Carlos berdiri mematung di makam Diva dan Darmendra. Dan disebelahnya berjejer makam-makam buyutnya yang sudah meninggal lebih dulu sebelum Oma dan Opa buyutnya.
"Oma, Opa. Aku akan ke negara C, mungkin tidak akan kembali dalam waktu yang lama."
Kemudian Carlos berjongkok di depan makam keduanya. Diva dan Darmendra meninggal dalam waktu yang bersamaan.
Sesuai janji mereka untuk hidup dan mati bersama. Bahkan saat sakaratul maut, keduanya saling berpegangan tangan seakan tidak ingin lepas.
Keluarga Henderson benar-benar berduka saat itu. Orang yang menjadi panutan bagi mereka, kini sudah tiada.
Air mata Carlos menetes mengingat momen itu. Walaupun sudah tiga tahun berlalu sejak kematian keduanya.
Carlos pun menaburkan kelopak bunga mawar diatas pusara Oma dan Opa buyutnya itu. Kemudian membaca Alfatihah didepan makam Diva dan Darmendra. Dan juga makam-makam keluarga Henderson yang lain.
"Oma, Opa aku pamit." Carlos pun melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia sengaja datang sendiri tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Carlos pun menghampiri penjaga makam dan memberikan amplop dan berpesan agar menjaga makam tersebut.
"Itu memang tugas saya Tuan, Tuan tidak perlu khawatir. Lagipula keluarga Henderson adalah keluarga terbaik yang pernah saya kenal," kata pria itu.
Carlos mengangguk lalu menepuk pundak pria paruh baya itu. "Terima kasih Pak, aku percaya bapak."
Pria itu merasa tersentuh, ia yang terlihat kumuh karena pakaiannya lusuh. Namun Carlos tidak merasa jijik sedikitpun.
Mungkin kalau orang kaya lain tidak akan mau menyentuh pria itu. Begitulah pemikiran pria itu yang merasa minder saat Carlos menepuk pundaknya. Bahkan ia sedikit kaget.
"Aku pulang dulu Pak, aku tahu bapak perlu uang, kan?" pamit Carlos.
"I-iya Tuan," jawab pria itu gugup. Padahal ia tidak cerita apapun tentang kehidupannya dan keluarganya.
"Terima kasih Tuan, semoga Allah membalas berkali lipat dari apa yang Tuan berikan," gumam pria itu. Tentu saja tidak dengar Carlos, karena Carlos sudah menjauh.
Carlos pun menjalankan mobilnya kembali ke rumah. Ia akan melepaskan tanggung jawabnya di perusahaan kepada sang papa, sebelum nantinya diserahkan kepada Oscar sang adik.
Sementara kakak yaitu Carla lebih memilih menjadi seorang dokter. Dengan keterampilan yang ia miliki dan ia pelajari tentang akupunktur dari sang Oma, kini Carla berprofesi sebagai dokter.
Carlos akhirnya tiba di rumah, terlihat Carlina dengan senyum manisnya menyambut anak bujang nya ini.
"Kamu darimana sayang? Katanya kamu tidak ke kantor?" tanya Carlina.
"Aku dari makam, Ma. Berpamitan kepada Oma dan Opa buyut," jawab Carlos.
"Kamu yakin dengan keputusan mu? Menjadi seorang pemimpin tidak mudah, harus miliki jiwa yang kuat dan besar. Mama khawatir kamu tidak mampu," ucap Carlina.
"Kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja. Tapi aku memiliki darah keturunan seorang raja yang mengalir dalam tubuhku. Dan juga amanah dari dari kakek Abbas," jawab Carlos.
Ya, sebelum Delon meninggal, ia menyerahkan surat yang ditulis oleh kakek Abbas untuk disampaikan.
Karena Delon merasa, cicitnya ini lebih cocok menjadi penerus raja dan menjadi seorang pemimpin. Meskipun usianya masih sangat muda.
Jadi Delon pun baru menyerahkan surat tersebut saat ia merasa tidak lama lagi hidup di dunia ini.
"Ya, mama hanya bisa berdoa untukmu. Apapun keputusan mu akan mama dukung. Tapi ingat, jangan sesekali mempermainkan wanita dengan kekuasaan," pesan Carlina.
Carlos mengangguk, dia sama sekali belum tertarik dengan yang namanya perempuan. Secantik apapun wanita yang ingin mendekatinya tidak membuatnya berdegup dan berdebar.
"Aku mau ke kuburan Leo dan Leona juga Jery, Ma," kata Carlos.
Carlina mengangguk. Ya, ketiga hewan kesayangannya itu juga sudah lama mati. Dan dikubur dibelakang rumah mereka.
Kini hanya tinggal anak-anak dari Leo dan Leona juga Jery. Beberapa tahun yang lalu, Zio mencarikan cheetah betina untuk Jery yang diberi nama Jena oleh Carlos.
Hingga hewan itu memiliki penerus yang kini tinggal di tempat khusus hewan. Walaupun sekarang Carlos memiliki banyak hewan, hanya ketiga hewan inilah yang paling ia sayangi.
Bukan berarti dengan yang lain ia tidak sayang. Tapi perasaannya berbeda jika bersama dengan hewan itu.
Carlos berjongkok di depan kuburan Leo, Leona dan Jery. Walaupun hampir setiap hari ia mengunjunginya, tapi ia tidak pernah bosan.
Kali ini ia hanya ingin berpamitan. Dan dalam waktu yang tidak bisa ditetapkan ia baru akan kembali kesini.
"Kakak sudah pulang, Ma? Tadi aku mendengar suaranya," tanya Oscar.
"Hmmm, kakakmu dibelakang," jawab Carlina.
Oscar pun hendak menemui kakaknya. Oscar hari ini tidak masuk sekolah, karena di sekolahnya mengadakan study tour dan Oscar malas untuk mengikuti kegiatan seperti itu.
"Hai kak!" sapa Oscar. Carlos menoleh karena merasa dipanggil.
"Kamu tidak sekolah dek? Bolos terus nanti jadi orang bodoh loh," tanya Carlos.
"Hahaha, gak ada sejarahnya keturunan Henderson bodoh kak. Yang ada semuanya jenius karena bibit premium," jawab Oscar.
"Ada, itu kamu."
Oscar mencebikkan bibirnya karena dibilang bodoh. Apa yang ia katakan memang benar, keturunan Henderson tidak ada yang bodoh.
"Apa kakak jadi berangkat ke negara C?" tanya Oscar.
"Jadi, kenapa?" Carlos mengajak Oscar untuk duduk.
"Kenapa bukan orang lain saja kak? Kan banyak keluarga Henderson yang lain?"
Carlos tersenyum, dari sekian banyak keluarga Henderson hanya dia yang layak mendapatkan amanah tersebut.
Karena yang lain bukan keturunan raja. Sementara Carlos, darah seorang raja mengalir dalam tubuhnya. Ditambah lagi jiwa seorang pemimpin sudah melekat dalam dirinya sejak kecil.
Selain memiliki kecerdasan di luar nalar, dia juga memiliki wibawa seorang pemimpin sejati.
"Apa kamu baca surat dari kakek moyang Abbas? Dan kakek buyut Delon memilih aku kandidat sesuai keinginan kakek Abbas."
Oscar terdiam, ia tahu yang lain tidak memiliki wibawa seperti kakaknya ini. Bahkan dirinya yang jelas-jelas sekandung pun tidak memiliki nya seperti yang Carlos miliki.
"Jaga Mama ya, hanya kamu yang aku yang percayakan selain papa. Karena kamu laki-laki," pinta Carlos.
"Kakak tenang saja, aku akan menjaga mama dan jika aku sudah lulus sekolah dan lulus kuliah, aku juga akan menggantikan papa mengurus perusahaan."
Carlos memeluk adiknya itu. Keduanya memang dekat satu sama lain. Karena Carlina selalu mengajarkan untuk mereka selalu hidup rukun. Carlina tidak ingin seperti dirinya yang di benci oleh kakaknya hanya karena iri.
Setelah merasa cukup keduanya pun masuk kedalam rumah. Hari sudah siang ketika ini, Carlina sudah selesai memasak untuk mereka makan siang.
"Ma, kakak sibuk ya?" tanya Carlos.
"Iya, kapan kakakmu tidak sibuk? Apalagi ia sedang menangani pasien kecelakaan beruntun. Tadi ia menelepon mama dan kemungkinan akan pulang malam," jawab Carlina.
"Bukannya kakak selalu pulang malam?" sela Oscar.
"Iya, maksudnya larut malam," jawab Carlina.
Saat mereka hendak makan, Arthur datang untuk makan siang. Memang selalu seperti itu, Arthur akan pulang untuk makan siang kecuali ia benar-benar sibuk ataupun ketemu klien di waktu makan siang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua hari libur setelah menyelesaikan cerita Arsy kesayangan tuan mafia. Kali ini cerita Carlos ya teman-teman. Semoga kalian suka dan jangan lupa dukungannya nya ya?
Aku harap kalian tidak akan bosan dengan cerita keluarga Henderson. Tapi kali ini melenceng jauh dari cerita sebelumnya.
"SELAMAT MEMBACA!"
"Maaf papa sedikit terlambat," ucap Arthur yang langsung duduk di samping istrinya.
Kemudian ia menatap Oscar yang tidak ikut study tour selama 3 hari. Oscar yang ditatap hanya menunduk saja.
"Sudah, ayo makan. Oscar memang tidak suka acara begituan," tutur Carlina.
Arthur kemudian menatap Carlos yang sedang makan, ada hal yang ingin ia tanyakan. Namun nanti saja setelah selesai makan.
Dan setelah selesai makan, Arthur mengajak Carlos ke ruang kerjanya. Karena Arthur tidak kembali lagi ke kantor.
"Ada apa Pa?" tanya Carlos yang duduk berhadapan dengan papanya.
"Kamu yakin dengan keputusanmu? Apa kamu tidak ingin hidup bebas seperti yang lain? Jadi seorang raja itu tidak mudah, itu sebabnya papa, Opa dan Om mu tidak mau," tanya Arthur memastikan.
Bukan tanpa alasan, Arthur tidak ingin putranya terikat dengan peraturan-peraturan di istana.
"Yakin Pa, lagipula ini adalah amanah kakek buyut dan kakek moyang," jawab Carlos tanpa ragu. "Lagipula raja sekarang bukan lagi raja di zaman kuno yang ketat akan peraturan," imbuh Carlos.
"Kapan kamu berangkat?"
"Besok pagi, aku akan menggunakan pesawat komersial saja."
"Kenapa? Kita ada pesawat pribadi, tapi kamu lebih memilih pesawat komersial."
"Tidak ada, hanya ingin merasakan naik pesawat komersial dan berbaur dengan penumpang-penumpang lain."
Arthur bisa apa kalau putranya sudah bilang begitu? Lagipula Arthur dan Carlina tidak ingin memaksa anak-anak. Mereka tahu apa yang anak-anaknya inginkan.
"Lalu perusahaan? Apa Papa minta orang kepercayaan papa untuk mengurusnya?" tanya Arthur.
"Terserah papa, jika papa perlu bantuan, aku juga bisa kok. Atau minta bantuan sama kakak jika dia ada waktu."
Arthur mengangguk. Dia sendiri juga bisa, tapi sekarang dia hanya ingin perlu banyak waktu untuk keluarganya.
"Tidak perlu, biar papa yang urus semuanya dan meminta orang kepercayaan papa untuk membantu. Sebelum diserahkan kepada adikmu."
"Baik Pa, kalau tidak ada apa-apa lagi aku mau keluar," kata Carlos berpamitan.
"Hmmm, nanti kalau kamu sudah menjadi raja, kami akan datang untuk melihatmu," ujar Arthur.
Carlos keluar dari ruang kerja sang papa. Ia menghampiri adik dan mamanya yang berada di ruang tamu.
"Apa yang papamu bicarakan?" tanya Carlina.
"Hanya bertanya apa aku sudah yakin dengan keputusanku? Aku jawab yakin," jawab Carlos.
"Kami juga tidak melarang keputusanmu. Semoga saja kamu bisa membawa perubahan pada rakyat disana," kata Carlina.
Carlina memeluk putra sulungnya itu. Ia menangis karena harus berpisah dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Arthur menghampiri mereka dan menghibur Carlina. Dan mengatakan akan sering-sering kesana nantinya.
Carlos pun pamit, ia akan berkemas keperluan yang akan ia bawa. Tidak lupa lambang kerajaan yang diamanahkan oleh kakek Abbas kepadanya sebagai bukti bahwa dia adalah keturunan dari raja terdahulu.
Karena sewaktu kakek Abbas mengangkat raja sementara disana. Kakek Abbas mengatakan jika nanti ada anak cucu atau cicitnya yang datang. Maka mereka berhak menjadi raja.
Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Mereka juga tidak tahu apakah Carlos bisa dengan mudah masuk kesana dan menjadi raja?
Itulah yang mereka khawatirkan, takutnya mereka tidak percaya jika Carlos adalah keturunan raja Atalarik attar.
...****************...
Hari ini pagi-pagi sekali mereka sudah berada di bandara. Hari ini juga Carlos akan berangkat ke negara C.
"Oma, Opa, mama dan papa mohon doanya agar aku bisa melewatinya dengan mudah," ucap Carlos berpamitan.
"Kami akan selalu mendoakan mu sayang," ujar Lina lalu memeluk cucunya itu. Kemudian mencium pipi kiri dan kanan Carlos.
Lalu giliran Randy memeluknya. "Hati-hati disana. Opa dengar negara itu banyak kejahatan," ucap Randy.
Carlos mengangguk, kemudian berpindah pada kedua orang tuanya. Carlina dan Arthur juga menasehatinya.
Kini giliran Carla yang juga ikut mengantar adiknya ke bandara. Mereka berpelukan, baru kali ini mereka berpisah. Biasanya kemana-mana selalu berdua dari kecil.
"Jaga mama dan papa," ucap Carlos. Carla mengangguk, ia tidak mampu membendung air matanya.
Carlos meninjau pundak Oscar. "Cengeng," ucapnya. Kemudian ia memeluk adiknya itu.
Saat Carlos hendak berjalan, ada mobil lain yang datang. Ternyata Julian dan Alana. Lalu mobil lainnya Austin dan Nina juga Harley dan istrinya.
Mereka ingin mengiringi kepergian Carlos walaupun sedikit terlambat. Tapi beruntung masih sempat. Datang lagi mobil yang ternyata Avariella dan Gabra.
Akhirnya Carlos hanya bisa melambaikan tangannya kepada mereka. Karena sudah cukup ramai dan waktu keberangkatan pun sebentar lagi.
"Tunggu!" pekik seseorang. Mereka semua menoleh karena merasa kenal dengan suara itu.
"Eh kamu mau kemana?" tanya Lina pada Diyan yang berlari membawa tas ransel dan koper.
"Mau ikut," jawabnya tanpa menoleh. Dengan berlari cepat iapun berhasil mengejar Carlos.
Mereka yang melihatnya hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka juga tidak mengerti dengan anak yang satu itu dan sangat suka sekali dengan Carlos.
Setelah mengurus semuanya, akhirnya pesawat yang di tumpangi Carlos dan Diyan pun berangkat.
"Kakak kabur ya?" tanya Carlos.
"Aku pamit kok. Dan kedua orang tuaku mengizinkan," jawab Diyan.
"Bagaimana dengan perusahaan mu? Dan kenapa kakak ikut aku?"
"Suka-suka aku dong, siapa yang larang?"
Carlos tidak lagi bertanya dan berbicara apa-apa. Ia hanya bersandar di sandaran kursi dan memejamkan matanya.
Diyan juga melakukan hal yang sama, keduanya pun ingin bersantai karena perjalanan masih jauh.
Setelah hampir seharian lamanya berada di pesawat. Akhirnya merekapun tiba di bandara negara yang mereka tuju.
Keduanya keluar dari pesawat dan langsung mencari taksi untuk ke hotel terlebih dahulu.
"Pak ke hotel," kata Carlos.
"Baik Tuan," ujar sopir taksi.
Keduanya pun masuk kedalam taksi dan segera ke hotel. Carlos mengamati negara ini, terlihat sangat indah dan banyak bangunan tinggi.
"Pak, apa negara ini masih sistem kerajaan? Maksudku masih dipimpin oleh seorang raja?" tanya Carlos.
"Benar Tuan, tapi raja yang sekarang tidak adil. Menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyat kecil," jawab pria itu.
Carlos manggut-manggut. Setelah lama berlalu pasti raja nya sudah berganti-ganti. Carlos pun menanyakan raja yang dulu.
Pria itu bercerita jika raja yang dulu cukup adil. Sehingga rakyat merasa makmur. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena raja yang adil di fitnah dan di lengserkan dan berakhir di penjara.
Carlos mendengar dengan seksama cerita itu. Entah kenapa pria itu seolah melepaskan uneg-unegnya yang selama ini ia pendam. Dan percaya kepada Carlos sehingga mau bercerita. Padahal Carlos orang asing.
"Kenapa bapak mau bercerita ke saya? Padahal saya orang asing?" tanya Carlos.
"Saya juga tidak tahu Nak, perasaan saya anak ini bukan orang biasa. Betul?" jawab pria itu.
"Bapak bisa aja, saya orang biasa Pak. Datang ke negara ini untuk berkunjung," ujar Carlos.
Pria itu tersenyum, hingga tanpa sadar merekapun tiba di sebuah hotel. Carlos sengaja minta di carikan hotel yang tidak jauh dari istana raja.
Carlos dan Diyan menginap di satu kamar saja. Selain tidak ingin jauh, keduanya bisa menghemat biaya.
Walaupun keduanya banyak uang, tapi Carlos merasa jika mereka tidak akan mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari raja itu.
Apalagi mereka berdua adalah orang asing dan juga usia keduanya masih sangat muda. Dan Carlos juga merasa akan ada konflik nantinya.
"Car, kamu yakin kita akan diterima begitu saja?" tanya Diyan. Saat ini mereka sudah berada didalam kamar.
"Tidak begitu yakin sih, tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba," jawab Carlos.
"Kakak mandi dulu, aku ingin telepon mama untuk mengabarkan bahwa sudah sampai ke tempat tujuan," kata Carlos.
"Oke deh, kebetulan sudah seharian ini tidak mandi," ujar Diyan.
Setelah Diyan masuk kedalam kamar mandi, Carlos pun menelepon orang tuanya, terutama sang mama yang pasti khawatir jika tidak memberi kabar.
"Halo sayang, assalamualaikum," ucap Carlina. Saat ini mereka sedang melakukan panggilan video.
"Waalaikumsalam Ma, cuma mau bilang kalau kami sudah tiba di hotel. Mungkin besok baru menemui raja William," kata Carlos.
"Hati-hati ya sayang, perasaan Mama gak enak," ucap Carlina.
"Mama tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa kok," ujar Carlos.
Setelah merasa cukup, Carlos pun menyudahi panggilannya. Karena ia mau mandi dan setelah itu makan.
Carlina pun merasa lega karena putranya tiba dengan selamat. Namun kekhawatirannya tetap ada. Karena masalah ini masalah besar dan bukan main-main.
Carlos pun segera mandi setelah Diyan selesai. Kini giliran Diyan yang menghubungi sang mama yaitu Kayvira.
Kayvira juga merasa lega karena putranya selamat sampai tujuan. Namun berbeda dengan Dylan yang cemberut karena istrinya mengizinkan putranya untuk ikut Carlos.
Putra satu-satunya yang diharapkan untuk mengola perusahaan, tapi kabur ke negara orang dengan alasan yang tidak jelas. Akhirnya Ayunindya yang mengalah dan membantu sang papa.
"Pesan makanan saja, aku malas mau keluar," kata Diyan setelah Carlos selesai mandi.
"Pesan saja lah, aku juga mau istirahat," ujar Carlos.
Diyan pun memesan makanan untuk diantar ke kamar mereka. Mereka menunggu sambil ngobrol dan bermain ponsel.
Setelah beberapa menit kemudian, pelayan datang dengan makanan yang mereka pesan. Keduanya makan dan setelah itu merekapun istirahat.
Keesokan harinya ...
Mereka sudah bersiap-siap untuk ke istana. Dengan pakaian formal, keduanya pun keluar dari hotel dan memesan taksi yang kemarin mereka tumpangi.
Namun sebelum itu Carlos mengirim pesan kepada Carla. Jika dalam 1 atau 2 minggu mereka tidak ada kabar, Carlos meminta Carla untuk menyusul mereka.
"Kalian yakin mau ke istana? Kami saja yang orang sini tidak di perbolehkan masuk," tanya sopir taksi itu.
"Yakin Pak, karena kami ada sedikit urusan dengan raja William," jawab Carlos.
Pria itu hanya mengantar mereka hingga depan gerbang. Dia tidak berani untuk masuk, apalagi mengantar Carlos dan Diyan yang notabene nya hanyalah orang asing.
"Maaf Tuan, disini tidak bisa sembarangan orang bisa masuk," kata penjaga.
"Kami hanya ingin bertemu raja, ada perlu yang akan disampaikan," ujar Carlos.
Para penjaga saling kode, kemudian salah satu dari mereka melapor ke prajurit. Lalu sang prajurit melapor ke menteri dan menteri melapor ke raja.
"Siapa?" tanya raja William saat menteri melaporkan bahwa ada orang asing ingin masuk.
"Tidak tahu Yang Mulia, kata prajurit dua orang pemuda berpakaian seperti orang pejabat," jawab menteri.
"Hmmm, aku penasaran, suruh dia masuk dan langsung bawa menghadap ke aku," ujar raja William.
"Baik Yang Mulia." Menteri itupun memerintahkan prajurit untuk mengizinkan Carlos dan Diyan masuk.
Mereka dibawa menggunakan mobil, karena jarak antara gerbang dan istana cukup jauh. Kalau jalan kaki lumayan juga jauhnya.
"Siapa kalian? Dan mau apa datang kemari?" tanya Wiliam.
"Mohon maaf sebelumnya, kami datang untuk menyerahkan ini," jawab Carlos menyerahkan surat amanah dari kakek moyangnya yaitu Abbas.
Menteri segera mengambil kertas surat tersebut lalu menyerahkannya kepada Wiliam. Wiliam membukanya dan membacanya.
Kemudian ia tersenyum miring setelah membaca isi surat tersebut. Dan melipatnya kembali lalu menyerahkannya kepada Carlos.
"Akting kalian lumayan bagus, kenapa tidak jadi aktor saja? Kalian pikir aku mudah ditipu dengan hanya pesan seperti itu?" tanya Wiliam.
"Aku ada bukti lain," jawab Carlos. Kemudian Carlos mengeluarkan lambang kerajaan negara ini.
Wiliam memperhatikan dengan seksama. "Darimana anak itu mendapatkan lambang kerajaan? Aku sudah puluhan tahun mencarinya, namun tidak ketemu. Sampai mengorbankan raja sebelum ku pun tidak ketemu," batin Wiliam.
"Hahaha, bagus, bagus sangat bagus. Tidak bisa menipu dengan kertas, sekarang menggunakan lambang kerajaan. Kalian pasti mencuri nya, kan?" ujar William.
"Tuan raja, ini peninggalan kakek moyangku," kata Carlos.
"Prajurit! Tangkap kedua orang ini!" perintah Wiliam.
Para prajurit segera mengepung mereka berdua. Merasa tidak aman, Carlos segera merebut lambang kerajaan miliknya dari tangan Wiliam.
Tidak ada pilihan lain, Carlos dan Diyan pun segera menangkap Wiliam dan mengancamnya.
"Jangan perduli kan aku, tangkap penipu dan pemberontak ini!" perintah Wiliam.
Mereka mana berani, apalagi raja mereka sedang disandera. Puluhan prajurit sedang mengepung mereka berdua.
"Jika ada yang mendekat, maka raja kalian akan tinggal nama," ancam Carlos.
"Jangan perduli kan ucapannya, tangkap mereka berdua!" pekik Wiliam.
Para prajurit dengan senjata ditangan mereka masing-masing pun hanya bisa saling pandang.
Mereka tidak berani bertindak, mereka takut akan melukai raja mereka. Namun mereka juga memuji keberanian kedua pemuda itu.
"Apa yang kalian tunggu?" pekik Wiliam.
Para prajurit mengepung mereka bertiga, namun belum ada yang maju untuk bertindak menyerang.
Carlos dan Diyan secara perlahan mundur dari situ, mereka masih menyandera Wiliam dan menjadikan tameng untuk mereka berdua.
"Awas saja kalian, kalian tidak akan bisa lolos dari sini," ucap Wiliam pelan.
Namun Carlos bukan nya takut, ia rela mati jika memang takdirnya harus mati disini. Begitu juga dengan Diyan, tekadnya juga kuat seperti Carlos.
Kini mereka sudah berada di luar istana. Para prajurit semakin banyak berdatangan. Apalagi saat melihat raja mereka ditawan.
"Mereka semakin ramai, apa yang harus kita lakukan?" tanya Diyan berbicara pelan.
"Kita harus segera keluar dari sini, yang penting kita bisa menahan raja William," balas Carlos.
"Hahaha, kalian anak kemarin bermimpi mau melawanku? Jangan harap!"
Carlos dan Diyan tidak menjawab, ia terus membawa Wiliam ke mobil. Namun saat dekat dengan mobil, Wiliam tiba-tiba menikam dirinya sendiri.
Sehingga ia terlepas dari Carlos. Carlos dan Diyan yang sudah terkepung pun tidak bisa apa-apa.
"Hahaha, kalian pikir kalian pintar. Aku lebih pintar," kata William, kemudian meringis menahan sakit di perutnya.
Carlos dan Diyan yang merasa terpojok pun cuma bisa pasrah. Tapi mereka tidak ingin menyerahkan diri dan berusaha untuk melawan.
Dor ... Dor ... Dor. Tiga tembakan beruntun mengenai Carlos, sehingga Carlos ambruk di tanah. Kemudian giliran Diyan yang juga ikut tertembak.
"Yang Mulia, mereka sudah mati," kata menteri.
"Buang mereka ke tebing bukit yang curam. Biarkan mereka membusuk disana!" perintah Wiliam.
"Baik Yang Mulia," jawab menteri.
Perdana menteri pun memerintahkan penjaga untuk membuang Carlos dan Diyan ke jurang, dengan menggunakan mobil.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!