NovelToon NovelToon

Takdir Pernikahan

Keputusan yang berat

Siang itu, setelah sholat Zuhur berjamaah, keluarga Nurdin berkumpul di teras untuk menikmati makan bersama. Komala telah menyiapkan berbagai hidangan kampung yang lezat, mulai dari gorengan, sambal, hingga lalapan.

Komala, yang duduk di sebelah Nurdin, memuji kelezatan makanan tersebut. "Ini makanan emang paling nikmat." katanya dengan senyum.

Sementara itu, Resa duduk di sudut teras, terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak memperhatikan makanan yang ada di depannya, dan tidak juga mengikuti percakapan yang berlangsung di sekitarnya.

Pikiran Resa terbang ke tempat yang jauh, terganggu oleh gosip yang tersebar tentang calon suaminya membuat dia merenung tentang kehidupan, cinta, dan takdir. Resa merasa seperti sedang berjalan di atas awan, tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Keluarga Nurdin tidak menyadari bahwa Resa sedang berada di dalam dunia pikirannya sendiri. Mereka terus menikmati makanan dan percakapan, tidak tahu bahwa Resa sedang menghadapi konflik batin yang besar.

Beberapa hari sebelum pernikahan, Resa menerima kabar yang tidak terduga.seseorang memberitahu Resa bahwa Hari pernah menikah.

Resa terkejut dan merasa terpukul. Dia tidak percaya bahwa Hari bisa menyembunyikan kebenaran seperti itu dari dirinya.

Dia merasa bahwa dia tidak bisa mempercayai Hari lagi, dan dia perlu waktu untuk memikirkan apa yang telah terjadi.

Tak lama kemudian, Resa menerima panggilan telepon dari Hari.Resa langsung menanyakan tentang kabar tersebut. Hari terlihat sangat terkejut dan tidak bisa menyangkal kebenaran tersebut.

"Benar, Ai," kata Hari dengan suara yang lembut. "Aku pernah menikah. Tapi, aku tidak pernah mencintai mantan istriku seperti aku mencintaimu."

Resa merasa sangat marah dan kecewa. Dia tidak tahu apa yang harus dia percayai lagi. Apakah Hari benar-benar mencintainya, atau apakah dia hanya ingin menikah dengan dia untuk melupakan masa lalunya?

"Apa yang kamu inginkan dari aku, om?" tanya Resa dengan suara yang keras.

Hari mengambil napas dalam-dalam. "Aku ingin kamu memahami aku, Ai. Aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu dan aku ingin memulai kehidupan baru dengan kamu."

Resa memandang sembarang arah dengan mata yang penuh kekecewaan dan keraguan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sebagian dari dirinya ingin mempercayai Hari dan memberinya kesempatan kedua, tapi sebagian lainnya ingin meninggalkannya dan melupakan semua yang telah terjadi.

"Aku kecewa karena Om sudah 2 kali membohongiku," kata Resa dengan suara yang meninggi dan penuh kesedihan. Dia menatap langit dengan mata yang berair, mencari jawaban atas pertanyaan yang terus menghantui pikirannya.

Hari terkejut dan tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia membuka mulutnya untuk berbicara, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Dia hanya bisa menatap pada ponsel yang masih tersambung dengan mata yang penuh penyesalan.

"Aku hanya ingin melindungi mu dari kebenaran yang tidak enak.dari kesulitan yang akan membuat mu sedih seperti sekarang ini."

Resa menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin dilindungi, Om. Aku ingin tahu kebenaran. Aku ingin tahu semua tentangmu."

Hari mengambil napas dalam-dalam dan memulai menjelaskan. " Aku tidak ingin kamu tahu tentang masa laluku.karena aku tidak ingin kamu terluka Ai."

Resa menutup telponnya dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasa sedih dan kecewa karena itu dia ingin membatalkan pernikahan mereka.

Saat itu, Resa mendengar suara pintu yang terbuka. Dia berpaling dan melihat Komala berdiri di depan pintu dengan wajah yang khawatir.

"Res, apa yang terjadi?" tanya Komala dengan suara yang khawatir.

Resa merasa sedikit terganggu oleh kata-kata Komala. Dia tidak ingin berbicara dengan siapapun tentang apa yang terjadi, tapi dia juga tidak ingin menyembunyikan kebenaran dari keluarganya.

"Aku dapat kabar kalau A Hari pernah menikah sebelumnya,padahal aku melihat dalam KTP nya dia masih lajang,mamah juga lihat kan?" kata Resa dengan suara yang tercekat.

Komala terkejut. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Komala dengan suara yang khawatir.

"Aku tidak tahu,mah," kata Resa dengan suara yang bergetar menahan tangisannya.

Komala mengambil napas dalam-dalam dan duduk di sebelah Resa. "Aku mengerti perasaanmu, Resa. Tapi, kita harus berpikir jernih tentang ini. Undangan sudah disebar, dan pernikahanmu tinggal 3 hari lagi. Apa yang akan kita lakukan jika kita membatalkan pernikahan ini?"

Gadis remaja itu menatap ibu Sambung nya dengan penuh permohonan, seakan matanya mengisyaratkan pertolongan dari masalah yang dihadapinya. Namun, Komala hanya bisa mengambil napas dalam-dalam dan memandang Resa dengan mata yang penuh kekhawatiran. "Aku tahu kamu berada di situasi yang sangat sulit. Tapi, kamu harus berpikir jernih dan membuat keputusan yang tepat untuk dirimu sendiri."

Tina mendekati Resa dengan langkah yang lembut, tidak ingin mengganggu kakaknya yang sedang merenung. Dia melihat tetesan air mata di pipi Resa dan merasa sedih melihatnya.

"Teh, aku tahu kamu sedang menghadapi situasi yang sulit," kata Tina dengan suara yang lembut.

Resa menatap Tina dengan mata yang penuh air mata. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Tina," katanya dengan suara yang tercekat. "Aku tidak ingin mengecewakan siapapun."

Tina mengangguk dan memeluk Resa. "Aku tahu, Teh. Aku tahu kamu berada di dalam situasi yang sangat sulit. Tapi, kamu harus berpikir jernih dan membuat keputusan yang tepat untuk dirimu sendiri. Aku akan selalu ada di sini untuk kamu, tidak peduli apa pun keputusanmu."

Resa mengangguk, tapi dia masih merasa tidak yakin tentang apa yang harus dia lakukan.

Dia tidak bisa menyangkal bahwa dia telah terburu-buru menerima Hari tanpa tahu masa lalunya. Dia merasa seperti sedang berada di ambang kebimbangan yang melanda hati dan pikirannya.

"Tina," kata Resa dengan suara yang lembut. "Aku hanya ingin bahagia, tapi aku tidak tahu bahwa Hari memiliki rahasia seperti itu."

Tina mengambil napas dalam-dalam dan memegang tangan Resa. "Aku tahu Teteh ingin bahagia. Tapi, Teteh harus berpikir jernih tentang ini. Kamu harus mempertimbangkan apakah kamu bisa menerima masa lalu Hari dan apakah kamu bisa mempercayainya lagi."

Resa merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan. Dia tidak tahu apa yang harus di lakukan. Dia hanya bisa menatap Tina dengan mata yang penuh kekhawatiran dan berharap bahwa dia bisa menemukan jawaban yang tepat.sebelum pernikahannya yang akan berlangsung dalam beberapa hari lagi.

Sementara itu,Hari berdiri di depan jendela, Dia merasa sedih juga.

"Ai,angkat dulu telponnya.Aku ingin bicara dengan kamu," pinta Hari lewat chat kemudian melakukan panggilan ulang.

Resa mengambil napas dalam-dalam dan memutuskan untuk menjawab panggilan telepon itu. "Apa yang ingin kamu bicarakan lagi,Om?" tanya Resa dengan suara yang pelan.

Hari mengambil napas dalam-dalam. "Aku ingin meminta maaf atas apa yang aku lakukan. Aku tahu aku telah menyembunyikan kebenaran tentang masa laluku dari kamu, dan aku sangat menyesalinya."

Resa memandang ke arah lain, tidak tahu apa yang harus dia katakan. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang."

Hari mengangguk, meskipun Resa tidak bisa melihatnya.

"Aku paham, Ai. Aku tidak akan memaksa kamu untuk memaafkan aku. Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan aku ingin memperbaiki kesalahan aku."

Resa memandang keluar jendela dengan mata yang penuh keraguan. Dia tidak tahu apa yang harus dia percayai, kata-kata Hari atau kebenaran yang dia temukan. Dia merasa sedikit ragu-ragu, tapi dia juga merasa bahwa dia harus membuat keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri.

"Aku sudah bilang, perlu waktu untuk memikirkan semua ini, Om," kata Resa dengan suara yang pelan.

Hari mengangguk, tapi matanya terlihat sedikit kecewa. "Aku ingin kamu tahu, bahwa aku akan selalu memperjuangkan mu, tidak peduli apa yang terjadi," kata Hari dengan suara yang penuh emosi.

Resa merasa sedikit terharu oleh kata-kata Hari, tapi dia tidak bisa menghilangkan perasaan kecewa yang melanda hati dan pikirannya saat ini.

Misteri yang tersembunyi

Beberapa jam kemudian, Resa menerima telepon lagi dari seseorang, Dia adalah seorang wanita yang sangat baik dan peduli, dan Resa selalu merasa nyaman.Kayla selalu menjadi pendengar yang baik untuk Resa.

"Res, apa yang terjadi?" tanya Kayla dengan suara yang khawatir."apa kamu sudah tahu kebenaran tentang Hari?"

Resa mengangguk dan memandang kedepan dengan penuh air mata. "Iya,Bu. Aku tidak bisa mempercayai Hari lagi. Dia menyembunyikan kebenaran tentang masa lalunya dari aku."

Kayla mengangguk dan memahami keputusan Resa. "Aku paham,Res. Aku juga akan marah jika aku berada di posisimu."

Resa meringkuk dengan mata yang penuh keraguan. "Tapi, aku masih mengharapkan Hari,Bu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."

"Aku akan selalu ada untuk mendukung kamu,Res. Sebenarnya Ibu sudah tahu tentang Hari," kata wanita di sebrang telpon itu dengan suara yang lembut.

Resa menunggu kayla melanjutkan ucapannya."Maksudnya, Ibu sudah tahu tetang status Om Hari, Bu?" Tanya Resa merasa kecewa,kenapa Kayla ikut menyembunyikan kebenaran tentang calon suaminya.

wanita itu mengambil napas dalam-dalam. "Aku tahu bahwa Hari telah melakukan kesalahan besar dengan menyembunyikan kebenaran tentang masa lalunya dari kamu. Tapi, Ibu ingin kamu tahu bahwa Hari sangat mencintaimu dan dia ingin memperbaiki kesalahannya."

Resa mendengarkan dengan penuh keraguan. "Sebenarnya aku kecewa.Tapi,Aku nyaman saat bersama Om Hari,aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang."

"Ibu paham,Res.Ibu juga tidak bisa memaksa kamu.Tapi,Ibu ingin kamu tahu bahwa Ibu akan selalu ada untuk kamu dan Kalian akan melalui semua ini bersama-sama."

Resa merasa sedikit lega setelah berbicara dengan wanita paru baya itu. Dia merasa bahwa dia memiliki seseorang yang peduli dan mendukungnya, tidak peduli apa yang terjadi.

Saat Resa sedang berpikir tentang apa yang harus dia lakukan tentang Hari, dia di kagetkan dengan kedatangan kakak nya.

Resa merasa terkejut dan tidak percaya. Dia tidak tahu bagaimana kakaknya bisa mengetahui tentang status Hari sebagai duda. Dia berusaha untuk menyembunyikan informasi tersebut dari orang-orang, tapi ternyata kakaknya sudah lebih dulu tahu.

"Resa."panggil Rima dengan suara keras"kamu yakin,mau melanjutkan pernikahan dengan seorang duda?"

"Apa maksud teteh?" tanya Resa dengan suara yang pelan, berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya.

"Aku tahu tentang Hari, Resa.Aku tidak ingin kamu terjebak dalam situasi yang tidak baik."

Resa merasa terpukul oleh kenyataan yang tidak dia harapkan.Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan dan apa yang harus di lakukan. Dia hanya bisa menatap kakaknya dengan mata yang penuh kesedihan dan bertanya-tanya bagaimana kakaknya bisa mengetahui tentang Hari.

Rima mengambil napas dalam-dalam, sebelum mengungkapkan kebenaran yang telah dia ketahui. "Aku ingin kamu tahu, bahwa Hari menyembunyikan statusnya," kata Rima dengan suara yang tegas. "Dia itu pernah menikah , Resa.Dan kemungkinan dia juga memiliki anak dari mantan istrinya itu."

Resa terkejut."Teh Rima tahu dari mana?" tanya Resa dengan suara yang gemetar.

Rima mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. "BI Ika yang bilang sama orang sekampung, kalau calon suami kamu itu seorang duda."

Resa menangis tersedu di hadapan kakaknya. "Lalu aku harus apa, Teh? Pernikahan sudah dekat," kata Resa dengan suara yang tercekat.

Rima mengambil napas dalam-dalam, sebelum memberikan saran kepada adiknya."Keputusan ada di tangan kamu sendiri, Resa. Menikah dengan seseorang yang tidak akan lepas dari masalalu nya, atau membatalkan pernikahanmu yang tinggal beberapa hari lagi, tapi akan membuat keluarga menanggung malu,jangan sampai suatu hari nanti kamu menyesal dengan keputusanmu." kata Rima lalu meninggal adiknya untuk memberi waktu sendiri.

Resa merasa seperti telah dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, karena di satu sisi, dia telah menemukan kebenaran tentang Hari yang sangat mengganggu pikirannya. Namun, di sisi lain, dia telah jatuh cinta dengan Hari dan tidak ingin kehilangan sosok yang telah mengisi kekosongan dalam hatinya.

Setelah merenungi dengan tekad dan keyakinannya, Resa seolah menutup mata dan telinga,dia memutuskan untuk melanjutkan pernikahan dengan Hari. Meskipun keraguan tentang kebenaran yang disembunyikan oleh Hari masih menghantui pikirannya, dia memilih untuk mempercayai Hari dan melanjutkan pernikahan mereka.

Dia berharap bahwa keputusannya ini tidak akan menimbulkan penyesalan di masa depan.

"Aku akan melanjutkan pernikahan ini," kata Resa kepada dirinya sendiri, dengan suara yang pelan tapi tegas.

Dengan berat hati, Resa memutuskan untuk menyembunyikan kebenaran dari orang lain. Dia tidak ingin membuat malu orang tuanya yang sudah mati-matian menyiapkan acara pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi.

Resa merasa seperti sedang berjalan di atas api, tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dia tidak jadi menggagalkan pernikahan yang sudah dekat, dan lebih memilih untuk menyimpan rahasia itu dari keluarganya yang lain.

Hari yang mengetahui keputusan Resa, merasa lega dan bahagia karena Resa masih mau melanjutkan pernikahannya. "Aku sangat bahagia,Ai," kata Hari, dengan suara yang penuh emosi. "Aku akan selalu mencintaimu dan membuatmu bahagia."

Tapi, Resa tidak tahu bahwa Hari masih menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kebahagiaan mereka. Sementara itu, Ika yang masih menyukai Hari, merasa sedih, marah dan kecewa karena Resa masih mau melanjutkan pernikahan dengan Hari.

"Aku tidak percaya Resa masih mau melanjutkan pernikahan dengan Hari," kata Ika, dengan suara yang penuh amarah "Aku sudah menyebarkan kebenaran tentang Hari, tapi Gadis itu masih tidak percaya."

Di lain sisi,tanpa Resa sadari, seseorang yang memperhatikan gerak-geriknya tersenyum sinis. Orang itu merasa puas dengan nasib yang menimpa gadis remaja itu. Senyum sinis itu terlihat sangat jelas, namun Resa tidak menyadarinya karena dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Orang itu mengamati Resa dengan mata yang tajam, seolah-olah menikmati kesulitan yang dialami oleh gadis remaja yang menjadi saingan nya. Senyum sinis itu semakin lebar, seolah-olah orang itu merasa telah mencapai tujuannya.

Resa tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikannya dengan cara yang tidak baik.

Orang itu terus memantau Resa, seolah-olah menunggu sesuatu yang akan terjadi. Senyum sinis itu masih terlihat di wajahnya, membuatnya terlihat seperti orang yang memiliki rencana jahat.

Dia selalu bersikap baik di hadapan Resa, dengan senyum yang manis dan kata-kata yang lembut. Namun, di belakang Resa,Dia memiliki wajah yang berbeda. Dia selalu memanfaatkan keluguan saudara tirinya, dengan menggunakan informasi yang dia dapatkan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dia juga memiliki rencana jahat untuk Resa, dan dia selalu mencari cara untuk melaksanakan rencananya. Dia menggunakan kesempatan disaat Resa lengah, dan kemudian menggunakan informasi tersebut untuk memanipulasi Resa dan membuatnya melakukan apa yang dia inginkan.

Resa, yang tidak menyadari bahwa saudara tirinya memiliki rencana jahat untuknya, terus mempercayai Dia.Resa tidak tahu bahwa saudara tirinya sedang memanfaatkan keluguannya, dan Resa akan segera menghadapi konsekuensi dari kepercayaannya yang terlalu berbaik hati.

Permainan cinta dan rahasia ini masih belum berakhir. Apakah Resa akan bisa menyimpan rahasia ini selamanya? Apakah Resa akan menemukan kebenaran tentang Masa Lalu Hari? Dan apa yang akan terjadi dengan Ika? Semua itu masih menjadi misteri...

3 Akad

Hari ini adalah hari pernikahan yang di nantikan telah tiba.seorang gadis remaja yang berada di dalam kamar terlihat anggun dengan balutan baju pengantin.terpancar kecantikan dari wajah yang tak pernah terpoles make up itu terlihat sangat pangling. MUA yang meriasnya pun berdecak kagum.akan perubahan wajah gadis yang di riasnya begitu memukau penglihatan.

Setibanya pengantin calon pria beserta rombongan keluarganya, maka diadakan penyambutan dengan pengalungan bunga yang terbuat dari bunga melati kepada calon pengantin pria yang dilakukan oleh ibu pengantin calon wanita, yang melambangkan bahwa pihak wanita menyambut kedatangan calon pengantin pria dengan hati suci bersih dan tangan terbuka.

Dalam upacara ini, orang tua calon pengantin pria menyerahkan anak kepada orang tua calon pengantin wanita sambil membawa barang-barang keperluan pengantin wanita, yaitu pakaian wanita mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki yang merupakan simbolisasi dari pihak pria sebagai bentuk tanggung jawab kepada pihak wanita.

Dengan didampingi oleh calon mertuanya, pengantin pria dibawa masuk ke ruangan akad nikah dan dipersilakan duduk di kursi yang telah disiapkan. Selanjutnya pembawa acara mempersilakan kedua orang tua calon pengantin, Saksi, petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA), serta beberapa orang tua dari kedua pihak untuk duduk di tempat yang telah disediakan.

Resa berdiri di depan cermin, memandang dirinya sendiri dengan mata yang kosong. Dia tidak percaya bahwa hari ini adalah hari pernikahannya dengan Hari.

"Res,kamu siap?" tanya Komala dari luar kamar.

Resa mengambil napas dalam-dalam dan berusaha untuk tersenyum. "Siap,mah," jawabnya dengan suara yang lembut.

Resa keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu, di mana keluarga telah berkumpul untuk merayakan pernikahannya. Dia melihat Hari berdiri di depan altar, dengan wajah yang tegang.

Pengantin wanita dipersilakan duduk di samping calon suaminya yang selanjutnya segera dilanjutkan upacara Akad Nikah. Sebelum ijab (akad nikah) di mulai, kedua calon pengantin di kerudungi tudung panjang yang berwarna putih, ini melambangkan penyatuan dua insan yang masih murni, lahir maupun batin.

Nurdin mengulurkan tangannya menjabat erat tangan hari calon mantunya.

" Bismillahirrahmanirrahim," ucap nurdin sambil mempererat jabatan tangannya pada tangan hari. "Ananda hari ramadhan bin Jafar saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Resa Anggraini bin muhammad Nurdin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas dua puluh empat karat di bayar tunai karena Allah !."

"Saya terima nikah dan kawinnya Resa Anggraini dengan mas kawin tersebut tunai karena Allah!," ucap hari dalam sekali tarikan napas.

"Bagaimana saksi, apakah sah ?," tanya penghulu, dan dia jawab sah oleh saksi.

"Bagaimana para hadirin apakah sah?," penghulu melontarkan pertanyaan kepada semua yang hadir yang kompak berseru SAH !!

Hari berucap syukur dalam hati,dan gadis yang telah resmi jadi istri pada detik itu juga menghapus airmata yang menetes di pelupuk matanya. Akhirnya satu fase hidup dia masuki bersama hari yang sudah sah menjadi suaminya.

"Barakallahu laka wa jama'a bainakuma fi khair. Semoga berkah Allah tercurahkan bagimu. Dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan," doa penghulu yang di aamiin kan hampir semua yang hadir demikian pula kedua mempelai yang mengusapkan kedua tangan ke wajahnya sambil berucap aamiin.

Setelah akad nikah selesai, kedua pengantin dipersilakan berdiri untuk serah terima mas kawin dan menerima buku nikah masing-masing.

Acara berlangsung lebih khidmat dengan sambutan dari pihak keluarga dan teman dekat, makanan yang tersaji pun tak kalah nikmatnya dengan memakai katering dari pihak keluarga yang pintar memasak. Dokumentasi didapat dari potografer yang sering memotret dan pintar mengedit foto.

Dekorasi pun sangat sederhana. Alunan lagu kasidah masih terlantun sempurna dari wedding organizer yang bertempat di salah satu sudut ruangan itu. Bunga krisan bertebaran menjadi penghias di halaman rumah yang didominasi warna hijau itu, menebarkan aroma harum yang lembut.

Pasangan pengantin sedang sibuk menyalami tamu- tamu yang datang. Tidak banyak. Hanya keluarga besar dan teman-teman lapis pertama kedua mempelai. Pesta pernikahan ini memang dirancang sederhana. Akan tetapi kesederhanaan yang disodorkan, dan juga terbatasnya tamu yang diundang, justru membuat pesta pernikahan tersebut terkesan eksklusif.seketika suasana berubah riuh saat bertepatan dengan kedatangan rombongan remaja teman masa sekolah dari mempelai wanita.

seorang gadis berbicara dengan suara yang cukup keras, membuat teman-temannya meringis malu. "Wah gila, gak nyangka gue. Si Resa diam-diam menghanyutkan euy... Baru setahun lulus sekolah udah ke pelaminan aja dia."

Teman yang berada di belakangnya mencondongkan tubuh ke samping telinga gadis remaja itu dan berbisik, "Sis, jaga sikap, suara kamu itu loh! Pelan dikit,apa?"

Dia hanya cengengesan setelah ditegur temannya. "Slow bro, kata-kata gue gak ada yang salah. Gue kaget aja, setau gue dia pacaran ama si Rizki, tahu-tahu malah nikah sama tuh orang."

salah satu temannya ikut menyahut percakapan mereka, "Kalau jodoh mah siapa yang tahu atuh kedepannya bakal bersanding sama siapa? Kan gak ada yang bisa nebak."

Mempelai wanita, Resa, menatap intens karena teman-temannya malah diam di samping panggung, saling berbisik dari pada ada ikut bergabung untuk ngantri memberi selamat.

Di belakang mereka, ada pemuda remaja yang menatap Resa intens dengan tatapan nanar. Teman yang satunya menepuk bahu si pemuda itu untuk memberi kekuatan agar temannya bisa ikhlas menerima wanita yang dicintainya menikah dengan orang lain. "Dia lebih pantas jadi paman ketimbang jadi suami gadis semuda Resa," kata temannya dengan nada sedih.

Pemuda yang masih menatap Resa dengan tak sukarela, merasa patah hati karena dia tidak bisa memiliki Resa. Dia berpikir bahwa Resa lebih pantas bersanding dengan dia daripada dengan om-om yang lebih tua dari dirinya.

Setelah barisan yang menyalami pengantin berkurang, para remaja itu maju ke depan untuk memberi selamat pada kedua mempelai. Resa menyambut kedatangan temannya dengan senyum tipis di bibirnya.

Anisa yang lebih dulu naik ke panggung pelaminan, merentangkan tangan untuk memeluk teman yang sudah berstatus istri orang. "Selamat ya Res, ternyata yang menikah duluan di antara kita malah kamu loh!" Ucap gadis itu menggoyang-goyang tubuh yang di dekap nya.

"Iya ih, padahal yang di duga bakal nikah muda itu si Nisa yah!" Timpal temannya bergantian memeluk pengantin wanita yang terlihat pangling dengan balutan gaun pengantin dan siger yang bertengger di kepalanya. Resa hanya merespon dengan senyum simpul di bibirnya.

"Makasih ya, udah pada dateng," Ucap Resa sekenanya demi menyambut teman-temannya yang sudah hadir memberi ucapan selamat kepada nya.

"Tentu dong, kita gak akan melewatkan acara bahagia kamu. Iya kan, man teman?" Sahut Anisa yang sudah dapat giliran mengucapkan selamat pada Resa sambil menengok antrian di belakang yang di angguki teman-temannya.

Saat Resa sedang melakukan sesi Poto,matanya menangkap anak kecil yang merengek dan menatap pada pria yang sudah resmi menjadi suaminya.

Resa mencoba untuk mengabaikan perasaan tidak enak yang muncul dalam dirinya, tapi dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dia mencoba untuk bertanya pada Hari tentang anak itu, tapi Hari hanya menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa dia tidak tahu apa yang Resa bicarakan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!