...Warning⚠️...
Cerita ini berbau dewasa, alkohol, umpatan kasar, ataupun kekerasan. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.
...18+...
...Forbidden passion...
...•••••••••••••••...
Founder dengan reputasi yang berbahaya. Penuh intrik, arogan, kharismatik dan dominan. Dialah sosok rupawan yang tak mampu dijabarkan dengan beberapa kata. Sosok yang tak dapat dikendalikan oleh siapapun. Dia adalah—Rhys maz Throne.
Ruby River, wanita ber iris biru yang menjadikan kesederhanaan sebagai perisainya. Luka-luka yang membentuknya, baik dimasa kelam, menjadikannya lebih kuat dan dewasa tanpa adanya peran. Sebagai juru masak, ia menuangkan jiwa dan pengalamannya ke dalam setiap sajian, sebuah seni yang mencerminkan kedewasaan yang telah ia tempa.
Pria muda, tengil penuh pesona. Menginginkan jiwa bebas, tak suka dikekang. Masa mudanya dihabiskan balapan liar dan mabuk. Walaupun dipandang negatif, Zade Throne sangat setia dengan mencintai satu wanita, yaitu pujaan hatinya.
...Happy Reading🍡🙌🏻...
...-------------------...
Loop, Chicago, Amerika Serikat.
Hujan deras mengguyur pusat kota Chicago tanpa henti. Gedung-gedung pencakar langit, dari Willis Tower yang menjulang hingga Millennium Park yang tenang, mengelilingi bistro mungil itu—sebuah oase ketenangan di tengah kesibukan kota. Atap bistro tua, berderak menahan gempuran air hujan, menciptakan irama yang selaras dengan alunan musik jazz lembut dari dalam. Seorang wanita muda, payung merah cerahnya kontras dengan langit kelabu, memasuki bistro melalui pintu belakang, menepis buih air hujan dari rambut pirangnya yang berkilau.
Marie, wanita prancis dan juga pemilik bistro tersentak karena kedatangan wanita berambut pirang itu. "Ternyata kau...kukira perampok yang ingin mencuri resepku," selorohnya bersama senyum tipis diwajah khas kaukasianya.
Wanita itu terkekeh ringan, masih melanjutkan acara mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Apa aku terlihat seperti perampok di matamu?"
"Ah, tentu tidak. Mana mungkin wanita secantik dirimu kuanggap sebagai perampok, mustahil sekali." Marie kian mendekat, menaruh lengannya pada lingkaran leher si wanita seakan ingin mencekik. Sedikit didoronglah tubuhnya, namun dia semakin menghimpit jarak. "Hey... aku hanya ingin bertanya, bagaimana? Sudah mendapatkan kerja sampingan?"
Ruby River, ia melepaskan handuk basah dari rambut pirangnya, dan diletakkan pada lengan Mirae dengan lesu, seakan tak berdaya. Namun, handuk itu kembali di lempar asal oleh Marie, terjuntai tak menentu di rak besi, nyaris jatuh.
Pupil mata hitam Ruby terbenam dalam iris biru muda yang sedikit abu-abu terang. Cahaya yang mengenai matanya membuatnya berkilauan, namun kini kilauan itu meredup seiring gelengan lemah.
Dan Marie memahami meski tak sepatah kata pun terucap. Menepuk lembut bahu kecil itu, bersama senyum yang tulus. "Tak apa, kau pasti akan mendapatkannya nanti. Fokus saja bekerja denganku, aku akan sedikit berbaik hati memberikanmu gaji lebih. Bagaimana?" Tawarnya menambahi.
"Pekerjamu bukan hanya aku. Jika dengan memberikan gaji lebih, sikapmu terlihat tidak adil, walaupun niatmu sangat baik. Aku tak mau, kau juga terlalu banyak membantuku, jadi tak perlu dengan hal seperti itu."
Marie berdecak pasrah. "Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membantumu?" Tak ingin menentang keputusan Ruby.
"Aku hanya perlu kerja tambahan saja, dengan itu aku bisa menabung walaupun sedikit. Apalagi pamanku akhir-akhir ini terus meminta uang lebih setiap harinya. Aku sampai tak habis pikir, apa yang dilakukan paman di luar sana."
"Berjudi dan mabuk, itulah pekerjaannya bukan?"
Ruby tersenyum kecut. Mengangguk, membenarkan ucapan Marie. "Tapi...sikap paman semakin berbeda dari biasanya. Bahkan akhir-akhir ini paman dan bibi terus bertengkar."
"Hey, pagi-pagi sudah mengobrol, apa yang kalian bicarakan, huh?"
Seorang wanita berambut keriting dengan jaket kulit memasuki dapur kotor melalui pintu belakang, yang sebelumnya juga di lalui oleh Ruby. Ya, pintu belakang memang sering digunakan sebagai akses bagi para pekerja, berbeda dengan pintu depan yang baru dibuka saat bistro siap melayani. Setelah meletakkan tas jinjing dan payung hitamnya, wanita bernama Megan itu mendekat, bergabung dengan dua orang yang sebelumnya larut dalam obrolan serius.
"Siapa lagi jika bukan paman si pirang ini." Marie menyahut, menatap sekilas Ruby, dan kembali fokus pada Megan.
"Huft...orang berengsek itu. Apa yang dia kembali lakukan padamu?"
"Meminta uang dan dihambur-hamburkan, itulah yang selalu manusia itu lakukan." Bukan Ruby yang menjawab, melainkan Marie. Anggap saja ia mewakili Ruby untuk menjelaskan segala kejelekan paman dan bibinya itu.
"Rakus akan uang tapi tidak mau bekerja, sungguh manusia yang menjijikkan."
"Lebih tepatnya manusia parasit," timpal Marie membenarkan. Tak ada keraguan di dirinya saat mengucapkan kata itu.
Megan menjentikkan jarinya di udara. "Ya, benar. Sejenis parasit yang harus dimusnahkan di muka bumi ini."
Di dekat lemari pendingin lah mereka berdiri, lebih tepatnya Ruby yang bisa saja bersandar kalau memang ingin. Memainkan sejenis alat termometer, sementara pandangannya secara berganti memperhatikan Marie dan Megan yang membicarakan pamannya itu.
"Kita berdua terlalu lancang mencaci pamannya, lihatlah dia seperti tidak nyaman dengan ucapan kita."
"Kau benar," balas Megan setelah menilik wajah wanita di dekatnya.
Ruby tersindir, seketika jemari yang memainkan termometer daging, terhenti. "Ya...tentu saja. Bagaimana pun buruknya, dia tetap paman dan adik brengsek ibuku."
"Aku tak akan menyangkalmu, tapi kau setuju dengan kita, bukan?"
Perlahan Ruby mengangguk, mengiyakan ucapan Megan.
Melihat kepasrahan wajah lugu itu, Marie dan Megan menepuk pelan bahu Ruby, secara bersamaan. Mereka bertiga sudah bersahabat cukup lama, mungkin...sekitar tiga tahun. Jadi, wajar saja ada rasa iba pada sahabatnya.
"Maafkan kita yang terlalu berlebihan padamu."
Obrolan terus berlanjut, malahan merembet ke topik lain. Yang tadinya membahas Bibi dan Paman Ruby, kini beralih ke berita panas yang menggemparkan media nasional pagi tadi. Karena Ruby tak tahu apa yang Megan dan Marie bicarakan, jadi Ruby sesekali menimpali, lebih tepatnya bertanya.
Siang hari semakin dekat, dan para pekerja berdatangan satu per satu. Karena sebagian besar pekerja di bistro Marie adalah wanita, tak heran jika saat bekerja pun mereka terkadang bergosip. Namun, tenang saja, makanan yang disajikan tetap terjamin kebersihan dan rasanya.
"Ruby..."
"Aku memiliki kabar gembira untukmu, kau pasti akan senang setelah mendengarnya."
Wanita yang memiliki fitur wajah feminim itu sontak menoleh, merasa terpanggil. Sedangkan Marie yang datang lebih dulu mengangkat tangan, menyentuh bahu, mengajaknya berhadapan. Sehingga jarak sangat dekat, memungkinkan Ruby untuk melihat jelas wajah Marie saat tersenyum.
"Kabar apa? Kau terlihat senang sekali, aku jadi semakin penasaran."
Tidak hanya Ruby saja yang berada di dapur, terlihat tiga wanita yang sama-sama sibuk dengan kegiatan masaknya. Biarpun tangan mereka bergelut dengan berbagai bahan dan alat dapur, pendengaran mereka tetap aktif menyimak obrolan kedua wanita itu.
"Ada satu pelanggan wanita yang memesan hidangan yang kau buat. Kalau tidak salah...dia salah satu istri dari Billionaire di negara ini." Marie menyempatkan untuk menjeda, sebelum melanjutkan ucapannya. "Dia mengatakan ingin bertemu denganmu. Dan kau tahu, dia juga memintaku untuk mengizinkanmu menjadi koki di mansionnya!"
"Aku tentu saja menyetujui permintaannya, tapi dengan syarat kau tetap bekerja denganku," sambungnya.
Mulut Ruby menganga lebar, tak percaya. "Marie jangan bercanda, aku tidak akan suka jika kau membohongiku."
"Aku serius, Ruby. Apa menurutmu ucapanku adalah kebohongan semata? Aku tentu tahu situasi jika ingin bermain-main, aku tidak sejahat itu, okey..."
"Benarkah? Ya Tuhan aku tidak menyangka. Maaf, karena sebelumnya aku tidak mempercayaimu."
"Tidak masalah. Sebaiknya kau temui wanita itu. Dia pasti menunggu kedatanganmu di mejanya."
...----------------...
Bistro terasa lebih sepi dari biasanya sore ini. Jadi Ruby dengan mudah menemukan wanita yang dimaksud Marie, duduk di kursi dekat dengan berbagai tanaman hijau yang hampir merembet indah di dinding dalam. Dari kejauhan saja, ia sudah bisa merasakan aura alegan dan berkelas yang terpancar dari wanita itu. Ruby kemudian mengedarkan pandangannya pada pintu luar. Di mana dua pria bertubuh besar dengan setelan serba hitam, berdiri memunggungi pintu kaca. Sudah dapat dipastikan mereka ditugaskan menjaga siapa di bistro ini.
Berjalan tak tenang, jantung Ruby rasanya bergemuruh, seakan ingin meloncat keluar dari rongganya. Rasa gugup itu mengingatkannya pada saat-saat ditunjuk guru untuk mengerjakan soal di depan kelas. Ini adalah kali pertama ia merasakan gugup seperti saat bertemu orang baru.
"Selamat malam, Nyonya..." Ruby menggantungkan ucapannya. Wanita yang tadinya menikmati secangkir teh herbal, mengangkat kepala dan tersenyum samar.
"Beatrice," sahutnya cepat. "Kau cantik sekali, seperti dewi."
"Nyonya juga memiliki kecantikan yang luar biasa," balas Ruby bersama kikuknya yang tampak ketara.
Ruby tak berbohong. Dari dekat, wajah Beatrice terlihat lebih jelas. Meskipun tanda-tanda usia tak lagi muda, yang pasti, kecantikan wanita itu tak lekang oleh waktu.
"Aku terlalu tua untuk dipuji cantik." Kemudian, Tangannya terangkat, seakan mempersilahkan wanita muda berambut pirang itu untuk menempati kursi di seberangnya.
"Silakan duduk, dan tak perlu gugup seperti itu di depanku."
Penuh hati-hati kala duduk di kursi yang di tawarkan Beatrice. Ruby tersenyum tipis, menyamarkan rasa gugupnya. "Terima kasih, Nyonya Beatrice."
"Berapa usiamu saat ini, Ruby? Kau terlihat sangat muda sekali."
"Dua puluh empat tahun nyonya."
Wanita dengan gaya rambut bob bergelombang itu hanya mengangguk dan tersenyum sekilas, menatap Ruby dengan penuh kesan wibawa. "Atasanmu mengatakan hidangan utama ini kau yang membuat, dan harus aku akui, aku sangat menikmatinya. kau juga mahir dalam memasak hidangan dari berbagai negara, benarkah yang atasanmu katakan?"
"Sebelumya, aku sangat berterima kasih atas pujian dan kehadiran Nyonya Beatrice di bistro kami." Ruby menarik nafas dalam-dalam. "Dan untuk memasak...aku hanya memiliki pengalaman saja, yang dulu di ajarkan oleh ibuku."
"Ibumu seorang koki?"
"Ya, benar. Aku berkeinginan mengikuti jejak ibuku."
"Keinginan yang mulia," jawab Beatrice sambil tersenyum hangat. "Lalu, bagaimana dengan penawaranku sebelumnya, apa kau bersedia?"
"Tapi nyonya, bagaimana dengan pekerjaanku di bistro ini? Tidak mungkin aku mengundurkan diri begitu saja, tanpa alasan yang jelas."
"Tidak perlu mengundurkan diri," katanya. "Kau tetap ku izinkan bekerja di tempat ini. Nanti ada juga koki yang membantumu, hanya saja dia sedang berada di negaranya dan akan kembali beberapa hari nanti."
"Jika kau setuju, bawahan ku akan memberikan informasi padamu lebih jelas."
Ruby menimang. Kerutan tipis di dahinya, membuktikan bahwa ia tengah berfikir matang. Ia memang sangat membutuhkan kerja tambahan, jadi tidak salah untuk menerimanya, bukan? Lagipula menjadi koki tak begitu berat.
"Nyonya, terima kasih telah memberikan kesempatan padaku. Aku sangat setuju dengan tawaran ini, dan akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi harapan nyonya."
Langkah kecil Ruby seketika terhenti di ambang pintu, botol kaca kosong bergulir, mencium ujung sepatu pantofel hitamnya. Perhatiannya kemudian teralihkan pada sosok paman yang berdiri seperti menghadang, namun dengan bentangan yang jauh.
Perut buncit membulat, seakan ingin meledak keluar dari balik kemeja yang sudah terlalu ketat. Jenggot lebat menjuntai liar memenuhi rahang, menambah kesan kumal pada Amos, paman Ruby. Satu tangannya menggenggam erat sebotol arak, dan dengan sekali tegukan, minuman keras itu mengalir deras hingga tumpah dari mulutnya. Ia dekati sang keponakan dengan langkah yang ber gontai.
"Berikan uangmu, aku sedang membutuhkan uang itu untuk malam ini," desaknya.
"Bukankah pagi tadi sudah ku berikan?" Ruby tak berekspresi, kala menyahut. "Lagipula, aku tak memiliki uang lagi."
"Jangan bohong, Ruby! Aku tahu kau menyembunyikan uang-uang itu. Sekarang berikan, atau botol ini akan segera mendarat manis di wajahmu!" Suara Amos bergema, mampu menulikan sejenak telinga siapapun yang mendengar.
"Aku harus berapa kali mengatakan padamu, paman. Aku tak memiliki uang, jika tidak percaya, geledah saja seisi rumah ini."
Amos menggeram, amarahnya semakin meledak. Botol kaca di tangannya melayang ke depan, menghantam lantai tepat di hadapan Ruby. Kaca pecah berserakan, air arak membasahi lantai, aroma tajamnya menyebar menusuk hidung. Ketakutan sekaligus terkejut bercampur menjadi satu, itulah yang dirasakan Ruby. Kedua tangannya terangkat dengan refleks, menyilang menutupi wajah. Ia terpaku di tempat, tak sempat menghindar dengan cepat. Namun nasib baik seakan berpihak pada padanya. Air arak dan serpihan kaca tajam yang memercik hanya mengenai celana dan sepatu, tidak melukai kulit kakinya.
"Hah... kau keponakan tak berguna! Seharusnya pecahan kaca itu mengenai kulit putihmu, dan lukanya akan membusuk dengan waktu lama."
"Tapi, karena lemparan tanganku yang melenceng, tak jadi mengenaimu. Sial..." Pria mabuk itu terus membentak, mengeluarkan kata-kata makian dari mulut kotornya yang penuh dengan dosa.
"Ruby melangkah mundur, ekspresinya tak terbaca. Jujur saja, ada rasa takut bersarang di hatinya, setiap kali menghadapi Amos. "Alkohol membuatmu gila, hentikan itu, kumohon..."
"Kau yang gila." Amos menunjuk tajam. "Jalang sinting! Pembangkang! Tak berguna untuk pamanmu sendiri."
"Aku tak perduli kau mengatai ku jalang atau apapun itu. Tapi, bisakah kau sudahi amarahmu sekarang? Dan biarkan aku istirahat tenang malam ini." Bergetar Ruby berucap, nyaris tak terdengar, seperti tercekik oleh jeratan tak terlihat.
"Taruhan, aku membutuhkan uang...berikan—"
"Argh!" Suara itu, serak dan penuh amarah, menggema di balik tubuh Amos. Clarissa, bibi Ruby, berdiri dengan bahu sedikit membungkuk, jarinya mengusak hebat rambutnya yang berantakan, matanya sesekali menyipit lalu melotot tajam. "Kalian... kalian merusak mimpi indahku!"
Langkah lebar Clarissa mendatangi tubuh gontai Amos. Menempeleng kepala belakang pria gempal itu kuat-kuat, hingga terhuyung hampir menabrak meja kaca.
"Pria kaparat! Tak bisa kah kau berhenti memecahkan botol arakmu itu?" Sentaknya. "Rasanya aku benar-benar akan gila menghadapi si bodoh ini."
Amos lagi dan lagi menggeram. Bergerak frustasi, lalu mengacungkan jari tak beraturan. "Aku ingin memecahkan kepala wanita itu... aku ingin...Ah! Aku juga ingin memecahkan kepalamu."
"Dasar bedebah sinting, kau sudah gila rupanya." Sekali lagi Clarissa menempeleng kepala dan menendang tulang kering sang suami. Sementara yang di perlakukan seperti itu, tak tinggal diam. Namun karena mabuk berat, layangan kepalan tangan hanya seperti menendang di udara.
Sia-sia saja.
"Hentikan bi..." Ruby yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara. Sorotnya memperhatikan Amos yang terjungkal pada sofa rendah. Ia kemudian bergerak maju, tapi tetap menjaga jarak. "Paman sudah tak sadarkan diri," tambahnya.
"Kuharap dia mati, dan terbakar di neraka. Menjijikkan!" Clarissa bergidik, lalu menjauh. Matanya mengerut jijik saat menelisik wajah Amos yang tak terawat.
"Sudah sangat malam, bibi lebih baik kembali tidur. Aku juga perlu mengistirahatkan—" Suara Ruby terhenti di tenggorokan. Tubuh Clarissa kini sangat dekat, dan dengan enteng mencengkram kuat dagunya dengan satu tangan. Tatapan tajam itu tak lepas memandang, membuat Ruby tak berani untuk mengeluarkan kembali suaranya yang tertahan.
"Tutup mulutmu, dan jangan pernah menyuruhku seperti tadi." Clarissa menyentak rahang Ruby. Kemudian, menoyor kening itu hingga si empu terdorong mundur. Rasa ngilu kian menjalar di kening dan juga rahang, menyerupai rasa ngilu yang menggelegak di dada Ruby.
"Kau dan pria sialan itu sama-sama tak berguna, hanya menyusahkan hidupku, enyahlah."
Meninggalkan Amos dan Ruby dalam keheningan. Clarissa pergi setelah melontarkan kalimat yang tajam, menoreh cukup dalam hati sang keponakan.
Bertahun-tahun menghadapi ucapan dan perlakuan dari paman dan bibinya, membuat Ruby mulai terbiasa. Terbukti sekarang, di dalam ruang tamu, wanita berambut pirang itu hanya mampu berdiri lemah, mulutnya seakan terbungkam oleh kata-kata yang menikam. Namun, air matanya tak memberontak keluar.
Seperti tak terjadi masalah apapun, Ruby dengan tubuh kecilnya melangkah hati-hati, menghindari pecahan kaca untuk sampai kamar tidurnya.
...----------------...
Gold Coast, Chicago, Amerika Serikat.
Berbeda dengan Loop yang terkenal dengan suasana padat dan menara-menara babel yang modern. Gold Coast memiliki suasana yang lebih tenang dan elegan. Lingkungan ini ditujukan untuk para kelas atas, dimana kemewahan dan mansion-mansion bergaya klasik menjadi simbol utama.
Di tempat tersebut, Ruby terdiam, matanya terpaku pada sebuah mansion yang jauh dari kehidupan sederhana yang ia kenal. Bangunan itu tampak seperti istana dalam dongeng, sekiranya memiliki tiga lantai, arsitektur klasiknya menjulang tinggi, dengan atap yang curam dan jendela besar yang berjejer. Hanya saja, dia bukan seorang putri yang datang ke istana untuk sang pangeran tampan, melainkan seorang koki bistro rendahan yang datang bekerja untuk pertama kalinya di mansion ini. Sebelumnya, dia membayangkan mansion yang lebih sederhana. Namun, kenyataan berkata lain. Kemewahan mansion ini membuatnya merasa kecil dan tidak pantas berada di tempat itu.
Saat dia mendekati gerbang setinggi sepuluh kaki, seorang penjaga lengkap dengan jas formal berwarna gelap datang menghalangi jalannya, seolah tak memberikan ruang untuk melangkah lebih.
"Maaf, Nona," kata penjaga itu tanpa intonasi. "Bisakah kau beritahu namamu?"
"Ruby River," balasnya tergagap.
Penjaga itu diam sejenak. Kemudian, dengan gerakan yang terukur, ia menggeser tubuhnya ke samping, membuka jalan untuk Ruby.
"Masuklah, Nyonya telah menanti kedatangan anda di mansion."
Ruby mengangguk sembari merapalkan tangannya rapat-rapat. Sebelum pergi, ia memberikan senyum tipis, dan berlalu meninggalkan si penjaga. Berjalan dengan perlahan, sepatu flat merah muda miliknya mengetuk lembut, bersama pupil mata birunya menangkap setiap detail keindahan sekitar. Hamparan taman hijau yang terbentang luas, pohon-pohon rindang yang menjulang, meneduhkan petak-petak bunga. Bahkan untuk sampai ke pintu utama, Ruby harus mengitari sebuah kolam berair biru yang jernih.
Seiring langkahnya menjauh dari gerbang, seorang pelayan setengah berlari mendekatinya. Reflek bibir Ruby tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis kala pelayan itu berhenti tepat di hadapannya.
"Ruby, mari ku antar untuk menemui nyonya Beatrice."
"Baiklah, terima kasih."
Ruby mengikuti si pelayan. Langkahnya terlihat berat, seakan terbebani oleh rasa gugup dan takut. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya untuk bisa menginjak kaki di mansion mewah seperti ini; memikirkan saja tak sempat, apalagi harus bekerja menjadi koki di mansion semegah ini.
Tuhan, Ruby merasa tak pantas sekaligus rasa bersyukur yang mendalam.
Saat pintu besar terbuka, menyingkap foyer yang luas dan megah. Tangga marmer putih membentang tinggi, berkelok-kelok bak ular naga. Di dinding, ornamen dan ukiran rumit menghiasi setiap sudut. Sedangkan yang menarik perhatian Ruby, sebuah patung berdiri gagah di puncak tangga, seolah-olah menyambut kedatangan tamu agung. Untuk kesekian kali, Ruby tak dapat menyembunyikan decak kagumnya yang menggila.
"Selamat datang, Ruby."
Suara lembut nan menggema, mengejutkan si pemilik nama. Karena terpesona oleh detail ukiran rumit pada patung, Ruby tak menyadari bahwa pelayan yang bersamanya telah menjauh, dan menunduk hormat pada Beatrice yang berjalan anggun ke arahnya.
"Kuharap perjalananmu menyenangkan untuk sampai di mansion ini."
Ruby menyatukan kedua tangan di depan tubuh, dengan jari-jari yang saling bertautan. Sesaat ia merendahkan dirinya, dan kembali ke posisinya semula. "Terima kasih, Nyonya. Perjalananku lancar, meskipun sedikit sulit menemukan mansion sebesar ini."
Beatrice tersenyum tipis. "Hanya untuk kali ini, dan setelahnya kau akan terbiasa."
Kemudian, satu tangan Beatrice terangkat, gerakan halus yang membuat pelayan yang mengekor di belakang semakin mendekat, berdiri di samping tubuh Beatrice, menjaga jarak, sopan.
"Tolong buatkan minuman segar untuk Ruby. Aku akan berbicara sejenak dengannya, sebelum kau memperkenalkan pada pelayan yang lain," perintah wanita itu.
"sì, signora."
...----------------...
Setelah melewati lorong-lorong panjang dan pintu-pintu besar yang tertutup. Ruby, ditemani pelayan bernama Eden, akhirnya sampai di pulau dapur. Dimana marmer putih yang berkilauan dan dihiasi ornamen emas, tampak seperti istana kecil bagi para pelayan dan koki yang bekerja di dalamnya.
Ya, Eden diminta Beatrice untuk membawa Ruby berkeliling dapur dan memperkenalkan pada pelayan lainnya.
"...Dan terakhir, Bibi Margaret, kepala pelayan kita di mansion," kata Eden, menunjuk ke arah seorang wanita bergaun hitam dengan celemek putih berenda di tepinya. Ruby tersenyum kepada Margaret, memberikan salam hangat.
Wanita paruh baya itu membalas dengan senyuman yang tak kalah hangat.
"Jangan sungkan bertanya denganku atau pada pelayan lainnya," pesan Margaret pada Ruby.
"Terima kasih, bibi. pasti akan kutanyakan apabila tidak kumengerti."
"Biar ku tambahkan lagi." Eden menimpali. "Bibi Margaret sudah bekerja sejak Tuan Rhys balita, sehingga Nyonya dan Tuan Ellard menganggapnya sebagai bagian dari mansion ini. Jadi...kau sebagai koki baru bisa menanyakan ketidaksukaan atau kesukaan mereka pada bibi, dan apa saja yang mereka hindari."
Sejenak Eden menilik mata biru tenang Ruby, sebelum melanjutkan perkataannya. "Terlebih Tuan Rhys memiliki selera makan yang buruk, kau perlu mengerti tentangnya. Karena dengan melakukan kesalahan saja, banyak koki baru yang berakhir meninggalkan mansion ini."
Sedetik setelah Eden berucap, Ruby bertanya. "Apakan dia alergi terhadap sesuatu?"
Eden mengangguk. "Termasuk itu."
Margaret mengulum bibir lalu menyentuh pundak Ruby, yang mimik wajahnya berubah cemas. "Tak masalah. Jika kau mendengarkan penuturan Tuan dan menurut, kau tidak akan berakhir seperti koki-koki sebelumnya."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!