Andora Velicia Varion
001 Dikeluarkan
Di salah satu koridor sekolah yang ramai, kerumunan siswa dan siswi tampak berkumpul, perhatian mereka tertuju pada sesuatu yang seolah menyita seluruh suasana.
Salah seorang guru yang melihat kerumunan itu segera melangkah mendekat, lalu menerobos masuk ke tengah-tengah kumpulan siswa untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Bu rani
"Eh, ada apa ini? Bubar, bubar sekarang!" (seru guru itu dengan nada tegas, suaranya menggema di sepanjang koridor, membuat kerumunan siswa perlahan mulai bubar.)
Bu rani
"ORA bisa, nggak? Kamu sehari saja tidak membuat masalah, tidak membully orang!" ucapnya dengan nada penuh muak, tatapannya tajam menusuk ke arah siswa yang dimaksud.
Andora Velicia Varion
"Apasih, Bu? Nggak usah banyak urus deh, Lo!" balas siswa itu dengan nada ketus, sambil melipat tangan dan menatap sang guru dengan tatapan menantang.
Bu rani
"Kurang ajar ya kamu! Orang seperti kamu memang harus dikasih pelajaran. Ikuti saya ke ruang guru sekarang!" ucapnya tegas sambil menarik tangan Ora tanpa memberi kesempatan untuk membantah.
Andora Velicia Varion
"Gue nggak mau, sialan!" teriak Ora, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan guru itu, wajahnya tampak marah dan frustasi.
Bu rani
"Ikuti saya!" seru guru itu tegas. Ora, meskipun enggan, akhirnya terpaksa mengikuti langkah guru tersebut dengan wajah penuh kekesalan.
Semua guru di ruang guru tidak lagi merasa heran, mengingat siswa seperti Ora sudah terlalu sering masuk ke sana dengan berbagai masalah yang selalu mengikutinya.
Bu rani
"Saya sudah berdiskusi dengan semua guru, bahkan kepala sekolah sekalipun, dan kami telah memutuskan untuk mengeluarkanmu dari sekolah ini," ucap guru itu dengan tegas, suaranya berat penuh penekanan.
Andora Velicia Varion
"Ngak bisa gitu dong, sialan!" balas Ora dengan marah, suaranya menggema di ruang guru, tampak jelas rasa kesalnya yang semakin memuncak.
Bu rani
"Jaga perilakumu! Ini sudah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat," kata guru itu sambil menyerahkan sebuah surat. "Ini surat pengeluaranmu."
Andora Velicia Varion
"Ahh, sial!" geramnya sambil meraih surat itu dengan kasar. Dengan penuh amarah, ia menendang kursi yang baru saja didudukinya, menciptakan bunyi keras yang menggema di ruang guru.
Andora Velicia Varion
"Mati gue kalau ayah tahu," gumamnya pelan, wajahnya berubah tegang, dan matanya memandang kosong ke arah surat yang kini ada di tangannya.
gimana-gimana masih b aja ngak sihh?!!
002 sahabat
Bu rani
"Jaga perilakumu! Ini sudah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat," kata guru itu sambil menyerahkan sebuah surat. "Ini surat pengeluaranmu."
Andora Velicia Varion
"Ahh, sial!" geramnya sambil meraih surat itu dengan kasar. Dengan penuh amarah, ia menendang kursi yang baru saja didudukinya, menciptakan bunyi keras yang menggema di ruang guru.
Andora Velicia Varion
"Mati gue kalau ayah tahu," gumamnya pelan, wajahnya berubah tegang, dan matanya memandang kosong ke arah surat yang kini ada di tangannya.
Jasmine Larisya
"Woii, Ra! Ngapain ngelamun di depan ruang guru?" seru salah satu temannya yang tiba-tiba muncul, membuyarkan pikirannya.
Andora Velicia Varion
"Anjing lo, Jas!" balas Ora dengan kesal, melirik temannya yang kini berdiri sambil menyeringai, seolah menikmati situasi Ora yang tengah terpuruk.
Jasmine Larisya
"Lo kenapa sih, Ra? Gue tadi perhatiin lo keluar dari ruang guru dengan tatapan kosong. Emang ada apa, Ra?" tanya Jasmine penasaran, nada suaranya sedikit lebih serius dari biasanya.
Andora Velicia Varion
"Ini, Jas," ujar Ora sambil menyodorkan surat pengeluarannya dengan wajah masam. "Gue resmi dikeluarin dari sekolah."
Jasmine Larisya
"WTF?!" Jasmine melongo, menatap surat itu dengan mata membelalak. "Lo serius, Ra? Kok bisa sih sampai segininya?"
Andora Velicia Varion
"Biasa, mereka mungkin udah muak sama gue," jawab Ora sambil menghela napas berat, mencoba terlihat santai meskipun jelas ada kekecewaan di matanya.
Jasmine Larisya
"Lo sih, nakal banget," balas Jasmine sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi, serius, Ra, lo nggak nyesel sama sekali?"
Andora Velicia Varion
"gue? Ke kelas aja yukk jas" jawab Ora, mencoba menghindari pembicaraan lebih lanjut, sambil melangkah pergi dengan langkah cepat.
Jasmine Larisya
"Tunggu, gue baru sadar. Lo manggil gue apa? Jas?" tanya Ora dengan ekspresi bingung, seolah baru menyadari bahwa temannya itu memanggilnya dengan nama yang tidak ia sukai.
Andora Velicia Varion
Ora mengangguk pelan dan mengiyakan, "Iya, gue manggil lo Jas. Ada apa?" tanya Ora, matanya menatap temannya dengan penuh tanya.
Jasmine Larisya
"Gue perjelas lagi ya, Ra! Nama gue JASMINE. J-A-S-M-I-N-E, bukan Jas! Lo kira gue Jas yang sering dipake para cowo apa?" Jasmine menjawab dengan nada sedikit kesal, mencoba menjelaskan sambil menatap Ora dengan serius.
Ora hanya diam, tidak menunjukkan reaksi apapun, seolah enggan menggubris penjelasan Jasmine. Matanya tetap fokus ke depan, berjalan tanpa kata-kata.
Ora mengambil tasnya dengan cepat, berbalik arah, dan melangkah pergi tanpa sepatah kata pun. Jasmine hanya bisa memandanginya, merasa bingung dengan sikap Ora.
Jasmine Larisya
Jasmine mengikuti Ora sampai di depan sekolah, baru kemudian membuka suara, "Ra, lo langsung mau pulang? Masih ada beberapa jam lagi, loh."
Andora Velicia Varion
"Gue udah dikeluarin, jadi untuk apa gue tinggal lama-lama di sini? Mending gue pulang," jawab Ora dengan santai, seolah tak terlalu terpengaruh dengan keputusan itu.
Jasmine Larisya
"Ra, nanti lo sekolah dimana? Supaya gue bisa urus surat pindah" tanya Jasmine dengan serius.
Andora Velicia Varion
"Ngak usah pindah, di sini aja," jawab Ora dengan tegas.
Jasmine Larisya
"Gue bakal pindah, pokoknya kalau lu udah dapat sekolah yang bisa nerima lo," jawab Jasmine, menunjukkan bahwa dia tetap ingin pindah sekolah.
Andora Velicia Varion
"Serah Lo deh jas" ucap orang pasrah
Andora Velicia Varion
Gue pergi dulu
003 rumah?
Baru saja Ora ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, telinganya menangkap suara barang-barang dilempar ke sana kemari, disertai dentingan keras yang menggema dari dalam. Suasana tegang langsung menyelimuti pikirannya.
Andora Velicia Varion
"Mama..." hanya satu hal yang terlintas di pikiran Ora saat itu—mamanya. Dengan langkah cepat dan penuh rasa khawatir, ia segera masuk ke dalam rumah untuk memastikan keadaan.
Andora Velicia Varion
Dengan tergesa-gesa, Ora membuka pintu rumah. Matanya langsung mencari sosok yang paling ia khawatirkan—mamanya. "Ma! Mama dimana?" teriaknya panik, sementara suara barang-barang jatuh masih terdengar dari dalam.
Andora Velicia Varion
Begitu Ora masuk ke dalam, matanya membelalak saat melihat mamanya sedang dipukuli oleh ayahnya. "Ayah, berhenti!" teriak Ora dengan suara gemetar, amarah dan ketakutan bercampur jadi satu saat ia berlari mendekat untuk melindungi mamanya.
Aksa Gantara Varion
"Jangan ikut campur, anak sialan! Mamamu harus dikasih pelajaran, dia sudah berani menumpahkan kopi di berkas-berkas pentingku!" bentak sang ayah dengan nada penuh amarah, tatapannya tajam, sementara tangannya masih terangkat. Ora mengepalkan tangan, menahan emosi yang hampir meledak.
Andora Velicia Varion
"Pukul Ora aja, yah! Pukul gue, asal jangan mama!" teriak Ora dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya bergerak cepat berdiri di depan mamanya, mencoba melindunginya dari amukan sang ayah.
Raina Variasya Varion
Mama Ora menggigil ketakutan, tubuhnya gemetar sambil memeluk dirinya sendiri. "Sudah, Pa, cukup... jangan lagi," pintanya dengan suara lemah, air mata terus mengalir di pipinya saat melihat Ora berusaha melindunginya.
Aksa Gantara Varion
Ayah Ora dengan kasar menarik tubuh Orang, memaksanya mundur agar tidak melindungi mamanya lagi. "Jangan coba-coba ganggu urusanku!" Bentaknya, suaranya penuh amarah. ORA meronta, berusaha melawan, tapi tubuhnya lemas di hadapan kekuatan ayahnya.
Ora kembali memeluk ibunya dengan erat, berusaha melindungi mamanya, namun sang ayah tetap melanjutkan pukulannya. Meskipun Ora yang terkena bentakan dan pukulan, ayahnya tidak peduli, melampiaskan amarahnya tanpa belas kasihan. Ora merasakan sakit di tubuhnya, namun yang lebih menyakitkan adalah melihat ibunya yang terus dipukul.
Setelah ayahnya puas melampiaskan amarahnya, ia akhirnya berhenti. Namun, perhatian Ora teralih ketika sang ayah mengarahkan pandangannya ke sebuah surat.
Dengan gerakan kasar, ayahnya mengambil surat tersebut dan mulai membacanya, ekspresinya berubah menjadi serius. Ora, meskipun terluka, tetap memperhatikan dengan cemas apa yang sedang terjadi.
Aksa Gantara Varion
"Ini apa, Andora Valeria Varion?" bentak ayah Ora, matanya menatap tajam surat pengeluaran dari sekolah yang baru dibacanya. "Lo dikeluarin dari sekolah?" tambahnya dengan nada penuh kejengkelan, sementara Ora hanya bisa terdiam, merasa takut akan reaksi lebih lanjut dari ayahnya.
Udah dulu yahh, tunggu eps 4 nyaa
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!