Semburat cahaya redup yang menawan, menyambut suasana intim sensual. Lantai dansa berkilauan, memantulkan cahaya dari lampu kristal yang tergantung dari langit-langit tinggi.
Di atas sofa mewah berwarna gelap, kharisma penguasa dunia malam sangat terasa, bahkan di tengah hiruk pikuk musik dan tawa. ‘Selebriti’ bergaun mini berkilauan, sibuk menyibakkan rambut yang menutupi kalung berlian mereka.
Namun, yang paling menarik perhatian bukanlah pakaian atau perhiasannya, melainkan cara mereka bergerak dan berinteraksi. Semakin larut, semakin bebas dan bergairah.
“Belom dapet?” Seorang bartender muda dengan name tag kecil bertuliskan Rayan, muncul dari balik etalase bar yang dipenuhi botol-botol memabukkan, menyadarkan lamunan seorang wanita cantik yang sedang duduk manis di depan mejanya.
Wanita penakluk taipan. Gaun hitamnya membingkai indah lekuk tubuh yang sempurna. Riasan natural dan rambut hitam terurai panjang, sambil sesekali melirik jam cartier di pergelangan tangannya. Pesona yang memikat setiap mata memandang.
“Dua orang aku tolak… yang satu masih bocah, satunya lagi minta bj, najis.” Jemari lentiknya menelusuri sisi atas gelas sambil terkadang menilik sekeliling.
Radar dalam tubuhnya yang biasa memberi sinyal dolar, seperti belum berfungsi dengan benar setelah beberapa hari kemarin dilanda demam tinggi.
“Ambil aja lah. Kamu off tiga hari, pasti butuh duit, kan? Si Vanya, udah close target malem ini.”
Tatapan mata cokelat wanita itu langsung menusuk Rayan, hukuman atas perkataannya barusan. Ia menyesap lagi gordon pink kesukaannya dengan tenang, senyum tipis bermain di bibirnya.
"Rayan," panggilnya dengan suara lembut penuh kuasa, “kamu mau tau gak, apa perbedaan aku sama Vanya?” Rayan tertegun, ludah tercekat di kerongkongannya.
Hanya berjarak dengan meja bar yang tidak telalu besar, wanita tahta tertinggi di ‘Wanna Fly?’ club itu bangkit dan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Rayan.
Wangi parfum mewah memenuhi indra lelaki berperawak tinggi kurus itu, sambil dimainkannya name tag yang menempel di dada Rayan. “Ingat ini, Yan," ucapnya mendayu, "I have class but she don’t!"
Tepat pukul dua belas malam. Musik bertransformasi, DJ menaikkan volume sekencang mungkin dengan intro yang menggila. Semua pengunjung riuh bertepuk tangan.
Wanita itu meninggalkan meja bar beserta Rayan yang menyebalkan dan memulai aksinya di lantai dansa. Lighting laser berkedip liar, bass menggelegar menggetarkan dada.
Ia berlenggak-lenggok, tubuh sexy-nya meliuk dengan anggun. Dan tak butuh waktu lama untuk musik menguasai jiwanya. Tangan yang tanpa sadar terangkat ke udara dan senyum lebar mengembang di wajahnya saat pelukan dari lelaki yang entah dari mana, terasa hangat di punggung.
Sentuhan demi sentuhan membelai kulit halusnya yang tak tertutup kain, menciptakan lenguhan kecil tertahan. Kecupan di tengkuk lehernya juga membuat wanita itu terbang di antara awan-awan.
Ia tidak peduli dengan pandangan orang lain, ini adalah dunianya sendiri. Di antara kerumunan laki-laki yang mengagumi, wanita itu menemukan ruangnya sendiri.
“Rhaell, aku yakin kamu bisa bikin malamku lebih berkesan.” Ucap seorang pria yang memeluknya, suara yang nyaris saja tak terdengar di tengah dentuman musik.
Ia mengelus lagi pinggang pelacur mahal, bernama Rhaelle itu dan berusaha membujuknya.
Rhaell berbalik, dia sama sekali tak heran jika nama dan tarifnya yang fantastis, sudah menjadi rahasia umum. Mata coklat itu kembali menjelajahi lekuk tubuh lelaki yang beralih membelai lengan tangannya. Aroma maskulin dan luxury brand penampilannya ditimbang, layakkah ia 'dilayani'? Atau hanya pantas dikasihani?
Tatapan mata dan sentuhan singkat di titik-titik sensitif menyegel kesepakatan. Dengan senyum menghanyutkan, Rhaell mengangguk sembari menatap laki-laki itu penuh arti, menarik ujung kerah kemejanya dan melangkah menuju ruang VIP. $1000 sudah aman di genggamannya.
Mereka berjalan melewati lorong para penjaja diri yang sedang bergumul dengan pelanggan masing-masing.
Rhaell tersenyum getir saat mendapati Vanya, teman seperjuangannya sedang beradu saliva bersama pria bekasnya kemarin. Bukan apa, Rhaell merasa iba, Vanya hanya mendapat ‘pria bekas’ dengan harga jauh di bawahnya.
Sedangkan Rhaell berpegang teguh pada prinsip tidak akan ‘menunggangi’ pelanggan yang sama dua kali, membuatnya menjadi ekslusif dan tak disepelekan sembarang orang.
Rhaell membuka salah satu pintu berderet dengan papan nomor A10 dan mempersilahkan tamunya masuk.
Bilik yang hanya berisi satu sofa besar dan cahaya lampu merah redup, meningkatkan gairah lelaki yang mulai melepas satu-persatu kancing kemejanya.
Rhaell maju selangkah demi selangkah, menatap mata sayu pelanggannya dan mendorong jatuh ke sofa yang empuk. Dia mengambil alih tugasnya membuka kancing kemeja.
Senyuman puas tersungging di bibir lelaki ber-usia pertengahan dua puluhan itu, mengagumi gerak-gerik Rhaell yang menggeliat di depan matanya. Melakukan service terbaik.
Rhaell yang berhasil menanggalkan kemeja, lantas duduk di pangkuan tuannya dengan gerakan tarian erotis penuh makna.
Mini dress berbahan satinnya menyingkap, paha mulus terekspose dengan sempurna. Tangan-tangan lincah mulai menggerayangi tubuh Rhaell.
Rhaell merasakan perubahan di bawah sana. ‘Pangeran jantan’ si tuan muda memberontak. Menuntut lebih untuk dipuaskan.
“Lepaskan bajumu, Haell.” Pinta tuan muda disela-sela desahannya.
Rhaell menggigit bibir bawahnya dengan perlahan menurunkan tali tipis dipundaknya. Memeluk erat dan menenggelamkan wajah tuan muda itu ke antara lembah bukit yang menawan. Membiarkan lidah nakal bermain di sekitar sana.
Walau masih ada kain pemisah terakhir diantara mereka, tapi gesekan nikmat dari ‘gundukan’ milik Rhaell dengan si ‘pangeran jantan’ yang sekarang sekeras batu, sangat membakar keduanya.
Lelaki itu mencoba untuk ketiga kalinya membuka celana dalam Rhaell dan seketika permainan terhenti. Rhaell berdiri dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Maaf. Aku gak tahan.” Raut wajah bersalah pelanggannya sangat ketara saat Rhaell menunjukan ekspresi cemberut.
“Aku gak suka kalo kamu mainin miss lily. Yang boleh dimainin cuma ini, ini, ini, ini, ini… kalo miss lily? Nono” Dengan nada dan gesture manja, Rhaell menunjuk area intimnya. Memberi peringantan pada pria itu agar tidak melewati batas perjanjian.
Seperti biasa, tidak ada lelaki yang bisa menolak tingkah menggemaskan Rhaell dan tidak ada juga satupun yang berani menyentuh miss lily-nya.
Pikir Rhaell, dengan tubuhnya saja dia bisa memuaskan ratusan pria dan hidup serba kecukupan. Jadi kenapa dia harus mengorbankan miss lily-nya?
Malam ini. Sekali lagi pembuktian dari rumor yang beredar di seluruh club malam. Bahwa pelacur metropolitan kelas atas, Rhaelle Lussya adalah ratu suci yang tak tersentuh.
“Ffkk! Rhaell ffak!…” Erangan keras terlepaskan dengan peluh membanjiri pelipis pria yang mencapai puncaknya.
Rhael meraih tisu di pojok sofa dan membersihkan tangannya yang terciprat cairan putih. Dia merapikan lagi dressnya dan duduk santai di sebelah pelanggan yang masih terengah.
“Namaku Marco, Haell.”
Rhaell menoleh dan mendapati wajah yang tadinya tegang, kini tampak rileks. “Hai, Marco.” Jawab singkat Rhaell.
“Aku mau nanya. Kalo tangan dan tubuhmu senilai seribu dolar, berapa yang harus aku keluarin buat silaturahmi sama miss lily?”
Rhaell tertawa geli mendengar kata ‘silaturahmi’, “Emang yang barusan kurang ya?”
“Enggak. Yang barusan aku suka banget dan puas… but, i’m not vegetarian.” Sanggahnya sambil berpakaian.
Rhaell mencoba mencerna ucapan Marco.
“Jadi maksudnya kaya makanan orang vegetarian gitu? Yang dagingnya diganti sayuran? Kenyang tapi puasnya nanggung?”
Marco mengeluarkan dompet dari saku celananya dan radar Rhaell secara alami mengirim sinyal. Dia mengadahkan kedua tangan seperti cutie puppy yang menunggu majikannya memberi makan.
“Buat malem ini.” Seribu dolar diletakkan Marco di tangan kanan Rhael, “Buat kesimpulan barusan.” Dan bonus seratus dolar di tangan kiri Rhaell karena menjawab arti vegetarian dengan benar.
“Bentar!” Marco mengeluarkan beberapa lembar lagi, lalu mencium uang itu sebelum dimasukkannya ke dalam dress bagian bawah Rhaell, “Salam buat miss lily. Aku pengen cobain nektarnya.”
BRAK!
Pintu bilik mereka terbanting terbuka. Mengagetkan Rhaell dan Marco yang sedang transaksi dengan miss lily. Kilatan cahaya putih menyambar, membekukan momen tersebut dalam sekejap. Seseorang memotret mereka.
Dua bayangan sosok yang berdiri tegak di ambang pintu. Tubuhnya besar dan kekar, dengan postur yang mengintimidasi.
“Pak Marco, ditunggu bapak di bawah.”
Rhaell terperangkap dalam hal yang tak terduga. Siapa mereka? Siapa dua raksasa ini yang tiba-tiba muncul dan mengusai situasi.
“Marco? Siapa mereka? Terus ini maksudnya apa?” Rhaell tambah tidak mengerti lagi, ketika Marco merampas kembali dolar-dolarnya.
“Kembalikan!” Rhaell mulai gusar ketika Marco hendak meninggalkannya.
“Kembalikan uangku, Marco!” Nada Rhaell mulai meninggi.
Namun Marco, pelanggannya yang beberapa saat lalu masih ramah, kini berubah menjadi patung, tak bergeming menghadapi protesnya. Mata Rhaell memerah. Uang yang seharusnya menjadi miliknya, dirampas kembali oleh Marco.
“Hey, sialan! Berhenti!” Mulut Rhaell mengeluarkan umpatan-umptannya dan mengejar mereka dangan langkah gontai karena heels tinggi memperlambat langkahnya yang penuh amarah.
Dan ya, yang ditakutkan terjadi. Rhaell jatuh tersungkur, menjadi tontonan gratis bagi pengunjung klub malam itu.
Gemuruh tawa dan bisikan mulai terdengar, menambah rasa malu yang mengalir dalam dirinya.
Rayan, bartender yang menyebalkan tadi, bergegas menghampiri Rhaell dan membantunya berdiri. “Gak usah dikejar, Haell. Mereka orang berkuasa,” suaranya penuh nada peringatan.
“Terus mereka bisa seenaknya gak bayar gitu?” Rhaell membalas, kemarahan masih membara. Tanpa ragu, ia melepas heelsnya dan melemparkannya ke arah Rayan. “Simpen ini, aku bakal kejar mereka sampai neraka sekalipun.”
Dengan tekad yang membara, Rhaell tidak akan membiarkan Marco melarikan diri begitu saja.
Bersambung…
Mobil hitam Arlo melaju cepat di jalanan kota yang mulai lengang. Lampu senja menyinari gedung-gedung pencakar langit, sementara di dalam mobil, wajah Arlo menegang. Ponselnya masih menempel di telinga, suara cemas Sekertarisnya, Atlas masih bergema samar. "Ada wartawan, Pak, yang membuntuti Pak Marco," kata Atlas.
Arlo menggeram. Marco, adiknya yang selalu berhasil menciptakan kekacauan di saat-saat paling krusial.
Hari ini, tepatnya saat Arlo sedang berjuang keras dalam pencalonan Wali Kota. Ia baru saja menyelesaikan rapat penting dan pikirannya penuh dengan strategi kampanye, anggaran, dan janji-janji yang harus ditepati. Sekarang, semua itu terancam oleh ulah Marco.
"Di mana dia sekarang?" tanya Arlo, suaranya terdengar berat, diredam oleh amarah yang menggelegak.
Atlas menyebutkan lokasi, sebuah club malam terkenal di selatan. “Putar balik.” Perintah Arlo pada supir sekaligus pengawalnya. Ia harus segera sampai sana sebelum wartawan lebih dulu menemui Marco.
Bayangan berita-berita negatif yang bisa merusak reputasi memenuhi benaknya. Pencalonan Wali Kota ini adalah perjuangan hidup matinya dan Marco, dengan segala kenakalannya bisa menghancurkan semua dalam sekejap. Ia harus melindungi Marco, sekaligus menyelamatkan dirinya sendiri.
...****************...
Mobil Arlo berhenti mendesis di parkiran basement 'Wanna Fly?', sebuah klub malam yang terkenal glamor namun menyimpan aura berbahaya.
Tanpa basa-basi, Arlo langsung memerintah, "Seret dia. Bawa Marco ke sini. Hidup atau mati, aku tidak peduli. Jangan lupa bukti foto yang dia lakukan di sana." Nada suaranya tegas, tak memberikan ruang untuk penolakan.
Marco dengan segala masalahnya harus segera diatasi sebelum lebih banyak kerusakan yang terjadi.
Pengawalnya mengangguk patuh, menghilang masuk ke area dalam klub itu. Sedangkan Arlo menunggu di dalam mobil, menatap sekeliling dengan tatapan tajam, menunggu adiknya yang selalu membuat frustasi itu muncul.
Kegelapan malam seakan menjadi saksi bisu dari amarah dan kekhawatiran yang bergulat dalam hati seorang calon Wali Kota.
Arlo memijat pelipisnya, berusaha meredakan tekanan yang berdenyut di kepala. Ia mencoba menenangkan diri, tapi sebelum berhasil, suara ribut-ribut dari arah luar memecah kesunyian.
“Aku gak nyangka kamu pengecut! Kabur habis make tubuhku? Dasar, Vegetarian Bajingan!” Seorang wanita berpakaian minim tanpa alas kaki, sedang mengejar adiknya sambil memaki dengan kata-kata kasar yang tak pantas didengar.
Dua pengawal Arlo sigap menahan wanita yang menerobos, ketika Marco masuk ke mobil kakaknya. Mereka mencengkram lengan wanita tersebut dengan kuat namun tetap sopan, menghindari kekerasan yang tidak perlu.
Arlo memperhatikan semuanya dengan tenang, namun sorot matanya tetap tajam. Ia melirik ke arah Marco yang sudah duduk di kursi depan sebelah supir. Adiknya itu hanya menunduk, wajahnya pucat pasi.
“Jangan apa-apain Rhaell. Dia gak terlibat sama sekali.” Mohon Marco saat tahu kakaknya mau memghampiri wanita pemuas napsunya.
Angin malam menerpa Arlo saat ia keluar dari mobil. Suara wanita itu, Rhaell, masih terdengar. Meskipun mulai melemah karena ditahan oleh pengawal.
Arlo berdeham, suaranya berat dan tegas.
Pria tinggi bertubuh atletis di hadapan Rhaell itu mengeluarkan dompet dari balik saku jas hitamnya dengan gerakan cepat, rahang wajahnya yang kuat dan alis tebalnya membuat Rhaell mendelik ketakutan.
Mata gelap dan misteriusnya juga memandang rendah Rhaell yang masih berjuang melepaskan diri dari peganggan anak buahnya.
“Berapa hargamu?” tanya Arlo, suaranya datar tetapi jelas terdengar nada hinaan di dalamnya.
Belum sempat Rhaell menjawab, Arlo sudah melemparkan sejumlah uang ke tubuh wanita yang setengah telanjang itu dan semua uang berhamburan jatuh ke tanah.
Marco yang masih duduk di kursi depan, mengangkat wajahnya dan melirik ke arah Rhaell. Ia menyesal dan ada sedikit rasa tidak tega. Tapi ketakutannya pada Arlo membuatnya tidak bisa berkutik.
Rhaell terdiam melihat kakinya sendiri tanpa alas dan lusuh di kelilingi kertas uang persetan. Benaknya bergejolak. Harga dirinya tercabik.
Namun, di sisi lain sebuah bagian kecil di dalam dirinya, bagian yang telah lama terkikis dan terluka, mengakui kenyataan pahit ini. Kodratnya sebagai pelacur yang terbuang.
Walaupun uang itu sebegitu hina dan menjijikkan, tetaplah satu-satunya yang mampu membungkam jeritan hatinya yang terluka.
Ia meraih uang itu, jari-jarinya gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena campuran rasa malu dan keputusasaan yang begitu dalam.
Air mata Rhaell mengancam membasahi pipi karena amarahnya yang membuncah. Ia marah pada dirinya sendiri yang lemah, pada dunia yang kejam dan pada nasib yang membawanya ke titik terendah ini.
Suara Arlo kembali memecah keheningan. “Jika kamu ingin melindungi dirimu, lebih baik kamu jadi pelacur yang pintar. Tubuhmu sudah rusak dan menjijikan. Selagi punya, gunakan otak kecilmu yang tak seberapa itu.” Katanya, menegaskan bahwa ini bukan cara yang baik untuk berurusan dengan masalah.
Arlo dan rombongannya masuk ke mobil dan meninggalkan Rhaell sendiri yang sedang memunguti uang di tanah.
Ia mengusap matanya, bukan karena air mata penyesalan, melainkan dengan gerakan cepat dan tergesa.
Seketika, Rhaell kembali ingat jati diri yang asli.
Dengan langkah pasti, ia mengetuk kaca mobil Arlo. Dan Arlo yang masih dipenuhi amarah, langsung membukanya.
“Tubuh dan otakku bukan urusanmu," ujar Rhaell menatap Arlo dengan penuh menantang. “Urusi saja adikmu yang pengecut itu!" Lalu, dengan ekspresi yang masih dipenuhi senyum tanpa beban, Rhaell meludahi wajah Arlo.
Suara tawa Rhaell bergema saat tau kalau ludahnya tepat sasaran dan Arlo terdiam, terkejut bukan hanya oleh ludah yang mengenai wajahnya, tetapi juga oleh keberanian dan kepercayaan diri Rhaell yang begitu tak terduga.
...****************...
Mobil Arlo pergi meninggalkan basement, suara mesinnya memudar di kejauhan. Keheningan sesaat kemudian digantikan oleh suara halus mesin motor yang mendekat. Seulas senyum bahagia mengembang di bibir Rhaell. Ia tahu siapa yang datang menjemputnya.
"Cia! Kamu habis ngapain? Sendalmu mana?" Suara Edgar memecah kesunyian dini hari, diiringi deru motor yang baru saja dimatikan. Cahaya lampu parkiran menerangi wajah khawatir Edgar yang masih mengenakan celana seragam SMA-nya.
Ia menatap Rhaell, atau Cia dari nama belakangnya Lussya, dengan tatapan penuh pertanyaan dan sedikit cemas.
Rambut Rhaell acak-acakan, pakaiannya sedikit kusut, dan yang paling mencolok adalah ketidakhadiran sendalnya. Kaki Rhaell yang biasanya selalu rapi, kini tampak kotor dan sedikit terluka.
Edgar menghela napas panjang. Ia sudah menduga ada yang tidak beres. Pukul dua pagi bukanlah waktu yang biasa untuk kakak satu-satunya itu pulang.
Biasanya, Edgar sendiri yang menjemput Rhaell di tempat biasa mereka bertemu, tetapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda karena Rayan menelponnya.
Edgar masih terpaku, menatap kaki Rhaell yang kotor dan luka. Pertanyaan menggantung di udara, tetapi Rhaell sudah mendahului dengan ajakan makan. "Makan yok, Gar. Cia laper," katanya, suaranya sedikit serak, namun tetap berusaha terdengar ceria.
Ia mengambil helm dari bawah kaki Edgar dan memasangnya dengan cekatan, gerakannya sedikit tergesa-gesa.
Edgar terdiam sesaat, mencoba mencerna semua yang dilihat dan dirasakannya. Kekhawatiran masih membayangi, tetapi ia memilih mengikuti keinginan Rhaell untuk saat ini.
"Cia," ujarnya lagi, suaranya masih lembut, "Kita ngobrol nanti, ya? Pokoknya ceritain semuanya." Ia tak memaksa, mengetahui bahwa Rhaell butuh waktu dan ruang untuk membuka hatinya.
Edgar menyalakan mesin motor, suara mesin itu mengalahkan keheningan malam. Ia merasakan tangan Rhaell yang dingin dan gemetar di pinggangnya.
Bau alkohol masih samar-samar tercium, mengingatkannya pada pekerjaan Rhaell yang penuh risiko.
“Ayo, Gar. Gas motornya… Cia pengen ayam yang saosnya pedes mampus," kata Rhaell lagi, suaranya sedikit lebih bersemangat, mencoba menutupi getaran.
Ada sebuah tekad tersirat dalam kata-katanya, tekad untuk bertahan, untuk tetap kuat di tengah kesulitan. Edgar mengangguk, menggerakkan motornya perlahan meninggalkan parkiran basement, membawa Rhaell menuju tempat makan, menunggu saat yang tepat untuk mendengar cerita yang disembunyikan di balik senyum dan kata-kata ceria sang kakak.
Di dalam hatinya, ia berdoa agar Rhaell baik-baik saja dan ia berjanji akan selalu ada untuk melindungi kakaknya, sekuat tenaga yang dimilikinya.
Bersambung…
Mentari Minggu pagi menyelinap lewat celah tirai gorden tipis berwarna putih, menerangi debu-debu kecil yang menari-nari di sinar matahari. Hari Minggu, hari untuk bermalas-malasan dan Rhaell akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Setelah suara pisau beradu dengan kayu, sekarang gantian aroma sedap yang mengusik indranya. Bukan aroma sembarangan, ini aroma roti gandum yang sedikit gosong di tepinya ‘ciri khas Edgar’ berpadu dengan wangi telur dadar yang dibumbui sedikit oregano kering.
Rhaell mengerjapkan mata, masih setengah mengantuk, bulu matanya yang lentik bergetar pelan. Aroma itu semakin kuat, menggelitik perutnya yang mulai keroncongan.
Dengan malas ia meregangkan tubuh, seprai katun terasa dingin di kulitnya yang hangat, meraih kaca mata bening di meja kecil sebelah kasur.
Senyum tipis langsung saja mengembang, membayangkan sarapan lezat yang sudah menunggunya.
Di dapur mungil apartemen mereka, Edgar menata omelet di atas meja makan. Sambil menunggu roti panggang matang, ia membersihkan dapur dan mencuci alat-alat masaknya.
“Pagi, Cia.” Edgar, dengan rambut sedikit berantakan dan mengenakan celemek biru tua yang sudah pudar, sedang membalik roti terakhirnya.
“Pagi, Chef.” Jawab Rhaell, menghampiri adiknya dan menghirup dalam-dalam aroma sarapan. "Wangi banget! Oregano ya, Chef?" Tanyanya, mengetahui kebiasaan Edgar yang suka bereksperimen dengan bumbu.
“Iya dong. Kita jadi manusia itu harus berevaluasi.” Bangganya. "Telur dadar oregano, pake kornet, pake cabe biar hot, sama roti panggang garlic… spesial buat Cia."
Rhaell tertawa kecil, “Maksud kamu inovasi kali?!”
“Lah, emang pake kata berevaluasi gak bisa ya, Ci?”
“Bisa kok, Gar.” Rhaell membuka kulkas, memperlihatkan isinya yang cukup sederhana: beberapa botol minuman, sisa sayuran, dan beberapa bungkus makanan siap saji.
“Nah. Iya kan bisa kan.”
“Iya. Bisa gila!” Sebotol susu segar diambil Rhaell dan kopi hitam panas dia buatkan untuk moodboster kesayangannya yang tak tahan laktosa.
Rutinitas pagi yang selalu mereka jalin: Edgar sang koki andalan dan Rhaell penikmat setia masakannya.
Wangi kopi dan roti panggang hangat, menemani obrolan ringan mereka. Edgar bercerita tentang kejadian-kejadian lucu di sekolah, suaranya riang dan banyolannya selalu berhasil menggelitik tawa Rhaell.
Namun, di balik senyum dan tawa itu, sebuah bayangan kecil dari kejadian semalam masih menghantui pikiran Rhaell. Perasaan sedikit mengguncang, tapi ia berhasil menutupinya dengan baik dari Edgar.
Ia tak ingin mengusik ketenangan pagi mereka dengan kekhawatiran yang hanya akan membebani adiknya.
Apartemen lantai sebelas dengan segala kesederhanaannya adalah pelarian mereka dari dunia luar yang terkadang terasa begitu jahat dan kejam.
Di tengah aroma kopi dan roti panggang, di antara tawa dan cerita, Rhaell menemukan kedamaian dan kenyamanan yang tak tergantikan. Ia bahagia diberi adik yang penyayang dan sarapan pagi yang penuh cinta.
Ponsel Edgar bergetar pelan di atas meja, matanya sekilas melirik layar yang menampilkan pesan masuk.
“Cia, ini kata Rayan, semalem dia nitipin barang-barang Cia di satpam. Ntar habis makan aku ambil, deh.” Setelah membaca pesan itu, jemarinya membalas pesan Rayan dan meletakkan kembali ponselnya.
Mulut Rhaell yang masih penuh dengan potongan roti panggang dan omelet membuatnya tampak lucu saat ia mencoba berbicara.
“Cia aja yang ambil,” ujarnya. Suaranya teredam dan terdengar sedikit cadel. “Itu paling tas sama HP doang.”
“Oke kalo gitu. Cia ambil tas ke bawah, aku cuci piring.”
Rhaell dengan semangat mengacungkan kepalan tangannya, sisa-sisa remahan roti masih menempel di sudut bibirnya.
Kepalan tangan Edgar menyambutnya dengan cepat, kuat namun tetap lembut. Tabrakan dua bogem itu menghasilkan bunyi gedebuk kecil yang menyenangkan. Seolah-olah dalam benturan singkat, mereka saling berbagi energi.
...****************...
Dengan langkah ringan, Rhaell melangkah keluar dari apartemen mungil mereka. Udara pagi yang masih sejuk membelai kulitnya.
Ia menuju lift, menekan tombol panggil. Pintu lift terbuka dan ia masuk, menikmati ketenangan pagi hari yang kontras dengan hiruk pikuk kehidupan malamnya.
Kenangan samar-samar tentang kejadian di klub malam masih berputar di kepalanya, namun ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Prioritasnya sekarang adalah mengambil tas dan ponselnya yang dititip Rayan.
Lobi apartemen tampak sepi. Hanya ada seorang satpam yang sedang duduk di meja resepsionis, membaca koran. Rhaell tersenyum ramah dan menyapa satpam tersebut.
“Pagi, Pak Bento…” sapa Rhaell.
“Selamat pagi, kakak manis. Mau ambil tas kah?”
Rhaell mengiyakan dengan senyum kikuknya dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
Pak Bento security apartemen yang sedikit gembul itu berdiri dan berjalan menuju ruang penyimpanan barang-barang.
Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan sebuah tas jinjing berwarna beige dan sepatu hitam yang salah satu haknya patah.
Rhaell menatap nanar heels kesukaannya dan mengambil napas dalam. “Semalem aku habis jatoh, Pak. Makanya gini.” Dia menenteng sepatunya keatas, menunjukan seberapa parah hal itu terjadi.
Pak Bento mengamati dengan saksama, “Tapi kaki kakak cantik gak sakit kan?”
Pertanyaan satpam itu membuat Rhaell baru menyadari keadaannya. Ia gantian melihat kakinya yang ternyata sedikit membiru di sekitar pergelangan kaki. Rasa nyeri yang samar mulai terasa.
“Aman aja sih, Pak.”
Tepat saat Rhaell mengecek kakinya, ia mendengar derap langkah mantap yang mendekat dari belakang. Ia merasakan sebuah firasat, namun memilih untuk tetap tenang.
Rhaell berbalik, ingin melihat siapa yang mendekat, tetapi sebelum ia sempat berbalik sepenuhnya, ia merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya.
Wanita yang masih menggunakan baju tidur karakter Shinchan itu menoleh dan mendapati seorang laki-laki tinggi, berpakaian rapi berdiri di belakangnya.
Dengan dasi panjang berwarna hitam, laki-laki itu tersenyum ramah. Senyum yang tampak tulus. “Selamat pagi. Perkenalkan, saya Atlas. Sekretaris dari Pak Arlo.” Suaranya lembut, bernada rendah dan menenangkan.
Rhaell sedikit terkejut, ia tak menyangka akan bertemu seseorang di sini, apalagi sekretaris dari seseorang yang bahkan namanya saja belum pernah ia dengar.
Pikirannya langsung melayang ke berbagai kemungkinan, apakah ada hubungannya dengan kejadian semalam?
Aksi spontan dan bodohnya meludahi wajah pria itu, tergambar di luar kepalanya. Itu bukan hanya tindakan tidak sopan, tapi juga bisa berujung pada masalah hukum.
Apakah pria itu akan menuntutnya? Apakah ia akan menghadapi hukuman? Apakah hidupnya akan hancur hanya karena satu tindakan impulsif?
Deheman lelaki itu menarik Rhaell kembali ke kenyataan. Wajah Atlas terlihat sabar menunggu respon dari Rhaell.
“Sorry, sorry… aku lagi mikirin sesuatu.” Rhaell meletakkan tas dan sepatunya di atas meja resepsionis dan memegang pipinya yang terasa panas.
Atlas mengangguk pelan, “Saya mengerti, Ibu Rhaell. Kejadian semalam… cukup mengkhawatirkan.” Ia berkata dengan nada yang lembut, namun ada sorot tajam di matanya yang menunjukkan bahwa ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan Rhaell.
“Pak Bento, emang aku kelihatan kaya ibu-ibu ya?” Rhaell mengalihkan pembicaraan dengan melibatkan Pak Bento yang sedang asik menyerutup kopinya.
Atlas tersenyum tipis, “Pak Arlo telah memberitahu saya semuanya. Beliau ingin bertemu dengan anda untuk menjelaskan beberapa hal.”
Rhaell mengerutkan kening, berusaha mencerna kata-kata Atlas. “Jadi, Pak Arlo ingin bertemu saya? Kenapa dia tidak menghubungi saya langsung? Atau lebih baik, kenapa dia tidak mengurus urusannya sendiri?” jawab Rhaell dengan nada sedikit sarkastis, berusaha terdengar santai meski hati kecilnya berdebar.
Atlas menatapnya dengan tenang, tetapi Rhaell bisa merasakan ketegangan di udara. “Ibu Rhaell, ini bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Pak Arlo sangat ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik.”
“Masalah? Masalah apanya? Saya tidak merasa ada masalah,” Rhaell menjawab dengan nada menantang, matanya menyipit. “Kalau dia mau ngomong, dia bisa langsung ke saya. Saya bukan anak kecil yang perlu diajari.”
Pak Bento, yang mendengar percakapan tersebut, menatap Rhaell dengan sedikit terkejut. “Eh, kakak cantik… tenang-tenang. Coba ketemuin dulu Pak Arlo-nya. Siapa tahu penting?” katanya, berusaha menengahi.
“Tapi kenapa harus lewat dia?” Rhaell menunjuk Atlas dengan sedikit kesal “Saya tidak butuh pengacara atau sekertaris untuk menjelaskan sesuatu yang seharusnya bisa dibilang langsung. Pak Arlo bisa saja datang sendiri, kan?”
Atlas tetap tenang, meski nada Rhaell semakin tinggi. “Ibu, saya hanya menyampaikan pesan dari Pak Arlo. Dia ingin Anda tahu bahwa ini adalah kesempatan untuk menyelesaikan segala kesalahpahaman.”
“Kesalahpahaman? Kesalahpahaman apa?” Rhaell membalas, suaranya penuh tantangan. “Apa dia pikir saya akan merasa tertekan hanya karena dia mengirimkan sekertarisnya untuk berbicara dengan saya?”
Melihat sikap Rhaell, Atlas berusaha tetap sabar. “Saya paham jika Anda merasa tidak nyaman, namun ini sangat penting bagi Pak Arlo dan situasi yang terjadi semalam.”
Rhaell melipat tangan di depan dada, berusaha menunjukkan ketidakpeduliannya. “Well, saya tidak ingin terlibat lebih jauh. Biarkan Pak Arlo urus sendiri masalahnya. Saya tidak punya waktu untuk drama ini.”
Atlas menatapnya dengan serius. “Ibu Rhaell, saya menyarankan Anda untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini. Ini bisa berdampak lebih besar daripada yang Anda kira.”
Rhaell tidak mengindahkan ucapannya. “Terserah, saya tidak tertarik. Saya punya lebih banyak hal yang perlu dipikirkan daripada menghadapi orang yang tidak saya kenal. Dan jangan sekali lagi sebut saya 'Ibu'.”
Dengan semangat yang menggebu, Rhaell meringkus barang-barangnya dan berbalik melangkah pergi, meninggalkan Atlas dan Pak Bento yang masih tertegun dengan sikapnya.
Ia merasa puas meskipun di dalam hati, keraguan mulai muncul. Apakah ia telah mengambil keputusan yang tepat?
Namun, saat ini ia lebih memilih untuk tetap pada pendiriannya. Semalam dia hanya menuntut haknya dan apa salahnya membalas perlakuan pria yang melemparinya uang?
Rhaell sudah mendapat jawabannya. Bahwa yang semalam itu, impas.
Bersambung…
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!