Suara jeritan mulai terdengar di ruangan itu, Robert yang mendengar teriakan Rosella dengan kesakitan segera menjadi lebih khawatir, dia berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar dengan gelisah meremas jari-jarinya dengan erat hingga memutih.
Rosella terus berteriak sambil mengeram dengan mata berkaca-kaca, menatap ke langit-langit kamar dengan kesakitan yang tidak tertahankan karena kelahiran putrinya.
para dokter terus berusaha dengan semaksimal mungkin, kepala bayi mulai terlihat ke permukaan, para dokter pun segera menariknya keluar dengan hati-hati dan keahlian mereka, begitu bayi keluar dokter segera menggendongnya, mengambil kain putih membalutkan kain pada tubuh bayi lalu meletakkan di atas tubuh Rosella, dokter segera meminta beberapa perawat di sana untuk mempersiapkan peralatan medis memeriksa bayi Rosella.
Rosella memeluk bayinya perlahan dengan mata berkaca-kaca saat merasakan bayi bergerak dan menangis.
mendengar suara bayi tangisan, Robert segera membuka pintu bergegas berlari menuju Rosella, melihat Rosella yang memeluk bayi mereka, mata Robert segera berkaca-kaca, membungkuk untuk memeluk Rosella dengan putrinya.
“oh sayang akhirnya, aku sungguh menghawatirkan mu dan bayi kita.” gumamnya dengan suara gemetaran menatap istrinya.
Rosella yang menatap Robert ada di sampingnya, air matanya segera berjatuhan di pipinya.
“sayang... kita berhasil setelah penantian lima tahun, kita akhirnya memiliki putri yang cantik.” ucapnya dengan suara terbata-bata di sela-sela tangisannya.
Robert yang mendengar perkataan Rosella merasakan hatinya sakit sekaligus gembira, ia mengusap air mata Rosella yang berjatuhan dengan jari-jarinya.
“aku bangga padamu sayang, kau wanita hebat yang tidak menyerah.” Robert berbicara dengan pelan berusaha menahan air matanya agar tetap kuat di hadapan Rosella.
Rosella yang menganggukkan kepalanya, tiba-tiba merasa sakit bercampur mulas di dalam perutnya kembali yang membuat ia tersentak kesakitan.
Robert yang melihat itu segera panik memanggil para dokter untuk kembali.
“cepat kesini! istriku butuh bantuan dia kesakitan!” teriak Robert.
dokter yang mendengar itu segera bergegas menuju Rosella melebarkan kakinya perlahan.
Robert pun segera mengambil bayi yang berada di samping Rosella, menggendong bayinya berjalan mundur perlahan menyaksikan kembali Rosella yang kesakitan.
para dokter terus menginstruksikan Rosella untuk mengeram agar bayi satunya yang kini Masi di dalam perutnya untuk keluar.
Rosella berteriak keras mencekam Sisi tempat tidur dengan erat.
melihat kepala bayi yang terlihat di permukaannya perlahan dokter segera menariknya keluar di selingi dengan dorongan Rosella, mereka membalutkan kain pada tubuh bayi yang baru saja keluar, memotong tali pusar bayi meletakkan ya perlahan di atas tubuh Rosella.
Rosella yang terengah-engah dengan lemah, mencoba sisa tenaganya untuk memeluk bayinya dengan tubuh yang gemetaran dan kesakitan.
Robert dengan cepat menyerahkan bayi yang ada di tangannya kepada suster yang sedang berjaga, lalu segera memeluk Rosella.
Rosella yang merasakan pelukan Robert segera menangis pelan membalas pelukan hangat itu, suara bayi yang Masi menangis bergema di ruangan bercampur dengan tangisan terharu mereka.
suster yang lainnya pun mendekat perlahan, “nona, saya akan memeriksa kesehatan bayi, sekarang, tolong berikan pada saya.” gumamnya meminta izin.
Rosella yang mendengar itu mengangguk perlahan melepaskan pelukan Robert menyerahkan bayi itu kepada suster.
suster segera menggendong bayi dan berjalan keluar ruangan bersama suster lainnya yang sedang mengendong bayi juga.
Robert mengelus-elus ujung kepala Rosella dengan tersenyum, dengan tangan lainnya menggenggam tangan Rosella yang hangat dengan erat.
tangan mereka saling menyatu saat dokter mulai menjahit kemaluan Rosella yang robek setelah ia melahirkan.
Rosella yang tersentak segera berteriak mencekam tangan Robert dengan sangat erat hingga terlihat terluka, tubuhnya menggeliat pelan akibat rasa sakit yang dirasakannya.
Robert yang melihat Rosella kesakitan hatinya tidak tega, ia terus mengelus ujung kepala Rosella dengan lembut seolah ingin menenangkannya.
“sayang aku di sini bertahan la sedikit lagi, setelah itu kita bisa melihat anak-anak kita yang cantik kan.” bisik Robert dengan suara yang pelan saat ia mencium pucuk kepala Rosella.
Rosella yang terus merintih kesakitan menggigit bibirnya perlahan berusaha untuk menahan itu.
Robert yang melihat wajah Rosella saat berusaha menahan rasa sakit itu dia merasa sangat terpukul, terus mencium pucuk kepala Rosella berkali-kali membisikkan kata-kata penenang di sana.
dokter terus melakukan perawatan terhadap Rosella dengan keahlian mereka.
setelah beberapa saat para dokter menyelesaikan jahitan itu memberi beberapa pendingin di permukaan tubuh Rosella yang terluka lalu meresepkan obat-obatan untuk Rosella saat berbicara dengan Robert.
Rosella yang terbaring dengan kelelahan dengan mata setengah terbuka hanya bisa terdiam di tempatnya.
Robert yang terus berbicara dengan dokter beberapa kali menoleh untuk melihat kondisi Rosella.
segera para dokter bersiap-siap untuk pergi meninggalkan ruangan.
Robert berjalan menuju Rosella yang terbaring di ranjang, menatap Rosella yang sudah sangat kelelahan, Robert membungkuk perlahan Duduk di sisi tempat tidur memegangi tangan Rosella sambil mengelus-elus telapak tangannya yang dingin.
“sayang beristirahatlah aku di sini, aku akan memeriksa putri kita nanti, mereka pasti aman jangan khawatir.” bisik Robert dengan lembut terus membelai telapak tangan istrinya.
Rosella yang mendengar perkataan Robert mengangguk perlahan ia pun menutup matanya.
Robert yang melihat Rosella akan tertidur hanya bisa tersenyum lembut menunggu beberapa saat untuk lebih memastikan keadaannya.
setelah beberapa menit berlalu, Robert hanya terus memandanginya wajah istrinya yang tertidur pulas, terlihat Sangat damai setelah kejadian tadi ia pun melepaskan tangan Rosella perlahan menarik selimut untuk menutupi tubuh Rosella, memastikan semuanya beres, Robert berbalik berjalan meninggalkan ruangan.
Robert melangkah dengan hati yang penuh haru menuju ruangan di mana putrinya berada, Setiap langkahnya dipenuhi dengan rasa tak sabar dan kebahagiaan yang meluap-luap di hatinya, Tiba-tiba di tengah perjalanan Robert bertemu dengan temannya, yang tidak lain ingin mengunjunginya dia dengan Rosella
“Robert, selamat atas kelahiran putrimu, Setelah penantian yang lama, akhirnya keluarga kalian lengkap sudah.” Dia tersenyum sambil memeluk Robert dengan ringan menepuk-nepuk punggungnya dengan beberapa kali.
Robert tersenyum membalas pelukan temannya itu.
“Terima kasih telah mengunjungi aku dan Rosella, Bagaimana kabarmu, Kevin?” tanya Robert sambil melepaskan pelukan itu perlahan.
“Aku baik-baik saja, Robert. Kau tahu, di wilayahku akan ada pesta tahunan, Aku harap kau datang dan memperkenalkan bayimu yang cantik kepada bangsawan lainnya, Aku akan mempersiapkan pesta yang meriah untuk menyambut kalian.” katanya dengan tersenyum lebar.
Robert yang mendengar itu segera menganggukkan kepalanya.
“Tentu saja aku akan datang, Kevin. Terima kasih telah mengundangku sekaligus menyediakan pesta itu untuk menyambut anak kami. Kau memang teman yang terbaik." balas Robert dengan tertawa ringan.
“Tidak masalah, Robert. Aku sudah menganggap mu sebagai saudaraku sendiri, Oh ya, Robert, apa kau ingin melihat putrimu di ruang bayi? Aku akan menemanimu. Aku juga ingin melihat putrimu yang cantik,” ucapnya dengan antusias.
Robert yang mendengar itu mengangguk kepalanya lalu berjalan terlebih dahulu dari Kevin.
“Tentu saja, aku sudah tidak sabar melihat putriku. Mari kita pergi bersama-sama Kevin.
Mendengar itu, Kevin segera melangkah menyesuaikan kecepatan Robert berjalan di sampingnya.
Keheningan terjadi beberapa saat yang hanya terdengar bunyi hentakan sepatu mereka.
Kevin melirik ke arah Robert sambil menghela nafas merasakan getir di dalam hatinya, namun ia tahu harus menyampaikan sesuatu yang menyakitkan kepada Robert.
Dengan napas yang berat, Kevin segera mengangkat wajahnya untuk melihat ke samping.
“Robert, apa kau masih ingat penyampaian penasihat tentang anak kembar yang satunya akan membawa kesialan, yaitu anak yang lahir di akhir.”
Robert yang mendengar itu segera berhenti berjalan menatap Kevin, Tidak disangka, perkataan yang keluar dari bibir Kevin menusuk ke hati Robert seperti pedang tajam.
Robert terdiam sejenak, membuka bibirnya perlahan berbicara dengan nada yang pelan berusaha menyembunyikan rasa sakit dan kesal di hatinya.
“Aku ingat Kevin, Aku ingin yang terbaik untuk keluargaku, memberikan mereka kebahagiaan yang tiada hentinya, tapi mengapa harus ada dia, aku sudah cukup satu anak.” kata Robert dengan memalingkan wajahnya kembali berjalan perlahan.
Kevin yang mendengar itu terdiam melihat Robert yang pergi segera menghampirinya. “Robert, aku mengerti perasaanmu, tetapi dia juga anakmu. Aku harap kau mengambil keputusan yang terbaik.” ujar Kevin.
Robert yang masukan dari Kevin hanya terdiam dan terus berjalan dengan ekspresi yang tidak terbaca di wajahnya.
Ruangan bayi mulai terlihat, Robert dan Kevin berhenti tepat di depan dinding kaca, melihat ke dalam ruangan bayi. Ada beberapa bayi di sana yang sedang tertidur. Robert menunjuk ke arah bayi yang sedang tertidur di satu ranjang bayi yang besar dan mewah berbeda dengan lainnya.
Kevin segera membuka pintu perlahan berjalan masuk menuju bayi itu disusul dengan Robert yang berjalan di belakangnya.
Kevin melihat bayi yang sedang tertidur pulas merasa sangat senang, segera membungkuk mengelus pipi bayi yang sedang tertidur dengan jempolnya, ia tersenyum lebar.
Robert yang melihat pemandangan itu segera mengangkat bayinya dari tempat tidur, mengendongnya dengan berhati-hati.
Kevin menoleh melihat ke bayi Robert yang lainnya sedang tertidur juga. Ia hanya terdiam dan kembali mendekati Robert dengan senyuman di wajahnya.
Robert dan Kevin terus mencurahkan kasih sayang mereka kepada bayi yang ada di gendongan Robert.
“Kevin, bisakah kau membawa dia untukku, kita akan pergi ke ruangan di mana Rosella berada, dia pasti ingin melihat putri-putrinya juga.” Robert mulai mengambil beberapa peralatan untuk dibawanya.
“tentu saja Robert.” Kevin mulai mengangkat bayi itu perlahan, meskipun ia tampak kesulitan takut melukai tubuh kecil itu dengan gerakannya yang salah.
Salah satu suster yang berjaga segera membantu Kevin dengan sopan.
“Seperti ini tuan. Buka tangan anda, agar saya yang menyesuaikannya.”
Kevin mengangguk mengikuti instruksi itu, mulai membuka tangannya sedikit.
Perawat pun mulai meletakkan bayi perlahan di atas lengannya, mengerakkan sedikit untuk mencapai posisi yang baik, setelah semuanya beres perawat pun mengangguk, ia mundur perlahan dengan sopan, menundukkan wajahnya.
“terima kasih.” Kevin segera pergi mengikuti Robert.
Perawat itu berbalik berjalan menuju perawat lainnya yang berjaga, jantungnya berdetak dengan cepat, dan berbicara kegirangan.
“tidak kuduga, aku bisa berbicara dan dekat dengan tuan Kevin, dia sangat tampan.”
Perawat yang mendengar perkataan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“aku juga melihatnya, dan dan tuan Robert sungguh mengesankan, tidak sia-sia kita berjaga di sini.”
“itu benar aku bahkan Masi merasa ini adalah mimpi, sungguh tidak terduga.” Ia terus tersenyum dengan bangga
“Sudah-sudah mari kembali bekerja.”
Saat Kevin dan Robert terus berjalan, Kevin memandangi wajah mungil yang ada di gendongannya itu, hatinya mulai melembut melihat betapa damainya ia tertidur.
“sudah sampai.” Robert membuka pintu pelan melangkah perlahan ke dalam ruangan, ia melihat Rosella Masi tertidur pulas di ranjangnya.
Disusul oleh Kevin, dia pun menoleh, Melihat pemasangan itu.
“sepertinya ia sangat kelelahan, dia tertidur dengan sangat pulas.” Bisik Kevin dengan tersenyum, ia pun mulai melangkah dengan hati-hati duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.
Robert mengikuti Kevin, ia duduk di sebelahnya, menyadarkan tubuhnya sepenuhnya pada sofa. “beberapa saat yang lalu memang menegangkan Kevin, aku bahkan membayangkannya kembali tidak sanggup, Rosella kuat bisa melewatinya dengan baik.” Ucap Robert mempererat pelukannya kepada Fiona, ia melirik bayinya kembali dengan senyuman syukur.
“tentu saja Robert, itu memang hal yang menenangkan, bagaimana tidak bukan, kau melihat bagaimana perjuangan Rosella untuk melahirkan kedua putrimu, dia memang wanita yang sempurna.” Balas Kevin.
“aku tidak tahu Kevin apa yang akan terjadi jika aku mengatakan aku tidak menginginkan satu antara ini.” desis Robert,
Kevin terdiam saat mendengar ucapan itu, dia bisa melihat wajah Robert yang tampak bimbang sekaligus benci bersamaan.
“Robert, tenangkan dirimu sebelum mengambil keputusan, bagaimana pun dia adalah putrimu, darah daging mu, kita tidak bisa mempercayai hal yang seperti itu bukan.” Usul Kevin
“aku tidak bisa Kevin. Bagaimana jika aku mengatakan aku memercayai itu, aku takut hanya karena ini semuanya hancur, keluarga ku, wilayahku atau apa pun itu, sangat tidak bisa diterima.”
Kevin hanya terdiam, kembali melirik bayi yang ada di gendongannya, ia mengerutkan kening merasa sependapat oleh pemikiran Robert.
Tidak lama kemudian terdengar gerakan di tempat tidur, Robert segera menoleh melihat Rosella yang terbangun dari tempat tidurnya, ia pun berdiri berjalan kearah Rosella.
“sayang, jangan terlalu banyak bergerak kau Masi terluka, biarkan aku yang membantumu.” Dengan tangan lainnya, Robert membetulkan Bantal Rosella menyangga tubuhnya sedikit lebih tinggi.
“Sudah merasa nyaman.” Tanyanya.
Rosella mengangguk perlahan, ia sedikit meringis saat merasakan jahitan itu.
“tidak apa-apa, apa yang kau inginkan sayang, kau ingin melihat putrimu ya.” Robert segera meletakkan bayi yang berada di gendongannya di samping tubuh Rosella.
Rosella melihat bayi yang sedang tertidur pulas itu dengan perasaan campur aduk, matanya berkaca-kaca ia pun mengeluarkan tangannya dengan gemetaran memeluk bayinya.
Tatapan Robert semakin melembut ia mengikuti pergerakan Rosella, membungkuk untuk memeluk mereka.
Kevin hanya bisa tersenyum tidak ingin bergabung merusak suasana.
“lihat dia Rosella ku, dia sangat cantik sama seperti mu bukan.” gumam Robert
Rosella mengangguk perlahan, setetes air mata jatuh di sudut matanya.
“Robert, aku berhasil, aku bisa membawa putri kita ke dunia, terima kasih sudah mendukung dari rasa takut ku.”
Robert tersenyum lembut, mengusap air mata Rosella dengan jari-jarinya.
“kau yang hebat Rosella, aku bangga padamu, sudah jangan menangis lagi.” Bisiknya.
Rosella terus melihat wajah putrinya yah damai, ia tersenyum, mempererat pelukannya.
"dia sangat cantik."
Bayi itu pun mulai menggeliat pelan terbangun di pelukan mereka, saat ia membuka matanya, Robert dan Rosella melihat jelas bagaimana mata putri mereka yang sangat indah mirip dengan mata Robert yang tampak seperti mata hewan.
“ehem, bagaimana dengan yang ini sepertinya kalian melupakannya.” Dengan nada main-main Kevin bangkit tempat duduknya melangkah mendekati mereka.
Robert mulai berdiri tegak, ia bergeser sedikit agar tidak menghalangi pandangan Rosella kepada Kevin.
Rosella tersenyum lebar saat menatapnya.
“Kevin aku bahkan tidak menyadari kau berada di sini.” ucap Rosella
“Bagaimana kau akan menyadarinya, kau Sangat sibuk dengan keluarga kecilmu,” nyinyir nya, ia pun melanjutkan pembicaraannya.
“Lihat ini juga putrimu Rosella, dia mirip dengan Robert bukan.” Gumam Kevin melirik kearah Robert yang terlihat masam saat mendengar itu.
“Tentu saja, dia adalah ayahnya, Kevin biarkan aku melihatnya.” Rosella mengangkat sedikit badanya mencoba untuk duduk.
“hati-hati kau belum terlalu pulih, ingat Masi tahap pemulihan, jangan memaksakan diri sayang.” Robert memegangi lengan Rosella untuk membantunya.
Setelah semuanya nyaman, Rosella membuka lengannya untuk menyambut putrinya yang ada di pelukan Kevin.
Kevin pun mulai membungkuk sedikit melepaskan bayi itu perlahan dengan hati-hati menaruhnya di lengan Rosella.
“putriku mereka sangat cantik.” Bisik Rosella saat ia mengecup ujung kepala putrinya.
Robert mengerutkan keningnya saat menatap pemandangan itu, tetapi ia menahan perkataan yang berisik di hatinya.
“selamat atas kelahiran putri mu Rosella. Maaf aku tidak membawa buah tangan, aku sangat terburu-buru mendengar kabar kelahiran anakmu dari Gisella, ia menghubungiku.”
“tidak apa-apa Kevin, sungguh kehadiran mu sudah sangat membuat aku dan Robert senang, terima kasih sudah datang.” senyuman Rosella tampak sangat tulus saat mengatakan itu.
“Bagaimana pun kalian sudah aku anggap sebagai keluarga ku, jangan sungkan jika ingin meminta sesuatu dariku Rosella.”
Rosella menggangukkan kepalanya, lalu kembali melihat putrinya.
“Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan Rosella, mungkin sudah saatnya sekarang.” desisnya, dia pun mulai duduk perlahan di pinggir tempat tidur menatap Rosella dengan intens.
Rosella hanya bisa terdiam, menatap Robert Dengan ekspresi heran di wajahnya.
Menyadari situasi akan memegang, Kevin berdiri di belakang Robert, ia mengusap keningnya tidak mengatakan apa pun sebab ia tahu apa yang akan Robert bahas.
“Rosella, kau tahu aku sangat mencintaimu bukan, aku tidak ingin ada hal apa pun yang bisa merusak kebahagiaan kita.” Bisik Robert, nafasnya berembus di wajah Rosella.
Rosella hanya bisa mengangguk meskipun ia tidak mengetahui apa pun.
“Jadi, Rosella kau pasti tahu tentang penasihat yang menyampaikan tentang ramalan itu.”
Rosella segera terbelalak, menggelengkan kepalanya memeluk bayi itu dengan erat,
“Itu tidak benar, itu bohong, Robert tidak, aku tidak mau, ini anakku juga anakmu.” celetuk Rosella dengan mata berkaca-kaca.
“Rosella, awalnya kita hanya menginginkan satu putri saja, kau mengatakan itu padaku sebelumnya. tetapi semuanya berbeda sekarang, mengerti lah Rosella, bagaimana jika aku mengatakan aku mempercayai ramalan itu.” seru Robert.
“karena awalnya aku tidak mengetahui mereka kembar, aku tidak mau Robert, jangan pisahkan aku dengan bayiku, tidak setelah penantian yang sangat lama, kau bahkan memercayai ramalan bodo itu daripada putri kita.” Rosella menangis dengan terisak, memalingkan wajahnya dari Robert.
“Lihat aku saat aku berbicara dengan mu Rosella.” Robert segera memegangi sisi wajah istrinya dengan lembut untuk menatapnya kembali, melihat Rosella yang begitu terluka, hati Robert tampak sangat sakit, ia mendesah berat menggelengkan kepalanya.
“jangan lihat aku dengan begitu, aku merasa seperti orang yang sangat jahat Rosella kumohon, ini untuk kita sungguh.” Bisik Robert dengan nada gemetaran.
“kumohon, kumohon Robert jangan pisahkan aku dengan bayiku, tidak aku tidak ingin.” Ucapnya di sela-sela tangisannya.
Robert hanya terdiam mengusap air mata Rosella yang membasahi pipinya.
“baiklah-baiklah Rosella, tetapi aku tidak ingin bayi ini terlihat oleh orang lain, atau siapa pun itu, hanya orang-orang yang terdekat dan keluarga saja mengerti Rosella, dia tidak bisa berkeliaran kemanapun." ucap Robert dengan tegas seolah tidak ingin ada bantahan darinya.
“bagaimana bisa dia dibedakan oleh kakaknya, ini tidak adil, putriku tidak mengerti apa pun untuk hal yang kejam ini.” dengan suara gemetar.
“tidak ada penolakan lagi Rosella sudah cukup!” gerutu Robert, ia pun bangkit segera meninggalkan ruangan dengan marah, menutup pintu dengan keras hingga membuat kedua putrinya tersentak, mereka terbangun dan menangis.
Rosella hanya bisa terdiam di tempat tidur, tangisannya terus terdengar diselingi oleh kedua putrinya.
Melihat itu Kevin sangat bimbang, ia pun duduk perlahan di hadapan Rosella melihat wajahnya.
“Rosella dengarkan aku, mungkin Robert benar soal ramalan itu, itu sudah terjadi di dahulu kala Rosella, terima saja apa yang dikatakan Robert, dia tidak membuang anak itu saja itu sudah sangat syukur, ingat seberapa tegas sifat Kevin yang sangat sulit ditolak, percaya Rosella dia melakukan ini karena dia sangat mencintaimu, dia mengalah dan membiarkan keinginan mu.” Katanya dengan nada meyakinkan, memegangi bahu Rosella dengan erat.
“A-aku sakit Kevin, membayangkannya terabaikan oleh orang-orang aku tidak sanggup, bagaimana dia bisa berbeda dengan kakaknya." isak Rosella
“orang-orang katamu? bagaimana jika merekalah yang tidak setuju dengan ini Rosella, rakyat bisa melakukan hal yang keji untuk keluarga kalian, musuh bisa dengan akal-akalan mereka untuk menurunkan mu dan Robert dengan menghasut rakyatnya, terima lah ini walaupun pahit Rosella." ujar Kevin.
Rosella terdiam, dia segera pasrah saat mendengarkan perkataan Kevin, hanya bisa melihat kearah putrinya dengan mata sembab dan merah.
“tenang saja oke, Robert sudah mengurus semuanya dengan sangat baik, ini untuk menjaga keluargamu dan orang-orang yang kalian sayangi Rosella percaya Padanya.”
Rosella menganggukkan kepalanya perlahan menerima itu dengan berat hati, ia mengusap air matanya perlahan dengan punggung tangannya.
Kevin tersenyum lega, ia pun bangkit perlahan dari tempatnya, melihat kebelakang sesaat sebelum pergi.
“aku akan memberi tahu Robert bahwa kau akhirnya setuju, baiklah Rosella kembalilah beristirahat, aku dan Robert akan datang lagi kesini sebentar lagi, aku harus meredakan emosi Robert terlebih dahulu." Ia pun segera berjalan meninggalkan Rosella Dengan kedua putrinya.
Rosella hanya bisa mengangguk melihat Kevin yang mulai hilang dari pandangannya, ia pun bergumam pelan memeluk putrinya dengan sangat erat.
"maafkan ibu, ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik."
Kevin mulai berjalan-jalan di sekeliling rumah sakit mencari dimana Keberadaan Kevin.
Setelah pencarian yang panjang, ia melihat sosok Robert yang kini sedang duduk termenung di bangku luar, ia pun segera berjalan menuju kesana.
"Robert ada hal yang ingin ku sampaikan kepada mu, ini tentang Rosella." Kevin pun mulai duduk di sampingnya.
"beritahu aku Kevin, jika Rosella memang tidak setuju dengan keputusan ku, aku akan bertindak sendiri."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!