NovelToon NovelToon

Cinta Di Dalam Perjodohan

1. Pernikahan.

  Alira Anastasya,, seorang gadis remaja berusia 18 tahun, anak kedua dari sepasang suami-istri yang bernama Ilham dan Vivi. Dia dan kedua saudaranya yakni Firman Kakaknya, juga Alfin adik bungsunya, tumbuh dalam keluarga yang serba berkecukupan. Menjadi anak gadis satu-satunya, membuat Alira sangat dimanjakan dalam keluarganya. Selain itu dia juga menjadi idola para kaum pria, karena memiliki kecantikan sempurna, juga bentuk tubuh yang menggoda. 

   Alira baru saja lulus dari salah satu SMA Negeri di Bandung. Ingin sekali dia melanjutkan kuliah di Universitas yang sama dengan beberapa orang sahabatnya. Namun semua itu hanyalah impian yang tidak bisa terlaksana. Karena ternyata, dia sudah dijodohkan dan akan segera menikah, dengan seorang pria bernama Fahri, anak satu-satunya Indra dan Rika, sahabat kedua orang tuanya  pengusaha sukses di Jakarta. 

   "lir, besok keluarga Om Indra dan Tante Rita sudah datang dari Jakarta," kata Ibunya Alira setelah mereka selesai makan malam bersama.

  "Bu,, mengapa harus secepat ini? Aku masih ingin kuliah. Apa mereka tidak bisa menunggu sampai aku selesai kuliah?" tanya Alira dengan raut wajah sendu, karena belum siap untuk menikah di usia muda. 

   "Nak,, pernikahan kalian tidak akan menghalangi pendidikanmu. Kamu akan kuliah di Jakarta setelah menikah nanti." Ilham Ayahnya turut bersuara. 

   Hari berlalu dengan begitu cepat. Para tamu mulai berdatangan memenuhi tempat yang sudah dipersiapkan untuk acara pernikahan. Alira yang terlihat cantik dengan kebaya putih modern, juga riasan pengantin di kepalanya, mulai gugup saat menyadari dirinya akan menjadi istri, dari seorang pria yang dia sendiri tak pernah tahu bagaimana rupanya.

   "lira, kamu nggak usah gugup sayang. Kamu itu sangat cantik seperti bidadari hari ini," ucap Ibu Vivi berusaha menghibur Putrinya. 

   "Berarti selama ini aku nggak cantik ya Bu?"

protes Alira dengan wajah cemberut.

   "Tidak sayang. Pokoknya anak gadis Ibu selalu cantik setiap saat," jawab Ibu Vivi sambil tersenyum menatap Putri kesayangannya. 

   Degup jantung Alira seketika berdetak kencang. Nafasnya tiba-tiba memburu, seakan-akan mau putus, melangkah bersama kedua orang tuanya menuju tempat pelaksanaan ijab qobul. Apalagi saat melihat begitu banyak tamu yang sedang memperhatikannya, juga menyadari tatapan seorang pria tampan yang sudah menanti kedatangannya, bersama beberapa orang saksi pernikahan juga seorang penghulu. 

   Tanpa berlama-lama ijab qobul pun dimulai. Suara Fahri terdengar memenuhi seisi ruangan saat mengucapkan qobul. 

   Semua yang terjadi dirasakan bagaikan mimpi bagi Alira. Karena hanya dalam hitungan menit dia telah resmi menjadi istri dari Fahri Permana, pria tampan nan gagah, seorang pengusaha sukses idola para wanita. 

   Siang pun berlalu berganti malam, setelah mengganti pakaian, Alira langsung tidur dengan hanya menggunakan dress pendek tanpa lengan. Da memang suka mengenakan pakaian seksi apalagi di waktu tidur. Betapa nyamannya dia tidur dengan pakaian terbuka. Namun dia sepertinya lupa akan status barunya.

   Suara ayam tetangga menyadarkan Alira dari tidur nyenyaknya. Tanpa membuka mata dia meraba guling yang dirasakan begitu aneh.

   'Guling ku kok aneh ya,,?' gumam Alira dalam hati sambil terus meraba. 

   "Aaaaaaaa…," teriak Alira kencang setelah melihat keberadaan Fahri, dengan keadaan bertelanjang dada di hadapannya.

   "He... Kamu gila ya??" Fahri sedikit berteriak sambil membekap mulut Alira menggunakan telapak tangannya.

  Alira yang begitu panik, berusaha melepaskan tangan Fahri dengan susah payah dan menatapnya tajam.

   "Mengapa kamu berada di sini??" Alira kembali berteriak. 

   "Terus aku harus di mana? Apakah aku harus tidur dengan orang tuamu??" tanya Fahri dengan begitu santainya. Sementara Alira langsung buru-buru mengecek keadaannya. 

   "Tenang saja,, aku belum melakukannya. Belum aku lakukan saja kamu sudah mau membangunkan seisi rumah. Bagaimana kalau aku lakukan, mungkin satu RT akan terbangun," gerutu Fahri. 

   Dengan tergesa-gesa Alira beranjak turun dari tempat tidur  berlari memasuki kamar mandi. 

   "Ya Tuhan, apakah ini mimpi?" Dia mulai bertanya-tanya sambil mencubit lengannya.

   "Aaaau... Ternyata ini bukan mimpi," ujarnya dengan wajah yang begitu lesu.

   Pagi itu suasana terlihat haru saat Alira berpamitan untuk pergi bersama suami juga kedua mertuanya. 

   "Jaga diri baik baik ya sayang," ujar Ibu Vivi dengan mata berkaca-kaca. 

   "Iya Bu, Ibu dan Ayah juga harus jaga kesehatan. Nggak boleh sakit," jawab Alira sambil memeluk Ayah dan Ibunya bergantian sambil meneteskan air mata.

   Alira pun pergi meninggalkan rumah tempat dia lahir dan tumbuh besar. Hampir dua jam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di Jakarta. Alira sangat kaget di saat melihat rumah mertuanya yang begitu mewah, melebihi rumah kedua orang tuanya di Bandung. Dengan langkah berat Alira mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah mewah itu menuju lantai atas.

   "Masukin pakaianmu di lemari itu!," seru Fahri sambil menunjuk lemari besar yang ada di sampingnya, setelah mereka sudah berada di dalam sebuah kamar.

   Dengan hanya mengangguk, Alira pun masukin semua pakaiannya di lemari yang terdapat banyak pakaian Fahri.

   "Mas,," panggil Alira setelah semua pakaiannya sudah tertata rapi di dalam lemari.

   "Hmmmm."

   "Kapan aku daftar kuliah?" tanya Alira.

   "Kamu tinggal kuliah saja minggu depan. Aku sudah mendaftarkan nya," jawab Fahri yang sedang fokus pada layar ponselnya.

   Selama enam hari menunggu kuliah, Alira hanya menghabiskan waktu di rumah. Dia belajar menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Hal itu sangat membosankan baginya. Karena tidak ada satupun yang bisa dikerjakannya dengan baik. Selesai nonton acara TV bersama dua orang pembantu, Alira langsung beranjak menuju kamar. 

   "Besok kamu sudah kuliah," ujar Fahri setelah Alira beranjak naik ke atas tempat tidur.

   "Benar Mas??" tanya Alira sedikit kaget.

   "Buat apa aku bohong? Tapi ingat, tidak boleh ada yang tahu kita suami istri di Kampus." Fahri langsung memperingatkan Alira. 

   "Iya aku tahu. Aku juga tidak mau ada yang tahu kalau aku sudah menikah di usia yang masih 18 tahun," jawab Alira.

   Fahri yang sudah berusia 25 tahun, ternyata masih berkuliah di kampus yang sama dengan Alira. Dia sedang menyelesaikan beberapa semester untuk mendapatkan gelar Magister dalam jurusan bisnis. 

   Tepat pukul 06.00 pagi Alira terbangun karena merasa ada beban berat di atas perutnya. Dan ternyata itu adalah kaki juga tangan Fahri, yang  sudah melingkar di bagian perut juga pahanya.

   "Mas,, Mas Fahri,, Mas…," teriak Alira karena merasa kesal dengan Fahri yang masih saja terlelap.

   "Apa sih pagi pagi berteriak kaya orang gila??" gerutu Fahri yang belum sepenuhnya sadar.

   "Bukan gila lagi, tapi lama-lama aku akan mati bila kayak gini tiap hari. Kamu sudah seperti ular piton yang melilit mangsa," ucap Alira dengan tampang kesalnya. 

   "Kamu kan bisa bilang baik baik. Tidak usah teriak teriak seperti itu." Fahri yang tidak kalah kesal, segera bergegas menuju kamar mandi. 

   Sudah hampir satu jam Fahri menunggu Alira di ruang tamu, tapi Alira belum juga menampakkan wujudnya. Dengan perasaan yang sudah mulai dikuasai api amarah, dia kembali ke kamar menyusul Alira. 

   "Alira,, tujuan kamu ke kampus untuk kuliah atau mau tebar pesona? Lihat tuh cara berpakaian kamu! Sudah seperti wanita-wanita di klub malam," ucapan Fahri sungguh menyinggung perasaan Alira. 

  "Aku biar naik taksi saja." Alira pun pergi dengan tampang penuh kekesalan. 

   "Terserah.. Memang lebih baik seperti itu.." Fahri pun ikut berteriak saking kesal melihat Alira yang sangat keras kepala.

2. Kemarahan Fahri.

   Hari pertama masuk Kampus Alira sudah menyita perhatian para kaum pria di sekelilingnya. Terutama para pria yang berada satu ruangan dengannya. Keadaan di dalam ruangan itu seketika heboh dengan kehadiran Alira. Mereka semua saling bergantian berkenalan dengan Alira, laki-laki maupun perempuan. Keramahan juga keceriaan Alira membuatnya tidak sulit untuk mendapatkan teman di Kampus.

   Ada beberapa wanita juga pria yang langsung akrab dengan Alira. Mereka adalah Sifa, Ara, Amel, Agus, Baim dan Arif. Selesai menerima mata kuliah pertama, mereka memutuskan untuk makan bersama-sama di kantin. Saat melewati depan gedung yang berada terpisah, Alira langsung diperhatikan oleh beberapa senior salah satunya Fahri. 

   "Wow... Bodinya mantap bangat tuh."

Anton salah satu kakak senior di Kampus langsung bersuara.

   "Siapapun pria yang menikahi wanita itu pasti nggak bisa tidur setiap malam. Bayangin saja bagaimana bentuknya kalau dia melepaskan semua pakaiannya. Pasti menggiurkan banget," sambung Alex teman Fahri yang lainnya. 

   "Hmmm..." Fahri hanya bisa mendesah. 

   "Kenapa Bro? Nggak tahan ya loh liatin tuh gitar Spanyol?" tanya Rian salah satu dari mereka.

   "Apa-apaan sih kamu?" cetus Fahri sembari menundukkan kepala, dan mulai bergumam di dalam hati. 

   'Kelewatan banget Alira. Apa dia nggak sadar dengan penampilannya itu?' 

   "He Bro,, kamu kenapa?  Awas jangan berpikir macam-macam melihat yang berisi kaya gitu," ujar Rian lagi yang tidak sengaja melihat ekspresi Fahri.

   "Ayo kita pergi!" Fahri malah mengajak pergi. 

   Fahri dan teman-temannya pun bergegas ke kantin setelah Alira dan teman-temannya sudah tidak terlihat. 

   "Eh, eh, eh.. Tu lihat. Cowok tertampan di kampus ini juga mau makan di sini," ujar Sifa sambil mencolek lengan Alira.

   "Mana, mana?" tanya Amel.

   "Astaga Amel. Kok kamu nggak lihat makhluk Tuhan yang paling sempurna itu. Mata itu digunakan untuk melihat yang indah indah seperti Kak Fahri." Sifa berkata sambil menunjuk ke arah Fahri, yang sedang melirik ke arah mereka sekilas.

   "Itu kan dia lihatin kita. Kamu sih bikin malu saja," ujar Sifa.

   'Apa semua wanita di Kampus ini mengidolakan Mas Fahri? Hmmm,, dia saja sudah seperti gundukan salju," batin Alira sambil merogoh tas, mencari dompetnya yang ternyata ketinggalan di rumah. 

   "Ya ampun,, dompetku ketinggalan di rumah," ujarnya. 

   "Itu bukan masalah. Biar aku yang traktir, tapi ada satu syarat. Aku harus mengantarmu pulang," seru Agus yang dikenal playboy. 

   "Nggak usah lah Gus,, nanti uang kamu berkurang." Alira malah bercanda dengan senyum genitnya, tanpa menyadari tatapan Fahri. 

   "Aku nggak masalah biar jatuh miskin karena kamu sayang," jawab Agus tidak kalah genit. 

   "Dasar buaya." Serentak Sifa, Amel dan Ara menyerang Agus. 

   Selesai makan Alira dan teman-temannya bergegas kembali ke ruangan. Namun setelah melewati sebuah lorong, Alira pun meminta teman-temannya untuk pergi duluan.

   "Kalian duluan ya. Aku mau ke toilet sebentar." Alira yang sudah kebelet buru-buru berlari menuju toilet, tanpa menyadari keberadaan seseorang yang sedang memperhatikannya. 

   "Apa-apaan sih kamu Mas?? Lepasin tangan aku!" Alira yang begitu kaget berusaha menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Fahri. Namun Fahri sama sekali tidak peduli dan terus menariknya menuju sebuah lorong sepi. 

   "Lepas Mas! Sakit.." Alira berkata-kata dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. 

"Kamu pulang jam berapa?" tanya Fahri tapi Alira malah terdiam.

   "Alira.. Apa kamu nggak dengar..??" teriakan Fahri yang membuat Alira jadi ketakutan.

   "Jam dua nanti," jawab Alira singkat dengan suara bergetar menahan tangis.

   "Tunggu aku di mobil! Ini kunci mobilnya. Buka pintu dan masuk tunggu aku di dalam," perintah Fahri dengan tatapan yang sangat menakutkan. 

   Setelah itu Fahri pergi dan tak lama Alira pun ikut pergi. Alira mencuci mukanya terlebih dulu di dalam toilet biar tidak kelihatan sembab oleh teman temannya.

   Setelah jam pulang Alira  buru-buru meninggalkan ruangan menuju mobil Fahri. Dia melakukan apa yang diperintahkan Fahri karena tidak ingin mencari masalah. Dan tidak berapa lama dia melihat Fahri yang sedang diikuti seorang wanita. 

   "Fahri..," panggil Tania seorang wanita yang selalu mencari perhatian Fahri.

   "Ada apa Tan?"

   "Aku mau numpang pulang." Wanita itu langsung memeluk lengan Fahri. 

   "Maaf ya Tan,, aku ada urusan penting." Fahri pun menolak dan melanjutkan langkahnya. 

   Tania yang berulang kali di tolak Fahri hanya bisa tersenyum walau hatinya begitu sakit. Fahri menjalankan mobilnya tanpa mempedulikan Alira. 

   "Turun!," perintah Fahri.

   "Kok kita ke Kantor bukannya pulang?" protes Alira saat menyadari kalau mereka berada di depan kantor Fahri. 

   Tanpa menjawab pertanyaan Alira, Fahri  keluar dari dalam mobil menarik tangannya menuju lift. 

   "Mas,, lepasin tangan aku! Lepasin Mas! Malu diliatin orang." 

   Fahri sama sekali tidak peduli. Dia terus menarik tangan Alira masuk ke dalam ruang kerjanya. Kemudian dia menyandarkan Alira ke dinding sambil menatapnya tajam. 

   "Lepaskan aku Maas..! Mengapa kamu seperti ini padaku??" tanya Alira sedikit berteriak.

   Teriakan Alira barusan semakin membuat Fahri terlihat menakutkan. Tanpa berkata-kata dia meraih ujung rok Alira dan menariknya kasar. Apa yang dilakukan Fahri sangat mengejutkan Alira. Dia sungguh tak menyangka Fahri akan berbuat sekasar itu. Bagian pahanya kini terpampang nyata karena rok mini yang dikenakannya robek sampai di bagian pinggang. 

   Menyadari keadaannya, Alira langsung berteriak dan menangis dengan sangat kencang. Tangisan Alira sama sekali tidak berpengaruh pada Fahri. Buru-buru mengangkat tubuh Alira, membawanya masuk ke dalam kamar yang ada di dalam ruang kerjanya, dan melemparnya ke atas tempat tidur. 

   "Mas... Apa salahku?? Mengapa kamu melakukan ini padaku??"  Alira berteriak dan menangis, sambil menutupi bagian pahanya menggunakan selimut. 

   "Mengapa di tutup?? ha.. Kamu malu sama aku??" teriak Fahri tapi tidak dijawab oleh Alira.

   "Kamu itu harusnya malu mengenakan pakaian kaya gini di depan umum. Kenapa di depan aku sendiri baru kamu malu??" Dengan kesal Fahri berkata-kata.

   "Aku itu suami kamu yang berhak atas dirimu. Kamu harus tau itu.!!," tambah Fahri dengan nada yang keras.

   "Tapi jangan kamu berfikir aku seperti ini karena cemburu. Aku tidak ada rasa apapun sama kamu, karena pernikahan kita hanya atas dasar perjodohan orang tua," lanjut Fahri. 

   "Kalau menurutmu pernikahan ini tidak ada artinya, untuk apa juga kamu harus marah seperti ini hanya karena penampilanku? Itu bukan urusan kamu." Kata-kata Alira yang membuat Fahri langsung mengangkat tangan hendak menamparnya.

   "Ayo tampar!! Tampar aku!! Ayo!! Ayo tampar aku!!" Alira berteriak sambil menarik kerah baju Fahri.

   Fahri yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, dengan segera berbalik menghadap pintu hendak keluar. Namun tindakannya malah membuat beberapa kancing kemejanya terlepas, karena tangan Alira masih memegang kencang kerah kemejanya.

3. Keegoisan Fahri.

   Fahri hampir berbuat kasar pada Alira karena emosi yang sudah menguasai diri. Dia keluar dari dalam kamar itu menuju ruang kerjanya, dengan kedua tangan dikepal menahan amarah. Beberapa kali dia membenturkan tangannya pada dinding meluapkan kekesalannya. Dan seketika dia pun terdiam, saat menyadari keanehannya. 

   'Apa yg terjadi?? Mengapa aku sangat murka di saat melihat laki-laki lain menatapnya dan memberi penilaian terhadapnya? Apa mungkin aku cemburu? Tidak-tidak, aku nggak mungkin cemburu.' Dia mulai bertanya-tanya di dalam hati, dengan kedua tangan menopang pada dinding. 

 "Wajar kalau aku marah, apalagi dia menerima pemberian laki-laki lain. Karena kalau diketahui orang tuaku atau orang tuanya, aku juga yang akan disalahkan.' Fahri berkata-kata dengan kepala tertunduk. 

   "Pak,, pak,, bapak." Suara Sinta sekretaris Fahri yang sudah berdiri di depan pintu. 

   "Mengapa tidak ketuk dulu sebelum masuk??" tanya Fahri dengan tampang datarnya.

   "Sudah saya ketuk ulang-ulang Pak. Tapi Bapak tidak menjawab. Makanya saya langsung masuk." 

   "Ada apa??" tanya Fahri.

   "Rapat 3 menit lagi akan dimulai. Beberapa klien penting sudah ada di ruangan," jawab Sinta.

   "Oke,, mana Refan?"  

   "Pak Refan sudah duluan ke ruang rapat Pak."

   "Ya sudah, saya ganti baju dulu baru ke sana." Fahri kembali masuk ke dalam kamar. 

   Selama beberapa jam Fahri berada di ruang rapat, membahas tentang proyek besar bersama beberapa klien bisnisnya. Tapi dia tidak bisa berkonsentrasi penuh, karena memikirkan masalah pribadinya. Di lubuk hati yang paling dalam, dia sangat merasa bersalah telah berbuat kasar pada Alira. Tapi dia pun tidak bisa mengendalikan emosi menghadapi Alira yang menurutnya sangat keras kepala. 

   Setelah mendengarkan penjelasan beberapa klien bisnisnya, Fahri langsung mengakhiri rapat dan kembali ke ruang kerjanya. Dia membuka pintu kamar dan melangkah perlahan mendekat ke arah Alira yang masih saja menangis di atas tempat tidur. 

   "Ayo turun!," seru Fahri sambil melepaskan jas yang dikenakannya. 

Dia mengikat jas itu di pinggang Alira, untuk menutupi bagian pahanya yang terlihat. Tapi Alira yang sudah terlanjur sakit hati, segera mendorongnya dan melepaskan jas di lantai hendak melangkah pergi. 

   "Mau kemana kamu??" Buru-buru Fahri menarik tangan Alira. 

   "Aku mau pulang," jawab Alira tampa menatap Fahri. 

   "Kamu mau keluar pulang dengan penampilan seperti ini?? Dasar wanita tidak tahu malu." 

   "Aku memang sengaja ingin berjalan dengan keadaan seperti ini di depan karyawan kamu. Biar mereka tahu kelakuan atasan yang sangat mereka hormati." Alira malah mengancam.

   "Alira,, kamu jangan coba-coba memancing kemarahan ku. Aku bisa berbuat lebih kejam dari pada itu." 

   "Aku benar-benar menyesal menikah denganmu. Karena di luar sana ada banyak laki-laki yang mau memperlakukan aku dengan baik. Bukan seperti kamu." Kata-kata Alira sontak memancing emosi Fahri. 

   Dengan tampang yang menakutkan dia kembali mengikat jas di pinggang Alira, dan menariknya keluar dari dalam kamar. 

   "Lepaskan aku!! Lepaskan!!," teriak Alira. 

   "Diamlah! Dan jangan coba-coba melawan!! Aku sudah sangat sabar menghadapimu," ujar Fahri sambil mencengkram tangan Alira. 

   Semua pegawai di kantor itu sangat terkejut melihat sikap Fahri terhadap Alira. Beberapa di antara mereka yang sudah mengetahui pernikahan Fahri hanya berpura-pura cuek. Dan sebagian besar yang belum mengetahuinya, mulai sibuk berbisik satu sama lain mempertanyakan wanita cantik yang sedang bersama atasan mereka. 

   Fahri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melintasi jalur yang jarang dilalui kendaraan, karena sering terjadi pembegalan di sekitar situ. Tapi tidak berapa lama dia langsung menepikan mobil di samping jalan, saat menyadari kalau Alira tidak menggunakan sabuk pengaman. 

   "Pakai sabuk pengamanannya!! Kalau kamu mau mati, jangan di mobil aku." 

   "Apa,, mati?? Siapa kamu sampai berani menyumpah ku??" Alira benar-benar geram mendengar ucapan Fahri. 

   "Aku suami kamu. Ternyata kamu bukan hanya wanita yang bodoh. Tapi kamu juga pelupa seperti orang yang sudah tua." 

   "Iya,, kamu suami aku. Suami yang tidak bertanggung jawab terhadap istrinya. Sampai-sampai laki-laki lain yang memberi makan istrinya." Alira benar-benar mencari masalah. 

   "Keluar dari mobilku!! Aku memang tidak sudi bertanggung jawab pada wanita seperti kamu. Bukan kamu saja wanita di dunia ini." 

   Tanpa menunggu lama, Alira melepaskan jas yang terikat di pinggangnya, dan melemparkannya pada Fahri kemudian berbalik hendak membuka pintu mobil. Tapi Fahri kembali menariknya sambil berujar. 

   "Alira.. Apa kamu benar-benar mau mati?? Di sekitar sini banyak begal yang sering belalul lalang." 

   "Lebih baik aku mati, dari pada hidup bersama pria tak punya hati sepertimu," jawab Alira sambil menatap wajah Fahri yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Dan di saat dia ingin kembali bersuara, mulutnya langsung dibungkam oleh Fahri dengan ciuman yang sangat bernafsu. 

   Amarah dan hasrat bergejolak di dalam hati pria dingin itu. Dia ******* bibir Nadira, menyedot lehernya yang putih dengan sangat rakus, sambil meraba kedua bukit kembar yang masih sangat padat secara bergantian. Alira yang sudah terjepit di bawah tubuh kekarnya hanya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan tidak berapa lama, dia pun berteriak kencang, karena Fahri mengigit salah satu bukit kembarnya. 

   "Aaaaaa… Sakit…" 

   Serentak Fahri menghentikan kegilaannya, dan betapa terkejutnya dia melihat darah yang keluar dari sebelah bukit kembar yang sudah terpampang nyata di hadapannya. Perlahan Alira pun bangkit, duduk bersandar sambil merintih kesakitan. 

   Fahri yang semakin kebingungan dengan sikapnya, kembali menjalankan mobil tanpa berucap satu katapun. Dan hanya dalam hitungan menit mereka pun tiba di rumah. Alira yang masih terus menangis segera keluar dari dalam mobil melangkah pergi tanpa mempedulikan penampilannya. 

  "Tutupi paha kamu!!," seru Fahri sembari menarik tangan Alira. 

   "Aku nggak mau.. Biarin saja seperti ini!!," reriakan Alira yang di dengar oleh kedua mertuanya. 

   "Alira… Mengapa kamu begitu keras kepala." Fahri kembali menarik tangan Alira dengan sangat kasar, dan disaksikan oleh kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari dalam rumah. 

   "Fahri…" Papa Indra langsung menampar Fahri di depan Alira. 

   "Ya ampun Fahri.. Apa yang kamu lakukan sama istrimu??" Mama Rita begitu kaget melihat rok Alira, juga  leher dan bagian dadanya yang terdapat banyak tanda merah. 

   "Dasar anak kurang ajar.." Fahri kembali ditampar, sampai bibirnya berdarah. 

   "Bawa Alira masuk!," seru Papa Indra pada Istrinya. 

   "Pergi kamu dari sini!" Fahri langsung diusir oleh Papanya. 

   Mama Rita membawa Alira masuk ke dalam kamarnya. Dan sesampainya di kamar, dia langsung memeluk Alira dan menangkan apa yang terjadi. 

   "Apa sebenarnya yang terjadi sayang?"

  "Mas Fahri tadi mau memperkosa ku dijalan Ma," jawaban Alira yang membuat Ibu mertuanya emosi. 

   "Mengapa dia bisa melakukan itu?" 

   "Aku juga nggak tahu Ma. Tiba-tiba dia marah dan berbuat kasar padaku." 

  "Ya sudah,, lebih baik sekarang kamu mandi, terus makan dan beristirahat! Nanti Mama yangu kasih pelajaran buat dia. Tapi kamu jangan kasih tahu sama orang tuamu, atas apa yang dilakukan Fahri," ujar Mama Rita dan hanya mengangguk. 

   Fahri yang diusir oleh Papa Indra, memilih pergi ke rumah Refan untuk menenangkan diri. Tapi dia yang tidak suka banyak bicara, malah merasa terganggu dengan berbagai macam pertanyaan Refan. Akhirnya dia langsung pergi meninggalkan apartemen Refan tanpa mau menceritakan masalahnya. 

   Sesampainya di rumah, Fahri segera melangkah menuju kamarnya di lantai atas. Kepulangannya tidak diketahui Alira juga kedua orang tuanya yang sudah tertidur. Buru-buru dia langsung mandi dan beranjak naik ke atas tempat tidur. Dan tiba-tiba diapun kebingungan mendengar hembusan nafas Alira yang tidak teratur. Perlahan dia mulai meraba kening Alira, dan menyadari kalau wanita cantik itu sedang sakit. 

   

  

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!