NovelToon NovelToon

Summer With You

Episode 1

...ೋ❀❀ೋ═══ ❀ ═══ೋ❀❀ೋ...

"Sekarang aku masih di jalan… Mm, baru pulang kantor… Aku juga tahu sekarang sudah jam sepuluh… Ya, jam sepuluh lewat delapan belas menit. Terserahlah."

Sheryn melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan kecil putih. Ia mengembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening.

Saat ini orang terakhir yang tidak ingin diajaknya bicara adalah Han Eunho, tapi laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.

"Eunho, sudah dulu ya? Aku lelah sekali,"

Sheryn menyela ucapan Han Eunho dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal.

Kenapa hari ini muncul banyak masalah yang tidak menyenangkan? Tadi pagi ia sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, kemudian diomeli atasannya dan akhirnya harus lembur sampai selarut ini.

Sheryn semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari. Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia mengembuskan napas panjang.

Ini bukan pertama kalinya Sheryn harus bekerja sampai larut malam, tapi hari ini ia sudah memutuskan akan berhenti bekerja untuk perancang busana itu. Pekerjaannya sungguh-sungguh memakan waktu dan tenaga sehingga tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari. Ia berhenti melangkah dan mendesah.

"Bisa gila aku," gumamnya pada diri sendiri.

Sheryn memandang sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim panas di ibukota Korea Selatan yang menakjubkan itu.

Meskipun sudah bertahun-tahun menetap di Seoul, Sheryn masih terkagum-kagum pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun jalanan masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu-lalang.

Aroma makanan tercium dari restoran Jepang di depan sana, lagu disko terdengar samar-samar dari toko musik di sampingnya, suara orang-orang yang berbicara, berteriak, dan tertawa. Tiba-tiba Sheryn merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya berhenti pada toko makanan kecil di seberang jalan.

Setelah merenung sesaat,ia mengangguk dan bergumam, “Baiklah,” seolah menyerah pada perdebatan yang dia lakukan seorang diri.

Sheryn menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko itu. Setelah memberi salam kepada bibi pemilik toko yang sudah lama dikenalnya, Sheryn langsung berjalan ke rak keripik.

"Nah, Hae-jin,ada masalah apa lagi di kantor?" tanya bibi pemilik toko setelah melihat lima bungkus besar keripik kentang yang diletakkan Sheryn di meja kasir.

Sheryn tersenyum malu. "Ah, tidak ada. Saya hanya sedikit stres.” Ia membuka tas tangannya dan mencari dompet. Ke mana dompet itu?

"Sebentar, Bibi. Saya yakin sekali sudah memasukkan dompet tadi…"

Sheryn mengaduk-aduk isi tas tangannya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke meja kasir. Kini, selain lima bungkus keripik kentang, di sana ada sisir kecil, buku kecil yang agak lusuh, bolpoin yang tutupnya sudah hilang, bedak padat, lipgloss, kunci, payung lipat, tiga keping uang logam, saputangan putih, ponsel, dua lembar struk belanja yang sudah kusam, bungkus permen kosong, dan jepitan rambut.

"Kenapa tidak ada?" Sheryn bergumam sendiri sambil terus mencari.

Ketinggalan di rumah? Berarti seharian ini ia tidak menyadari ia tidak membawa dompet. Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Sheryn melirik ponselnya yang tergeletak di meja kasir. Oh, bukan ponselnya yang berbunyi.

"Kau sudah sampai di rumah? … Ya, sebentar lagi aku ke sana." Sheryn menoleh ke arah suara bernada rendah itu.

Suara itu milik pria bersetelan putih yang berdiri di belakangnya. Rupanya bunyi tadi adalah bunyi ponsel pria tersebut. Sekarang Sheryn melihat orang itu menutup ponsel dan memasukkannya ke saku celana panjangnya. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi lima botol soju.

Pria berkacamata itu masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, wajahnya tampan dan penampilannya rapi sekali seperti seseorang yang mempunyai kedudukan penting di perusahaan besar.

Pria itu memandang Sheryn, lalu tersenyum ramah. O-oh. Baru pertama kali Sheryn melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat…

Sheryn menggeleng untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian pada barang-barangnya yang berserakan di meja kasir.

Tiba-tiba Sheryn merasa tangannya ditepuk-tepuk. Ia mengangkat wajahnya dan melihat bibi pemilik toko sedang tersenyum kepadanya dan berkata, "Hae-jin, bagaimana kalau tuan itu membayar belanjaannya duluan?"

Sheryn memandang bibi pemilik toko, lalu berpaling ke arah pria yang berdiri di belakangnya. "Oh, ya. Maaf." Sheryn menyingkir ke samping dan pria itu melangkah maju.

"Berapa?" tanya pria itu sambil meletakkan keranjang yang dipegangnya di meja. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel lagi.

Kepala Sheryn mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Ia sudah sangat lelah dan sekarang bunyi ponsel pria itu nyaris membuatnya lepas kendali.

Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan meliriknya sekilas. Lalu ia meletakkan ponsel itu di meja dan merogoh saku yang sebelah lagi. Ia mengeluarkan ponsel yang berbeda, ternyata ponsel yang kedua itulah yang sedang berbunyi nyaring.

"Astaga, cepat jawab teleponnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing, kenapa harus punya dua?" pikir Sheryn sambil memijat-mijat pelipisnya.

Pria itu membayar belanjaan sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu. Tiba-tiba ia berbalik dan mengambil ponsel satu lagi yang tadi diletakkan di meja kasir.

"Maaf," gumamnya sambil tersenyum kepada bibi pemilik toko dan Sheryn.

Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun. Tunggu, kata-kata apa itu tadi? Sheryn memejamkan matanya kuat-kuat dan ketika ia membuka mata kembali, pria itu sudah berjalan ke luar dan masuk ke mobil sedan putih yang diparkir di depan toko.

Karena Sheryn tetap tidak bisa menemukan dompetnya, bibi pemilik toko mengizinkannya membayar besok. Sheryn mengumpulkan kembali barang-barangnya yang berserakan di meja kasir sambil berkali-kali membungkukkan badan dalam-dalam sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf. Begitu keluar dari toko, Sheryn langsung membuka sebungkus keripik dan mulai makan.

“Sekarang pulang ke rumah,” katanya pada dirinya sendiri.

Selesai berkata begitu, ponselnya berbunyi. Saat itu juga ia mengutuk hari ponsel diciptakan. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab ponselnya karena merasa harus menghemat tenaga untuk perjalanan pulang, tapi benda tidak tahu diri itu terus menjerit minta diangkat.

Akhirnya Sheryn menyerah dan mengaduk-aduk tasnya dengan ganas untuk mencari ponsel sialan itu sebelum ia sendiri yang bakal menjerit histeris di tengah jalan.

"Haaloo!" Sheryn ingin marah, tapi suaranya malah terdengar putus asa. Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?

"Halo? Siapa ini? Silakan bicara… Halo? HALOO?" Sheryn baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang ragu-ragu di seberang sana.

"Maaf… bukankah ini ponsel Choi Daehyun?"

"Siapa lagi orang ini?," pikir Sheryn

“Anda salah sambung. Ini ponsel Lee Hae-jin,” ujar Sheryn ketus dan langsung menutup flap ponselnya dengan keras. Sheryn menatap ponselnya sambil menggigit bibir penuh rasa dongkol.

“Tidak bisakah kau biarkan aku tenang sedikit?” Ia baru akan mencabut baterai ponsel itu ketika ia merasa harus menelepon ibunya untuk memberitahu ia akan segera sampai di rumah.

Walaupun Sheryn tinggal di Seoul dan orangtuanya di Jakarta, mereka sering menelepon dan mengecek keberadaannya. Tadi ibunya malah sudah sempat menelepon untuk menanyakan kenapa Sheryn belum sampai di rumah.

Ia membuka ponselnya kembali dan menekan angka satu yang akan langsung terhubung ke rumah orangtuanya di Jakarta, tapi ia heran ketika melihat tulisan yang tertera di layar ponselnya setelah ia menekan angka itu.

Bukan tulisan "Rumah Jakarta" yang tertera seperti biasa, tapi nama "Park Hyun-Shik" Sheryn cepat-cepat memutuskan hubungan dan tertegun.

Sheryn memerhatikan ponsel yang dipegangnya. Memang itu ponsel miliknya, setidaknya bentuk dan warnanya sama persis dengan ponsel miliknya. Ia membuka daftar telepon di ponselnya dan melongo melihat nama-nama yang tidak dikenalnya. Otaknya yang sudah lelah dipaksa berpikir.

Tadi di toko bibi itu, semua barangnya berserakan di meja kasir, termasuk ponselnya. Ketika ponsel milik pria yang berdiri di belakangnya tadi berbunyi untuk pertama kali, ia mengira ponselnya sendiri yang berbunyi karena dering ponsel mereka sama.

Episode 2

...ೋ❀❀ೋ═══ ❀ ═══ೋ❀❀ೋ...

Choi Daehyun membuka tutup botol itu dan meneguk isinya. “Aku dibilang gay.” Daehyun tertawa pahit.

"Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu? Memangnya sikapku seperti wanita? Atau aku pernah terlalu dekat dengan pria? Katakan padaku, hyung¹. Jangan-jangan selama ini hyung juga berpikir seperti mereka"

¹hyung: pangggilan dari adik laki-laki untuk kakak laki-laki dalam bahasa Korea

Park Hyun-Shik duduk di kursi di hadapan Daehyun, ikut meneguk soju langsung dari botolnya. "Kau tahu aku tidak pernah berpikir seperti itu," ujarnya tenang.

“Masalahnya, tabloid dan majalah memang suka mencari berita. Kau juga tahu mereka sering menulis artikel yang tidak-tidak. Kau tanya padaku kenapa mereka bisa berpikir kau gay? Mungkin karena selama ini kau tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun di depan publik.”

Choi Daehyun mengangkat bahu. "Kalau begitu, terserah mereka mau berpikir apa. Kalau kita tidak menanggapinya, gosip itu tentu akan mereda sendiri.”

Park Hyun-Shik menggeleng. “Dua minggu lagi album barumu akan diluncurkan. Aku takut rumor ini bisa memengaruhi penjualan albummu nantinya. Satu gosip bisa menimbulkan gosip-gosip lain. Bahkan masalah lama juga bisa diungkit-ungkit. Produsermu tidak akan senang. Ditambah lagi, bagaimana dengan para penggemarmu? Apa yang akan mereka pikirkan? Kau bisa kehilangan pasar"

Choi Daehyun mendongak menatap langit-langit dan mengembuskan napas berat.

“Lalu bagaimana?”

Park Hyun-Shik meneguk minumannya lagi dan berkata, “Untuk masalah gosip gay itu, kurasa sudah saatnya bagimu untuk memperkenalkan seorang wanita kepada publik.”

Kepala Daehyun berputar cepat ke arah Park Hyun-Shik. “Apa?”

“Sederhana saja. Kenapa kau tidak mulai pacaran?” usul Park Hyun-Shik langsung.

"Apa?!" suara Daehyun agak keras saking terkejutnya.

Park Hyun-Shik tidak memandang Daehyun dan melanjutkan dengan nada serius, “Yang penting jangan berpacaran dengan artis. Bisa jadi skandal. Terlalu berisiko. Kita juga tidak bisa segera membuat pengumuman resmi kepada wartawan bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan wanita karena mereka pasti curiga dan akan menduga itu hanya sandiwara untuk mengelak dari gosip gay.”

Park Hyun-Shik mengerutkan kening dan tenggelam dalam pikiran. Akhirnya ia menoleh dan mendapati Daehyun sedang menunggu hasil renungannya.

“Baiklah,” katanya sambil tersenyum.

"Kita misalkan saja bahwa sebenarnya kau punya kekasih tapi kekasihmu tidak bersedia diekspos, jadi kau terpaksa merahasiakan hubungan kalian. Dengan begitu, tidak ada yang tahu siapa wanita itu dan tidak ada yang pernah melihatnya"

Daehyun mengerutkan kening karena bingung. “Tidak ada yang pernah melihat dan tidak ada yang tahu. Apa untungnya begitu Orang-orang tidak akan percaya pada sekadar kata-kata belaka.”

“Tapi kita bisa memberikan bukti.”

“Bukti apa?”

“Foto dirimu bersama wanita itu.”

“Wanita yang mana?”

“Wanita yang menjadi kekasihmu.”

“Kekasih yang mana?”

“Semua bisa diatur kalau memang kau mau.”

“Maksudnya?”

Senyum Park Hyun-Shik bertambah lebar. “Kita cari wanita yang tidak dikenal siapa pun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu memamerkannya di depan wartawan. Beres, bukan?”

Daehyun merenung, lalu berkata, “Bagaimana kalau wartawan mulai menyelidiki asal-usul wanita itu? Lagi pula di mana kita cari wanita yang bersedia dan bisa dipercaya untuk diajak bekerja sama? Masa dipilih sembarangan?”

Park Hyun-Shik meneguk soju-nya lagi dan menatap Daehyun. Temannya itu tampak mempertimbangkan usulnya dengan ekspresi sangat cemas. Alisnya berkerut, sesekali ia menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa saat, Daehyun mendesah dan melanjutkan, “Wanita yang seperti apa yang akan kita pilih? Boleh aku pilih sendiri?Atau kita pilih saja wanita pertama yang berjalan melewati pintu itu?” Ia menunjuk pintu depan rumahnya dengan dagu.

Tawa Park Hyun-Shik meledak. Daehyun menatapnya dengan pandangan bingung.

“Hyung, ada apa?” Park Hyun-Shik mendorong pelan bahu Daehyun. “Astaga, Daehyun. Aku hanya bercanda. Kenapa kau serius begitu?”

“Apa?!” Daehyun sedikit berteriak.

Park Hyun-Shik menggeleng-geleng. “Aku hanya bercanda soal usul tadi. Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Pasti ada jalan keluarnya.”

Daehyun mendengus, lalu tertawa kecil. “Ah, pusing! Aku mau keluar jalan-jalan sebentar. Hyung mau ikut?” kata Daehyun sambil merebahkan kepala di sandaran sofa dan memandang langit-langit ruang duduk. Park Hyun-Shik mengangkat bahu.

“Oke.” Daehyun mengayun-ayunkan botol soju yang sedang dipegangnya, lalu bertanya, “Oh, Hyung, ponselku sudah diperbaiki belum"

Park Hyun-Shik mengeluarkan ponsel dan mengulurkannya kepada Daeyhun. Tibatiba ia teringat pada telepon yang diterimanya dalam perjalanan ke rumah Tae-Woo tadi. Wanita yang mengaku bernama Lee Hae-jin itu berkata ponsel mereka tertukar.

Karena ia sendiri tidak bisa kembali mengambilnya, Park Hyun-Shik meminta wanita itu datang ke rumah Jung Daehyun.

Mungkin permintaannya agak keterlaluan karena bagaimanapun tertukarnya ponsel mereka bukan salah wanita itu, tapi apa boleh buat.

Jung Daehyun sedang uring-uringan dan kalau sedang uring-uringan, ia tidak suka menunggu lama. Ia baru akan menceritakan hal ini kepada Daehyun ketika bel pintu berbunyi.

“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumam Daehyun heran.

.

.

.

.

.

.

Sheryn benar-benar tidak mengerti kenapa hari ini ia sial sekali. Mungkin begitu sampai di rumah ia harus cepat-cepat mandi kembang tujuh warna seperti yang pernah diajarkan ibunya, apa pun untuk mengguyur hingga tak bersisa segala kesialan.

Sekarang ia berdiri di depan pintu rumah besar berwarna putih. Pria yang katanya bernama Park Hyun-Shik menyuruhnya kemari untuk mengambil ponselnya yang tertukar.

Sheryn jengkel. Kenapa ia yang harus datang, bukankah orang itu yang duluan mengambil ponsel yang salah? Ia bahkan sampai harus meminjam uang dari bibi pemilik toko supaya bisa naik bus, ditambah harus berjalan kaki untuk sampai di kawasan perumahan elite ini.

Sheryn kembali menghembuskan napas. Sudahlah, tidak apa-apa. Hal terpenting sekarang adalah mendapatkan ponselnya kembali. Setelah ini ia bakal bisa bergegas pulang. Hari sudah semakin larut dan ia sudah menguap empat kali dalam lima belas menit terakhir.

Pintu terbuka dan Sheryn mengenali wajah pria yang membuka pintu itu. Ia pria yang ada di toko tadi. Walaupun agak sulit, Sandy memaksakan seulas senyum sopan. Pipinya terasa agak kaku, tapi ia berharap senyumnya terlihat normal.

“Apa kabar? Saya Lee Hae-jin yang tadi menelepon. Saya ingin mengembalikan ponsel Anda. Ini.” Sheryn mengulurkan tangannya yang memegang ponsel.

“Oh, terima kasih banyak,” kata pria itu ramah.

“Saya benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan. Silakan masuk. Ponsel Anda ada di dalam.”

Sebenarnya Sheryn tahu ia tidak boleh masuk ke rumah pria yang tidak ia kenal, apalagi pada jam selarut ini. Tapi otaknya sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya dan ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah supaya bisa pulang ke rumah dan tidur. Lagi pula pria itu kelihatannya sangat baik.

Sheryn melangkah masuk dan membiarkan dirinya dibawa ke ruang duduk luas dengan perabotan mewah. Di sofa panjang yang mendominasi ruang tamu itu duduk laki-laki yang sedang berbicara di telepon. Wajahnya tampan, potongan rambutnya bagus dan rapi, walaupun Sheryn pribadi tidak terlalu suka dengan warna rambut yang agak pirang. Ia merasa pernah melihat laki-laki itu. Tapi di mana ya?

“Mungkin Anda salah sambung,” Sheryn mendengar pria itu berkata di ponselnya.

“Tidak ada yang namanya Lee Hae-jin atau Sheryn di sini.”

Sheryn menatap Park Hyun-Shik dengan pandangan bertanya sambil menunjuk ke arah ponsel yang sedang dipegang laki-laki tampan di sofa itu.

“Ya, itu ponsel Anda,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum kecil.

Laki-laki yang duduk di sofa masih sibuk sendiri, tidak menyadari kedatangan Sheryn. Keningnya tampak berkerut sebal. Ia berkata dengan nada agak marah. “Maaf, Lee Hae-jin ssi², saya benar-benar tidak mengenal Anda. Saya juga tidak kenal Han Eunho Bagaimana saya bisa meminta dia menjawab telepon? Anda salah sambung.” Selesai berkata seperti itu, laki-laki itu menutup flap ponselnya dengan keras.

²Partikel dalam bahasa Korea untuk menyatakan rasa hormat.

“Orang aneh,” ia menggerutu sendiri.

“Hei…,” Sheryn mendengar Park Hyun-Shik memanggil laki-laki itu.

“Ponsel itu milik nona ini.”

Laki-laki di sofa itu berpaling ke arah Park Hyun-Shik, lalu ke arah Sheryn. Ketika mata mereka bertemu, Sheryn baru sadar siapa laki-laki itu.

Choi Daehyun agak bingung mendengar penjelasan Park Hyun-Shik. Pandangannya berpindah-pindah dari sang manajer ke gadis yang berdiri di hadapannya, lalu kembali ke manajernya lagi.

Secara sekilas, ia mengamati orang asing yang sekarang ada di ruang tamunya itu: gadis bertubuh kecil dengan rambut di urai dan tangan menjinjing kantong plastik besar serta tas tangan. Raut wajahnya terlihat kusam, lelah, dan pucat. Gadis itu diam tak bersuara sementara Park Hyun-Shik menjelaskan apa yang sudah terjadi.

“Oh, jadi ini ponsel Anda?” tanya Tae-Woo sambil bangkit dari sofa. Ia mengulurkan ponsel yang sedang dipegangnya.

“Itu… tadi—siapa namanya, maaf, saya lupa—menelepon mencari Lee Hae-jin atau Sheryn Anda sendiri Lee Hae-jin atau Sheryn?”

Gadis itu tersenyum samar dan menjawab, “Dua-duanya nama saya."

Tiba-tiba ponsel itu berbunyi dan membuat Daehyun tersentak kaget. “Silakan dijawab,” katanya cepat. Sheryn menerima ponsel itu dan langsung membuka flap-nya. “Halo?”

Kemudian Daehyun dan Park Hyun-Shik tertegun ketika mendengar gadis itu berbicara dalam bahasa asing. Daehyun yakin percakapan tersebut bukan dalam bahasa Inggris ataupun Jepang karena ia menguasai kedua bahasa itu.

Entah bahasa apa yang sedang dipakai gadis itu, pokoknya ia berbicara lancar sekali. Daehyun menoleh ke arah manajernya untuk bertanya dan sebagai jawaban Park Hyun-Shik menggeleng. Percakapan itu tidak berlangsung lama.

Setelah menutup telepon si gadis memandang Park Hyun-Shik dan Daehyun bergantian dengan sikap serba salah. Sambil tersenyum kaku ia berkata, “Ehm, terima kasih banyak. Saya pulang dulu.”

“Tunggu,” Park Hyun-Shik menyela. Gadis itu memandangnya tanpa ekspresi.

“Kalau boleh tahu, yang tadi itu bahasa apa?”

“Bahasa Indonesia,” jawab gadis itu langsung.

“Oh, begitu.” Park Hyun-Shik tersenyum dan mengangguk-angguk karena sepertinya gadis itu tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.

“Anda bisa berbahasa Indonesia rupanya.”

“Saya permisi,” kata gadis itu lagi sambil beranjak ke pintu.

“Sebentar,” Park Hyun-Shik kembali menahan gadis itu. Ia memandang Daehyun sekilas, lalu kembali memandang gadis itu.

“Anda tidak datang dengan mobil, bukan? Tadi saya lihat tidak ada mobil di luar. Begini saja, kebetulan kami juga mau keluar. Bagaimana kalau Anda kami antar? Saya merasa tidak enak karena Anda harus mengantar ponsel itu kemari.”

Gadis itu tersenyum kaku dan menggoyang-goyangkan sebelah tangannya. “Tidak usah. Saya bisa naik bus.”

“Kami bisa mengantar Anda ke halte bus,” timpal Daehyun. Ia tidak yakin gadis itu bisa pulang sendiri karena bila dilihat dari keadaannya sekarang, gadis itu sepertinya bisa jatuh pingsan kapan saja.

“Anggap saja sebagai tanda terima kasih sekaligus tanda maaf dari kami.”

Gadis itu memandang mereka berdua bergantian dengan matanya yang besar. Raut wajahnya tampak bimbang. Sepertinya otaknya sedang berputar, mencari cara untuk menolak tawaran itu. Daehyun bisa memahaminya. Seorang gadis yang langsung bersedia diantar dua pria tidak dikenal sudah pasti gadis yang tidak beres.

“Tidak usah khawatir. Kami tidak akan macam-macam. Percayalah,” kata Daehyun sambil tersenyum lebar, walaupun ia tahu pasti kalimat itu terdengar tidak terlalu meyakinkan.

“Oh, bukan. Saya tidak bermaksud begitu,” kata gadis itu sambil menggoyang-goyangkan tangannya lagi.

“Ayo, biar kami antar sampai ke halte bus,” sela Daehyun sambil meraih kunci mobil manajernya yang ada di meja. Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik.

“Hyung, kita pakai mobilmu saja, ya?”

Sepanjang perjalanan gadis itu lebih banyak diam. Bila diajak bicara, ia hanya menjawab seperlunya. Daehyun melirik manajernya yang sedang menyetir dan melirik ke kaca spion untuk mencuri pandang ke kursi belakang.

Gadis itu duduk bersandar dan memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Daehyun ingin tahu apa yang membuat gadis itu terlihat begitu lelah. Tiba-tiba gadis itu membuka suara, “Saya turun di depan sini saja.”

Choi Daehyun membalikkan tubuhnya sedikit supaya bisa melihat gadis itu. “Di sini saja? Yakin tidak mau kami antar sampai di rumah?”

“Benar, kami tidak keberatan,” Park Hyun-Shik menambahkan.

Gadis itu menyunggingkan seulas senyum yang terkesan dipaksakan. “Tidak usah. Berhenti di sini saja.”

Park Hyun-Shik menghentikan mobilnya di tepi jalan, di dekat halte bus.

“Terima kasih,” kata gadis itu sambil keluar dari mobil.

“Selamat malam.” Ketika gadis itu membungkuk untuk memberi salam kepada mereka berdua, Park Hyun-Shik menurunkan kaca mobil dan bertanya, “Nona Lee Hae-jin, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah Anda mengenal teman saya ini?”

Daehyun menyadari manajernya sedang menunjuk ke arahnya. Lee Hae-jin mengerjapkan matanya sekali, lalu mengangguk. “Orang ini? Choi Daehyun, bukan? Choi Daehyun yang penyanyi itu?”

Lalu seakan baru menyadari sesuatu, ia memandang Daehyun dan berkata, “Lagu Anda… lagu Anda… bagus.”

Episode 3

...ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ ʚ♡ɞ...

Sheryn yang duduk bersila di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuh menatap bingung Kang Young-Mi yang duduk di sampingnya. Temannya yang bermata sipit dan berambut lurus panjang tergerai melewati bahu itu balas menatap Sandy dengan kedua tangan terlipat di dada.

“Aku tidak percaya kau hanya bisa berkata begitu. Kenapa tidak minta tanda tangannya?” Na Minjie melanjutkan dengan nada menuduh.

Sheryn mengerang. “Mungkin karena kemarin aku sedang kesal dan lelah… dan lumpuh otak.” Ia memegang pipinya yang agak pucat dan menggeleng-geleng.

“Betul, sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh semalam. Bagaimana bisa aku masuk ke mobil bersama dua laki-laki yang tidak kukenal? Dan saat itu sudah hampir tengah malam. Astaga, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang seperti itu. Tidak, tidak. Aku sudah gila. Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa kemarin?”

Na Minjie mendecakkan lidah. “Hei, kau bukannya bersama orang asing. Kau bersama Choi Daehyun. Kenapa kau tidak minta tanda tangannya?” tanyanya sekali lagi, nada penyesalan kental terdengar.

“Choi Daehyun orang asing bagiku,” cetus Sheryn tegas.

“Lagi pula kau tahu sendiri aku bukan penggemarnya, kenapa aku harus minta tanda tangannya?”

“Walaupun bukan penggemarnya, kau kan tahu temanmu yang satu ini penggemar beratnya,” tegur Minjie lagi sambil menekankan telapak tangan di dada.

"Aku sudah begitu setia menunggu kemunculannya lagi selama empat tahun ini. Setidaknya kau bisa minta tanda tangannya untukku… Tidak semua orang bisa bertemu langsung dengan Choi Daehyun, kau tahu. Dan kemarin, entah dengan keajaiban apa, kau bertemu dengannya, kau bicara dengannya, dan dia bahkan mengantarmu dengan mobilnya.”

“Mobil temannya,” sela Sheryn.

“Temannya juga ada di sana.”

Daehyun tidak mengacuhkan Sheryn. “Kau naik mobil bersamanya. Haah, kalau aku jadi kau, aku akan—“

“Hei, Na Minjie!”

Sikap Minjie melunak. “Aku tahu, aku tahu. Tapi kalau lain kali kau bertemu dengannya, jangan lupa minta tanda tangan untukku.”

Sheryn membaringkan diri ke tempat tidur. Pandangannya menerawang. “Kalau aku bertemu dengannya lagi.” gumannya

Minjie bermain-main dengan salah satu ujung selimut Sandy lalu tiba-tiba menyeletuk, ”Oh ya, kudengar Choi Daehyun itu sebenarnya gay. Aku tidak tahu gosip itu benar atau tidak, meski aku bisa mati karena kecewa kalau dia benar-benar gay. Kemarin kau bertemu langsung dengannya. Menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti apa? Apakah dia kelihatan normal-normal saja? Terlihat berbeda? Apakah penampilannya berubah setelah bertahun-tahun menghilang?”

Sheryn mengerutkan kening dan berpikir. “Entahlah, aku tidak merasa ada yang aneh pada dirinya. Biasa saja. Aduh, aku kan sudah bilang bahwa kemarin aku lumpuh otak. Aku bahkan tidak ingat lagi baju apa yang dipakainya.”

Minjie menatap prihatin temannya. “Kau benar-benar tidak berguna. Hanya kau yang bisa demam di musim panas seperti ini. Kepalamu masih sakit? Sudah baikan, belum?”

Sheryn tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sedang memikirkan hal lain. Kemudian ia menggigit bibir dan bertanya, “Minjie, sebenarnya apa yang kau suka dari Choi Daehyun? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?”

Senyum Na Minjie mengembang. “Karena dia tampan, lucu, pandai menyanyi—aduh, suaranya bagus sekali—dan karena dia menulis lagu-lagu yang begitu romantis dan menyentuh. Oh ya, album barunya akan diluncurkan sebentar lagi. Ah, aku sudah tidak sabar.”

“Begitu?”

Tiba-tiba Minjie memekik dan membuat Sheryn terperanjat. “Kenapa? Ada apa?” tanya Sheryn begitu melihat Minjie meraih tasnya yang tergeletak di lantai dengan kasar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalamnya.

“Bodohnya aku, bodohnya aku,” gumam Minjie berulang-ulang.

“Seharusnya aku langsung tahu begitu kau menceritakannya padaku.”

“Apa?” tanya Sheryn heran.

Minjie mengeluarkan tabloid dan membuka-buka halamannya. “Nah, coba kau lihat ini.”

Sheryn melihat artikel berjudul “Pertemuan Tengah Malam” yang ditunjukkan Na Minjie dan mendadak ia merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto Choi Daehyun bersama seorang wanita. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas, tapi Sheryn sudah tentu bisa mengenali dirinya sendiri. Wanita yang bersama Daehyun di dalam foto itu adalah dirinya.

"Astaga! Apa-apaan ini?," pekik Sheryn

Foto pertama memperlihatkan Sheryn dan Daehyun yang sedang keluar dari rumah artis itu. Kepala Sheryn tertunduk ketika difoto sehingga wajahnya tidak terlihat. Sheryn ingat saat itu teman Choi Daehyun masih berada di dalam rumah sehingga orang itu tidak ikut terfoto.

Foto yang kedua diambil ketika Choi Daehyun sedang membuka pintu mobil untuknya. Sosoknya tidak jelas karena terhalang tubuh Daehyun. Sheryn merasa bersyukur karena wajahnya tidak terlihat.

“Aku sempat melupakan tabloid ini ketika aku mendengar kau sakit,” kata Minjie menjelaskan.

“Seharusnya aku sudah bisa menduga ketika kau menceritakan apa yang kaualami semalam tadi, tapi anehnya hari ini kerja otakku lambat sekali. Wanita yang di foto itu kau, bukan?”

“Astaga,” gumam Sheryn tidak percaya.

“Siapa yang mengambil foto-foto ini?”

“Choi Daehyun itu artis terkenal,” kata Young-Mi dengan nada aku-tahu-semua -jadi-percaya-saja-padaku.

“Tentu saja banyak wartawan yang sibuk mencari berita tentang dirinya. Dan yang satu ini benar-benar berita hebat. Di sini malah ditulis kau kekasih Choi Daehyun.”

Sheryn menggeleng-geleng dan mengembalikan tabloid itu kepada Minjie. Ia masih merinding, “Aku tidak berdua saja dengan Jung Tae-Woo. Paman berkacamata itu, teman Jung Tae-Woo, juga ada bersama kami, seharusnya siapa pun yang mengambil foto ini juga tahu, tapi kenapa jadi begini?”

Na Minjie menarik napas panjang. “Sudah kubilang, Choi Daehyun itu artis terkenal. Tabloid-tabloid harus mencari berita yang bisa menarik perhatian orang. Kalau kalian bertiga yang ada dalam foto itu, tidak akan ada berita.”

Sheryn merasa tubuhnya menggigil. “Untunglah wajahku tidak terlihat. Minjie, kuharap kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang pertemuanku dengan Choi Daehyun.”

Alis Minjie terangkat. “Kenapa?”

Sheryn mengerutkan kening dan menggaruk kepala. “Enak saja mereka membuat gosip sembarangan. Kekasihnya? Aku? Aku tidak mau terlibat dengan urusan seperti gosip artis…”

“Kepalamu masih sakit?” tanya Minjie ketika melihat Sheryn terdiam sambil memegang dahi. Sheryn menggeleng dan tersenyum.

“Tidak, aku sudah baikan. Sepertinya gara-gara kecapekan ditambah stres, akhirnya demam. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa Minjie, kau pulang saja dan bantu ibumu. Sekarang kan jam makan siang. Rumah makan ibumu pasti sedang ramai.”

“Ibuku juga mencemaskanmu, jadi akundiizinkan tinggal lebih lama. Oh ya, ibuku sudah memasak bubur untukmu. Tadi aku taruh di dapur. Kau harus makan, mengerti?” kata Minjie sambil mengambil tasnya yang ada di lantai.

Ia meletakkan tangannya di kening Sandy dan bergumam, “Sudah tidak panas, tapi tetap harus minum obat. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”

“Kau baik sekali, Minjie,” kata Sheryn sambil tersenyum.

“Sampaikan terima kasihku pada ibumu karena sudah memasak bubur untukku. Ah, tidak usah. Sebaiknya aku sendiri yang meneleponnya dan berterima kasih. Oh ya, kau harus ingat, soal pertemuanku dengan Choi Daehyun kemarin malam, jangan kau katakan pada siapa pun.”

“Ya, ya, aku tahu. Kau tenang saja. Istirahat yang banyak ya. Sampai jumpa,” kata Minjie sebelum keluar dari kamar Sheryn.

.

.

.

.

.

.

Choi Daehyun berdiri tegak di dekat jendela besar ruangan kantor manajernya yang berada di lantai 15 gedung pencakar langit. Ia memandang ke luar jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia tidak sedang menikmati pemandangan kota Seoul seperti yang sering dilakukannya pada hari-hari biasa.

Pagi ini sebuah tabloid lagi-lagi memuat artikel yang mengomentari gosip gay-nya. Gosip itu merambat dengan kecepatan tinggi. Tidak lama lagi ia pasti akan dimintai penjelasan. Wartawan-wartawan akan mengejarnya… menanyainya… menuntut tanggapannya. Itulah risiko menjadi artis.

Kenangan buruk masa lalu itu muncul lagi. Ketika para wartawan mengajukan ribuan pertanyaan tanpa henti, ketika ia merasa begitu frustrasi dan harus bersembunyi untuk menenangkan diri.

Kini, dengan adanya gosip baru itu, hari-hari penuh perjuangan akan kembali dimulai… atau apakah sebenarnya sudah dimulai?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!