Matahari pagi mungkin menyapa semua orang dengan senyuman namun tidak bagi seorang gadis yang masih berada di balik selimut dengan mata yang masih tertutup. Pukul 07:00 bahkan alarm yang ada di atas nakas itu sudah berbunyi berulang kali namun tak kunjung membangunkan sang pemiliknya. Bahkan gadis itu menutup kedua telinganya dengan bantal karena berisik dengan suara alarm yang ada di samping tempat tidurnya.
"Elena!!" Astaga bahkan sekarang teriakan seseorang ikut mengganggu tidurnya yang sangat nyenyak ini. Matanya kembali menutup rapat dan tak memperdulikan teriakan nyaring itu.
"Elena!!! Bangun!!" teriak seseorang karena sudah lelah membangunkan dirinya sedari tadi namun tak kunjung bangun juga.
"Sebentar ma lima menit lagi" ucapnya dengan suara parau dan memejamkan matanya lagi.
"Gak ada lima menit lagi. Bangun sekarang!! Nanti kamu telat ke sekolahnya" ucap sang mama yang sudah berkacak pinggang.
"Ayolah ma aku masih ngantuk banget ini kalau di paksa ke sekolah nanti merem melek gak masuk materinya" ucap Elena dengan merengek ke mamanya.
"Kamu itu udah gede harus belajar mandiri" ucap sang mama tiba-tiba membuat Elena memicingkan matanya. "Apa sih ma!! Mama itu gak nyambung tauk" gerutu Elena
"Aku bahasnya A mama nyambungnya ke Z" Sang mama kini menarik tangan putrinya itu agar bangun dengan cepat.
"Liburan besok Elena mau ke Swiss ya ma" ucap Elena mengingat rencananya yang seketika membuat kedua bola matanya terbuka lebar.
"Gak ada Swiss" Mulut Elena menganga saat menerima penolakan dari sang mama.
"Why?" Elena mendongak menatap mamanya meminta penjelasan mengapa wanita itu menolak permintaannya yang ingin liburan ke Swiss. Padahal selama ini mamanya selalu memberikan izin jika ia ingin berlibur ke luar negeri.
"Mama lagi bangkrut dan butuh banyak uang. Jadi kita harus hemat bahkan sekarang mama gak bisa ngasih kamu uang buat jajan. Kita gak boleh pakai uang yang ada di ATM karena itu buat bayar hutang mama" ucap sang mama dan meninggalkan Elena sendirian dengan keterkejutannya.
"What??? Mama bangkrut?" Elena memegangi kepalanya seolah frustasi. "Gue makan pake apa habis ini?" Elena mendongak menatap langit-langit kamarnya. Ia sudah membayangkan jika dirinya akan hidup menderita setelah ini.
"Apa setelah ini gue bakal jadi gembel?" Elena mengacak rambutnya frustasi karena ia tak bisa hidup tanpa kekayaan yang ia miliki selama ini. Ia terlahir dari keluarga kaya raya tujuh turunan yang tidak pernah habis. Lalu? Sekarang ia harus menjadi gembel?
"Gue? Jadi gembel? Ya gak pantes lah" Elena mengibaskan rambutnya yang berwarna coklat itu dengan tatapan menjurus ke depan.
"Gak cocok. Masa iya jadi gembel"
"Gembel Elena. What? Dari nama gue aja udah gak cocok jadi gembel" Elena bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Selama dua puluh menit Elena berada di kamar mandi, akhirnya gadis itu keluar juga. Ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. "Elena cepat turun buat sarapan" teriakan mamanya kembali melengking di gendang telinganya.
"Sebentar mama!!" teriak Elena tak kalah keras agar mamanya mendengar apa yang ia katakan.
Elena memoles sedikit make up di wajahnya kemudian menyemprotkan parfume di beberapa titik tubuhnya. Gadis itu berdiri untuk memakai baju seragamnya yang sudah siap di atas ranjang empuk miliknya.
Setelah melihat tampilannya yang sudah perfect, ia keluar dari kamar miliknya dan turun untuk sarapan sebelum nantinya mamanya akan kembali berteriak lagi bisa-bisa gendang telinganya akan copot nanti.
"Princess Elena sudah siap untuk berangkat sekolah" Elena memutar tubuhnya layaknya model yang sedang catwalk.
"Cepetan makan habis itu berangkat sekolah" Sang mama menyiapkan sandwich yang sudah ia buat untuk putrinya itu.
"Mama beneran bangkrut?" tanya Elena
"Mama di tipu Delon" Kedua mata Elena membulat seketika saat mendengar nama itu. "Om bunglon itu? Gilak!! Emang sih tampangnya itu udah orang gak bener" cerocos Elena
"Udah itu urusan mama dan papa. Sekarang fokus kamu sekolah aja gausah mikir yang lain" ucap sang mama memberi pengertian.
"Papa kapan pulang?" tanya Elena
"Mama juga gatau"
"Tapi papa udah tau masalah ini" tanya Elena lagi dan di balas anggukan kepala oleh mamanya.
"Terus kata papa gimana?"
"Sssttt udah makan dulu" Elena mengunyah sandwichnya dengan kesal karena sang mama tidak menjawab pertanyaannya. Ia begitu penasaran dengan masalah yang sedang di hadapi oleh mama papanya itu.
Seorang gadis cantik dengan seragam sekolahnya yang rapi melekat pada tubuh indah itu turun dari mobil mewah berwarna putih yang berhenti tepat di depan gerbang salah satu sekolah SMA favorit yang ada di kota itu.
"Elena!!" teriak seorang gadis lain dari arah kiri menyapa. Nafasnya memburu akibat berlarian mendekati Elena. "Huh huh huh" Gadis itu menunduk untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.
"Ke kelas bareng yuk" ajaknya setelah dirasa nafasnya sudah normal lagi. "Ngapain lo lari-lari. Gue juga masih disini gak akan kemana-mana" cibir Elena dan menggandeng tangan sahabatnya itu untuk masuk ke dalam sekolah sebelum pintu gerbang ditutup.
"Medina" Elena menoleh ke arah sahabatnya itu untuk bertanya sesuatu. Ada beberapa hal yang mengganjal di hatinya yang ingin ia utarakan pada sahabatnya itu.
"Why?" Elena terdiam sejenak bimbang hendak melanjutkan ucapannya atau tidak. "Menurut lo gue harus gimana?" tanya Elena yang membuat otak Medina pusing seketika.
"Maksud lo apaan sih? Jelasin dulu baru tanya" ucap Medina kesal lantaran tak paham dengan perkara yang dimaksud Elena.
"Mama papa gue bangkrut" Kedua bola mata Medina membulat seketika saat mendengar penuturan Elena. "Lo gak bohong kan?" tanya Medina.
"Buat apa gue bohong" Elena berdecak kesal karena Medina tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Siapa juga yang bisa langsung percaya jika keluarga Elena bangkrut begitu saja? Mengingat sudah banyak orang yang tau jika keluarga Elena adalah keluarga konglomerat yang memiliki sumber kekayaan yang sangat banyak.
"Gimana bisa?" tanya Medina penasaran.
"Gue juga gatau" jawab Elena yang memang dirinya tidak tau bagaimana bisa keluarganya bangkrut.
"Elena!! Medina!!" Dua gadis itu menoleh ke arah belakang saat seseorang memanggil nama mereka. Felix dan Aaron. Dua pria tampan dengan tas yang hanya di selempangkan di bahu kirinya.
"Tumben baru sampe" cetus Elena heran melihat Felix dan Aaron yang biasanya datang lebih cepat dari mereka. "Tadi kena macet dijalan jadi ya gitu deh mobil ga bisa jalan sama sekali. Tau sendiri kota ini macetnya kaya gimana" ucap Aaron.
"Kalian berdua tadi bahas apa? Kaya seru banget gitu" ucap Felix.
"Kepo" cibir Medina meledek Felix yang tingkat penasarannya sangat tinggi. "Masuk kelas yuk udah bel tuh" Aaron merangkul kekasihnya itu dan membawanya masuk ke dalam kelas menyisakan Felix dan Medina yang masih diam di depan kelas dengan saling tatap.
"Apa lo liat-liat?" Medina menatap tajam Felix yang hanya diam tanpa mengusik dirinya. Entah mengapa gadis itu sangat sensi jika berdekatan dengan Felix seolah ada saja hal yang membuatnya kesal.
"Gue diem pun salah?" Felix bertanya pada dirinya sendiri karena Medina sudah masuk ke dalam kelas lebih dulu.
"Thanks ya udah nganterin" Elena tersenyum ke arah Aaron yang berdiri di hadapannya. "Aku balik kelas dulu kalau ada apa-apa bilang aja" Aaron mengusap pucuk kepala Elena sebelum meninggalkan kelas kekasihnya itu.
"Ayo balik ngapain lo disini" Aaron menyeret tubuh Felix begitu saja karena pria itu hanya berdiam diri seperti patung di depan kelas yang hanya akan merusak pemandangan saja.
"Gini amat jadi Felix. Kenapa gue gak jadi Aaron aja?" gerutu Felix yang kesal dengan semua orang di pagi ini. Gak Aaron, gak Medina semuanya saja membuatnya kesal.
"Eh Ron" Felix membenarkan jalannya yang semula terseret menjadi lebih benar lagi. "PR gue belom selesai kocak" Felix menepuk jidatnya yang melupakan PR biologinya yang baru ia kerjakan sedikit.
"Belom ngerjain sama sekali?" Aaron melirik Felix sekilas kemudian kembali menatap jalan.
"Udah gue cicil kok dikit" ucap Felix membuat Aaron menganggukkan kepalanya. "Udah sampe mana?" tanya Aaron lagi memastikan jika Felix benar-benar sudah mencicil pekerjaan rumahnya itu.
"Baru sampe nulis judul" Usai mengucapkan hal itu, sebuah tangan sudah berada di lehernya yang siap mencekiknya kapan saja. "Itu bukan nyicil namanya" Aaron kesal dengan sahabatnya itu yang sangat random.
"Nyontek ya" Felix menyengir kuda meminta sedikit bantuan dari temannya itu yang sangat baik hati dan tidak sombong. "Mikir sendiri" Aaron melepas tangannya dari leher Felix dan meninggalkannya sendiri.
"Woi!! Seorang Felix? Ditinggalin?" teriak Felix tak terima
"Elena!!" Seorang gadis yang semula termenung langsung terlonjak kaget karena mendengar namanya disebut. "Iya bu?" Guru dengan perawakan tinggi dan gemuk itu sudah berada di depan matanya saat ini. "Kamu gak dengerin saya ya" Kedua tangannya sudah berkacak pinggang seolah sudah siap menghabisi Elena.
"Sekarang kerjakan soal nomor 10 di papan tulis" titah guru itu dan menatap Elena dengan tajam.
Bisa-bisanya gue ngelamun di jamnya guru killer ini gerutu Elena dalam hati
"Baik bu" Elena menatap buku matematikanya dan langsung menarik nafas panjang saat melihat soal yang diberikan untuknya. What? Gila!! Ia paling lemah soal matematika dan harus di hadapkan dengan soal HOTS?
Guru itu kembali duduk di meja guru menatap Elena yang tampak ragu-ragu untuk maju karena tak paham dengan soal yang diberikan untuknya.
"Psstt" Medina menoleh ke arah Elena dan paham dengan kode yang diberikan oleh sahabatnya itu yang sedang meminta bantuan. Sialnya mereka sama-sama tak paham dengan matematika.
"Lo minta tolong ke orang yang salah" Medina menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Gue juga tolol sama soal matematika" Medina meringis menatap Elena yang semakin pucat pasi karena tak bisa menjawab soal itu.
"Ayo Elena" teriak guru itu dengan kencang menggemparkan seluruh isi kelas. "Iya iya iya bu sabar ya gausah teriak-teriak. Ini seluruh isi kelas bergetar karena suara ibu" ucap Elena dengan meringis menatap guru dengan wajah garang itu.
"Oh my God gimana ini"
Suara ketukan pintu membuat seluruh penduduk kelas menoleh secara bersamaan hingga pintu itu terbuka dan memunculkan wajah seseorang. "Eh Aaron ada apa nak?" tanya guru itu dan langsung tersenyum sumringah setelah melihat wajah Aaron yang muncul di balik pintu.
"Ih Iirin idi ipi nik" cibir Elena yang kesal melihat guru itu yang semula galak seolah langsung tunduk hanya dengan melihat wajah Aaron yang sangat tampan rupawan itu.
"Elena!! Lanjutkan soalnya" ucapnya dengan garang.
"Sok kecantikan. Cowok gue tuh" cibir Elena kesal dan menatap sinis gurunya itu yang sekarang semakin melebarkan senyuman saat Aaron berjalan mendekat.
"Ada apa nak?" tanyanya dengan lemah lembut yang membuat telinga Elena gatal dan ingin menampar mulut itu jika tidak mengingat bahwa yang berbicara seperti itu adalah gurunya sendiri.
"Mau ngasih ini tadi disuruh nganterin kesini sama pak kepala sekolah" ucap Aaron dan memberikan sebuah buku besar dan langsung diterima dengan senyuman.
"Terima kasih ya" Aaron berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar. Pria itu menempelkan secarik kertas kecil di tangan Elena membuat wanita itu terkejut.
Elena tersenyum riang saat melihat sebuah jawaban dari soal yang diberikan gurunya itu yang sudah ditulis oleh Aaron untuknya. Setelah menulis jawaban di papan tulis, Elena berbalik kembali ke bangkunya lagi.
"Kok bisa?" Guru itu keterangan dengan jawaban Elena yang benar dan sesuai dengan cara yang ia ajarkan. "Ibu aja yang suka ngremehin orang. Padahal saya tuh aslinya bisa cuma ibu aja yang gak percayaan" cibir Elena
"Oke kali ini kamu saya maafkan. Tapi ingat jangan diulangi lagi" Elena mengangguk dan tersenyum senang karena akhirnya ia terbebas dari omelan guru itu. "Lain kali fokus cantik!!" Sebuah notes kecil di kertas yang diberikan Aaron tadi membuat Elena tersenyum-senyum seperti orang gila.
"Tau dari mana lo?" Medina bertanya dengan berisik agar tidak terdengar oleh guru mereka yang mulai menulis di papan tulis. "Dari cowok gue lah" ucap Elena dengan bangga menunjukkan kertas kecil tadi yang berhasil menyelamatkan dirinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!