NovelToon NovelToon

(Boy)Friendzone

Cinta Pada Pandangan Pertama = Cinta Buta

Jangan sibuk dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. 1+1\=2

"Apa lagi?" Hara menghela napas panjang saat mengangkat panggilan di ponselnya. Suaranya pasrah penuh dengan lelah, jenuh, dan jengah.

Ini adalah panggilan ketiganya sejak pagi hari, bahkan matahari belum berada di tengah-tengah.

"Ya kamu itu yang maunya apa?" Suara laki-laki di ujung sana penuh dengan kekesalan dan juga kebosanan.

Hara memijit pelipisnya, kepalanya serasa panas berdenyut. Menatap layar komputer yang penuh dengan deretan angka, di tambah lagi rengekan dari laki-laki di ujung telepon, membuat kepalanya semakin berdenyut parah.

Pusing, mual, jantung yang berdebar. Perasaan yang sudah setahun ini dia rasakan setiap kali nama Nael muncul di ponselnya yang berdering.

"Nanti kita obrolin lagi ya, aku lagi sibuk, deadline kerjaan ku harus selesai siang ini" Hara berusaha merendahkan suaranya, menekan egonya dari sumpah serapah yang ingin keluar dari mulutnya.

"Sok sibuk kamu" Putus Nael dan sambungan telepon pun berakhir.

Hara menghela napas lagi, dengan mata yang masih terpejam dia terus mengusap pelipisnya. Jantungnya masih terus berdebar tak karuan. Memacu peredaran darahnya yang mungkin terlalu cepat hingga menimbulkan nyeri di tengkuknya.

Pikiran Hara mengembara. Orang yang sama, status yang sama, jantung yang sama-sama berdebar cepat, tapi bisa menimbulkan 2 perasaan yang bagai kutub utara dan selatan.

Cinta dan Benci.

Orang bilang perbedaannya tipis, bagi Hara itu hanya bualan orang yang berpikiran sempit. Dan saat ini, dialah orang yang berpikiran sempit itu.

Tapi hidup terus berputar, tidak peduli dengan perasaan apa, kondisi apa, situasi apa yang di hadapi orang-orang yang menjalaninya.

Profesional. Itulah yang harus di lakukan seorang pekerja, dan itulah status Hara saat ini.

Setelah menghela napas panjang lagi, dan menata perasaan serta suasana hatinya. Dia membuka matanya dan bersiap menghadapi deretan angka di program excel miliknya.

Dengan tekad kuat dan semangatnya, dia segera merapikan angka-angka tersebut kedalam tabel, menyusunnya agar mudah di baca oleh orang-orang bertittle akuntan.

Dunia dewasa pekerja yang bahkan tidak memperbolehkannya menikmati sejenak sakit hatinya itu mau tidak mau memaksanya harus berkonsentrasi penuh dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Hara si perfeksionis, begitulah kiranya rekan-rekan kerjanya menjulukinya. Tidak bangga dan juga tidak tersinggung, Hara cukup biasa-biasa saja menanggapi julukannya itu. Baginya sisi dirinya yang seperti itu yang membuatnya memiliki garis besar dalam hidupnya yang dia jadikan pegangan meskipun badai ujian silih berganti mampir di hidupnya.

Dan saat ini, dia sedang berkutat merealisasikan julukannya tersebut. Fokus dan berkonsentrasi penuh dengan apa yang ada di depan matanya. Tangannya dengan terampil sedang memainkan keyboard dan mouse, alat yang membantunya menyusun angka-angka dan memberikannya gaji selama beberapa tahun terakhir.

"Hara" Seseorang menepuk pundaknya pelan. Hara berjengit kaget dan menoleh.

"Istirahat" Si penepuk pundak memberikan informasi. Hara melihat jam tangannya, waktunya makan siang.

"Ok" Hara mengangguk paham dan segera membereskan laporannya, menyimpannya dalam file dan menutup layar komputernya.

"Serius amat sih dari pagi, kan gue jadi sungkan kalau mau malas-malasan" Sinta, si penepuk pundak itu menyandarkan setengah tubuhnya ke meja Hara sembari melipat kedua tangannya.

"Iya nih, deadlinenya siang ini" Jawab Hara sembari tersenyum, kemudian berdiri dan mengajak Sinta untuk pergi makan siang bersama.

"Halah meskipun bukan deadlinenya lu tetep aja serius setiap hari, kok bisa sih?" Tanya Sinta heran. Mereka memasuki pantry yang sepi menuju kulkas 2 pintu besar milik perusahaan tempatnya berkerja.

"Bisa apanya, perasaan biasa aja" Jawab Hara santai, menarik keluar tas bekalnya yang dia simpan di kulkas kantor, membukanya dan mengambil kotak bekalnya kemudian beralih ke microwave yang ada di samping kanannya.

"Biasa lu bilang?" Sinta melakukan hal yang sama sembari menunggu gilirannya untuk memanaskan bekal makan siangnya di microwave.

"Apa perlu gue ajuin survey ke seluruh perusahaan ini, siapa karyawan yang paling serius disini, yakin 1000 persen deh pasti jawabannya elu. Hara si perfeksionis" Jelas Sinta sembari membingkai wajah Hara dengan jari jemarinya.

Hara hanya tersenyum tipis menanggapi julukannya. Bukan hal yang memalukan kan menjadi seorang perfeksionis? Walaupun harus Hara akui itu sedikit mengganggu hidupnya. Dia harus merencanakan setiap detail kegiatannya, resolusinya, rutinitasnya. Setiap menit waktunya tak kan dia biarkan terbuang sia-sia. Apakah salah? Apakah dia terlalu ketat dengan hidupnya sendiri? Apakah ini yang membuatnya tidak bahagia? Tidak bebas? Apakah dia tidak normal?

TIDAK.

Hara segera menipis pikiran negatif itu dari kepalanya. Sisi perfeksionisnyalah yang telah menjadikan dia seperti saat ini. Siswa peraih peringkat pertama sepanjang masa 12 tahun pendidikan dasarnya. Mahasiswa peraih beasiswa penuh dan lulusan dengan predikat magna cumlaud dengan ipk nyaris sempurna di jurusan akuntan publik yang hanya di tempuhnya dalam waktu 3 tahun. Karyawan dengan nilai tertinggi saat tes masuk perusahaan, dan disinilah dia saat ini, menjadi asisten manager termuda sepanjang sejarah perusahaan itu berdiri.

"Kayaknya boleh juga tuh" Jawab Hara bercanda. Dan mereka pun tertawa bersama. Menikmati makan siang yang di hangatkan ulang yang sudah menjadi salah satu bagian dari rutinitas terencana hidupnya.

...****************...

Sebagai pekerja nine to five, Hara hampir tidak pernah lembur. Pekerjaannya selalu selesai tepat waktu. Salah satu manfaat sisi perfeksionisnya.

Hara merapikan mejanya sebelum dia pulang, menyimpan semua hasil pekerjaanya dalam file dan mematikan komputernya. Dia melirik jam tangannya. Jam 5 sore hanya tinggal beberapa menit lagi. Hara meregangkan tubuhnya, merilekskan otot-ototnya yang tegang.

Ponselnya di meja berdering, jantungnya kembali berdebar kencang di iringi rasa berdenyut di kepalanya dan perut yang melilit menimbulkan rasa mual menyesakkan itu.

Nael. Nama yang disimpannya dengan akhiran tanda hati berwarna merah itu selalu bisa membuat jantungnya berdebar kencang.

Cinta dan Benci. Luar biasa bukan?

Hara mengamati ponselnya, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sembari menghitung getaran di ponselnya. Tidak ingin cepat-cepat menjawabnya tapi juga tidak ingin terlalu lama. Menunggu timing yang tepat.

"Ya?" Di getaran kelima Hara menjawab panggilan itu. Menjaga intonasi dan nada suaranya agar terdengar pas, tidak bersemangat tapi juga tidak terdengar jenuh. Sungguh kehidupan yang rumit. Lagi-lagi karena sisi perfeksionisnya.

"Nah kan, kalau aku nggak telepon duluan, kamu mana ada hubungin aku" Suara "pas" Hara di sambut dengan ocehan penuh protes dari Nael. Laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya 2 tahun belakangan.

Cinta pada pandangan pertama, seperti di drama-drama.

Hara sedang ada rencana meeting di luar dengan seorang klien di sebuah kafe. Disaat itulah dia bertemu dengan Nael.

Seorang laki-laki yang membuat Hara merasakan jantung berdebar untuk pertama kalinya. Cinta pertama pada pandangan pertama. Romantis? Tentu saja. Dalam masa 21 tahun hidupnya, baru kali ini Hara merasakan rasa itu. Rasa yang tidak di rencanakannya dalam "resolusi 10 tahun mendatang" miliknya.

Nael yang saat itu juga ada janji temu dengan klien, menghampiri Hara.

"Hara?" Tanyanya sopan.

Hara terkesiap, dia segera membetulkan sikap profesionalnya. Berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah laki-laki di hadapannya.

"Ananta Hara" Ucapnya tegas tapi lembut sembari tersenyum.

"Ah ya, Nael" Jawab laki-laki di hadapan Hara sembari menyambut uluran tangan Hara, memperkenalkan diri.

"Maaf terlambat, macet" Memberikan sedikit informasi kedatangannya.

"Tidak masalah, saya juga baru sampai" Jawab Hara sopan.

Nael menarik kursi di hadapan Hara, meletakkan tas kerjanya di kursi di sampingnya.

"Mari duduk" Ajaknya sopan pada Hara yang di sambut anggukan oleh Hara.

"Ibu..." Hara bertanya dengan alis berkerut, harusnya saat ini yang duduk di hadapannya adalah seorang perempuan paruh baya bergaya elegan yang biasanya agak sedikit cerewet. Alih-alih seorang laki-laki dengan setelan kemeja biru muda berlengan panjang yang di padankan dengan jas berwarna coklat muda. Warna old money, begitu para gen Z menyebutnya.

"Saya minta maaf, Ibu Helena hari ini berhalangan hadir, jadi saya yang mewakilinya. Maaf karena tidak sempat mengabarkannya terlebih dulu" Nael menjelaskan asal usul situasinya yang membuat dia harus duduk berhadapan dengan Hara saat ini. Di luar rencana mereka berdua.

"it's ok" Jawab Hara dengan profesional.

"Biasa terjadi" Hara berusaha menyembunyikan rasa gugup dalam suaranya. Bukan karena akan membicarakan perihal keuangan perusahaan, atau karena kali pertamanya meeting di luar tanpa di dampingi managernya, melainkan karena Nael, laki-laki yang duduk di depannya saat ini.

Hara berusaha sekuat tenaga menjaga sikap profesionalnya, di tengah perasaan yang campur aduk yang dia rasakan saat ini. Menjaga ekspresi wajahnya agar sebisa mungkin pertemuan kali ini bisa melancarkan deal antara kedua perusahaan itu.

"Ini laporan keuangannya" Nael mengeluarkan map dari tas kerjanya dan mengulurkannya kepada Hara. Memulai diskusi pekerjaan mereka.

Hara mengamatinya dengan serius. Kali ini fokusnya sudah sepenuhnya teralihkan pada tabel-tabel laporan di kertas yang di pegangnya. Sembari memutar-mutar pena yang ada di tangannya, kepalanya mengangguk-angguk membaca deretan angka-angka itu.

Menelaah setiap informasi yang disajikan angka-angka tersebut untuk kemudian di susun menjadi sebuah rencana kedepannya.

"Saya sudah baca laporannya, tapi untuk keputusan akhirnya saya harus berkonsultasi dulu dengan manager, kebetulan hari ini beliau sedang ada urusan lain. Tapi secepatnya saya akan mengabarkan kepada Ibu Helena" Hara yang telah selesai mengamati laporan itu menyampaikan hasil analisanya kepada Nael.

"Baiklah, tapi untuk hasilnya tolong sampaikan saja ke saya, karena ibu Helena sedang pergi liburan ke luar negeri untuk 2 minggu, dan saya butuh secepatnya keputusannya. Sebelum pergi Ibu Helena sudah menyerahkan masalah ini ke saya" Jelas Nael.

Bingo. Seperti sudah takdir, kejadian yang tidak Hara rencanakan itu berjalan mulus. Benar-benar timing yang sempurna. Cara mendapatkan nomor ponsel cinta pertamanya tanpa harus terlihat gampangan.

"Kalau begitu bisa minta nomor ponselnya? Atau anda mau manager saya saja yang menghubungi anda?" Taktik lainnya agar tidak terlihat gampangan yang di terapkan Hara, tarik ulur.

"Tidak, anda saja bisa menghubungi saya" Jawab Nael. Bak gayung bersambut, Nael menuliskan nomor ponselnya di secarik kertas kemudian memberikannya kepada Hara.

Dan begitulah cinta pertama pada pandangan pertama Hara, dari urusan bisnis menjadi urusan cinta. Seperti di drama-drama.

Kenangan pertemuan pertama mereka yang terlintas di pikiran Hara itupun buyar seketika oleh ocehan penuh protes dari Nael. Hara menghela napas lagi, entah bagaimana sekarang helaan napas Hara menjadi lebih sering ketika berbicara dengan Nael. Sampai-sampai hampir menjadi kebiasaan.

"Ini aku baru mau hubungin kamu, tapi keburu kamu duluan yang telepon" Jawab Hara dengan suara yang berusaha tetap lembut. Demi menjaga hubungan mereka yang sudah 2 tahun terjalin.

"Alasan" Saut Nael dengan marah. Lagi-lagi pembicaraan yang di awali dengan saling tuduh tidak percaya.

"Nael, aku harus gimana lagi sih, kayaknya setiap jawaban dari aku selalu kamu salahin" Hara tetap berusaha menjaga intonasi dan nada suaranya, meskipun batinnya ingin sekali mengeluarkan semua sumpah serapah dan tuduhan penuh ketidakpercayaan balik pada Nael.

"Ya coba kamu pikir sendiri dong, mana pernah selama ini kamu hubungi aku duluan. Kenapa? Apa karena ngehubungin aku itu gak ada dalam rencana dan rutinitas harian kamu? Aku gak masuk dalam resolusi 10 tahun mendatang kamu? Gitu kan?" Cecar Nael tanpa henti.

"Ananta Hara si perfeksionis yang harga dirinya tinggi sekali sampai-sampai ngehubungin pacar sendiri harus di jadwalin dulu" Tuduh Nael sengit.

Hara lagi-lagi menghela napas panjang. Tuduhan dari Nael semakin kreatif dan inovatif serta mengada-ada setiap harinya. Dia heran, darimana datangnya semua pembicaraan toxic ini. Darimana awal mulanya perasaan cinta yang berubah jadi benci ini.

"Nael aku..." Hara berusaha menjelaskan, tapi semua omongannya di potong begitu saja oleh Nael. Sebenarnya kalau Hara mau, dia bisa mendebatnya dengan sengit, tapi untuk apa? Ini bukan ajang debat adu siapa yang benar dan siapa yang salah.

"Hara aku capek, capek dengan sikap kamu, capek dengan sifat kamu, capek dengan hubungan kita. Aku mau kita memikirkan ulang hubungan kita, kayaknya kita butuh waktu untuk sendiri-sendiri" Pungkas Nael setelah berhasil memimpin perdebatan yang melelahkan itu. Berbelit-belit hanya untuk mengakhiri sebuah hubungan.

"Kamu serius Nael?" Tanya Hara yang selama perdebatan hanya menjadi pendengar tanpa bisa membela diri.

"Ya, aku rasa kita sebaiknya putus" Akhirnya tujuan pembicaraan ini terlihat.

Hara terdiam, bingung bagaimana harus menyikapi kata-kata Nael. Perasaan benci yang dia rasakan untuk Nael tidak cukup besar sampai harus di akhiri dengan putusnya hubungan mereka. Benci tapi cinta, cinta tapi benci. Hara sendiri pun tidak bisa mendeskripsikan perasaannya.

Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi, mual yang semula hanya ada di perutnya sekarang sudah merangkak naik ke tenggorokannya. Semakin tidak tertahankan.

Tanpa mematikan sambungan teleponnya Hara berlari menuju toilet, dengan buru-buru mencari bilik yang kosong dan memasukinya.

Makan siangnya dan es americano yang belum tercerna sempurna itupun keluar jadi satu, menjadi sebuah cairan menjijikkan yang dia muntahkan ke dalam closet yang ada di depannya.

Tangannya gemetaran mencari tombol flush yang ada di atas dudukan closet, dia memencetnya dan segera air keluar menghilangkan seluruh bukti-bukti perasaan campur aduknya beberapa menit yang lalu.

Setelah puas menguras isi perutnya, Hara terduduk di lantai, dia menyandarkan kepalanya di bilik toilet. Air matanya jatuh bersamaan dengan berhentinya suara flushing dari closet itu.

Beginikah? Pikir Hara, kisah cinta yang dia kira akan bertahan tak peduli seberat apapun badainya ternyata bisa karam juga.

Bukannya tidak pernah memikirkan bagaimana dirinya tanpa Nael, hanya saja Hara terlalu bucin kepada Nael. Jadi setiap kali memikirkan tentang itu, Hara selalu menepisnya dan berusaha mengalah agar hubungan mereka tetap bertahan.

Kalau orang lain bertanya, sebucin apa dirimu? Maka Hara bisa menjelaskan dengan detail sebucin apa dia.

Dari yang menerima dengan lapang dada perbedaan agama dirinya dengan Nael, selalu mengalah setiap kali Nael dan dirinya berdebat, selalu menjemput Nael saat mereka akan kencan, selalu mengiyakan apapun kata Nael meski itu bertentangan dengan hati kecilnya, selalu menerima saat Nael membandingkannya dengan cinta pertamanya yang katanya lebih dewasa dibanding Hara. Dan masih banyak lagi kebucinan Hara yang di luar akal sehatnya.

Hara meringkuk memeluk dirinya sendiri, menangis tanpa suara.

Seharusnya dia tidak berkutat dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Apakah berbeda agama bisa bersama? Jawaban yang jelas sejelas 1+1\=2

Cinta Pada Pandangan Pertama Yang Lain

Semua yang dijalani lebih dari satu minggu itu bisa menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu bisa jadi mengerikan

Tiga hari sudah berlalu sejak keputusan sepihak dari Nael tentang hubungannya dengan Hara. Selama itu juga waktu Hara terasa berhenti.

Aku minta waktu seminggu buat jawab keputusan kamu,boleh kan?

Pesan singkat balasan dari Hara untuk Nael yang cuma berakhir hanya dengan tanda dibaca tanpa dibalas itupun menjadi akhir dari hubungan Hara dan Nael.

Bagi Hara, semua butuh waktu, termasuk memutus sebuah hubungan, dari yang asing, menjadi dekat, kemudian menjadi asing kembali. Harus ada proses adaptasinya. Tidak bisa ujuk-ujuk begitu saja.

Kutipan dari salah satu film yang berbunyi jatuh cinta itu mudah, putus juga mudah, yang sulit adalah mempertahankan hubungan, tampaknya bukan hanya quotes asal jeplak saja. Nyatanya saat ini itulah yang sedang dialami Hara.

Hara dan Nael hanya butuh waktu satu bulan masa pendekatan hingga akhirnya mereka memutuskan berpacaran. Sangat mudah bukan?

Untuk apa menunda rasa yang sudah ada, sekarang atau besok rasanya tetap sama

Prinsip Hara kala menerima "tembakan" dari Nael walaupun mereka masih seumur jagung dalam hal mengenal.

"Ibu!" Sebuah tepukan tangan pelan tepat di depan wajah Hara membuyarkan lamunannya. Sesosok polisi berseragam lengkap sedang berdiri di samping Hara.

Hara terkesiap, dengan wajah bingung dia menelisik polisi muda yang saat ini sedang bersikap hormat padanya.

"Hormat juga pak" Jawab Hara sembari menirukan sikap hormat polisi tersebut.

"Bisa lihat surat-surat kelengkapan kendaraannya bu?" Tanya polisi itu dengan senyum simpul melihat kepolosan sikap Hara.

"Tidak baik mengendarai kendaraan tapi dengan pikiran kosong" Lanjutnya mengingatkan.

Hara yang masih berusaha mencerna situasi itupun terlihat bingung dan linglung. Tiba-tiba saja dia sudah di jalanan dan tiba-tiba saja ada polisi di hadapannya. Semuanya ajaibnya tiba-tiba saja.

Dia mengedarkan pandangan ke sekitar, ramai orang juga berhenti. Jantungnya berdetak kencang, ketakutan mulai merayapinya, membuatnya berkeringat dingin.

Apa gue nyebabin kecelakaan ya? Sial.

"Pak, ada kecelakaan ya?" Tanya Hara ragu-ragu, matanya masih awas mencari dimana korban dari kecelakaan yang mungkin dia timbulkan. Hara melirik sekilas ke arah polisi yang sedang menahan senyum di depannya itu, kemudian beralih ke arah name tag di seragamnya. Kama.

Polisi muda dengan badan tegap proporsional, wajahnya yang bersih dengan sedikit rona alami di pipinya, serta pakaian dinas rapi itu masih tersenyum ke arah Hara.

"Tidak ibu, kami sedang mengadakan operasi gabungan patuh semeru, jadi mohon tunjukkan surat-surat kelengkapan kendaraannya" Ulang polisi bernama Kama tersebut dengan sikap sabar profesionalnya.

Hara menghela napas lega, otot-otot wajahnya mengendur, irama jantungnya mulai kembali ke normal.

Sangat tidak lucu kalau sampai dia masuk tribun dengan headline "wanita muda putus cinta sebabkan kecelakaan beruntun".

Hara bergidik mengusir pikiran buruk itu. Kisah cintanya jadi konsumsi publik se Indonesia raya merdeka. Membayangkannya saja Hara tidak sanggup.

Namun, kelegaannya hanya bertahan beberapa menit saja, karena detik berikutnya otot wajahnya kembali menegang. Matanya melotot ngeri dengan isi pikirannya saat ini.

Sialan! Kan gue gak punya SIM

Entah harus bahagia atau sedih, Hara tidak bisa memutuskan ekspresi wajah apa yang seharusnya dia pasang saat ini.

"Bisa lebih cepat sedikit bu" Kama yang masih menahan senyum karena berbagai perubahan ekspresi wajah Hara itupun kembali melaksanakan tugasnya.

Hara dengan kikuk mengeluarkan dompet dari tasnya, berusaha mengulur-ulur waktu berharap polisi tersebut jenuh dan akhirnya memberikan kelonggaran untuknya pergi.

Si Perfeksionis Hara yang tidak punya SIM. Kiranya ada daftar kelemahan Hara, maka hal itu bisa dimasukkan kedalamnya.

Hara pendatang di kota ini, perantau yang pergi untuk kuliah hingga kemudian mendapatkan pekerjaan di sini.

Pekerjaan pertama yang langsung menyita waktunya ini tidak memungkinkannya pulang kampung untuk mengurus SIM dengan segala keruwetan testnya.

Bukannya tidak pernah mencoba, hanya saja menurut pikiran Hara, test ujian untuk mengurus SIM sekelas dengan audisi untuk menjadi aktor fast and furious. Bagaimana tidak, sepertinya peserta uji SIM di haruskan tahan banting, kebal senjata tajam, anti peluru, bisa terbang, mampu mengendalikan empat elemen dan punya cadangan nyawa tujuh. Sangat sangat tidak biasa.

Jalanan kampung mana sih yang bentukannya angka delapan?

Protesnya kala itu saat melihat medan untuk uji praktek naik kendaraan bermotor. Dan benar saja, untuk pertama dan terakhir kalinya Hara langsung gagal. Sebenarnya jiwa perfeksionisnya menolak untuk menerima kegagalan tersebut, tapi logika Hara mencegahnya untuk memuaskan ambisinya yang harus perfect di segala bidang.

Toh kala itu Hara tidak terlalu membutuhkan SIM, tempat kost dan kampusnya di tempuh dengan berjalan kaki, saat pulang kampung dia menaiki transportasi umum bus atau kereta. Dan Saat dia mulai berkerja hingga saat ini, 3 tahun lamanya, dia selalu aman berkendara tanpa pernah sekalipun kena tilang atau terjerat operasi gabungan.

Tapi begitulah kehidupan, ada untung dan apes. Dan saat ini, nasib apes sedang senang-senangnya menempel pada Hara.

"Ini pak" Dengan wajah santai penuh percaya diri Hara mengulurkan surat tanda nomor kendaraan miliknya.

Kama menerima dan memeriksanya, mencocokkan nomor seri yang tertulis disana dengan nomor plat yang terpasang di motor Hara.

Lolos, lolos, lolos

Batin Hara terus merapal doa. Tidak ada salahnya kan berharap polisi itu sedikit lengah dan kemudian dia lolos?

Kama mengangguk-angguk dan kemudian melipat kembali surat tanda kendaraan bermotor milik Hara, menandakan bahwa pemeriksaannya lancar tanpa masalah dan kemudian mengembalikannya.

Hara sedikit bernapas lega, masih ada satu tahapan lagi yang kalau dia bernasib mujur maka dia akan lolos.

"SIM nya bu" Ujar Kama meminta saat Hara hendak memasukkan dompetnya kembali ke dalam tasnya.

"Oh iya lupa" Hara berlagak polos, sembari menarik kembali dompetnya yang sudah terlanjur masuk tas.

Tak ada jalan lain selain pasrah menerima surat tilang. Mau alasan apalagi dia? Lupa? Ketinggalan? Rasanya tidak akan mempan.

"Hmm... Begini pak, itu..." Hara tersenyum canggung. Wajahnya mulai dirayapi rona merah.

"Tidak bisa menunjukkan SIM sama saja dengan pelanggaran bu, jadi mau menunjukkan SIM atau menerima surat tilang?" Ujar Kama yang masih tersenyum. Senyum manis khas pegawai pemerintahan.

"Saya pilih opsi yang kedua saja pak" Jawab Hara cepat.

"Baik kalau begitu bisa pinjam KTP nya untuk data?" Kama mengeluarkan buku tilang yang mirip kwitansi besar itu, sembari menggelengkan kepalanya.

Cantik

Cuma kata itu yang muncul di kepala Kama untuk mendeskripsikan Hara. Dan lagi, satu kisah jatuh cinta pada pandangan pertama yang lain.

Setelah selesai dengan urusan tilang menilang, Kama mempersilahkan Hara untuk pergi setelah sebelumnya mengingatkan Hara agar menjaga fokusnya saat berkendara. Tentu saja yang diberi nasehat langsung terfokus, karena satu lagi kejadian yang tidak ada dalam jurnal rencananya hari itu. Kena Tilang.

Hara menghela napas panjang saat kembali mengendarai motornya. Sungguh hari-hari yang tidak terprediksi. Dan itu sangat menguras tenaganya.

Walaupun hubungannya dengan Nael diterpa badai, tapi tidak pernah sekalipun rencananya keluar jalur seperti akhir-akhir ini. Semuanya masih dalam kendalinya. Tepat sesuai prediksinya. Badai yang aman. Begitu Hara menyebutnya.

"Kenapa lu senyum-senyum sendiri?" Seseorang menepuk pundak Kama, rekannya sesama polisi yang baru saja menyelesaikan tugasnya datang untuk menginterogasi Kama karena sikapnya yang aneh.

"Lu percaya nggak sama cinta pada pandangan pertama?" Tanya Kama tiba-tiba.

Yang ditanya malah mengerutkan kening tak percaya, bisa-bisanya di sela tugas negara Kama malah membahas soal cinta.

"Baek-baek lu, untung aja ini operasi semeru, coba kalau operasi nangkap bandar togel, pasti jatuh cinta lu sama penjahat. Agak agak lu ya" Omel rekan Kama sembari pergi meninggalkannya yang sedang kasmaran sendiri.

Kama segera mengeluarkan ponselnya dan menyalin nomor telepon Hara sebelum mengembalikan buku tilang kepada petugas yang bertanggung jawab.

Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, urusan bagaimana menghubunginya bisa di pikir nanti. Kalau takdir saja bisa membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, maka takdir juga bisa membuatnya menghubungi Hara entah apa alasannya.

Semisterius itulah takdir, dari yang asing, bisa menjadi dekat, lalu bersama. Begitulah kiranya isi kepala Kama, lupa bahwa takdir pun bisa membuatnya kembali asing, seperti Hara dan Nael.

...----------------...

Hara menghela napas panjang saat berhasil memarkirkan motornya di tempat parkir karyawan, lega karena telah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Dia buru-buru pergi masuk ke dalam gedung perusahaan tempatnya berkerja. Setelah menscan kartu tanda pegawainya dan melewati pintu otomatis, dia menaiki lift untuk menuju ke ruangannya. Fokusnya sudah benar-benar kembali ke tempatnya. Dia mewanti-wanti kepada dirinya sendiri, untuk menikmati patah hatinya nanti malam saja, saat me time nya. Ini demi keselamatan dirinya sendiri dan khalayak ramai.

Segera setelah sampai di mejanya, dan menyalakan komputer. Langkah pertama yang Hara lakukan adalah mengambil buku jurnalnya dan memasukkan rencana waktu untuk menikmati patah hatinya. Dan waktu yang pas antara jam 8-9 malam.

Menangis karena patah hati

Malaikat pun mungkin heran melihatnya sedemikian rupa mengatur jadwalnya sembari menyisipkan waktu meratapi patah hati di sela-sela rutinitas hariannya.

Bagus Hara, inilah yang dinamakan dewasa, bisa membedakan waktu antara pekerjaan dan patah hati. Good job Hara, kamu hebat!

Hara mencoba menghibur dirinya sendiri, menepuk pelan pundaknya seolah memberi semangat. Banyak yang harus dia kerjakan sekarang, deadline-deadline yang menunggu untuk di selesaikan.

Terkadang dunia dewasa bisa sangat semengerikan itu. Kalau tidak bijak menentukan prioritas, maka bisa saja tergelincir dalam jurang kegagalan.

"Tumben sepi amat itu handphone, biasanya pagi-pagi udah kirim laporan ke komandan" Sinta yang juga baru saja datang dari pantry sembari menenteng cangkir kopi itu menarik kursi di sebelah Hara.

Paginya indah, tidak seperti Hara yang harus melapor saat sudah sampai di kantor. Kehidupan jomblo yang damai, begitu Sinta menamainya.

"Sudah putus" Jawab Hara singkat dengan mata yang terfokus ke layar monitor.

Sinta yang baru menyeruput morning coffee nya itu tersedak karena mendengar kata-kata Hara.

"Sumpah demi" Pekiknya syok. Buru-buru dia meletakkan cangkirnya di meja, dan memutar kursinya ke arah Hara. Namun yang dia lihat adalah pemandangan super duper biasa untuk orang yang sedang patah hati. Jangankan jejak-jejak kesedihan atau air mata, yang ada malah wajah fokus penuh konsentrasi ke arah layar dengan jari-jari yang mengetik cepat di keyboard.

"Iya kemarin lusa, sore jam 5 pas sebelum pulang kerja, lewat telepon" Urai Hara dengan mendetail. Bukannya ingin membanggakan statusnya yang baru saja putus, tapi lebih karena kebiasaannya yang selalu memberikan informasi sejelas mungkin tentang apapun. Bisa dikatakan bagian dari resiko pekerjaan.

"W.O.W" Takjub Sinta tak percaya.

"Baru kali ini gue lihat orang putus dan wajahnya super biasa kayak lo, sampai bingung deh gue harus ngucapin bela sungkawa atau malah selamat" Ujar Sinta sembari mengangkat tangan dan menggelengkan kepalanya. Salut dengan sikap profesional dan perfeksionis yang dimiliki rekan kerjanya itu.

"Iya nih masih nyari waktu yang tepat buat nangis, kemarin-kemarin nggak sempat, mau nangis di teleponin mulu sama klien" Jelas Hara yang masih tetap fokus ke arah monitornya.

"Buset dah, sibuk bener hidup lu, sampe mau nangis aja harus cari waktu dulu. Memang bisa ya hati di setel begitu?" Sinta menyerah dengan pembicaraan ini, terlalu tidak masuk di akal baginya. Dia memutar kursinya kembali dan juga mulai mengerjakan pekerjaannya.

Begitulah mereka berdua, duduk berdekatan tapi mengobrol hanya sekedarnya. Di katakan dekat, tidak terlalu, di katakan jauh juga tidak terlalu. Hanya ala kadarnya.

Sifat Hara dan Sinta sangat bertolak belakang, memaksakan diri akrab pun sepertinya bukan ide yang baik, hanya akan membuat lelah.

Hara yang terlalu perfeksionis dan terorganisir itu tidak akan bisa mengimbangi gaya hidup YOLO yang di anut Sinta.

Menurut Hara, gaya hidup YOLO sangat melelahkan,tapi begitu pula sebaliknya, Sinta tidak akan sanggup kalau harus mencatat setiap detail kehidupannya dan memasukkannya kedalam 24 jam rencana hariannya. Jam berapa harus apa, hari apa harus bagaimana. Sinta memutar matanya saat tau bahwa Hara harus sedetail itu dalam merencanakan kehidupannya.

Dan mereka pun sepakat membuat batas. Hanya sebatas teman yang saling menghormati, tanpa prasangka, dan tanpa menghakimi.

......................

Dunia memang sesibuk itu, saat yang lain sibuk membagi waktu antara pekerjaan dan patah hati, di belahan sebelah, sibuk memutar otak mencari alasan yang tepat untuk sekedar menghubungi.

Kama memutar-mutar ponselnya. Duduk di pos jaga kepolisian sembari mengawasi jalannya lalu lintas. Matanya sigap memantau setiap pengendara yang lewat. Berjaga-jaga apabila ada yang melakukan pelanggaran.

"Eh Kama, lu mau gue kenalin nggak, nih gue ada temen yang ngajakin ketemuan. Tapi mintanya double date. Cantik nih ceweknya" Rio, teman seangkatannya di akademi kepolisian itu menyodorkan ponselnya dengan foto seorang gadis cantik memakai pakaian dinas rumah sakit, terpampang di layarnya.

"Gak dulu deh" Tolak Kama bahkan tanpa memandang foto yang di perlihatkan temannya itu.

"Udah tobat lu?" Tanya Rio heran, Kama yang terkenal suka tebar pesona dan seorang donjuan itu menolak saat dikenalkan dengan cewek.

"Lo kira gue murtad, pake tobat segala" Balas Kama asal. "Bukannya gitu, gak tau kenapa ini cewek tuh gak kayak cewek-cewek yang pernah gue temuin, apa ya, greget aja gitu lihat nih cewek, bikin penasaran, jadi pengen cobain, baru kali ini gue lihat cewek terus langsung naksir pada pandangan pertama" Jawab Kama menjelaskan perasaan mendesir aneh yang dia rasakan.

"Sama mbak-mbak yang kena tilang tadi pagi?" Tanya Rio menyelidik.

"Yoi"

"Hmm... Lagu lu pake jatuh cinta pada pandangan pertama, kambing di bedakin aja lu sosor pake jitih cinti pidi pindingin pirtimi " Ejek Rio sembari memiring-miringkan bibirnya.

"Tuh mulut lemes banget sih, untung aja temen, kalau bukan udah gue dor lu" Saut Kama kesal hampir meremas mulut Rio yang ada di sebelahnya. Yang di ancam hanya cengengesan santai.

"Terus gimana caranya lu kenalan, masa iya lu mau nilang orang tiap hari?"

"Ya gak mungkin lah" Kama ngotot, "Gila aja nggak ada hujan nggak ada angin mau nilangin orang tiap pagi".

"Terus gimana mau ketemuin tuh cewek lagi? Memangnya lu tau dimana rumahnya? Nomor handphonenya?" Tanya Rio penasaran.

"Tadi pagi dia kena tilang karena nggak punya SIM, jadinya gue tau data dirinya, cuma yang jadi masalah alamatnya di luar kota, jauh. Mau ngehubungin dia juga pake alasan apa?" Kama mengeluarkan uneg-uneg yang sejak pagi dipikirkannya.

"Ya tinggal bilang aja hai boleh kenalan nggak? Gitu aja kok repot" Jawab Rio santai.

"Itu mah elu, nggak ada berkesannya sama sekali" Ejek Kama.

"Ah elah ribet amat, lagian ujung-ujungnya juga kenalan" Balas Rio tak mau kalah. Selama ini dia menganut instingnya yang seperti itu dan lancar-lancar saja, belum pernah ada cewek yang menolak tawaran kenalan darinya.

"Makanya lu masih jomblo, nggak punya taste sih lu, kenalan mulu kagak ada yang nyantol sama sekali" Kejar Kama sama-sama tak mau kalah.

"Kayak lu punya pacar aja, sesama jomblo dilarang saling mengejek" Balas Rio sengit.

"Eits... Sorry to say nih, gue memilih buat gak punya pacar, bukan gak laku pacaran ya" Sanggah Kama tak terima dengan tuduhan Rio.

"Alah itu mah memang lu nya aja yang gak mau serius, anak orang di buat maenan mulu, baek-baek lu, ntar kena cewek yang lu gila-gilain eh dia nya malah ogah baru tau rasa" Jawab Rio menyumpahi.

"Sembarang lu" Pungkas Kama.

Akhirnya Kama menemukan ide bagaimana cara menghubungi Hara, si cinta pada pandangan pertamanya.

Dia yakin Hara yang merupakan pendatang pasti belum mengenal seluk beluk kota ini. Mengingat ekspresi polosnya saat kena tilang tadi, Kama tau dia belum lama ada disini. Dan begitulah Kama akan bermain peran, polisi yang mengayomi masyarakat, sesuai dengan tugasnya. Dia akan menghubungi Hara, menawarkan bantuan untuk mengurus surat tilangnya di pengadilan setempat, lalu berkenalan secara alami, dan kemudian menjadi dekat.

Perfecto, tutup Kama percaya diri.

Apa Itu Patah Hati?

Hara membuka gembok gerbang kostnya, lalu menggeser kesamping besi tinggi beroda itu untuk membuat jalan agar dia bisa memasukkan motornya ke area parkir. Rutinitas yang sudah 6 tahun dia jalani ini tidak butuh banyak waktu dan bukan hal yang berat, seharusnya.

Tapi tidak bagi orang yang sedang patah hati, jangankan membuka gerbang, tidur pun bisa jadi aktifitas yang menguras tenaga.

Harus repot-repot mengusir bayangan saat masih bersama, harus fokus mengalihkan pikiran saat mulai meratapi dan muncul perasaan "kenapa", harus memeras otak untuk mengingat-ingat dimana letak salahnya, dan masih banyak lagi kegiatan menguras tenaga lainnya saat patah hati.

Setelah membereskan barang-barang dan membersihkan diri, Hara duduk di kursi meja belajarnya. Matanya nanar menatap jurnal hariannya. Melihat kembali setiap jadwal yang sudah dia rencanakan jauh sebelum "hari putus" itu tiba.

Senin, jam 19.30-21.00, me time

Selasa, jam 19.30-21.00, date with Nael

Rabu, jam 19.30-21.00, hang out with friends

Kamis, jam 19.30-21.00, me time

Jum'at, jam 19.30-21.00, hang out with friends

Sabtu, jam 19.30-21.00, date with Nael

Minggu, jam 19.30-21.00, decluttering

Rentetan jadwal harian di buku jurnalnya sudah terisi sampai 3 bulan ke depan, rapi terencana. Hara bahkan sudah merencanakan apa saja yang akan mereka lakukan saat ngedate, apakah menonton bioskop, makan malam bersama, atau hanya sekedar jalan-jalan mengitari mall sebagai ganti pemenuh langkah harian yang kurang.

Tapi yang namanya manusia hanya bisa merencanakan, hasil akhirnya tetap Tuhan yang menentukan.

Rencana yang menurut Hara tidak akan meleset itu nyatanya berantakan. Sepanjang pengalamannya membuat prediksi rencana, baru kali ini dia tidak menyiapkan plan B.

Tapi plan B apa yang akan disiapkan saat pacaran? Apa punya pacar cadangan? Lagi pula mana ada orang yang berpikir putus saat mulai sebuah hubungan. Semua pasti berusaha agar hubungannya berjalan selamanya.

Orang gila mana yang berpikir tentang punya pacar cadangan? Hara bergidik ngeri membayangkannya.

Hara yang terorganisir selalu membuat rencana cadangan untuk apapun itu, entah jadwal belajar, jadwal pekerjaan, atau bahkan jadwal kegiatannya saat me time. Dan tidak pernah sekalipun jadwal itu berantakan.

Hara membuka lembar kosong dalam jurnalnya dan mulai menulis,

Apa itu patah hati?

Dia mengetuk-ngetukkan pena yang di pegangnya ke meja. Berpikir keras. Dia mencoba mendeskripsikan perasaannya saat ini, marah, sedih, kecewa, atau merasa gagal?

Kehidupan Hara yang rumit, bahkan untuk memvalidasi patah hatinya saja dia harus mengklasifikasikan perasaannya terlebih dulu.

Marah. Karena apa?

Sedih. Karena apa?

Kecewa. Karena apa?

Gagal. Karena apa?

Tulisnya kemudian, PR yang harus diisinya ini setidaknya mampu mengalihkan perasaan-perasaan negatifnya yang muncul pasca putus dari Nael. Sakit hati yang positif, kalau bisa di tertawakan pasti Hara akan mentertawakan keadaannya saat ini juga.

"Apa gue harus periksa dulu ke RSJ ya?" Oceh Hara pada dirinya sendiri.

Dia mengingat kembali ke kejadian 3 hari yang lalu. Saat dirinya meratapi kesedihannya di bilik toilet sepulang jam kerja. Menangis meringkuk, yang dia kira akan bertahan beberapa jam. Tapi nyatanya, baru lima menit dia menangis, ponselnya sudah berbunyi.

Ibu Manager Inggar

Buru-buru Hara menggeser tombol hijau di layarnya agar panggilan itu tersambung.

"Hara, maaf menganggu, kamu sudah pulang?" Tanya bu Inggar buru-buru, dari latar suara di belakangnya, Hara tau bu Inggar sudah di dalam mobilnya dan mungkin sudah dalam perjalanan pulang.

"Ini saya masih ada di kantor bu, sedang ada di toilet" Jawab Hara detail. Harusnya bagian toilet di coret saja, tapi dasar Hara yang terlalu detail, bahkan informasi pribadi itupun lolos dia beritahukan kepada atasannya. Bersyukur saja dia tidak menambahkan keterangan "sedang menangis karena baru di putus pacar"

"Oh thanks God!" Suara penuh kelegaan keluar dari bu Inggar.

"Hara saya minta maaf, tapi ada berkas-berkas yang tertinggal di meja saya, dan harusnya malam ini file itu di kirim ke klien. Kebetulan hari ini anak saya ada pentas balet di tempat lesnya, bisa tolong kamu urus berkas-berkasnya, dan nanti kirimkan ke klien. Saya minta maaf sekali Hara, tapi ini saya terjebak macet, kalau harus balik ke kantor..." Oceh bu Inggar tanpa jeda. Terdengar suara klakson mobil bersaut-sautan di sela ocehan panjang bu Inggar.

"Iya bu akan saya bereskan" Saut Hara cepat. Hilang sudah rasa ingin menangisnya tergantikan dengan bayangan dirinya akan bekerja lembur dadakan. Otaknya yang sudah terbiasa memetakan rencana-rencana langsung otomatis menyusun apa saja yang harus di kerjakannya agar dirinya tidak pulang terlalu larut malam.

Dan begitulah hari pertama patah hati Hara, dirinya bahkan tidak punya kesempatan menangis, meratapi dan bertanya kenapa semua ini terjadi.

Hara memejamkan matanya dan menghela napas panjang, dia menutup buku jurnalnya. Menyandarkan kepalanya di meja, bertumpu di atas bukunya. Otaknya buntu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu di jawabnya. Gagal mengklasifikasikan perasaannya saat ini.

"Apa gue salah dalam menjalani hidup ya?" Gumam Hara, menatap foto berbingkai yang ada di depannya. Foto wisuda kelulusannya bersama dengan kedua orang tuanya.

Senyum ceria menghiasi ketiga wajah di dalam gambar tersebut, seorang gadis mengenakan toga lengkap dengan karangan bunga dan ijazah bersertifikat magna cumlaude itu terlihat sangat puas dengan hasil yang telah dicapainya.

Hara yang seorang anak mantan TKI di desa kecil mampu menyelesaikan kuliahnya di kota besar sebagai lulusan terbaik, jelas adalah hal yang membanggakan bagi kedua orang tuanya.

Meskipun berat, Hara tidak pernah sekalipun menyerah dan mengeluh dengan keputusan yang telah diambilnya. Saat seluruh keluarga besar menentangnya melanjutkan kuliah dengan dalih "buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya harus di dapur" atau saat dia dihujani pertanyaan menyesakkan tentang "kapan nikah" di acara kumpul-kumpul keluarga beserta dengan drama lanjutan "si anu temanmu SD aja udah punya anak" atau adegan yang lebih kejam "perempuan umur segini kok belum nikah, nanti keburu jadi perawan tua loh, nggak ada yang mau gimana?" semua itu berhasil di lalui Hara dengan pembuktiannya saat ini.

"Apa gue gak cocok dengan yang namanya pacaran ya? Apa gue bisa nikah ya? Kalau pacaran aja semelelahkan ini, gimana kehidupan nikah ya?" Hara kembali menggumamkan isi pikirannya.

Si gadis perfeksionis dan logis dari desa kecil ini pun tertidur setelah lelah dengan pikirannya sendiri.

...----------------...

Plash! Sebuah siraman air tepat di depan wajah laki-laki berkaos hitam itu membuat orang-orang di sekitar menoleh.

Sebagian takut-takut melirik, sebagian tidak punya empati dan dengan sangat jelas melihat kejadian itu untuk mereka nikmati dramanya, dan sebagian lagi acuh tak acuh karena itu bukan urusan mereka.

Food court di salah satu mall terbesar di kota itu selalu ramai pengunjung, tak peduli weekday atau weekend.

Dan salah satu peramainya adalah sepasang laki-laki dan perempuan yang saat ini tengah terlibat adegan penyiraman tersebut.

"Apa kamu bilang? Kita nggak pacaran?" Teriak seorang perempuan yang membuat mata orang-orang sekitar melihat ke arah mereka.

Laki-laki yang menjadi korban penyiraman air itu hanya bisa mengusap wajahnya dengan sapu tangan dan terlihat tidak ingin memperpanjang masalah ini dengan menanggapi histeria si wanita.

"Gila lo ya, gue udah habis-habisan sama lo dan lo bilang kita gak pacaran?" Cecarnya kembali penuh amarah.

"Terus selama ini kita apa, gue panggil sayang lo juga panggil gue sayang, kita ngedate, kita nonton bareng, bahkan kita..." Kejarnya masih tidak terima. Suaranya yang melengking semakin membuat orang-orang tertarik dengan kelanjutan drama percintaan anak muda jaman sekarang.

Perempuan yang masih diliputi amarah dengan napas terengah-engah itu menatap satu lagi gelas yang tersisa. Yang masih penuh dengan cairan berwarna mokka.

Si laki-laki yang tau bahwa akan ada tragedi penyiraman session 2 itupun buru-buru mengamankan gelas yang ada di hadapannya. Dengan kecepatan tangan yang gesit, dia meraih gelas itu dan meneguk habis isinya. Menyisakan sedikit cairan didalamnya yang menurut kalkulasi perhitungannya tidak akan bisa di siramkan kepada siapapun dalam radius jarak di atas 50 cm.

"Dasar cowok brengsek, bejat, sialan..." Berbagai ucapan sumpah serapah berisi deretan nama-nama penghuni kebun binatang itupun di lontarkan tanpa jeda oleh cewek yang sedang sakit hati tersebut.

Namun tak satupun dari makian itu yang terbalaskan, si cowok hanya menatapnya dengan santai seakan kejadian ini sudah dalam prediksinya.

Setelah beberapa menit mengabsen seluruh nama binatang yang dia tau, si cewek itupun pergi dengan amarah yang masih membara, layaknya cewek-cewek di kota besar, yang berani dan tak malu menjadi pusat perhatian. Meninggalkan si cowok yang masih konsisten memasang ekspresi santainya.

Tak sedikitpun raut menyesal, malu atau marah tergambar di wajahnya yang bisa di bilang di atas rata-rata. Ganteng mempesona.

Dia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang bergetar. Sebuah nama yang muncul di layarnya membuat sebuah senyuman di wajahnya.

"Hahaha...." Suara tawa terpingkal-pingkal langsung menyambutnya begitu dia menjawab panggilan tersebut.

"Kama si donjuan akhirnya mendapat lawan setimpal" Kembali suara itu mengejek dengan intonasi layaknya komentator sepak bola.

"Sialan lo" Balas Kama santai seolah ejekan itu sudah seperti bubur ayam sarapannya di pagi hari, biasa saja.

"Sumpah deh baru kali ini gue lihat yang beginian, gue kira adegan begitu cuma ada di sinetron sinetron" Lagi-lagi belum puas, dia melanjutkan komentarnya atas kejadian yang baru saja menimpa temannya itu.

"Udah deh gak usah banyak bacot, lu dimana sekarang, buruan kesini" Pungkas Kama dan kemudian menutup sambungan teleponnya.

Tak selang berapa lama, si penelepon itupun sudah muncul di depan Kama, masih dengan tawa terpingkal-pingkalnya.

"Gila si Kaira, ganas banget jadi cewek" Masih setia dengan tawanya dia mengomentari gadis yang baru saja pergi setelah menyiram temannya itu dengan air.

"Untung aja bukan gue yang pedekate-in dia" lanjutnya setelah tawanya sedikit mereda.

"Pede banget lo, lagian memang Kaira-nya yang kagak doyan sama lo" Jawab Kama balas meledek Rio, teman yang sedari tadi ikut menyaksikan siaran langsung drama percintaannya.

"Lagian sih lo, semua cewek di friendzone-in, semua cewek di HTS-in, dipanggil sayang tapi nggak diajak pacaran" Rio mengusap air mata akibat tawa yang terpingkal-pingkal itu.

"Ya abis mau gimana lagi, gue nggak bisa klik sama mereka, gimana ya, bukan taste yang gue cari" Jawab Kama enteng.

"Gaya lo pake ngomongi taste segala, bilang aja lo itu nggak mau berkomitmen, lo itu nggak mau terikat" Cibir Rio balik mematahkan argumen Kama.

Yang di tuduh cuma bisa nyengir-nyengir santai, tidak mau terlalu ambil pusing untuk urusan percintaan begini.

Baginya hubungan yang terikat itu melelahkan, asal suka sama suka apapun bisa di lakukan. Nonton bareng, ngedate, bahkan sex, semua bisa. Tak perlu repot-repot deklarasi dibawah kata pacaran. Saat sudah bosan dan tidak lagi sejalan ya tinggal pergi saja. Tak perlu repot melalui tahapan bertengkar, lalu kemudian putus. Tak perlu repot merasakan yang namanya sakit hati, patah hati atau apalah sebutan lainnya.

Apa itu patah hati? Lelucon konyol.

Begitulah kiranya isi pikiran Kama, si paling anti dengan yang namanya komitmen.

"Terus sekarang gimana? Kaira udah selesai, terus besok siapa lagi?" Tanya Rio.

"Yang paling ganas sih Kaira, lainnya mah gampang, tinggal bilang aja gue sibuk terus menjauh menghilang, beres" Jawab Kama santai, sembari melihat daftar kontak di ponselnya, menghapus nama Kaira setelah memblokirnya terlebih dahulu. Dan di bawah nama Kaira masih banyak berderet-deret nama perempuan yang akan menjadi tugasnya mulai besok, menghilang.

"Terus kapan lo mau ngehubungin cewek yang namanya Hara itu?" Tanya Rio yang mulai asik dengan ponselnya juga.

"Besok mungkin" Jawab Kama asal.

Kama kembali memeriksa nama Hara, perempuan yang membuatnya merasakan sedikit taste yang dia cari selama ini.

Cinta pada pandangan pertama.

Dia ingin memastikan apakah taste yang dia rasakan ini hanya keinginan sesaat seperti sebelum-sebelumnya atau memang ada sesuatu yang lain.

Friendzone atau malah boyfriendzone?

Senyum Kama diliputi buncahan adrenalin yang memicu detak jantungnya.

Baru kali ini dia melihat seorang gadis yang sama sekali tidak tertarik padanya. Jangankan tersipu malu karena pesonanya, gadis itu malah sibuk merubah warna wajah dan ekspresinya hanya karena sebuah SIM.

Umumnya para gadis memiliki fantasi dengan cowok berseragam, selama ini dia meyakini hal itu. Sepanjang karirnya menjadi playboy, belum pernah ada gadis yang tidak takluk dengan pesonanya.

Pesona cowok berseragam, saat SMA sekolahnya memiliki seragam khusus yang berbeda dari sekolah-sekolah lainnya, membuatnya terlihat apik dan sangat pas dengan stylenya.

Lalu saat dia menjadi anggota paskibraka, seragam itupun semakin membuatnya digilai para cewek, hanya bermodalkan foto profil dengan mengenakan seragam itu, setiap cewek yang menerima DM-nya tidak pernah tidak membalas.

Dan puncaknya adalah saat dia berhasil mendapatkan seragam kebanggaannya. Seragam yang setiap hari dia kenakan untuk berkerja. Buktinya setiap kali menjadi petugas operasi gabungan, para ceweklah yang selalu saja antri meminta nomornya. Entah beralasan untuk mengurus kelanjutan tilang mereka, atau hal-hal administratif kenegaraan lainnya yang sebenarnya bukan bagian dari pekerjaannya.

Dan inti dari semua itu adalah pesona cowok berseragam.

Ananta Hara.

Gumam Kama lirih, bahkan namanya saja terasa menggelitik lidahnya, aneh tapi nyaman diucapkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!