NovelToon NovelToon

The Mother

1

Ruang konferensi pusat komando Elaria, terletak di jantung ibukota mereka yang megah, adalah pusat dari segala keputusan penting. Ruangan ini dipenuhi dengan layar holografis yang menampilkan peta galaksi, data misi, dan berbagai informasi penting lainnya. Lampu-lampu berpendar lembut di langit-langit, memancarkan cahaya biru yang menenangkan.

Di tengah-tengah ruangan, meja holo-proyektor besar memancarkan gambar tiga dimensi dari sebuah planet biru yang berputar perlahan. Para ilmuwan dan pemimpin militer Elaria berdiri mengelilingi meja tersebut, wajah mereka serius dan penuh perhatian.

Di antara mereka, berdiri seorang wanita dengan kulit ungu bercahaya, mata birunya penuh semangat dan tekad. Namanya Violet, salah satu penjelajah terbaik bangsa Elaria.

Komandan Zarel, seorang pria berusia paruh baya dengan rambut kelabu dan mata tajam, berdiri di hadapan Violet. Wajahnya penuh guratan pengalaman, namun matanya memancarkan kepercayaan.

Komandan Zarel kemudian menghampiri Violet"Violet, Anda telah dipilih untuk misi ini karena kemampuan dan dedikasi Anda yang luar biasa. Planet Biru yang baru ditemukan ini mengandung mineral langka, bahan baku utama untuk pil keabadian. Misi Anda adalah menemukannya dan membawanya kembali ke Elaria."

Violet menatap gambar planet biru yang berputar di depan matanya. Tantangan ini bukan hanya tentang penemuan, tetapi juga tentang keabadian bagi bangsanya. Dia mengangguk dengan tegas.

"Saya merasa terhormat, Komandan Zarel. Saya akan melakukan yang terbaik untuk bangsa kita." timpal Violet dengan bangga.

Di sisi lain meja, Ilmuwan Lyra, seorang wanita dengan rambut perak panjang yang tergerai bebas dan mata hijau tajam, menatap Violet dengan campuran kecemasan dan harapan. Dia adalah kepala penelitian mineral langka dan sangat memahami bahaya yang mungkin dihadapi oleh Violet.

Lyra memperingati Violet "Ingat, Violet, mineral ini sangat berharga dan berbahaya. Jangan sembarangan. Kami mengandalkan Anda untuk keberhasilan ini."

Violet mengangguk setelah di peringati oleh Lyra "Saya mengerti, Lyra. Saya akan berhati-hati."

Lyra mengangguk, memberikan tablet data kepada Violet yang berisi informasi detail tentang mineral tersebut. Violet mempelajarinya sejenak sebelum menganggukkan kepala, merasa siap untuk misi ini.

Setelah menerima instruksi terakhir dan perbekalan yang diperlukan, Violet berjalan keluar dari ruang konferensi, melewati koridor panjang yang dipenuhi dengan gambar-gambar prestasi bangsa Elaria.

Setiap langkahnya memantapkan tekadnya. Pesawat ruang angkasanya, sebuah kapal eksplorasi canggih bernama **Elara**, telah siap di landasan peluncuran. Pesawat itu berkilauan dalam cahaya matahari, teknologi tercanggih yang pernah dibuat oleh bangsa Elaria.

Violet menaiki tangga pesawat dengan hati penuh harapan dan semangat petualangan. Di dalam kokpit, ia mengenakan setelan pelindung yang dirancang khusus untuk eksplorasi di planet asing dan mengaktifkan sistem kendali.

Violet berbicara kepada dirinya sendiri "Ini dia, petualangan baru. Planet Biru, tunggu aku."

Dengan satu tarikan napas dalam, Violet menekan tombol peluncuran. **Elara** bergetar hebat sebelum meluncur ke angkasa, meninggalkan Elaria dan menuju ketidakpastian yang ada di luar sana.

Perjalanan panjang melalui kegelapan antariksa memberinya waktu untuk memikirkan misi dan tanggung jawab besar yang ada di pundaknya.

Selama perjalanan, Violet menghabiskan waktu dengan mempelajari data tentang Planet Biru. Dia mempelajari pola badai, komposisi atmosfer, dan kemungkinan lokasi mineral langka tersebut.

Malam-malam panjang di ruang angkasa diisi dengan latihan dan meditasi, mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk tantangan yang menantinya.

Setelah berbulan-bulan perjalanan, akhirnya **Elara** mendekati Planet Biru. Dari jendela kokpitnya, Violet bisa melihat hamparan luas planet yang penuh dengan badai dan lautan. Ia menyiapkan dirinya untuk mendarat dan memulai pencarian mineral langka tersebut.

Violet menatap Planet Biru "Baiklah, saatnya bekerja. Semoga keberuntungan berpihak padaku."

Violet mengarahkan pesawatnya ke area yang tampak lebih tenang, mencari tempat yang aman untuk mendarat. Ketika pesawat akhirnya menyentuh permukaan planet, Violet merasakan adrenalin mengalir dalam tubuhnya. Dia mengenakan helm dan sarung tangan, memeriksa persediaan terakhir sebelum membuka pintu pesawat, Violet mengecek keadaan oksigen dan udara di planet biru dan ternyata aman membuka kembali helemnya.

Saat pintu terbuka, udara segar planet biru menerobos masuk, sedikit berbeda dari udara di Elaria, namun masih bisa dihirup dengan nyaman. Violet melangkah keluar, menatap langit yang dipenuhi awan badai yang bergerak cepat.

Violet berbicara melalui komunikator yang terpasang pada lengannya "Violet melaporkan, saya telah mendarat dengan selamat di Planet Biru. Memulai eksplorasi sekarang."

Dengan perangkat tambahan yang canggih di tangannya, Violet mulai menjelajahi planet tersebut. Tanah di bawah kakinya terasa lembab, dengan vegetasi yang tumbuh liar di beberapa tempat. Dia mengikuti petunjuk dari perangkatnya, mencari tanda-tanda keberadaan mineral langka.

Hari demi hari, Violet mencari dengan gigih, menghadapi berbagai tantangan alam yang keras. Hujan lebat, badai angin, dan medan yang tidak bersahabat menjadi bagian dari rutinitasnya.

Namun, semangat dan tekadnya tidak pernah goyah. Itu semua karena Violet adalah bangsa Elaria dengan kondisi fisik kuat dan sudah terbiasa menguasai kemampuan telekinesis di tahap ultimate, dengan ini violet dapat mudah menjelajahi suatu planet tanpa hambatan.

Hingga suatu hari, di sebuah gua tersembunyi yang terlindungi dari badai, ia menemukan apa yang dicari. Dinding gua tersebut berkilauan dengan mineral langka yang memancarkan cahaya lembut. Dan segera mengeceknya dengan alat pemindainya dan hasilnya 100% itulah mineral yang dia cari.

Violet dengan mata berbinar "Inilah dia, mineral langka itu. Kini aku bisa membawa pulang keabadian bagi bangsa kita."

Namun, rasa penasaran yang mendalam menguasai Violet. Bagaimana rasanya mineral ini? Apa yang akan terjadi jika ia mencobanya? Setelah berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil risiko.

Violet membatin dan mengambil serpihan mentah mineral langka itu "Hanya sedikit, untuk mengetahui kekuatannya."

Setelah mengonsumsi mineral itu, Violet merasakan gelombang energi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Getaran halus menjalar dari ujung jarinya ke seluruh tubuhnya, membuat setiap serat otot dan setiap selnya berdenyut dengan kekuatan baru.

Violet terengah-engah "Apa yang terjadi padaku? Energi ini... begitu kuat."

Perubahan fisik mulai terjadi dengan cepat. Kulit ungu Violet perlahan-lahan berubah warna, menjadi putih sedikit kecoklatan yang mengkilap di bawah cahaya mineral.

Rasa hangat menyebar di sekujur tubuhnya, seolah-olah darahnya sendiri sedang mendidih dengan kekuatan yang baru ditemukan.

Violet menatap tangannya yang berubah warna "Kulitku... berubah warna?"

Rambut Violet yang awalnya hitam legam juga mengalami transformasi. Setiap helai rambut berubah menjadi putih keemasan, bersinar dengan kilauan yang indah. Rambut barunya memancarkan cahaya, seakan-akan terbuat dari sinar matahari yang membeku.

Violet memegang sehelai rambut "Ini... luar biasa. Aku tidak pernah merasakan kekuatan seperti ini sebelumnya."

Matanya masih tetap berwarna biru tetapi Pandangannya menjadi lebih tajam, lebih jelas, seolah-olah ia bisa melihat setiap detail terkecil di sekitarnya."Apa yang sudah aku lakukan pada diriku sendiri?"

Dengan kekuatan barunya, Violet merasa tubuhnya lebih ringan, lebih kuat. Dia mengangkat tangannya dan merasakan aliran energi yang kuat mengalir melalui jari-jarinya. Sekali dorong, dia bisa merasakan kekuatan besar yang mampu merobohkan tembok batu.

Violet mencoba kekuatannya "Ini... tak bisa dipercaya, kekuatan telekinesisku menjadi sekuat ini"

Namun, perubahan tidak hanya terjadi di fisiknya. Pikiran dan indranya juga mengalami peningkatan. Dia bisa merasakan detak jantung planet di bawah kakinya, mendengar suara angin yang berbisik dan badai dapat ia rasakan.

Namun, sensasi itu segera berubah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Kepala Violet mulai berdenyut, rasa mual mengguncang perutnya, dan keseimbangan tubuhnya terasa goyah.

Violet memegang kepalanya "Apa yang terjadi padaku? Ini... ini terlalu... banyak... Energi yang ku serap."Dia berusaha fokus, tetapi penglihatannya mulai kabur.

Menyadari bahwa tubuhnya sedang mengalami perubahan yang drastis, Violet memutuskan untuk kembali ke kapalnya, Elara, untuk memeriksa kondisinya.

Dengan sisa kekuatannya, Violet keluar dari gua, terhuyung-huyung melewati medan berbatu. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah gravitasi planet ini mendadak meningkat. Dia meraih communicator di lengannya dan mencoba menghubungi sistem otomatis di kapalnya.

2

Violet dalam nada lemah memberi perintah "Elara, aktifkan protokol medis. Siapkan ruang medis."

Setelah mengaktifkan protokol, Violet mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan menggunakan kemampuan telekinesisnya, suatu kemampuan murni dari ras Elaria, untuk melayang di udara. Dengan dorongan kuat dari pikirannya, dia terangkat dari tanah, tubuhnya melayang dengan stabil meskipun pusing dan mual terus menyerang.

Setiap dorongan telekinesis membuat tubuhnya bergetar, tetapi Violet bertahan, berfokus untuk mencapai pesawatnya yang berjarak cukup jauh dari gua tersebut. Angin kencang dan rasa pusing membuat perjalanan semakin sulit, namun Violet tetap berjuang.

Violet terengah-engah, berbisik pada dirinya sendiri"Sedikit lagi... aku harus sampai ke sana."

Pemandangan sekitar berputar-putar saat Violet terbang melintasi medan berbatu dan lembah-lembah curam. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, pesawatnya, Elara, mulai tampak di kejauhan.

Dengan kekuatan terakhirnya, Violet mendarat dengan kasar di dekat pintu masuk pesawat.Pintu pesawat terbuka secara otomatis, dan Violet terhuyung masuk. Dengan napas terengah-engah, dia bergegas menuju ruang medis yang sudah menunggu dengan berbagai alat diagnostik canggih.

Elara dengan suara tenang "Selamat datang kembali, Violet. Protokol medis telah diaktifkan. Silakan berbaring untuk pemeriksaan."

Violet berbaring di tempat tidur medis, dan segera berbagai sensor dan alat diagnostik mulai bekerja, menganalisis perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Layar holografis di atas tempat tidur menampilkan hasil pemeriksaan secara real-time.Elara: "Perubahan signifikan terdeteksi pada struktur genetik dan fisik Anda. Kulit Anda berubah menjadi pigmen yang lebih gelap/kuning langsat dan rambut Anda sekarang memiliki komposisi yang berbeda, menghasilkan warna putih keemasan. Kadar energi internal Anda meningkat secara drastis, menyebabkan efek samping seperti pusing dan mual."

Violet berbisik "Apa yang telah aku lakukan pada diriku sendiri?"Dia menutup matanya, berusaha menenangkan diri.

Rasa pusing mulai mereda perlahan seiring dengan alat medis yang bekerja menstabilkan kondisinya. Dia sadar bahwa kekuatan baru ini datang dengan risiko besar, dan kini dia harus menemukan cara untuk mengendalikan perubahan ini.

Violet berpikir "Aku harus memahami dan menguasai kekuatan ini. Planet Biru telah memberiku sesuatu yang luar biasa, dan aku tidak boleh menyia-nyiakannya, demi kemajuan Planetku"

Setelah beberapa saat, kondisinya mulai stabil. Violet duduk di tempat tidur medis, menatap bayangannya di cermin holografis di depannya. Dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri, dengan kulit putih kecoklatan yang mengkilap dan rambut putih keemasan yang bersinar. Matanya yang biru semakin pekat warnanya, membuat penampilannya seperti dewi dari legenda kuno.

Violet berbisik pada dirinya sendiri "Apa yang sudah aku lakukan pada diriku sendiri?"

Perubahan yang begitu drastis membuatnya terkejut dan syok. Dalam kebingungan dan ketidakpercayaan, Violet meraba-raba wajahnya, seolah-olah sentuhan bisa membuktikan kenyataan dari apa yang dilihatnya.

"Ini... ini luar biasa... tetapi juga menakutkan..."

Tiba-tiba, rasa mual yang luar biasa menyerang. Perutnya bergejolak, dan kepalanya mulai berputar hebat. Dia merasakan gelombang pusing yang begitu kuat sehingga hampir membuatnya jatuh dari tempat tidur medis.

Violet merintih "Tidak... apa lagi ini...?"

Tubuhnya gemetar, dan dalam hitungan detik, Violet tidak mampu menahan rasa pusing dan mual yang semakin menjadi-jadi. Pandangannya menggelap, dan dia terjatuh, pingsan seketika.

Beberapa waktu kemudian, Violet terbangun dengan kesadaran yang perlahan kembali. Dia merasa lemah, tetapi rasa pusing dan mualnya sudah menghilang. Suara Elara, sistem AI kapalnya, mulai terdengar di sekitar ruangan.

"Selamat pagi, Violet. Anda telah pingsan selama beberapa jam. Ada informasi penting yang perlu Anda ketahui mengenai kondisi Anda."

Violet bangkit perlahan, masih merasa lemah tetapi penasaran dengan apa yang akan dikatakan Elara. Dia duduk di tempat tidur medis dan menatap layar holografis yang mulai menampilkan hasil diagnostik yang lebih mendetail.

Violet dengan nada khawatir bertanya "Apa yang terjadi padaku, Elara? Kenapa aku bisa pingsan?"

"Setelah analisis lebih lanjut, efek mineral yang Anda konsumsi telah menyebabkan perubahan signifikan pada tubuh Anda. Tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga ada sesuatu yang lebih dalam yang terjadi." timpal Elara

Violet menatap layar dengan cemas, menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Mineral tersebut tampaknya memiliki efek reproduktif yang sangat kuat. Saat ini, terdapat empat individu baru yang sedang tumbuh di dalam perut Anda. Anda mengandung janin kembar empat, dua laki-laki dan dua perempuan."

Violet terpaku, matanya membelalak dengan campuran rasa takut dan ketidakpercayaan. Informasi itu begitu mengejutkan sehingga dia sulit mencerna semuanya sekaligus.

Violet dengan suara gemetar "Apa? Bagaimana ini bisa terjadi? Aku... aku tidak pernah menduga ini, empat janin!"

Lanjut Elara menjelaskannya "Mineral tersebut memiliki kemampuan yang belum sepenuhnya dipahami. Efek reproduktif ini mungkin merupakan bagian dari sifat alami mineral yang sangat kuat. Janin-janin tersebut menunjukkan perkembangan yang cepat dan memiliki potensi kemampuan yang luar biasa, seperti yang Anda alami."

Setelah mendengar penjelasan Elara, Violet duduk terdiam sejenak, tangannya dengan lembut memegang perutnya. Perasaan takut dan bingung perlahan berubah menjadi tekad yang kuat. Keputusan sudah diambil: dia akan tinggal di Planet Biru dan membesarkan anak-anaknya terlebih dahulu.

Violet dengan suara tegas"Elara, aku memutuskan untuk tetap di sini. Planet Biru akan menjadi rumah kami untuk sementara waktu. Aku harus memastikan anak-anak ini lahir dengan selamat dan membesarkan mereka di lingkungan yang aman."

Elara mendukung keputusan komandannya "Keputusan yang bijak, Violet. Saya akan mendukung Anda dalam segala kebutuhan yang mungkin timbul selama masa kehamilan dan setelahnya."

Violet merasakan dorongan kuat untuk menjaga dan melindungi anak-anaknya yang belum lahir. Sambil terus memegang perutnya, dia bertanya kepada Elara tentang perkiraan waktu kelahiran.

"Elara, kapan aku akan melahirkan? Apakah ada perkiraan waktu yang bisa kamu berikan?"

Elara menjawab "Berdasarkan analisis pertumbuhan janin yang sangat cepat dan kondisi fisik Anda yang telah bermutasi, saya memperkirakan Anda akan melahirkan dalam waktu sekitar enam bulan. Perkembangan ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan kehamilan normal, namun mineral tersebut tampaknya mempercepat proses secara signifikan."

Violet terdiam, merenungkan waktu yang singkat itu. Enam bulan bukanlah waktu yang lama untuk mempersiapkan segala sesuatu, tetapi dia tahu bahwa dengan bantuan Elara dan kemampuannya yang baru ia dapatkan, dia bisa menghadapi tantangan ini.

Violet dengan tegas"Baik, enam bulan. Kita harus mempersiapkan segalanya untuk kedatangan mereka. Aku akan memastikan mereka lahir dalam keadaan aman dan sehat."

"Saya akan mulai merancang dan mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk masa kehamilan dan persiapan kelahiran. Kita juga perlu mencari tempat yang lebih aman dan stabil di Planet Biru untuk menetap." timpal Elara

Violet mengangguk "Setuju. Kita harus mencari tempat yang ideal untuk membangun rumah dan melindungi anak-anak kita. Planet Biru ini masih menyimpan banyak misteri, tapi aku yakin kita bisa menemukan tempat yang tepat."

Elara memberikan saran "Violet, mengingat kondisi di sekitar landasan hanya terdapat bebatuan, sedikit tanah, dan rumput liar, kita perlu menjelajahi Planet Biru lebih jauh. Ada kemungkinan besar bahwa kita bisa menemukan bahan makanan yang dapat dikonsumsi serta lokasi yang lebih layak huni."

Violet mengangguk setuju "Kamu benar, Elara. Kita tidak bisa hanya mengandalkan persediaan makanan yang ada di kapal. Kita perlu menemukan sumber makanan alami di planet ini. Selain itu, mencari tempat yang lebih baik untuk tinggal juga penting."

Elara menampilkan tempat yang telah di analisis "Saya merekomendasikan untuk memulai ekspedisi ke daerah-daerah yang belum dijelajahi. Sensor di kapal mendeteksi adanya area dengan kelembapan tinggi dan vegetasi yang lebih tebal di sekitar 20 kilometer ke arah barat dari lokasi kita sekarang."

"Baiklah, Saya akan menuju ke sana. Persiapkan semua perlengkapan yang diperlukan untuk perjalanan ini."

Violet mempersiapkan dirinya untuk ekspedisi tersebut. Dengan bantuan Elara, dia mengemas peralatan esensial seperti peta holografis, persediaan air, dan alat-alat medis. Meskipun tubuhnya masih beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, tekadnya untuk melindungi anak-anaknya memberikan kekuatan ekstra.

"Saya akan memantau perjalanan Anda dan memberikan panduan melalui komunikasi jarak jauh. Pastikan untuk berhati-hati, Violet."

Violet tersenyum "Terima kasih, Elara. Aku akan berhati-hati."

Violet keluar dari kapal dengan langkah pasti, wajahnya dipenuhi ketenangan meskipun badai melanda di sekelilingnya meski begitu dengan kemampuan telekinesisnya dirinya mampu melewati Medan ekstrim di planet biru tanpa hambatan.

Langit biru yang gelap dihiasi oleh awan-awan hitam yang menderu, menyebarkan hujan deras yang tak henti-hentinya. Angin kencang menerpa tubuhnya, mencoba menerjang tubunya saat melayang di langit.

Di kejauhan, lautan luas membentang tanpa ujung. Ombak-ombak raksasa bergulung-gulung, menciptakan suara gemuruh yang menggema di sepanjang batuan karang yang besar. Air laut bergelombang tinggi, memantulkan cahaya matahari yang tersembunyi di balik awan, menciptakan kilauan biru .

Violet melihat pemandangan yang indah namun menakutkan ini dengan kagum. Planet Biru memang asing, tetapi keanggunan alamnya begitu memikat. Dia merasakan getaran energi alam yang kuat di sekelilingnya, menyadari bahwa kekuatan alam di planet ini jauh melebihi apa yang pernah dia alami sebelumnya.

Saat dia mencapai lokasi yang ditunjukkan oleh Elara, keheranan melanda ketika yang terlihat hanyalah hamparan bebatuan yang tidak menarik.

"Elara, apakah kita berada di lokasi yang benar?" tanya Violet dengan nada bingung.

3

"Ya, Violet. Titik koordinatnya sudah sesuai berdasarkan analisis saya," jawab AI Elara dengan tegas.

Violet menjelajahi area tersebut dengan cermat, mencoba mencari tanda-tanda keberadaan tempat yang dicarinya. Namun, kekecewaan menyelimuti dirinya saat tidak menemukan apa pun kecuali batuan yang tak bernyawa.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja dia menginjak bebatuan yang retak, membuka lubang besar di tanah. Di dalamnya, dia menemukan sebuah oasis tersembunyi: tumbuhan hijau yang segar dan sebuah sungai kecil yang mengalir dengan gemericik air yang menenangkan.

Violet merasa lega dan bahagia menemukan tempat ini di tengah-tengah badai dan hujan yang menyelimuti planet ini. Dia merasa bersyukur pada Elara atas bantuan dalam menemukan tempat ini dan tak sabar untuk menjelajahi lebih jauh lagi.

Violet melayang perlahan ke dalam lubang yang terbuka, menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk mengatur penurunan dengan hati-hati. Begitu dia memasuki oasis tersembunyi itu, dia dikejutkan oleh pemandangan yang begitu berbeda dari permukaan yang kasar dan penuh badai. Di sini, di bawah tanah, tumbuhan hijau yang segar tumbuh subur, dan sebuah sungai kecil mengalir dengan damai, gemericik airnya menciptakan melodi yang menenangkan.

"Elara, ini luar biasa. Tempat ini terasa seperti surga tersembunyi di tengah kekacauan di permukaan," ujar Violet dengan kekaguman yang tulus.

"Analisis awal menunjukkan bahwa kondisi mikroklimat di sini sangat stabil dan mendukung kehidupan. Tumbuhan dan buah-buahan ini mungkin memiliki nutrisi yang sangat diperlukan untuk keberlangsungan hidup Anda dan anak-anak Anda di masa depan," jawab Elara.

Violet melangkah lebih jauh ke dalam oasis, menyentuh dedaunan hijau yang lembut dan menghirup udara segar yang terasa begitu berbeda dari atmosfer di luar.

"Elara, aku perlu tahu lebih banyak tentang tanaman dan buah-buahan di sini. Bisakah kamu menganalisisnya untuk melihat apakah ada yang memiliki khasiat khusus?" tanya Violet sambil memetik salah satu buah yang tampak matang dan berair.

"Saya sedang melakukan pemindaian sekarang, Violet. Analisis menunjukkan bahwa buah-buahan ini kaya akan vitamin dan mineral. Beberapa di antaranya mungkin memiliki sifat penyembuhan atau meningkatkan kekuatan fisik," jawab Elara setelah beberapa detik.

Violet menggigit buah itu, merasakan rasa manis yang langsung memenuhi mulutnya. Dia merasa energinya pulih dengan cepat, hampir seperti buah itu memberikan kekuatan tambahan.

"Ini luar biasa. Tempat ini bisa menjadi tempat yang sempurna untuk membesarkan anak-anak kita, setidaknya untuk sementara," kata Violet dengan suara penuh harapan.

"Saya setuju, Violet. Dengan sumber daya yang ada di sini, kita bisa memastikan kebutuhan dasar Anda terpenuhi. Saya akan terus memantau dan menganalisis area ini untuk memastikan tidak ada ancaman yang tersembunyi," Elara menanggapi dengan tenang.

Violet melanjutkan penjelajahannya, menikmati setiap momen di oasis ini. Di tengah-tengah badai dan hujan yang terus-menerus melanda permukaan Planet Biru, tempat ini memberikan secercah harapan dan ketenangan.

"Elara, kita harus memastikan tempat ini tetap tersembunyi dan aman. Ini adalah tempat yang sempurna untuk memulai kehidupan baru," ujar Violet dengan penuh tekad.

"Setuju, Violet. Saya akan membantu Anda memastikan tempat ini tetap terlindungi," jawab Elara.

Dengan semangat baru, Violet merasa lebih siap menghadapi masa depan. Di oasis tersembunyi ini, dia menemukan harapan dan keberanian untuk melanjutkan petualangan hidupnya di Planet Biru.

Saat Violet terus menjelajahi oasis yang indah itu, dia merasakan kedamaian yang belum pernah dia rasakan sejak tiba di Planet Biru. Namun, di balik ketenangan itu, sesuatu yang misterius mengintai dari bayangan.

"Violet, deteksi sensor menunjukkan adanya individu asing di dekat Anda. Tampaknya ada yang mengamati kita," kata Elara dengan suara tegang.

Violet berhenti sejenak, memusatkan inderanya. "Di mana lokasinya, Elara?" tanya Violet sambil memperhatikan sekelilingnya dengan cermat.

"Di arah barat laut, sekitar tiga puluh meter dari posisi Anda. Saya akan mengaktifkan protokol siaga," jawab Elara.

Violet mempersiapkan diri, mengumpulkan energi telekinesisnya untuk berjaga-jaga. Dengan langkah hati-hati, dia mulai mendekati arah yang ditunjukkan Elara. Semakin dekat dia mendekat, semakin jelas dia merasakan keberadaan individu itu.

Tiba-tiba, dari balik pepohonan lebat, sosok tinggi dan berotot muncul. Makhluk itu memiliki kulit bersisik berwarna hijau gelap, matanya tajam memancarkan cahaya merah yang misterius. Dia mengeluarkan suara geraman rendah, menandakan ketidaksenangan atas kehadiran Violet.

"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Violet dengan suara tegas, sambil tetap bersiap untuk mempertahankan diri.

Makhluk itu melangkah maju, matanya tetap terkunci pada Violet. "Aku adalah penjaga tempat ini. Tidak ada yang diizinkan masuk tanpa izin," jawabnya dengan suara berat yang bergema di seluruh oasis.

"Penjaga? Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya mencari tempat untuk bertahan hidup," jawab Violet dengan tenang, namun tetap waspada.

Alih-alih mendengarkan penjelasan Violet sosok itu tiba-tiba, bersuara gemuruh . Sosok penjaga muncul kembali, dengan wujud seekor naga besar berwarna hijau gelap, dengan sisik keras yang memantulkan cahaya matahari yang menyelinap masuk.

"Naga?!" Violet terkejut dan segera bersiap. "Elara, makhluk itu berubah menjadi naga. Apa yang harus kita lakukan?"

"Siaga penuh, Violet. Gunakan kekuatan telekinesis Anda untuk bertahan dan menyerang. Saya akan memantau dan memberi saran taktis," jawab Elara dengan cepat.

Naga itu mengeluarkan raungan menggelegar dan menyemburkan api dari mulutnya. Violet melompat menghindar dengan gesit, menggunakan telekinesisnya untuk mengangkat batu besar dan melemparkannya ke arah naga.

Naga itu menghindar dengan mudah dan menyerang kembali, menyapu dengan ekor berduri yang besar. Violet terlempar beberapa meter, namun segera bangkit dengan tekad yang kuat. Dia fokus, mengumpulkan energi telekinesisnya untuk menciptakan perisai pelindung.

"Elara, analisis kelemahan naga ini," perintah Violet sambil menahan serangan api dengan perisai telekinesisnya.

"Sekitar sisik di bawah lehernya tampak lebih lembut. Itu mungkin titik lemah yang bisa Anda serang," jawab Elara dengan cepat.

Dengan informasi itu, Violet merencanakan serangan balik. Dia melompat tinggi, menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk melayang di udara dan menghindari serangan naga. Dengan gerakan cepat, dia mengarahkan batu-batu tajam langsung ke leher naga.

Naga itu meraung kesakitan, namun tidak mundur. Violet mengambil kesempatan ini untuk melancarkan serangan lebih keras. Dia mengangkat bebatuan besar dari tanah dan menghantamkan langsung ke titik lemah di bawah leher naga.

Naga itu terhuyung, tetapi dengan raungan terakhir, dia menyerang dengan cakar besarnya. Violet menghindar di detik terakhir, menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk memutar tubuhnya di udara dan menghantam leher naga dengan kekuatan penuh.

Serangan itu akhirnya membuat naga tumbang, mengeluarkan suara mengerang kesakitan sebelum akhirnya terjatuh ke tanah. Violet, terengah-engah namun tetap waspada, berdiri di atas tubuh naga yang tak berdaya.

"Naga itu sudah tak berdaya. Tapi tetap waspada, Violet. Kita belum tahu apakah ada bahaya lain di sekitar sini," kata Elara dengan tenang namun serius.

Violet mengangguk, merasa lega tapi tetap berjaga-jaga. Dia tahu bahwa Planet Biru penuh dengan misteri dan bahaya yang belum terungkap. Namun, dengan keberanian dan tekadnya, dia siap menghadapi apa pun yang datang.

Violet mendekati tubuh naga yang tergeletak di tanah, masih waspada meskipun naga itu tampak tak berdaya. Dengan hati-hati, dia memeriksa kondisinya dan menyadari bahwa makhluk itu masih hidup, meski dalam keadaan kritis. Matanya yang besar dan bersinar merah perlahan terbuka, menatap Violet dengan pandangan penuh rasa sakit.

"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menyerangku secara tiba-tiba?" tanya Violet dengan suara tenang namun tegas.

Naga itu mengeluarkan suara parau, berusaha berbicara meski kesulitan. "Aku... dulunya penjelajah seperti kamu. Namaku Zorak. Aku berasal dari dunia yang jauh... seperti kamu. Namun, aku tidak sekuat dirimu," katanya dengan suara serak.

Violet mendengarkan dengan cermat, menahan rasa penasaran dan empatinya. "Apa yang terjadi padamu, Zorak?" tanyanya lagi.

"Ketika aku pertama kali tiba di Planet Biru, aku adalah sosok alien humanoid bersisik. Namun, atmosfer planet ini penuh dengan radiasi yang aneh. Tubuhku tidak bisa menahannya, dan aku bermutasi menjadi naga ini. Radiasi itu membuatku liar dan kehilangan kontrol," Zorak menjelaskan dengan susah payah.

Dia melanjutkan, "Dalam kegilaanku, aku terus menjelajahi planet ini dan menemukan oasis ini. Tempat ini... satu-satunya tempat yang memberiku kedamaian. Aku merasa harus menjaganya, meskipun aku telah menjadi makhluk yang kau lihat sekarang."

Mendengar cerita Zorak, hati Violet tersentuh. Dia memahami penderitaan yang dialami Zorak dan merasa simpati padanya. "Elara, kita harus membantunya. Dia tidak bersalah atas apa yang terjadi padanya," kata Violet dengan tekad.

"Aku setuju, Violet. Kita punya peralatan medis yang mungkin bisa membantu," jawab Elara.

Violet segera mengambil alat medis dari tasnya. Dengan cepat dan cekatan, dia mulai memberikan perawatan kepada Zorak. Dia menggunakan alat-alat canggih untuk menstabilkan kondisi Zorak, mengobati luka-lukanya, dan memberikan obat penawar yang mungkin bisa membantu mengurangi efek radiasi.

Zorak mengerang pelan saat alat-alat itu bekerja pada tubuhnya, tetapi pandangan matanya menunjukkan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih... Violet," katanya dengan lemah.

"Tidak perlu berterima kasih. Kita semua berjuang untuk bertahan hidup di planet ini," jawab Violet sambil terus bekerja. "Aku akan melakukan apa saja untuk membantu."

Setelah beberapa waktu, kondisi Zorak mulai membaik. Nafasnya menjadi lebih stabil, dan matanya mulai kehilangan kilauan liar mereka. Violet merasa lega melihat kemajuan ini.

"Zorak, tempat ini adalah oasis yang indah. Aku berjanji akan membantumu menjaga tempat ini dan menjadikannya rumah kita," kata Violet dengan suara penuh janji.

Zorak mengangguk pelan. "Aku akan mengawasi... dan membantu... sebisaku," katanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!