NovelToon NovelToon

BTMTM S2 : TRIPLETS STORY

BAB 1

Hallo.... Selamat datang di Novel "BTMTM Season 2 : Triplets Story", ini sambungan cerita dari Novel "Benih Triplets Milik Tuan Muda" ya. Buat para readers yang baru datang dan yang penasaran dengan cerita nya, silakan baca season 1 nya dulu.Terima kasih👍🥰

Buat readers yang sudah setia di karya Author dan sudah selalu sabar menunggu Season 2 nya, Pada ngga sabar kan dengan Season 2 nya, nih Author hadirin kembali cerita nya. Terima kasih banyak buat para readers yang masih setia dan sudah mau mampir juga di season 2 ini.🥰❣️

Jangan lupa dukungan nya, Like, koment, vote dan hadiah nya ya🥰👍

SELAMAT MEMBACA❣️❣️

° ° ° ° °

Di sebuah sekolah menengah atas alias SMA yg terkenal Elit dan sangat bergengsi.

Bel tanda pulang sekolah berbunyi, artinya jam pelajaran telah usai.

Dua orang gadis remaja cantik namun berpenampilan culun langsung membereskan buku-buku mereka.

Dua orang bocah perempuan yang dulu cerewet dan cantik itu, kini menjelma menjadi gadis culun yg sangat tidak menarik minat para lelaki.

Jika saja kedua gadis itu tidak culun, maka bisa di pastikan bahwa semua siswi akan langsung minder akibat pesona kedua gadis remaja yg cantik dan tentu saja kaya raya, akan tetapi saat ini semua orang hanya tahu nya mereka gadis culun yg hidup di kelas menengah ke bawah, dan numpang kaya pada ke 2 pria tampan yg tak lain dari Zio dan Zayn, yg memang terkenal tajir melintir.

"Raudha nanti jangan lupa temani aku ya." Ucap salah seorang gadis kepang dua dengan kacamata bulat nya.

"Iya Ara bawel." Sahut seorang gadis yg juga dengan rambut kepang dua, beda nya dia tidak memakai kacamata bulat nya.

"Kamu juga bawel Raudha." Ujar Arania, iya gadis berpenampilan culun itu adalah Arania Sonia.

"Kamu lebih bawel." Raudha alias Raudhatul Zea Az-Zahra juga pastinya tak mau mengalah. Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas kedua gadis itu merubah penampilan mereka menjadi culun.

Bukan tanpa alasan mereka berpenampilan demikian, hal itu di lakukan Ara dan Raudha agar tidak banyak lelaki mengejar mereka.

Zea yg tadinya di panggil Zea, sejak sekolah menengah kebanyakan teman-teman nya malah memanggil Raudha, lantaran nama nya terkenal sebagai Raudhatul. Hanya orang-orang terdekat nya saja yg tetap memanggil Zea, itupun tidak di lingkungan sekolah, jika di lingkup sekolah mereka akan memanggil Zea dengan nama Raudha atau Raudhatul.

Zea mulai bangkit dari duduknya, sambil menenteng tasnya. Arania juga bangkit dari duduk nya, kedua gadis itu berjalan keluar kelas.

Belum juga langkah kaki kedua gadis itu mencapai ambang pintu, seorang gadis dengan penampilan yg lebih mirip seperti ondel-ondel lantaran make up nya yg tebal.

"Eh cupu." Ucap seorang gadis tadi, sambil bersedekap dada menatap Arania dan Zea.

"Ada apa?." Sahut Zea sambil menatap sinis gadis yg bernama Vina tersebut.

"Gue bukan bicara sama Lo, tapi sama dia." Tunjuk Vina pada Arania.

"Mau apa?." Kali ini Arania yg angkat bicara, sambil menatap Vina dengan mata memicing tajam.

"Berapa kali Gue bilang, jauhi Zio." Bentak Vina sambil menunjuk wajah Arania.

"Memang nya Zio siapa lo?." Zea angkat bicara, dia paling tak suka kalau ada orang yg berani pada Arania.

"Ahahaha." Vina tertawa mendengar pertanyaan zea, tidak tahu saja dia bahwa Zea adalah saudara kembar Zio.

"Lo nanya siapa Zio, tentu saja dia pacar Gue." Sahut Vina kemudian, sambil tersenyum miring pada Zea.

"Ahahaha." Kali ini giliran Arania dan Raudhatul yg tertawa mendengar pengakuan bohong Vina.

"Berani sekali kalian menertawakan Vina." Tiba-tiba suara seorang gadis remaja lain nya membela Vina.

"Memang nya ada larangan tidak boleh tertawa?." Tanya Zea, menatap gadis yg merupakan teman akrab Vina, Misel nama nya.

“Ngapain Lo menatap gue dengan melotot gitu, mau gue colok mata Lo.” Misel menatap tajam Zea.

"Turunin tangan Lo." Suara berat seorang remaja lelaki tampan tiba-tiba menyela sambil menyentak tangan Misel yg semula menunjuk Zea.

Melihat remaja tampan tersebut, lekas-lekas misel merubah ekspresi nya, yg semula kesal pada Zea, kini sekarang malah tersenyum manis menatap Zayn. Iya Zayn datang untuk menghampiri Zea dan Arania, bocah yg dulu nya terkenal cool kini penampilan nya semakin dingin bagai tak tersentuh, hanya dengan Arania, Arumi, Zea dan saudara nya saja pria tampan nan keren itu akan berbicara, itupun hanya seadanya.

"Zayn, mereka berdua yg lebih dulu mencari gara-gara sama aku." Misel malah mengadu pada Zayn, sambil bergelayut manja di lengan Zayn.

Zayn langsung tersenyum miring, menatap Arania dan Zea bergantian, kedua gadis itu hanya mengedikkan bahu tak acuh.

"Minggir." ucap Zayn langsung menyingkirkan Misel dari lengan nya. Yang membuat Misel hampir terjungkal, jika saja Vina tidak menahan nya.

"Lo kira gue buta, ingat ya sekali lagi kalian berdua mengusik Arania dan Raudha, maka gue pastikan kalian berdua hanya tinggal nama saja." Kecam Zayn, dengan suara dingin dan penuh intimidasi. Mendengar perkataan Zayn, kedua gadis tadi langsung kicep.

"Ayo Raudha, Ara, kita pulang." Zayn langsung meraih tangan Raudha untuk mengajak nya pulang.

Ketiga orang itu langsung berjalan menuju parkiran, disana sudah menunggu Zio.

"Zio." Arania langsung berteriak memanggil Zio, gadis itu mengulas senyuman terbaiknya, sambil melepaskan kaca mata bulatnya.

"Jangan ada adegan peluk-peluk dan tidak perlu bilang kangen-kangenan segala." Zayn mulai menyeletuk, dia sudah gemas dengan tingkah laku Zio dan Arania yg bucin akut.

Setiap kali bertemu pasti kedua nya langsung peluk-peluk, dan bilang kangen-kangenan segala, padahal setiap hari bertemu, dan itu sangat alay menurut Zayn.

"Kak Zayn tidak boleh begitu, nanti kalau kak Zayn yg bucin terus di gangguin tak terima." Ujar Raudha, sambil menatap Zayn.

"Ah Zea, mengapa kamu selalu membela Zio." Dengus Zayn.

"Sudah-sudah, ayo kita pulang." Zio menengahi, sejak tadi sopir mereka juga sudah menunggu.

"Ara, aku duluan." Zea berkata pada Arania, yg di balas anggukkan kepala oleh Arania, karna gadis itu sibuk bermanja-manja dengan Zio.

"Ara, aku pulang dulu ya, kamu juga pulang lah sana, jangan keluyuran, atau aku aduin Mama." Peringat Zio, sambil mengusap lembut rambut Arania.

"Siap Tuan muda ku." Sahut Arania, sambil memberi hormat, setelah itu gadis tersebut melabuhkan sebuah kecupan hangat di pipi Zio, begitulah kedua insan itu sehari-hari, sedangkan Zea dan Zayn hanya bisa menjadi penonton drama kedua bucin itu.

Ara berlalu meninggalkan Zio, dan menuju mobil jemputan yg juga telah menunggu nya. Zio yg dulu nya kaku,perlahan mulai mencair karna Arania, tapi hanya bersama Arania dan Zea saja Zio akan sedikit cerewet.

"Dadah tampan, dadah semuanya." Arania persamaan tangan pada ketiga kembar.

Zio membalas dengan mengacungkan jempol saja. Dari kejauhan Vina melihat semua itu.

"Dasar gadis cupu kurang ajar, berani sekali dia mendekati Zio ku." Gumam Vina sambil mengepalkan tangan nya kuat, merasa cemburu melihat Zio dekat dengan Arania, yang menurut Vina sama sekali tidak cocok dengan Zio, lantaran Arania berpenampilan cupu, sehingga Vina mengira bahwa Arania dan Zea adalah gadis miskin yg kebetulan di baiki oleh Zio dan Zayn.

Di sekolah itu tidak ada yg tahu siapa Zea, karna ketiga kembar itu berbeda kelas, Zea sekelas dengan Arania, sedangkan 2 saudara Zea yg lain nya berada di kelas yg berbeda, tentu saja itu atas permintaan Elang, sebab jika ketiga kembar itu di jadikan satu kelas bersama Arania, maka yg ada mereka bukan nya belajar, malah sibuk bercanda dan saling bedebat.

Pernah waktu SMP ke 4 orang itu satu kelas, dan berujung setiap hari mereka bolos sekolah hingga Elang dan Erick harus bolak balik ke sekolah lantaran kelakukan ke 4 orang itu yg selalu berbuat ulah.

Oleh sebab itulah saat memasuki SMA, Elang dan Erick sepakat untuk memisah kelas mereka, kedua Ayah itu sudah bosan menjadi tamu di sekolah.

Bahkan kedua ayah itu juga yg menyarankan agar anak gadis mereka berpenampilan cupu saja, agar tidak di goda para lelaki terus menerus dan berujung kedua gadis itu akan berantem.

Iya betul, Arania dan Zea sudah sangat pasih dalam bela diri, sejak kepergian Mark, Zea dan Ara bahkan ke 2 saudara Zea lain nya memutuskan untuk belajar bela diri, dengan guru nya adalah Alea dan Kania,Kania adalah mama dari Arumi, serta anggota genk Arnold.

Maka nya jika di sekolah sedikit saja ada yg berani menatap penuh minat pada Arania dan Zea maka kedua gadis itu akan langsung menghajar nya, atau ke 2 saudara Zea yg akan menghajar nya.

Jadi menjadi culun adalah ide terbaik dari Elang dan Erick untuk Arania dan Zea, untunglah kedua gadis itu setuju, dan mereka bisa sekolah tanpa di ganggu para pria remaja yg selalu mengejar mereka, lantaran terpesona dengan kecantikan kedua gadis itu.

   Kembali ke topik semula.

Zio masuk ke mobil setelah dadah-dadah dengan Arania tadi. Saat dia memasuki mobil, Zio tidak melihat adanya Zayn disana.

"Dimana Zayn?." Zio bertanya pada Zea.

"Tidak tahu kak." Sahut Zea apa adanya, gadis itu celingak celinguk keluar jendela mencari keberadaan Zayn.

Dan ternyata orang yg mereka cari malah asyik-asyik kan cengar cengir, sambil berpose macam-macam gaya. Iya benar remaja tampan itu sedang berselfie ria dengan para gadis-gadis yg menganggumi Zayn.

Zayn yg dulu tidak suka menggoda para gadis cantik, kini malah dia yg sering di goda para gadis, dan Zayn akan dengan senang hati menanggapi nya, bocah yg dulu nya kalem kini malah berpenampilan sedikit bad boy, dengan baju seragam yg ia keluarkan, rambut di tata sedikit berdiri, jangan lupakan aksesoris ala anak gaul melekat sempurna di tangan nya.

Zayn memang tumbuh menjadi seorang pria playboy yg suka tebar pesona sana sini, dan setiap ada yg mengajak nya berpacaran maka Zayn akan menerima nya. Meskipun setelah seminggu Zayn akan meninggalkan nya. Intinya putra Claudia dan Elang satu itu suka gonta ganti cewek.

"Kak itu dia." Tunjuk Zea, pada Zayn yg masih di kerumuni para siswi yg notabene nya merupakan fans berat Zayn.

Ke 2 orang itu langsung melemaskan bahu mereka, dan saling melempar pandang.

"Kapan Zayn akan tobat." Lirih Zio.

"Sepertinya Kak Zayn akan tobat kalau sudah bertemu gadis kecil nya waktu itu." Sahut Zea.

"Gadis kecil." Tanya Zio.

"Gadis kecil yg mana?." Tambah Zio lagi, sambil menatap Zea meminta penjelasan.

Zea hanya bisa meringis, dia tak sengaja keceplosan mengatakan tentang gadis kecil nya Zayn, selama ini Zayn hanya bercerita pada Zea tentang kalung yg di berikan Senna dan bagaimana mereka bertemu.

"Dasar mulut tidak ada akhlak, kenapa suka sekali bicara sembarang." Gerutu Zea pelan, sambil menepuk mulut nya pelan, gadis itu merutuki mulut lemes nya.

      *

Bersambung................

Oh iya..author mohon kalo ngga suka dengan novel yang Author buat silahkan tinggalin aja, jangan merendahkan bintang nya atau membuat karya Author seolah-olah jelek atau tidak layak dibaca, itu akan membuat author nya tidak semangat dalam melanjutkan karya nya lagi, Berkarya tidak lah mudah Terima Kasih🙏🙏🙏

BAB 2

Zio menatap gadis itu untuk meminta penjelasan atas perkataan Zea barusan.

"Zea jelaskan." Tegas Zio, sambil menatap Zea dengan pandangan menuntut.

Zea hanya bisa mencebikkan bibirnya, gadis itu berpikir untuk mencari alasan saja, akan tetapi hingga beberapa detik kemudian, ia juga tidak menemukan alasan yang masuk akal, dan bisa dipercayai oleh saudaranya.

"Tapi jangan bilang-bilang kak Zayn ya kak, nanti kak Zayn ngomel pada ku." Akhir nya begitu Zea menanggapi, tak ada pilihan selain dia menceritakan kebenaran nya.

"Hm." Sahut Zio.

"Janji." ucap Zea memberikan jari kelingking nya.

"Janji." Sahut pria tampan itu, sambil menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking Zea.

"Sekarang ceritakan, sebelum Zayn kemari." Titah Zio,

" Kakak masih ingat kan waktu kak Zayn pergi bersama om Jonathan ke markas nya Daddy?." Tanya Zea, seraya menatap saudara nya itu.

Zio tampak memutar bola mata mereka, mencoba menggali memory yg di maksud Zea. Beberapa detik kemudian Zio pun mengingatnya.

"Sekarang jelaskan." Zio kembali berbicara.

"Apanya yg harus di jelaskan Zio?." Zayn yg telah selesai dengan sesi selfie nya bersama para gadis kini telah memasuki mobil. Sementara Zea menghela nafas lega.

"Selamat, selamat." Ucap Zea dalam hati, sebab dengan kedatangan Zayn, dia tak harus menjelaskan mengenai siapa gadis kecil nya Zayn.

"Jalan pak." Titah Zea, begitu Zayn telah duduk dengan benar.

Pak Jajang pun menjalankan mobil nya, dari jarak kira-kira 2 meter jauh nya, beberapa bodyguard selalu mengawasi mereka.

"Kalian tadi lagi bicara apa?." tanya Zayn menatap ke 2 saudara nya dengan penuh selidik.

"Tidak ada." Sahut Zio dan Zea bersamaan.

"Jangan bilang kalian lagi mengomongin aku, kalian iri ya karna aku rebutan para gadis." ucap Zayn berkata dengan tampang songong nya, seraya mengibas-ngibaskan pelan kerah seragam nya.

Ke 2 saudara Zayn hanya memutar bola mata mereka malas.

"Kalau aku tidak berpenampilan cupu, kalian tahu sendiri seberapa banyak pria yg menyukai ku, jadi jangan sombong kamu Kakak Zayn." Celetuk Zea, gadis itu tentu tak mau kalah.

"Iya, iya, tapi hatinya Zea Jelita buat Mark seorang." Goda ke 2 saudara nya, yang membuat Zea langsung tersenyum malu-malu, gadis itu akan malu-malu sendiri jika membahas tentang Mark.

"Tapi bagaimana kabar Mark sekarang ya, sudah 5 tahun terakhir ini kita lost kontak dengan nya?." Celetuk Zayn.

"Sepertinya Mark telah melupakan Zea." Zio sengaja ingin menjahili adik perempuan nya itu.

"Bisa jadi, buktinya sudah 10 tahun berlalu, tidak ada tanda-tanda Mark akan kembali." Timpal Zayn lagi.

"Mungkin saat dia kembali nanti, malah bawa pasangan dari Paris." Zio juga tak ingin ketinggalan untuk lebih jauh lagi.

"Kalau begitu bagaimana dengan Zea?." tanya Zayn yang masih dalam mengerjai sang adik. Ke 2 saudara itu pasti akan kompak jika soal menjaga dan menjahili sang adik.

"Aku terlupakan, dan tersisih, itukan yg kalian maksud." Celetuk Zea, dengan bibir monyong nya, dia sudah tak heran lagi jika di jahili ke 2 saudara nya.

"Iya itu memang cocok untuk seorang gadis cupu seperti mu.. ahahaha." Tawa Zayn, meledek sang adik.

"Kalau aku tidak berpenampilan cupu, yg ada kita tidak bisa sekolah dengan tenang, karna aku selalu di godain banyak cowok, dan kalian yang sangat posesif akan langsung emosi tingkat dewa, ujung-ujungnya berantem, dan Daddy di panggil ke sekolah, setelah itu kita dapat siraman rohani dari Mommy selama 7 hari 7 malam." Celoteh Zea panjang lebar.

"Ahahaha." Tawa ke 2 saudara Zea pecah, apa yg di katakan Zea memang benar adanya. Setiap kali mereka berulah di sekolah berujung Daddy mereka yg di panggil, setelah pulang pastilah mereka mendapat siraman rohani dari sang Mommy.

Begitulah keseharian mereka, sepanjang perjalanan tak pernah sepi, pastilah ketiga kembar itu bergurau dan saling mencibir. Beberapa menit kemudian, mobil yg di kendarai pak Jajang memasuki halaman mansion Dirgantara.

Baru saja mesin kendaraan tersebut terhenti, tampak seorang bocah laki-laki langsung membuka pintu rumah, dan tersenyum ramah ke arah mobil.Bocah laki-laki berumur hampir 10 tahun itu hafal betul pastilah si kembar tiga yg pulang. Tiga R pun membuka pintu mobil dan keluar.

"Kakak Zea ku yg cantik sudah pulang." Teriak bocah laki-laki tersebut sambil berlarian menghampiri Zea, dan memeluk kaki Zea.

Jansen Praditya Alfatih. Itulah nama bocah lelaki tersebut, yg akrab disapa Jansen atau Ansen, Zea menunduk, dan mengusap lembut kepala bocah itu.

"Ansen sudah lama pulang sekolah?." Tanya Zea, sambil menggandeng tangan bocah itu dan mengajak nya masuk kedalam rumah.

"Iya, aku pulang cepat, karna guru nya rapat." Sahut bocah laki-laki yg berumur hampir 10 tahun itu, bocah itu kini sudah kelas 5 SD.

"Guru nya memang rapat, atau kamu saja yg bolos sekolah?." ucap Zayn menyela sambil menatap Jansen dengan penuh selidik.

Jansen yg di tatap Zayn demikian, hanya menampilkan cengir lebar nya.

"Bang Zayn memang selalu tahu, kalau Ansen bolos." Sahut bocah itu dengan polos nya.

"Janseb tidak baik bolos, nanti Abang Zio aduin kamu sama Mama dan Papa mu, mau?." Tegas Zio, menatap tajam bocah itu.

"Jangan Abang Zio yg tampan, Ansen janji deh tidak bolos lagi, tapi jangan diadukan sama Mama dan Papa." Melas Jansen menatap Zio.

“Baiklah, tapi sekali lagi kamu bolos, Abang benar-benar akan bilang pada Mama dan Papa mu.” Kecam Zio. Jansen hanya menganggukkan kepala nya.

"Selalu saja begitu, Abang Zio seperti tidak pernah bolos saja." Gerutu bocah itu pelan, akan tetapi masih bisa didengar oleh Zio yg telinga nya sangat tajam itu.

"Jangan menggerutu Jansen, atau sekarang juga aku telpon Papa mu." Ancam Zio. Yang membuat Jansen langsung mengerucutkan bibir nya.

"Kakak Zea yg cantik, tolong Ansen ada monster." ucap Jansen berkata seraya menatap Zea.

"Kali ini kak Zea setuju dengan apa yg di katakan abang mu jangan, jadi jangan bolos lagi." Zea ikut menasehati Jansen.

"Baiklah, jika tuan putri ku sudah bicara maka Jansen ini siap untuk melaksanakan." Ucap bocah itu menggoda Zea.

Bocah itu memang suka mengklaim Zea sebagai milik nya. Entahlah itu hanya gurauan nya, saja memang bocah tampan satu itu tertarik pada Zea.

"Sudah, kakak mau berganti pakaian dan makan dulu." Pamit Zea, gadis itu langsung berlalu menuju lift, untuk pergi ke lantai tiga dimana kamar nya berada.

Di ikuti oleh 2 saudaranya yg lain.Kini mereka telah memiliki kamar masing-masing, akan tetapi kamar mereka tetap berdekatan, dan berada di lantai yg sama, itu adalah permintaan mereka sendiri.

Sehingga Elang dan Claudia hanya bisa menuruti, meskipun mereka harus mendengar suara gaduh setiap hari pagi hari, karna Zea yg suka berteriak membangunkan ke 2 saudara laki-laki nya.

Setelah berganti pakaian dan membersihkan diri, ketiga kembar itu pergi ke ruang makan, untuk mengisi perut mereka yg sejak tadi berdisco ria minta diisi.

Baru saja mereka selesai makan siang, sudah terdengar suara cempreng seorang gadis mengejutkan ketiga kembar yg masuk duduk di menghadapi meja makan.

"Zea Jelita I'm Coming." Teriak seorang gadis tersebut.

"Secepat ini." Keluh Zea, dia hafal betul suara siapa itu.

\*

Bersambung...................

BAB 3

"Raudha, Aku datang." Kembali gadis itu berteriak, lantaran tak ada sahutan dari orang yg dia panggil tadi.

Zio langsung bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju ruang tamu, remaja tampan itu sangat yakin, jika yg datang tersebut adalah Arania, dan gadis manis itu pastilah sudah berada di ruang tamu, dia tak akan berhenti berteriak jika belum ada yg menghampiri.

"Hello, pangeran tam.." Benar dugaan Zio, gadis itu akan berteriak lagi, akan tetapi urung lantaran Zio keburu tiba disana, dan menyela perkataan Arania.

"Pangeran mu datang, jadi berhentilah berteriak, atau tenggorokan mu akan sakit." Celetuk Zio, sambil menatap Arania dari ujung rambut hingga ujung kaki, saat ini gadis manis satu itu tidak berpenampilan culun. Sehingga kecantikkan nya yg paripurna terekspos sempurna.

"Apakah kamu terpesona padaku Tampan?." Arania berkata sambil mengedip-ngedipkan mata nya genit.

Zayn dan Zea yg baru tiba di ruang tamu, hanya bisa memutar bola mata mereka malas, sejujur nya mereka sangat jengah dengan ke alay an dan kebucinan dua insan itu, tetapi mau bagaimana lagi, mau tak mau hampir setiap hari mereka menyaksikan drama percintaan antara Zio dan Arania.

"Siapa yg menyuruhmu berpenampilan begini?." Tanya Zio dingin, dia tak suka kalau kecantikan Arania di lihat oleh orang luar.

"Oh baby, jangan bilang kalau kamu tidak mengizinkan aku tampil cantik begini." Selidik Arania, gadis satu itu memang kurang peka.

"Kak Zio itu memang tidak suka Ara." Zea sangat gemas dengan sikap tidak peka temannya itu.

"Ara yang cantik dan baik hati, mulai sekarang ingat ya, kalau keluar kamu harus selalu berpenampilan selayak nya kamu di sekolah, kecuali kalau keluar dengan ku, baru kamu boleh tampil cantik seperti ini." Zio berkata sambil mencubit pelan pipi Ara.

"Aku sangat tidak suka kalau ada yg menikmati kecantikan mu, khusus nya cowok-cowok mata keranjang di luaran sana." Tambah Zio lagi.

Ara langsung tersipu malu mendengar penuturan Zio, bahkan pipi gadis itu merona merah.

"Baik, nanti sebelum pergi dengan Zea, aku akan merubah penampilan ku dulu." Ara akan selalu menurut apa kata Zio.

"Posesif amat woy." Celetuk Zayn.

"Iri ya, karna tidak ada yg mau di posesifin?." Ara menatap Zayn, dengan tatapan sedikit meledek. Zayn langsung mendengus.

"Oh iya Ara, apakah kita akan pergi sekarang?." ucap Zea mulai bertanya pada Ara. Ara langsung menganggukkan kepala nya.

"Aku siap-siap dulu." Pamit Zea.

"Zea ingat kalau keluar berpenampilan seperti di sekolah saja ya, jangan genit." Pesan Zio dan Zayn bersamaan.

"Siap kakak." Sahut Zea, dia memang tidak akan membantah perintah kakak-kakak nya, sebab jika dia dalam masalah, maka kakak-kakaknya yg pertama kali turun tangan.

"Kalian mau kemana?." Zio mulai bertanya pada Arania.

“Jangan bilang-bilang Zea ya sayang, sebenar nya aku mau jemput Mark di Bandara.” Jelas Ara pelan, yang membuat Zio dan Zayn langsung membulatkan mata mereka.

"Mark kembali?." Tanya Zayn, binar bahagia tampak jelas dimata nya, setelah 10 tahun berpisah, ia begitu rindu akan Mark yg sudah Zayn anggap seperti saudara nya sendiri.

"Iya, tapi aku sengaja tidak bilang-bilang Zea, biar jadi surprise untuk nya." Tambah Arania lagi.

Ke 2 lelaki tampan itu mengangguk faham, mereka senang, setelah sekian lama penantian Zea akan kedatangan Mark, kini akan terbayarkan, Mark akan memang kembali.

"Apakah Mark akan mengenali Zea dengan penampilan nya yg sekarang ya?." Celetuk Zayn dia sangat penasaran.

"Dulu Mark begitu peka, tidak tahu kalau sekarang, setidak nya jika Mark tidak mengenali Zea dalam tampilan culun dan dengan nama Raudha, maka itu adalah tantangan bagi Zea untuk menaklukkan Mark lagi dengan dirinya yg sekarang, dan juga merupakan ujian bagi Mark, apakah dia akan mengenali Tuan putrinya yg ia agung-agungkan akan menjadi istrinya kelak, dan apakah cinta nya Mark akan tetap untuk Zea, atau justru dia jatuh hati pada Raudha nanti." Jelas Ara panjang lebar.

Ke 2 saudara Zea tersenyum manis.

"Ide yg sangat bagus, dengan begitu kita bisa menilai apakah Mark memang layak buat Zea atau tidak." Sahut Zayn, dia setuju dengan ide Arania.

"Jadi nanti kamu akan mengenalkan Dara sebagai Raudha gitu?." Tanya Zio penasaran.

"Iya baby, Zea juga sudah setuju untuk melakukan hal ini." Jawab Ara, dia memang pernah membahas masalah ini dengan Zea, dan Zea sangat setuju pada ide Ara.

"Ya sudah, kamu juga gantilah dandanan mu, jangan sampai Mark curiga." Ujar Zio.

"Curiga maksud nya??." Ara menatap Zio tak faham.

"Kalau penampilan mu cantik seperti ini, apakah pantas berteman dengan gadis culun?." Jelas Zio, yang membuat Ara langsung cengengesan karna dia tak faham maksud Zio tadi.

"Ehehe iya baby, aku ganti penampilan dulu." Ara berkata seraya bangkit dari duduk nya, tujuan nya adalah kamar Zea, gadis itu akan meminjam pakaian cupu Zea saja.

Beberapa menit kemudian, dua orang gadis cupu keluar dari lift dan berjalan menuju ruang tamu, dimana ke 2 saudara Zea ada disana, dan jangan lupa seorang bocah yg tak lain dari Jansen.

"Bagaimana penampilan kami kakak?." Zea berkata seraya memutar tubuhnya di hadapan ke 2 kakaknya.

"Lumayan jelek, ehehehe." Sahut Zayn, dengan kekehan pelan nya.

"Lumayan jelek, artinya aku masih terlihat cantik ya." Ujar Zea, sambil menampilkan cengir lebar nya.

"Adik ku memang selalu cantik, meskipun berpenampilan cupu begini kamu tetap cantik." Puji Zio, memang begitulah adanya, meskipun dengan rambut kepang dua, dan kaca mata nya Zio masih terlihat cantik, walaupun wajah nya di pakaian make up agar tidak terlihat wajah asli nya.

"Makasih kakak Zio, kamu memang yg terbaik, Zea sayang kakak Zio banyak-banyak deh." Zio berkata sambil bergelayut manja di lengan kekar Zio.

"Kakak juga sayang Zea." Sahut Zio, seraya mengusap lembut rambut sang adik.

"Aku juga sayang Zea." Ucap Zayn, dia tak mau ketinggalan. Yang membuat Zea merasa sangat senang.

"Apakah aku tidak disayang?." Arania menampilkan wajah sendu nya.

"Tentu saja sayang dong sweety." Zio langsung merangkul bahu Ara, yang membuat Ara langsung sumringah.

"Kita sudah seperti saudara sejak kecil Ara, jadi kami menyayangimu seperti kami menyayangi Zea juga." Jelas Zayn yg di angguki oleh Zea dan Zio.

"Zea apakah kamu tidak sayang aku?." Tanya Ara, yang langsung mendapat toyoran di kepalanya oleh Zea.

"Mana ada begitu, cuma kamu dan Arumi saudara perempuan ku." Kecam Zea, sambil memutar bola mata nya menatap Ara, Ara yg melihat hal itu hanya tertawa.

"Ayo kalau mau pergi nanti keburu malam." Celetuk Zea kemudian.

"Baiklah, ayo." Ara langsung melepaskan diri dari rangkulan Zio.

"Baby kami pergi dulu ya." Pamit Ara sambil mencium singkat pipi Zio.

"Kakak kami pergi, kalau Mommy dan Daddy nanya bilang aja Zea menemani Ara belanja." Zea berkata seraya menciumi pipi satu persatu kakak nya.

"Hati-hati." Pesan ke 2 lelaki tampan itu, seraya mengusap rambut kedua gadis itu bergantian.

Setelah berpamitan, kedua gadis culun itu langsung berjalan keluar rumah, di dalam mobil sopir keluarga Ara sudah menunggu, iya mereka akan pergi dengan sopir dari keluarga Ara.

Sopir keluarga Ara bukan orang sembarangan akan tetapi seorang pria dewasa dengan ilmu bela diri yg mumpuni, bisa diandalkan dalam menjaga princess Sanjaya dan Princess Dirgantara tersebut.

Setelah memasuki mobil, Ara dan Zea melambaikan tangan pada ke 2 lelaki tampan yg berdiri di teras rumah menatap mereka.

Perlahan mobil yg di kendarai Arjun mulai meninggalkan pekarangan mansion Dirgantara.Beberapa menit berlalu, sudah lebih dari lima pusat perbelanjaan terlewati akan tetapi Ara tak kunjung meminta sopir nya untuk berhenti, dan mobil terus melaju membelah jalanan raya.

"Ara kita mau berbelanja kemana?." Tanya Zea, sebab biasanya jika berbelanja maka mereka pasti memilih tempat yg paling ramai, sedangkan ini sudah beberapa pusat perbelanjaan tempat mereka biasa belanja di lewati begitu saja.

"Ehehe, nanti kamu tahu sendiri." Sahut Ara, sambil fokus dengan ponsel nya. Yang membuat Zea hanya bisa mendengus sebal. Gadis itu juga ikut merogoh ponsel nya, dan memilih berseluncur di toktok saja.

Hingga beberapa menit berlalu, mobil memasuki area parkiran Bandara, yang membuat Zea langsung menatap tajam Ara untuk meminta penjelasan.

Ara yg mengerti arti tatapan sang sahabat langsung menampilkan cengir lebar nya.

"Kita akan menjemput pangeran Mark mu." Sahut Ara dengan senyum manis nya.

Zea yg mendengar hal itu langsung membelalakkan mata nya, saking kaget dan tak menyangka nya.

       *

Bersambung..................

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!