NovelToon NovelToon

METAMORFOSA

kerja di kota

"Tititit...titit...tititit...titit..."

Suara hp berbunyi. Seketika Joko membuka mata dari tidurnya. Dan meraih hpnya yang berada disebelahnya.

Saat itu Joko ketiduran di gubuk sawahnya. Setelah dari jam lima pagi, mencangkul sampai jam sembilan siang.

Hingga akhirnya kelelahan dan memutuskan untuk istirahat. Ia lalu ketiduran di gubuk tersebut.

"Ko besok kerumahku, katanya mau kerja?" sms dari Mbak Rani.

Joko segera membalas pesan tersebut, "kerja apa mbak?.""Pokoknya datang saja kerumahku" nanti aku kasih tahu," jawab Mbak Rani.

"Ok" balas Joko.

Joko segera beranjak dari tidurnya. Sejenak Joko bersandar di tiang gubuk tersebut. Untuk memulihkan nyawanya yang belum terkumpul semua.

Kerja apa ya? yang Mbak Rani maksud?

tanya dalam hati Joko penasaran.

Mbak Rani adalah istri dari kakak keponakan Joko yang bernama Parmin. Joko memanggilnya dengan sebutan Mas, karena memang Parmin adalah kakak keponakannya Joko.

Mas Parmin berumur sekitar tiga puluh lima tahun, istrinya berumur dua tujuh tahun.

dan belum memiliki keturunan.

Mas Parmin bekerja menjadi pembantu tukang bangunan, sedangkan istrinya menjadi buruh pabrik di kota Y.

Joko sendiri berusia tujuh belas tahun. Nama panjang  Joko Susanto. Ada yang memanggilnya Jok, dan ada pula yang memanggil Ko.

Sejak SD Joko sudah sering ke sawah untuk membantu kakeknya setelah pulang dari sekolah.

Joko tinggal bersama ibu dan kakeknya, serta pakdenya di desa S.

Bapak Joko menikah lagi saat Joko kelas tiga SD,

dan tidak pernah lagi pulang ke rumah ibunya.

Tetapi setiap bulan selalu mengirim uang ke Joko, namun hanya sedikit dan cuma bisa untuk hidup beberapa hari saja.

Karena wabah wereng melanda dan petani gagal panen, kakek Joko tidak bisa membiayai sekolah Joko. Hanya sampai kelas satu SMP saja.

Sehingga Joko memutuskan berhenti sekolah dan pergi ke kota B untuk menemui bapaknya dan meminta pekerjaan.

Karena bapaknya tidak ingin Joko serumah dengannya. Bapak Joko mengekoskan Joko ke kota Y ditempatnya Parmin keponakannya.

Karena keluarga istrinya Parmin memiliki kosan dekat rumahnya.

Sedangkan parmin sendiri kerja ikut bapaknya Joko kerja jadi pembantu tukang.

Singkat cerita, putus sekolah Joko langsung kerja ikut bapaknya jadi pembantu tukang bersama Mas Parmin.

Selama kurang lebih setahun Joko kerja jadi kuli bangunan.

Joko selalu berfikir keras bagaimana hidup kedepanya, dan selalu menyisihkan uangnya untuk ibunya serta dirinya sendiri.

Akhirnya Joko bisa kursus setir, dengan uang hasil kerjanya. Serta bisa jadi sopir di tempat proyek tempat bapaknya kerja.

Singkat cerita, setelah proyek perumahan bapaknya sudah selesai, Joko kembali ke desa S tempat ibunya dan kembali membantu kakeknya di sawah.

Joko bekerja sebagai kuli kasar. Selama di desa, Joko menerima pekerjaan apapun. Kuli pacul, kuli panggul, dia sudah pernah merasakan. Joko tidak pilih-pilih pekerjaan. Hingga Joko berumur tujuh belas tahun.

***

Joko segera beranjak dari gubuk dan berjalan menuju cangkulnya untuk pulang ke rumah.

Tidak lupa Joko mampir di sungai untuk membersihkan diri

dan cangkulnya dari lumpur.

Setelah bersih dari lumpur, segera Joko beranjak menuju perjalanan pulang.

Di sepanjang jalan Joko terus memikirkan tentang pekerjaan apa yang nanti dia kerjakan.

Joko membuka pintu samping rumahnya, "Bu Joko pulang..."

Tampaknya ibu Joko sedang menjemur pakaian di depan rumah.

Joko memutuskan untuk langsung menuju ke kamar mandi, untuk mandi.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Joko keluar dan menuju pawon / dapur .

"Bu..." panggil Joko.

"Ya.." terdengar suara ibu Joko dari depan.

"Sudah pulang Ko?" tanya Ibu Joko.

"Iya bu.." jawab Joko.

"Oh sudah mandi juga.. Jok, itu lauknya masih di wajan." Kata Ibu Joko.

"Ya Bu" jawab Joko.

Joko segera menyantap makanan yang telah ibunya sediakan.

Setelah selesai makan, Joko beranjak ke depan duduk di samping ibunya yang sedang nonton televisi.

"Bu besok kayaknya mau kerja di kota lagi." Joko meberitahu ibunya.

"Oh.. kerja dimana ?" tanya Ibu.

"Tidak tau Bu.." jawab Joko.

"Ini sms dari mbak Rani.."

jawab joko sambil menyodorkan hpnya.

( saat itu hp masih sms belum ada WhatsApp seperti sekarang ).

sampai di kota

Pagi itu setelah Joko selesai bersiap-siap,

Joko menemui Pakdenya di depan rumah.

"De, jadi lho." Pinta Joko.

Ternyata Pakdenya sudah siap dengan motor bebek miliknya. Setelah berpamitan dengan ibu dan Kakeknya. Joko segera membonceng motor Pakdenya.

Sambil tangan joko menyodorkan uang lima puluh ribuan dari belakang.

"De ini uang bensin." Kata Joko. "Ga usah, simpan saja uangnya buat kamu pegangan."

Pakde menghentikan motornya. Dan mengambil sesuatu dari tasnya.

"Ko ini uang dari Pak Mahmud. Tadi pas kamu mandi beliau datang titip ini," Sambil menyodorkan amplop coklat ke Joko.

"Oh iya de,

makasih ya de,"

Joko mengambil amplop itu dan memasukan ke tas miliknya.

"Uang padi sawah kita kemarin kamu ga usah minta ya ko. Semuanya laku sebelas juta, ini separonya biar tak kasih ibumu buat kebutuhan kakek. Yang separo lagi buat modal nanem lagi."

"Ow gitu, ya udah terserah Pakde aja, ya udah yuk jalan lagi."Motor bebek kembali di jalankan Pakde

dengan santai. Menuju ke kota Y.

jarak desa S ke kota Y tidak terlalu jauh hanya sekitar sepuluh kilo meter.

Joko melihat jam tangan yang ia pakai dan menunjukkan jam setengah delapan pagi.

"De, di situ aja De, di emper ruko itu," kata Joko.

Pakde menghentikan motornya. Kemudian Joko turun dari motornya, Dan langsung menjabat tangan Pakde terus menciumnya.

"Makasih ya De,

titip Ibu dan Kakek." Joko memohon. "Ya kamu juga hati-hati, Pakde pulang ya."

"Ya, Pakde hati-hati juga."

Joko terus jalan kaki menuju ke tempat Mbak Rani. Dari ruko tersebut Joko masih berjalan menyeberang ring road.

Joko sengaja turun di sebrang jalan ring road.

Agar pakdenya tidak harus muterin jalan ring road.

Rumah Mbak Rani

termasuk kawasan dekat kampus Universitas.

Jaraknya cuma puluhan meter dari kampus kota Y.

Bahkan tembok rumah belakang Mbak Rani termasuk bagian beteng Universitas tersebut.

Tembok yang setinggi sekitar lima meteran.

Samping rumah Mbak Rani sebelah kanan ada sungai yang agak besar.

Sedangkan sebelah kiri ada

gedung olahraga.

Milik Universitas tersebut.

Sedangkan depan rumah Mbak Rani ada kosan bertingkat yang menghadap ke ring road.

Jadi walupun tanah Mbak Rani luas tapi tidak terlihat dari arah ring road.

Setelah menyebrang ring road, Joko berjalan ke arah sebelah kosan, jalan seluas tiga meter ini adalah jalannya Mbak Rani satu-satunya.

Tak lupa Joko melihat-lihat kosan yang dulu pernah ia tempati. Tampaknya tidak ada yg berbeda sama yang dulu.Joko juga berjalan sambil melihat-lihat sungai,

pepohonan, yang tampak terlihat lebih rindang dari yang dulu.

Akhirnya terlihat juga rumah Mbak Rani dan Mas Parmin yang sedang mengikat barang di atas motornya.

"Woi...! Mas Parmin,"

Seketika Parmin menoleh dan terlihat terkejut.

"Woi Ko, dah datang.." Parmin menyambut Joko dengan hangat.

"Iya mas, lha ini malah mau kemana ini mas, kok kaya mau pergi?

Mbak Rani mana?," ungkap Joko.

"Biasa Ko bapakmu, dapat proyek baru, kayaknya ini agak lama ini Ko, kalau ga salah buat perumahan dari nol.

Lho ini lho smsnya, bapakmu." Parmin berjalan menuju meja dan mengambil handphone dan memperlihatkannya ke Joko.

"Sebenarnya kamu juga di ajak Ko sama bapakmu,

Tapi kayaknya kamu mau di kasih kerjaan sama Mbak Rani, jadinya ya aku sms bapakmu kalu kamu ga bisa," kata Parmin.

"Ow gitu, lha Mbak Rani nya mana ini Mas? Kok kaya sepi." Tanya Joko.

"Mbak Rani baru antar Elsa sekolah." Jawab Parmin

"Ow emangnya Elsa masih sekolah mas?" tanya Joko.

"Iya Ko, SMA kelas tiga tapi kayaknya sudah hampir lulus." Parmin menjawab.

kembali ke umur 13

Elsa adalah adik dari Mbak Rani satu-satunya.

Umurnya delapan belas tahun tidak jauh berbeda dari Joko.

Saat Joko masih kecil Elsa adalah temen bermain Joko. Saat ketika Bapaknya Joko ke rumah Mas Parmin atau sebaliknya atau saat Mas Parmin ke rumah Joko saat lebaran.

Saat itu Mas Parmin dan Mbak Rani datang ke rumah Joko. sebelum orang tua Joko bercerai, Elsa sering diajak bonceng bertiga ke tempat Joko seperti anaknya.

Jadinya Joko dan Elsa sudah akrab dari kecil seperti saudara.

Joko sendiri Juga menganggap Elsa kakaknya dari kecil.

Tapi tidak semenjak Joko tinggal di kosan.

Sejak itu lah perasaan dan pikiran Joko berubah terhadap wanita.

Baik itu kepada Elsa, Mbak Rani, bahkan pada Bude Atun Ibunya Mbak Rani.

Pada saat itu umur Joko sekitar tiga belas tahun.

Joko menempati kosan pojok bawah. Kosan itu berjumlah sepuluh kamar.

semua menghadap ring road.

Kosan yg bertingkat.

lima kamar atas,

lima kamar ada di bawah.

Namun yang bawah agak besar.

Karena yang dibawah ada tokonya. Joko menempati kamar yang ada tokonya, dibawah pojok paling timur bersebelahan dengan jalannya menuju rumah Mbak Rani.

Semua yang ada di atas lima kamar berisi mahasiswi. Yang bawah ada lima kamar, plus toko.

Toko paling selatan atau paling ujung ada warung warmindo.Timurnya ada toko alat tulis,

timurnya lagi ada warnet (warung internet). Tahun sekitar 2004 masih ada warnet.

Terus ada toko salon khusus wanita yang bersebelahan dengan warung milik Bude Atun.

Atau kamar yang aku tempati. Karena kosan itu adalah milik saudaranya Mbak Rani yang tinggal di luar pulau.

Kalau ga salah Bude nya Mbak Rani atau kakaknya Ibu Atun. Yang kalau datang satu tahun sekali

saat lebaran.

Dan saat itu Mbak Rani yang diberi amanat,

untuk mengurus kosan itu.

Karena pertimbangan umur Joko masih kecil dan Joko adalah keponakannya Parmin.

Otomatis keponakannya Mbak Rani juga.

Mbak Rani pun akhirnya mengijinkan Joko tinggal di situ dengan syarat.

Waktu itu di tempat duduk teras rumah Mbak Rani dan Mas Parmin disebelah Joko.

"Ko kamu sekarang ikut Mbak, kamu jangan macem-macem di sini.

kamu harus nurut sama Mbak. Bapakmu kemarin nemuin Mbak, nitipin kamu sama Mbak.

Jadi kamu kalau ada apa-apa ngomong sama Mbak. Kamu harus mandiri juga Jaga kebersihan kamar sendiri, toilet sendiri.

Cuci baju sendiri.

Kalau mau laundry ada di sebelah sungai.

Ini kuncinya, Jangan sampai hilang!." Ucap Rani.

"Ya Mbak.

Makasih ya Mbak udan di ijinin nginep, di kosan Mbak," jawab Joko dengan bersamaan mengambil kunci yang disodorkan Mbak Rani.

"Ini kamarnya yg mana Mbak?" Rani menepuk jidatnya sendiri.

"Ya udah yuk aku antar."

Rani berdiri setelah itu mengambil kunci nya lagi dari tangan Joko dan berjalan menuju arah kosan.

"Bentar ya Mas.."

Pamit Joko pada Parmin.

Sambil beranjak mengikuti Mbak Rani. "Ya sana Ko,

Aku tak makan dulu."Jawab Parmin. Yang juga beranjak menuju rumah.

Joko mengikuti Mbak Rani

Ketempat kosan.

Mbak Rani menoleh ke belakang dan menunggu Joko sambil bertanya.

"Ko kamu dah punya pacar belum? Oh iya kamu ini seumuran Elsa ya?." Tanya Rani penasaran.

"Elsa kan SMP kelas dua Mbak. Aku kelas satu mogok. Aku tiga belas tahun, Elsa empat belas tahun." Jawab Joko.

"Oh iya ya."

Jawab Mbak Rani.

"Ko kamar kamu yang ini Ko!" Sambil membuka rolling door.

"Brakk !!"

Suara rolling door di buka Mbak Rani. Seketika Joko terkejut. "Lho.. ini toko Mbak?" tanya Joko terheran-heran.

"Ya iya ini yang jualan Ibuku, untuk kegiatan saja di rumah." Pungkas Rani.

"Kamarmu disini, di belakang ini. Kan ibuku tidurnya di rumah." Rani menjelaskan.

"Maksudnya Bude Atun, Mbak?" Joko bertanya lagi.

"Lha iya sapa lagi." Tegas Rani.

Joko mengamati ruangan toko kelontong yang terdapat kamar didalamnya. "Ko ini kunci depan tak kasih tali warna merah, ini kunci belakang tali warna kuning, terus yang satu warna ijo ini kunci gerbang parkiran."

Mbak Rani membuka pintu belakang yang terhubung ke parkiran. Kemudian Joko keluar pintu belakang.

Dilihatnya ruangan Sepuluh meteran memanjang ke selatan. Juga ada tangga yang menuju ke atas.

"Ow ini untuk parkir mahasiswa ya Mbak?" celetuk Joko. "Ya bukan untuk mahasiswa saja.

Tapi semua penghuni tempat ini. Parkirnya di sini." Balas Rani.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!