NovelToon NovelToon

The Lake Spectra : The Chosen Ones

PROLOG

Kekuatan berupa sihir atau semacamnya adalah hal yang mustahil dapat dimiliki oleh seseorang. Namun, karena ketidak sengajaan membuat lima anak menjadi memiliki sebuah kekuatan aneh setelah jatuh ke dalam sebuah danau di dalam gua misterius.

Cerita yang di awali dengan adanya sebuah perkemahan yang diadakan oleh sekolah ke sebuah hutan. Pada saat agenda jelajah malam, dimana para siswa akan menelusuri hutan sesuai dengan petunjuk yang telah disediakan oleh guru mereka. Dalam kegiatan ini, dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari 4 anak.

Sekelompok anak jahil berencana mengganggu anak cupu yang selalu menjadi incaran mereka sebagai target perundungan. Airin yang melihat itu merasa tak tega. Rasya sebagai teman kelompok Airin tau bahwa dia ingin membantu anak yang di rundung itu. Aaron yang tak sengaja melihat adiknya terdiam dan bersembunyi di balik pohon seolah memperhatikan sesuatu pun mengikuti adiknya. Kemudian melihat raut wajah adiknya pun mengerti apa yang ada dipikiran adiknya.

Saat menolong anak yang dirundung itu, mereka tak sengaja melihat sesuatu yang membuat mereka berlari jauh ke arah dalam hutan, hingga mereka tak sengaja tersesat.

Cuaca yang tak mendukung, hujan datang datang disertai petir yang menyambar membuat mereka harus mencari tempat untuk berteduh. Gua, mereka menemukan sebuah gua yang cukup misterius dalam hutan yang gelap. Namun karena tidak ada pilihan, mereka akhirnya memutuskan untuk berteduh di sana.

Rasa penasaran menjadi bumerang bagi mereka. Memasuki gua hingga ke bagian terdalam membuat mereka bertemu dengan seekor monster yang bersembunyi. Terkejut dengan adanya monster membuat anak-anak itu berhamburan menghindar, namun hal itu tak terjadi dan mereka terjebak di dalam gua. Mencoba melawan, membuat mereka mengalami luka. Ada yang tercebur ke dalam sebuah danau dan tenggelam.

Setelah terbangun, mereka kebingungan dengan apa yang terjadi saat dalam gua tersebut. Mereka hanya mengingat, namun tak berbicara dengan apa yang terjadi dalam gua tersebut. Mereka ingin melupakan kejadian mengerikan dalam gua, dan menjadi rahasia antara mereka saja.

Ditengah itu, selain mendapatkan memori yang kelam mereka secara tiba-tiba memiliki sebuah kekuatan. Kekuatan semacam sihir yang cukup aneh bagi mereka. Setelah terbangun, seolah ada yang aneh dalam tubuh mereka dan itu menjadi ketakutan mereka sendiri pada awalnya.

Selain kekuatan, terdapat seseorang yang selalu mengikuti mereka bahkan masuk ke dalam mimpi mereka. Seseorang itu selalu mengatakan "Anak yang terpilih telah hadir". Membuat mereka ketakutan akan hal itu.

Mampukah mereka mengendalikan kekuatan yang baru saja hadir dalam diri mereka?

Mampukah mereka melawan seseorang yang harus mereka lawan?

Mampukah mereka bekerja sama dengan baik melawan mereka?

...****************...

To : Para pembaca

Hai aku Anyelir, salam kenal para pembaca. Inilah adalah karya ketiga aku di aplikasi Noveltoon ini. Cerita ini adalah cerita pertamaku dengan tema fantasi. Jadi ada salah kata, alur atau sebagainya mohon dimaafkan.

Disini aku hanya ingin mengingatkan. Ingat, disini hanya fiktif belaka. Hanya sebuah karangan dari author sesuai dengan imajinasj yang hinggap dalam pikiran seorang author pemula. Jangan di anggap serius ya....

Kalau semisal ada kesamaan nama dan tempat, mohon dimaafkan. Lalu cerita ini

Dan jika ada saran dan tanggapan, silahkan tulis di kolom komentar.

Terima Kasih pada para pembaca

^^^Salam hangat^^^

^^^Anyelir^^^

BAB 1

"Welcome back in Indonesia" teriak seorang gadis yang baru saja berlari keluar dari bandara.

"Arin, jangan teriak dong" ujar anak laki-laki yang berhasil menyusul di belakangnya

Airin Mois Ratri Sanjaya, biasa di panggil Arin. Cucu perempuan satu-satunya dari keluarga Sanjaya.

"Maaf kakak, Arin cuma senang akhirnya kembali ke Indonesia setelah 8 tahun di Amerika" ujar Airin

Aaron Bleu Ambara Sanjaya, saudara kembar Airin yang biasa dipanggil Aron.

"Ya sudah, ayo ke parkiran. Tadi kakak lihat pesan dari papa, katanya Pak Tejo sudah datang dan menunggu di parkiran"

"Ayo kak"

Kedua anak itu pergi menuju parkiran bandara dan menemui supir keluarga yang sudah menunggu mereka. Dari kejauhan, mereka dapat melihat mobil keluarga mereka.

"Non Arin dan Mas Aron kan" ujar seseorang yang baru saja datang menghampiri si kembar

"Saya Tejo, saya diperintahkan tuan untuk menjemput aden dan nona. Mari non ... mas, saya bantu bawa barangnya" Pak Tejo membantu membawa barang bawaan dari Arin dan Aron.

"Makasih pak" ujar Arin dengan ramah

Setelahnya, mereka masuk ke dalam mobil keluarga mereka.

Selama perjalanan, Airin melihat jalanan yang sudah banyak berubah. Banyak gedung-gedung tinggi yang baru dia lihat. Airin memfoto jalanan yang dilihatnya.

"Dek, kita langsung pulang atau mampir ke suatu tempat dulu" tanya Aaron yang melihat adiknya begitu senang melihat jalanan kota.

Kegiatan favorit Airin sejak di Los Angeles 8 tahun lalu adalah fotografi Semua keluarga mendukung kegiatan yang dilakukan Airin.

"Dek, mau ke taman dulu?" tawar Aaron

"Boleh deh, kita kesana dulu ya"

"Pak, kita ke taman deket sini ya" pinta Aaron ke Pak Tejo

"Siap aden, kebetulan di dekat sini ada taman yang bagus."

...****************...

Di taman, terlihat begitu sepi. Mungkin karena hari ini adalah hari kerja membuat taman ini menjadi sepi. Airin fokus dengan kegiatan memfotonya, sedangkan Aaron hanya melihat saja.

"Kak, lihat deh. Bagus kan?" Airin menunjukkan hasil foto yang dia ambil menggunakan kameranya. Aaron yang melihat hasil fotonya hanya mengangguk setuju. Dirinya yakin dengan kemampuan adiknya dalam hal mengambil foto.

"Bagaimana dek? Sudah selesai?" tanya Aaron yang melihat adiknya hanya diam dan mengamati hasil gambarnya

"Sudah kak. Ayo pulang" Airin yang tak tega melihat kakaknya menunggu terlalu lama pun akhirnya mengakhiri kegiatan memfotonya.

"Iya, ayo dek" Aaron membukakan pintu mobil untuk Airin

Saat akan masuk mobil, Airin tak sengaja melihat seseorang yang sedang berkelahi dengan 7 orang preman.

"Kak, lihat itu. Sepertinya dia di keroyok" tunjuk Airin ke sisi seberang mereka

"Iya dek, dia di keroyok. Kakak bantu dia bentar ya. Kamu tunggu disini" perintah Aaron.

Setelah mengucapkan itu, Aaron segera berlari ke tempat pengeroyokan itu untuk membantu. Airin yang khawatir pun, melihat sekitar apakah ada yang bisa dia lakukan.

Secara tak sengaja, Airin melihat apotek dan warung yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Akhirnya pergi ke apotek itu untuk membeli obat dan plester untuk kakaknya dan orang yang di tolongnya itu.

...****************...

POV RASYA

"JAMBRET ... JAMBRET..." teriak seorang ibu-ibu yang baru saja di jambret.

Mendengar hal itu Rasya langsung mengejar penjambret itu dengan motornya. Setelah berhasil mengejar penjambret itu, Rasya langsung mengambil tas itu dan pergi untuk mengembalikan tas itu. Saat di perjalanan Rasya di cegat oleh sekawanan preman yang ternyata satu komplotan dengan penjambret yang dilihatnya tadi.

"Hei bocah ingusan, sok jadi pahlawan kesiangan lo" ujar preman itu

"Bukan urusan lo" ujar Rasya yang kemudian mengendarai motornya dengan begitu cepat

"Kabur dia, cepet kejar dia. Jangan sampai lolos" Para preman itu mengejar Rasya yang mengebut. Saat berhasil mengejar dan mengepung Rasya.

"Ke kejar kan lo. Sekarang balikin tas itu" Preman preman itu berusaha mengintimidasi Rasya. Namun Rasya hanya diam dan tak terintimidasi

"Kalau gue nggak mau, lo semua mau apa?" Rasya tak terintimidasi sama sekali, malah dengan berani menantang para preman itu.

"Berani juga bocah ingusan ini. Serang dia" ujar seseorang yang terlihat seperti pemimpin preman itu.

Perkelahian tak terelakkan. Perkelahian satu lawan tujuh orang. Rasya berusaha untuk bertahan dalam perkelahian itu. Saat perkelahian terjadi, tiba-tiba datang seseorang datang membantu.

POV RASYA END

"Heh, kalian beraninya main keroyokan. Lawannya sama anak kecil lagi" ujar Aaron dengan berani

"Wahh, mau jadi sok jagoan lo" ujar salah satu preman itu. Preman yang lain tertawa mendengar hal itu, seolah mengejek Aaron yang berlagak seperti pahlawan

Aaron menghiraukan preman itu. Dirinya melihat ke arah anak yang tadi di keroyok oleh preman itu.

"Are you okay? Masih kuat berdiri?" ujar Aaron yang melihat bahwa anak itu sudah terlihat mulai lemas.

"Nope, aku masih bisa berdiri dan melawan mereka" ujarnya

"Mereka siapa?"

"Mereka pencopet, gue berhasil ambil tas yang mereka copet dan ya mereka ingin tas itu lagi jadinya seperti ini" jelasnya

"Wahh, ga boleh gitu dong om. Kan itu bukan punya kalian"

"Jangan banyak omong kalian bocah" Kemudian preman-preman itu menyerang anak itu dan Aaron. Mereka berkelahi dengan sengit.

Airin yang melihat perkelahian itu merasa geram karena preman-preman itu melukai kakak kembarnya.

"Gue kerjain ah" gumam Airin

Airin pun segera mengambil ponselnya dan mencari sesuatu di dalam ponselnya. Setelah menemukan apa yang di carinya, dirinya pergi ke warung terdekat untuk meminjam sesuatu.

Wiuuuu .... wiuuuuu .... wiuuuuu

Terdengar suara sirine polisi yang cukup keras membuat para preman itu terkejut dan berlari pergi dengan tergesa-gesa.

Aaron yang melihat itu tertawa terbahak-bahak melihat ada preman yang jatuh karena takut mendengarkan suara sirine polisi.

"Mereka lucu banget, hihihihi" Airin tertawa kecil di tempat persembunyiannya karena melihat tingkah preman-preman itu

"Kakak" teriak Airin yang keluar dari persembunyiannya saat melihat bahwa preman-preman itu sudah pergi jauh.

Rasya menegang setelah melihat ke arah sumber suara. Sosok yang mirip dengan seseorang yang dia rindukan.

Aaron yang mendengar teriakan dari Airin pun melihat bahwa Airin sedang tertawa. Melihat ekspresi adiknya yang tertawa senang, membuat Aaron tau bahwa sirine tadi adalah perbuatan adiknya.

Aaron berlari mendekati adiknya bersama anak yang di tolongnya dan berkata, "Suara sirine itu pasti kerjaan kamu kan?"

"Hihihihi, habisnya aku kesel kakak mau di pukul. Jadi ya begitu deh" ujar Airin

"Kamu gapapa?" tanya Airin pada anak yang di tolong Aaron

"Aku baik-baik saja, thanks ya buat pertolongannya" ujar anak itu. Aaron dan Airin hanya mengangguk saja.

"Oh iya bentar, aku mau ngembaliin speaker dulu ke warung sana sama beli obat untuk obatin lukamu" Airin pergi ke arah warung dengan berlari kecil.

Aaron yang melihat itu hanya tertawa kecil dengan ide dan tingkah dari adiknya. Kemudian Aaron menuntun anak itu ke arah bangku taman.

"Itu tadi siapa?"

"Dia adikku, lebih tepatnya adik kembarku"

"Oh.. kalian kembar. Baru kali ini aku melihat anak kembar secara langsung" ujarnya

Aaron yang mendengar itu hanya tersenyum sebagai tanggapan.

"Maaf ya kalian nunggu lama. Ini kalian minum dulu"

"Sini aku obatin kamu, maaf kalau sakit ya" ujar Airin

Airin mengobatinya dengan telaten dan perlahan karena takut menyakitinya. Setelah mengobati kakaknya dan orang itu, Airin membereskan sisa obat dan bungkus plester.

"Terima kasih ya atas pertolongan kalian" ujarnya

"Iya, sama-sama ..." Airin terdiam. Dirinya belum mengetahui nama anak yang ada di hadapannya.

"Ah iya, kita belum kenalan kan" ujar Aaron

"Kenalin gue Aaron, lo bisa panggil Aron dan ini adik kembar gue Airin lo bisa panggil dia Arin" jelas Aaron

"Arin" Airin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan berkenalan.

"Nama gue Rasya" Rasya membalas uluran tangan Arin.

"Oke, Rasya. Salam kenal" ujar Aaron yang juga berjabat tangan.

"Ya udah, gue sama Arin harus balik dulu. Orang rumah pasti nyariin" ujar Aaron. Aaron dapat melihat Pak Tejo yang menunggu dirinya dan adiknya di samping mobil.

"Oh iya, makasih ya" ujar Rasya lagi.

Aaron dan Airin pun berpamitan pergi dan segera masuk ke dalam mobil.

Rasya hanya diam mengamati mobil milik Aaron dan Airin.

"Apakah Airin itu dia?" gumam Rasya.

Di mobil, Airin terdiam selama perjalanan. Aaron terheran melihat Airin terdiam setelah menolong Rasya tadi.

"Kamu kenapa dek?" Aaron khawatir. Dapat dilihat bahwa Airin sedang memikirkan sesuatu.

"Aku hanya merasa pernah lihat Rasya, tapi dimana ya?"

"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Kita aja baru pulang ke Indonesia setelah 8 tahun di luar negeri. Sudah jangan dipikirin"

"Iya kak, sepertinya begitu. Mungkin hanya perasaanku saja"

...****************...

Keluar dari mobil, Airin segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Aaron hanya mengikuti Airin di belakangnya.

"Assalamualaikum Arin pulang dengan selamat di Indonesia. I'm back at home" teriak Airin

"Adik jangan teriak-teriak" ujar Aaron yang berada di belakang Airin

"Kalau nggak teriak ya bukan Arin namanya" ujar seseorang yang baru saja turun dari tangga. Dia adalah Adit, kakak sulung dari si kembar.

"Kak Adit, I miss you so much" Airin berlari menghampiri kakak tertuanya.

"Welcome back my sister" Adit memeluk Airin dengan erat

"Yang kembali bukan adik perempuan kakak aja, ya" ujar Aaron yang sedari tadi melihat kemesraan antara anak sulung dan anak bungsu keluarga Sanjaya

"Ahh, ada yang cemburu rupanya. Sini... kakak peluk" Adit melihat kehadiran adik laki-lakinya dan kemudian memeluk Aron dan Arin secara bersamaan.

"Aduh, anak papa pada pelukan. Tapi papa kenapa nggak diajak ya" ujar Papa yang baru saja datang dan melihat keharmonisan anak-anaknya

"Loh papa sudah pulang, tumben" Adit terkejut dengan kehadiran papanya. Kemudian melepas pelukannya dengan kedua adiknya.

Papa berjalan menghampiri anak-anaknya berada. Kemudian memeluk anak kembarnya yang baru saja pulang setelah 8 tahun di Amerika tempat orang tuanya tinggal.

"Si kembar kan pulang, jadi papa pulang cepat dong buat menyambut kepulangan anak kembar papa ini" ujar Papa sambil mengelus kepala kedua anak kembarnya yang berada di pelukannya.

"Hehehe, kangen papa" Airin bermanja di pelukan papanya

"Ya udah, sekarang kalian ke kamar dan istirahat. Nanti makan malam bersama dengan makanan kesukaan kalian bertiga" ujar papa

"Oke pa, kita ke atas dulu ya. Mau istirahat, kita capek banget" ujar Aaron

BAB 2

Rasya, yang baru saja sampai di rumahnya masih terdiam di halaman rumahnya. Dirinya merasa tidak siap untuk masuk ke dalam rumah.

Melihat rumah yang begitu megahnya, namun di dalamnya begitu menyiksa. Di luar, keluarga ini terlihat harmonis namun saat di dalam terlihat seperti penyiksaan secara perlahan

Perlahan-lahan Rasya masuk ke dalam rumah

"Assalamualaikum, Rasya pulang"

"Aden udah pulang, Ya ampun den, wajah aden kenapa?" tanya Bibi Sumi.

"Tadi Rasya nolong ibu-ibu, tapi malah dikeroyok. Untung ada yang nolongin bi" jelas Rasya

"Luka aden udah diobatin belum. Kalau belum bibi obatin ya, den"

"Nggak usah bi. Ini udah diobatin juga ko tadi. Jadi bibi tenang aja ya"

"Ya udah, mau bibi siapin makan siang den?"

"Nggak usah bi, saya sudah makan di luar tadi. Mama mana ya bi?" tanya Rasya yang melihat rumah terasa sepi

"Nyonya keluar den, tadi di jemput teman arisannya" jelasnya

"Ya udah, Rasya ke kamar dulu ya"

Rasya pergi ke atas menuju kamarnya. Saat di dalam kamar, Rasya mengingat peristiwa yang baru saja di alaminya.

"Airin ya namanya ... cantik" gumam Rasya

Rasya terus terbayang wajah Airin saat mengobatinya tadi. Wajah Airin yang begitu dekat dengannya, dapat dilihatnya mata indah Airin.

"Gue pengen tau banyak tentang dia" Rasya memainkan ponselnya dan mencoba mencari media sosial milik Airin dan juga Aaron.

Saat menemukan media sosial milik si kembar, Rasya melihat-lihat media sosial milik Airin. Melihat foto yang terunggah di media sosial miliknya membuat Rasya terpana

"Cantik" gumamnya

"Tapi apa aku boleh merasakan perasaan ini" Rasya merasa rendah diri saat melihat kebersamaan Airin dengan keluarganya yang terlihat harmonis. Hal itu berbanding terbalik dengan dirinya.

"Mungkin perasaan ini hanya sebatas kagum karena kejadian tadi" Rasya tidak ingin larut dengan pemikirannya

TOK... TOK... TOK...

"Den, ini Bi Sumi. Ini bibi bawain minuman untuk aden" ujar Bi Sumi

Rasya yang mendengar itu langsung membukakan pintu kamarnya

"Bi, nggak perlu. Nanti kalau Rasya mau, Rasya ambil sendiri bi"

"Gapapa den, nih di ambil. Bibi mau beres-beres dulu"

"Iya bi, sekali lagi makasih ya"

Bi sumi hanya mengangguk, kemudian pergi kembali mengerjakan tugasnya yang belum selesai.

...****************...

"Kak, Arin mau bicara sama kakak" ujar Airin yang secara tiba-tiba masuk ke dalam kamar Aaron

"Bicara apa?"

"Aku mau bicarain soal Rasya, kak. Kakak tau tadi aku nggak sengaja lihat luka di bagian leher dan luka itu seperti cambukan. " tanya Aaron

"Iya kak. Tadi ya, waktu aku obatin dia aku nggak sengaja lihat luka kak di lengan atas nya. Itu luka pukul" jelas Airin

"Mungkin itu luka karena preman itu mukul dia dek" Aaron menghiraukan penjelasan dari Airin

"Tapi preman itu nggak bawa senjata kak. Tapi luka itu jelas banget kalau luka pukul pakai senjata tumpul kak" kekeh Airin

"Kamu yakin dek?"

"Iya kak, aku yakin banget. Lukanya terlihat ada yang baru ada yang lama" Airin merasa prihatin dengan Rasya

"Itu urusan dia dek, lagian kita kan baru kenal. Kita belum tau bagaimana dia, keluarganya seperti apa. Jadi kamu nggak perlu khawatir, oke" jelas Aaron. Aaron mencoba untuk menenangkan adiknya yang memang memiliki simpati yang tinggi

"Ya juga sih, ya udah Arin balik lagi ke kamar Arin ya. Dadah kakak" Airin berlari keluar kamar Aaron

"Dasar Arin, ada-ada aja" Aaron terheran-heran dengan sikap adiknya yang terkadang dingin namun terkadang lucu seperti ini.

...****************...

TOK ... TOK ...

"Den, ini Bi Siti"

Aaron yang mendengar itu pergi membukakan pintu untuk melihat apa yang ingin dilakukan oleh Bi Siti

"Ada apa bi?"

"Itu den, aden sama non Airin dipanggil sama tuan di ruang kerjanya den" ujar Bi Siti

"Ya udah, makasih ya bi. Nanti biar saya yang kasih tau ke Arin" ujar Aaron

" Baik den. Kalau begitu saya kembali kerja dulu ya, den" Kemudian Bi Siti pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Melihat Bi siti yang sudah pergi, Aaron segera pergi ke kamar Airin.

TOK ... TOK ...

"Adek, adek masih bangun kan?" tanya Aaron

"Iya kak, ini Arin masih bersih-bersih barang-barang Arin" teriak Arin dari dalam kamar

"Dek, kita dipanggil papa ke ruang kerjanya" ujar Aaron

"Kakak duluan aja. Ini tinggal dikit lagi selesai ko, kak" teriak Airin lagi

"Ya udah, kakak duluan ya. Tapi adik segera nyusul ya, takut papa marah nanti"

"Iya kak"

Setelah memberitahukan itu, Aaron segera pergi ke ruang kerja ayahnya yang terletak di lantai 2. Saat akan memasuki ruang kerja papanya, Aaron merasa gugup.

"Loh, kakak belum masuk ruang kerja papa" ujar Airin yang baru saja datang. Dirinya bingung melihat kakak kembarnya yang diam berdiri di depan pintu ruangan kerja papanya.

"Kakak baru saja akan masuk ruangan papa ko, dek" ujar Aaron

"Kalian yang diluar, kenapa belum masuk juga" ujar Papa dari dalam ruangan

"Iya pa" ujar si kembar bersamaan dan buru-buru masuk ke dalam ruangan kerja papanya

"Kenapa kalian lama sekali ke ruang papa" tanya papa yang penasaran atas keterlambatan anak kembarnya

"Itu pa, adik tadi beresin barang-barang adik dulu. Tinggal sedikit, nanggung kalau tinggal pergi" jelas Airin

"Anu pa, tadi Aron udah ada di depan. Tapi tadi tiba-tiba gugup. Jadi, ya berhenti sebentar. Terus mau ketok pintu, tapi di kaget sama kedatangan Arin yang tiba-tiba di belakang Aron" jelas Aaron

"Ya sudah, kalau begitu papa mau berikan kabar untuk kalian..."

"Papa sudah mendaftarkan sekolah untuk kalian. Papa mendaftar kalian di SMA Bintang Permata"

Airin dan Aaron saling memandang satu sama lain. Mereka berpikir bahwa papa belum mendaftarkan sekolah untuk mereka dan akan memberitahu mengenai sekolah yang mereka inginkan. Namun, sekolah yang mereka inginkan secara kebetulan adalah sekolah yang didaftarkan papanya untuk mereka

"Dan untuk seragam dan keperluan lainnya sudah papa siapkan"

"Ohh, jadi seragam yang ada di gantungan itu untuk kita pa. Wahh makasih papa" Airin dengan segera memeluk papanya, dan hal itu diikuti oleh Aaron.

...****************...

"Pagi yang cerah untuk hari pertama sekolah di sekolah baru" ujar Airin sambil bercermin dan melihat penampilannya dengan seragam barunya

"Oke, sudah siap. Saatnya turun dan sarapan" Airin mengambil tas sekolahnya dan keluar kamarnya untuk sarapan bersama

Melihat semua anggota keluarganya yang sudah berkumpul di ruang makan, membuat Airin tersenyum senang. Namun ada yang mengganjal di hatinya, dirinya rindu dengan mama dan seseorang yang seharusnya ikut hadir di ruang itu dan bercanda tawa bersamanya. Itu hanya masa lalu, mama dan kakak keduanya sudah tenang di alamnya.

Aaron yang tak sengaja melihat adik kembarnya yang terdiam di anak tangga dengan tatapan sendu pun tau apa yang sedang dipikirkan oleh adiknya itu. Dirinya juga rindu dengan suasana rumah dulu saat ada mama dan kakak keduanya, namun itu hanyalah kenangan indah dan sekarang kita harus tetap maju ke depan.

"Selamat pagi" sapa Airin. Kemudian mencari keberadaan papanya

"Pagi, adik cantik." ujar Aaron dan Adit bersamaan

"Adik kalau mencari papa, papa sudah berangkat tadi pagi." ujar Adit.

"Nah sekarang lebih baik kalian sarapan dan segera berangkat. Papa udah nyiapin kendaraan untuk kalian" ujar Adit

Mendengar instruksi itu, Airin langsung duduk di tempatnya dan mulai memakan sarapannya.

Setelah selesai sarapan, Adit memberikan sebuah kunci kepada Aaron.

"Apa ini?"

"Hadiah dari papa. Mobil baru untuk kalian. Mobilnya ada di bagasi. Papa bilang itu mobil khusus untuk sekolah, mobil atau motor masih dalam perjalanan. Mungkin besok baru sampai"

Aaron dan Airin yang mendengar bahwa mereka mendapatkan mobil baru merasa sangat senang. Mereka tak lupa mengucapkan terima kasih pada sang kakak dan nantinya kepada sang papa.

"Ya udah sana berangkat. Ingat hati-hati ya saat berkendara"

"Siap bos. Kalau begitu kami berangkat, Assalamualaikum"

"Waalikumsalam"

...****************...

Selama di perjalanan, Airin bertanya-tanya bagaimana suasana di sekolah barunya nanti. Apakah para murid di sana semuanya baik atau malah sebaliknya.

"Kamu mikirin apa dek?"

"Nggak ada. Lebih baik kakak fokus aja nyetirnya"

"Aduh" teriak Airin karena tidak sengaja keningnya terbentur dasboard mobil

"Kakak apa-apaan sih, kenapa ngerem mendadak sih" kesal Airin

"Lihat di depan" tunjuk Aaron dengan dagunya. Aaron melihat kejadian yang ada di depannya dengan datar.

Airin yang melihat ekspresi saudara kembarnya merasa penasaran. Setelah melihat apa yang dilihat saudaranya ekspresi wajah Airin langsung ikut berubah

"Ohh, wow. Sekolah yang menyenangkan. Kak, kita bantu dia ya" ujar Airin dengan datar kemudian menatap ke arah kakaknya

"Kamu yakin dek?"

"Yakin. Kita bantu dia aja kak. Klakson mobil kak"

Aaron melakukan apa yang diinginkan oleh adiknya. Melaju masuk ke area sekolah dan membunyikan klakson dengan kencang.

TIN .... TIN ..... TIN ....

Klakson mobil terdengar begitu nyaring hingga orang-orang di depan yang menghalangi jalan masuk berhamburan pergi. Setelah semua orang pergi, Aaron pun segera melajukan mobilnya ke area parkiran sekolah.

Setelah berhenti, Airin segera memandang ke arah kakaknya. Melihat gaya kakaknya yang terlihat keren membuat Airin tersenyum.

"Kita harus terlihat keren kak, ini hari pertama kita." ujar Airin

Aaron hanya diam saja melihat tingkah adiknya.

"Ayo keluar"

Mereka keluar dengan begitu bergaya. Kacamata hitam bertengger di mata mereka membuat kesan keren pada diri mereka.

"Woy, bisa nyetir nggak sih" teriak seseorang yang tadi akan ditabrak oleh Aaron

"Bisa, saya bisa menyetir dengan baik. Memangnya kenapa?" tanya Aaron dengan santainya

"Lo masih nanya kenapa? Ha?" kesal orang itu pada Aaron hingga menunjuk-nunjuk Aaron

"Santai dong, jangan tunjuk-tunjuk ke saudara saya. Masalahnya, tadi anda menggunakan jalan sembarangan. Ah.. lebih tepatnya memblokir jalan ..." jelas Airin sambil menghentikan tingkah orang yang ada di depannya

"Berarti bukan salah kita, ya kan brother?" ujar Airin dengan santai sambil menyender ke bagian belakang mobil

"Tenang Fero, nggak perlu buang-buang tenaga buat anak sok seperti mereka berdua" ujar seseorang yang baru saja datang dengan gaya sok cool nya

"Wah datang lagi nih. Tadi yang datang si pemarah sekarang si sok cool" sindir Airin

Aaron yang melihat tingkah adiknya hanya diam. Dia membiarkan apa yang adiknya lakukan, namun jika mereka bertindak keterlaluan maka dirinya yang akan bertindak.

"Beb, what are you doing" tanya seorang gadis yang tiba-tiba datang bersama gerombolan 3 gadis dan merangkul lengan laki-laki yang sok cool itu

"Siapa mereka, beb?" lanjutnya

"Nggak tau, mereka tadi ganggu kita buat kerjain si culun Edi tadi" balasnya

"Ya udah sih beb, mending kita masuk aja. Daripada ada guru datang dan kita yang kena nantinya"

"Ya, kamu bener beb. Daripada aku ngurusin mereka yang anak baru ga jelas ini. Mending kita masuk. Yuk beb?" Kemudian mereka pergi dan masuk ke dalam sekolah bersama antek-anteknya

Airin dan Aaron hanya memandang datar kepergian mereka. Setelah melihat kepergian mereka, Airin dan Aaron melihat kearah anak yang tadi dirundung. Si kembar menghampiri anak itu melihat keadaannya

"Are you okay?" tanya Airin dan membantunya merapikan barang-barang yang berserakan. Begitupun dengan Aaron yang ikut membantu membereskan barang-barangnya

"Saya gapapa, tapi seharusnya kalian tidak melawan mereka"

"Kenapa emang?" tanya Airin yang penasaran

"Mereka dari keluarga yang berada, mereka anak-anak orang kaya" jelasnya

"Ohh, nggak masalah ko. Kamu santai saja. Kalau mereka menganggu kami, ya tinggal di lawan" ujar Aaron dengan santai

"Terserah kalian, tapi aku udah peringatin kalian ya" ujarnya

Mereka memandang kepergian Edi dengan aneh. Namun mereka tidak terlalu memikirkan hal itu.

"Sudahlah, lebih baik kita masuk dan pergi ke ruang kepala sekolah" ajak Aaron dan langsung menggenggam tangan adiknya

Tanpa di sadari, sejak mobil si kembar masuk area sekolah hingga pertengkaran di area parkiran sekolah telah diperhatikan oleh seseorang.

"Kita bertemu kembali, Arin" ujarnya sambil memperhatikan kepergian Aaron dan Airin

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!