Pagi hari di sebuah rumah yang terlihat cukup megah satu keluarga tengah menikmati sarapan.
Aminah adalah wanita paruh baya yang memiliki dua orang putra dan satu putri, putra laki laki yang bernama Arkan putra pertama, putra kedua nya bernama Abimana dan yang paling di sayang oleh mereka adalah putri Bungsu keluarga tersebut bernama Azqiara Almashira Azzani.
Azqiara Almashira Azzani atau bisa di panggil kia adalah gadis cantik,manis dan priang namun semua nya berubah ketiga hal buruk menimpa mereka.
Kedua Abang kia tidak tinggal bersama nya di jakarta namun mereka memilih tinggal di luar kota melanjutkan pendidikannya dan membangun bisnis di sana mungkin mereka akan sesekali mengunjungi kia dan juga uminya.
Dulu saat kia masih SD hal yang paling ia suka adalah saat makan bersama entah sarapan makan siang ataupun makan malam karena di atas meja itulah terjadi canda gurau antara keluarganya namun semua itu berubah saat Abinya berkhianat terhadap uminya dan hal itu seketika langsung merubah kia yang tadinya penuh keceriaan menjadi anak yang pembangkang.
Abi kia lebih memilih wanita lain dibandingkan uminya dan Abinya dengan teganya meninggalkan keluarga itu demi wanita lain di saat itu walaupun kia masih kecil namun dia benar-benar benci dengan Abinya hingga saat ini.
Hingga luka itu masih membekas sampai saat ini, kia yang waktu kecil menggunakan hijab dari saat kejadian itu ia berani melepas hijab nya, bahkan kadang kia suka memakai pakaian yang cukup terbuka.
Sang umi sudah kewalahan memberikan nasehat kepada Putri bungsunya itu bahkan kedua abangnya pun sudah menasehati adiknya berkali-kali namun tak pernah mempan walaupun di rumah dia akan menjadi anak yang sangat manja kepada umi dan kedua abangnya namun di luar rumah dia akan menjadi gadis yang sangat berbeda.
"Abang kok tumben sih pada ada di rumah biasanya sibuk terus" ucap Kia pada kedua abangnya.
"Emangnya nggak boleh abang pulang ke rumah, bang juga kan kangen sama adik Abang yang bandel ini" jawab Arkana sambil mengacak-ngacak rambut adiknya.
"Iya dek Abang juga kangen banget sama kamu udah lama juga kan kita nggak ketemu" timpal Abimana.
"Ya itu karena abang berdua yang sibuk sampai nggak ingat sama kia" cibir nya.
"Iya iya maafin Abang ya dek"
"Hmm"
"kia..." Panggil sang umi dengan lembut.
"Hmm"
"Kamu kapan mau berubah masa mau seperti ini terus sih nak"
"Berubah apa nya sih umi, Kia bukan power rangers yang bisa berubah umi" jawab nya dengan santai, umi Patimah hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban putri bungsunya itu.
"Dek maksud nya bukan gitu loh" ucap Arkana.
"Trus gimana bang??"
"Kamu itu udah dewasa, kuliah udah mau semester akhir loh masa kelakukan masih nakal aja kaya anak SMA, coba tutup aurat nya kaya dulu " ucap Arkana.
"Nanti kia fikir fikir dulu ya bang" ucap nya lalu bangkit dari duduk nya dan berpamitan kepada ketiga nya untuk pergi karan kia sudah ada Jaji dengan teman nya untuk pergi ke toko buku.
Sebelum pergi Kia menyempatkan kan memeluk dan mencium pipi ketiga orang yang paling dia sayang.
"Bay aku pergi ya" ucap nya.
"Walaikumsalam salam kia" ucap Abimana sambil geleng gelang kepala melihat kelakuan adik nya.
"Heheh lupa bang, assalamualaikum semua nya"
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh " jawab semua nya.
"Umi bingung harus bahagia mana lagi ngadepin adek kalian itu"
"Sabar mi"
"kia seperti ini karan kecewa pada Abi mi, dulu dia anak yang manis dan pintar " ucap Arkana mengingat Azqiara kecil dulu.
"Ya kamu bener mungkin ia belum bisa menerima itu" jawab umi nya dengan sendu.
****
kia dan Amelia sudah berada di dalam sebuah toko buku. Amelia adalah sahabat kiat dari SMA nyampe kuliah.
"kia aku ke sana dulu ya mau nyari koleksi buku-buku terbaru di sini" ucapnya lalu melangkah meninggalkan Kia, Kia hanya menganggukan kepalanya.
"Hmmm" Kia pun mengangguk kan kepala nya.
kia melangkah kan kaki nya ny menuju buku buku tentang Islam, ia mengambil salah satu buku di antar banyak nya buka, hati nya merasa sedikit teriris membaca buku tersebut sungguh ia sangat jauh dari apa yang ada dalam buku itu, mulai dari penampilan,bahasa dan banyak hal nya lagi namun kia segera menepis nya karan perubahan nya saat ini adalah akibat ulah abi nya.
Brak....
Tiba-tiba ada yang menabrak Kia sampai ia terjatuh dan meringis kesakitan, dia mendongkang menatap siapa yang menang ternyata seorang laki-laki.
"Kalau jalan pelan pelan dong mas, mas nya gak punya Mata ya" maki kia ada laki-laki tersebut, namun laki-laki tersebut bukannya menolong kia yang masih tersungkur di lantai dia malah pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.
"Woy dasar laki-laki nggak punya perasaan lo, bukannya nolongin gue malah pergi begitu aja, laki-laki kurang ajar percuma ganteng kalau tak punya hati" maki kia sedikit berteriak.
Amelia datang menghampiri sahabatnya dan membantu kia untuk bangun "Kamu kenapa sih kok malah duduk-duduk di lantai nggak ada kerjaan banget" grutu Amelia sambil membantu kia bangun.
"Enak aja siapa juga yang duduk-duduk santai di atas lantai, ini semua gara-gara cowok gak punya hati itu udah nabrak aku bukannya nolongin malah nyelonong begitu aja, dasar cowok kulkas" kesalnya.
"Kamu ini emang ada ya cowok kulkas" tanya Amelia dengan polosnya.
"Amelia, kamu nyebelin banget sih maksud aku tuh cowok itu teh mukanya dingin sama datar banget nggak ada senyum-senyumnya sama sekali" ucap kia greget sambil menatap amelia, Amelia hanya tertawa karena tadi ia hanya pura-pura polos saja.
"Udah ah jangan gitu entar jodoh loh" goda Amelia.
"Idih ogah banget aku jodoh sama laki-laki kayak gitu"
"Udah ah yuk pulang udah mau sore juga takutnya nanti hujan" ajak Amelia langsung diangguki oleh kia.
"Ya udah ayo" jawab kia dengan malas.
****
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja akhirnya kia sampai di rumahnya, seperti biasa saat nyampe ke rumah kia selalu berteriak memanggil uminya.
"Umi Kia pulang" teriaknya dengan kencang.
"Ya ampun kia masuk rumah bukannya ucapin salam malah teriak-teriak, ingat kamu itu anak perempuan yang anggun gitu loh nak" omel umi kia.
"Apa sih umi anaknya baru pulang langsung diomelin" ucapan nya sambil cemberut.
"Umi cuman mengingatkan loh kia dan ini lihat pakaian yang kamu pakai Sampai kapan kamu akan berdandan seperti ini mengumbar aurat?? Ke mana Qia umi yang dulu???" Ucapnya sambil mengelus dada beristighfar dalam hati.
" Umi berisik deh selalu itu yang diucapkan" ucap Qia sambil melangkah pergi meninggalkan uminya menuju kamar.
Ummu Fatimah hanya menggelengkan kepalanya sambil terus beristighfar melihat kelakuan Putri bungsunya, berdoa semoga Qia diberikan hidayah oleh Allah dan kembali ke jalannya seperti dulu.
***
Malam ini Qia bersama uminya sedang menikmati makan malam, mereka hanya berdua karena kedua Abang Kia sudah kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing mungkin mereka hanya akan sesekali mengunjungi uminya dan juga kia.
"Kia selesai makan umi ingin bicara sesuatu sama kamu??" Ucap umi KIA dengan lembut, iya hanya menganggukkan kepalanya.
Selesai makan malam umi iya benar-benar mengajak anak bungsunya untuk bicara serius di ruang keluarga.
"Ada apa umi??" Tanya dia saat mereka sudah berada di ruang keluarga.
"Anak umi udah besar dan cantik lagi" ucap umi Kia sambil mengelus rambut putrinya.
"Ada apa umi???" Tanya Kia karena merasa uminya agak aneh.
"Umi sangat menyayangi Kia dan umi mau Kia berubah seperti dulu gadis cantik umi yang solehah sudah waktunya kamu melupakan masa lalu dan memaafkan abimu" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Umi Kia juga sayang banget sama umi, maafin Kia karena udah jadi anak yang durhaka tapi maaf Kia tidak bisa memaafkan Abi, Kia benci sama Abi umi Abi udah meninggalkan kita demi orang lain" ucap Kia yang mulai terisak.
"Kia umi punya permintaan apa kamu mau mengabulkan permintaan umi" tanya pada sang Putri.
"Apa umi jika Kia bisa melakukannya dia akan melakukan itu untuk umi"
"Umi sudah menjodohkan mu dengan anak sahabat umi dan umi yakin dia bisa membimbingmu kembali ke jalan Allah " ucapnya dengan lembut.
"Apa??? Dijodohkan umi?? Gak, kia nggak mau kalau harus dijodohkan umi" tolak Kia.
"Umi mohon nak, ini demi kebaikan kamu"
"Kia nggak mau umi, pokoknya nggak mau" kekehnya.
"Dengerin umi dulu Kia, umi melakukan ini semua demi kebaikan kamu"
"Pokoknya Kia tetap tidak mau umi" ucapnya dengan tegas, kemudian Kia pun bangkit dari duduknya dalam melangkah keluar rumah.
"Kia mau kemana" teriak umi Kia mengejar putri nya, mamun tak di hiraukan sama sekali oleh Kia.
"Ya Allah anak itu" laki laki umi Aminah hanya bisa mengelus dada.
Saat sedang dalam keadaan seperti ini Kia selalu pergi ke tempat haram yaitu ke club. Kiara berada di pojokan club tersebut sambil memegang satu gelas wine.
Hingga tiba tiba ada laki laki hidung bekang yang menghampiri nya.
"Hai cantik sendirian aja?? Sepertinya kamu sedang bersedih boleh aku temani" ucap laki-laki tersebut sambil mengelus pipi mulus.
Dengan kasar Kia langsung menepis tangan laki-laki tersebut dan pergi meninggalkannya begitu saja namun baru mau melangkah pergelangan tangan Kiara di cekal oleh laki-laki tersebut.
"Dasar brengs*k, mau apa lo hah, laki-laki kurang ajar" maki Kia sambil memberontak ingin tangannya dilepaskan.
"Kamu tidak akan aku lepaskan, Kamu harus menjadi milikku malam ini manis" ucapnya sambil kembali membelai pipi Kia.
"Dasar benar-benar kurang ajar Lo" Kia mulai ketakutan dan menangis.
"TOLONG..... TOLONG....." Kia berteriak minta tolong.
"Ngapain kamu minta tolong sayang percuma saja tidak akan ada yang akan menolongmu, kamu lupa ini adalah klub malam jadi semua orang bebas melakukan apapun....."
Bugh.....
Bugh....
Bugh....
Tiba-tiba ada seseorang yang memukul laki-laki hidung belang tersebut dan menyelamatkan Kia, Dia sangat bersyukur karena ada menyelamatkannya saat ini jika tidak ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
Setelah laki-laki hidung belang itu pergi Kia melihat seseorang yang telah menolongnya, ia menyipitkan matanya karena sepertinya tidak asing dengan wajah pria itu.
"Hah bukannya itu si cowok kulkas yang di toko buku ya, kok bisa sih dia nolongin aku" batinnya.
"Makanya kalau beli baju yang nutup badan jangan beli baju yang kekurangan bahan begini" ucap laki-laki itu pada Kia.
Dia melongo jujur ya kesal namun dia tetap bersyukur karena sudah ditolong "Makasih sudah nolongin gue" ucap Kia, dia ingin melangkah pergi namun tiba-tiba laki-laki tersebut menghentikan langkahnya.
"Tunggu mau ke mana??"
"Pulang"
"Biar saya antar kamu pulang tidak baik seorang perempuan pulang malam-malam begini" tawar laki-laki tersebut.
"Hah???" Iya kalau mau mendengar ucapan laki-laki tersebut.
"Di mana rumah kamu"
"Di perumahan X"
"Baik ayo" ajaknya pria itu pun melangkah lebih dulu diikuti oleh Kia di belakangnya menuju ke mobil laki-laki tersebut.
Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan apapun yang keluar dari mulut keduanya mereka sama-sama bungkam, Kia merasa gugup.
Tak lama mobil pun sampai di depan rumah kia kia langsung turun dari mobil tersebut dan mengucapkan terima kasih pada waktu yang mengantarnya namun tak ada jawaban sama sekali dari sang pemilik mobil malah Langsung kembali melajukan mobilnya tanpa berkata apa-apa.
Saat mau masuk ke dalam rumah nya ternyata rumah kia terkunci mungkin umi nya sudah tidur tapi untung nya ia selalu membawa kunci cadangan kadi bisa masuk.
Di sebuah apartemen seorang laki laki tampan baru saja memasuki kamar nya ia merasa pusing saat mengingat apa yang telah terjadi beberapa saat lalu.
Laki laki tersebut adalah Attarazka Zayn Malik adalah seorang dokter muda yang sangat tampan manun juga dingin.
Beberapa jam sebelum nya....
Drrttt
Drrttt
Drrttt
Ponsear Attar berbunyi....
"Hallo assalamualaikum...." Jawab nya.
"Tar tolongin gue dong, gue lagi ada di club ni dan gue gak bisa pulang sendiri karan kebanyakan minum" ucap nya dengan tergesa-gesa.
"Jawab salam gue dulu"
"Iya iya walaikumsalam salam pak dokter"
"Lagian ngapain sih Lo selalu ke tempat haram itu, susah bener di bilangin kalau tempat itu gak baik Aldo" ucap Attar pada salah satu sahabat nya bernama Aldo.
"Stop.... Jangan dulu ceramah mending lo cepat ke sini deh, bantuin gue plis nanti gue ceritain bagai mana gue bisa ada di tempat inil" ucap nya memohon.
"Baiklah tunggu " jawab Attar mau bagai manapun Aldo adalah sahabat nya gak mungkin Attar abai kan begitu saja walaupun harus ia injakan kaki nya di tempat haram itu.
Attar pun langsung berganti baju karna ia baru saja pulang dari rumah sakit, setelah berganti baju Atar bergegas masuk ke dalam mobilnya untuk menuju club, apar tidak pergi sendiri tapi ia ditemani dua bodyguard-nya takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Saat sampai di club Atar mendengar suara perempuan meminta tolong ia pun berniat menolong perempuan tersebut dan menyuruh dua bodyguardnya untuk mencari Aldo.
"Kalian berdua cari Aldo dan bawa dia pulang saya ada urusan sebentar" titah nya pada kedua bodyguard yang Atar bawa.
"Baik Tuhan"
Tanpa menunggu lama ataupun langsung menghampiri perempuan yang tengah meminta tolong tersebut dan wanita itu tak lain adalah kia.
***
Pagi pun tiba antar sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit namun saat ia akan berangkat tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Halo assalamualaikum Bun"
"Walaikumsalam Atar, siang nanti kamu ada waktu nggak?? Bisa pulang dulu bunda mau bicara" pinta bunda Atar dengan lembut.
"Ada apa Bun antar kurang tahu soalnya jadwal antar lagi padat" jawab nya.
"Ya sudah tapi kalau ada waktu kamu pulang ya ke rumah"
"Iya Bun"
Panggilan pun berakhir dan atar cepat-cepat keluar dari apartemennya untuk berangkat ke rumah sakit.
***
Sore tiba kebetulan semua pekerjaan atar sudah selesai tak ada lagi jadwal operasi jadi ya bisa langsung pulang untuk menemui bundanya.
"Assalamualaikum bun" ucap Atar saat memasuki rumahnya dan melihat sang bunda Tengah menata makan malam di meja makan.
"Ehh nak akhirnya kamu pulang juga" ucapnya sambil memeluk sang anak.
"Iya Bun ya udah atar ke atas dulu ya mau bersih-bersih"
"Iya jangan lama-lama ya kita makan sama-sama"
"Siap Bun"
Beberapa menit berlalu sekarang di meja makan sudah ada ayah ,bunda dan juga Atar hanya tinggal menunggu adik perempuan Atar yaitu Sarah.
"Malam semua" ucap Sarah ketika baru saja turun dari kamarnya, Sarah adalah adik Atar satu-satunya yang masih duduk di bangku SMA.
"Tumben Abang ada Disni, biasa nya sibuk terus" sindir Sarah pada Atar.
"Sarah jangan gitu nak, kakakmu kan lagi nggak sibuk makanya dia pulang" tegur sang bunda.
"Ya tumben aja Bun biasanya kan sibuk nggak sibuk kakak selalu di apartemennya" ucapnya dengan sinis namun Atar tak peduli dengan sindiran yang terus dilontarkan oleh adiknya itu.
"Udah udah mending kita makan dulu jangan malah ribut" lerai ayah Atar.
"Antara setelah ini ayah sama bunda ingin bicara sesuatu kita bicara di ruang keluarga ya nak" pinta ayah Atar pada sang anak, ataupun hanya mengangguk mengiyakan ucapan ayahnya.
***
Selesai makan ayah, bunda dan Atar sudah berada di ruang keluarga.
"Ayah sama bunda ingin bicara apa ya??" Tanya atar to the points.
"Bunda hanya ingin tanya sama kamu Atar, apa kamu sudah punya pacar atau calon istri yang akan kamu nikahi?? Tanya bunda Atar dengan lembut.
"Bunda ini apa sih atar belum ada rencana untuk menikah jadi mana ada antar punya calon istri" jawab Atar dengan kesal.
"Dengerin ayah ya nak, ayah dan bunda hanya ingin yang terbaik untuk kamu makanya kami berencana ingin menjodohkan kamu dengan putri dari sahabat bunda, kamu itu sudah cukup umur untuk berumah tangga dan kamu juga sudah sukses bahkan kamu sudah menjadi dokter spesialis di umur yang masih dibilang cukup muda, walaupun sejujurnya ayah ingin kamu meneruskan perusahaan ayah karena siapa lagi selain kamu yang akan meneruskan perusahaan ayah oleh karena itu kamu butuh pendamping" ucap ayah antar dengan serius.
"Tapi sepertinya Atar belum siap jika harus ber rumah tangga ya, jujur saja Atar takut gagal" jawabnya dengan jujur.
"Ayah yakin kamu bisa nak karena iman dan akhlak kamu sudah cukup untuk membimbing istri kamu nantinya membangun keluarga yang sakinah mawadah warohmah"
"Kalau begitu izinkan dulu latar untuk salat istikharah, antar harus memikirkan semua ini dengan sebaik-baiknya karena ini menyangkut masa depan Atar sendiri dan juga calon istri atau nantinya"
"Baiklah nak jika itu mau mu, kami akan selalu mendukung apapun keputusan kamu tapi kami yakin jika ini adalah yang terbaik buat kamu nak" ucap ayah Atar.
Atar pun berpamitan untuk ke kamar nya ia akan memikir ini semua sungguh ini sangat tiba tiba dan membuat Atar terkejut.
***
Di sepertiga malam Atar melakukan solat istikharah sungguh hatia nya sangat bimbang saat ini namun ia juga ingin membahagiakan orang tua nya dengan menuruti apa yang mereka mau.
"Ya Allah ya robb hanya kepadamu lah hamba berserah bantu lah hamba untuk menghilangkan kersahan ini, ya Allah berilah hamba petunjuk untuk menyelesaikan semua nya hamba yakin jika apa yang ngaku takdir kan untuk hamba pasti itu yang terbaik"
Doa Atar di seperti malam nya, dia selalu melakukan solat istikharah agar mendapatkan petunjuk yang terbaik.
Pagi hari setalah melaksanakan solat subuh Atar bersiap untuk pergi kebetulan pagi ini ia ada seminar di luar kota.
"Udah mau berangkat nak" tanya sang bunda saat melihat Anka nya menuruni tangga.
"Iya Bun pagi ini Atar mau mengisi acara seminar di luar kota"
"Oh iya sarapan dulu ya nak"
"Iya Bun" Atar pun melangkah menuju meja makan di sana sudah ada sang ayah yang sedang menikmati secangkir teh.
"Gimana dengan keputusan kamu tar??" Ta ya nya.
"Atar udah sholat istikharah ya tapi Atar masih bimbang dengan kepuasan yang akan Atar ambil"
"Apapun keputusan kamu ayah dan bunda akan selalu mendukung mu, kamu pikir kan saja baik baik jangan sampai kamu salah mengambil keputusan" jawab nya sambil tersenyum ke arah sang putra.
"Iya yah makasih ya"
"Sama sama nak"
Selesai sarapan Atar pun berpamitan pada kedua orang tua nya.
"Jangan lupa berdoa dulu sebelum berangkat tar" ucap sang bunda.
"Iya Bun"
"Atar berangkat yah, Bun setelah pulang dari acara ini atas janji akan memberikan jawaban tentang keputusan yang akan Atar ambil" jawab nya sambil berpamitan kepada kedua orang tua nya.
***
Atas Samapi di bandara karan ia tidak menggunakan mobil tapi memilih untuk menggunakan pesawat.
Setelah beberapa jam Atar Samapi di kota tujuan, hari ini ia belum ada acara karan acara akan di mulai besok setalah istirahat sebentar atas memelih untuk berjalan jelana sebentar.
Atas sampai di pusat perbelanjaan di kota tersebut ia teringat akan adik nya nya Sarah dan ingin membelikan sesuatu untuk dia, saat selesai membelikan sesuatu untuk Sarah tatapan Atar tertu pada toko perhiasan ia melihat sepasang kalung dan cicin yang sangat cantik menurut nya natah apa yang ada di pikiran nya Atar langsung membeli barang tersebut.
"Cantik banget, seperti nya cocok buat calon istri ku nanti" gumam Atar.
Setalah selesai Atar segera kembali ke hotel nyankaran waktu juga hampir malam.
***
Empat hari sudah atar berada di luar kota dan sekarang saat ia untuk pulang, Atar pulang ke rumah orang tua nya, biasa nya ia kan Langsung ke apartemen namun kali ini tidak.
"Assalamualaikum..." Ucap Atar saat memasuki kediaman orang tua nya.
"Walaikumsalam" jawab bunda Atar.
"Atar ke atas dulu ya Bun, mau istirahat sebentar capek banget"
"Iya nak"
Atar malangkah menuju kamar nya dan ia langsung merbeh kan tubuh nya di atas tempat tidur.
Satu jam sudah Atar beristirahat hingga tak terasa magrib pun tiba, Atar bangun dan membersihkan tubuh nya lalu turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarga nya.
"Ehh Abang udah pulang kata nya pergi luar kota kok gak bilang sih" ucap Sarah yang melihat Abang nya baru turun dari kamar.
"Kenapa harus bilang bilang" jawab Atar cuek.
"Ihh Abang mah" Sarah cemberut.
"Iya iya Abang tau apa maksud kamu, udah Abang beliin oleh oleh tuh dinkamar kamu ambil aja"
"Hah serius bang"
"Hmm"
"Makasih Abang pertian banget sih" ucap nya dengan senang.
"Udah kita mulai makan malam nya dulu " titah bunda Atar.
Mereka pun memulai makan malam nya, setalah makan malam Atar menemui ayah dan benda yang sedang bersama di ruang keluarga.
"Yah,Bun Atar sudah punya keputusan" ucap Atar.
"Jadi apa keputusan kamu nak" tanya sang ayah dengan serius.
Atar terdiam sejenak ia bener bener memikirkan keputusan yang akan dia ambil kali ini.
Atar menghela nafas panjang" bismilah Atar mau menerima perjodohan ini yah " jawab nya dengan yakin.
"Alhamdulillah " ucap kedua nya senang.
"Nanti bunda kabari teman bunda ya"
"Besok kita langsung kamar saja Bun" ucap papa Atar.
"Hah?? Secepat itu yah" tanya Atar yang terkejut.
"Bukan nya hal baik itu harus di segerakan jangan di tunda tunda" jawab ayah Atar, Atar hanya mengangguk pasrah.
Sedang kan bunda Atar lansung berlalu mengambil ponsel nya untuk memberikan kabar bahagia ini ada calon besan nya.
Di kediaman kia umi Aminah begitu bahagia saat mendapat kabar bahagia dari sahabat nya itu.
"Assalamualaikum umi" ucap Kiara yang baru saja pulang.
"Walaikumsalam, masyaallah nak ini beneran kamu" ucap umi Kia merasa bahagia karan sudah lama sekali putri nya itu tak mengucap kan salam saat masuk ke dalam rumah.
"Iya umi, emang nya siapa lagi"
"Umi senang kamu udah mulai berubah seperti dulu, ayo masuk nak ada kabar bahagia yang mau umi Sampai kan sama kamu" ajak nya.
"Kamu udah makan??" Tanya nya terlebih dahulu.
"Udah umi, kabar apa yang mau umi Sampainkan pada Kia???"
"Kia sayang gak sama umi???"
"Tentu saja kenapa umi bertanya seperti itu, di dunia ini hanya umi yang paling Kia sayang selah nya baru Abang Abang" jawab Kia dengan mata yang mulai be kaca kaca.
"Kia umi hanya ingin yang terbaik untuk Kia, makan nya umi berniat menjodohkan kan Kia dengan anak sahabat umi, umi ingin kamu k mbali ke jalan Allah lupakan semua yang telah lalu nak dan umi juga tak tau sampai kapan umi bisa menemani Kia dan umi pun tak bisa setiap saat terus berada di samping kia" ucap nya dengan air mata yang mulai terjatuh.
"Tapi umi Kia gak tau dan gak kenal laki laki yang akan di jodohkan dengan Kia, kia juga gak mencintai nya bagia mana jika dia seperti Abi umi yang meninggal kan kita , kia takut umi" ucap Kiara sambil terisak.
"Insya Allah dia laki laki yang baik nak, umi sudah kenal dengan calon suami mu itu bagitu pun dengan keluarga nya, umi yakin dia bisa menjaga dan membimbing kamu nanti nya di saat umi gak berada lagi di samping kia" jawab nya sambil tersenyum.
"Tapi kia takut umi, kajadian dulu terulang lagi" kia bener bener trauma akan abinya yang telah meninggal kan umi dan juga anak anak nya demi wanita lain, walaupun katanya itu terpaksa tapi kia bener bener takut kejadian itu akan terulang pada nya.
"Kia mulai lah melupakan masa lalu dan melupakan kesalahan Abi mu setalah itu umi yakin kia akan bahagia" ucap nya yakin.
"Baiklah jika menurut umi laki laki itu baik untuk Kia, kia akan menerima nya" jawab Kia sambil memeluk umi nya.
"Alhamdulillah terima kasih nak, umi yakin kamu akan bahagia bersama nya dan umi akan selalu mendoakan mu" ucap nya sambil mengusap kepala putri nya.
"Maafin Kia ya umi semalam ini Kia sudah berubah menjadia anak yang pembangkang dan selalu melawan umi"
"Iya nak umi memaafkan mu tapi umi mau kamu kenakan hijab mu kembali jangan biar kan laki lakinlain melihat aurat mu "
"Baik umi akan Kia usahan walaupun pun berat" ucapannya sambil terkekeh.
Setelah itu kia pun pamit masuk ke dalam kamar nya, di dalam kamar kia mentapa foto keluarga nya di masa lalu yang masih lengkap ada umi,Abi kedua Abang nya dan juga diri nya, hati nya kembali sakit saat melihat Abi nya itu.
"Kenapa Abi lakuin itu, Abi jahat kia benji sama Abi" ucap nya kembali terisak.
"Kia kangen sama Abi tapi kia juga benci sama Abi karan Abi jahat "
Kia mengusap air mata nya dan menaruh kembali bingkai foto keluarga nya itu.
Kia melangkah menuju lemari membuka lemaro tersebut melihat gamis dan kerudung yang berjejer yang tak pernah ia kenakan selama beranjak dewasa, umi dan Abang Abang nya selalu membelikan baju gamis dan kerudung tapi sayang tak pernah ia kenakan hanya menjadi pajangan di dalam lemari, kia kembali menangis saat kembali mengingat apa yang telah ia lakukan selama inil sungguh ia sangat berdosa.
Kia pun meraih salah satu baju gamis nya dengan kerudung yang senada lalu melangkah ke kamar mandi dan mengenakan nya.
"Cantik" gumam Kiara saat melihat penampilan di depan cermin.
***
Keesokan pagi nya , tepat pukul 10 ada sebuah mobil mewah yang masuk ke pekarangan rumah kia, kia yang sedang berdiri di balkon kamar nya tentu saja melihat' mobil tersebut ia yakin jika mobil itu adalah milik calon suami nya.
Kebetulan hari ini weekend dan Kia tak ada kegiatan apa apa, sedari pagi ia sudah bersiap mengenakan gamis bermaena baby blue yang senada dengan kerudung nya membuat wajah Kia terlihat semakin cantik dan bersinar.
Tok
Tok
Tok
"Masuk aja umi" ucap Kiara dari dalam karan ia yakin jika itu pasti umi nya.
"Masyaallah cantik nya putri umi" puji umi Kia bener ada nya.
"Yaudah yuk kebawah Keluaga calon suami mu sudah datang" ajak umi Kia.
"Bentar umi, Kia gugup" jawab nya.
"Refleks aja nak, umi di sini akan selalu menemani mu" jawab umi Kia menangkan putri nya.
"Iya umi, Kia hanya sedikit takut aja kok"
"Tenang percaya sama umi kamu akan baik baik saja"
"Iya umi terimakasih " kedua nya pun mulai melangkah menuju ruang tamu.
***
Sampai di ruang tamu umi Aminah mempermalukan KIA pada keluarga Atar.
"Ini putriku nama Azqiara panggil saja Kia" ucap nya.
"Wah kamu cantik banget nak" ucap bunda Atar.
"Makasih Tante" jawab Kia sambil tersenyum.
"Jangan Tante dong, panggil bunda aja sebentar lagi kan kamu jadi menantu bunda"
"I..iya Bun.. bunda" ucap Kiara sedikit gugup.
"Hay kak aku Sarah adik nya bang Atar"
"Hay Sarah aku Kia" jawab Kia.
Sedang kan Atar masih menunduk nggan untuk melihat calon istri nya.
Atar pun mencoba mengangkat kepala nya dan melihat ke arah kia, tatapan kedua nya saling bertemu dan terkejut.
"Kamu!!!"
Ucap kedua nya berbarengan.
"Loh kalian sudah saling kenal??" Tanya ayah Atar.
"Gak kok kita hanya pernah bertemu di toko buku waktu itu" jawab Kia tak mungkin ia menceritakan jika Atar pernah menolong nya di club.
"Oh begitu ayah Kiara kalian sudah kelanl dekat"
"Dia terlihat lebih cantik saat memakai hijab" batin Atar.
"Baiklah mari kita mulai saja acara nya" ucap ayah Atar.
Acara pun segera di mulai Atar melamar Kia dan Kia pun menerima lamaran tersebut.
"Alhamdulillah semua sudah selesai tinggal kita rencanakan pernikahan mereka, bagai mana jika pernikahan nya kita lakukan Minggu depan" usul ayah Atar.
"Tapi kia masih kuliah den lagi nyusun skripsi" jawab Kia.
"Iya yah Atar juga Minggu depan ada tugas di desa terpencil "
"Tapi kan hal baik tak boleh di tunda tunda nak" jawab ayah Atar. Atar pun hanya mengangguk.
"Kia kalau kamu sudah menikah dengan nak anak umi yakin Atar nanti nya bisa membantu kamu bikin skripsi "
"Baiklah umi Kia ikut aja" pasarah nya.
"Baiklah mulia besok kita harus mempersiapkan kan penikaman mereka, besok kalian mulai fitting baju ya pagi" ucap bunda Atar.
"Tapi bunda Kia besok kuliah pagi" jawab Kia.
"Yaudah sore aja nak, kamu bisa kan"
"Insya Allah bunda"
Setalah obrolan selesai Keluaga Atar kembali pulang dan Kia kembali masuk ke dalam kamar nya.
***
Pagi ya sudah terbangun tepat saat adzan subuh berkumandang, biasanya ia akan cuek saja saat mendengar azan subuh dan kembali tidur lagi tapi berbeda kali ini Kia Langsung bangun saat mendengar azan bahkan ia ingat akan dosa dosa nya terdahulu, Kia pun bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi setelah itu melaksanakan keajaiban nya sebagai umat muslim.
Saya salat dia turun ke bawah menuju dapur menghampiri uminya yang sedang memasak.
"Assalamualaikum pagi umi" Safa Kia sambil mencium kedua pipi uminya.
"Waalaikumsalam nak, kamu bikin umi kaget aja"
"Umi lagi masak apa?? Maunya bantuin nggak??" Tawar nya.
"Umi lagi masak nasi goreng kesukaan kamu, tidak usah sebentar lagi juga selesai lebih baik kamu tunggu saja di meja makan" titah nya.
"Ok umi" ya pun langkah pergi menuju meja makan.
Tak berapa lama umi kia sudah datang ke meja makan sambil membawa nasi goreng yang ia buat tadi, keduanya pun menikmati sarapan bersama.
"Umi apa bang Abi sama bang arka tahu kalau kia mau menikah???" Tanya Kia.
"Tahun umi sudah memberitahu mereka, nanti juga pasti mereka akan ke sini"
"Yeeyy Kia senang banget, Kia udah kangen banget sama mereka" ucap nya senang.
"Iya cepat habiskan sarapannya kamu mau kuliahkan hari ini???"
"Iya umi"
Setelah menghabiskan sarapannya kia pun berpamitan untuk berangkat kuliah pada umumnya.
"Umi kira pamit dulu ya assalamualaikum"
"Iya nak hati-hati di jalan waalaikumsalam"
Umi Kia pun memandang kepergian putrinya sungguh hari ini ya sangat bahagia melihat perubahan Kia.
***
Sampai di kampus ia tidak langsung masuk ke kelas karena masih ada waktu setengah jam lagi sebelum kelas dimulai, ia duduk di taman kampus sambil membaca buku sekalian juga menunggu sahabatnya Amelia yang belum datang.
"Assalamu'alaikum Kia" ucap Amelia sedikit ragu apa benar yang sekarang ada di hadapannya Kia sahabatnya.
"Waalaikumsalam Amelia" Jawab Kia tersenyum.
"Ya ampun Kia, ini bener-bener kamu?? Kamu udah berhijab lagi wahh cantik banget" ungkap Amelia kagum.
"Iya Amalia ini aku, Alhamdulillah " jawab Kia sambil memeluk sahabat nya.
"Doain aku terus ya biar bisa Istiqomah " lanjut nya.
"Pasti"
"Oh ya Amalia kamu percaya gak sebentar lagi aku mau nikah " berita tahu Kia.
"Hah?? Nikah, gak pasti kamu bercanda kan" ucap Amelia tak percaya dengan apa yang kia ucap kan.
"Gak Amelia kali ini aku serius" jawab Kia.
"Kamu serius, kok bisa sih tiba tiba nikah begini" tanya Amelia masih tak percaya.
"Aku di jodohin sama umi lia, dan kamu tau kok siapa calon suami aku" jawab nya.
"Serius, siapa?? Aku penasaran" jawab nya antusias.
"Kamu ingat gak waktu kita ke toko buku terus ada laki laki yang nabrak aku dan pergi begitu Saja, coko dingin kaya kulkas itu" beritahu Kia.
"Oh itu, tuh kan apa aku bilang dia beneran jodoh kamu kan" jawab Amalia sambil tertawa.
"Ishh kamu apaan sih" ucap Kia malu malu.
"Cie..cie malu..." Ucap Amalia menggoda Kia.
"Tapi selamat ya kia, semoga kamu jadi istri yang soleha, amin" sambung Amelia.
"Iya makasih ya Lia, jangan lupa kamu datang ya Minggu depan ke pernikahan aku "
"APA??? Minggu depan gak salah Kia" jawab Amelia kembali kaget.
"Heheh gak Lia menga Minggu depan kok acara nya, maaf ya bikin kamu kaget terus" ucap Kiara sambil terkekeh.
"Ya Allah secepat ini kah sahabat aku nikah"
"Iya lia, intinya kamu harus datang ok" ucap Kia.
"Insya Allah aku pasti Dateng Kia"
"Ya udah yuk masuk kelas"ajak Kia.
"Iya"
***
Tak lama kelas Kia sudah bubar karan hari ini hanya pembagian dosen untuk bimbingan Skripsi saja jadi tidak lama.
"Kia tukeran yuk dosen nya" ucap Amelia memelas.
"Gak mau ya, aku beruntung dapat dosen ganteng , baik pula" ucap Kia dengan senang.
"Iya tapi aku dapat dosen yang killer dan di takutin banyak mahasiswa, gimana dong Kia" keluh Amelia.
"Terima aja Lia, seperti ini tergantung amal ibadah kita" ucap Kia sombong.
"Alah kamu hanya beruntung saja"
"Yaudah kah siapin dosen nya yang penting kita kerjakan dan cepat selesai, ayo pulang" ajak Kia.
"Yaudah deh aku duluan yah udah di jemput sama papa aku kaya nya" ucap Amalia.
Saat Amelia menyubut papa nya tiba tiba Kia teringat akan abinya.
"Kia kamu kenapa kok melamun " tanya Amelia khawatir.
"Eh gak papa kok" jawab Kia sambil tersenyum.
"Yaudah aku duluan ya assalamualaikum "
"Walaikumsalam.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!