9 Pintu Perunggu
Baru saja dia melangkah satu kali didepan pintu kamar. Dia sudah ada di tempat lain yang gelap.”Ini dimana kenapa semua gelap,”kata Anila menoleh ke kanan dan kiri, yang dia lihat hanya kegelapan tanpa cahaya.
Anila mencoba meraba disekitarnya untuk mengetahui dimana dia saat itu, hingga dia merasakan ada dinding di sebelah kirinya. Dia berdiri dan berjalan melangkah ke depan dengan merabah dinding di kiri tangannya. Tapi dia tersandung oleh sesuatu membuat dia jatuh ke tanah membuat dia tertuduk sementara.
”Ini dimana sih, kenapa semua gelap. Seharusnya ini masih siang. Kenapa gelap sekali di sini,”batin Anila yang mulai tidak enak.
“Tunggu Anila tenang. Kamu harus bisa berpikir tenang dulu,”ucap Anila menarik nafas dengan perlahan. Anila terdiam dan berpikir sejenak untuk mencari tahu posisi dia berada. Didalam kegelapan yang tidak ada cahaya itu Anila harus bisa berpikir postif untuk mencari jalan keluar.
“Apa yang harus aku lakukan, kenapa aku bernasih buruk sih. Ini dimana sebenarnya. Aku hanya ingin mencari minum saja, bukan ingin pergi ke tempat yang gelap ini,”keluh Anila dalam kegelapan untuk membuat dirinya tenang.
Tapi disaat kedua pikiran saling bentrok Anila hanya bisa terdiam mendengarkan pikiran itu. Dimana pikiran satu harus tetap hidup mencari jalan keluar. Pikiran lain berkata kalau kamu orang tidak berguna bisa masuk ke tempat asing pasti itu karma. Anila menarik nafas dan mencoba meraba tanah didepannya mencari sesuatu untuk dia gunakan. Setelah lama mencari dan merabah di dalam kegelapan. Dia menyentuh sesuatu yang aneh. Anila tersenyum dengan perasaan gelisah dan takut.
”Kenapa nasibku buruk sekali ya hari ini. Ini bukan tengkorakan,”tanya Anila sendiri dengan wajah tersenyum penuh ketakutan. Tapi dia sembunyikan di dalam kegelapan hanya dia yang tahu bagaimana wajahnya sekarang ini.
Tapi mau tidak mau Anila harus bisa merasakan apa yang ada didepanya. Berharap kalau didepan dia itu bukan apa yang dia pikiran saat ini. Anila menyentuh dan merasakan sebuah benda panjang dengan strutur seperti tulang manusia.
“Kurasa ini sama seperti yang aku bayangkan. Apa aku sudah mati ya,”tanya Anila lagi yang sudah tahu bentuk dari benda didepannya.
“Hai ada orang tidak disini,”ucap Anila dengan suara keras. Tapi suaranya hanya bergema di lorong yang gelap tanpa ada seseorang. Anila tertunduk lesu hingga tangannya terus meraba didepannya dengan berani. Setelah lama meraba dia menemukan sebuah tas dan benda lain. Setelah dia ambil dan periksa kalau itu adalah Senter. Segera Anila menyalakan senter di tangannya. Cahaya keluar dari sentar membuat Anila merasa senang. Anila menyenter ke arah depan dimana sebuah tengkorak manusia.
“Maaf sudah mengganggu anda tuan. Tolong jangan marah denganku ya. Jiwa yang kesepian,”kata Anila yang tersenyum pahit. Tapi dia harus bisa mencari barang yang bisa dia gunakan. Tas didepan Anila dia geledah.
“Apa tidak ada barang yang bagus yang dibawa orang ini,”kata Anila setelah mengelurakan semua isinya.
Tapi dia menemukan sebuah catatan dari pemilik asli dan beberapa makanan kering seperti roti. Anila melihat tengkorak didepanya sambil berpikir,”Bagaimana orang ini bisa mati.Apa lagi persediaan air dan makanan yang dia bawa masih ada.”
Anila merasa ada yang salah dengan kematian tengkorak didepannya. Anila segera berdiri dan mencari jalan keluar melihat lorong yang panjang dan gelap membuat dia sedikit takut. Tapi saat dia hendak melangkah melewati tengkorak pertama. Dia melihat banyak tengkorak lain didepannya ada juga senjata yang tergeletak disampingnya. Anila tersenyum karena menemukan barang bagus untuk pelindungan diri. Saat dia hendak ingin berbalik dia malah melihat jalan buntung.
“Bagaimana bisa jalan di belakangku hanya tembok, bukan tadi ada lorong,”ucap Anila sambil berpikir karena merasa ada yang salah dengan lorongnya
“Ahhhh sial ini sebenarnya ada dimana sih,”kata Anila dengan wajah kesal dan penuh ketakutan. Anila terdiam untuk sesaat dan melihat situasi,”Apa aku ada didalam makam kuno. Dimana peninggalkan bersejarah ada. Tapi itu tidak mungkin.” Kepala yang menggeleng dengan wajah tidak percaya. Anila melewati setiap tengkorak yang dia lihat dan mengambil beberapa sepatu yang pas untuk dia kenakan.
“Kurasa ini sudah siap. Ayo cari jalan keluar,”ucap Anila yang menyemangiti dirinya sendiri. Anila dengan senapan yang dia pungkut walaupun sedikit kuno berbeda dengan apa yang dia lihat di acara film.
Tapi saat dia berjalan dia juga berpikir,”Bagaimana aku bisa menggunakan senjata ini ya?.”
Tapi dia tetap berjalan ke depan hingga dia melihat lorong lain. Segera Anila berbelok tapi dia terkejut dengan patung yang berdiri tidak teratur.
”Ini apa lagi,”tanya Anila yang melihat ke depan dengan wajah sedikit takut. Tapi mau tidak mau Anila harus tetap melawati patung yang berjejer tidak beraturan itu untuk bisa melewatinya.Tapi setelah melihat dengan jelas patung itu menghalangi jalan lorong membuat dia tidak bisa maju ke depan. Anila melihat satu patung yang berbeda sehingga dia mendekat. Anila melihat dari atas sampai bawah.
“Apa ini bisa di tekan. Apa tidak berbahaya,”ucap pikiran dengan dua sisi berbeda.
“Kalau di tekan dengan tangan kosong. Mungkin aku bisa melayang. Apa aku gunakan alat saja untuk menekannya,”jawab Anila yang berpikir.
Setelah lama berpikir Anila memegang pistol dia menggunakan bagian belakang senapa pistol untuk mencoba menekan mata dari patung yang terlihat aneh. Tapi tidak ada yang aneh dengan mata patung. Anila terus mencoba dengan hidung dan bagian lain yang bisa di tekan.
“Kurasa bukan di tekan. Apa di putar matanya,”tanya Anila yang terus mencari.
Karena tidak ada yang salah dengan patung itu. Anila mencari ke sisi dinding. Dia amati dengan seksama setelah lama dia menggunakan senapaan untuk menekan salah satu dinding yang dia lihat berbeda.
“Ini bisa di tekan,”jawab Anila mulai menekan sampai ujung. Setelah salah satu pemicu batu ubin di tekan semua patung bergerak. Anila dengan hati-hati mengarahkan senapan patung yang bergerak. Setelah semua patung selesai bergerak membuat jalan untuk Anila. Dia merasa lega,”Apa ini sudah aman untuk dilewati.” Anila yang berguman karena takut jika patung itu bergerak dan membuat dia terjebak di lorong yang penuh patung.
Anila siap untuk berjalan dengan hati-hati, dia terus melangkah dengan mata melihat ke kanan dan ke kiri.”Kenapa ada patung di lorong, sebenarnya mereka menyembunyikan apa sih,”batin Anila.
“Akhirnya keluar juga,”kata Anila yang merasa lega. Tapi setelah melihat panjang lorong didepannya dia hanya bisa tertunduk lemas.
“Aku ingin pulang, kenapa aku bisa ada disini. Bagaimana aku bisa pulang, tunggu dulu. Apa aku sudah berpindah tempat. Apa aku sudah mati. Itu tidak mungkin,”batik dan pikiran Anila yang bergejola setelah melihat situasi yang dia alami.
Di lorong yang panjang dan gelap Anila terus berpikir soal kondisi dia, bisa ada di tempat yang menakutan itu. Dia juga berpikir bagaimana kalau orang tuanya tahu kalau dia tidak ada di kamarnya. Kerena dengan pikiran itu Anila melangkah dengan cepat. Tepat dia sudah jauh dari lorong yang penuh patung. Dia melihat lorong dengan akar rumput merambat yang sudah kering. Anila mengamati dengan seksama. Dia tidak langsung berjalan ke sana.
“Apa lorong itu aman untuk dilewati ya,”tanya Anila dengan suaranya sendiri. Tapi saat dia berkata seperti itu Anila merasakan ada bayangan hitam dan sosok yang tidak tahu kenapa ada di belakang dia. Tapi saat Anila menoleh dia tidak melihat siapa-siapa. Tubuh Anila merasa merinding dan suasana tampak dingin. Anila tetap berpikir positif dalam kondisi yang tidak tahu kapan dia akan mati nantinya.
“Aku harus kuat jangan takut Anila kamu pasti bisa,”ucap Anila yang menyemangati dirinya agar tidak goyak. Anila berjalan di lorong penuh dengan rumput merambat. Tapi setelah itu apa yang akan terjadi dengan Anila?.
Tubuh Anila yang merasa merinding dengan hawa dingin yang menusuk tetap berjalan ke depan dengan percaya diri. Walaupun dia juga merasa takut. Rumput yang sudah kering di setiap lorong membuat Anila berpikir aneh-aneh dengan situasi saat itu.
“Hai wanita bodoh,”bisik suara wanita mistirius ke telinga Anila. Saat Anila menoleh mencari sumber suara dia tidak melihat siapa-siapa, hanya ada kegelapan yang dia lihat dari kegelapan.
“Apa aku salah dengar tadi. Sudahlah aku akan tetap berjalan ke depan saja,”kata Anila siap berjalan ke depan lagi. Tapi saat dia akan berjalan dia berhenti karena senter yang mengarah kedepan menunjukan keberadaan sosok wanita mistrius dengan ramput panjang yang menutup wajahnya yang terlihat pucat. Pakaian putih yang sudah robek-robek berjalan ke arah Anila hingga tepat di wajah Anila yang menetap ke depan. Hati Anila yang berdebar dan kakinya meraskakan ingin jatuh ke tanah. Pegangan pistolnya yang akan jatuh tapi dia tahan.
Anila mencoba tenang dengan menatap ke depan dengan percaya diri. Tapi hatinya berkata,”Hantu wanita didepanku. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu harus pergi kemana.”
“Apa kamu takut denganku. Kenapa kamu hanya diam saja?,”tanya wanita hantu.
“Kamu bisa bicara,”jawab Anila yang memberanikan dirinya untuk membuka mulutnya walauun dia takut dengan sosok wanita hantu didepannya.
“Tentu saja. Tapi kenapa aku merasa kamu berbeda dengan orang yang datang ke sini. Siapa kamu?,”tanya wanita hantu yang dengan kepala melihat dari atas sampai bawah.
“Aku memang bukan berasal dari dunia ini. Jika aku tebak sih. Tapi kamu, apa bisa mengantarkan aku keluar dar tempat ini,”tanya Anila yang masih tubuhnya bergetar karena takut. Tapi mau tidak mau dia harus bertanya untuk bisa keluar dari tempat yang gelap itu.
“Kamu ingin keluar dari sini ya. Mungkin akan sulit. Tapi mungkin aku bisa membantu kamu menuju ke tengah makam,”jawab Wanita hantu yang tadi ingin mengganggu Anila. Tapi dia tidak jadi karena aura dari Anila tampak berbeda dari orang yang dia lihat selama ini.
“Apa yang kamu katakan makam?,”kata Anila yang masih terbinggung dan tidak percaya.
“Kamu tidak tahu kalau lorong dan jalan yang selama ini kamu lewati adalah lorong menuju makam. Walaupun banyak ada jebakannya. Kamu beruntung bisa selamat,”ucap Wanita hantu.
“Aku tidak tahu aku bisa ada disini. Kalau begitu apa kamu bisa memberitahu aku, ini ada dimana. Makam siapa, lalu apa kamu yang membunuh para orang yang dulu lewat sini. Karena aku melihat banyak tengkorak,”tanya Anila dengan santai dan juga penasaran. Dimana dirinya yang sudah kembali seperti semula setelah lama berbincang dengan wanita hantu disampingnya.
“Mereka mati karena masuk jebakan bukan karena aku. Kamu sudah tidak takut denganku lagi. Wanita yang aneh ternyata kamu,”kata wanita hantu yang berbicara dengan Anila yang memiliki jiwa dan tubuh utuh.
“Kamu juga aneh. Kenapa mengatai aneh kalau kita berdua juga sama saja,”ucap Anila. Wanita itu tertawa. Anila mendengar tawa dari wanita hantu sedikit merinding.
“Jadi kamu ingin tahu ini ada dimana bukan,”tanya wanita Hantu. Anila mengangguk kepada wanita hantu disampingnya. Mereka berjalan bersama sambil Anila mencari informasi tentang dunia yang dia datangi dengan cara apapun dia harus mendapatkan sedikit informasi. Anila juga tidak tahu kenapa dia bisa sampai di lorong makam.
“Ini adalah makam penasehat Abhan,”kata wanita hantu.
“Penasehat Abhan siapa dia?. Lalu kamu tahu tidak bagaimana aku bisa keluar dari sini?,”tanya Anila dengan wajah semangat.
“Kamu tidak bisa keluar dari dunia ini sampai menemukan ke 9 pintu perunggu di dunia ini,”jawab wanita hantu. Tepat setelah mengatakan 9 pintu perunggu Anila mendengar suara tembakan pistol dari lorong lain. Anila dengan sikap berhati-hati menatap ke depan dengan waspada kalau ada musuh didepannya. Tapi suara itu dari jarak yang jauh. Anila segera berlari mencari sumber suara hingga dia melihat cahaya dari ujung lorong yang baru saja dia lewati.
Anila segera menuju ke cahaya. Tapi saat dia telah sampai dia segera bersembunyi karena melihat dua kelompok yang sedang berseterus.”Apa itu pintu perunggu yang kamu katakan tadi wanita hantu?,”tanya Anila menoleh ke samping.
“Itu benar pintu perunggu,’jawab wanita hantu.
“Kalau begitu aku bisa kembali bukan ke dunia aku berasal dengan lewat pintu perunggu itu,”kata Anila yang tampak senang. Wanita hantu melihat ke arah Anila yang tampak senang. Tapi kesenangan dan kebahagian dia bisa kembali berubah menjadi kesediahan setelah mengetahui penjelasan dari wanita hantu setelahnya.
“Kamu tidak bisa. Pintu perunggu memang bisa dimasukan oleh kamu. Tapi dari semua pintu perunggu yang mana yang tepat untuk kamu bisa kembali. Karena tidak semua bisa kamu masuki kalau kamu ingin hidup dengan utuh,”ucap wanita hantu.
“Jadi maksud kamu setiap pintu memiliki kegunakan masing-masing begitu,”tanya Anila yang tertunduk lesu.
“Seperti itulah. Tapi dari pada itu bukan mereka yang sedang tertangkap itu adalah kawan kamu yang terpisah dengan kamu,”kata wanita hantu.
“Mereka bukan kawanku. Aku saja tidak mengenal mereka,”jawab Anila dengan jujur.
“Bukan kawan kamu. Lalu apa orang yang memegang senjata itu kawan kamu,”tanya wanita hantu lagi.
“Bukan juga. Aku sudah memberitahu kamu bukan aku berasal dari dunia lain,”jawab Anila dengan wajah pucat karena dia tidak tahu harus berkata apa.
“Bukan keduanya ya. Ya sudah,”ucap wanita hantu yang sama sekali tidak berduli lagi.
“Tunggu dulu kamu mau pergi kemana. Kamu belum memberitahu aku bagaimana aku bisa keluar dari sini?,”tanya Anila menarik pakaian dari wanita hantu.
“Aku tidak tahu. Mungkin kamu bisa mencari tahu dari pintu perunggu itu, kalau tidak dari salah satu dari mereka,”jawab wanita hantu yang acuh kepada Anila.
“Tapi aku sama sekali tidak mengenal mereka. Bagaimana aku bisa bicara dengan mereka,”tanya Anila dengan wajah memelas.
“Kalau tidak, bantu saja salah satu dari mereka, mudah bukan. Kenapa kamu meminta bantuan aku yang berbeda dengan kamu,”tanya wanita hantu.
“Tapi hanya kamu yang mengajak aku berbicara untuk pertama kali. Kalau begitu bantu aku menolong mereka saja bagaimana,”kata Anila dengan wajah tersenyum meminta bantuan.
“Yang mana?,”tanya wanita hantu.
“Tunggu dulu aku akan melihat situasinya dulu,”jawab Anila melihat setiap kelompok. Dia melihat dengan seksama situasi dari kedua belah pihak satu di tundukan satu yang berkuasa. Setelah melihat wajah yang tertunduk oleh yang berkuasa Anila merasa ada suatu hal yang aneh.
“Kenapa aku merasa kalau satu kelompok itu seperti mencari kebenaran saja ya,”batin Anila.
“Kamu sudah memutuskannya belum,”kata wanita hantu yang tidak sabaran.
“Sudah bantu aku menolong mereka yang sudah tertangkap. Kamu hanya mengahlikan pandangan mereka. Aku akan menembak dengan ini,”ucap Anila yang percaya diri. Tapi dalam hatinya dia berkata,”Kenapa aku harus bernasib buruk seperti ini sih. Aku hanya ingin kembali ke orang tuaku saja. Masak aku harus menjelajahi semua makam kuno di dunia ini. Ini membuat aku frustasi saja.”
Wanita hantu yang sudah turun mulai menakuti orang berpakaian hitam yang bersenjata. Pada saat itu Anila dengan wajah tegas memegang pistol yang dia bawa. Awalnya dia tidak ingin menggunakannya. Tapi untuk bisa keluar dari dunia ini dia harus bisa membuat rencana masa depan yang baik.”Aku harus melakukan semua ini,”batin Anila. Tapi apa yang akan dilakukan Anila setelah ini akan berhasil?.
Anila bersiap untuk memberikan kejutan. Sementara itu wanita hantu sudah turun seperti menghilang.”Aku masih belum terbiasa dengan suasan ini. Bagaimana aku bisa bicara dengan hantu wanita. Apa aku sudah gila ya karena terbangun di tempat ini,”hati kecil Anila.
Tepat dia ingin menggunakan senjata yang dia bawa. Wanita hantu datang dan melemparkan senjata yang dia ambil dari orang dibawah. Anila menangkapnya terasa pistol yang dia bawa itu berarnya antara 5 kg.”Kurasa ini jenisnya sama seperti yang aku lihat di film ya. Senjata tentara militer,”ucap Anila yang terkagum dengan senapan yang dia pegang itu.
Tapi dia harus kembali fokus karena dia harus membantu mereka yang ada di bawah sana.”Bagaimana aku bisa menggunakannya,”ucap Anila yang mencari setiap sisinya. Setelah dia menarik pelatuk di senapan. Segera Anila memosisikan tubuhnya untuk bisa menggunakan senapaan itu. Anila menargetkan ke salah satu orang berbaju hitam di bawah. Tepat waita hantu sudah membuat pengahlian untuk Anila. Segara Anila mulai menarik pelatuk dengan telunjuk jarinya. Sau peluru sudah melesat ke arah orang berbaju hitam. Dimana peluru sudah melesat dengan sangat cepat membuat Anila berpikir,”Apa ini berhasil?.”
Tepat saat Anila berpikir seperti itu. Peluru mengenai salah satu orang yang berdiri didekat tahanan yang sudah terkepung. Semua orang yang tadi tidak waspada mulai melihat sekitarnya. Mereka dengan senjatanya mulai memperhatikan sekitarnya. Karena kawan mereka sudah terkana peluru dari jarak yang tidak diketahui.
“Siapa disana?,”ucap salah satu orang berbaju hitam.
Anila yang mendengar samar-samar masih berdiam diri di tempat persembunyian.”Mana mungkin aku keluar,”ucap Anila dengan suara kecil. Apa lagi hatinya merasa tegang tubuh bergetar. Suara nyaring terdengar dari telinganya karena baru pertama kalinya.
“Jadi begini caranya menggunakan pistol. Apa lagi membunuh orang. Maafkan aku ayah ibu. Aku melukan semua ini untuk bisa selamat dari tempat ini,”kata Anila yang merasa bersalah karena sudah melukai orang lain.
Tapi saat dia terdiam mata Anila masih melihat ke bawah. Mau tidak mau Anila harus bekerja sama dengan wanita hantu. Setelah beberapa pengahlian Anila mula menargetkan beberapa orang berbaju hitam untuk dia bunuh dengan senapan itu. Setelah berkurang jumlahnya. Orang yang tadi di tahan awalnya tidak bergerak mulai membuat rencana.Salah satu dari mereka mulai bergerak dalam kegelaan untuk membunuh musuh yang tersisa. Tapi saat itu Anila yang tertarik melihat pria itu menatap dengan seksama. Tapi anehnya pria itu seperti melihat balik dengan wajah dingin membuat Anila terkejut.
“Apa dia tahu posisiku. Itu tidak mungkin,”ucap Anila. Tapi saat semua orang di bawah mulai bergerak wanita hantu yang sudah tidak terlihat wujudnya. Itu juga bersamaan dengan perasaan tidak nyaman Anila yang ada di lorong itu. Anila menoleh ke belakang. Dia merasa ada mata yang menatap ke arahnya. Dia mengarahkan senter ke lorong di belakangnya. Tapi dia tidak melihatnya,”Hai wani hantu apa itu kamu?.”
Tapi tidak ada jawaban dari wanita hantu sehingga membuat Anila waspada. Tapi sementara di bawah semua musuh yang menangkapnya telah di tangkap semua membuat Anila sedikit lega.
“Hai kamu dia atas sana cepat turun. Aku sudah tahu kalau kamu bersembunyi disana. Jika kamu ingin hidup cepat turun kalau kamu bukan bagian dari mereka,”ucap pria yang tadi menyerang musuh lebih dulu.
Anila mendengar samar-samar masih menatap ke lorong. Tepat saat dia berbalik melihat ke bawah. Perasaan dingin dari belakang seperti memanggil dia. Anila menoleh ke belakang seperti pertama tidak ada siapa-siapa. Anila menarik nafas dia mengelurakan tali yang dia bawa dan mulai turun ke bawah. Tanpa menoleh ke belakang.
“Perasaan apa tadi itu kenapa aku merasa kalau ada sesuatu di belakangku yang memanggilku tadi. Tapi perasaan itu tidak enak untuk tubuhku,”ucap hati kecil Anila sambil merayap turun ke bawah dengan tali. Semua orang melihat ke arah Anila. Semua terlihat waspada saat Anila turun.
“Siapa kamu?,”ucap salah satu pria baya.
“Aku orang yang tersesat. Maaf sudah membuat kalian takut. Aku orang baik kok. Aku hanya ingin keluar dari sini saja. Jika tidak keberatan apa kalian mau membantu saya keluar dari makam ini,”ucap Anila dengan ramah.
“Paman kamu jangan seperti tu. Lihat dia hanya seorang wanita biasa saja. Kurasa dia tidak akan melukai kita. Apa lagi dia sudah membantu kita. Maaf sudah membuat kamu taku. Kami berterima kasih sudah membantu kami lepas dari musuh,”ucap pria lain disisi pria tampan yang permata di lihat Anila dia atas.
“Sudahlah, lebih baik ta lihat itu peti matinya,”ucap salah satu pria di belakangnya. Bersama dengan beberapa orang dia membuka peti mati. Anila berjalan disaat semua sibuk melihat isi peti matinya. Anila berjalan ke arah sebuah batu besar seperti pintu perunggu yang dimaksudkan oleh wanita hantu. Tapi anehnya dia merasakan ada tatapan dari loroang dia bersembunyi sebelumnya. Anila menoleh ke atas tampak wanita hantu sedang melihat ke arahnya. Tapi anehnya dia tersenyum sambil berkata,”Semoga berhasil untuk keluar dari dunia ini.” Anila membaca ucapaan bibir itu dengan samar-samar berpikir,”Apa maksudnya itu.”
Karena tidak ingin terlalu lama memikirkannya dia menaiki anak tangga melihat pintu besar itu. Dia melihat dari atas sampai bawah. Setelah melihat dia atas sama sekali tidak ada yang aneh. Dia melihat ke bawah ada sebuah tulisan seperti bahasanya. Tulisan itu Perjalanan melintas 9 dunia raja Armaan Ars”.
“Siapa dia?,”suara kecil Anila karena baru pertama mendengar nama itu.
“Apa yang kamu lihat?,”ucap pria tampan dari belakang.
“Aku hanya melihat tulisan ini saja. Apa kakak tahu siapa itu Raja Armaan Ars?,”kata Anila yang ingin tahu.
Tapi pria tampan itu hanya diam saja menatap ke arah Anila.”Ada apa. Apa kamu juga tidak tahu. Tidak apa-apa?,”ucap Anila kembali melihat ke sisi lain. Tapi dia tidak menemukan apa-apa. Sementara itu pria tampan itu masih mengikuti Anila dari belakang. Anila merasa risih dan tidak nyaman berkata,”kenapa kamu mengikutiku. Aku tidak akan melukai kawan kamu. Aku hanya ingin keluar dari sini saja. Apa tidak boleh,”ucap Anila dengan tegas.
Sementara disisi lain kawan dari pria tampan melihat kawanya itu mengikuti Anila.”Apa yang dilakukan kakak kecil disana?,”ucap satu pria agak gemuk.
“Aku juga tidak tahu. Mungkin dia masih curiga dengan wanita itu. Ayo ke sana mungkin kita bisa berkenalan dengan dia,”kata pria berkaca mata dengan tubuh kurus.
“Kakak kecil apa yang kamu lakukan disana. Kamu membuat dia takut,”ucap pria gemuk.
Tapi tidak ada jawaban dari pria tampan.”Maaf soal kawanku itu dia hanya merasa kamu sedikit berbeda dengan orang kami temui,”ucap pria berkaca mata.
“Tidak apa-apa. Aku tahu kok kalau mewaspadai orang asing,”ucap Anila yang tahu kegelisahan dari pria tampan. Tapi bagaimana setelah ini akan Anila bisa mendapatkan petunjuk dan keluar dari dunia yang tidak ketahui itu?.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!