NovelToon NovelToon

Suami Pilihan Mama

BAB 1_Wanita Karier

"Bangun!" teriak wanita pada seorang perempuan yang masih terlelap di kamarnya.

"5 menit lagi Ma," ucap perempuan yang masih bergelut dengan selimutnya itu.

"Kalau kamu gak bangun, Mama siram kamu pakai air bekas cuci piring ya!" teriak wanita tersebut.

"Iya Ma, ini Rayna bangun," ucap Rayna.

"Astaga anak gadis satu ini, susah banget disuruh bangun," ucap Mama Nindy.

Ya, perempuan yang tengah bergelut dengan selimutnya itu adalah Rayna Valeeqa, putri kedua pasangan Erik Valeeqa dan Nindy Veronica, Rayna memiliki seorang adik perempuan bernama Vania Valeeqa.

"Pagi Ma, Pa," sapa Rayna.

Gadis itu turun ke bawah dengan wajah yang sudah segar dan juga rapi untuk berangkat kerja.

"Ray, kamu udah mandi kan?" tanya Mama Nindy dengan penuh selidik.

"Udah dong, Ma."

"Yakin?" tanya Mama Nindy yang merasa tidak percaya dengan sang anak.

"Kenapa emangnya, Ma?" tanya Papa Erik.

"Mukanya masih kucel gitu," ucap Mama Nindy dengan begitu mengejek sang anak, tenang lah itu hanya gurauan.

"Astaga ma, Rayna sakit hati loh di bilang kayak gitu, ini Rayna udah mandi, udah dandan padahal ya walaupun cuma pakai pelembab bibir aja sih gak keburu soalnya Rayna udah telat," ucap Rayna dengan senyum canggung di akhir kalimat nya.

"Ya gimana gak telat, kamu dari tadi di bangunin gak bangun-bangun. Kamu tidur apa latihan meninggal," ucap Mama Nindy.

"Astaga jahat banget Mama ini," ucap Rayna.

"Mama gak ngebayangin gimana nanti kalau kamu nikah," ucap Mama Nindy.

"Gak usah di bayangin ma, Rayna aja gak mau nikah, udah ya ma Rayna kerja dulu dadah," ucap Rayna dan keluar dari rumah sebelum Mama Nindy mengamuk.

"Astaga anak itu," gumam Mama Nindy.

Rayna mengendarai mobilnya menuju kantor tempat ia bekerja, Rayna sendiri bekerja di sebuah bank swasta di kota A Rayna bekerja sebagai tim marketing pada bank tersebut.

Sudah lama dia bekerja dan termasuk salah satu karyawan yang begitu pintar di tempat kerjanya walau pun ada saja yang iri dengan prestasi nya.

Tak lama setelah itu, Rayna pun sampai di bank tempat ia bekerja, ia bekerja pada bank pusat sehingga parkirnya yang luas membuat Ryan memutuskan untuk mengendarai mobil, selain itu karena Rayna juga tidak bisa mengendarai sepeda motor sehingga ia lebih nyaman menggunakan mobil.

"Halo Rayna," sapa Hani rekan kerjanya.

"Halo juga Hani," jawab Rayna.

"Gimana sama promosi online buat fitur terbaru di mbanking?" tanya Hani penasaran.

"Belum juga ngadain rapat, tunggu direktur lah aku gak mau ngeduluin," ucap Rayna.

"Kamu rapatnya sama Ibrahim?" tanya Hani lagi yang begitu antusias.

"Lah mana aku tau, kenapa emang? kamu mau titip salam?" tanya Rayna yang sudah tahu kelakuan rekan kerjanya itu.

"Tau aja kamu Ray, aku kan nanti harus di depan jadi gak bisa ketemu sama Ibrahim, aku titip salam ya sama dia." ucap Hani memohon sekali.

"Males aku, nanti dikiranya aku yang suka lagi sama dia." ucap Rayna yang sudah sangat males jika harus ada kesalahpahaman.

"Ayolah." bujuk Hani dengan rengekan walau Rayna tahu itu tidak serius.

"Gak mau, aku mau hidup tenang dan bebas ya, kamu salam sendiri ke dia sana terus bilang kalau kamu suka sama dia, udah ya aku mau kerja dulu." ucap Rayna dan pergi meninggalkan Hani.

Rayna pun mulai melaksanakan pekerjaan nya dengan giat, mau semalam apapun tapi Rayna harus tetap bekerja karena dia tidak ingin mengandalkan keluarga nya terus, dia memang dari keluarga berkecukupan tapi dia tidak mau menjadi beban.

Sore harinya, setelah menjalani pekerjaan yang melelahkan, Rayna pun akhirnya bisa bernapas lega karena ia tidak harus lembur hari ini, karena beberapa hari kemarin dia terus saja lembur karena banyak nya pekerjaan.

"Untung aja gak lembur, jadi setelah ini aku pulang dan bisa istirahat," gumam Rayna dan masuk ke dalam mobilnya.

Namun, rencana indahnya harus hancur karena tiba-tiba sang mama mengirim pesan padanya.

Mama Nindy: Kak, nanti kamu ke Cafe Cendana ya, Mama udah mau kenalin kamu sama anak temennya Mama namanya Joel. Kamu harus datang ya, dia udah di jalan kok. Ayahnya pejabat loh Kak terus dia juga kerja di kantor pemerintahan, kamu gak akan nyesel deh pokoknya. Ingat ya harus datang!

Pesan yang di kirim oleh sang mama penuh dengan sebuah perintah tanpa bisa Rayna hindari mau tidak mau dia harus datang.

"Huh, mama ini ya padahal aku belum mau nikah, bisa gak sih, gak usah kenalin aku sama cowok lagi, kalau aku mau nikah aku bakal cari kok," ucap Rayna yang kesal dengan sikap sang mama yang selalu mengenalkannya pada pria manapun sesuka hatinya.

Mama Nindy memang kerap mengenalkan Rayna pada pria manapun karena mama Nindy merasa jika diumur Rayna yang 28 tahun sudah saatnya ia menikah, entah lah kenapa standar penilaian orang orang itu wanita di atas 25 tahun kalau Begum juga menikah di bilang perawan tua padahal dia hanya belum menikah bukan nya hamil duluan.

Padahal Rayna sendiri belum berpikir untuk menikah apalagi ia sudah nyaman dengan kesendiriannya dan juga pertimbangan kariernya dimana ia seorang pegawai bank, jika ia menikah maka ia harus berhenti karena memang seperti itu peraturan di bank nya.

Meskipun malas, Rayna tetap mengikuti apa yang dikatakan mama Nindy karena dia tidak ingin mendapatkan omelan dari sang mama.

Tak butuh waktu lama mobil yang ia kendarai pun sampai di cafe yang dimaksud, Rayna segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam cafe dan menemui pria yang dimaksud mama Nindy.

Rayna melihat sekelilingnya dan netranya menangkap seorang pria yang memakai jaket militer, ia pun mendekat pada pria tersebut.

'Dia orangnya? kata mama dia kerja di kantor pemerintahan. Tapi, kok pakai jaket tentara,'

Akhirnya Rayna pun menghampiri pria tersebut karena tidak mau berlama-lama an.

"Joel ya?" tanya Rayna menghampiri pria tersebut.

"Ah iya, kamu Rayna ya anaknya tante Nindy?" tanya Joel dan diangguki Rayna.

Rayna pun duduk di kursi yang ada di depan Joel dengan asal, dia ingin membuat pria itu untuk menolak tentang perjodohan ini dari kencan buta sekarang.

"Kamu mau makan apa?" tanya Joel.

"Aku roti bakar aja, aku tadi udah makan pas di kantor," ucap Rayna dengan cuek nya.

Tak lama setelah itu, mereka pun menikmati makanan yang mereka pesan hingga suara Joel membuat Rayna tersedak roti bakar pesanannya.

"Aku ini orang pemerintahan, kalau kita menikah kamu harus bekerja, aku gak mau uang rumah tangga kita pakai uangku semuanya, kamu juga harus ikut andil, enak aja aku yang kerja kamu cuma tinggal di rumah. Kamu kerja di bank kan, nah aku denger kalau di bank pas kamu nikah kamu harus berhenti, jadi nanti kamu kerja di perusahaan mana gitu, yang penting kerjanya bagus dan gajinya juga lumayan buat kita berdua," ucap Joel.

Rayna yang mendengarnya pun mendengus kesal, 'Aku gak mau ya nikah sama orang kayak situ, aku kesini cuma karena mama. Gak tertarik buat nikah apa lagi modelan kayak ikan pindang aja sok banget,' gumam Rayna dalam hatinya.

Rayna bisa saja pergi sekarang, tapi tidak ia lakukan karena pernah satu waktu saat mama Nindy mengatur kencan untuknya dan ia pergi lebih awal dan pada saat pulang Rayna sampai kena marah mama Nindy bahkan mama Nindy membahas hal itu sampai satu minggu lebih dan membuat Rayna jengah mendengarnya.

Tidak ada obrolan sama sekali antara mereka, Rayna pun tidak merespon apa yang dikatakan Joel hingga makanan mereka habis.

"Kamu bayar sendiri ya kan kamu belum jadi istri aku soalnya, aku gak mau bayarin perempuan manapun kecuali Ibu, adik dan juga istriku nanti, kalau kamu jadi istriku baru akan akan bayar." ucap Joel dengan percaya dirinya bahwa Rayna akan berjodoh dengan dirinya.

'Sok banget, aku juga bisa bayar uang makan ku sendiri' gumam nya dalam hati.

"Maaf ya sebelumnya, saya ingin mengatakan jika saya tidak akan menikah dengan anda karena saya tidak tertarik dengan anda dan saya datang kesini itu karena mama saya. Satu lagi, saya bisa bayar sendiri dan tidak membutuhkan uang anda, saya wanita karier dan saya tidak tunduk dengan aturan pria manapun, tapi, meskipun saya wanita karier dan tidak tunduk pada pria manapun, saat saya jadi istri, saya akan memposisikan diri saya sebagai seorang istri jika suami saya mampu memimpin rumah tangga dengan baik, lebih baik anda belajar terlebih dahulu dalam banyak hal karena saya lihat anda terlalu membangga-banggakan posisi anda itu." ucap Rayna dengan seringai di sudut bibir nya kemudian dia pergi dari sana dan membayar makanannya lalu pergi meninggalkan Joel.

.

.

Bersambung..........

Hai readers semuanya 👋👋👋

AUTHOR KEMBALI LAGI DENGAN CERITA YANG MENARIK LAGI NIH!!! UDAH PADA NUNGGUIN GAK NIH CERITA TERBARU AUTHOR?? KALAU ADA KOMEN YAAAA😁😁

Sebelum lanjut jangan lupa beri dukungan author degan cari follow akun NovelToon author, favorit kan cerita ini, dan jangan lupa bintang lima nya yaa, vote, like dan komen semenarik mungkin, kritik dan saran di persilahkan selama masih dengan bahasa yang sopan yaaaa

YUKK DUKUNG TERUS BIAR SEMAKIN BERKEMBANG DAN BERLANJUT UNTUK CERITA KALI INI ❤️❤️

Author hanya ingin memberitahukan dalam penulisan ini nantinya mungkin ada salah ketik karena biasanya ada kata yang otomatis langsung berubah dalam penulisannya dan membuat readers membacanya bingung tetapi tenang saja akan author koreksi lagi sebelum upload atau kalau kurang teliti maka readers bisa komen di part nya ya atau setelah novel tamat akan author revisi keseluruhan, jadi author harap agar readers bisa memaklumi akan hal itu dan jika memberikan kritik diusahakan dengan kalimat yang sopan ya pasti bakalan author terima kritik sarannya selama itu baik untuk karya author.

BAB 2_Mama Kenapa?

Selama perjalanan pulang, Rayna tidak henti-hentinya mengumpat untuk Joel bahkan semua nama binatang sudah ia absen hanya untuk Joel semata.

"Dasar cowok kurang ajar, bisa-bisanya dia kayak gitu. Untung aja gue gak nikah sama dia, Tuhan aku itu maunya yang ganteng, tinggi, pinter, cuek tapi perhatian terus kaya pokoknya yang bisa memperbaiki keturunan mulai dari fisik sampai materi lah ya, apaan si Joel itu udah gak ganteng tapi sok banget, setidaknya ganteng dulu lah baru sok ngatur gitu," ucap Rayna.

Akhirnya tak lama, Rayna pun sampai di rumahnya dan saat masuk ke dalam rumah. Rayna tau apa yang terjadi apalagi saat ia melihat tatapan tajam sang mama, "Malam, Ma," sapa Rayna dengan senyum manisnya.

"Sekarang kenapa lagi? kenapa Joel gak mau lagi ketemu kamu dan dia bilang kalau kamu orangnya kasar, kamu gak mukul dia kan?" tanya mama Nindy.

"Astaga, Ma. Ya gak mungkin lah aku mukul dia, yang ada justru dia yang kasar, enak aja belum nikah udah ngatur-ngatur gitu," ucap Rayna lalu mengalir lah cerita Rayna tentang pertemuannya dengan Joel.

"Untung aja kamu gak suka sama dia, mama juga gak mau ya kalau sampai kamu sama dia," ucap mama Nindy.

"Nah kan makanya mama gak usah kenalin Rayna lagi," ucap Rayna mencoba mempengaruhi sang mama agar tidak menjodohkan dirinya lagi.

"Gak bisa, kamu gak usah khawatir mama bakal carikan lagi pasangan buat kamu. Kali ini harus berhasil," ucap mama Nindy dengan semangat nya kemudian masuk ke dalam kamar.

"Huh, gini banget sih hidup," gumam Rayna sudah sangat sengsara dengan perjodohan yang tidak ada henti nya itu, dia yang belum menikah saja santai tapi orang orang di sekitar nya yang begitu heboh yang sudah memandang bahwa wanita yang umur nya di atas 25 tahun belum menikah itu adalah aib.

Di dalam kamar, mama Nindy menghampiri sang suami yang sedang membaca buku di sofa kamar mereka.

"Pa," panggil mama Nindy.

"Kenapa, Ma?" tanya papa Erik heran melihat sang istri yang seperti nya begitu serius ingin berbicara kepada nya.

"papa gak kasihan lihat Rayna yang belum nikah padahal umurnya udah mau 30 tahun loh," ucap mama Nindy.

"Kan masih 28 Ma, kurang 2 tahun lagi 30 tahun, biarin lah dia nikmatin hidupnya dulu, dia pegawai bank dan kalau dia nikah otomatis harus berhenti," ucap papa Erik yang begitu mengerti dengan pemikiran anak jaman sekali.

Papa Erik juga tidak ingin memaksa siapa tahu Rayna masih ingin berkembang di dunia karier nya.

"Gak bisa gitu dong pa, mumpung belum 30 tahun harusnya dia udah nikah, nanti kalau dia umur 30 tahun susah pa buat nyariin jodohnya," ucap mama Nindy kesal dengan jawaban sang suami yang malah mendukung bahwa Rayna agar tidak segera menikah.

"Terus mau mama gimana? mama gak lihat gimana usaha mama buat kenalin Rayna ke beberapa pria dan akhirnya gagal kan gak ada yang berhasil," ucap papa Erik mulai membuat mama Nindy mengingatkan banyak nya cowok yang beliau kenalkan ke sang anak.

"Nah karena itu, mama minta bantuan papa," ucap mama Nindy sambil harap harap cemas.

"Bantuan apa?" tanya papa Erik mengerenyitkan dahi nya, beliau merasa ada yang tidak beres ini.

"Kan selama ini cowok yang mama kenalin ke Rayna itu cowok dari pihak mama, nah sekarang mama mau minta saran cowok yang mau dikenalin ke Rayna, mungkin papa ada kenalan entah itu anak rekan bisnis papa atau siapa gitu yang kayaknya cocok sama Rayna," ucap mama Nindy memohon sungguh papa Erik rasa begitu bimbang.

"Gak ada, Ma," jawab papa Erik tegas, dia tidak ingin membuat Rayna sengsara karena perjodohan yang dipaksa.

"papa inget-inget dulu lah, masa langsung gak ada sih," ucap mama Nindy.

"Ma, papa gak mau maksa Rayna buat nikah, papa siap nunggu sampai Rayna sendiri yang bilang kalau dia mau menikah dan mau dicarikan jodoh, kalau sekarang papa belum yakin dia bisa mengenal pria manapun," ucap papa Erik mencoba memberikan pengertian kepada sang istri.

"Tau ah papa gak asik, mama marah sama papa," ucap mama lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan membelakangi papa Erik.

Sedangkan papa Erik yang melihat tingkah laku istrinya hanya menggelengkan kepala, mau marah tapi istri yang begitu papa Erik cintai.

Pagi harinya, Rayna seperti biasa sarapan di meja makan bersama keluarganya, namun kali ini cukup berbeda karena tidak ada omelan dari mama Nindy membuat meja makan begitu sunyi sepi.

Bahkan mama Nindy hanya diam saja tanpa bersuara sedikitpun dan setelah selesai sarapan mama Nindy segera masuk ke dalam kamar seolah tidak menganggap mereka yang ada di meja makan.

"mama kenapa?" tanya Vania sang adik heran karena seperti bukan mama nya seperti biasa.

"Huhh kalian makan aja ya, untuk masalah mama biar papa yang urus," ucap papa Erik mencoba memberi pengertian kepada anak anak nya.

Rayna yang selesai menghabiskan sarapannya pun segera berangkat karena hari ini ia ada rapat, sedangkan Vania akan berangkat dengan papa Erik karena mereka searah.

Sesampainya Rayna di kantor, ia langsung dihadapkan dengan Hani yang sudah menunggu nya dari tadi.

"Aduh apa lagi sih, Han? aku sibuk banget loh habis ini ada rapat," tanya Rayna merasa malas sekali.

"Ini buat Ibrahim," ucap Hani dan memberikan minuman pada Rayna.

Rayna pun mengembalikan minumannya karena dia rasa hubungannya dengan Ibrahim tidak lebih dari rekan kerja, jadi jika Hani ingin mendekati nya bukan kah lebih baik dia sendiri yang berusaha.

"Kamu kasih sendiri ya, aku gak mau ikut-ikut sama urusan kamu, udah ya aku sibuk," ucap Rayna dan pergi meninggalkan Hani yang terlihat sedih karena Rayna tidak bisa lagi membantu nya.

Rayna sendiri bingung bagaimana bisa Hani diterima di bank tersebut pasalnya menurut Rayna sifat Hani ini kekanak-kanakan dan tidak disiplin.

Namun, jika mengingat keluarga Hani maka Rayna akan memakluminya, bagaimana tidak Ayahnya salah satu petinggi bank tersebut dan Ibunya Direktur bank, paket komplit sekali bukan.

"Rayna," panggil Ibrahim dengan terburu-buru mendekati Rayna.

"Ada apa?" tanya Rayna jengah sekali rasanya.

"Rapatnya kayaknya gak jadi deh," ucap Ibrahim.

"Kenapa? aku udah siapin materinya," ucap Rayna sedikit kesal karena kerja kerasnya semalam suntuk malah harus batal.

"Bukan itu, tapi data bank masih eror dan lagi di perbaiki jadi kita belum bisa masuk mbanking nya," ucap Ibrahim.

"Oh gitu, yaudah aku ke ruangan dulu," ucap Rayna dan di angguki Ibrahim.

Sore harinya, Rayna sudah selesai dengan pekerjaannya dan ia pun segera pulang, namun saat ia pulang suasana begitu hening tidak ada raungan mama Nindy.

"mama mana Van?" tanya Rayna heran sekali melihat rumah sepi.

"Gak tau Kak, dari Vania pulang sampai sekarang mama gak kelihatan, kamar juga di kunci," ucap Vania sambil terus melihat ke arah hp nya.

"mama kok aneh," ucap Rayna namun dia tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah sekali.

Disisi lain papa Erik yang baru saja datang dan melihat kamar terkunci pun segera membukanya dengan kunci cadangan dan berhasil terbuka nya, papa Erik melihat mama Nindy yang merebahkan tubuhnya dan membelakanginya, jujur saja papa Erik merasa bersalah karena sudah menolak permintaan mama Nindy kemarin, namun papa Erik juga serba salah sekali.

"Ma," panggil papa Erik dan tidak ada respon dari mama Nindy.

papa Erik menghela napas panjang, susah memang kalau harus menghadapi mood wanita.

"Yaudah, papa bakal coba kenali Rayna sama anaknya rekan papa," ucap papa Erik akhirnya pasrah dari pada sang istri terus mendiami nya.

Dan ya perkataan papa Erik seolah sebagai udara penyejuk bagi mama Nindy, mama Nindy segera bangkit dan menghampiri papa Erik di sofa.

"papa beneran?" tanya mama Nindy begitu antusias, sungguh 180 derajat sekali.

"Iya papa serius, papa cari dulu tapi karena papa gak mau kenalin pria sembarangan untuk Rayna," ucap papa Erik menekankan pria sembarangan karena selama ini sang istri terus mencari pria sembarangan kepada sang anak.

"papa emang keren, gitu loh maksud mama itu kan kalau gini mama jadi bahagia," ucap mama Nindy dan memeluk papa Erik.

"Tapi mama jangan kayak tadi, papa gak tega lihat anak-anak kalau mama bersikap kayak tadi," ucap papa Erik memberikan nasihat kepada sang istri.

"Siap pa, sayang papa." ucap mama Nindy dan mengeratkan pelukannya.

Meskipun enggan untuk mengenalkan Rayna, mau tidak mau papa pun akan berusaha mencari yang terbaik.

.

.

Bersambung..........

Jangan lupa follow akun author, favorit kan cerita ini, vote, like, komen dan gift nya juga boleh biar tambah semangat buat nulis nihhh....

Ditunggu ulasan dan bintang 5 nya yaaa

FOLLOW IG AUTHOR : @LALA_SYALALA13

BAB 3_Dandan Yang Cantik

Setelah satu minggu Papa Erik mengatakan akan mengenalkan Rayna pada anak rekan kerjanya, namun tidak ada kemajuan bahkan Papa Erik belum membahasnya pada Mama Nindy.

"Pa, Papa ini serius gak sih ngenalin Rayna sama anak rekan kerjanya Papa?" tanya Mama Nindy merasa kesal dengan sang suami.

"Papa serius Ma," ucap Papa Erik dengan serius.

"Kalau serius kenapa sampai sekarang kok belum ada cowoknya?" tanya Mama Nindy.

"Belum ada yang cocok ma, Kita sebagai orangtua itu harus selektif memilih pasangan buat anak kita." ucap Papa Erik menasehati sang istri.

"Masa Papa gak ada sama sekali pandangan gitu?" tanya Mama Nindy penuh selidik.

"Sebenarnya Papa ada beberapa pria yang ingin Papa kenalkan pada Rayna, tapi Papa gak tau kira-kira yang mana yang baik untuk Rayna," ucap Papa Erik masih bingung, papa Erik lebih memiliki menangani para klien yang banyak request dari pada harus memikirkan hal ini.

"Papa gak usah khawatir, Mama yang akan melakukan seleksi ke pria-pria yang Papa pilih," ucap Mama Nindy dan di angguki Papa Erik karena bagaimanapun papa Erik tidak ada kendali jika sudah berhubungan dengan sang istri.

Papa Erik sudah belajar dari kesalahan yang ia lakukan sebelumnya karena harusnya menentang pendapat sang istri hingga akhirnya ia memilih setuju dengan keinginan sang istri.

Mama Nindy saat ini tengah memandang 4 pria yang akan ia seleksi untuk mendampingi Disha.

"Mama udah cocok yang mana?" tanya Papa Erik penasaran dengan penilaian sang istri.

"Kayaknya yang ini deh pa, tapi dia kaya kan?" tanya Mama Nindy yang memang tidak tau latar belakang pria yang baru saja Mama Nindy pilih.

"Yang jelas tidak perlu khawatir soal dia kaya atau gak, tapi kali ini Papa setuju kalau dia yang akan di kenalkan dengan Rayna," ucap Papa Erik.

"Dia nya mau gak ya sama Rayna?" tanya Mama Nindy malah meremehkan anak nya sendiri.

"Dia pasti mau, percaya sama Papa," ucap Papa Erik dan tersenyum setelah mengatakan hal itu.

...****************...

Waktu terus berlalu dan Rayna sangat bersyukur karena Mama Nindy sudah tidak lagi menanyakan pada Rayna mengenai pasangan dan itu adalah sebuah keajaiban.

Saat ini Rayna sudah berada di meja makan dan akan segera berangkat.

"Ray, nanti kamu pulang awal ya jangan lembur," ucap Mama Nindy mewanti-wanti sang anak.

"Kenapa emangnya, Ma?" tanya Rayna dengan heran karena tidak pernah mama bilang seperti itu kecuali ada sesuatu namun Rayna masih belum sadar.

"Gapapa, mama cuma bilang aja, kamu akhir-akhir ini lembur terus jadinya mama gak tega lihatnya," ucap Mama Nindy dan Rayna antara percaya tidak dengan Mama Nindy.

"Yaudah, nanti Rayna usahakan deh," ucap Rayna.

Rayna pun berangkat, dalam perjalanan tiba-tiba mobilnya tidak bisa di nyalakan, untung saja Rayna sudah menepikan mobilnya sehingga ia tidak perlu khawatir.

"Kenapa ini mobilnya," gumam Rayna dan memeriksanya.

Namun, Rayna tidak tau apa yang terjadi pada mobilnya dan ia pun memilih untuk mencari kendaraan yaang lewat disana dan menumpang, tapi sayangnya jalanan begitu sepi. "Kok gak ada kendaraan yang lewat ya, haduh pasti telat deh kalau gini," gumam Rayna.

Setelah 15 menit disana, Rayna pun menghubungi Hani jika mobilnya mogok. Tak lama setelah itu, sebuah motor berhenti di depan mobilnya dan turun seorang pria, lalu pria itu membuka helmnya yang membuat Rayna terpesona dengan wajah tampan pria itu.

'Gila, ganteng banget. Ibrahim aja kalah,'

"Mobilnya mogok Mbak?" tanya pria tersebut.

"Ah, iya Mas. Mobil saya mogok," jawab Rayna.

Pria itupun memeriksa mobil Rayna, "Kayaknya harus di bawa ke bengkel Mbak, lebih baik Mbak telepon orang bengkel," ucap pria tersebut.

"Saya gak tau telepon orang bengkel Mas, emang parah banget ya Mas?" tanya Rayna.

"Iya, kalau gitu saya hubungi temen saya aja Mbak nanti biar temen saya yang urus mobil Mbak, sekarang Mbak mau berangkat kerja? biar saya antar kayaknya jalanan disini sepi," ucap pria tersebut.

Rayna ragu untuk menerima tawaran pria tersebut, tapi ia tidak mungkin diam saja saat ini dan mau tidak mau Rayna menerima tawaran pria itu.

"Gapapa, Mas?" tanya Rayna.

"Gapapa, Mbak," ucap pria tersebut.

Rayna mengambil tasnya dan menaiki motor yang di kendarai pria tersebut, motor melaju membelah jalanan hingga tak lama mereka pun sampai di tempat kerja Rayna.

"Makasih ya Mas," ucap Rayna yang sampai dengan selamat di kantornya.

"Iya, Mbak. Untuk mobilnya ini nomor bengkelnya, Mbak bisa hubungi bengkelnya soal mobil Mbak," ucap pria tersebut.

"Makasih ya Mas," jawab Rayna dan mengambil kartu nama yang diberikan pria tersebut.

Krena terlalu fokus pada kartu nama tersebut, Rayna tidak menyadari jika pria di hadapannya sudah pergi,

"Lah dia udah pergi, aku belum tanya namanya siapa," gumam Rayna.

Sore harinya, Rayna sudah pulang karena Mama Nindy yang terus saja meneror Rayna untuk segera pulang. "Akhirnya kamu pulang juga," ucap Mama Nindy.

"Astaga, Ma. Sabar, Ma. Rayna udah pulang loh ini," ucap Rayna.

"Yaudah, sekarang kamu mandi dulu terus ganti baju, Mama udah siapin baju buat kamu," ucap Mama Nindy dengan senyum cerianya.

"Emang kita mau kemana, Ma? kenapa Rayna harus pakai baju yang disiapin Mama?" tanya Rayna.

"Gak ada apa-apa, hari ini kita mau makan malam keluarga aja di luar. Udah kamu gak usah tanya lagi, kamu ke kamar an mandi lalu ganti baju dan dandan yang cantik," ucap Mama Nindy.

Rayna yang melangkahkan kakinya ke kamar pun menatap curiga pada sang Mama, "Udah kamu ke kamar dan siap-siap ya," ucap Mama Nindy.

Rayna pun masuk ke dalam kamar dengan curiga dan ia melihat baju yang disiapkan Mama Nindy, "Kenapa Mama milihin dress gini? pasti ada sesuatu, huh Mama ini gak bakal berhenti buat jodohin aku deh. Emang belum nikah itu aib ya, dari pada udah nikah terus cerai," gumam Rayna.

Setelah semuanya siap, keluarga Rayna pun akhirnya pergi ke sebuah restoran cukup terkenal di kota itu. "Ma, kok makan malamnya di restoran ini sih, bukannya mahal ya disini?" tanya Rayna.

"Gapapa, kita kesini aja, sesekali gitu loh Kak," jawab Mama Nindy.

"Pa," panggil Rayna.

"Udah ikutin aja mau Mama kamu," ucap Papa Erik dan diangguki Rayna.

Rayna semakin merasa aneh karena Mama Nindy justru menghampiri meja yang disana sudah ada yang tempati dimana terdapat pasangan suami istri seumuran Papa Erik dan Mama Nindy, lalu ada seorang pria yang Rayna lihat masih muda.

"Halo jeng, maaf ya lama. Tadi nunggu Rayna dandan dulu," ucap Mama Nindy pada wanita tersebut.

"Iya, gapapa, jeng. Ini Rayna ya?" tanya wanita itu dengan menunjukan Rayna.

"Iya, dia Rayna," ucap Mama Nindy.

"Wah cantik ya ternyata, oh iya kamu pasti belum kenal Tante ya. Nama Tante Melody panggilnya Mama aja ya jangan Tante," ucap Mama Melody.

"I-iya, Tante eh Mama," ucap Rayna dengan senyum canggungnya.

'Pasti Mama punya rencana lagi ini, aduh aku malu banget. Ini udah jauh banget, sampai harus makan malam gini, masa calonku dia sih. Masih muda gitu, kayaknya juga masih sekolah, ya kali aku sama dia,'

.

.

Bersambung..........

Jangan lupa follow akun author, favorit kan cerita ini, vote, like, komen dan gift nya juga boleh biar tambah semangat buat nulis nihhh....

Ditunggu ulasan dan bintang 5 nya yaaa

FOLLOW IG AUTHOR : @LALA_SYALALA13

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!