"Ibu mau masak apa...?" tanya Sabila anak kedua Risma.
"Masak sop iga kesukaan ayah. Kan hari ini ayah pulang..." jawab Risma yang sibuk memasak di dapur.
"Yeee... Asik ayah pulang..." seru Sabila.
"Mas, mas Rafa... kata ibu ayah hari ini pulang...." Sabila berlari menghampiri sang kakak yang sedang asik menonton acara kartun kesukaannya.
"Beneran bu, ayah pulang...?" tanya Rafa.
"Iya, makanya kalian mandi sana..." sahut Risma dari dapur.
Rafa dan Sabila begitu senang mendengar sang ayah mau pulang. Iya, Radit suami Risma sudah delapan tahun kerja di kota B. Sedangkan Risma dan anak- anaknya tetap tinggal di rumah yang berada di kota A. Radit akan pulang satu bulan sekali untuk menemui istri dan anaknya.
Sebenarnya Risma pernah mengutarakan keinginannya untuk ikut pindah ke kota B agar keluarga mereka bisa tetap bersama tidak terpisah seperti sekarang ini. Apa lagi anak- anak yang begitu dekat dengan Radit selalu merindukannya.
Tapi Radit menolak keinginan Risma dengan alasan biaya di kota B lebih mahal, dan juga sayang jika harus meninggalkan rumah yang sudah dia bangun dengan hasil keringatnya sendiri.
Mau tidak mau Risma pun menuruti apa kata Radit. Dia hanya tinggal bersama kedua anaknya saja, yaitu Rafa yang berusia sembilan tahun dan sudah kelas empat dan Sabila yang berumur tujuh tahun, kelas dua.
Keseharian Risma yaitu seperti ibu rumah tangga pada umumnya, yaitu mengurus rumah, anak- anak dan sebagainya. Ada kalanya Risma merasa capek dengan rutinitas kesehariannya yang semua harus dikerjakan sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu sudah menjadi tugasnya sebagai ibu dan seorang istri.
Malam harinya pukul setengah delapan, Rafa baru pulang dari masjid dekat rumah melaksanakan sholat isya berjamaah. Sepulang Rafa dari masjid Risma dan kedua anaknya duduk di meja makan.
"Bu, kok ayah belum pulang sih...?" tanya Rafa.
"Mungkin di jalan macet, atau mungkin keretanya datangnya terlambat karena suatu hal..." jawab Risma sambil menyendok nasi untuk anak- anaknya.
"Sudah, kita makan saja, kalau nunggu ayah takut kelamaan, ibu sudah lapar..." sambung Risma.
"Iya bu..." jawab Rafa dan Sabila.Mereka pun makan dengan lahap.
Pukul sepuluh malam, Radit belum juga pulang. Ditelpon pun tidak diangkat.Anak- anak sudah mulai ngantuk. Risma lalu meminta pada anak- anaknya untuk tidur.
Dan pukul sebelas malam, Radit akhirnya pulang. Anak- anak sudah tidur nyenyak. Sementara Risma masih terjaga sambil menonton tv di ruang keluarga.Risma memang tidak akan bisa tidur jika Radit belum sampai rumah.
"Mas, kok jam segini baru sampai rumah, anak- anak nungguin mas Radit lho dari tadi. Mereka kangen banget sama ayahnya..." ucap Risma sambil mencium punggung tangan Radit.
"Maaf tadi , keretanya datangnya telat. Trus aku mampir dulu ke rumah Umi. Oya nih ada oleh- oleh..." jawab Radit sambil memberikan kantung keresek berisi oleh- oleh asal kota B. Iya, Radit memang selalu membawa oleh - oleh untuk istri dan anaknya jika kembali dari kota B.
"Anak- anak sudah tidur...?"
"Sudah mas..."
"Mas mau makan...?" tanya Risma.
"Nggak, aku sudah makan tadi di rumah Umi...." jawab Radit.
"Kok makan di rumah Umi sih mas, aku sudah masakin makanan kesukaan kamu lho..." sahut Risma kecewa.
"Ya abisnya tadi waktu aku datang ke rumah Umi, umi lagi pada makan, jadi aku ikutan makan aja...." jawab Radit sambil jalan ke kamar anak- anak.
"Mas, nggak mandi dulu...? Apa sudah mandi juga di rumah Umi...?" tanya Risma mengikuti Radit masuk ke kamar anak- anak.
"Iya, tadi sudah mandi juga di sana..." jawab Radit lalu duduk di tempat tidur Rafa. Radit lalu mencium kening Rafa. Kemudian Radit berpindah ke tempat tidur Sabila dan melakukan hal yang sama seperti pada Rafa.
Risma menghela nafas panjang. Dia suka iri jika Radit mencium kening anak- anaknya ketika baru pulang dari kota B. Sedangkan Radit entah kenapa dia tidak pernah mencium kening Risma. Tapi Risma tidak marah atau tersinggung sama sekali. Dia sudah hafal siapa suaminya itu. Radit adalah laki- laki pendiam, cuek,tidak banyak bicara dan orangnya tidak pernah perduli dengan hal- hal yang menurutnya tidak penting.
Radit juga jarang ngobrol dengan Risma. Dia hanya akan bicara tentang hal penting saja. Tapi dengan anak- anaknya dia selalu terlihat ceria. Dia banyak omongnya jika sedang bersama Rafa dan Sabila.
"Mas..." Risma duduk di samping Radit.
"Hem..." jawab Radit.
"Kita tidur di kamar kita saja yuk... Aku kangen sama kamu mas..." ucap Risma sambil merangkul lengan Radit.
Radit pun hanya diam.
"Memangnya mas Radit nggak kangen sama aku...?" tanya Risma.
"Ya kangen lah, masa nggak kangen sih..." jawab Radit sambil tersenyum pada sang istri.
"Ayo makanya kita ke kamar aja yuk...." ucap Risma dengan manja.
Radit lalu bangun dan berjalan menuju ke kamar mereka. Risma masih saja bermanja- manja di lengan Radit.
Sampai di kamar, mereka langsung merebahkan diri di tempat tidur. Risma memiringkan tubuhnya sambil memeluk Radit. Jari- jarinya bermain- main di dada Radit.
"Mas... Aku kangen sama kamu..." sambil mencium pipi Radit.
"Ris, jangan sekarang ya, aku cape, ngantuk juga , ini sudah malam banget. Mas mau tidur. Besok malam saja ya..." ucap Radit sambil menoleh pada Risma.
"Ya udah deh, mas tidur saja...." ucap Risma sambil tersenyum walaupun ada sedikit rasa kecewa.
Sebenarnya ini bukan pertama kali Risma ditolak oleh Radit. Radit memang selalu menolak diajak berhubungan badan jika dia baru pulang dari kota B dengan alasan capek karena perjalanan jauh dan ngantuk.
Risma pun selalu memaklumi sikap Radit. Iya, perjalanan dari Kota B menuju kota A memang lumayan jauh. Perjalanan ditempuh dalam waktu tiga sampai empat jam. Apalagi Radit pulang ke kota A setelah seharian bekerja di kantor Jadi wajar jika dia kecapekan.
Radit lalu memiringkan tubuhnya memunggungi Risma. Dari dulu Radit memang tidak suka jika tidur sambil berpelukan, katanya jadi susah tidur. Tapi kalau memunggungi Risma dia bisa langsung terlelap.
Risma pun menghela nafas panjang. Sebagai seorang perempuan normal wajar jika selama satu bulan tidak bertemu dengan sang suami dia begitu merindukan dan butuh sentuhan darinya. Tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak mau memaksakan Radit. Dia juga tidak mau marah, dia paham dengan kondisi Radit.
Risma pun akhirnya membalikkan tubuhnya. Mereka tidur saling memunggungi.
Keesokan harinya Risma sudah menyiapkan sarapan yaitu nasi goreng special untuk keluarga kecilnya. Setelah mereka mandi mereka pun sarapan bersama.
"Hem.. Nasi goreng buatan ibu enak banget..." ucap Sabila sambil mengunyah nasi goreng.
"Masa sih, ah yang bener..." sahut Risma.
"Iya beneran bu ,enak...." ucap Sabila.
"Nasi goreng buatan ibu kan paling enak sedunia. Mas aja kalau ke sekolah bekal nasi goreng, temen- teman mas pada minta dek..." ucap Rafa pada sang adik.
"Iya kan memang enak sih nasi goreng ibu..." sahut Sabila.
Risma dan Radit pun tersenyum mendengar celoteh kedua anaknya.
"Ayah, nanti kita jalan- jalan dong ke mall..." ucap Sabila.
"Jalan- jalannya besok saja ya, hari ini ayah mau service motor..." jawab Radit.
"Sabila ikut ya yah...."
"Mas Rafa juga ikut...."
"Boleh..." jawab Radit.
"Tapi nanti pulang service motor mampir ke minimarket ya yah beli jajan...." ucap Sabila.
"Iyaaa..." jawab Radit.
"Mau beli jajan apa sih...?" tanya Radit pada Sabila.
"Jajan apa aja yang enak- enak..." jawab Sabila.
"Tapi jangan beli ciki sama es ya dek, beli roti atau kue aja..." sahut Risma.
"Yaaah... Ibu...." Sabila memanyunkan bibirnya.
"Kemarin kan amandel kamu bengkak dek, nggak boleh jajan ciki sama es dulu...." ucap Risma.
Sabila langsung manyun, dan menghentikan makannya. Sabila memang begitu, anaknya tidak boleh dilarang. Apapun kemauan dia harus dituruti. Kalau amandelnya bengkak dan sakit baru dia nurut tidak makan ciki dan es lagi. Tapi ketika sudah baikan ya makan makanan itu lagi.
"Sudah lah Ris, nggak papa ,asal makannya jangan banyak- banyak dan jangan keseringan. Lagian udah sembuh kan amandelnya...." ucap Radit.
"Iya sih mas, tapi kalau nanti kambuh lagi gimana...? Dia suka rewel kalau amandelnya bengkak, panas juga badannya, jadi nggak bisa sekolah kan..." sahut Risma yang kesal karena Radit selalu membela Sabila.
"Tapi ade janji ya, beli cikinya yang kecil saja dan es krimnya satu saja. Ya...?" ucap Radit.
"Iya yah..." jawab Sabila langsung tersenyum senang.
Selesai sarapan Radit dan anak- anak pun pergi ke bengkel untuk service motor. Sedangkan Risma di rumah mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci pakain, mencuci piring, mengepel dan lain- lain.
Selesai menjemur baju, Risma lalu menyapu kemudian mengepel. Risma membawa alat pel ke ruang tamu. Dia akan memulai ngepel teras terlebih dulu.
Baru beberapa detik Risma menggosok- gosokkan alat pel di lantai tiba- tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Risma menghentikan aktifitasnya melihat ke arah mobil di luar pagar rumahnya. Ternyata ibu mertuanya yang turun dari mobil tersebut.
Risma menghela nafas panjang. Padahal pekerjaan rumah ya belum selesai tapi malah kedatangan ibu mertua. Siap- siap saja deh Risma dengan komentar- komentar ibu mertuanya yang bikin panas telinga.
"Assalamualaikum..." bu Ratna membuka pagar rumah Risma.
"Waalaikumsalam...." Risma menghampiri sang ibu mertua lalu mencium punggung tangannya.
"Apa kabar Mi...?"
"Baik..."
"Ayo Mi masuk..."
"Kamu lagi ngapain Risma...?"
"Lagi ngepel Mi...''
"Apa...? Lagi ngepel...? Ya ampun Risma, kamu dari tadi ngapain aja sih, masa jam segini baru ngepel. Sudah jam setengah sebelas lho ini...." tanya bu Ratna sambil melihat jam tangannya.
"Iya Mi, solanya Risma baru selesai jemur pakaian..." jawab Risma.
"Halah dasar kamunya aja yang lelet kalau ngerjain pekerjaan rumah. Pasti sambil main hp ya, makanya kerjaan nggak selesai- selesai..." bu Ratna sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Risma pun mengikuti sang mertua lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Bu Ratna pun mengikuti Risma ke dapur.
"Ya ampun Risma, dapur kamu kotor banget sih, nih lihat, kompor sampai berminyak kayak gini nggak dibersihkan, ini juga tempat garam ada di dekat kompor, kenapa nggak ditaruh di tempatnya sih...?"
"Iya bu, tadi abis selesai masak belum sempat bersih- bersih dapur...." jawab Risma.
Untung saja piring kotor sudah dicuci, kalau belum, pasti bu Ratna makin ngomel.
"Ini lagi, lap kok sampai dekil begini, sudah berapa lama nggak dicuci...? Jorok banget kamu ini...!" bu Ratna melempar lap kotor ke tempat cuci piring.
"Udah deh Risma, kamu nggak usah bikinin Umi minuman, Umi geli lihat dapur kamu yang kotor itu... " ucap bu Ratna.
"Tapi ini sudah dibikinin Mi ..." sahut Risma sambil memberikan secangkir teh.
"Nggak...nggak... Umi nggak mau, buat kamu saja..." bu Ratna langsung meninggalkan dapur.
Risma meletakkan cangkir berisi teh di meja makan. Sedangkan bu Ratna melihat kamar Rafa dan Sabila.
"Ya ampun ini kamar hantu apa kamar apa sih...? Kamar kok berantakan begini. Lihat nih, bantal ke mana- mana. Selimut nggak dilipat...." bu Ratna mengambil bantal yang jatuh di lantai.
"Iya Mi, Risma belum sempat merapihkan kamar..." ucap Risma.
" Ini juga kenapa banyak banget baju belum disetrika...? Keranjang sampai penuh begini..." bu Ratna menunjuk keranjang pakaian bersih yang masih numpuk.
Iya, Risma memang setrika baju seminggu sekali di hari minggu. Jadi keranjang baju pun sampai penuh.
"Kalau jemuran baju sudah pada kering, langsung saja disetrika biar kamarnya rapi nggak berantakan begini...."
"Memangnya kamu ngapain aja sih Ris, tiap hari..? Kamu kan nganggur, suami juga pulang sebulan sekali, anak- anak sudah pada besar. Kalau mereka sekolah kamu kan bisa beres - beres rumah...."
"Iya Mi..."
"Iya..iya mulu jawabnya. Tapi nggak dikerjain. Sudah berapa kali Umi ngomong sama kamu Risma, rumah tuh harus rapi, bersih jangan berantakan kayak gini. Kasihan Radit pulang kerja lihat rumah kayak kapal pecah, sudah cape- cape kerja di rumah malah lihat rumah kayak sarang hantu. Nggak punya kerapihan banget jadi orang..."
"Pantas saja, kalau Radit mampir ke rumah Umi dia selalu minta makan di sana. Kamu nya jorok gitu sih, Radit juga pasti geli makan masakan kamu...." ucap bu Ratna tidak berhenti ngomel.
"Maaf Mi...."
Hanya kata itu yang bisa Risma ucapkan. Tidak mungkin juga kan dia menjawab segala omongan- omongan yang dilontarkan oleh mertuanya itu.
Iya, dari semenjak menikah dengan Radit, bu Ratna dan adik- adik Radit memang tidak begitu menyukai Risma. Entah kenapa Risma pun tidak tahu. Tapi Risma pernah dengar dari kerabat Radit kalau bu Ratna tidak menyukai Risma karena Risma bukan perempuan berpendidikan tinggi seperti Radit. Radit lulusan S2 sedangkan Risma hanya lulus SMA.
Selain itu Risma juga dengar kalau menurut bu Ratna, Radit itu ganteng, harusnya dapat istri yang cantik, bukan seperti Risma yang mukanya pas- pasan. Tapi Risma tidak tahu apakah semua omongan itu benar dari mulut bu Ratna atau cuma gosip saja.
Risma
Radit
Bersambung...
Risma dan Radit menikah karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Terutama ayah Risma dan Abah Radit, mereka adalah sahabat lama. Jadi mereka sepakat menjodohkan anak- anaknya. Sementara itu bu Ratna kurang setuju dengan perjodohan anaknya itu. Menurutnya Radit masih bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari pada Risma.
Radit pria yang ganteng, pintar, berpendidikan tinggi serta anak yang begitu sayang pada keluarganya, menurut bu Rima sangat lah bisa Radit mendapat perempuan yang statusnya setara dengannya yang sama - sama berpendidikan tinggi serta cantik. Masa iya laki- laki lulusan S2 menikah dengan perempuan yang hanya lulus SMA.
Namun apa daya, pak Salim sudah memilihkan jodoh untuk Radit, jadi mau tidak mau, suka tidak suka bu Ratna pun akhirnya menerima perjodohan anaknya itu walapun dengan setengah hati.
Apa lagi menurut bu Ratna semua anggota keluarganya berpendidikan tinggi. Pak Salim adalah pensiunan pegawai negri. Bu Rima juga dulu kuliah dan dia pernah mengajar di sebuah smp swasta dan sekarang sudah pensiun. Adik perempuan Radit yang bernama Anggi pun lulusan S1, dan pernah juga bekerja di kantoran. Walapun setelah menikah dengan Aryo dan punya anak dia hanya menjadi ibu rumah tangga yang mengurus kedua anaknya. Adik bungsu Radit yang bernama Akbar pun sekarang sedang kuliah semester empat di perguruan tinggi terfavorit di kotanya. Dan Radit lah yang membiayai kuliah adiknya itu, karena uang pensiun dari pak Salim digunakan untuk kebutuhan sehari- hari, tidak cukup untuk biaya kuliah.
Dan Risma tidak tahu akan hal itu karena Radit tidak pernah bercerita apapun pada istrinya itu. Dia hanya diberi uang tujuh juta rupiah setiap bulannya oleh Radit untuk keperluan rumah tangga dan biaya sekolah Rafa dan Sabila.Dan dia pun tidak tahu berapa gaji Radit. Tapi Radit tidak pelit, walapun setiap bulan dia mentransfer ke rekening Risma sebanyak tujuh juta, tapi jika Risma ada keperluan mendadak dan meminta uang lagi pada Radit, Radit pasti akan memberinya.
"Risma, kok Radit lama sih belum pulang juga, Umi sudah satu jam lho menunggu di sini..." ucap bu Ratna sambil duduk di ruang tengah.
Sementara Risma sejak tadi menyetrika baju. Iya bu Ratna yang sejak tadi mengoceh membuat Risma harus mengerjakan semua pekerjaan rumah hingga rumah menjadi rapi.
"Mungkin bengkelnya rame kali Mi, trus tadi anak- anak juga minta mampir ke minimarket beli jajan..." sahut Risma sambil fokus menyetrika baju.
"Ya sudah , Umi pulang saja. Nanti kalau Radit pulang bilangin sama dia Umi tadi ke sini. Dan bilang ke Radit untuk pergi ke rumah Umi. Umi ada perlu sama dia..." ucap bu Ratna.
"Ada perlu apa Mi...? Bukannya tadi malam mas Radit juga dari rumah Umi...?Kenapa sekarang mas Radit harus ke rumah Umi lagi...?" tanya Risma menghentikan aktifitasnya.
"Memangnya kenapa kalau Radit datang ke rumah Umi lagi...? Nggak boleh...? Radit itu kan anaknya Umi, mau dia ke rumah Umi setiap hari juga nggak papa kan...?" tanya Umi kesal.
"Tapi Mi, mas Radit kan baru pulang tadi malam, dia pulang cuma sebulan sekali, itu pun cuma dua hari, besok sudah harus balik ke kota B. Saya sebagai istrinya dan juga anak- anak juga ingin berkumpul sama mas Radit Mi..." sahut Risma.
"Eh Risma, memangnya siapa yang melarang kalian berkumpul sama Radit...? Umi kan lagi ada perlu sama Radit. Umi sudah jauh- jauh datang ke sini menemui Radit tapi Raditnya nggak ada di rumah, ya sudah Radit nya saja yang suruh datang ke rumah Umi...." ucap bu Ratna.
"Dengar ya Risma, Radit itu anak laki- laki, anak laki- laki itu milik orang tuanya. Jadi sampai kapanpun Radit bertanggung jawab terhadap orang tuanya. Jadi kamu jangan menghalang- halangi hubungan Radit dengan kedua orang tuanya. Mengerti kamu...?" sambung bu Ratna.
"Risma nggak menghalang- halangi bu, Risma hanya....
"Ah sudah lah ibu mau pulang...." ucap bu Ratna lalu membuka aplikasi di ponselnya untuk memesan taksi on line.
Tak lama kemudian taksi on line pesanan bu Ratna pun datang.
"Jangan lupa, bilangin Radit untuk datang ke rumah..." ucap bu Ratna sebelum meninggalkan rumah Risma.
"Iya Umi.... Umi hati- hati ya..." Risma mencium punggung tangan bu Ratna.
Satu jam kemudian Radit dan anak- anak pun pulang.
"Assalamualaikum..." ucap Rafa dan Sabila masuk ke dalam rumah menenteng kantong belanjan berisi jajanan.
"Waalaikumsalam..." jawab Risma yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Setelah kepulangan sang mertua, Risma menjadi bete dengan apa yang telah diucapkan oleh mertuanya itu. Dia pun tidak menyelesaikan menyetrika bajunya. Risma memang begitu jika mengerjakan pekerjaan rumah tapi dia merasa capek dia tidak akan melanjutkannya. Dia lebih memilih untuk istirahat dan main ponsel.
"Banyak banget jajannya..." ucap Risma sambil melirik ke arah kantong belanjaan yang dipegang oleh Sabila.
"Iya bu, lihat nih adek beli jajanan banyak..." Sabila mengeluarkan makanan ringan dan minuman dari dalam kantong.
"Ya ampun, kan ibu sudah bilang jangan beli ciki dulu. Kok beli ciki juga. Udah gitu bungkusan gede lagi..." Risma mulai kesal.
"Tahu tuh adek sudah mas bilangin tapi ngeyel. Sama ayah juga dibolehin..." sahut Rafa.
"Biarin, kan nanti makannya nggak langsung dihabiskan, disimpan buat besok lagi..." ucap Sabila.
"Huuh, nanti kalau amandelnya bengkak palingan mewek...." Rafa mengacak Rambut sang adik.
"Ihhhh.... Mas Rafa nakal...." Sabila kesal.
"Ada apa ribut- ribut....?" tanya Radit menghampiri istri dan anaknya.
"Mas, kok mas Radit malah beliin Sabila jajanan ciki yang bungkusan besar- besar kayak gitu sih, nanti kalau amandelnya bengkak lagi gimana...?" tanya Risma.
"Tadi udah dibilangin makannya jangan banyak- banyak. Buat besok lagi..." jawab Radit. Risma pun hanya menghela nafas panjang.
"Kok kalian lama banget sih tadi...?" tanya Risma.
"Kan tadi kita makan baso dulu..." sahut Sabila.
"Makan baso...? Di mana...?" tanya Risma.
"Di sana bu, baso yang lagi Viral itu, rame banget, antri makanya lama deh..." jawab Rafa.
"Kok ibu nggak dibeliin baso...?" tanya Risma.
"Tau tuh ayah nggak pesenin buat ibu...." jawab Rafa.
"Iya maaf, ayah nggak kepikiran beliin baso buat ibu..." jawab Radit.
"Kalian memang kebiasaan, kalau pergi makan- makan nggak pernah inget sama ibu. Padahal kalau ibu pergi selalu inget kalian, ibu selalu beliin makanan untuk kalian..." sahut Risma lalu bangun dari sofa dan masuk ke dalam kamar.
Radit, Rafa dan Sabila melihat ke arah Risma yang masuk ke dalam kamar.
"Ayah, ibu ngambek tuh nggak dibelikan baso..." ucap Rafa.
"Iya ,ayah sih nggak bungkusin buat ibu, kan kasihan ibu nggak ikut makan baso..." sahut Sabila.
Radit pun menghela nafas lalu dia menyusul Risma ke dalam kamar. Di dalam kamar Risma sedang tiduran di ranjang. Punggungnya capek, karena habis menyetrika baju tadi.Radit lalu duduk di tepi ranjang.
"Risma, kamu kenapa...? Kamu ngambek gara- gara nggak di belikan baso...?" tanya Radit sambil mengusap pundak Risma.
"Maaf ya, aku benar- benar nggak kepikiran tadi. Ya udah aku beliin baso sekarang ya..." ucap Radit.
"Nggak usah mas, aku nggak pengin baso kok aku dah kenyang. Tadi aku cuma becanda aja..." jawab Risma.
"Trus kenapa kamu langsung masuk kamar kayak orang ngambek....?" tanya Radit.
"Aku cuma lagi kesal aja mas sama Umi..." jawab Risma lalu bangun dan duduk menghadap Radit.
"Kesal sama Umi...?" tanya Radit sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, tadi Umi datang mencari mas Radit, katanya ada hal penting yang mau Umi bicarakan sama mas Radit. Tapi karena mas Radit nggak pulang- pulang, Umi pulang duluan, dia minta mas Radit untuk datang ke rumah Umi..." jawab Risma.
"Trus yang bikin kamu kesal sama Umi apa...?" tanya Radit.
"Mas, aku tuh capek, setiap Umi datang ke rumah selalu saja cerewet, selalu saja ngomel- ngomel. Semua dikomentari. Gara- gara aku belum setrika baju, dapur berantakan lah, kamar belum dirapihkan lah, gara- gara jam sebelas baru ngepel. Pokoknya semua dikometari. Berisik tahu nggak mas...." jawab Risma.
"Umi juga nggak mau minum teh buatan Risma, jijik katanya karena dapurnya kotor..." lanjut Risma
"Kenapa kamu mesti marah, kan yang dibilang sama Umi benar semau kan...? Dapur kamu kotor, kamar berantakan, baju belum disetrika menumpuk di keranjang baju, semua itu benar kan...? Lalu salahnya Umi di mana...?" tanya Radit.
"Mas, aku bukannya nggak mau membereskan rumah, tapi belum sempat, pagi- pagi kan aku harus masak, nyuci baju, nyuci piring. Nanti juga yang lain- lain bakal dibereskan kalau semua sudah selesai. Tangan aku kan cuma dua , ngak bisa mengerjakan pekerjaan dalam satu waktu..." Risma kesal karena Radit malah membela Umi.
"Ya udah tapi kamu nggak usah menyalahkan Umi, Umi kan hanya menasehati kamu supaya rumah kita rapi...." ucap Radit.
"Ah sudah deh mas, percuma ngomong sama kamu, kamu nggak bakalan belain aku. Kamu lebih suka belain Umi...." sahut Risma.
"Bukan masalah mas bela siapa. Mas cuma bicara fakta saja. Ya memang setiap aku pulang rumah nggak pernah rapi kan...? Tapi aku nggak masalah, selama ini aku juga diam saja, aku ngeri mungkin kamu capek, jadi terserah kamu saja sesempatnya kamu aja membereskan rumah..." ucap Radit.
"Ya harusnya kamu ngomong kayak gitu dong di depan Umi kamu..." sahut Risma.
"Sudahlah nggak usah memperpanjang masalah yang nggak penting..." ucap Radit.
"Nanti abis ashar aku mau ke rumah Umi, kamu mau ikut nggak...?" tanya Radit.
"Nggak...." jawab Risma.
"Ya udah kalau nggak mau ikut. Biar aku sama anak- anak saja..." jawab Radit lalu keluar dari kamar.
Risma pun mendengus kesal.
"Rafa, Sabila, nanti sore ayah mau ke rumah nenek, kalian mau ikut nggak...?" tanya Radit menghampiri kedua anaknya yang sedang makan jajan sambil nonton tv di ruang tengah.
"Mau...mau..." jawab Rafa dan Sabila.
"Ya sudah, sekarang kalian tidur siang dulu ya..." ucap Radit sambil mengusap kepala kedua anaknya.
"Rafa, Sabila sholat dulu, tuh sudah jam satu kalian belum sholat dhuhur..." ucap Risma keluar dari kamarnya.
"Ibu sudah sholat...?" tanya Sabila.
"Sudah..." jawab Risma.
"Ya sudah sana sholat dulu..." ucap Radit.
Risma memang cukup tegas dalam mendidik kedua anaknya. Semenjak masuk sd dia sudah melatih kedua anaknya untuk sholat lima waktu. Apalagi mereka berdua sekolah di sd islam yang di sekolahnya pun sudah diajarkan sholat dan mengaji setiap hari.
...****************...
Sore harinya , Radit bersama dua anaknya pergi ke rumah bu Ratna. Sedangkan Risma tetap tidak mau ikut karena masih kesal dengan ibu mertuanya itu.
" Assalamualaikum...Kakek... nenek..." ucap Rafa dan Sabila berlari menghampiri kakek dan neneknya yang sedang duduk di teras rumahnya menikamati teh hangat sambil membaca koran.
"Eh, cucu- cucu nenek yang ganteng dan cantik sudah datang..." ucap Bu Ratna lalu mencium kening kedua cucunya.
"Wah cucu- cucu kakek sudah pada besar ya..." ucap pak Salim sambil memeluk kedua cucunya.
"Iya dong kek..." jawab Sabila dan Rafa.
Radit pun menghampiri kedua orang tuanya.
"Abah, Umi...." Radit mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Istrimu mana Dit...?" tanya pak Salim.
"Risma nggak ikut Bah, masih ada kerjaan di rumah..." jawab Radit.
"Kerjaan apa...? Rumah aja nggak pernah rapi kok, kerjaannya cuma mainan hape saja tiap hari, makanya rumahnya berantakan kaya kapal pecah..." sahut bu Ratna.
Pak salim dan Radit hanya diam tidak menyahuti omongan bu Ratna.
"Rafa, Sabila, sana main di dalam, di dalam ada om Akbar lagi main komputer, sana samperin..." ucap pak Salim.
Rafa dan Sabila pun lalu masuk ke dalam rumah. Sementara itu Radit bersama kedua orang tuannya berbincang.
Setelah selesai berbincang dengan kedua orang tuanya, Radit, pak Salim dan bu Ratna masuk ke dalam rumah karena waktu maghrib sudah tiba. Mereka pun lalu melaksanakan sholat maghrib. Para laki- laki sholat di masjid dekat rumah, sedangkan Sabila dan bu Ratna sholat di rumah.
Setelah sholat mereka lalu makan malam bersama. Bu Ratna sudah menyiapkan makanan special untuk anak dan cucunya. Mereka menikmati makanannya dengan lahap sambil sesekali berbincang.
"Cucu kakek senin besok mau tes semester dua ya...? Sebentar lagi naik kelas dong ya...?" tanya pak Salim.
"Iya kek..."
"Belanjar yang rajin ya biar nilai rapotnya bagus..." ucap pak Salim.
"Nilai rapot Sabila selalu bagus kek, semester kemarin dapat rengking tiga..." jawab Sabila.
"Wah hebat. Kalau Rafa dapat rengking berapa...?" tanya pak Salim.
"Rengking dua belas kek..." jawab Rafa sambil menunduk malu.
"Nggak papa, belanjarnya lebih giat lagi ya biar bisa dapat rengking yang lebih baik lagi..." ucap pak Salim memberi semangat pada Rafa.
"Rafa itu kan mirip si Risma, bodoh, nggak pernah dapat rengking di sekolah, beda sama Sabila yang diturini kepintaran dari Radit. Dia pinter, dapat rengking terus tiap terima rapot..." sahut bu Ratna.
"Umi... Kok ngomongnya begitu sih..." ucap pak Salim.
Rafa pun menjadi sedih mendengar ucapan sang nenek.
Bersambung...
"Umi ini kenapa sih, sama anak kecil kok ngomong begitu. Kasihan Raka kan..." ucap Abah.
"Rafa sayang... Raka jangan sedih, nggak papa Rafa nggak dapat rengking, yang penting kan Raka bisa mengikuti pelajaran. Kakek yakin kalau Rafa terus rajin belajar pasti Rafa akan dapat rengking..." sambung pak Salim menyemangati Rafa. Rafa pun mengangguk.
"Maafin nenek ya Rafa, nenek tadi salah bicara, jangan sedih ya cucu nenek yang ganteng..." bu Ratna mengusap kepala Rafa.
''Iya nek..." jawab Rafa.
"Ya sudah, Rafa makan lagi, ini ayamnya tambah lagi ya..." bu Ratna menambahkan lagi ayam goreng kesukaan Rafa di piring Rafa.
Radit pun merasa kasihan pada Rafa, tapi dia tidak mau menegur Umi, takut akan menyinggung perasaannya. Yang penting abah sudah menegur Umi dan Umi juga sudah menyadari kesalahannya. Radit mengusap punggung Rafa.
"Makannya habiskan ya..." ucap Radit.
"Iya yah..." jawab Rafa.
Setelah selesai makan malam Rafa dan Sabila diajak main di kamar om Akbar, mereka senang sekali diajari main game di komputer oleh omnya itu.
"Mi, lain kali kalau ngomong sama anak- anak itu jangan sembarangan. Abah nggak suka Umi bicara seperti itu pada Rafa..." ucap pak Salim sambil duduk santai di ruang keluarga.
"Ngapain dibahas lagi sih Bah, kan tadi Umi juga sudah minta maaf sama Rafa. Lagian Rafanya juga nggak papa,..." sahut Umi.
"Ya biar Umi tidak mengulanginya lagi..." ucap pak Salim.
"Memang kenapa sih, kan apa yang Umi omongin itu kenyataan Bah, Risma itu dulu sekolahnya nggak pinter. Dia juga cuma lulusan SmA nggak punya ketrampilan apa- apa. Apa lagi kata teman ibu yang dulunya anaknya bareng Sd sama si Risma, emang Risma bodoh kok . Bisa naik kelas aja sudah bagus...." sahut bu Ratna.
"Tuh kan ngomong kayak gitu lagi kan..." ucap pak Salim.
"Sudah- sudah Abah, Umi, udah nggak usah ribut. Nggak usah membahas Risma..." ucap Radit.
"Ah tapi memang istrinya Radit itu ngeselin kok, tadi siang aja Bah, waktu Umi ke rumah Radit ,Risma kayak nggak suka gitu lihat Umi. Masa waktu Umi mau pulang dan ngomong ke dia Radit suruh datang ke rumah, dia keberatan, karena tadi malam Radit sudah ke sini masa disuruh ke sini lagi. Gitu bah..." sahut bu Ratna.
"Umi dibilang menghalang- halangi Radit kumpul sama anak dan istrinya..." sambung bu Ratna.
Radit hanya menghela nafas panjang.
"Eh Radit, bilangin ngapa sama istrimu itu, jadi orang jangan malas- malas amat ngapa..? Umi mah heran deh, masa cuma ngurus rumah aja males gitu. Orangnya jorok lagi. Geli tahu, umi lihat rumahmu kayak rumah nggak keurus. Rumah kok berantakan kayak gitu. Kalau ada tamu kan kamu juga yang malu Radit...." ucap Umi.
"Udah lah Mi, biarkan saja, terserah dia mau ngapain, mau rumah berantakan kek,mau dia main hape terus kek, sudah biarkan saja Radit nggak perduli. Yang penting dia mau ngurus Rafa sama Sabila..." sahut Radit.
"Kamu ini gimana sih Radit, jadi suami kok nggak tegas sama istri. Takut kamu sama istri kamu hah...? Namanya istri kalau nggak bener ya suami berhak menegurnya..." jawab bu Ratna.
"Radit bukannya takut Mi, Radit cuma nggak mau Ribut saja sama Risma..." ucap Radit.
Bi Ratna pun mendengus kesal. Malam semakin larut, Rafa dan Sabila masih asik main komputer bersama om Akbar.
"Rafa, Sabila... Ayo pulang sudah malam..." ucap Radit menghampiri mereka di kamar Akbar.
"Nanti dulu ayah, ade masih mau main..." jawab Sabila.
"Iya ayah, nanti dulu lagi asik ini..." sahut Rafa sambil memainkan game di komputer.
"Udah, Rafa sama Sabila nginep saja di sini..." ucap Akbar.
"Iya yah, Ade sama mas Rafa nginep di sini aja ya ...." ucap Sabila. Rafa pun mengangguk- angguk.
"Tapi kan tadi nggak ngomong sama ibu kalau mau nginap..." sahut Radit.
"Sudahlah Radit nginep saja, orang anak- anaknya mau nginep kok, lagian anak- anak kamu jarang sekali nginep di rumah Umi. Kamu juga, kan Umi masih kangen sama kalian..." ucap bu Ratna yang tiba- tiba sudah ada di belakang Radit.
"Tapi nanti Risma nungguin Mi..." jawab Radit.
"Ya udah kamu tinggal telpon saja tuh si Risma, bilang sama dia kalau kalian mau nginep di rumah Umi . Bereskan..." sahut bu Ratna.
****
Sementara itu Risma sejak tadi bolak- balik di ruang tamu. Dia khawatir ,sudah jam sepuluh malam tapi anak dan suaminya belum pulang juga. Sejak tadi di telpon juga nggak diangkat. Risma menjadi cemas. Tiba- tiba ponsel Risma berdering.
"Mas Radit..." ucap Risma sambil melihat ke arah Ponselnya.
"Halo assalamualaikum mas. Mas kamu ke mana aja sih, kok belum pulang, aku dari tadi nelpon kamu lho, tapi nggak kamu angkat ..."
"Waalaikumsalam.... Ris aku masih di rumah Umi, Rafa sama Sabila nggak mau pulang. Mereka ingin nginap di rumah Umi...."
"Apa ...? Nginep...? Tapi tadi kamu nggak bilang mau nginep mas..." jawab Risma.
"Ya emang rencananya nggak nginep, tapi anak- anak yang mau nginep. Tadi mereka keasikan main komputer sama Akbar, mereka nggak mau pulang, trus mereka minta nginep. Mereka udah ngantuk tuh, udah mau pada tidur..." ucap Radit.
"Ya udah bawa pulang aja, kan mas Radit bawa mobil, mereka bisa tidur di mobil..." sahut Risma.
"Kasihan lah Ris, Umi juga nggak bakal ngijinin..." jawab Radit.
"Kamu juga mau nginep mas...?" tanya Risma.
"Ya iya dong Ris, aku juga sudah lama nggak nginep di rumah Umi....'' jawab Radit.
Risma pun terdiam. Dia tidak bisa ngomong lagi. Risma benar - benar kecewa sama Radit. Padahal dia sudah janji kalau malam ini mereka akan tidur bersama melepas rindu. Tapi dia malah menginap di rumah Umi.
"Ya udah mas, kalau mas mau nginep ya nginep saja..." ucap Risma sambil menahan tangisnya.
"Maaf ya, besok pagi - pagi sekali mas langsung pulang kok..." sahut Radit.
"Iya mas...." jawab Risma.
"Ya udah , aku tutup telponnya ya, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Sambungan telpon pun berakhir. Risma langsung mengunci pagar rumah, ruang tamu dan kamar tidur. Semua lampu di dalam rumah pun sudah dia matikan. Risma naik ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya.
Risma menangis sedih, padahal malam ini begitu sangat dia nantikan. Dia kangen pada Radit. Satu bulan tidak bertemu tentunya dia sangat butuh sentuhan dari sang suami. Padahal sejak sore tadi Risma sudah mempersiapkan diri mandi lulur. Memakai minyak wangi, dan juga menyiapkan kamar senyaman mungkin. Sprei dia ganti dengan yang baru, tak lupa dia menyemprotkan minyak wangi ke sprei. Dia juga sudah menyiapkan lilin aroma terapi agar suasana kamar terlihat romantis. Baju khusus pun sudah siapkan untuk dia pakai ketika melayani Radit.
Tapi semua yang dia siapkan begitu matang sia- sia saja. Risma pun hanya bisa menelan kekecewaan seorang diri.
Kesokan harinya Risma bangun pagi seperti biasa. Walapun tadi malam Risma merasa kecewa tapi pagi ini dia tetap memasak untuk sarapan suami dan anaknya. Tadi malam Radit janji akan pulang pagi- pagi, makanya Risma menyiapkan sarapan untuk mereka. Risma masak sup ayam dan pergedel.
Pukul tujuh pagi semua makanan sudah siap, Risma pergi mandi karena sebentar lagi pasti Radit dan anak- anak pulang. Tapi hingga Risma selesai mandi, dan jam sudah menunjukkan pukul delapan mereka belum pulang juga. Risma pun lalu menelpon sang suami.
"Mas, kok kamu belum pulang juga sih, kamu bilang pagi- pagi kalian langsung pulang, aku udah bikinin sarapan buat kalian lho..." tanya Risma bicara dengan Radit lewat sambungan telpon.
"Maaf Ris, tadi sebenarnya aku dah mau pulang, tapi sama Umi disuruh sarapan dulu, akhirnya kita sarapan dulu deh. Nih kita mau pulang kok..." jawab Radit.
"Ya udah..." Risma kembali dibuat kecewa. Risma langsung mematikan sambungan telponnya.
Tiga puluh menit kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Risma langsung membuka pintu pagar.Radit memasukkan mobilnya ke garasi.
Rafa dan Sabila pun turun dari mobil.
"Ibu.... Adek sama Mas Rafa semalem nginep di rumah nenek, seru deh bu, Om Akbar ngajak kita main game di komputer. Nanti kalau ibu punya uang, belikan ade sama mas rafa komputer ya bu..." ucap Sabila.
"Iya nanti kalau kalian sudah besar dan sudah sekolah SMA...." jawab Risma lalu masuk ke dalam rumah.
Risma lalu menuju meja makan untuk sarapan seorang diri. Radit menyusul sang istri lalu duduk di sampingnya sambil memperhatikan Risma yang sedang makan.
"Ris, maafin aku ya..." ucap Radit.
"Maaf untuk apa...?" tanya Risma sambil mengunyah makanannya.
"Maaf karena semalam aku sama anak- anak nginep di rumah Umi..." jawab Radit.
"Iya, nggak papa mas..."
"Maaf juga karena aku sama anak- anak nggak sarapan di rumah. Tadi pas mau pulang Umi sudah selesai masak , kami si suruh makan dulu sebelum pulang. Nggak enak kalau kita nolak kan..." ucap Radit.
"Tapi nggak papa , kan makananya bisa dimakan buat makan siang..." sahut Radit.
"Iya mas...." jawab Risma.
Entah kenapa walaupun Radit sudah membuatnya kecewa, tetapi kalau dia sudah minta maaf Risma selalu memaafkannya. Risma tidak bisa marah terlalu lama pada Radit. Entahlah mungkin karena Risma begitu sangat mencintai Radit. Dia begitu bangga punya suami setampan Radit. Tipe pria yang dia idam- idamkan Risma ada pada Radit. Risma sadar dia tidak terlalu cantik, tidak juga berpendidikan tinggi dan juga tidak pintar dalam sekolahnya dulu. Tapi dia bisa mendapatkan pria setampan Radit adalah anugerah terindah yang pernah dia miliki.
Siapa sih yang tidak bahagia mempunyai suami setampan dan sekeren Radit...? Tidak heran jika selama sepuluh tahun menjalankan rumah tangga bersama Radit, Risma menjadi bucin pada Radit. Apapun yang dikatakan oleh Radit dia selalu setuju dan menurut.
"Aku ke kamar ya. Mau ganti baju..." ucap Radit sambil mengusap kepala Risma.
Radit lalu membuka pintu kamarnya. Radit heran melihat kamarnya yang masih setengah gelap.Lampu tidur yang masih menyala dan juga jendela belum dibuka. Di nakas ada beberapa lilin aromaterapi masih menyala. Wangi kamar pun masih begitu harum terasa di indra penciuman Radit.
Radit lalu membuka lemari dan mengambil baju ganti. Setelah selesai mengganti baju Radit hendak keluar kamar tapi Risma keburu masuk kamar.
"Kok lampunya nggak dinyalakan mas...?" tanya Risma lalu menyalakan lampu kamar.
"Ah iya... Nggak papa...." jawab Radit.
Risma lalu membuka hordeng dan jendela. Kemudian Risma mematikan tempat tidur dan mematikan lilin aromaterapi.
"Ris..." ucap Radit.
"Iya..."
"Kamu menyiapkan semua ini...?" tanya Radit.
"Iya mas, kan mas Radit kemarin janji kalau malam ini kita akan...."
"Oh Ya ampun...." Radit menepuk keningnya.
"Maaf ya Ris, mas lupa.... Mas benar- benar lupa..." ucap Radit merasa bersalah pada Risma.
"Ya udah nggak papa mas..."
"Maaf banget ya Ris...." Radit menggenggam tangan sang istri.
"Iya nggak papa..."
"Mas janji nanti kalau mas pulang lagi, kita akan melakukannya. Sebenarnya mas mau sekarang, tapi nggak mungkin kan karena ada anak- anak. Nanti mereka....
"Nggak papa mas, masih ada waktu lain kok..." jawab Risma sambil mengusap dada Radit.
Akhirnya hari ini Risma, Radit dan anak- anak hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Rencananya sih mereka mau jalan- jalan , tapi karena di luar hujan tidak berhenti juga, terpaksa Radit hanya menemani anak- anaknya bermain di rumah saja.
Dan sore harinya sehabis sholat maghrib Radit sudah bersiap untuk kembali ke kota B. Dia akan naik kereta pukul tujuh, jadi setengah tujuh dia sudah bersiap pergi ke stasiun.
"Ayah, berangkat ya, kalian jangan nakal, jangan berantem, nurut sama ibu ya...." ucap Radit pada kedua anaknya.
"Iya, ayah... " jawab Rafa.
Sementara Sabila manyun karena tidak mau ditinggal sama ayahnya. Dia masih kangen.
"Sabila sayang, senyumnya mana...? Masa ayahnya mau berangkat kerja kok dicemberutin sih, nanti ayah jadi sedih lho..." ucap Radit sambil memeluk sang putri bungsunya.
"Sabila masih kangen sama ayah...." Sabila menangis.
"Bulan depan ayah pulang lagi kok, nanti ayah belikan kalian mainan yang bagus...." ucap Radit.
"Sudah ya, ayah pergi dulu, takut ketinggalan kereta...." sambung Radit sambil melepaskan pelukan.
"Ris, jaga anak- anak ya. Mas minta maaf ya, kepulangan mas kali ini mas nggak ada waktu berdua sama kamu...." ucap Radit.
"Iya mas, nggak papa, aku ngerti kok..." jawab Radit.
"Makasih ya, mas pamit. Itu ojek online sudah datang...." ucap Radit lalu mengecup kening Risma. Risma pun kaget. Tidak biasanya Radit pemitan sambil kecup kening. Biasanya hanya Risma yang mencium punggung tangan Radit. Risma pun merasa bahagia sekali melihat perubahan Radit. Ibaratnya es yang membeku yang ada dalam hati Radit sudah mulai mencair.Iya, Risma memang selalu menyebut suaminya itu sebagai kulkas dua pintu. Dia begitu cuek dan dingin. Dari semenjak dia menikahinya hingga sudah punya dua orang anak.
Bersambung....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!