NovelToon NovelToon

THE DEVIL TO YOU

Derita kaum bawah

Dibawah guyuran hujan rintik malam ini, tubuh Raga tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang ia dapatkan ditambah udara malam yang bagi raga ini semakin menyiksa. Hampir seluruh tubuhnya dipenuhi luka biru lembab bahkan ada beberapa goresan luka dan mengeluarkan tetesan darah yang menambah rasa nyeri dan linu karena bersentuhan dengan air hujan. Namun keadaan Raga masih tersungkur dibawah tanah basah sembari berdoa didalam hatinya berharap datang seseorang yang menolongnya.

"Bangun kamu raga. Masa juara satu lomba karate tingkat nasional tumbang begitu saja. Kalau kamu masih ada tenaga bangun dan lawan kita. CEPAT BANGUN PAYAH!"

Penglihatan Raga mulai mengabur orang orang yang ada dihadapannya tidak bisa Raga lihat dengan jelas hanya pendengaran nya yang masih bisa menerima sayup suara yang mereka katakan. Kakinya bersusah payah untuk berdiri sambil mengerang kesakitan namun satu dari mereka dengan sengaja langsung memukul tanpa ampun tepat kearah kakinya.

Suara erangan kesakitan dari Raga menjadi bahan lelucon bagi mereka. Raga tidak mau mati disini. Setidaknya di dalam pikiran ia masih bisa memberontak atau memukul salah satu dari mereka.

"Sudahlah Raga tidak ada masa depan bagimu. Kamu sudah dikeluarkan dari sekolah jadi buat apa kamu meneruskan hidup di dunia. Lagipula orang tua pun sekarang sudah tidak peduli kepadamu. Jadi kalau kamu mati sekarang pun sepertinya tidak masalah"

"Aku bersumpah kalian semua masuk neraka." Ucap Raga dengan suara parau dan berdahak

"Bahkan suara mu pun sudah tidak stabil tapi masih berani beraninya berkata buruk kepada kami. Kamu pikir kami akan takut dengan ancaman sampah dari seseorang yang bahkan nyawanya sekarat seperti ini." Ungkapnya kemudian diikuti oleh suara tawa yang nampaknya begitu bahagia melihat apa yang sedang Raga alami.

"Tidak ada yang bisa menolong mu disini Raga. Kamu tahu ini dimana? Yang jelas sekarang kita berada di tempat yang jauh dari perkotaan."

FLASHBACK

Seminggu setelah Raga dikeluarkan dari sekolah kehidupan Raga sudah tidak terarah semua orang yang mengenal nya perlahan menjauh termasuk orang tuanya sendiri. Mereka sudah tidak peduli dengan kehidupan anak pertamanya ini, bahkan ketika kejadian dimana Raga resmi dikeluarkan dari sekolah, orang tuannya tidak hadir sebagai perwalian. Miris memang dan sekarang semua orang menatap Raga seperti seorang monster berdarah dingin. Masa depan yang tadinya ia tata baik sekarang sudah hancur dalam sekejap.

"Jangan berpikir untuk bunuh diri oke. Kalau di dunia ini tidak ada yang menerima mu jangan sedih masih ada Amang yang bersedia menerima mu. Lagi pula polisi masih memeriksa tindakan mu itu pokoknya Amang percaya sama kamu dan masalah yang sedang menimpa sama kamu ini adalah fitnah."

"Kenapa Amang masih percaya sama Raga?"

"Karena kamu itu orangnya jujur. Meksipun kamu nantinya disalahkan Amang bakal jadi garda terdepan untuk kamu. Kalau boleh jujur seminggu kebelakang Amang cari kamu ke berbagai sudut kota, bahkan Amang nanya ke pacar kamu tapi kata dia kamu memblokir kontaknya, apa kalian putus juga?"

"Itu tidak penting dibahas."

"Baiklah Amang tidak ingin tahu untuk urusan percintaan kalian yang jelas dengan sendirinya kamu datang ke kedai bakso, Amang bahagia. Setelah tutup kedai bakso, kamu ke rumah Amang saja dan kalau tidak ada tempat bagimu, kamu boleh tinggal bersama Amang. Kamu tahu sendirikan Amang di rumah tinggal sendiri. Kalau kamu tinggal bersama Amang kamu bisa membantu Amang lebih mudah untuk berjualan di kedai bakso jadi tinggallah bersama Amang."

Raga tersenyum getir. Raga tahu cerita naas dibalik Amang yang sekarang hidup sendiri di rumah yang menurut raga cukup besar untuk dihuni seorang diri.

"Terimakasih untuk tawaran baiknya, semoga Amang selalu dilindungi tuhan."

"Yasudah kalau gitu sekarang kamu bersihkan muka terlebih dahulu setelah itu pakai baju yang kamu selalu simpan disini lalu pergi ke dapur basuhlah mangkok dan piring yang kotor. Kamu tidak lupakan pekerjaan mu disini apa?"

"Aku cuman menghilang seminggu bukan berarti hilang ingatan juga."

Raga langsung beranjak dari duduknya lalu menuruti apa yang Amang katakan tadi. Kalau bisa di ingat kembali tentunya Raga sudah menjadi pegawai buruh di kedai bakso Amang ini sedari Raga duduk di kelas dua smp. Kalau dihitung berarti sekitar 4 tahun lebih Raga setia menjadi pegawai buruh disini. Faktor utama Raga melakukan pekerjaan seperti ini  karena ekonomi keluarganya yang menurut Raga sendiri tidak ada perubahan. Bapaknya seorang pencandu judi dengan hutang dimana mana kerap juga rumahnya jadi sasaran amuk orang yang uangnya di pinjam oleh bapaknya untuk berjudi. Ibunya hanyalah tukang gorengan yang mana jualan pun sering di hutang oleh warga sekitar ataupun luar dan jangan penasaran alasannya kenapa jualan ibunya sering di hutang padahal harga gorengannya tak seberapa.

Satu satunya harapan bagi mereka yaitu Raga Mahesa. Untuk saat ini Raga bekerja buruh di kedai bakso milik Amang. Perkejaan ini bukanlah hal yang memalukan yang terpenting Raga bisa membantu ibunya serta adiknya yang tahun depan mulai masuk SMP. Setelah ia tamat SMA Raga bertekad dan sangat yakin kalau dirinya akan diterima di pabrik ataupun perusahaan dengan gajih yang lebih besar daripada ini.

Tapi sekarang semua harapan itu sirna tidak ada masa depan yang cerah untuk Raga.

"Raga, ada yang mencari kamu."

"Siapa?"

"Kalau kamu penasaran jeda dulu dari pekerjaan mu lalu temui lah orang itu di depan selagi pelanggan belum terlalu ramai." Kemudian Raga menuruti apa yang Amang katakan kepada dia untuk berhenti terlebih dahulu dan temui orang itu, Dan.

Desi.

Matanya membulat dengan sempurna dan jelas bahwa perempuan yang tadi Amang sebutkan tiba tiba ada disini. Rupanya perempuan yang bernama Desi sudah mengetahui kehadiran Raga. Desi melihat Raga dengan  ekspresi wajah yang berbinar serta senyuman manis yang Raga rindukan.

"Langsung saja pada intinya kamu mau apa menemui ku lagi apakah kurang jelas pesan ku untuk mu bahwa kita ini bukan lagi seorang kekasih ataupun teman dan setelah itu aku bilang pada kamu jangan temui aku lagi."

"Raga..Aku tidak seperti mereka. Aku percaya kalau kamu itu tidak bersalah, jadi aku mohon berhenti untuk menyalahkan dirimu dan aku minta maaf waktu itu aku tidak bisa menemui mu langsung. Aku mau kita masih bersama sama. Masa depan mu tidak berhenti disini Raga, ada aku, ada Amang."

REAL-TIME

"WOY RAGA! JANGAN DIAM AJA CEPAT BERDIRI DAN LAWAN KITA LAGI!"

Raga tidak salah dengar ucapan itu terus mereka ulang ulang seolah ada kepuasan tersendiri jika mereka terus berkata seperti ini. Raga tidak tahu betul ada beberapa orang yang sekarang ada di hadapannya ini hanya saja ia tahu wajah beberapa orang yang sedang mengeroyok Raga dan yang harus dilakukan Raga sekarang adalah bangkit dari keterpurukan ini jika Raga masih ada tenaga melawan dan berlari akan ia usahakan detik ini juga.

Dan seingatnya sore tadi ia masih tertawa bersama Desi di taman kota sembari ditemani ice cream matcha kesukaan mereka berdua. Raga hanya ingat momen itu sisanya ia lupa bahkan sekarang kepala terlalu sakit untuk mengingat kejadian setelah ia berpisah dengan Desi mungkin karena efek pukulan atau obat bius yang tidak Raga ketahui sampai lupa dan membuatnya pingsan sampai terbangun ditempat seperti ini.

Pingsan, Raga hanya ingat itu.

"Wisnu...Hanif...Nando...Akbar...Kalian pasti akan menyesal karna telah melakukan ini kepadaku."

Suaranya serta penglihatan Raga sedikit stabil.  Namun rasa sakitnya masih sama malah bertambah.

"Kalian..."

Satu tendangan mendarat sempurna di perut raga dikala ia hendak berdiri untuk menyeimbangkan tumpuan tubuhnya.

Raga yang mendapatkan serangan seperti itu tentunya tumbang kembali dengan posisi tergeletak seolah memang disengaja untuk melakukan hal seperti ini. Sekarang mulutnya pun ikut mengeluarkan darah akibat tendangan yang ia terima.

Seseorang yang bernama wisnu mendekat ke arah Raga. Tangan Wisnu secara paksa menarik kerah baju bagian depan milik Raga.

"Sama sekali tidak menyesal." Ucapnya tersenyum kemenangan kemudian ia mendorong dengan kasar Raga ke sembarang arah. Raga tersungkur kembali. Kini tidak ada harapan untuk bangkit lagi dan sepertinya Raga memilih untuk tergelatak dengan terlentang tubuhnya seperti ini.

"Kalau Desi tahu kamu seperti ini kayaknya dia akan menangis."

Persetan dengan Desi dan semuanya tenaga Raga sudah habis. Bahkan Raga sendiri pun ketika bangun dari pingsannya badannya sudah lembab biru bahkan ada goresan luka. Raga tidak tahu apa yang terjadi ketika ia pingsan yang jelas tubuhnya sudah merasakan sakit sedari awal terbangun.

"Kalian mau apa." Suaranya masih jelas namun penglihatan kembali mulai mengabur. Dengan posisi yang sekarang terlentang Raga hanya bisa menatap langit yang sedang diguyur hujan rintik dan nampaknya menatap langit sembari semua tubuh diguyur hujan rintik lebih indah daripada melihat wajah mirip babi seperti mereka.

"Rupanya kau sudah menyerah Raga."

Benar, kali ini Raga memang benar benar menyerah dan apa yang mereka katakan tadi pun memang pada kenyataannya seperti itu. Tidak ada masa depan lagi bagi raga semuanya sudah hancur.

"WOY ULAR!"

Mereka yang ada disana tidak salah melihat. Seekor orang berukuran lengan wanita dewasa sudah muncul begitu saja disamping raga yang sedang telentang lemas.

"Selamatkan Raga woy usir ularnya." Perintah seseorang yang rupanya khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan jika ular itu berada di dekat Raga. Padahal dari tadi mereka yang sudah membuat Raga babak belur seperti ini mungkin jika Raga tidak seperti ini dirinya pun akan menghindar. Tapi nasib berkata lain Raga sudah pasrah untuk apa yang terjadi kedepannya.

Saat ini juga beberapa dari mereka mulai mencoba untuk mengusir ular itu dengan alat seadanya dalam waktu yang bersamaan ular itu dengan sekejap mematuk pergelangan tangan bagian kiri Raga. Sontak orang yang ada disana termasuk nama yang tadi disebutkan oleh Raga sempat mematung beberapa detik.

"WOY RAGA WOY!"

Tidak lama setelah dipatuk ular tubuh Raga bereaksi kejang kejang. Matanya memutih, mulutnya mengeluarkan cairan berwarna hitam.

"Selamatkan Raga cepat!"

"Kita tinggalkan Raga. Ini diluar kendali kita."

"Gila!"

"Kalau kita nolongin dia, pasti kita bakal diminta keterangan. Jadi ayo tinggalkan dia dan jangan banyak ngomong, cepat masuk mobil!"

Detik berikutnya mereka yang sudah berbuat Raga seperti ini benar benar meninggalkan Raga sendirian disaat kondisi Raga memang membutuhkan pertolongan.

Raga kesakitan

Raga kesakitan

Raga kesakitan

"A...g."

Dua minggu berlalu: antara hilang, ikhlas dan mati

Menurut laporan yang masuk, orang yang pertama melaporkan Raga menghilang ialah orang tuanya sendiri. Dalam laporan nya tersebut orang tua Raga mengatakan bahwa Raga sudah tidak pulang ke rumah mereka lebih dari satu bulan namun menurut Amang dan Desi mereka sudah tidak bertemu Raga lebih dari dua Minggu. Dari segi waktu yang berbeda dapat di simpulkan jika Raga memang tidak pulang ke rumahnya  selama satu bulan dan lebih memilih bertemu dengan Amang dan Desi lalu tinggal bersama Amang. Setelah itu ia menghilang.

"Saya masih tidak percaya jika Raga ini memang hilang lalu mati. Yang saya percayai, Raga pasti sedang mengasingkan dirinya kembali. Anak itu memang labil persis seperti usianya yang masih muda. Sebelum anak itu menghilang seperti ini, dia sudah berjanji akan tinggal bersama saya karena menurutnya semua orang termasuk orang tuanya sendiri tidak ingin bertemu lagi dengan dia maka dari itu saya mengajaknya untuk tinggal bersama saya." 

Ucapan Amang begitu teguh kepada seorang polisi yang hampir dua minggu belakang ini kerap mampir ke kedai baksonya di waktu sore hanya untuk menanyakan seputar tentang Raga.

"Hanya saya dan Desi pacarnya yang dia anggap masih baik. Kalau dia tahu saya mengatakan Desi pacarnya, seketika ekspresi muka anak itu langsung berubah tidak enak di pandang." Amang tertawa miris

Sebenarnya kasus ini bukanlah kasus besar. kasus ini hanyalah kasus orang hilang pada umumnya. Namun kasus ini lebih spesial dikarenakan Raga sedang menjadi tahapan penyelidikan kepolisian yang dirinya sedang diselidiki dalam keterlibatan penjualan obat terlarang disaat dirinya masih SMA. Kerena penyelidikan inilah Raga di keluarkan oleh pihak sekolah. Padahal dirinya adalah siswa prestasi yang sering mendapatkan gelar juara satu baik di bidang akademik maupun non-akademik. Dengan semua prestasi yang raga miliki juga tak heran ia mendapatkan uang saku bulanan serta biaya sekolah gratis sampai lulus. Maka dari itu Raga percaya jika setelah keluar SMA ia sangat percaya diri akan langsung diterima kerja karena ia siswa berprestasi.

"Sebenarnya saya juga tidak percaya siswa seperti Raga ini terlibat dalam penjualan obat terlarang. Selama masa penyelidikan kepada Raga saya sangat kagum dengan semua riwayat prestasi yang anak ini miliki dan saya curiga raga ini di kambing hitamkan oleh seseorang  karna motif iri? dan hilangnya Raga ini adalah penculikan." Polisi itu ikut bersuara dengan jujur seolah ia sudah lama ingin mengatakan seperti ini kepada seseorang yang mempunyai jalinan dekat dengan Raga, yaitu Amang.

"Raga memang bilang seperti itu kepada saya. Apa yang terjadi kepada dirinya hanyalah korban kambing hitam. Anak itu pun bilang kepada saya kalau dia sudah mencurigai beberapa teman satu angkatan yang kemungkinan melakukan tindakan keji kepadanya. Namun Raga tidak memberitahu saya siapa saja orang yang dimaksud. Anak itu mencoba untuk ikhlas dan ingin melanjutkan hidupnya sebaik mungkin namun sayangnya nasib buruk selalu berpihak padanya."

"Kalau boleh tahu kapan Raga bilang seperti itu?"

"Kira kira tiga minggu kebelakang. Meskipun saya tidak sedarah dengan anak itu namun saya merasa amat kehilangan yang mendalam."

"Kalau misalnya Raga telah mati apa yang akan bapak lakukan."

"Sudah saya bilang, saya tidak percaya kalau dia mati. Dia menghilang dan bukan diculik. Lagi pula tidak ada dasar kuat yang mengatakan bahwa dia diculik."

"Maaf saya tidak bermaksud untuk berkata seperti tadi hanya saja saya berasumsi." Ucap Umbar. Polisi yang sekarang sedang berada di kedai bakso Amang ini namanya Umbar.

"Baiklah kalau bapak sudah tidak ingin menyampaikan hal apapun tentang Raga lagi, saya izin Pamit. Untuk semua yang bapak katakan tadi sudah saya rekam dan tentunya menjadi informasi terbaru mengenai Raga yang mana rekaman ini akan menjadi laporan terbaru dan pembahasan terbaru untuk kasus Raga." Umbar beranjak dari duduknya. Sebelum ia benar benar pergi dari hadapan Amang, dirinya terlebih dahulu merapihkan pakaian serta atribut kecil yang menurutnya tidak rapih.

"Semoga Raga bisa ditemukan."

Detik berikutnya polisi yang bernama Umbar itu sudah menghilang dari penglihatan Amang dan sekarang yang Amang pikiran tentunya ucapan polisi tadi, apakah benar kalau kenyataannya Raga ini diculik dan kenapa orang tuanya Raga dengan sigap langsung melaporkan anaknya itu ke dalam daftar orang hilang. Menurut memikirkan Amang selama dua minggu kebelakang ia tidak bertemu Raga itu mungkin karena anak itu sedang merasa tidak baik baik saja. Tapi ternyata memikirkan Amang salah sampai dimana polisi yang bernama Umbar tadi kerap mampir ke kedai baksos di waktu sore atau malam hari selama dua minggu belakangan ini hanya untuk mewawancarai dirinya seputar hilangnya Raga.

***

"Reserse Umbar. kamu sudah menemui lagi orang orang yang bersangkutan dengan Raga?"

"Soal itu saya sudah menjalankan perintah dengan baik bahkan ada kabar baik bagi kita mengenai informasi Raga, bahwa dia bukan menghilang akan tetapi diculik."

"Atas dasar?" Pria tua yang warna rambut sudah putih semua itu mengerutkan keningnya.

"Atas dasar riwayat prestasi selama dia bersekolah dan selama saya menyelidiki Raga tidak ada tanda tanda bahwa dia seorang pengedar atau anak buah dari bandar yang di bilang oleh pelapor ketika di sekolah. Saya curiga kalau Raga ini di jebak, dia di kambing hitamkan oleh lingkungan pertemanan."

"Reserse Umbar, pertama saya salut atas penyelidikan kamu tentang Raga ini. Kita ikut mencari Raga bukan karena dia orang hilang saja kan? Dia siswa kriminal. Lagi pula kalaupun dia di jebak siapa yang berani membawa obat terlarang itu kalau bukan orang pengedar?"

"Justru itu kita jangan fokus kepada Raga saja. Kita harus fokus kepada temen temen sekelasnya terutama yang melaporkan dia."

"Sudahlah lupakan masalah itu sekarang tugasmu cabut semua laporan mengenai Raga. Kita tidak akan mengurus masalah itu lagi semuanya sudah selesai."

Sekarang giliran Umbar yang terheran-heran dengan perkataan dari atasannya ini

"Apakah saya salah dengar? Bagaimana bisa kita mencabut laporan mengenai Raga. Saya mengerti jika Kapten Hadi tidak setuju dengan opini tentang Raga diculik, tapi tidak dengan kasus pengedar obat terlarang yang mengakibatkan Raga dikeluarkan dari sekolah bahkan masa depan dia hilang. Kita harus menyelidiki yang lainnya juga."

"Dari dulu saya suka dengan semangat api yang kamu miliki tidak salah jika saya memiliki anak buah sepertimu Umbar, tapi untuk kasus Raga kita tutup dan berakhir sampai sini. Semua ini perintah dari pusat jika kamu berani silakan mengajukan banding langsung ke pusat. Jaga kondisimu baik baik Reserse Umbar, masih ada kasus yang lebih penting dari pada Kasus Raga."

Umbar masih berusaha mencerna baik baik ucapan dari atasannya ini, yaitu Kapten Hadi. Tidak ada komentar lain yang ia berikan ketika atasannya sudah mengatakan hal seperti itu. Umbar tidak bisa menolak apalagi perintah itu dari pusat. Hal ini yang membuat Umbar ingin resign dari pekerjaan menjadi seorang polisi semua masalah yang lapor disini akan tiba tiba di tutup tanpa diberi alasan yang jelas. Entah apa tujuannya namun tindakan ini membuat Umbar sudah terlalu muak. Namun kali ini Umbar akan bergegas kembali, dirinya tidak akan diam begitu saja. Karna Umbar sudah terbesit sebuah rencana yang akan ia lakukan tanpa diketahui oleh atasannya bahkan rekan sebayanya. Karena menurut umbar sendiri kasus Raga ini sangat menarik banyak rahasia di dalamnya maka dari itu ia butuh bantuan seseorang yang berniat tulus berkerja sama dengannya.

"Amang."

***

Amang membuka pintu rumah nya secara perlahan dan mengetahui bahwa orang yang dari tadi membunyikan bel rumahnya itu yakni Umbar, lalu Amang tersenyum heran.

"Bahkan sekarang kau tahu alamat rumah ku? Ini masih pagi dan apakah seorang reserse seperti mu memang suka memaksa seperti ini atau kau saja?"

"Ada yang harus saya bicarakan kepada bapak ini tentang Raga." Ucap Umbar dengan lantang seolah takut bahwa Amang Akan menutup pintunya lalu menyuruh dia untuk pergi dan sebenarnya Umbar merasa bersalah telah mampir ke rumah Amang di pagi hari seperti ini namun bagaimana lagi Umbar ingin semua ini segera cepat selesai.

"Kau tunggu dan duduk disana." Ucapnya sembari menunjuk apa yang dimaksud nya tadi. Seketika itu Umbar langsung menuruti perintah Amang untuk menunggu dan duduk di kursi teras rumah.

Sebelum menghampiri Umbar yang duduk di kursi teras, Amang kembali masuk ke dalam rumah berniat membuatkan dua gelas teh hangat tawar berukuran sedang untuk di suguhkan kepada umbar dan satu lagi tentunya untuk dirinya sendiri, tak butuh banyak waktu Amang keluar dan menghampiri Umbar

"Silahkan di minum dulu Umbar." Amang menyodorkan teh hangat tawarnya kemudian di terima baik oleh umbar.

Umbar meniup teh hangat nya terlebih dahulu sebelum ia teguk lalu membuka obrolan dengan Amang.

"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih untuk teh hangat tawarnya serta mengizinkan saya kembali untuk mengobrol bersama bapak di pagi hari ini dan bagaimana saya tahu alamat bapak sepertinya saya tidak usah menjelaskan tentang itu"

"Ya saya tahu kau seorang reserse jadi langsung ke intinya saja apa tujuan mu kesini." Sembur Amang yang mana basa basi umbar ini terlalu umum dan bertele tele

"Baik kalau gitu. Semua laporan dan kasus mengenai Raga resmi ditutup oleh pusat. Raga bisa tenang dan pihak polisi tidak menangani kasus apapun tentang Raga termasuk hilangnya Raga."

"Secara mendadak seperti ini?"

"Saya pun tidak tahu alasan kenapa bisa menjadi seperti ini."

"Sekarang saya tahu kenapa masyakarat begitu tidak suka kepada polisi."

Jujur ada rasa iba ketika Amang berkata seperti ini apalagi dirinya masih menjadi bagian dari mereka akan tetapi rasa iba tidak akan membuahkan hasil apapun niatnya kesini adalah menyampaikan hal ini secara langsung dan mengajak Amang untuk berkerja sama.

"Meskipun demikian saya sendiri akan tetap mengawal kasus hilangnya Raga tanpa sepengetahuan atasan saya dan pusat. Karena bagaimana pun juga dari awal Raga terlibat kasusnya sama hilang nya Raga bisa dikatakan saya menyaksikan semua rangakaian penyelidikannya dan tujuan saya kesini ingin mengajak Amang untuk berkerja sama."

"Saya bukannya tidak percaya sama kau Umbar. Hanya saja saya tidak sepenuhnya merasa terbantu dengan tindakan yang akan nantinya kamu lakukan. Dari pusat mu saja sudah menutup nya kenapa kau begitu ingin menyelidiki semua ini?"

Umbar tidak percaya jika pada akhirnya ia akan dipojokkan lagi dengan perlakukan yang sama. Sebenarnya tidak salah juga jika Amang berkata seperti tadi namun apa salahnya mencoba daripada penasaran sampai mati

"Karena saya merasa sudah dekat dengan sosok Raga meksipun saya baru sekali bertemu secara fisik namun anehnya ketika saya melihat foto Raga, saya merasakan seperti ada sesuatu yang membuat saya ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi kepada Raga dan saya ikhlas melakukan ini."

"Begitu yah. Kalau gitu jelaskan apa tugas ku nantinya dan apa saja yang akan kau lakukan. Bagaimana dengan tugas wajib kau dan apa konsekuensinya bila kau melakukan ini tanpa perintah atasan mu?"

Menarik!

Seperti pagi tadi yang sudah dijelaskan kepada Amang, langkah pertama yang akan dilakukan oleh Umbar yaitu mendatangi kembali sekolah Raga diwaktu siang hari. Sebelum bertemu dengan beberapa siswa yang dicurigai oleh Umbar, dirinya meminta izin terlebih dahulu kepada kepala sekolah setempat untuk kembali mewawancarai beberapa siswa yang dianggap teman Raga dan tidak lupa Umbar meminta ruangan kemahasiswaan untuk dijadikan tempat menjalankan perintahnya tanpa sepengetahuan Kapolda Hadi. Meksipun begitu, Umbar menjelaskan kepada mereka bahwa perintah ini adalah tugas tambahan dari atasannya serta menunjukkan surat tugas buatan ia sendiri agar pihak sekolah percaya. Walaupun apa yang dikatakan itu bohong dan tidak benar namun Umbar percaya apa yang sedang dikerjakan olehnya saat ini secara diam diam akan membuahkan hasil meksi akhirnya ia akan mendapatkan konsekuensi.

Sebenarnya pun Umbar bisa melakukan hal ini diluar sekolah namun resikonya lebih besar. Menurutnya seperti itu meksipun keduanya mempunyai resiko setidaknya melakukan di sekolah jauh lebih efesien dan efektif.

Dan siswa pertama yang Umbar temui untuk di wawancara yaitu Wisnu teman satu angkatannya di kelas 3 SMA.

"Seneng bertemu kembali dengan mu nak Wisnu, bagaimana kabarmu hari ini?" Umbar mulai membuka pembicaraan untuk Wisnu dengan sapaan yang begitu hangat.

Wisnu menatap Umbar dengan kebingungan. Dari cara tatapan Wisnu kepada dirinya, Umbar merasakan seperti ada yang disembunyikan dan penuh kewaspadaan.

"Saya baik pak polisi. Bagaimana dengan kabar bapak? Terus kalau boleh tahu ada keperluan apalagi bapak bertemu dengan saya dan kalau bapak bertanya tentang Raga maaf saya tidak tahu."

Sesuai dengan dugaan Umbar bahwa Wisnu akan berkata seperti ini. Tentunya hal itu pun semakin memperkuat keyakinan Umbar bahwa hilangnya Raga pasti masih ada bersangkutan dengan Wisnu.

"Kabar saya baik juga Wisnu. Soal Raga seperti yang kamu katakan tadi saya akan menanyakan sesuatu diluar kasus yang menimpa Raga apakah kamu bisa membantu saya."

"Kenapa harus saya kenapa tidak pacarnya saja Desi."

"Nanti siswi yang bernama Desi pun akan saya wawancarai kembali dan sebelum ke yang lainnya kamu yang pertama terlebih dulu, jadi gak masalah kan?"

Umbar memilih Wisnu terlebih dahulu untuk di wawancarai Alasannya karena dia yang pertama melapor kepada kepala sekolah soal obat terlarang yang berada di tas Wisnu..

Ya alasannya hanya itu.

Dan terlihat dari raut wajah Wisnu nampaknya sedikit ragu ragu menjadi siswa pertama untuk diwawancarai kembali diluar kasus Raga.

"Apakah kamu berteman baik dengan Raga?"

"Tidak, saya cuman temen biasa saja tidak terlalu dekat seperti pada umumnya teman di sekolah saja."

"Apakah kalian pernah bertengkar gara gara sesuatu selama disekolah atau semacamnya yang membuat kalian saling tidak suka sama lain."

"Pernah dan masalahnya hanya sepele yaitu gara gara main bola."

Detik berikutnya umbar terus menanyakan hal hal kedekatan Wisnu bersama Raga. Tidak seperti pernyataan sewaktu wisnu menemukan bahwa di tas sekolah Raga terdapat obat terlarang yang langsung di klaim oleh pihak sekolah bahwa memang Raga lah yang membawa obat terlarang tersebut dari sana pun pihak sekolah langsung melaporkan kejadian ini kepada pihak polisi. Salah satu polisi yang menanganinya yaitu Umbar. Namun sayangnya kasus ini sudah ditutup, tujuan umbar kali ini lebih dari itu.

Setelah selesai dengan Wisnu, Umbar lanjut mewawancarai siswa yang bernama Hanif Kelas 2 serta Nando dan Akbar satu angkatan dengan Raga yaitu kelas 3. Rata rata jawaban dari mereka semuanya sama tidak ada hal yang baru hanya saja Umbar merasa kalau ketiga siswa ini pun sama seperti menutupi sesuatu yang sebentar lagi mungkin bangkai nya akan tercium. Umbar bisa merasakan hal itu dari cara mereka menatap lawan bicara, sama seperti Wisnu seperti sedang menutupi sesuatu yang tidak ingin diketahui banyak orang.

Menarik.

***

"Benar kalau kamu tahu rumah orang tua Raga." Tanya Umbar

"Tahu pak tenang saja dan kenapa bapak selalu mengatakan hal seperti ini dari tadi, lagi pula sebentar lagi kita akan sampai." Desi pun keheranan dengan pertanyaan sama yang dilontarkan oleh Umbar seakan Desi ini sedang membohongi dirinya. padahal jelas jelas Umbar sekarang sedang diantar oleh siswi yang bernama Desi menuju rumahnya Raga meski harus masuk gang seperti ini.

Sampai langkah Desi berhenti lalu diikuti oleh Umbar dan mereka terdiam di depan rumah. Umbar yang langsung paham pun menatap ke arah wajah Desi seolah mata mereka berkata bahwa ini adalah rumah orang tuanya Umbar. Rumah yang memiliki cat abu pudar serta pagar besi berkarat ini di penglihatan umbar seperti tidak layak huni. Umbar berani berpikir seperti ini disebabkan rumah rumah di sekeliling nya ini penampakan tidak seperti rumah orang tuanya Raga. Kalau kata lainnya rumah ini perlu banyak direnovasi.

"Apakah tugas saya sudah selesai? Apakah saya di izinkan untuk pulang?" Ungkap Desi seolah dia sekarang ini adalah polisi.

Umbar yang mendengar hal itu pun mengangguk pelan serta berpesan kepada Desi untuk langsung pulang ke rumahnya. 

"Terimakasih nak Desi, hati hati dijalan."

Tugas Desi hanya ini. Disekolah tadi pun Umbar tidak mewawancarai Desi kembali hanya saja sebagai penggantinya Desi harus mengantarkan Umbar untuk mendatangi rumah asli orang tua Umbar.

Aneh bukan? Dia tahu alamat rumah Amang tapi dia tidak tahu alamat rumah orang tuanya Raga. Hal ini disebabkan rumah orang tua raga sendiri sering berpindah pindah maka dari itu tidak ada alamat rumah tetap di catatan sipil keluarga Raga. Bisa dibilang rumah orang tua Raga ini semacam rumah sewaan atau kontrakan jika ada uang diperpanjang dan jika telat membayar diusir.

Setelah Desi tidak ada dihadapannya lagi langkah Umbar masuk menuju kedalam gerbang berkarat dan hendak mengetuk pintu sang pemilik rumah. Lalu Umbar menyiapkan senyuman wibawa terlebih dahulu agar dia tidak dicurigai yang tidak tidak.

Kemudian Umbar mulai mengetuk pintunya dengan beberapa kali ketukan tak selang dari itu sang pemilik rumah membuka pintu dan muncul dihadapan Umbar seorang wanita berusia empat puluh tahun yang tentunya kenali.

"Selamat sore." Katanya, sambil tersenyum yang sudah di siapkan tadi.

"Sore? Anda siapa?"

"Apakah masih ingat dengan saya? Saya yang menangani kasus anak ibu bernama Raga."

Setelah Umbar berkata seperti itu wanita yang berada dihadapan ini langsung memperhatikan situasi diluar terlebih dahulu seolah memastikan apakah ada yang mengawasi mereka saat ini atau tidak Lalu detik berikutnya menyuruh Umbar untuk masuk ke dalam rumah.

Satu hal yang membuat menarik perhatian Umbar ketika masuk rumah ini adalah piala dan medali yang sepertinya sengaja di pajang oleh sang pemilik di lemari ruang tamu rumah ini. Umbar bisa memastikan jika itu milik Raga.

"Silahkan duduk. Maaf jika rumahnya terlihat tidak nyaman, biar saya buatkan minum terlebih dahulu." Ragu wanita ini.

Umbar tersenyum. Ia tidak mementingkan hal itu yang Umbar penting yakin bertemu dengan orang tua Raga.

"Tidak udah repot repot saya tidak akan lama disini."

Wanita ini pun duduk kembali

"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih telah mengizinkan masuk ke dalam rumah ini. Saya kagum dengan pajangan piala dan medali yang ada di lemari itu." Lanjut Umbar.

"Itu milik Raga, tapi sayang Raga sudah tidak ada."

"Saya paham apa maksud ibu. Kalau boleh tahu sebelum Raga menghilang seperti ini apakah ada pesan pesan tertentu kepada ibu?" Ulik Umbar. Karena kalau boleh jujur ketika orang tuanya melapor yang lebih dominan berbicara pada saat itu yaitu pria tua berkepala botak. Umbar masih ingat laporan pria itu. Namun sekarang Umbar tidak melihat pria itu berada disini.

Tentunya Umbar mengetahui jika wanita ini adalah ibunya dan pria yang di maksud tadi adalah bapaknya Raga.

"Tidak ada pak, Raga tidak meninggalkan pesan apapun kepada saya dan tentunya saya sebagai ibunya pun merasa bingung dengan hilang dan kasusnya Raga ini. Padahal dia anak baik, banyak cita cita yang ingin dia wujudkan namun semuanya sirna. seakan bumi tidak mengetahui keberadaan nya lalu ditelan begitu saja dan saya.. sekarang juga tahu, jika kasus yang menimpa Raga semuanya sudah ditutup."

Dari melihat tatapan wanita ini saja Umbar bisa merasakan jika dia tidak ada harapan apapun lagi bagi masa depan keluarganya dan Raga.

"Saya begitu prihatin atas apa yang menimpa kepada keluarga ibu terutama Raga. Apakah saya boleh tanya sesuatu?"

"Silahkan pak."

"Siapa yang memberi tahu ibu jika kasus Raga ini sudah ditutup oleh pihak kepolisian?"

"Seseorang dari kepolisian seperti bapak, dia datang kemarin di pagi hari sambil membawa surat edarannya yang mengatakan bahwa kasus anak saya ditutup. Saya hanya bisa pasrah saat mengetahui nya. Saya sadar diri kalau kita rakyat kecil. Marah dan protes pun sepertinya percuma saya lakukan terlebih anak saya masih dalam tahapan penyelidikan."

"Apakah ibu tahu ciri ciri orang tersebut? Apakah dia memakai seragam atau pakaian biasa?"

"Saya lupa detail seperti apa orang itu, tapi menurut saya lebih baik lupakan saja musibah yang menimpa anak saya ini. Sejujurnya ketika di tidak pulang ke rumah selama sebulan bukan karena saya tidak peduli mencari, tapi karena bapaknya yang mengusirnya lalu mencegah saya untuk bertemu dengan Raga dan kalau saya berani mencari Raga nyawa saya akan dibunuh, tanpa diperjelas Raga pasti mengerti." Suaranya berubah menjadi serak dan gemetar. Wanita yang bernama Weni ini seperti sedang menahan nangisnya yang tidak ingin ia tunjukkan lagi kepada siapapun termasuk kepada Umbar.

"Saya menikah dua kali dan dia bapak tirinya Raga. Bapaknya hanya butuh uang Raga saja tidak dengan orangnya. Terkadang saya ingin kabur membawa Raga dan anak saya yang kedua hasil dari pernikahan saya ini tapi entah kenapa saya selalu kalah dengan rasa takut terhadap suami saya, Raga seperti ini karena salah saya, seharusnya Raga mempunyai kehidupan yang lebih baik dari ini, maafkan ibu nak." Lanjutnya dengan suara yang masih serak dan gemetar. Namun matanya mulai berkaca-kaca tapi dengan sekejap ia menepis perasaannya itu agar air matanya tidak keluar kembali dan diakhiri dengan senyuman ikhlas weni setelah mengatakan hal ini kepada Umbar.

Umbar tentunya tersentuh, perasaan nya sekarang campur aduk.

"Bu... Saya tidak tahu jika Raga seperti ini. Yang saya ketahui Raga itu adalah orang berprestasi di sekolahnya sama persis seperti yang ibu katakan tadi. Tapi saya janji akan mencari Keadilan untuk Raga."

"Tidak usah repot repot pak. Jika takdirnya Raga sudah begini mau gimana lagi? Lebih baik bapak mengurusi hal hal yang penting dalam hidup bapak karena bapak sendiri punya masa depan yang cerah dan jangan sia siakan hal itu."

"Saya tidak percaya jika Raga ini hilang. Saya percaya kalau Raga ini diculik dan disembunyikan oleh sebuah kelompok tertentu." Sembur Umbar langsung begitu saja tanpa mempertimbangkan perkataan nya sendiri.

"Pak saya cerita tadi bukan berniat ingin dibantu lagi. Saya hanya ingin cerita saja. Lebih baik bapak pulang saja, sebelumnya saya ucapkan terimakasih juga telah perhatian kepada kami terutama Raga."

"Bu tolong dengarkan saya dulu. Mungkin saat ini ibu sudah ikhlas tapi saya yakin ikhlas nya ibu ini dipaksa oleh keadaan bukan benar benar dari hati, jadi izinkan saya berbicara dulu sebentar."

Mendengar hal itu Weni menatap wajah umbar dengan penuh keseriusan, lalu dirinya mengizinkan umbar berbicara.

"Silahkan saya dengarkan."

"Intinya saya akan tetap penyelidikan kasus Raga tanpa izin dari atasan saya. Sebenarnya saya tidak ingin berbicara rencana saya kepada ibu tapi setelah mendengar cerita tadi saya rasa apa yang akan dilakukan oleh saya ini keluarga nya harus tahu. Maka dari itu jika ada hal aneh ataupun apa hubungin saya secepatnya mungkin. Satu lagi saya ikhlas melakukan ini."

Weni terdiam sejenak lalu masuk kedalam kamar yang jaraknya tidak jauh dari ruang tamu dan kembali sambil membawa koper mini yang mana ketika Weni buka dan ia pertunjukan kepada Umbar koper itu berisikan gepokan uang pecahan seratus ribu. Umbar sendiri tidak tahu ada beberapa banyak uang di dalam koper tersebut namun Umbar rasa ini ada kaitannya dengan Raga.

"Saya tadi bilang kan bahwa pagi kemarin ada yang datang kesini membawa surat sambil mengatakan bahwa kasus Raga ditutup."

Umbar mengangguk cepat

"Malamnya datang seseorang membawa koper mini yang berisikan uang sebanyak ini. Didalamnya tidak hanya ada uang saja tapi ada surat yang mengatakan jika ada seseorang yang hendak mencari kebenaran tentang Raga maka orang itu akan dibunuh."

Weni menujukan surat yang dimaksud kepada Umbar.

Jadi ini alasan mereka ikhlas atas hilangnya Raga.

Menarik.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!