Malam itu, kota tenggelam dalam kegelapan. Hanya cahaya lampu jalan yang samar-samar menerangi lorong-lorong sempit yang penuh dengan bayangan. Siena melangkah cepat, tubuhnya menyatu dengan kegelapan seperti siluman yang tak terlihat. Setiap gerakannya ringan, nyaris tanpa suara, seolah-olah dia adalah bagian dari malam itu sendiri.
Pekerjaannya bukan sesuatu yang bisa dibanggakan di mata masyarakat biasa. Dia bukan polisi, bukan tentara, dan bukan pahlawan. Siena adalah mata-mata—seorang agen bayangan yang bertugas menyusup, mengumpulkan informasi, dan jika perlu, menghabisi target tanpa meninggalkan jejak.
Misinya malam ini sederhana: mengambil dokumen rahasia dari seorang politisi korup yang tengah melakukan pertemuan dengan musuh negaranya. Jika informasi ini jatuh ke tangan yang salah, keseimbangan kekuatan bisa terganggu.
Dia melompat ke balkon sebuah gedung tua, jari-jarinya lincah mencengkeram besi pagar sebelum dengan mudah melompat ke dalam ruangan melalui jendela yang terbuka. Di dalam, tak ada suara selain detak jam di dinding. Dengan cekatan, Siena membuka laci meja kerja dan menarik berkas-berkas yang tersusun rapi.
"Mudah sekali."
Namun, saat dia berbalik, ada sesuatu yang tidak beres.
Klik!
Suara kecil namun jelas terdengar di belakangnya. Siena membeku, tubuhnya refleks merendah sebelum berputar cepat. Matanya bertemu dengan sepasang mata lain yang familiar.
"Ivana?"
Wanita itu berdiri di ambang pintu, senjatanya terangkat. Tidak ada ekspresi bersahabat di wajahnya, hanya tatapan dingin yang penuh perhitungan.
"Sudah kuduga kau akan sampai di sini lebih dulu." Ivana melangkah masuk, tumit sepatunya berdetak pelan di lantai kayu.
Siena menyipitkan mata, firasat buruk menyelusup ke dalam benaknya. "Apa maksudmu?"
Ivana tersenyum tipis, lalu mengangkat pistolnya lebih tinggi. "Kau terlalu percaya diri, Siena. Aku sudah bosan berada di bayanganmu. Kau selalu jadi yang terbaik, selalu dipuji, selalu mendapat misi yang paling penting."
Jantung Siena berdegup lebih kencang. "Jadi kau mengkhianatiku?"
"Aku hanya mengambil kesempatan," Ivana berbisik sebelum menarik pelatuk.
Siena bergerak, namun peluru lebih cepat. Rasa panas menyambar perutnya, membuatnya jatuh terduduk dengan napas memburu. Tangannya menekan lukanya, darah mengalir deras di antara jari-jarinya.
Dunia terasa mulai berputar. Pandangannya kabur. Siena ingin melawan, ingin melarikan diri, tapi tubuhnya tak lagi mendengarkan.
Ivana mendekat, berjongkok di hadapannya, menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. "Akhirnya, kau kalah, Siena."
Siena ingin tertawa, ingin menghina Ivana yang mengira dirinya menang. Tapi suaranya tak keluar. Tubuhnya semakin dingin.
Dalam kepalanya, hanya satu pikiran yang tersisa.
"Seandainya aku bisa hidup kembali…"
Lalu semuanya gelap.
.......
.......
Kegelapan.
Tak ada rasa sakit, tak ada suara. Hanya kehampaan yang menelan segalanya. Siena merasa seperti melayang dalam ruang tanpa batas.
"Jadi begini rasanya mati?" pikirnya.
Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi tak ada yang merespons. Dia mencoba membuka matanya, tapi yang dia lihat hanyalah kegelapan yang pekat. Waktu berlalu, entah detik atau tahun, tak ada yang bisa dia rasakan selain kehampaan ini.
Namun, tiba-tiba… sesuatu berubah.
Desiran suara aneh bergema di sekelilingnya. Suara-suara asing berbisik dalam bahasa yang tidak dia kenali, seperti doa-doa yang diucapkan dalam kebingungan.
Lalu, rasa sakit itu datang.
Bukan rasa sakit akibat peluru Ivana, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan—seolah-olah seluruh tubuhnya diremukkan, dibentuk ulang, dipaksa masuk ke dalam wujud yang bukan miliknya. Siena ingin menjerit, tapi tenggorokannya terasa tersumbat.
Dan tiba-tiba, semuanya berhenti.
Udara dingin menusuk kulitnya, napas berat keluar dari bibirnya yang kering. Kelopak matanya perlahan terbuka, dan yang pertama kali dia lihat adalah langit-langit kayu yang berdebu.
Dia terbaring di tempat tidur yang terasa asing. Tangannya yang gemetar terangkat, dan matanya membelalak.
Itu bukan tangannya.
Jari-jarinya kurus dan pucat, seperti milik seseorang yang sudah lama sakit. Dia menatap sekeliling, napasnya memburu. Kamar ini tidak memiliki teknologi modern yang dia kenal. Tidak ada lampu neon, tidak ada suara lalu lintas dari luar jendela, hanya sebuah lilin yang redup menerangi ruangan kecil ini.
Panik, Siena mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa lemah, seakan bukan miliknya sendiri. Saat itulah dia menyadari sesuatu.
Ada cermin di sudut ruangan.
Dengan sisa tenaga yang ada, dia menyeret dirinya keluar dari tempat tidur, kakinya nyaris tidak bisa menopang tubuhnya. Dengan napas terengah-engah, dia meraih tepi meja dan melihat pantulan dirinya di cermin.
Siena tertegun.
Wajah yang menatap balik padanya bukanlah wajahnya yang dulu.
Rambut panjang berwarna pirang pucat tergerai kusut di bahunya. Kulitnya seputih kertas, begitu pucat hingga hampir transparan. Mata biru yang suram memancarkan kehampaan, seolah-olah jiwa pemilik tubuh ini telah lama mati sebelum dia mengambil alihnya.
"Siapa ini…?"
Lalu, seketika ingatan menghantam kepalanya seperti gelombang badai.
Eleanor Roosevelt.
Nama itu bergema di dalam pikirannya. Sosok yang mengisi tubuh ini, seorang wanita yang dilahirkan sebagai anak haram seorang Marquis, yang diabaikan oleh keluarganya, yang dijual ke dalam pernikahan dengan seorang Duke kejam bernama Cedric.
Seorang wanita yang telah menjalani kehidupan penuh penderitaan.
Dan kemudian mati dalam keputusasaan.
Siena—atau sekarang Eleanor—merosot ke lantai, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sesak.
"Aku bereinkarnasi?" pikirnya tak percaya.
Dia menatap wajah barunya di cermin, perasaan aneh berputar di dalam dadanya.
Dia telah mati sebagai Siena, dikhianati oleh orang yang paling dia percayai.
Dan sekarang dia hidup kembali sebagai Eleanor, seorang wanita yang telah kehilangan segalanya bahkan sebelum kematiannya.
Namun ada satu perbedaan besar…
Siena dulu adalah seorang mata-mata. Seorang wanita yang tidak mudah menyerah.
Jika dunia ini ingin mengutuk Eleanor dengan kehidupan menyedihkan, maka dia akan menertawakannya kembali.
Karena kali ini, dia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi.
Dengan senyum tipis yang penuh tekad, Eleanor bangkit dari lantai.
Ini bukan akhir.
Ini adalah awal dari segalanya.
Pagi menjelang dengan langit keemasan yang mulai cerah.
Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar, menyinari ruangan yang dingin dan sepi. Siena—sekarang Eleanor—duduk di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan ekspresi datar. Mata pucat dan kosong, kulit seputih lilin, serta tubuh yang kurus seolah tidak pernah diberi makan dengan layak.
Semalam, dia berusaha menyusun potongan-potongan ingatan Eleanor yang terus bermunculan di kepalanya. Hasilnya? Eleanor memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan. Tidak dicintai oleh keluarganya, diperlakukan seperti sampah oleh para pelayan, dan yang paling parah—dijual ke dalam pernikahan tanpa cinta dengan Duke Cedric Sinclair.
Pernikahan yang seharusnya membawanya pada kehidupan yang lebih baik justru menjadi jerat yang lebih dalam. Eleanor mencintai suaminya, namun pria itu tidak pernah memandangnya. Bahkan, kini dia membawa perempuan lain ke dalam rumah mereka.
Tapi itu bukan urusan Siena.
Siena menarik napas dalam. Dia bukan Eleanor yang lama. Dia tidak akan mengemis cinta, dia tidak akan merendahkan diri, dan dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban dalam hidup yang sekarang dia jalani.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"Nona Eleanor, waktunya sarapan."
Seorang pelayan perempuan masuk tanpa menunggu jawaban. Martha. Dari ingatan Eleanor, wanita ini adalah salah satu pelayan senior di kediaman Duke Cedric. Tidak jahat, tapi juga tidak bisa dipercaya sepenuhnya.
Eleanor bangkit dari tempat duduknya, tanpa berkata apa-apa.
Di ruang makan utama, suasana terasa sama seperti yang diingat Eleanor—dingin dan sepi.
Para pelayan bergerak dengan tenang, menata meja panjang dengan berbagai hidangan mewah. Duke Cedric Sinclair duduk di ujung meja, mengenakan pakaian formalnya yang selalu berwarna hitam. Dia memancarkan aura otoritas yang membuat semua orang di ruangan ini menundukkan kepala mereka.
Biasanya, Eleanor akan menunduk juga. Akan menyapanya dengan suara kecil dan gugup, seolah pria itu bisa memenggal kepalanya jika dia berani menatapnya terlalu lama. Biasanya, Eleanor akan tersenyum malu-malu, berharap mendapatkan sedikit perhatian dari suaminya yang dingin itu.
Tapi tidak hari ini.
Eleanor yang baru duduk tanpa ekspresi, mengambil roti panggang dengan gerakan tenang, dan mulai makan tanpa berkata apa-apa.
Dari ujung meja, Cedric yang sedang meminum kopinya berhenti sejenak.
Ada yang aneh.
Dia tidak bisa mengatakan apa, tapi ada sesuatu yang berbeda dari wanita ini.
Namun, dia tidak terlalu memikirkannya. Eleanor bukanlah seseorang yang penting baginya.
Sementara itu, Eleanor mengamati semua orang di ruangan ini. Siena sudah terbiasa membaca karakter setiap orang yang ditemuinya. Dan di rumah ini, tidak ada satu pun yang bisa dia percaya.
Para pelayan yang selalu menatapnya dengan tatapan meremehkan. Kepala pelayan yang diam-diam membenci keberadaannya. Bahkan Cedric sendiri, pria yang seharusnya menjadi suaminya, lebih terlihat seperti patung daripada manusia.
Eleanor meneguk tehnya dengan tenang.
Jika dia ingin bertahan hidup di tempat ini, maka dia harus mulai menyusun rencana.
Makanan di piringnya masih tersisa separuh ketika Eleanor meletakkan garpunya.
"Saya sudah selesai."
Beberapa pelayan meliriknya, sedikit terkejut. Biasanya, Eleanor akan menunggu sampai Cedric selesai sebelum meninggalkan meja makan—sebuah kebiasaan yang menunjukkan betapa patuhnya dia sebagai istri yang tidak diinginkan.
Tapi Eleanor yang sekarang berbeda.
Dia berdiri, mendorong kursinya dengan perlahan, lalu tanpa menunggu tanggapan siapa pun, dia melangkah keluar dari ruang makan.
Para pelayan tetap menunduk, tidak ada yang berani berkata apa-apa, tapi mereka saling bertukar pandangan.
Sementara itu, Cedric meletakkan cangkir kopinya. Matanya yang tajam mengikuti punggung Eleanor yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu yang membuat alisnya berkerut.
Wanita itu...
Biasanya, dia akan meminta izin dengan suara gemetar sebelum pergi. Biasanya, dia akan mencuri pandang ke arahnya, berharap mendapatkan respons.
Tapi tadi? Tidak ada rasa takut, tidak ada senyum malu-malu, bahkan tidak ada sekilas lirikan kepadanya. Seolah dia hanyalah udara di mata wanita itu.
Aneh.
Namun, Cedric tidak tertarik untuk memikirkannya lebih jauh. Eleanor bukan urusannya. Dia memiliki banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan.
Jadi, dia kembali menikmati sarapannya—atau setidaknya mencoba.
Karena, tanpa disadari, ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
...***...
Eleanor berjalan melewati lorong-lorong besar di kediaman Duke Sinclair. Mata tajamnya mengamati sekeliling dengan cermat.
Setiap sudut rumah ini dipenuhi dengan barang-barang mahal dan dekorasi megah, tapi bagi Siena, kemewahan bukanlah sesuatu yang menarik. Yang dia butuhkan adalah informasi.
Dia melihat bagaimana para pelayan berbisik-bisik ketika dia melewati mereka. Mereka mengira dia tidak menyadari tatapan meremehkan dan ejekan halus mereka.
"Dia pasti masih patah hati karena Yang Mulia Duke membawa wanita lain," bisik salah satu pelayan.
"Memang pantas. Apa yang bisa diharapkan dari wanita yang hanya tahu menangis?" jawab yang lain.
Eleanor tetap melangkah tanpa mengubah ekspresinya.
Dulu, Eleanor yang lama mungkin akan menunduk dan pura-pura tidak mendengar. Tapi Siena tidak seperti itu.
Dia menghafal wajah-wajah mereka. Dia mengingat nama-nama mereka.
Di dunia sebelumnya, dia selalu mengamati siapa saja yang bisa dipercaya dan siapa yang harus disingkirkan. Dan di rumah ini, dia sudah bisa menebak siapa yang akan menjadi musuhnya.
Saat dia sampai di taman belakang, Eleanor berhenti.
Angin pagi menerpa wajahnya, membawa aroma mawar yang lembut.
Di dunia sebelumnya, Siena selalu berada dalam tekanan. Tidak ada waktu untuk menikmati keindahan seperti ini.
Tapi sekarang, dia punya kesempatan untuk mengendalikan hidupnya sendiri.
Matanya berkilat dingin.
Dia akan bertahan.
Dan jika ada yang mencoba menghalanginya... maka dia akan memastikan mereka menyesal.
Eleanor duduk di ruang tamu utama, menyesap teh tanpa tergesa-gesa. Wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
Suasana ruangan terasa berat. Beberapa pelayan menundukkan kepala, tidak berani bersuara.
Di hadapannya, seorang wanita berambut pirang keemasan duduk dengan anggun. Gaunnya elegan, berwarna merah muda dengan bordiran emas, menunjukkan statusnya sebagai bangsawan kelas atas. Wajahnya cantik sempurna, senyumnya manis—tapi di balik itu, Eleanor bisa melihat kilatan kemenangan di matanya.
Carolet.
Wanita yang dibawa Cedric pulang.
Wanita yang, jika mengikuti aturan, membutuhkan persetujuan dari istri pertama untuk dinikahi secara resmi.
“Yang Mulia Duchess,” suara Carolet lembut, seolah dia sedang berbicara dengan teman dekatnya. “Aku harap kehadiranku di sini tidak membuatmu tidak nyaman.”
Eleanor meletakkan cangkir tehnya dengan tenang. Dia menatap Carolet dengan mata datar, tidak terganggu sedikit pun.
“Kenapa aku harus merasa tidak nyaman?” jawabnya santai.
Sejenak, Carolet terlihat terkejut, tapi dia segera mengendalikan ekspresinya.
“Kau wanita yang baik.” Carolet tersenyum. “Aku sangat menghormatimu sebagai istri pertama Duke.”
Eleanor tetap diam.
“Tapi… kau pasti tahu bahwa posisimu sudah goyah,” lanjut Carolet pelan, nada suaranya penuh belas kasihan. “Cedric tidak pernah mencintaimu, dan pernikahan ini hanya perintah keluarga. Jika kau rela melepaskan posisi Duchess, aku akan memastikan kau tetap hidup nyaman.”
Para pelayan yang ada di ruangan itu menahan napas.
Eleanor mengangkat alisnya sedikit.
“Begitu?” suaranya terdengar datar.
Carolet tersenyum lembut, seolah dia sedang berbicara kepada anak kecil yang tidak mengerti keadaan. “Aku hanya ingin membantumu.”
Eleanor menatapnya lama.
Jika Eleanor yang lama masih ada, mungkin dia akan gemetar sekarang. Mungkin dia akan menunduk, merasa tidak berdaya, lalu diam-diam menangis di kamarnya.
Tapi Eleanor yang sekarang bukan wanita yang sama.
Siena sudah terlalu sering menghadapi orang seperti Carolet—wanita licik yang berbicara manis di permukaan, tapi menusuk dari belakang.
“Terima kasih atas perhatianmu,” Eleanor berkata akhirnya, suaranya tetap lembut. “Tapi sayangnya, aku tidak membutuhkan bantuanmu.”
Carolet berkedip.
“Apa maksudmu?”
“Aku masih Duchess di rumah ini. Dan aku tidak punya niat untuk menyerahkan posisiku.”
Ruangan itu menjadi hening.
Para pelayan menatap Eleanor dengan kaget.
Mereka tidak pernah melihatnya berbicara setegas ini sebelumnya.
Carolet masih tersenyum, tapi Eleanor bisa melihat rahangnya mengeras sedikit.
“Eleanor,” kata Carolet, nada suaranya lebih dingin sekarang. “Kau tahu bahwa Cedric tidak akan memilihmu, kan?”
“Lalu kenapa kau terlihat begitu tergesa-gesa?” Eleanor membalas tanpa ragu. “Jika Cedric memang menginginkanmu, dia bisa menikahimu kapan saja tanpa perlu persetujuanku.”
Carolet terdiam.
“Oh, tapi dia belum melakukannya, bukan?” Eleanor melanjutkan dengan suara lembut, tapi setiap kata terasa tajam. “Berarti ada sesuatu yang menghalanginya.”
Carolet mengepalkan tangannya di atas roknya.
Eleanor tahu jawabannya.
Karena meskipun Cedric tidak mencintainya, dia tetaplah istri sah Duke. Tanpa persetujuan Eleanor, Carolet tidak bisa menjadi istri kedua secara resmi.
Wanita itu bisa saja tetap tinggal di sini, bisa menjadi selir atau bahkan kekasih Cedric. Tapi dia tidak akan pernah mendapatkan status Duchess yang sah.
Dan itulah yang membuatnya frustrasi.
Eleanor menatapnya, lalu tersenyum kecil.
“Aku harap kau menikmati waktumu di rumah ini, Lady Carolet.”
Lalu, tanpa menunggu jawaban, Eleanor berdiri dan pergi.
Meninggalkan Carolet yang masih duduk di tempatnya, wajahnya perlahan kehilangan senyum manisnya.
...***...
Eleanor melangkah keluar dari ruang tamu dengan tenang, meninggalkan Carolet dalam keheningan. Saat dia berjalan menyusuri koridor, beberapa pelayan yang berpapasan dengannya menundukkan kepala dengan lebih hormat dari biasanya.
Mereka telah melihat perbedaan dalam dirinya.
Eleanor yang dulu lemah dan selalu menunduk kini berjalan tegak dengan anggun, seolah dia tidak terpengaruh oleh kehadiran wanita yang dibawa Cedric.
Siena tersenyum kecil dalam hati.
Jika mereka pikir dia akan tunduk dan menyerahkan tempatnya begitu saja, mereka salah besar.
Namun, langkahnya terhenti ketika seorang pria tinggi berseragam hitam berdiri di ujung lorong.
Cedric.
Matanya yang tajam menatapnya tanpa ekspresi, seperti biasa. Tapi Eleanor bisa merasakan sesuatu yang berbeda dalam tatapannya kali ini.
Entah karena kejadian barusan atau karena sesuatu yang lain, Cedric terlihat lebih... penuh perhitungan.
Sejenak, mereka hanya saling menatap dalam keheningan.
Eleanor tidak berniat membuka percakapan, dan Cedric tampaknya juga tidak terburu-buru untuk berbicara.
Akhirnya, pria itu melangkah mendekat.
“Kau berbicara cukup banyak dengan Carolet,” katanya pelan.
Nada suaranya tidak mengandung emosi, tapi Eleanor bisa merasakan sesuatu di balik kata-katanya.
“Apa itu masalah bagimu?” Eleanor balas bertanya tanpa ragu.
Cedric tidak langsung menjawab. Matanya menyapu Eleanor dari atas ke bawah, seolah mencoba mencari sesuatu.
Biasanya, Eleanor akan merasa gugup ketika dia menatapnya seperti ini. Dulu, hanya berdiri di dekat Cedric saja sudah cukup untuk membuatnya merasa kecil.
Tapi itu dulu.
Sekarang, Eleanor menatap balik dengan tenang.
Cedric sedikit menyipitkan mata, lalu akhirnya berkata, “Tidak.”
Lalu dia berjalan melewatinya begitu saja, seperti angin dingin yang berhembus tanpa suara.
Eleanor tidak menoleh ke belakang.
Tapi dia tahu.
Cedric menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
Dan itu hanya masalah waktu sebelum dia mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
...***...
Eleanor melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Cedric yang sudah pergi. Baginya, tidak ada gunanya memikirkan pria itu lebih dari yang diperlukan. Yang lebih menarik perhatiannya adalah Carolet.
Wanita itu bukan sekadar selir biasa.
Carolet berasal dari keluarga bangsawan kelas tinggi, kaya raya, cantik, dan pandai berbisnis. Itu berarti dia bukan hanya sekadar wanita yang Cedric sukai—dia adalah seseorang yang bisa menjadi aset bagi keluarga Duke.
Eleanor duduk di taman belakang, menikmati teh yang disediakan oleh pelayan. Cahaya matahari sore menyorot keemasan di antara dedaunan, memberikan suasana yang tampak damai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Nyonya Duke tampaknya begitu santai setelah mengetahui keberadaanku di sini.”
Suara Carolet terdengar anggun, tapi ada nada halus yang mengandung provokasi di dalamnya.
Eleanor tidak langsung menoleh. Dia hanya mengangkat cangkir tehnya dengan tenang, meniup permukaannya sebelum menyeruput sedikit. Setelah itu, barulah dia mengalihkan pandangannya ke arah Carolet.
“Seharusnya aku merasa terganggu?” Eleanor bertanya dengan nada datar.
Carolet tersenyum tipis. Wanita itu berjalan mendekat, lalu duduk di bangku seberang Eleanor.
“Aku hanya penasaran, apa kau benar-benar tidak peduli jika aku berada di sini?”
“Aku tidak memiliki hak untuk melarang siapa pun masuk ke kediaman Duke.” Eleanor menjawab ringan.
Carolet mengangkat alisnya, lalu tersenyum, “Jawaban yang cerdas.”
Ada sesuatu dalam ekspresi Carolet yang mengingatkan Siena pada orang-orang yang pernah ia hadapi di kehidupan sebelumnya—orang-orang yang terbiasa bermain dengan intrik dan manipulasi.
Wanita ini tidak datang hanya sebagai calon istri kedua.
Dia datang untuk mengukuhkan posisinya.
Dan itu membuat Eleanor semakin yakin bahwa Cedric tidak hanya membawa Carolet karena keinginan pribadi. Ada sesuatu yang lebih besar di balik kehadiran wanita ini.
“Aku mendengar bahwa kau belum memberi persetujuan untuk pernikahan ini.” Carolet bersandar santai, matanya penuh arti.
Eleanor meletakkan cangkir tehnya dan menatap langsung ke dalam mata Carolet.
“Benar. Aku belum memberi persetujuan.”
Carolet menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum. “Aku yakin itu hanya masalah waktu.”
Eleanor balas tersenyum. “Mungkin.”
Keduanya bertukar tatapan, masing-masing mengukur lawannya.
Di kehidupan sebelumnya, Siena selalu menghadapi orang-orang seperti Carolet. Mereka yang percaya bahwa kekuatan dan pengaruh bisa memberikan mereka segalanya.
Tapi Siena bukan seseorang yang mudah ditekuk.
Dan sekarang, Eleanor juga tidak akan menjadi wanita lemah yang bisa disingkirkan dengan mudah.
Jika Carolet ingin bermain, Eleanor akan memastikan bahwa wanita itu tahu dengan siapa dia berhadapan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!