NovelToon NovelToon

MR. DEVIL

chapter AWAL MULA

"Lepaskan aku, aku tidak mau !!"

Seorang Pria berjas hitam menyeret seorang gadis masuk kesebuah klab malam disana. Disebelahnya telah berdiri satu lagi wanita dengan gayanya yang angkuh sedang tertawa melihat penderitaan gadis itu.

"Terima saja nasibmu gadis tidak berguna !! Kau akan dijual dipelelangan malam ini. Setidaknya dengan cara itu kau sedikit berguna bagi kami !!" ucap wanita itu menyeringai jahat.

"Kau !! Wanita iblis. Apa kesalahanku padamu hingga kau melakukan ini. Kau sudah membunuh ayahku, dan sekarang kau ingin menjualku, Kau memang iblis !!

Hahahahahah

Wanita itu kembali tertawa melihat Serafina Le Loullie kembali ditarik paksa untuk menuju lantai rahasia klab itu yang berada dibawah tanah.

Wanita cantik berkulit putih dan pemilik manik biru itu berteriak sembari memukul pria yang menariknya.

PLAKK

Sebuah tamparan mendarat ke pipi Serafina, yang tadinya mulus kini menjadi merah dan mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya. Pria yang menamparnya kembali menarik tanpa ada rasa kasihan sedikitpun padanya. Namun Serafina mencoba sekuat tenaga untuk menahan tangisnya. Seperti biasanya dia tidak akan pernah membiarkan air matanya jatuh dihadapan kakak beradik yang jahat itu. Hal itu pasti akan membuat mereka semakin senang. Serafina juga tidak ingin terlihat lemah, dia benci menjadi lemah hingga terus di injak-injak. Dia harus melawan. Tapi jika melawan dengan tenaga dia tidak akan mampu berhadapan dengan Arnold dan Merlyn. Dia harus memikirkan cara lain yang lebih bijak.

Mereka telah sampai dilantai bawah tanah. Dimana disana terdapat macam-macam barang serta manusia untuk dilelangkan. Serafina semakin ketakuta. Namun dia mencoba untuk menutupinya dari kedua kakak tirinya itu.

"Tunggu dulu !!"

"Kenapa?"

"A-aku ... Aku ingin buang air. Perutku sakit sekali, Kakak biarkan aku menuntaskan panggilan alam ini dulu." ucap Serafina memelas sembari memegangi perutnya.

"Kau pikir kami bodoh !! Itu hanya trik mu saja supaya bisa kabur, iya kan !" bentak Merlyn.

"Tidak kak, aku tidak berbohong. Aku sudah tidak tahan lagi, jika aku sampai melakukannya dipelelangan maka tidak akan ada yang mau membeliku, mereka akan merasa jijik bukan?"

Serafina memikirkan kembali ucapannya. (Bukankah jika tidak ada yang membeliku itu artinya bagus untukku, huh semoga saja kedua mahkluk ini tidak berfikir kesitu.) batinnya.

"Baiklah, ayo biar kuantar."

Serafina menyeringai. Sesuai dugaannya, Merlyn pasti akan mengikutinya untuk menjaganya agar tidak kabur. Tapi itu bukan masalah besar bagi Serafina. Menghadapi Merlyn tidak sesulit menghadapi Arnold. Merlyn terlihat kuat hanya karena adanya Arnold didekatnya. Jika tanpa Arnold maka dia juga tidak kalah lemah, hanya saja otaknya cukup licik.

Serafina langsung memikirkan cara untuk kabur. Matanya mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menyumpal mulut Merlyn. Pandangannya beralih pada sebuah tali yang berada didekat ruangan enginaring. Melihat situasi telah cukup aman dan jauh dari jangkauan Arnold. Serafina langsung melakukan aksinya dengan memukul kepala Merlyn memakai botol kosong yang ada disekitar tempat itu.

CETARRR

Merlyn kaget dengan serangan tiba-tiba itu. Tangannya memegangi kepalanya yang sakit dan mengeluarkan banyak darah.

"Kau !! Anak sialan !! Arnold akan membunuhmu." ucap Merlyn yang begitu murka.

Serafina langsung menariknya dan mengikatnya, Sementara mulut Merlyn dia sumpal dengan syal yang dia pakai dilehernya.

Serafina tersenyum sinis melihatnya.

"Selamat tinggal wanita iblis !!" ucapnya membalikan tubuh mencari jalan keluar secepatnya.

Serafina berjalan dengan langkah lebar namun dengan wajah biasa saja. Agar tidak ada yang mencurigainya. Setelah berjalan cukup jauh, samar-samar di mendengar suara keributan dari belakang dimana tempat Merlyn yang sebelumnya dia ikat.

("Gawat !! Sepertinya Arnold sudah mengetahuinya.")

Serafina langsung berlari dengan sekuat tenaga. Dia tidak boleh sampai berada ditangan kakak beradik itu lagi. Jika dia tertangkap maka dia sudah dipastikan akan dibunuh.

Serafina terus berlari sampai berada diujung koridor. Tidak ada apapun disana. Hanya jalan buntu, Sementara suara langkah kaki yang mencoba mengejarnya semakin dekat. Sera tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa masuk kedalam ruangan, beruntung pintunya tidak dikunci. Sera langsung masuk dan mencari tempat untuk bersembunyi. Dia memilih masuk kedalam lemari yang cukup besar disana.

Ketika masuk, dia baru menyadari lemari sebesar itu tidak memiliki isi apapun. Dia menatap heran. Namun pikirannya itu tidak terlalu dia hiraukan karena ada hal yang lebih penting. Yaitu bersembunyi dari Arnold dan Merlyn.

Samar-samar dia bisa mendengar suara wanita yang sedang menggoda pria. Sera sengaja membuka sedikit pintu lemari itu, agar bisa melihat apa yang terjadi diluar. Awalnya dia hanya melihat seorang wanita tanpa busana berdiri dihadapan seorang pria, wanita itu nampak begitu agresif Sementara si pria hanya diam saja dengan tatapan dinginnya.

Sejenak. Sera sedikit kagum dengan ketampanan pria itu. Namun kekagumannya berganti dengan kengerian saat melihat pria itu mengeluarkan taringnya, dan menggigit leher wanita itu sampai wanita itu berteriak kesakitan. Sera menutup mulutnya dengan tangannya. Mencoba untuk tidak mengeluarkan suara, meski dia sangat ingin melakukannya.

("Apa dia vampir? Astaga, dijaman seperti ini masih saja ada mahkluk seperti itu.") Sera bergidik ngeri.

Wanita itu nampak kesakitan. Jeritan kesakitan yang dia rasakan begitu memilukan. Dia nampak tersiksa sampai akhirnya dia tak sadarkan diri. Dan ambruk dilantai. Sera menatap ngeri dengan luka yang terkoyak dileher wanita itu.

("Sial, benar-benar sial !! Aku melarikan diri dari dua manusia berhati iblis. Dan masuk ketempat iblis sungguhan.") rutuknya kesal.

Ketakutan Sera semakin menjadi saat menyadari tatapan pria itu tak lagi pada si gadis malang yang telah mati. Kini tatapannya beralih kearah lemari dimana tempat Sera bersembunyi.

Sera memejamkan matanya. Merapalkan doa agar pria itu tidak membuka lemari dan tidak menemukannya. Namun doa orang serakah, nampaknya tidak akan dikabulkan.

Tiba-tiba lemari itu terbuka lebar dengan suara keras. Pria itu melesat cepat mendekat kearah Sera yang ketakutan. Sera bahkan bisa merasakan adanya aura yang mencekam disana. Namun memberanikan diri menatap wajah pria itu. Dengan jarak yang dekat seperti itu. Wajah pria itu terlihat jelas. Pucat, namun masih saja terlihat tampan.

"Tu-tuan ... Aku ...

" Kau sudah mengetahuinya." ucap Khazayn dingin.

"Tuan, aku akan menutup mulutku. Aku bersumpah tidak akan memberitahu siapapun tentang yang aku lihat." ucap Sera memelas.

Namun Khazayn semakin menatapnya tajam. Mata Khazayn menggelap. Dan ikut masuk kedalam lemari itu. Sera semakin kaget. Ditambah lagi, ketika dia mundur dia terhuyung jatuh kebelakang seolah jatuh ditempat yang begitu dalam. Dia ingin berteriak, namun hanya mulutnya saja yang terbuka tapi tidak ada suara sedikitpun.

Tubuhnya terasa seperti melayang diudara dengan posisi berputar-putar.

Dalam waktu beberapa menit. Akhirnya Sera sampai kedasar tempat itu.

Brukkk

chapter 2- TUAN IBLIS

"Dimana aku?"

Sera menatap kesekitar tempat itu. Sebuah ruangan yang begitu remang dan dingin, namun memiliki aura yang tidak enak. Ketakutannya semakin menjadi saat melihat pria yang dia anggap sebagai iblis sungguhan tadi muncul dihadapannya.

Sera tersentak dan mundur untuk beberapa langkah. Tatapan Khazayn tetap sama seperti tadi. Dingin dan mematikan.

"Tu-tuan iblis, jangan bunuh aku. Aku masih muda. Aku tidak mau mati konyol, aku bahkan belum menikah. Tolong ... Kasihani aku," ucap Sera memelas.

Seketika manik mata Khazayn yang menghitam kini berubah kembali kewarna aslinya yang berwarna kelabu. Khazayn menatapnya dalam.

"Seharusnya seorang gadis kecil tidak pantas berkeliaran dan melihat apa yang orang dewasa lakukan," ucapnya datar.

Sera menggeleng cepat.

"Tuan iblis, anda salah paham. Tadi aku dikejar. Kakak tiriku ingin menjualku, jadi aku kabur. Saat itu aku tidak menemukan jalan keluar, hingga dengan sangat terpaksa aku masuk kedalam ruanganmu. Aku benar-benar tidak sengaja,"tukas Sera mencoba berucap sesopan mungkin, agar tidak menyinggungnya.

Entah kenapa perasaan Khazayn melunak mendengar penjelasan gadis yang ada dihadapannya ini. Khazayn sepertinya baru menyadari bahwa gadis ini begitu cantik. Wajahnya yang kecil, bibir merah merekah serta matanya yang berwarna biru, sebiru lautan. Tubuh gadis ini terlihat kecil namun memiliki bentuk yang indah.

Dan bau darahnya ....

Sangat berbeda. Siapa gadis ini?

"Apapun alasanmu. Kau tidak bisa lari dariku. Mulai saat ini, kau akan tinggal di sini. Kau harus menyediakan darah segar paling tidak sehari tiga kali. Jika tidak, maka aku akan menghisap habis darahmu," ucapnya dengan ancaman yang kental.

"Apa? Bagaimana caraku mendapatkannya?"

"Aku tidak mau tahu." Khazayn segera melangkah pergi meninggalkan Sera sendirian dikamarnya.

Sera begitu ketakutan Sampai dia menggigiti kukunya dan berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan.

"Sial. Kenapa aku bisa berurusan dengan iblis sepertinya? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" maki Sera kesal.

****

"Dimana darahku?" Khazayn bertanya seolah menuntut haknya. Sementara Sera bingung harus menjawab apa.

"Ee... Aku tidak bisa mendapatkannya. Aku sendiri bingung, jangankan membunuh manusia, membunuh hewanpun aku tidak akan mampu."

"Kenapa?"

"Aku hanya merasa tidak tega melakukannya," ucap Sera tersungut-sungut.

Khazayn menyipitkan matanya. Merasa ucapan Sera sangat tidak masuk akal baginya. Sangat berbanding balik dengan dirinya yang telah menghabisi banyak nyawa dengan begitu mudah, bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun. Sementara gadis ini, nampaknya begitu lemah hingga tidak bisa melakukan hal yang sangat mudah baginya.

Khazayn mencari sebuah kebohongan dimata Sera. Namun yang terlihat hanya tatapan lugu dan polos. Yang lebih membuatnya heran, dia sama sekali tidak bisa membaca pikiran wanita ini. Aneh, sungguh aneh." batinnya.

"Siapa namamu?"

Khazayn bertanya sembari menatap keseluruh tubuhnya untuk menilai.

"Serafina Le Loullie. Umurku baru 19 tahun."

Khazayn berjalan perlahan mendekatinya. Sorot matanya yang tajam membuat Sera beberapa kali menelan salivanya. Kini Sera bisa merasakan adanya sesuatu yang aneh dari tatapan Khazayn padanya.

"Tu-tuan, apa yang ingin kau lakukan."

Sera mundur perlahan dan berbalik, mencoba untuk kabur, karena situasinya nampak berbahaya bagi dirinya. Namun tangan kekarnya menangkap tubuh kecil Sera dengan begitu mudah.

"Lepaskan aku!!"

Sera memberontak dan berteriak mencoba melepaskan tangan Khazayn yang menahan pinggangnya dengan kuat.

"Lepaskan aku Tuan iblis, kau berengsek!!"

Khazayn menarik tubuh Sera dan menyudutkannya ditembok. Khazayn meraih tangan sera dan meletakkannya diatas kepala wanita itu.

"Mulai sekarang panggil aku Khazayn. Khazayn De Flourenc," bisiknya ketelinga Sera. Lalu tatapannya beralih keleher Sera yang begitu putih dan mulus. Khazayn mendekatkan wajahnya diceruk leher Sera, Tanpa sengaja Khazayn menghirup aroma tubuh Sera yang wangi seperti bunga lili. Begitu harum dan menggoda

Baru kali ini Khazayn menyukai aroma tubuh seorang wanita, sampai dia kehilangan selera haus darahnya. Khazayn biasanya tidak membuang banyak waktu untuk menancapkan taringnya, namun kali ini berbeda. Khazayn justru menginginkan hal yang lain. Hal yang biasanya sangat enggan dia lakukan. Yaitu, menyetubuhi seorang wanita. Aroma tubuh Sera membuat hasratnya yang selama ini tidak pernah ada, tiba-tiba muncul begitu saja.

Tanpa berfikir lagi. Khazayn langsung mengikuti nalurinya, untuk menyentuh tubuh Sera. Bibirnya langsung meraup leher sera dan bermain-main disana. Sampai Sera melenguh karena ulahnya itu.

"Hentikan! Kau tuan iblis bajingan!" maki Sera sembari berusaha menyingkirkan tubuh Khazayn yang terus mendesaknya.

Khazayn sendiri tidak memperdulikan keluhan Sera yang memakinya sejak tadi. Khazayn sibuk menggerayangi tubuh Sera sampai wanita itu mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Suatu gelenyar aneh yang cukup menggelitiknya. Memberikan sensasi panas disekujur tubuhnya.

"Hentikan Tuan iblis ... Jangan sentuh aku!!"

Sera membuka lebar matanya saat tangan Khazayn menyingkap rok yang ia pakai.

"Berhenti bajingan. Iblis sialan! Kau pria kurang ajar?" pekik Sera, meluapkan semua emosinya.

Khazayn berhenti sejenak dan menatap Sera yang sudah memerah menahan amarahnya. "Aku akan memberi pelajaran pada mulut pedasmu ini."

Khazayn langsung menyerang bibir Sera, dan ********** dengan kasar. Menyapu keseluruh rongga yang ada didalam mulutnya, sampai terdengar suara decakan. Sera yang tidak memiliki pengalaman sama sekali, kesulitan mengimbanginya.

Sera tidak bisa berbuat apapun, tubuhnya seolah pasrah dengan tindakkan yang tidak senonoh yang dilakukan oleh pria iblis yang ada dihadapannya ini. Dia benar-benar merasa sial, karena keberuntungan seolah tidak pernah sekalipun memihak padanya.

Namun saat Sera berhenti memberontak dan hanya menerima dengan pasrah. Khazayn justru menghentikan aksinya.

"Kau beruntung karena aku tidak langsung membunuhmu dan menancapkan taringku kelehermu."

Sera memberanikan diri menatap sorot mata Khazayn yang tajam. Tatapan yang tadinya dipenuhi oleh kilatan ***** kini telah berubah. Sera berusaha untuk tetap terlihat kuat dan tidak menjatuhkan sedikitpun air matanya. Didalam pikirannya hanya satu. Yaitu kabur dan lari sejauh-jauhnya dari iblis ini. Namun seolah Khazayn mengetahui apa yang ada dipikarannya, Khazayn langsung memperingatinya.

"Kau tidak akan bisa kabur kemanapun. Meski kau berusaha sampai matipun aku akan mendapatkan mu...

Kau hanya milikku."

Khazayn berucap dingin dengan tatapan menusuk.

Sementara Sera hanya bergidik ngeri. Bagaimana bisa dia tinggal selamanya dengan Pria iblis ini.

Bagaimana masa depannya nanti.

Dan yang terpenting, apa yang sebenarnya diinginkan oleh iblis ini darinya?

chapter 3- BERUSAHA KABUR

Grusukk

Suasana yang begitu mencekam membuat Serafina takut untuk berada dikamar itu terlalu lama. Dia ingin pergi, melarikan diri dari tempat terkutuk itu Tapi bagaimana caranya? pikirnya.

Tapi jika tidak di coba, Mana tahu?

Dengan bermodalkan tekad yang kuat. Sera memilih kabur, lewat jendela yang ada disana. Matanya menatap kearah bawah dari jendela itu.

Sial, ini terlalu tinggi.

Sera merutuk kesal. Dia tidak mungkin memilih jalan itu, bisa-bisa kakinya patah. Atau yang lebih parah dia akan mati ditempat.

Namun Sera tidak menyerah.

Dia mencari segala cara agar bisa keluar dari sana. Sera berjalan mengendap-endap untuk mencari jalan keluar lain. Di sepanjang koridor dia menatap kesekeliling. Bahkan diluar kamarpun cahaya dari lampunya sangat minim.

Apa iblis itu pelit? Kenapa dia membeli lampu remang seperti ini. Tidak bisakah dia membeli lampu yang lebih terang?

Sera terus berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya. Sampai pada akhirnya dia melihat pintu utama dan berlari mendekatinya. Namun suara berat seseorang menghentikan aksinya itu.

"Mau kabur?"

Sera terjingkat kaget, melihat Khazayn yang sudah berada dibelakangnya. Sera bahkan tidak mendengar langkah kaki pria itu.

Bagaimana bisa iblis itu tiba-tiba ada disini?

Dengan memberanikan diri, Sera menatapnya angkuh. Dan menutupi kegugupannya. Dia juga terus merapalkan dalam hatinya bahwa dia tidak lemah, dia tidak boleh ditindas. Meskipun sangat bertolak belakang dengan perasaannya yang ketakutan setengah mati.

"Ya, aku harus pergi. Aku tidak mau tinggal bersama iblis sepertimu."

"Kalau begitu pergilah. Tunggu apa lagi?" saut Khazayn santai.

Mata Sera terbuka lebar karena tidak menduga jawaban Khazayn akan seperti itu. Tanpa menunggu lagi, sera langsung membuka pintu dan melangkah keluar. Namun, baru beberapa langkah. Ia kembali dikejutkan dengan suara rauman hewan mengerikan yang bertubuh besar. Hewan itu memiliki mata yang merah dan menunjukkan deretan giginya yang tajam. Serta kuku-kukunya yang panjang dan terlihat tajam. Siapapun yang berurusan dengan hewan itu, maka bisa dipastikan tubuhnya akan terkoyak habis akibat cakaran dari kukunya itu.

Aaaaaaaa

Sera terpekik saat melihat hewan itu berlari mendekatinya. Tatapan buas dari hewan itu membuat Sera mengeluarkan langkah kaki seribu untuk kembali masuk kedalam rumah Khazayn.

Dengan kecepatan dua kali lipat, Sera telah berhasil masuk kembali kedalam rumah dan menutup pintu Dengan keras. Sera berdiri didepan pintu sambil memegang dadanya yang masih bergemuruh, matanya terpejam sejenak sembari menetralkan deru nafasnya.

"Masih ingin kabur?"

Suara Khazayn membuat mata Sera kembali terbuka. Dia menatap Khazayn dengan pandangan mencela.

Dasar iblis sialan!

Sera mengutuk pria yang ada dihadapannya itu di dalam hati, tentunya.

Khazayn berjalan perlahan mendekat kearahnya. Tatapan Khazayn seolah sedang mengulitinya hingga Sera bergidik ngeri.

"Ma-mau apa kau? Jangan mendekat!!" Sera menggerakkan tangannya untuk mencegah Khazayn agar tidak terlalu dekat dengannya. Namun Khazayn tidak memperdulikan itu dan berjalan semakin dekat.

Saat Khazayn sudah berada dihadapan Sera. Wanita itu melihat manik mata Khazayn yang berwarna kelabu. Jika saja pria ini bukan iblis, mungkin dia sudah jatuh cinta dan memujanya. Tapi sayangnya dia adalah mahkluk mengerikan yang gemar meminum darah. Batin Sera seolah menjerit.

"Kuperingatkan sekali lagi padamu. Bahwa kau tidak akan bisa kabur, Serafina Le Loullie," bisik Khazayn ditelinga Sera. Lalu Pria bermanik kelabu itu menjauhkan wajahnya.

"Dan sekarang. Aku akan menghukummu karena telah melanggar perintahku. Aku tidak suka gadis pembangkang."

Khazayn menarik tangan Sera dan membawanya keatas. Entah apa yang ingin Khazayn lakukan padanya. Wanita itu hanya memberontak dan berteriak keras.

"Lepaskan aku! Apa kesalahanku, hingga kau menjadikan aku tawananmu disini? Aku ingin keluar, aku tidak mau disini. Lepaskan aku!!" teriak Sera tidak henti-hentinya memberontak.

Khazayn semakin menguatkan tangannya dan menggendong Sera dipundaknya, seperti sedang memikul karung beras. Dengan posisi seperti itu semakin membuat Sera berteriak keras. Suara keributan itu sampai terdengar ditelinga Century, yang ada diruangannya.

Century berjalan keluar dan melihat Khazayn membawa seorang wanita.

"Pangeran siapa wanita ini? Kenapa kau membawanya kesini?"

Khazayn memutar bola matanya dan mengurung Sera didalam kamarnya. "Tunggu disini! Aku akan kembali," ucap Khazayn menunjuknya.

Khazayn lalu keluar untuk berbicara dengan Century.

"Apa yang kau lakukan pangeran? Membawa manusia dikediaman kita akan sangat berbahaya. Bukankah aku sudah sering mengatakannya."

Khazayn berdecak sebal. "Wanita itu mengetahui diriku yang sebenarnya. Aku tidak punya pilihan selain menahannya disini," saut Khazayn santai.

Century kaget mendengarnya. "Bagaimana bisa? Bodoh!! Kenapa kau ceroboh sekali pangeran?" kali ini nada suara Century agak tinggi dan wajahnya begitu kesal. Dan hal itu membuat Khazayn terperangah mendengar umpatan Century yang mengatainya bodoh.

"Astaga Century, aku sendiri tidak tahu bagaimana wanita itu bisa berada diruangan pribadiku waktu itu. Semua ini terjadi tanpa adanya kesengajaan." Khazayn mulai jengah.

"Kalau begitu, bunuh wanita itu."

"Tidak."

Khazayn langsung menjawab keras.

"Pangeran, Hanya itu satu-satunya jalan agar wanita itu tidak membocorkan tentang keberadaan kita disini."

"Tapi tidak harus dengan membunuhnya Century!! Biarkan dia berada disini, aku akan mengawasinya. Akan kupastikan padamu, dia akan menutup mulutnya rapat." Khazayn segera berbalik untuk kembali masuk menemui Sera.

Century bahkan bingung Dengan diri Khazayn kali ini. Kenapa dia melindungi gadis itu? Apa dia menyukainya?

******

Sera membuang wajahnya saat menyadari Khazayn yang kembali datang menemuinya. Rasa takut, kesal dan benci menjadi satu didalam dirinya.

Khazayn mendekati wanita itu dan menarik keras tangannya agar berbalik menghadapnya. Tarikan kasar itu bukan hanya membuat Sera menghadapnya, namun juga menabrak tubuh Khazayn yang keras dan kokoh.

"Apa yang ingin kau lakukan, Lepaskan aku!" Sera kembali memberontak saat tangan Khazayn sudah melingkar dipinggangnya dan sesekali meremasnya geram.

Sial, apa yang akan dilakukan mahkluk ini kali ini?

"Aku datang untuk menghukum mu," ucapnya dingin.

Seketika Sera merasa tidak enak. Sera menelan salivanya berkali-kali saat melihat tatapan Khazayn yang tidak bisa dia artikan. Sera bahkan sempat berfikir, entah dosa apa yang telah dia lakukan dimasa lalu, hingga berakhir dengan mahkluk iblis ini?

Tidak... aku tidak boleh seperti ini. Aku harus melawan. Iblis ini tidak boleh bertindak semaunya padaku.

Sera terlalu sibuk dengan pikirannya, hingga dia tidak menyadari bahwa tangan Khazayn sudah merambat ketempat lain.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!