Cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur telah nampak, menandakan tak lama lagi matahari kan terbit. Seorang laki laki yang tengah tidur sembari memeluk belahan jiwanya perlahan mengerjapkan matanya.
Hingga matanya terbuka sempurna, dia tersenyum kala yang pertama kali Ia lihat saat membuka mata adalah wajah istrinya yang terlihat damai.
Perlahan Ia membelai wajah wanitanya yang masih terlelap, lalu di kecupnya bibir ranum sang istri dengan lembut. Mata sang wanita mulai mengerjap karena merasa terusik.
"Selamat pagi sayang?" Sapanya dengan senyuman saat sang istri telah membuka matanya.
"Selamat pagi mas Gilang." Sahut wanita yang kini tengah hamil besar tersenyum pada laki laki yang bernama Gilang yang merupakan suaminya.
Kedua mata mereka saling bertemu, senyuman pun tak pernah pudar dari bibir keduanya.
"Mas hari ini jadi periksa ke dokter kandungan kan?" Tanya sang wanita bernama Gita yang kehamilannya sudah memasuki usia sembilan bulan namun belum ada tanda tanda akan melahirkan.
"Jadi dong sayang." Jawab Gilang melingkarkan tangannya di perut buncit sang istri.
"Apa Mas sudah menghubungi dokter Yasmin?" Tanya sang wanita.
"Sudah sayang, jadwal prakteknya jam dua, nanti kita berangkat Jam satu saja dari rumah." Jawab Gilang sembari mengusap perut sang istri lalu menciumi nya.
"Oke Mas, Kalau gitu aku mau bikin sarapan dulu ya Mas, Mas mandi gih." Ucap Sang wanita segera beranjak.
"Iya sayang." Jawab Sang suami melepaskan pelukannya.
***
Drettt Drettt Drettt
Ponsel Gilang berdering saat dia dan istrinya tengah bersiap akan berangkat ke rumah sakit, Wanita yang bernama Gita itu melirik ke arah suaminya, sementara Gilang gegas mengambil ponsel yang ia letakan di atas nakas.
"Komandan." Lirihnya menatap sang istri lalu segera menggeser tombol hijau di layar ponsel nya.
"Hallo, Assalamualaikum ndan." Ucapnya saat panggilan terhubung.
"Wa'alaikumsalam. Gilang segera merapat, saat ini kita sudah mendapat titik terang keberadaan para DPO gembong narkoba yang sudah lama kita incar, saya sudah mengirim alamatnya di ponsel kamu." Ucap Langit yang merupakan kepala anggota polisi tempat Gilang bekerja.
"Siap komandan, saya akan segera kesana." Ucap laki laki itu mengakhiri panggilannya.
"Sayang, maaf banget, sepertinya kita harus menunda untuk periksa ke dokter kandungan, Mas harus pergi sekarang, ada tugas yang harus Mas lakukan." Ucap Gilang yang merasa tidak enak hati pada Sang istri, namun dia juga tidak bisa mengabaikan tugasnya.
"Bukannya Mas libur hari ini?" Tanya Gita.
"Iya sayang, tapi seperti biasa walau sedang libur atau cuti terkadang anggota polisi harus siap merapat saat kedinasan membutuhkan. Maaf ya sayang, Mas akan usahakan untuk pulang cepat supaya kita bisa ke rumah sakit sore nanti." Gilang mengusap rambut Gita
"Iya Mas, yang terpenting Mas harus pulang dengan selamat." Jawab Gita.
"Terimakasih sayang. Maaf ya, Mas harap kamu memaklumi pekerjaan Mas sebagai anggota polisi. Mas pergi dulu, Assalamualaikum." Gilang kembali mencium kening Gita.
"Wa'alaikumsalam." Gita mencium tangan Gilang, kemudian Gilang pun segera beranjak pergi.
Sejujurnya Gita berat melepaskan suaminya pergi, namun sebagai seorang istri dari anggota polisi dia sudah paham akan resikonya, ia harus siap kapan saja suaminya di butuhkan kedinasan, karena bagi anggota polisi tugasnya adalah yang utama, seperti saat ini, di saat akan pergi memeriksakan kandungannya, suami nya malah mendapat panggilan dan harus segera merapat.
Tapi entah kenapa hari ini Gita begitu berat melepas suaminya yang berangkat bertugas, ada rasa tidak rela mengijinkan suaminya pergi.
"Ya Allah, lindungi suami hamba dalam tugasnya." Ucap Gita mengusap perutnya yang buncit dan berusaha mengikhlaskan suaminya pergi bertugas.
***
Saat ini para anggota kepolisian sudah berkumpul di tempat persembunyian yang tidak jauh dari gudang yang merupakan markas dari para gerbong narkoba, mereka mengatur strategi untuk penangkapan gembong narkoba yang selama ini selalu lolos dari kejaran. Selain pengedar narkoba, mereka juga di sinyalir melakukan jual beli kendaraan secara ilegal.
Gilang dan Timnya sudah siap untuk masuk ke dalam gudang tempat gembong narkoba yang akan melakukan persiapan penyelundupan narkoba, tak lupa Gilang dan kawan kawan membawa senjata yang lengkap.
Brakkk
Gilang menendang pintu gudang, dan...
"Angkat tangan, Tempat ini sudah di kepung, lebih baik kalian serahkan diri kalian." Teriak Gilang memberikan peringatan pada para gembong narkoba yang ada di dalam gudang.
Tapi siapa sangka ternyata para gembong narkoba sudah mempersiapkan semuanya jika sewaktu waktu mereka di grebek polisi. Mereka sudah siap dengan senjata mereka.
Insiden baku tembak antara gembong narkoba dan polisi pun tak terelakan, gerombolan gembong narkoba yang begitu banyak sempat membuat para polisi kewalahan, hingga akhirnya...
Dor...
Sebuah peluru melesat dan tepat mengenai dada Gilang tanpa terduga.
Gilang tersungkur bersimpuh dengan tangan memegangi dadanya yang berlumuran darah.
"Gilang." Pekik Langit yang baru saja datang dengan membawa beberapa anggota polisi untuk membantu menangkap para sindikat narkoba.
Dor...
Langit menembakan satu tembakan tepat di dada tersangka yang menembak Gilang.
Anggota yang lain segera membekuk tersangka yang lainnya dan memborgol mereka.
Langit berlari menghampiri Gilang yang sudah tak sadarkan diri.
"Gilang... Bangun... Gilang... " Teriak Langit yang tak bisa menahan air matanya lagi.
***
Pyar
Tanpa sengaja Gita menjatuhkan gelas hingga pecah, perasaan Gita pun menjadi tidak tenang.
"Ya Allah kenapa aku terus kepikiran Mas Gilang, semoga Mas Gilang baik baik saja." Gumam Gita gelisah sembari memunguti pecahan beling.
"Argh..." Jari Gita terkena pecahan beling, darah segar keluar dari jarinya, reflek Gita memasukan jari yang terluka ke dalam mulutnya.
"Astagfirullah, ada apa ini? kenapa perasaan ku jadi tidak tenang begini." Gumamnya lalu segera menyelesaikan membersihkan pecahan beling itu.
Setelah selesai, Gita mencoba menghubungi Gilang, namun sama sekali tidak ada jawaban dari sang suami.
"Mas, kamu baik baik saja kan." Gumam Gita yang terus mondar mandir di kamarnya. Pikirannya terus berfokus pada sang suami yang belum juga ada kabarnya.
Hingga akhirnya Gita merasakan seperti ada letupan di perutnya dan tanpa aba aba cairan bening keluar dari jalan lahirnya.
"Arggghhh, perutku.. sakit sekali." Gita meringis kesakitan saat tiba tiba saja perutnya mengalami kontraksi setelah ketuban nya pecah.
Mata Gita terbelalak saat cairan bening itu di sertai dengan darah yang terus mengalir di kakinya.
"Sepertinya aku akan melahirkan, tapi bagaimana ini, Mas Gilang belum juga bisa di hubungi." Ucap Gita perlahan duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Gita kembali menghubungi sang suami, namun lagi lagi tak ada jawaban, Gita juga berusaha menghubungi teman suaminya, namun hasilnya sama saja.
Gita berdiri dan berusaha berjalan sendiri sembari memegangi perutnya yang terasa nyeri, perlahan Gita melangkah keluar rumah untuk meminta bantuan pada siapapun yang melihatnya.
"Tolong.. Tolong.." Teriak Gita saat sudah di teras rumah sembari berpegangan pada tembok. Hingga akhirnya...
Brukkk...
Gita jatuh tak sadarkan diri di depan rumahnya.
Uwiw...Wiuh..
Terdengar suara ambulance yang baru saja datang di gedung kosong itu setelah beberapa menit seorang anggota kepolisian menghubunginya.
Gilang segera di bawa masuk ke dalam ambulance bersama langit yang terus menemaninya.
Setelah mendapat sedikit perawatan saat di ambulance, Gilang sempat membuka matanya.
"Gilang bertahanlah, kita akan segera sampai rumah sakit. Kamu pasti akan baik baik saja." Ucap Langit menggenggam tangan Gilang.
"Komandan, sa.. saya ti..dak se..kuat... itu.. Ka..kalau te..terjadi se..suatu pa..da Sa..saya to..long ja..ga is..istri d..dan a..anak Sa..ya Pak." Ucap Gilang terbata.
"Kamu akan baik baik saja Gilang, saya mohon bertahanlah." Ucap Langit di sela isak tangisnya.
Saat ini langit begitu takut akan kehilangan Gilang, karena Gilang adalah sahabatnya dari kecil, setelah lama terpisahkan karena Langit harus ikut dengan kedua orang tuanya pindah keluar kota, namun pada akhirnya mereka di pertemukan kembali dalam satu ikatan Dinas yang sama.
Bayang bayang saat kecil pun kembali berputar di otak langit, dimana saat itu kedua anak laki laki tengah bermain bersama teman temannya yang lain.
FlashBack On
"Kalian jadi penjahatnya, aku dan Gilang yang akan jadi polisinya." Ucap langit kecil.
"Oke." Sahut teman teman lainnya, lalu mereka pun berlari.
Gilang dan Langit bersikap layaknya polisi yang sedang mengejar para penjahat dengan tangan menyerupai pistol.
"Jangan lari, aku akan menangkap kalian." Teriak Gilang kecil yang terus mengejar temannya untuk menangkap mereka satu persatu.
Gilang dan langit pun berhasil menangkap teman temannya dan membawa mereka lalu mendudukan nya di bawah pohon yang rindang.
"Berhasil, misi selesai." Ucap Langit dan Gilang lalu keduanya melakukan tos.
Flashback Off
"Arrgggghhh." Pekik Gilang kesakitan.
"Gilang bertahanlah, sebentar lagi kita sampai rumah sakit, kamu harus kuat Gilang." Ucap langit.
Hingga akhirnya Gilang kembali tak sadarkan diri lagi.
"Gilang, Bangun, Bangun Gilang." Pekik Langit histeris saat Gilang tak membuka matanya kembali.
***
"Astagfirullah, Mbak Gita." Pekik seorang perempuan yang merupakan istri dari Langit, Ia berlari saat melihat Gita tergeletak di teras rumah.
Langit memang menghubungi sang istri untuk menemani Gita setelah beberapa saat meminta Gilang untuk segera merapat.
Langit sedikit khawatir mengingat kehamilan Gita sudah memasuki usia sembilan bulan, jadi dia meminta istrinya untuk menemani Gita selama Gilang bertugas.
Namun saat Ranti datang, Ia begitu terkejut saat melihat Gita yang sudah tak sadarkan diri dengan begitu banyak darah yang keluar dari jalan lahirnya.
"Pak tolong angkat Mbak Gita dan bawa ke mobil." Teriak Ranti pada sang sopir.
Sopir itu segera berlari mendekat dan membopong tubuh lemah Gita lalu memasukannya ke dalam mobil.
"Kita ke rumah sakit sekarang Pak." Ucap Ranti.
Mobil yang di kendarai oleh seorang supir pun segera melaju dengan kecepatan tinggi sesuai permintaan majikannya agar cepat sampai rumah sakit.
***
Sesampainya dirumah sakit,
"Tolong.. ada yang mau melahirkan." Teriak Ranti saat keluar dari mobil.
Para perawat yang sedang berjaga segera mendorong brangkar ke arah Ranti yang sudah membuka pintu mobil dimana Gita berada.
"Dia tidak sadarkan diri Mas, karena mengalami pendarahan yang cukup banyak." Ucap Ranti.
Para perawat segera membantu mengeluarkan Gita dan membaringkan nya ke brangkar.
Para perawat mendorong brangkar dengan cepat menuju ruang tindakan, Ranti mengikuti para perawat yang mendorong brangkar. Tatapan matanya tidak lepas dari wajah Gita yang sudah mulai memucat.
"Mbak Gita, kamu harus kuat demi anakmu Mbak." Ucapnya menggenggam tangan Gita.
"Maaf Bu, silahkan menunggu di luar." Ucap perawat wanita mencegah Ranti ikut masuk ke dalam ruang tindakan.
Saat ini Gita sudah di bawa ke dalam ruang tindakan untuk segera mendapat penanganan dari dokter. Ranti menunggu di depan ruang tindakan dengan perasaan campur aduk.
"Ya Allah selamatkan mbak Gita dan juga anaknya." Lirih Ranti yang tak henti hentinya berdoa untuk keselamatan Gita dan juga anaknya.
Tak lama setelah Gita masuk ruang tindakan, mobil ambulance yang membawa Gilang pun sampai, para petugas medis segera mendorong brangkar Gilang menuju ruang tindakan yang ternyata bersebelahan dengan ruang tindakan tempat Gita berada.
"Mas Langit." Teriak Ranti saat melihat suaminya sedang mendorong brangkar.
Ranti segera menghampiri suaminya dan terkejut saat melihat seseorang yang terbaring di atas brangkar adalah Gilang.
"Mas, kenapa dengan Mas Gilang?" Tanya Ranti.
"Sebentar sayang." Langit menunda untuk menjawab karena harus berbicara pada sang suster.
"Sus dia tertembak saat bertugas, tolong selamatkan dia Sus." Ucap Langit pada perawat yang hendak menutup pintu ruang tindakan.
"Kami akan berusaha Pak, selebihnya kita serahkan pada yang maha Kuasa, permisi." Ucap suster itu lalu segera menutup pintu ruang tindakan.
"Mas, apa yang terjadi dengan Mas Gilang?" Tanya Ranti lagi.
"Dia tertembak sayang, Mas gagal melindunginya." Ucap Langit lalu segera memeluk sang istri.
Sebagai seorang komandan, langit merasa gagal melindungi anak buahnya. Terlebih Galang juga merupakan Sahabatnya, dia merasa tidak berguna sebagai seorang sahabat.
"Yang sabar ya Mas, kita berdoa semoga Mas Gilang baik baik saja." Ucap Ranti berusaha menenangkan sang suami sembari mengusap punggungnya.
"Oh ya, kamu kenapa ada disini? Mas kan minta sama kamu untuk menemani Gita di rumahnya sayang?" Tanya Langit setelah melerai pelukannya dan menatap sang istri.
"Iya Mas, aku tadi ke rumah Mbak Gita, tapi.. tapi.. Pas aku sampai Mbak Gita sudah tak sadarkan diri di teras rumah, Mbak Gita pendarahan Mas." Jawab Ranti tak bisa menahan air matanya yang jatuh.
"Sekarang Mbak Gita sedang di tangani dokter Mas." Terang Ranti sontak membuat langit terkejut, Langit berpegangan pada kursi tunggu dan duduk disana.
"Astagfirullah, kenapa jadi seperti ini." Lirih Langit menyugar rambut dan mengusap kasar wajahnya, karena merasa bersalah pada sahabat dan juga istri sahabatnya.
Ranti yang melihat sang suami tampak Syok segera memeluknya, Ranti tau Gilang adalah sahabat suaminya, sudah pasti suaminya sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Gilang dan istrinya.
"Keluarga Bu Gita." Teriak seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang tindakan tempat Gita di tangani.
Ranti dan Langit menoleh ke sumber suara dan segera berlari menghampiri sang perawat.
"Kami sahabatnya Sus." Ucap langit setelah berdiri di hadapan perawat.
"Apa suami Bu Gita ada?" tanya perawat itu.
"Suaminya ada di ruang sebelah dok. sedang mendapat penanganan juga." Jawab Langit sendu.
"Bagaimana kondisi Gita dok?" Tanya Ranti.
"Pasien kritis, kami harus segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan bayinya, tapi kami butuh persetujuan suaminya." Jawab perawat itu.
"Lakukan saja apapun yang bisa menyelamatkan Gita dan anaknya sus, saya yang akan bertanggung jawab." Ucap Langit yang tidak ingin Gita terlambat mendapat penanganan.
"Baik, silahkan Bapak tandatangani surat persetujuan ini." Ucap perawat itu lalu menyodorkan sebuah Map yang berisi surat persetujuan tindakan operasi caesar.
Langit segera menerima Map itu dan menandatanganinya, setelah itu Ia berikan kembali pada perawat.
"Terimakasih, kami akan segera melakukan tindakan operasi." Ucap perawat itu lalu kembali masuk ke dalam.
Langit dan rekan kerja yang lain kini sedang menunggu kabar dari dokter yang tengah menangani Gilang.
Terlihat Langit begitu gelisah mondar mandir di depan pintu ruang tindakan sembari sesekali melirik ke arah pintu berharap seorang dokter segera keluar dari sana.
Cek lek.
Pintu yang di tunggu terbuka kini terbuka lebar, Langit segera menghampiri sang dokter di susul dengan rekan yang lainnya.
"Bagaimana kondisi Gilang Dok?" Tanya Langit saat seorang dokter keluar dari ruang tindakan.
Dokter itu menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya yang masih menggunakan seragam polisi dengan wajah sendu.
"Hufffttt." Dokter itu menghela nafas berat lalu berkata, "Mohon Maaf Pak, kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun Allah berkehendak lain, nyawa Pak Gilang tidak tertolong."
Duarrr
Bagai tersambar petir, Langit begitu terpukul saat mendengar sahabatnya meninggal karena tertembak saat bertugas.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun" Lirih seluruh rekan yang ada disana.
"Ngga dok, itu ngga mungkin dok, Gilang masih hidup dok, Gilang ngga mungkin meninggal dok, ngga ngga, ngga mungkin dok." Ucap Langit yang sulit untuk percaya sahabatnya sudah tiada.
"Mas kamu yang sabar ya, Allah lebih sayang sama Gilang Mas, makanya Allah begitu cepat memanggil Gilang." Ucap Ranti berusaha menenangkan sang suami.
"Ngga sayang, Gilang ngga mungkin meninggal, ini pasti ada yang salah." Ujar Langit.
Suasana seketika menjadi hening, hanya ada suara isakan tangis dari Langit dan rekan rekannya. Hingga suara seorang dokter membuat Ranti tersentak.
"Keluarga Ibu Gita." Teriak seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang tindakan dimana Gita tengah menjalankan operasi caesar.
Ranti menoleh ke arah sumber suara dan segera berlari menghampiri dokter tersebut.
"Iya dok." Sahut Ranti setelah berhadapan dengan sang dokter.
"Alhamdulillah kami berhasil menyelamatkan bayi yang ada di kandungan Ibu Gita." Ucap Sang dokter tersenyum tipis.
"Alhamdulillah." Ucap Ranti merasa senang karena Bayi Gita lahir dengan selamat.
"Mbak Gita gimana dok?" Tanya Ranti kemudian yang berharap Gita juga baik baik saja.
"Mohon maaf Bu, Ibu Gita tidak bisa kami selamatkan." Ucap Sang dokter dengan wajah penuh penyesalan.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun" Lirih Ranti memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi Allah berkehendak lain." Ucap Sang dokter.
"Astagfirullah, kenapa harus seperti ini." Ucap Ranti yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.
***
Uwiwww... Wiuhhhh...
Suara sirine mobil jenazah begitu nyaring saat membawa jenazah Gilang dan Gita keluar dari pekarangan rumah sakit menuju kediamannya, Langit dan Ranti dengan setia menemani jenazah mereka beserta dengan rekan rekan kerjanya.
"Kasihan sekali kamu Nak." Ucap Ranti menatap anak yang baru saja di lahirkan oleh Gita yang di gendongnya.
"Andai aku tidak meminta Gilang untuk datang, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." Ucap Langit yang merasa menyesal karena sudah mengganggu hari libur Gilang, hingga berakhir mengenaskan seperti ini.
"Mas, jangan menyalahkan diri sendiri, Ini semua takdir mas." Ucap Ranti.
Langit tak kuasa menahan air matanya. Kenangan saat kecil bersama Gilang muncul, kenangan saat kembali di pertemukan saat mendaftar di AKPOL dan kenangan saat bertugas bersama.
Tak hanya Langit, seluruh rekan kerja yang ikut mengiringi mobil jenazah Gilang dan Gita pun menangisi kepergian Gilang dan juga istrinya.
Bagi mereka Gilang adalah orang yang sangat baik dan selalu menjadi motivasi karena begitu loyal pada pekerjaannya.
Begitu pun Gita, dia adalah sosok bhayangkari yang cukup berperan aktif dalam setiap kegiatan, bahkan tak jarang dia memberikan ide ide untuk setiap program yang di adakan dalam kegiatan bhayangkari.
***
Uwiwww... Wiuhhhh...
Mobil Jenazah yang membawa Gilang dan Gita sampai di kediamannya, terlihat rumah Gilang sudah begitu ramai oleh para istri dari rekan kerja Gilang.
Rencananya Jenazah mereka akan di makamkan keesokan harinya lantaran menunggu kedatangan keluarganya yang masih ada di luar kota.
Hanya ada orang tua Gita yang memang tinggal tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Bu Sri dan Pak Bandi menangisi kepergian anak semata wayangnya dan juga menantunya.
Para pelayat melantunkan Ayat suci Al Qur'an di depan jenazah Gilang dan Gita yang sudah berada di dalam rumahnya.
"Kenapa kamu pergi begitu cepat Nak? Kamu anak satu satunya Ibu, kenapa kamu mendahului Ibu Nak." Tangis Bu Sri pecah kala melihat putrinya sudah terbujur kaku.
"Sabar Bu, Ini semua sudah takdir Gita Bu. Kita ikhlaskan saja Gita Bu, agar dia tenang dan bahagia disana." Ucap Pak Bandi berusaha menenangkan sang istri meskipun hatinya juga hancur di tinggal oleh putrinya.
"Gita sudah ngga ada Pak, Kita sudah tidak memiliki anak, anak kita satu satunya pergi Pak, bagaimana nanti masa Tua kita, siapa yang akan mengurusi kita Pak." Racau Bu Sri dalam isakan tangisnya.
"Bu, Pak, ini saya serahkan putri Mbak Gita dan Mas Gilang pada kalian. Semoga anak ini bisa menjadi pelipur lara atas kehilangan yang kalian rasakan." Ucap Ranti menyerahkan bayi mungil pada Bu Sri dan Pak Bandi.
"Tidak, dia bukan cucu saya, dia hanya anak pembawa sial, bawa pergi jauh dari saya. Dia sudah merenggut putriku. Hiks hiks hiks." Pekik Bu Sri tak mau menggendong bayi mungil lalu kembali menangisi kepergian putrinya.
Bayi perempuan itu tersentak kaget lalu menangis saat mendengar teriakan dari Bu Sri.
"Astaghfirullah Bu, anak ini tidak salah apa apa Bu, bayi ini terlahir suci Bu." Ucap Ranti yang tak menyangka reaksi Bu Sri seperti itu.
Bu Sri yang merupakan ibunda dari Gita melirik kearah bayi mungil itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Cup cup cup, sayang jangan menangis ya, nenek kamu ngga bermaksud marah sama kamu sayang." Ucap Ranti berusaha menenangkan bayi perempuan itu.
"Dia bukan cucu saya, bawa pergi bayi itu, Kalau perlu buang saja dia." Pekik Bu Sri.
"Astagfirullah, Istighfar Bu. Dia putri Gita anak kita Bu, yang artinya dia cucu kita, Ibu tidak boleh seperti itu." Ucap Pak Bandi tak habis pikir pada istrinya.
"Ngga Pak, dia itu anak pembawa sial, lihatlah anak dan menantu kita Pak, kelahiran anak itu membuat anak dan menantu kita meninggal Pak." Kekeh Bu Sri yang terus menganggap cucunya anak pembawa sial.
"Bu, ini semua bukan salah cucu kita, ini semua sudah takdir dari Allah Bu." Ucap Pak Bandi berusaha menyadarkan istrinya.
"Pokoknya bawa pergi anak itu, saya ngga mau melihatnya lagi." Pekik Bu Sri.
"Tapi Bu, kalau bukan kita siapa yang akan mengurus anak ini." Ucap Pak Bandi.
"Saya ngga perduli, saya ngga mau mengurus anak yang sudah bikin putri saya pergi." kekeh Bu Sri.
"Ya sudah kalau Ibu ngga mau mengurus cucu kita, Bapak yang akan mengurusnya." Ucap Pak Bandi yang bersikeras ingin mengurus cucunya yang malang walaupun istrinya menolak.
Semua Rekan kerja Gilang menatap Iba pada putri kecil yang baru saja lahir namun sudah menjadi anak yatim piatu, bahkan neneknya tak mau menerimanya dan menganggapnya anak pembawa sial.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!