dewi, kenapa kau bisa mabuk seperti ini? Tubuhmu sangat bau alkohol!" kemudian Zara berinisiatif untuk mengganti pakaian Dewi.

Keesokan harinya

Dewi mulai terbangun dari tidurnya di atas kursi sofa, karena Zara tidak sanggup untuk memindahkan tubuh Dewi yang bobotnya cukup berat, seorang diri. Dewi pun sempat terkejut saat melihat sahabatnya, yakni Zara tidur di lantai bersama putrinya yang hanya beralaskan karpet cukup tipis.

"Ya ampun Zara, kau di sini?" ucapnya tidak percaya.

Kemudian sayup-sayup zara mulai membuka kedua kelopak matanya.

"Alhamdulillah, akhirnya kau sadar juga Dew!" ujar Zara sambil mengucek kedua matanya, kemudian iya melihat jam di dinding.

"Astaghfirullah sudah jam enam pagi, aku belum solat subuh Dew, aku tinggal solat dulu sebentar ya!"

"Ok siap, yasudah gih sana solat!" sahut Dewi menggeleng sambil tersenyum tipis.

Selesai solat subuh, rupanya Dewi membelikan sarapan nasi uduk beserta gorengan untuk mereka sarapan.

Zara yang melihat makanan tersebut langsung menelan Saliva nya karena semalam sempat kelaparan, begitu pun dengan Aqila yang terbangun karena mencium aroma nasi uduk yang menggugah seleranya.

"Ayo cepat sini Zara dan juga Aqila, kita sarapan bareng kebetulan aku membeli banyak untuk kalian sarapan, pasti kalian sangat lapar!" dan memang mereka berdua begitu lapar, beruntungnya Aqila tidak pernah rewel, baginya rasa laparnya yang semalam bisa ia tahan, malah Aqila anggap seperti menahan haus dan lapar saat sedang berpuasa.

Setelah selesai berdoa, kini mereka sarapan bersama-sama di ruang tamu. kali ini Aqila memakan sarapannya dengan lahapnya.

Setelah semuanya selesai, Dewi mengajak Zara untuk mengobrol sejenak, sedangkan Aqila lebih memilih untuk mengaji beberapa ayat Alquran.

"Zara, tumben kamu datang kesini tidak bersama suamimu?" tanya Dewi menatap heran Zara.

"Ceritanya panjang Dew!"

"Yasudah coba kamu ceritakan apa yang telah terjadi!" Dewi mulai memperhatikan Zara dengan serius.

Zara pun akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi padanya dan juga Aqila.

seketika Dewi menggenggam kuat kedua telapak tangannya karena menahan rasa kesal.

"Dasar bedebah si Jaka itu Ra, aku tidak habis pikir dia akan setega itu padamu dan juga Aqila, ku kira dia adalah pria baik, namun nyatanya sifat aslinya ia tunjukan setelah ibunya meninggal, kamu yang sabar Zara, aku pasti akan membantumu, kamu tidak sendiri disini, ada aku yang selalu ada untukmu, kau adalah sahabat terbaikku sedari dulu!"

Perkataan dari Dewi telah membuat Zara menjadi terharu, ia pun memeluk sahabatnya dengan sangat erat.

"Menangislah, jika itu bisa membuatmu jauh lebih tenang. Dan tentu saja Zara tidak membuang kesempatan untuk meluapkan segala kekecewaan nya, iya butuh pundak untuk tempat nya bersandar dan iya butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahnya.

"hiks...hiks! padahal aku sudah memiliki rasa terhadap Mas Jaka Wi, tapi dengan teganya iya malah menghancurkan perasaanku seperti ini, hatiku benar-benar sangat sakit!" ucapnya sambil menangis.

Dewi pun membiarkan Sahabatnya itu menangis sepuasnya sampai benar-benar merasa lega.

selang beberapa menit kemudian, Zara ingin menanyakan sesuatu kepada Dewi, yakni sesuatu yang telah merubahnya menjadi berbeda seperti ini.

"Wi, ada apa dengan dirimu sekarang? Mengapa kau sangat jauh berbeda, Kau tidak seperti Dewi yang aku kenal dulu!"

Dewi hanya tersenyum hambar atas pertanyaan dari Zara.

"Keadaan yang telah memaksaku menjadi seperti ini Ra, aku terlilit hutang akibat ulah mantan suamiku, dan orang tersebut memintaku untuk menjadi pekerja di salah satu diskotik di kota ini tanpa di gaji."

Zara pun tercengang atas jawaban dari Dewi."Apa! Ini gila Wi, lantas kamu makan sehari-hari bagaimana?"

"Yaitu tadi Ra, aku bisa mencukupi kebutuhanku dengan uang tips dari tamuku, karena mereka merasa puas dengan servis yang telah aku berikan padanya!"

Mendengar hal itu, Zara langsung tercekat tidak percaya, kedua bola matanya sampai melotot.

"Dewi, apakah kau itu seorang pe..pel*cur?" tanya Zara terbata.

Bersambung....

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Pekerjaan untuk Zara

Ada rasa sedih serta malu di dalam hatinya Dewi, tapi dirinya harus mengatakan yang sejujurnya kepada sahabatnya ini.

"iya Ra, aku sudah terjerumus ke dalam lubang kenistaan, lantas apakah kau masih mau berteman dengan wanita kotor seperti ku ini?" ucapnya tertunduk malu.

Zara malah menatap sedih serta iba melihat keadaan sahabatnya saat ini.

"Siapa bilang Wi, kamu tetap akan menjadi sahabatku, sampai kapanpun!" jawabnya memeluk Dewi.

Dewi sampai terharu atas perlakuan Zara padanya, ia sempat berpikir jika Zara akan merasa jijik berteman dengannya, karena setahu dirinya, Zara adalah seorang wanita solehah dan sangat agamis.

"Terimakasih Ra, kau memang sahabat terbaikku!" kali ini Dewi semakin mengeratkan pelukannya.

"aku hanya berharap serta berdoa, semoga kau kembali ke jalan Allah Wi, aku sangat merindukan kamu yang dulu saat kita masih tinggal di kampung!"

Dewi hanya diam membisu tanpa membalas perkataan dari Zara, dan Zara pun memaklumi hal itu, ia tidak mau memaksakan suatu kehendak, karena manusia memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sesuai yang di inginkan nya, kita sebagai manusia yang peduli hanya bisa memberikan nasihat.

Kemudian Zara menyudahi adegan melow nya bersama sengan Dewi, sedangkan Aqila malah asik menggambar setelah dirinya selesai mengaji.

Dewi sempat di buat penasaran dengan gambar yang Aqila buat.

"wah, ini gambar hasil karyamu sendiri La?" kali ini Dewi menatap takjub dengan apa yang ia lihat.

"Iya tante Dewi, ini Lala sendiri yang gambar, pasti jelek ya gambarnya?" tanya Aqila merendah.

Dewi pun mengambil buku gambar milik Aqila kemudian melihat-lihat hasil gambar yang lainnya, dan menurutnya semua itu sangat mengagumkan.

"Ini sih gambar yang sangat bagus, aku tidak percaya yang membuat gambar seperti ini adalah anak kecil yang masih berusia enam tahun."

"Tante Dewi terlalu memujiku!"

"Beneran Lala, kau itu memiliki bakat, dan bakatmu itu harus di asah lagi, siapa tahu nanti kau menjadi seorang desainer terkenal dengan hasil gambarmu yang sangat bagus ini!" puji kembali Dewi.

"Aamiin yaa rabbal alamin, semoga saja doanya tante Dewi di kabulkan oleh Allah."

Kemudian Dewi mengusap lembut kepala Aqila.

Zara pun sangat senang melihat senyuman dua orang di hadapannya.

"Oh iya Dewi, apakah kau punya informasi mengenai lowongan pekerjaan di sini? Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, kalau aku tidak bekerja, bagaimana dengan nasibku dan juga Aqila? Sedangkan uang tabunganku sudah semakin menipis." ucapnya seolah memohon.

Kemudian Dewi mulai memutar otaknya untuk memikirkan lowongan pekerjaan untuk Zara

"Aha, aku baru ingat Ra, semalam aku di tawari pekerjaan di salah satu hotel dekat diskotik tempatku bekerja, mereka membutuhkan dua orang bagian housekeeping!"

"Housekeeping itu pekerjaan apa Wi?"

"Itu loh Ra, yang suka bersihin kamar tamu setelah mereka check out!"

tadinya Zara sudah berpikiran yang negatif tentang pekerjaan yang di tawari Dewi padanya.

"Oh begitu, kalau itu sih gampang, anggap saja aku sedang merapihkan kamarku sendiri." jawabnya dengan enteng.

Dewi malah tertawa geli atas jawaban dari Zara.

"Kau yakin bisa berkata seperti itu Ra? Kamar hotel itu luas dan besar loh area nya, biasanya satu kamar saja luas serta lebarnya lebih dari lima puluh meter, karena di hotel tersebut memiliki fasilitas bintang lima, malah menurutku sangat mewah dari sekedar hotel bintang lima pada umumnya, jadi di sana tidak ada yang namanya kamar standar, paling minim pun kamar dengan type deluxe."

Mendengar hal itu, nyali nya malah menjadi ciut.

"Sepertinya aku tidak akan sanggup membersihkan banyak kamar dengan luas seperti itu Wi!" jawabnya pasrah.

"Eits, apa salah nya di coba sih Ra, kesempatan bagus itu jarang datang dua kali, jadi kita harus bisa memanfaatkannya, gimana?"

Zara pun kembali berpikir, namun ada satu hal yang telah mengganjal hatinya."Tapi apakah wanita berhijab sepertiku bisa di terima bekerja di hotel bintang lima seperti itu Wi?"

"Tentu saja Ra, apalagi kau memiliki paras yang komersil, alias wajah cantik dan sedap di pandang, kau itu wanita yang pintar dan juga rajin, aku sudah tahu dirimu sedari dulu!" Dewi malah memuji Zara.

"Aish, nanti hidungku bisa terbang karena kau memujiku terlalu berlebihan." balasnya dengan hidungnya yang mulai kembang kempis.

"Sudah Ra, pokoknya kau tidak usah ragu dan juga takut, sebentar ya aku akan menghubungi Bunda Mitha dulu, dia adalah pegawai senior di sana, dan aku yakin jika kamu tidak akan di persulit untuk masuk bekerja di sana!"

Zara pun mengangguk dan tentunya iya memiliki harapan besar agar bisa segera mendapatkan pekerjaan yang layak untuk bisa menghidupi Aqila.

Sekitar hampir lebih dari lima belas menit, Dewi menyudahi panggilan teleponnya, lalu dengan wajahnya yang berseri-seri ia memberitahu hasilnya.

"Congrats ya Ra, kata Bunda Mitha kau bisa mencoba melamar pekerjaannya besok pagi, jangan lupa siapkan CV kamu."

Mendengar hal itu, Zara senang bukan kepayang, ia pun kembali memeluk Dewi.

"Terimakasih banyak Wi, dari dulu kau selalu saja membantuku di saat sedang kesulitan.

"Sudahlah Ra, kamu tidak usah ngomong seperti itu lagi, bagiku kau itu sudah aku anggap lebih dari sekadar sahabat! Baiklah kita persiapkan CV kamu dulu untuk besok."

Zara mengangguk senang, lalu ia mulai merapikan bahan untuk persyaratan lamaran pekerjaan

Keesokan harinya.

Dengan perasaan gugupnya Zara benar-benar tidak menyangka akan melamar pekerjaan di kota besar, tepatnya Jakarta. Banyak penduduk Desa yang bermimpi bisa bekerja di kota besar seperti ini, termasuk Zara salah satunya, meskipun dirinya tinggal di kampung, akan tetapi Zara memiliki pendidikan yang tidak bisa di pandang sebelah mata, dulu Kakaknya lah yang telah membiayai kuliahnya sampai sarjana, dan Zara merasa telah banyak berhutang budi kepada mendiang kakaknya tersebut.

Kali ini Zara berangkat seorang diri dengan menggunakan ojeg online yang sudah di pesankan oleh Dewi, sedangkan Aqila menatap sedih atas kepergian ibunya untuk mencari nafkah, namun Aqila tidak mau menunjukan hal itu di depan ibunya, hingga pada akhirnya Lala melemparkan senyum cerahnya sebagai penyemangat untuk Bunda tercintanya.

Sambil berjongkok agar bisa sejajar dengan Aqila, Zara berpamitan terhadap putri kecilnya.

"Lala, kamu baik-baik ya di rumah bersama tante Dewi, ingat jangan nakal, kalau bisa kamu bantu pekerjannya tante Dewi di rumah ini jangan bermalas-malasan ,ok!"

"ok siap Bunda, tenang saja! Aku pasti akan melakukan apa yang Bunda suruh!" jawabnya dengan lantang.

"kamu itu Ra, biarkan saja lah Lala mau ngapain kek di rumah ini, gak usah di suruh ini dan itu, kamu jangan dengarkan perintah ibumu La, lebih baik kau fokus dengan gambarmu itu, siapa tahu kan nanti kau bisa menjadi orang terkenal dan bisa merubah nasib serta perekonomian kalian!" ucapnya tidak mau kalah terhadap Zara

Baik Zara dan juga Lala hanya bisa menggeleng sembari menaikan kedua alisnya.

"Yasudah kalau begitu Bunda pamit ya, Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam!" jawab Aqila dan juga Dewi secara bersamaan.

Selama perjalanan, rupanya Zara sempat terjebak macet, untungnya si pengendara ojek online sangat mahir menyalip sepeda motornya. Namun naas, pada saat di tikungan jalan raya, hampir saja motor yang di naiki oleh Zara menyerempet sebuah mobil sedan berwarna hitam, sampai-sampai si pemilik mobil tersebut membunyikan klakson mobilnya dengan kencang.

Tiiinnnnn.......

 Akhirnya Zara dan si Abang ojek online memilih untung turun di bibir jalan dan bermaksud untuk meminta maaf, mobil tersebut pun sengaja berhenti tepat di belakang motor.

Kemudian si Abang ojek online mendekat ke arah mobil sedan tersebut, niatnya ingin meminta maaf, namun tiba-tiba saja dari pintu belakang mobil muncul seorang pria berkulit putih dan memiliki postur tubuh tinggi tegap, telah memasang wajah masamnya, dan sepertinya pria tersebut marah besar atas kejadian ini.

"Anda ini punya mata atau tidak, lihat mobilku hampir saja lecet oleh motor butut mu itu!" sungut si pria yang mengenakan setelan jas lengkap layaknya seorang eksekutif muda

Kemudian Zara memberanikan diri unyuk menghampiri si Abang pengendara ojeg online.

"apa ada masalah Bang?" tanya Zara masih mengenakan helm di kepala nya.

"ini Non, saya hampir saja menyerempet mobil milik Tuan ini!" tunjuk si Abang ojek online ke arah pria yang sedang berkacak pinggang dan terus memelototinya.

Entah kenapa Zara memiliki keberanian untuk menegur si pemilik mobil mewah tersebut.

"Maaf Tuan, si Abang ini kan sudah meminta maaf dan juga mobil anda tidak lecet kan, jadi masalah ini sudah clear!"ucapnya dengan enteng.

Si pria angkuh tersebut malah mengalihkan netranya ke arah Zara, di tatapnya wanita yang memiliki paras cantik dan mengenakan hijab.

" punya hak apa kamu berbicara seperti itu padaku hah? Jangan ikut campur!" bentak si pria angkuh tersebut.

Zara pun menjadi kesal atas sikap pria angkuh di hadapannya.

"Lantas anda mau nya apa? Ganti rugi hah? Apa anda tidak malu, di lihat dari segi penampilan anda ini, sepertinya anda bukanlah dari kalangan rakyat jelata seperti kami, lantas apakah anda tidak tahu malu mau meminta ganti rugi terhadap orang yang profesinya hanya sebatas tukang ojeg online!" kali ini Zara yang gantian membentak pria tersebut.

Sedangkan pria yang satunya lagi yang sepertinya masih kerabat si pria angkuh tersebut hanya tertawa kecil melihat Tuannya di bentak seperti itu di jalanan umum.

"Dasar wanita sinting, malas aku berurusan denganmu, ayo Jhon, kita pergi dari sini! Lama-lama aku bisa muntah mencium bau tubuh mereka!" cetusnya seolah mengejek.

Mendengar hal itu, Zara pun sangat kesal di buatnya.

'Baru kali ini aku bertemu dengan seorang pria yang terlihat berwibawa namun mulutnya seperti sampah!' umpatnya dalam hati.

Bersambung...

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

POV: Zara Hafizah

POV: SAGARA MAHENDRA

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!