Malam itu, sekitar pukul 12 malam, seorang wanita, terbaring di atas ranjang, dengan kondisi tanpa busana. Air matanya mengalir deras dengan sudut bibir, memerah dan mengeluarkan darahnya.
Tak jauh dari wanita itu, seorang pria terlihat sedang mengenakan pakaiannya kembali. Senyum terkembang dari bibir pria itu nampak sangat puas sambil melempar tatapan kepada wanita tersebut
"Bagaimana pelajaran dariku, Sayang? Apa kamu puas?" tanya pria tersebut. "Sekarang kamu paham bukan, bagaimana rasanya melawanku?"
Wanita itu hanya diam. Namun sorot matanya terpancar kebencian dan kemarahan yang tidak sanggup dia luapkan.
"Kamu jangan khawatir, setelah ini, giliran teman-temanku yang akan memuaskan kamu," pria itu menyeringai lalu dia berbalik badan melangkah keluar, meninggalkan wanita yang terlihat sangat menyedihkan.
Seperti yang dikatakan pria tadi, tak lama setelah dia keluar, masuklah tiga pria yang sudah tidak sabar untuk menikmati wanita, yang tangan kanannya terikat pada salah satu ujung ranjang. Wanita itu hanya bisa menangis dan merintih kesakitan akibat perlakuan brutal tiga pria itu.
Hingga satu jam kemudian setelah ketiga pria itu merasa puas, ikatan tangan wanita itu dilepas oleh salah satu pria dan wanita itu diseret paksa, keluar dari kamar.
"Ibu, Bapak," ucapnya lemah. Wanita itu tak percaya kala matanya menangkap dua sosok yang paling berharga, tergeletak di atas lantai dalam kondisi tak bernyawa.
"Tidak! Ibu! Bapak!" Wanita itu meraung, mengguncang tubuh kedua orang tuanya.
Sedangkan keempat pria yang menyaksikan kejadiaan itu, terbahak penuh kemenangan dan kepuasan. Salah satu dari mereka, mendekat dan menarik rambut wanita yang sudah tidak berdaya.
"Bagaimana, Mutia? Masih ada niat untuk melawanku?" ucap pria tersebut. "Inilah akibat yang harus kamu tanggung karena berani mengusik kesenanganku, paham!" Kepala wanita itu dihempas dan pria itu kembali tertawa kencang.
"Kita lihat saja, setelah kejadian ini, siapa yang akan berani menolongmu," pria itu lantas pergi diiringi dengan tawa yang menggelar bersama rekan-rekannya.
Di saat bersamaan, seorang anak laki-laki muncul dari balik sofa, menatap keempat pria dewasa itu dari balik jendela.
Anak laki-laki itu tidak bersuara, tapi tatapannya memancarkan amarah yang menggelegar dan penuh dendam.
"Aku bersumpah! Aku akan membalas semua yang kalian lakukan pada keluargaku! Aku bersumpah!" gumam anak tersebut.
6 tahun kemudian.
"Heh, kuli, berhenti kamu!" Titah seseorang pada anak muda yang melangkah sendiri di saat hari sudah petang. "Mana uangmu?"
"Uang apa, Bang?" Anak muda itu nampak panik.
"Nggak usah pura-pura! Mana uangnya!"
"Sumpah, Bang, aku nggak tahu, uang apa?" Anak muda itu masih mengelak.
"Minta dihajar kamu, hah! Cepat serahkan uangmu!"
"Aku nggak ada uang, Bang, sungguh."
"Eh, nantangin kamu ya? Bokir, Boneng, kasih paham tikus ini!"
"Beres, Bos."
"Ampun, Bang, aku nggak bohong, aku nggak ada uang!"
"Banyak mulut kamu! Nih, rasakan!"
Anak muda bertubuh kurus itu langsung mendapat perlakuan yang cukup menyakitkan. Dia tidak bisa melawan karena dia memang tidak memiliki daya untuk melawan tiga orang yang terkenal sebagai preman daerah tersebut.
"Ini apa, hah! Ini apa!" tunjuk pria berbadan kekar setelah merogoh paksa celana yang digunakan anak muda itu.
"Jangan, Bang, tolong. Aku mohon. Itu untuk berobat Nenek saya," ucap anak itu menahan sakit.
"Bodo amat! Orang miskin nggak usah sakit!"
"Tolong, Bang, jangan."
"Cih! Lain kali, kalau kamu melawan lagi, aku nggak akan segan-segan melepas nyawamu dari tubuh nggak berguna ini, paham!"
Dakh!
"Aahh...." anak muda itu langsung terkapar menahan perutnya akibat tendangan sepatu milik si preman.
"Ayo kita pergi! Biarkan saja dia, biar mampus sekalian!"
Anak muda itu hanya bisa menahan sakit dengan sorot mata penuh dendam, tapi dia tidak bisa melampiaskannya.
"Haaaaa!" Seketika anak itu teriak kencang, menatap langit melampiaskan amarahnya.
"Kenapa nasibku setragis ini? Apa salahku, sampai ditakdirkan hidup seperti ini? Apa!"
Suasana sekitar yang sangat sepi, membuat anak itu leluasa mengeluarkan segala kesakitan yang dia pendam selama ini.
"Apa tidak ada kesempatan bagiku untuk merubah jalan hidupku, hah!" anak itu terus berteriak. "Kalau memang ada, tunjukan sekarang juga! Tunjukan keajaiban itu!"
Jedder!
Tiba-tiba petir menyambar sangat keras. Anak muda itu bahkan sampai terlonjak dan dia segera bangkit karena kilatan cahaya yang terlihat seperti hendak menyambarnya.
Jedder!
Untuk kedua kalinya petir menggelegar, membuat anak itu mempercepat gerakannya.
Jedder!
"Aaaa...." anak muda itu berteriak kencang. Bukan karena tersambar petir, tapi kepala anak itu seperti kejatuhan sesuatu sampai dia kesakitan.
"Aduh," anak muda itu mengusap-usap kepalanya yang sakit. "Apa itu?" sesaat kemudian dia terkejut kala matanya menangkap sebuah benda jatuh di hadapannya.
Dia mendekat dan memungut benda tersebut. "Kaya kotak pensil, tapi desainnya unik," gumamnya. "Milik siapa ini?"
Anak muda itu celingukan. Namun tidak menemukan satu orang pun di sana. "Apa ini jatuh dari langit?" Dia terus menerka-nerka, sambil mengusap-usap benda tersebut.
"Paling barang tak berguna." Anak muda itu melempar benda tersebut ke sembarang arah, lalu anak itu melangkah pergi.
Tanpa anak itu sadari, benda itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya lalu terbuka dengan sendirinya.
#####
Setelah berjalan kaki sekitar 10 menit, anak muda itu, sampai di tempat tinggalnya. Tempat tinggal yang menyimpan kenangan buruk di masa lalu.
"Kamu sudah pulang, Gar?" suara lirih seorang wanita tua, mengusik telinga anak itu yang datang diam-diam.
"Sudah, Nek," anak muda itu terpaksa menjawab dengan perasaan yang tidak menentu.
"Syukurlah," wanita tua itu nampak lega "Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah."
"Iya, Nek," anak muda itu lantas masuk ke kamarnya.
Nama panggilannya Tegar, nama yang bagus, tapi tidak sebagus dengan nasibnya. Anak muda itu menjalani kehidupan pahitnya sejak insiden tragis yang menimpa keluarganya, kala dia berusia dua belas tahun.
Kedua orang tua Tegar harus meregang nyawa karena ulah empat pria, sedangkan kakak perempuannya, juga ikut meninggal, setelah mengalami depresi berat selama satu tahun.
Yang lebih menyakitkan, peristiwa itu dianggap sebagai peristiwa perampokan biasa, dengan alasan kurangnya sebuah bukti.
Beruntung, Tegar masih punya satu Nenek dari kampung dan sejak kejadian itu, dia tinggal bersama Neneknya selama enam tahun ini.
Tegar bertahan di rumah tersebut karena tempat itu penuh kenangan meskipun kenangan pahit sekalipun.
Tegar merebahkan tubuhnya di atas kasur busa. Namun, baru saja pungggunya menyentuh kasur, dia dibuat terkejut kala punggungnya merasakan sesuatu yang mengganjal.
Tegar pun penasaran, dan dia mengurungkan niatnya untuk berbaring lalu dia segera mengecek benda apa yang ada di balik kasurnya.
"Astaga! Itu kan?" Begitu kasur dibalik, mata Tegar melebar kala melihat benda yang tadi menimpa kepalanya saat ada petir, kini ada di depan matanya.
"Kenapa ini bisa ada di kamarku? Bukankah tadi sudah aku buang?" Benak Tegar bertanya-tanya.
Anak muda itu heran Benda yang tadi menimpuk kepalanya, kenapa bisa ada di kamarnya. Tegar terus bertanya-tanya dan memperhatikan benda tersebut penuh muncul.
Karena rasa penasaran yang juga muncul semakin menguat, Tegar memutuskan segera membuka benda yang mirip kotak pensil tersebut.
"Wahh..." seketika Tegar dibuat takjub kala benda yang ada tangan kirinya, mengeluarkan cahaya terang setelah dibuka.
Namun cahaya itu tidak memancar dalam waktu yang lama. Semakin waktu berjalan, cahaya itu secara perlahan semakin meredup hingga cahaya tersebut benar-benar mati.
"Benda ini? Kenapa kaya komputer mini begini?" Tegar terus bertanya sendiri. "Sepertinya ini, tombol untuk menyalakannya." Jari Tegar menekan tombol berwarna merah.
Setelah tombol ditekan, lagi-lagi Tegar dibuat terkejut kala salah satu sisi dari benda itu, muncul sebuah tulisan.
"Selamat, anda terpilih sebagai manusia yang berhak menggunakan sistem dari kami," Tegar membaca tulisan pada layar itu, dengan teliti. "Sistem? Sistem apa?" Tegar mencoba mencerna dan memahami semua tulisan yang tertera di sana.
"Sistem yang ada dapatkan ini akan merubah hidup anda menjadi lebih baik dan anda bisa mewujudkan semua yang anda cita-citakan dengan bantuan sistem ini," gumam Tegar "Yakin, semua bisa diwujudkan?" Anak muda itu agak ragu.
"Jika anda bisa memenuhi syarat yang diminta sistem, anda akan mendapat hak untuk menerima imbalan 1000 kali lipat dari pendapatan anda selama 24 jam setelah memenuhi syarat," Tegar masih bergumam. "Mendapatkan imbalan? Syarat? Syarat apaan?"
"Untuk mendapatkan informasi tentang syarat yang harus dipenuhi, silahkan, tekan tombol hijau." Karena penasaran, Tegar langsung melakukan perintah tersebut.
Begitu tombol hijau ditekan, benda tersebut kembali mengeluarkan cahaya yang sangat terang sampai membuat Tegar menutup matanya.
Cahaya itu juga hanya terpancar beberapa detik. Tak lama kemudian cahaya tersebut mulai meredup secara perlahan hingga tiba-tiba kotak itu menutup.
"Loh, kenapa kotaknya menutup sendiri?" Sontak saja Tegar langsung bertanya-tanya.
"Memang seperti itu sistem kerjanya."
Tegar terperanjat. "Siapa itu?" Anak itu celingukan mencari sosok yang tadi membalas ucapannya.
"Anda tidak perlu takut, Tuan."
Suara itu kembali membuat Tegar terperanjat. Anak itu bahkan sampai bangkit dan bersikap waspada. "Kamu siapa?" Seketika Tegar merasa sedikit ketakutan. Tunjukan wajahmu, cepat!"
"Saya sosok tak kasat mata, yang diciptakan untuk melayani manusia yang sudah mengusap kotak itu."
"Me-ngusap ko-tak ini?" Tegar sampai tergagap. "Mana mungkin? Kamu pasti setan."
"Setan? Apa itu setan? Apa itu nama manusia?"
"Jangan bercanda kamu!" hardik Tegar dengan wajah yang sudah nampak pucat.
"Saya tidak bercanda, saya adalah sosok yang akan memenuhi keinginan anda jika anda sanggup memenuhi syarat utamanya."
"Bagaimana saya bisa percaya?" balas Tegar masih ketakutan.
"Silahkan, anda tunjukan pada saya, sebuah gambar, foto atau apapun, yang berwujud perempuan. Maka saya akan menunjukkan wujud saya seperti gambar yang anda pilih."
Tegar tercenung beberapa saat. Ingin rasanya dia tidak percaya, tapi rasa penasarannya juga cukup besar menggerogoti benaknya.
Otak Tegar berpikir cepat dengan mata jelalatan memperhatikan setiap sisi kamarnya. Saat arah pandangnya tertuju pada benda yang terpajang di dinding, Tegar langsung menemukan ide.
"Coba buktikan, menggunakan foto wanita itu!" tunjuk Tegar pada gambar seorang wanita yang menjadi model dalam kalender.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Tegar tak membalas ucapannya namun dia menuruti untuk menunggu sebuah pembuktian.
Hinggga beberapa detik kemudian, mata Tegar langsung melebar kala tatapannya menangkap keajaiban tepat di hadapannya.
Pertama yang Tegar saksikan, sepasang kaki muncul. Dari kaki, penampakan berlanjut naik ke lutut dan terus naik ke atas, sampai berhenti tepat di ujung rambut dan kepala
"Bagaimana bisa?"
Mata Tegar nyaris tak berkedip dengan mulut terbuka, menyaksikan sosok wanita yang selama ini dia kenal sebagai seorang artis cantik dari negara ini.
Namun, ada hal yang lain yang membuat Tegar seperti kesusahan menelan ludahnya sendiri. Sosok cantik itu berdiri tanpa sehelai kain menutupi tubuhnya.
"Bagaimana? Apa sekarang anda sudah percaya?
Dengan gugup Tegar mengangguk. "Tapi, kenapa kamu tidak memakai busana?"
"Busana? Apa itu busana?" Sosok itu malah balik bertanya.
"Itu... ah sudahlah," balas Tegar bingung.
Sosok itu lantas tersenyum. "Jadi, apakah anda bersedia menjalankan misi untuk mendapatkan keuntungan?"
"Apa misinya?" tanya Tegar dengan jiwa lelakinya yang mulai meronta.
"Ada dua misi yang harus anda penuhi, pertama, bantulah manusia yang benar-benar membutuhkan pertolongan."
"Gampang kalau itu, terus misi yang kedua?"
Sosok wanita itu tersenyum, kemudian dia melakukan sesuatu yang membuat mata Tegar kemn semakin melebar dan jiwa laki-lakinya berpacu liar.
"Misi yang kedua, masukan benih dalam tubuh anda, ke dalam lubang ini minimal 5 mili liter."
"Apa!" Tegar terperangah.
"Kenapa? Anda tidak sanggup?"
"Bukannya tidak sanggup, tapi, apa anda yakin, misinya seperti itu?"
"Tentu saya yakin. Jika kedua misi itu berhasil anda penuhi, maka anda akan mendapat sesuatu yang sangat anda butuhkan."
Tegar terdiam dengan perasaan yang campur aduk. Anak muda itu masih bingung, apa yang yang harus dia lakukan, meski jiwa laki-lakinya sudah menggeliat sangat liar.
"Bagaimana? Anda tidak sanggup memenuhi misi itu?" Karena tak ada jawaban dari Tegar, sosok itu pun kembali bertanya untuk memastikan kesanggupan pria tersebut.
"Bukan begitu," bantah Tegar. "Sampai saat ini saya belum pernah melakukan hubungan kaya gitu, lalu bagaimana caranya aku bisa mengetahui kalau benihku masuk sebanyak lima mili liter?"
"Anda tidak perlu khawatir, kotak itu akan mengeluarkan cahaya berwarna merah, jika anda sudah mencapai target."
Lagi-lagi Tegar tertegun.
"Kalau boleh tahu, imbalan apa yang saya dapatkan jika misi terpenuhi?"
Wanita itu tersenyum. "Setelah anda sukses menjalankan misi, dalam waktu 24 jam, kotak itu akan terisi 1000 kali lipat dari uang yang anda dapatkan selama satu hari bekerja."
"Hah! Serius?" Tegar kembali takjub "Tapi kan kotak itu kecil, mana muat?"
"Anda bisa membuktikannya sendiri. Tapi jika anda ragu dan masih tidak percaya, tidak masalah. Anda bisa membuka kembali kotak tersebut lalu tekan tombol berwarna hitam."
"Baiklah, baiklah, baiklah, aku akan mencobanya," Tegar menyerah. "Tapi, semua ini aman, kan? Tanpa efek samping?"
"Tentu," jawab sosok tersebut. "Sekarang, anda hanya perlu membuktikan semua yang saya sampaikan.
Tegar mengangguk. "Baiklah kalau begitu," anak muda itu segera melepas semua pakainnya.
Meski masih ada keraguan dalam benaknya, tapi jiwa lelaki Tegar yang sudah bergejolak, mendorong pria itu untuk naik ke atas kasur, melepas hasrat bersama wanita untuk pertama kalinya.
Bersamaan dengan itu, di belahaan ruang angkasa yang lain, kilatan-kilatan petir menyambar tanpa henti.
"Gar! Tegar! Bangun, Gar, udah siang!" teriakan seorang wanita tua yang disertai dengan ketukan pintu, mengusik telinga pria muda yang masih terlelap di atas kasurnya.
"Iya, Nek," dengan suara berat dan mata masih terpejam anak muda itu menyahut sebagai tanda kalau dia sudah bangun.
Anak muda itu menguap, lalu membuka matanya. Ketika Tegar meregangkan tubuhnya tiba-tiba dia terperanjat dan dia segera bangkit dari berbaringnya.
"Apa semalam aku mimpi?" gumam Tegar. Namun, saat dirinya memperhatikan keadaan tubuhnya saat ini, anak muda itu sadar kalau apa yang semalam dia lakukan adalah kenyataan.
Tegar lantas melempar pandangan ke arah kalender yang terpajang di dinding. Matanya menatap lekat gambar wanita cantik dengan pikiran berkelana, mengenang kejadian semalam yang penuh dengan kenikmatan.
"Hallo! Nona, Mbak, Miss, apa kamu masih di sini?" Tegar mencari sosok tak kasat mata yang semalam merenggut keperjakaannya.
"Apa dia pergi?" Tegar lalu melempar pandangan pada kotak yang tergeletak di lantai. Tangan Tegar bergerak, memungut benda tersebut. "Apa dia masuk kembali ke dalam kotak pensil ini?"
Tegar memperhatikan kotak di tangannya dengan hati bertanya-tanya. "Apa benar ucapan wanita semalam, dari kotak ini akan muncul banyak uang? Kayaknya sih nggak mungkin. Kecuali, kalau ini pesugihan."
"Gar! Nenek berangkat dulu," lagi-lagi suara Nenek mengusik telinga Tegar. "Kamu sudah bangun belum?"
"Sudah, Nek!" Tegar langsung menyahut dan dia segera meletakan kotak tersebut di atas kasur, lalu bergegas mengenakan celana kolor. "Emang Nenek sudah sembuh?" tanya Tegar dengan suara yang keras.
"Cuma demam biasa," sahut Nenek dari luar kamar. "Lagian Nenek udah makan obat semalam."
Tegar keluar hanya mengenakan kolor dan keluarnya anak muda itu disambut oleh Nenek dengan kening yang berkerut kala menatap cucunya.
"Kamu habis berkelahi?" Nenek langsung melempar pertanyaan yang membuat cucunya terperanjat.
"Biasa lah, Nek, ketemu preman," jawab Tegar agak cuek.
"Uang kamu dirampas lagi?" Terka Nenek. "Apa kamu nggak menghindar?"
"Sudah, Nek aku bahkan sengaja lewat jalan lain. Tapi ya namanya lagi apes, mau gimana lagi," balas Tegar.
Nenek menatap cucunya dengan perasaan yang berkecamuk. "Apa uangnya dirampas semua?"
"Cuma seratus lima puluh ribu sih, Nek. Untungnya, uang lain udah aku setorkan ke Bu Tatik."
"seratus lima puluh ribu bagi kita juga banyak, apa lagi itu hasil keringatmu," kesal Nenek.
"Ya udah lah, Nek, nggak apa-apa, uang kan bisa dicari lagi. Lagian, aku juga masih punya pegangan."
Si Nenek mendengus. "Ya sudah, Nenek berangkat dulu. Nenek udah beli nasi bungkus tuh di meja."
Tegar membalasnya dengan senyuman. Sebenarnya dia tidak tega membiarkan Neneknya pergi mencari uang. Namun apa daya, Nenek orangnya tidak suka diam di rumah. Apa lagi penghasilan mereka tiap hari tidak menentu, jadi dengan terpaksa Tegar mengijinkan sang Nenek untuk berjualan.
Sejak kejadian tragis yang menimpa keluarganya, Tegar juga terpaksa harus rela mengubur mimpinya. Bahkan dia tidak melanjutkan sekolah menengah atas karena tidak tega dengan sang Nenek yang mencari uang sendirian untuk kebutuhan mereka.
Awalnya Tegar, bercita-cita menjadi polisi. Dari kecil dia sangat menyukai profesi itu. Setiap kali main bersama teman-temannya, Tegar selalu memilih peran sebagai polisi yang hebat.
Namun pandangan Tegar tentang kebaikan polisi seketika runtuh, kala peristiwa pahit menimpa keluarganya. Polisi yang seharusnya membantu mengungkap kebenaran, justru malah menutup kasus tersebut dengan alasan kurangnya bukti.
Kebencian Tegar kepada polisi semakin melebar saat kesaksian Tegar diragukan. Anak itu hanya busa menahan geram karena masih terlalu kecil.
Ditambah lagi, dengan mata kepalanya sendiri, Tegar menyaksikan polisi yang menangani kasus keluarganya, ikut merayakan pesta yang diadakan para pelaku, membuat Tegar semakin muak dengan yang namanya penegak hukum.
Dari pesta itulah, dendam Tegar semakin berkobar. Setiap malam dia selalu menunggu waktu dan memikirkan cara untuk melampiaskan dendamnya, serta membongkar kejahatan yang dilakukan empat pria yang dulu hampir dibongkar oleh kakak perempuannya.
Sebelum berangkat mecari uang, Tegar menyantap nasi bungkus yang dibeli Neneknya. Setelah itu dia lantas mandi dan berangkat ke rumah seseorang yang selama ini baik kepadanya.
Namanya Bu Tatik. Wanita itu memiliki usaha, membuat aneka jajanan pasar dan beberapa jenis roti goreng. Karena belum menemukan keahlian khusus, tanpa rasa malu, Tegar meminta ijin pada wanita itu untuk ikut memasarkan jajanan hasil produksinya ke pusat kota.
Sudah tiga tahun, Tegar menjalankan usaha seperti itu. Meski kadang dia malu dan iri jika bertemu teman-temannya yang masih sekolah, tapi Tegar menepis rasa itu, demi bisa menyambung hidup.
Sedangkan Nenek, jualan bubur sumsum yang sudah ditekuni wanita itu sejak masih muda. Dulu Nenek jualan keliling, tapi sekarang, dia memilih mangkal di lapak depan area sekolah, tak jauh dari rumahnya.
Lapak jualan nenek juga disediakan oleh pemilik lahan yang baik hati. Apa lagi tempatnya memang tidak mengganggu kepentingan umum.
"Jajan-jajan! Bu, Jajan, Bu," suara Tegar nyaring tertegar kala melewati gang. Tanpa rasa malu, dia manawarkan jajanannya yang di bawa menggukan dua keranjang susun.
"Duh, bocah ganteng, akhirnya datang juga," ucap seorang Ibu, kala melihat Tegar menghampirinya.
Tegar tersenyum. Dia memang kerap sekali mendapat pujian seperti itu oleh langganannya yang kebanyakan Ibu-ibu.
"Aku beli dua puluh ribu, tapi campur lima jenis ya?"
"Apa aja, Bu?"
Wanita itu lantas menunjuk jajanan yang diinginkan. Dengan riang, Tegar langsung memasukan jajanan tersebut ke dalam kantung plastik.
Kalau lagi ramai, Tegar biasanya jam dua belas siang sudah pulang. Tapi kalau lagi sepi, kadang Tegar pulang sampai petang, karena Tegar merasa tidak enak kepada pemilik dagangan, jika Tegar pulang tapi dagangannya masih banyak.
Seperti hari ini, Tegar pulang di saat hari menjelang sore dengan sisa dagangan yang tinggal sedikit. Tegar pulang dengan membawa pulang uang sebesar seratus tujuh puluh ribu rupiah dan dipotong buat beli makanan sama dikasih ke anak jalanan yang meringis kelaparan.
"Kamu baru pulang?" tanya Nenek yang sudah pulang sejak jam sebelas.
"Iya, Nek," jawab Tegar setelah menenggak segelas air putih.
"Kamu udah makan?"
"Sudah tadi," jawab Tegar. "Aku ke kamar dulu, Nek."
Nenek mengangguk, lalu dia kembali fokus menyaksikan berita melalui siaran televisi.
Begitu masuk kamar, Tegar langsung melepas semua pakiannya kecuali celana kolor. Di saat dia melempar pandangannya ke arah kasur, Tegar tertegun menyaksikan kotak yang dia temukan mengeluarkan cahaya.
Tegar pun bergegas mendekat dan meraih kotak tersebut. Begitu kotak dibuka, mata Tegar langsung melebar kala menyaksikan isi di dalamnya.
"Uang? Ini beneran?" Tegar tak mempercayainya, dan tangannya langsung meraih uang tersebut. "Gila, ini uang beneran, wahh! Aku kaya! Hahaha..."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!