NovelToon NovelToon

Kaulah, Pilihan Hati

Episode 1 : Rencana pernikahan

Assalamualaikum......

Bagaimana kabar kakak kakak semua? Semoga dalam lindungan Allah selalu ya...🤲🤲😘😘

Author Farala balik lagi😅

Untuk readers kesayangan yang tetap setia menunggu, author persembahkan kisah cinta babang tampan Zayn Ashraf Damazal.

Let's go.........

🥰🥰🥰

****************

Rumah mewah Brawijaya

Zayn keluar dari ruangan abi Adam dengan senyum lebar, di tangannya ada sebuah foto wanita cantik yang selama ini dia sukai.

Saking bahagianya, umi Aza yang berpapasan dengannya hanya di anggap bayangan putih yang tidak perlu di perhitungkan keberadaannya.

Bahkan panggilan umi Aza kalah dengan senandung cinta yang dia nyanyikan sepanjang langkah kaki nya yang terlihat begitu ringan seringan kapas.

Selain menggelengkan kepala dan tersenyum simpul, tidak ada lagi yang bisa di lakukan umi Aza.

Perubahan Zayn yang terlalu signifikan tentu membuat umi Aza penasaran.

Dan untuk mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya, umi Aza sudah tau harus berbuat apa.

Pintu ruangan kerja suaminya terbuka setengah, dan di sanalah dia harus mengulik sebuah informasi tentang drastisnya perubahan sikap Zayn yang di luar prediksi.

" Apa yang terjadi dengan putra jomblo kita Abi?" Tanya umi Aza begitu mendapat kan kesempatan.

Abi Adam tersenyum.

" Memangnya apa yang umi lihat?" Alih alih menjawab, abi Adam justru balik bertanya.

" Umi seperti tidak mengenalnya. Dia jadi sosok yang lain setelah keluar dari ruangan ini."

" Hahahaha..." Abi Adam tertawa renyah. " Becanda umi boleh juga." Puji nya sembari mengusap kepala umi Aza dengan lembut.

" Memangnya ada sesuatu yang terjadi?"

" Hubungi Arnisa."

Kening umi Aza mengernyit." Ada apa dengan Arnisa?"

" Abi akan berkunjung ke kediaman Mahawira dalam waktu dekat. Status jomblo putra tampan mu itu akan segera berakhir."

" Benarkah?" Umi Aza tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

Sebenarnya, dia pun menginginkan Zayn menikah dengan anak dari sahabat baiknya itu. Karenanya, umi Aza terlihat sangat antusias.

" Baiklah, umi akan secepatnya menghubungi Nisa. Apa Abi tau kalau umi sangat menyukai Aretha?"

Giliran Abi Adam yang terlihat bingung.

" Aretha?"

" Iya, Aretha. Bukankah abi akan melamar Aretha untuk Zayn?"

Abi Adam menggeleng.

" Bukan umi."

" Bukan? Lalu? Mungkinkah dengan Kanaya?" Tanya umi Aza seperti tidak rela.

" Iya, umi benar, dia anak sulung Arnisa, ku rasa dia cocok dengan Zayn.

" Ooo..." Umi Aza jadi tidak bersemangat, menanggapi seadanya dan sebisa mungkin menutupi sesuatu dari Abi Adam.

Namun bukan Abi Adam jika tidak mengetahui kegundahan umi Aza.

" Umi tidak menyukai Kanaya?"

" Tidak juga. Jadi kapan Abi akan berencana melamar Kanaya untuk Zayn?" Umi Aza mengalihkan pembicaraan.

" Secepatnya. Umi liat bagaimana Zayn kan? Dia sangat bahagia. Sebenarnya Abi sudah menyelidikinya dan ternyata Zayn memang menaruh hati pada anak sulung Mahawira."

" Baiklah."

Umi terdengar pasrah.

Setelah mengantar kepergian Abi ke rumah sakit, umi Aza kembali ke kamarnya.

Di carinya benda segi empat yang lupa di letakkan di mana.

Lama umi mencari hingga menemukan benda mahal itu teronggok di atas meja rias.

Umi Aza mulai menghubungi seseorang.

" Sardi, ajukan cuti sebulan penuh, umi ada tugas untukmu." Perintah umi dari balik telpon.

" Baik umi."

Panggilan singkat itu pun berakhir.

*

*

Beberapa hari berlalu, lamaran benar benar di adakan setelah melalui proses ta'aruf.

Zayn tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, bibir indahnya tidak pernah lepas dari yang namanya senyuman.

Umi pun turun bahagia meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.

Ezar dan Zara ikut dalam acara lamaran Zayn.

Tak di pungkiri, Ezar dan Zara juga turut merasakan kebahagiaan karena tidak lama lagi Zayn akan segera menikah.

Waktu sudah di tentukan, sekitar sebulan lagi, pesta pernikahan akan di langsungkan di sebuah hotel berbintang.

Dan hari ini Zayn dan Kanaya sudah ada janji temu untuk fitting baju pengantin mereka. Zayn ingin menjemput calon istrinya tapi Kanaya menolak. Akhirnya Zayn memilih berangkat lebih dulu dan menunggu Kanaya di butik yang sudah di pilihkan oleh kedua orangtuanya.

Lama Zayn menunggu, bahkan dia harus menunda ke rumah sakit padahal sejam lagi dia ada operasi.

Terpaksa Zayn menelpon Kanaya yang tidak kunjung datang dan jawaban Kanaya ternyata menyisakan kekecewaan untuknya.

" Maafkan aku Zayn, kamu fitting sendiri saja dulu, aku masih banyak kerjaan." Kata Kanaya dari balik telpon.

Zayn menghela nafas kasar." Baiklah. Jangan terlalu lelah, nanti kamu sakit." Ucap Zayn.

" Mmmm.. Assalamualaikum."

" Waalaikumsa.....lam."

Zayn menatap ponselnya, dan seperti biasa, Kanaya lah yang akan terlebih dulu mengakhiri panggilan tanpa mendengar kan jawaban salam dari Zayn terlebih dahulu.

Zayn mematung.

" Mungkin memang dia benar benar sibuk." Gumamnya lalu melangkah masuk dan mulai mencoba beberapa tuxedo yang cocok dia kenakan di hari pernikahan nya nanti.

Zayn tiba di rumah sakit tiga puluh menit sebelum jadwal operasi.

Jika di hitung hitung, fitting pakaian pengantinnya hanya berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja. Hitungan itu terlalu singkat untuk seorang calon pengantin seperti dirinya.

Zayn berjalan di koridor rumah sakit dengan langkah tergesa.

" Mas...."

Zayn menoleh. Nampak Zara setengah berlari menghampirinya.

" Baru datang?" Ucapnya terengah-engah.

" Iya."

" Bagaimana fitting nya?"

" Berjalan lancar." Ucapnya berbohong.

Raut wajahnya tidak menandakan semua yang dia lakukan berjalan sesuai rencana, dan Zara bisa melihat itu.

" Mas.."

" Mmmmm."

" Apa tidak sebaiknya kamu pikirkan lagi rencana pernikahan mu." Ujar Zara sembari menatap Zayn.

Zayn tersenyum. " Apa sih...nanti saja kita bicara, aku buru buru." Zayn berlalu dengan langkah seribu meninggalkan Zara yang terdiam membisu.

Zara menghela nafas panjang sebelum pergi menyusul Zayn dan mengambil arah kanan di mana bangsal pediatric berada.

*

*

Sementara itu, di sebuah kota yang terletak di pinggiran laut, nampak seorang gadis menatap lurus ke arah jendela. Tatapannya kosong menyiratkan kesedihan yang mendalam.

" Ta, mbak mu sebentar lagi akan menikah."

" Benarkah umi?"

" Iya, keluarga Brawijaya datang dan meminang nya."

" Brawijaya?"

" Iya, kamu juga mengenal calon suami mbak mu."

" Mungkinkah dokter Zayn Damazal?"

" Benar sekali. Kamu harus datang, acaranya sebulan lagi."

Itulah sepenggal percakapan antara umi Nisa dan Aretha sekitar sebulan lalu.

Ada rasa tidak terima yang terus menggunung di dalam hatinya.

Aretha sudah berusaha melakukan segala cara agar bisa keluar dari bayang bayang Zayn, tapi semua itu tidak berhasil.

Zayn Ashraf Damazal, pria pertama yang mampu membuat dunia Aretha jungkir balik. Aretha sangat mengagumi sosoknya. Dari paras itu sudah pasti, Zayn adalah pria tampan nan rupawan. Tapi sebenarnya, bukan itu yang menjadi penyebab utama Aretha menyukai Zayn. Ada sekilas cerita masa lalu yang membuatnya begitu mengagungkan Zayn, dan penilaian yang paling penting dari semuanya adalah dalam beribadah, Zayn termasuk salah satu yang sangat taat. Itulah kenapa dia seperti kehilangan separuh hidupnya ketika mendengar jika Zayn akan menikah dengan kakak kandungnya.

Bagaimana dia akan menenangkan hatinya kelak jika harus selalu bertemu dengan Zayn. Pikiran pikiran itu tidak bisa dia hilangkan dari dalam otaknya.

Aretha melangkah pelan, berdiri di depan cermin besar di dalam kamar kostnya.

Aretha mencoba menarik kedua sudut bibirnya.

" Aku memang kalah jauh dari mbak Naya, dia punya segalanya, cantik, pintar dan pekerja keras. Sementara aku...." Aretha tertunduk dalam.

Cukup lama dia melakukan itu, hingga akhirnya dia menghela nafas panjang dan kembali menatap dirinya dari pantulan cermin.

" Jika aku bukan pilihan hatimu, setidaknya, jangan kakak ku."

...****************...

Episode 2 : Aretha yang galau

Satu hari sebelum acara.

Rumah mewah Brawijaya nampak sangat ramai, semua keluarga datang dari berbagai penjuru tidak terkecuali Izel dan Nadia.

Riuh tawa bahagia memenuhi salah satu ruangan besar di rumah mewah tersebut.

Pengajian baru saja selesai di laksanakan, santri santri ponpes Al Hidayah datang memenuhi panggilan umi. Doa di panjatkan agar acara esok berjalan dengan lancar.

Zayn keluar dari kerumunan keluarga besarnya. Melangkah menjauh dan memilih mendudukkan tubuhnya di kursi taman belakang rumahnya yang terlihat gemerlap di hiasi banyak lampu berwarna warni.

Umi Aza menghampiri Zayn dan membawakan segelas coklat hangat.

Umi Aza meletakkan segelas coklat hangat di atas meja bersamaan dengan ucapan terima kasih dari Zayn.

Umi Aza duduk di samping Zayn. Memperhatikan raut bahagia sang putra tercinta yang sebentar lagi akan melepas masa lajang.

Perlahan umi menarik bahu Zayn lalu memeluknya dengan erat.

" Waktu adikmu menikah, umi tidak sempat melakukan banyak hal untuknya, baju pengantin, acara yang mewah, umi tidak bisa mewujudkan semua itu. Umi menyesal ketika mengingatnya, namun adikmu dengan ikhlas menerima apapun keputusan abi dan umi."

Umi Aza melepas pelukannya. Dia menatap intens wajah Zayn. Sorot mata berbinar memancarkan cahaya kebahagiaan kemungkinan akan berubah esok hari. Entah kah sorot mata itu memperlihatkan kepura puraan, ataukah langsung menunjukkan kebencian, umi Aza belum bisa memprediksinya.

" Tapi mas Ezar sudah memberikan pernikahan mewah pada adikku umi. Jadi jangan merasa bersalah untuk hal hal yang sebenarnya di luar kendali umi."

Umi Aza tersenyum dari balik cadarnya. " Benar apa yang kamu katakan. Dulu, Ezar tidak menyukai adikmu, umi bisa membaca dari bahasa tubuhnya. Namun seiring berjalannya waktu, umi rasa, Ezar sangat mencintai Zara."

Zayn pun ikut tersenyum dan membenarkan perkataan umi Aza.

" Berbekal dari pengalaman Zara, umi harap kamu juga bisa mencintai dan menyayangi istrimu nak. Ingatlah, takdir Allah itu nyata. Kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang tidak di takdirkan untuk mu. Jadi baik dan buruknya wanita yang akan menemanimu mencapai surga Allah, terimalah dengan lapang dada. Wanita itu sudah di titipkan padamu. Anggaplah dia sebagai bagian dari hidupmu. Orangtuanya dengan sukarela memberikannya padamu jadi kamu berkewajiban melindunginya, memenuhi apapun permintaannya sama seperti saat dia masih tinggal bersama ayah dan ibunya. Kamu paham kan maksud umi?"

Zayn mengangguk pasti.

Umi Aza mengusap pundak Zayn. Ada rasa bersalah yang bergelayut di hati kecilnya.

Malam ini Zayn tersenyum simpul namun esok siapa yang tau.

*

*

Di tempat berbeda, gadis cantik yang baru saja menyelesaikan ibadahnya terduduk lesu di depan komputer.

Tatapannya nanar ke arah benda segi empat yang masih menyala terang.

" Selamat anda di terima di program studi anastesiologi untuk mengikuti program pendidikan dokter spesialis. Silahkan mendaftar ulang sesuai tanggal dan waktu yang sudah di tentukan."

Kalimat itu masih bisa terbaca dengan jelas oleh Aretha.

Beberapa bulan lalu, dia mendaftar untuk mengikuti PPDS. Awalnya Aretha sangat menggebu gebu, kesukaannya pada dunia pembiusan akhirnya akan terwujud. Tapi sekarang semua jadi berbeda. Jujur, Aretha ingin membatalkannya saja mengingat jika kemungkinan besar dia akan sering bertemu dengan Zayn. Tapi akan sangat di sayangkan karena dengan otak cerdasnya, Aretha mampu mendapatkan beasiswa untuk PPDS nya ini.

Terjadi dilema besar yang terus membuatnya bingung, mengambil atau melepas kesempatan emas itu.

Aretha duduk menekuk kedua lututnya hingga menyentuh dagu, tatapannya masih seputaran laptop dengan ucapan selamat sebagai background nya.

Namun, suara dering ponsel mengalihkan perhatian Aretha.

" Assalamualaikum umi."

" Waalaikumsalam. Kapan kamu datang nak? Besok acara kakakmu."

Aretha menghela nafas." Insyaallah besok Tata pulang umi. "

" Memangnya dokter di sana hanya kamu saja. Apa tidak ada yang bisa menggantikan mu sampai kamu harus tinggal lebih lama?" Umi Nisa mulai terdengar kesal.

" Bukan tidak ada umi, kebetulan saja teman teman dokter Tata semuanya ada keperluan yang mendesak. Lagian besok pagi, Tata juga harus mendaftar ke kampus untuk sekolah spesialis Tata umi."

" Jam berapa kamu pulangnya? Akad nikah kakak mu jam sebelas. Umi tidak mau kamu terlambat sayang."

" Insyaallah secepatnya umi, kampusnya kan juga di dekat situ. Jadi sebelum ke hotel, Tata ke kampus dulu sebentar."

" Baiklah, umi akan tunggu. Assalamualaikum."

" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

Aretha menjatuhkan ponselnya ke lantai. Dia membiarkan ponsel itu tergeletak di atas karpet bulu begitu saja.

Jam di dinding menunjukkan angka delapan, itu berarti dia harus segera bersiap untuk ke rumah sakit, menjalankan tugas kemanusiaan yang sudah menjadi sumpahnya.

Aretha tiba di rumah sakit tepat waktu, dan begitu membuka pintu IGD, dia sudah di sambut dengan pasien anak dengan kejang demam yang sementara dalam pengawasan teman dokter yang sedang bertugas. Belum lagi triase merah lainnya yang membuatnya segera mengenakan jas dokternya dan membantu teman teman yang sedang terlihat kesulitan di tengah kurangnya tenaga dengan banyaknya pasien yang harus segera mendapat kan penanganan.

Aretha berjibaku dengan waktu, dari pasien satu ke pasien yang lainnya. Beruntung perawat yang berjaga dengannya malam ini bisa bekerjasama dengan baik dan akhirnya semua selesai tepat jam dua dini hari.

Aretha terduduk lemas setelah menghabiskan sebotol air minum kemasan.

Peluhnya sudah sebiji jagung menetes dari dahi ke pelipisnya.

Seorang perawat laki laki memberikan selembar tisu pada Aretha.

" Makasih kak Juan." Ucap Aretha sembari tersenyum tipis.

" Oh,,,jangan tersenyum seperti itu dok." Kata Juan.

" Kenapa?"

" Itu sangat cantik." Kata Juan berterus terang.

" Kak Juan ini ada ada saja."

Juan duduk di samping Aretha dengan jarak yang cukup jauh.

" Saya pasti akan merindukan tawa ini dok."

" Hanya empat tahun kak Juan. Setelah itu aku akan kembali."

Juan menggeleng pelan." Hati saya mengatakan kalau dokter tidak akan kembali."

Aretha menatap perawat senior itu dengan tatapan dalam penuh makna. Perawat senior yang sudah menemani perjalanan karir nya selama bekerja di rumah sakit tersebut.

Aretha mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

" Ini, berikan pada anakmu. Aku mungkin tidak bisa menghadiri acara pembaptisan nya." Kata Aretha memberikan sebuah kado kepada Juan.

Juan terlihat ragu untuk mengambilnya.

Aretha tersenyum dengan sikap perawat yang selalu menjadi panutannya itu. Dia kemudian meletakkan kado berukuran sedang itu di atas meja.

" Terima kasih dok. Jujur kami sangat kehilangan, tapi mau bagaimana lagi.........Melanjutkan sekolah adalah keputusan yang sangat tepat."

" Kak Juan benar."

" Kami semua pasti akan sangat merindukanmu."

Mendadak Aretha jadi melow, netranya berembun. Begitu banyak kenangan manis yang dia dapatkan selama tiga tahun bekerja di sini. Dan bekerja bersama tim nya itu juga lah yang membuat nya sedikit banyak bisa mengalihkan pikiran Aretha dari Zayn.

" Ah..sepertinya aku sudah mengantuk." Kata Aretha mengedip kan mata agar cairan bening yang sudah berada di ujung tidak mengalir keluar.

Juan tersenyum simpul.

" Iya dok, mata anda sudah terlihat seperti ikan tuna yang menderita konjungtivitis." Tukasnya sembari terkekeh pelan.

Lelucon Juan berhasil membuat Aretha tertawa. Tangisannya sengaja di gagalkan oleh Juan yang mengetahui jika Aretha sedang dalam susana hati yang sedang kacau.

Tiga tahun bekerja bersama, Juan bisa membaca karakter Aretha. Aretha adalah wanita yang supel dan gampang bergaul, Aretha juga selalu menyebarkan positif vibes di sekitar lingkup kerjanya, itulah kenapa banyak yang menyukai dan nyaman bekerja bersama Aretha. Namun Aretha juga terkadang terlihat melankolis. Ada saat di mana dia terlihat murung dan lebih banyak diam. Dan itulah yang di temukan Juan malam ini.

Andai dia seorang wanita, sedikit pelukan akan Juan berikan untuk Aretha walau hanya sebatas penyemangat saja. Karena itulah yang sebenarnya sangat dia butuhkan. Support dari orang orang terdekat akan membantu menenangkan hati dan pikiran yang sedang kalut.

...****************...

Episode 3 : Menjadi pengganti

Keesokan harinya.

Kepanikan terjadi di rumah Mahawira. Beberapa jam lagi, akad nikah akan berlangsung. Semua sudah di siapkan, tapi calon mempelai wanita menghilang entah kemana.

Seluruh penghuni rumah jadi geger, Kanaya hilang tanpa meninggalkan jejak.

Umi Nisa dan abi Dzaky kalut, bagaimana mungkin Kanaya bisa meninggalkan rumah tepat di hari pernikahannya? Lagi pula, sejak lamaran, Kanaya terlihat begitu bahagia, terlepas dari kekecewaan umi yang mengetahui jika Kanaya tidak datang bersama Zayn saat fitting baju di butik sahabatnya. Sisanya semuanya baik baik saja. Kanaya terlihat begitu menyukai Zayn.

" Bi,,,apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kalau keluarga Brawijaya mengetahui hal ini?" Umi Nisa menangis, memegang dadanya yang tiba tiba saja terasa sesak.

Abi Dzaky terduduk lemas di sofa tunggal ruang tamu. Dia memijit kedua pelipisnya.

" Mana ponselku, Abi akan mencoba berbicara dengan Adam."

Umi Nisa mengambil ponsel abi.

Beberapa kali Abi Dzaky mencoba menghubungi Abi Adam tapi panggilannya tidak tersambung sama sekali.

" Bagaimana ini..." Umi Nisa panik.

Di tengah kegaduhan yang terjadi, terdengar ucapan salam dari luar, dan muncullah Aretha sembari menarik kopernya.

Karena tidak ada yang menjawab, Aretha terus melangkah masuk dan tanpa sengaja melihat umi Nisa sedang menangis.

Aretha tentu bingung dan khawatir dengan kondisi rumahnya yang terlihat suram. Ini hari bahagia, tapi tidak ada satu orang pun yang terlihat menampakkan ekspresi kebahagiaan itu.

" Umi kenapa nangis?" Aretha menghampiri umi Nisa.

Melihat putri bungsunya sudah datang, tangisnya kembali pecah.

Aretha memeluk umi Nisa. Menenangkan hati uminya yang sedang di landa kegelisahan.

" Abi,,sebenarnya apa yang terjadi?" Karena tidak mendapatkan jawaban dari umi Nisa, terpaksa Aretha bertanya pada Abinya.

" Mbak mu...mbakmu pergi dari rumah."

" A..apa...pergi? Aku tidak mengerti. Mbak Naya memangnya ke mana?" Aretha mulai kebingungan. Sebenarnya dia paham situasi, tapi sepertinya Aretha butuh penjelasan sistematis untuk meyakinkan hipotesa nya.

" Ini hari pernikahannya, tapi Naya pergi entah kemana." Umi Nisa menyahut.

" Abi dan umi sudah mencarinya dengan baik? Siapa tau mbak Naya hanya keluar sebentar karena ada keperluan."

Abi Dzaky menggeleng, " Tidak, mbakmu pergi sejak tadi subuh, pak Wawan melihat mobilnya meninggalkan garasi."

Aretha menghela nafas, bersamaan dengan itu ponsel Abi Dzaky berdering.

" Dari siapa bi?" Tanya Umi.

" Adam."

" Ooh,,,apa yang harus kita katakan padanya?" Umi kembali panik.

Abi Dzaky berjalan cepat ke arah ruang kerjanya, dia tidak ingin berbicara dengan Abi Adam saat ada umi Nisa dan Aretha di sana.

Pintu terkunci.

Abi Dzaky terlihat mondar mandir sembari berbicara dengan Abi Adam lewat telpon. Sesekali wajahnya menegang, sesekali juga ekspresinya seperti sedang memohon pengampunan.

Sementara di rumah mewah Brawijaya, Abi Adam sudah tidak bisa menahan amarah. Dia merasa di permainkan oleh keluarga Mahawira.

Beruntung ada umi yang menenangkannya.

" Ada apa bi?"

" Kanaya kabur." Singkat nya dengan raut wajah memerah dan berbalik membelakangi umi Aza.

Umi Aza menghela nafas panjang.

" Jadi bagaimana? Pernikahan akan di batalkan?" Tanya umi Aza.

" Itu sudah pasti."

" Abi tidak ingat dengan kisah kita dulu?"

Abi Adam menoleh dan menatap umi Aza.

" Apa maksud umi?"

" Dulu, Abi dan mbak Lili pernah berencana untuk menikah, tapi hal buruk terjadi. Di hadapkan dengan situasi yang rumit, apa papa dan mama membatalkan nya? Tidak kan? Mereka tetap kekeuh melanjutkan rencana pernikahan itu dengan umi sebagai penggantinya."

Cerita itu seketika membawa Abi berselancar ke masa lalu. Dan memang tidak ada yang salah dengan pengganti, justru pengganti inilah yang membuatnya merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

" Abi... Keluarga Mahawira punya dua putri. Kita akan nikahkan Zayn dengan Aretha. Bagaimana? Sama dengn kisah cinta kita kan sayang?" Umi Aza terkekeh.

Abi Adam yang semula marah besar berhasil meredam emosinya dan menganggap gagasan umi bisa di terima.

" Tapi bagaimana cara menjelaskan nya pada Zayn?" Tanya Abi Adam.

" Itu urusan umi. Sekarang tugas Abi, telpon kembali mas Dzaky dan katakan untuk menyiapkan putri cantiknya."

Umi Aza keluar dengan perasaan lega.

" Terima kasih atas pengertian mu Naya." Batin umi melenggang ke kamar Zayn yang sudah siap berangkat ke rumah mewah Mahawira.

Kembali ke kediaman Mahawira.

Abi Dzaky menggusar rambutnya dengan kasar.

Permintaan abi Adam yang menginginkan Aretha untuk menjadi pengantin pengganti untuk Kanaya cukup masuk di akal. Hanya saja, abi Dzaky punya sedikit kendala untuk mengutarakan niatnya itu pada Aretha.

Sebenarnya, abi Dzaky kurang begitu dekat dengan Aretha. Salah satu faktor nya karena sejak kecil Aretha tumbuh dan besar di bawah pengawasan kakak iparnya, saudara tertua umi Nisa. Abi Dzaky dan Umi Nisa terpaksa menitipkan Aretha karena setelah melahirkan, umi Nisa di diagnosa mengidap kanker payudara stadium 2 B, dan umi Nisa harus tinggal sementara di luar negeri untuk pengobatan menyembuhkan kankernya itu. Nanti setelah umi Nisa dinyatakan sembuh total, Aretha kembali tinggal bersama mereka. Namun masalah lain muncul begitu Aretha kembali, Abi Dzaky harus mondar mandir keluar negeri mengurusi beberapa anak perusahaannya yang mengalami kolaps. Makanya, tidak begitu banyak kenangan yang bisa diingat Aretha maupun Abi Dzaky.

" Apa yang harus aku katakan padanya? Tidakkah anak ku itu akan sedih karena merasa di dizolimi oleh orang tuanya?" Gumam Abi Dzaky sangat mengkhawatirkan kondisi mental Aretha, Bagaimana pun apa yang akan dia lakukan untuk Aretha sama saja dengan kejahatan yang sangat kejam.

Umi Nisa masuk ke dalam ruang kerja Abi di susul Aretha. Mereka takut terjadi sesuatu pada Abi Dzaky mengingat sudah hampir satu jam Abi di dalam ruangan dan tidak kunjung keluar.

" Apa yang di katakan keluarga Brawijaya bi?" Tanya umi Nisa harap harap cemas.

Abi Dzaky tidak menjawab, netranya fokus pada Aretha yang berdiri di belakang umi Nisa. Dari raut wajahnya, terlihat jelas jika Aretha sangat mengkhawatirkan keadaan uminya. Itulah kenapa dia selalu memposisikan dirinya selalu berada dengan jarak hanya beberapa senti dari wanita yang sudah melahirkan nya itu.

" Ta, boleh abi bicara?"

Aretha mengangguk dan mendekati Abi Dzaky.

Begitu Aretha berdiri di depannya, Abi Dzaky seketika memeluk putrinya itu.

" Abi minta maaf nak." Terdengar suara abi Dzaky yang dalam dan tertahan.

Permintaan maaf abi membuat Aretha bingung.

" Kenapa abi minta maaf? Memangnya abi salah apa?" Ujar Aretha.

Hening.

Abi Dzaky melepas pelukannya, dia mengusap lembut pipi Aretha.

" Abi punya permintaan, tapi permintaan abi ini akan merubah kehidupan mu."

Aretha tersenyum." Kalau itu demi kebaikan, Tata pasti akan menerimanya."

Abi Dzaky mengusap pelan kepala Aretha." Abi berharap permintaan abi ini baik untukmu dan bisa membuatmu bahagia."

Jantung Aretha berdegup kencang, sepertinya dia sudah menyadari kemana arah pembicaraan ini bermuara.

" Takdir memang sudah di atur oleh Allah, sekeras apapun usaha kita untuk menyatukan dua insan dalam sebuah ikatan pernikahan, jika Allah tidak berkehendak, beginilah akhir ceritanya." Ucap abi Dzaky .

Luruh sudah air mata Aretha, tanpa abi Dzaky mengatakan inti permasalahannya pun, Aretha sudah mengerti.

" Karenanya abi minta maaf karena akan membuatmu menjadi pelindung nama baik keluarga." Abi Dzaky kembali memeluk putrinya.

Umi Nisa yang hanya terdiam sejak tadi sampai menutup mulutnya dengan air mata berderai setelah tau solusi permasalahan keluarga mereka.

Setengah berlari, umi Nisa menghambur memeluk Aretha yang masih sementara berada di pelukan abi Dzaky.

Cukup lama mereka berada dalam situasi untuk saling menguatkan, hingga akhirnya Aretha buka suara.

" Mungkin ini memang sudah di gariskan untukku, tapi jika aku boleh memilih, aku tidak akan mengambil jalan ini. Jujur, Tata takut Abi, umi."

Umi Nisa memeluk Aretha kembali. " Jangan lakukan nak. Jika itu berat, jangan....umi akan berbicara kepada keluarga Brawijaya. Sebaiknya kita batalkan saja."

Aretha menggeleng. " Tidak perlu umi. Lakukan saja seperti rencana awal. Allah pasti akan selalu bersama Tata."

...****************...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!