NovelToon NovelToon

Pendekar Topeng Seribu

Nio Hongko

Lima orang prajurit Mataram dengan tombak panjang di tangan kanan mereka, tameng kecil yang terbuat dari anyaman rotan yang dilapisi kulit kerbau yang kuat namun ringan di tangan kiri serta pedang dan keris yang mencuat di pinggang kiri dan kanan mereka, sekarang dalam keadaan siap untuk menyerang. Pakaian kebesaran yang mereka kenakan menunjukkan bahwa mereka adalah prajurit khusus dari tingkatan yang tinggi.

Mereka mengenakan celana panjang sampai semata kaki yang memiliki kancing, dimana di bagian luarnya masih ditutupi dengan kathok, yaitu celana yang lebih pendek. Kedua jenis celana ini terbuat dari kain yang halus yaitu sutra. Bagian perut dan dada para prajurit itu juga dililitkan amben, kain sutra yang mengelilingi tubuh sampai delapan kali. Gunanya sebagai semacam pertahanan yag melindungi tubuh dari tusukan senjata musuh.

Dua orang diantaranya menambahkan rompi dari rantai besi sedangkan sisanya mengenakan sangsang atau rompi ketat tanpa kancing. Di luar rompi tersebut, semua prajurit mengenakan rompi lagi yang berkancing dari leher sampai perut dan kemudian ditutup dengan sikepan, baju lengan panjang yang menutupi seluruh tubuh bagian atas.

Berbeda dengan pasukan Tartar dari Cina pada masa serangan ke kerajaan Singasari ratusan tahun yang lalu, atau para pasukan kompeni Walanda yang mengenakan pakaian pelindung dari besi, pasukan kerajaan-kerajaan di Jawa akan merasa lebih bergerak bebas tanpa pakaian besi yang berat dan panas tersebut. Bahkan kebanyakan dari mereka memilih untuk bertelanjang dada.

Busana keprajuritan yang terbuat dari bahan sutra yang lembut membuat gerakan silat para prajurit Jawa menjadi lebih cepat dan sigap. Tanah Jawa yang berbukit-bukit dan bergunung, membuat peperangan kerap menjadi ajang adu ketangkasan dan kecerdikan para ponggawa tempur kerajaan. Belum lagi konon peperangan di Sukadana terjadi di tanah berumput datar yang becek dan berair atau di tengah hutan dengan pepohonan rapat, sulur-sulur serta akar-akar tanaman yang dapat menyusahkan langkah kaki para prajurit.

Dalam peperangan, beragam senjata memang digunakan untuk menghabisi musuh. Senjata utama seperti tombak digunakan untuk serangan awal, namun bila keadaan tidak memungkinkan dan mendesak, para prajurit harus mampu menggapai beragam senjata lain yang mereka persiapkan seperti pedang atau keris.

Seorang prajurit Mataram biasanya memiliki tiga buah keris yang diselipkan di kanan kiri dan bagian belakang pinggang para prajurit. Ketiga bilah keris tersebut terdiri atas satu keris pribadi, satu keris leluhur, dan satu keris yang diberikan oleh ayah mertua ketika sang prajurit menikah. Menjadi seorang prajurit Mataram adalah salah satu kebanggaan dari orang-orang Jawa Mataram.

Walau nyawa menjadi taruhannya, berbakti kepada negara dan raja sebagai panatagama adalah sebuah kebanggaan yang tidak bisa ditakar. Belum lagi hasil yang diperoleh, seperti pembayaran untuk sang prajurit dan keluarganya, atau jabatan di kerajaan bila sang prajurit memiliki pencapaian derajat keprajuritan yang luar biasa.

Oleh sebab itu pula, tidak sedikit dari para prajurit khusus mengenakan perhiasan berupa cincin atau kalung emas yang membuat sang prajurit menjadi bangga dan percaya diri dalam peperangan serta menunjukkan kewibawaan pada orang-orang biasa atau musuh-musuh mereka yang bisa saja keder melihat kemegahan para prajurit tersebut.

Tak lama pekikan keras memecah angkasa ketika kelima ponggawa menyerbu ke arah tiga orang prajurit lain, yang walau jelas merupakan lawan yang juga siap bertarung, ternyata telah terlihat terluka parah. Ketiga orang prajurit lawan mereka ini mengenakan pakaian koko putih berkancing tanpa kerah yang berlumuran darah, pedang panjang mereka yang disebut dao terhunus.

Salah seorang diantaranya menggenggam sebuah jian, sebuah pedang Cina, di tangan kanannya dan sebuah keris panjang di tangan kirinya. Kulit mereka yang pada dasarnya putih bersih kini pun telah lusuh selusuh baju yang mereka kenakan oleh percikan darah, keringat, dan debu. Serangan kelima pasukan Mataram itu memaksa ketiga pria terluka itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi lagi, menguatkan kuda-kuda mereka dan menangkis setiap tusukan tombak yang mengarah ke tubuh mereka.

Pasukan pembela Sunan Giri Prapen telah tercerai berai oleh serangan pasukan Surabaya yang didampingi pasukan Mataram atas perintah raja Mataram yang berkuasa saat itu, Prabu Pandhita Hanyakrakusuma. Bahkan ketiga orang ini tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan rekan-rekan mereka yaitu dua ratus prajurit Cina muslim pimpinan Endrasena alias Ki Cina yang tadi bertarung dengan hebatnya bersama ratusan pasukan prajurit santri Giri.

Dalam sejarah yang tercatat memang ada hubungan yang sangat erat antara keraton Giri yang terletak di sebuah bukit di Gresik tersebut dan negeri Cina. Dari dahulu kala, Gresik adalah sebuah kota pelabuhan yang terkenal karena letaknya yang terlindungi selat Madura dan membelakangi tanah yang sangat subur di bagian sungai Bengawan Solo.

Kota ini didirikan sebagai kota pelabuhan pada pertengahan abad ke-14. Penduduk awal bahkan sebenarnya adalah para pelaut dan pedagang dari Cina yang kemudian tinggal selama kurang lebih seratus tahun, menciptakan sebuah daerah baru yang kemudian menjadi perkampungan itu menjadi maju dan makmur.

Salah satu penguasa di daerah Gresik awal pada tahun 1411 Masehi yang merupakan orang Cina bahkan mengirimkan utusan untuk menyampaikan surat dan upeti ke kerajaan di Cina untuk menunjukkan bahwa ada banyak orang Cina yang tinggal di Gresik dan diharapkan untuk patut diperhatikan oleh sang maharaja. Pelayaran dan hubungan perdagangan dengan mancanegara memang sangat ramai. Selain Cina, Gresik juga dilabuhi kapal-kapal dari Gujarat, Kalikut, Bengalen, Siam dan Liu Kiu.

Kelompok Cina yang sudah sedari lama tinggal di Gresik inipun ternyata adalah kelompok Cina yang beragama Islam. Selain itu dalam banyak catatan banyak dari mereka memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni dan memiliki budaya kependekaran.

Pada tahun 1535 Masehi, ketika Gresik diserang oleh penguasa dari Sengguruh yang belum memeluk Islam, sekelompok pasukan Cina Islam di bawah pimpinan Panji Laras dan Panji Liris melawan para penyerang ini walaupun mereka dikalahkan di daerah dekat Lamongan.

Dalam kejadian seratus tahun kemudian ini pula, awalnya mereka, prajurit Cina muslim dengan kekuatan yang luar biasa, meliuk-liukkan pedang panjang dan jian mereka membabat habis pasukan Surabaya. Endrasena sang pemimpin berputar-putar dengan gesit membabat pasukan lawan bagai angin lesus. Tameng pasukan lawan tak dapat menahan liukan jian Endrasena yang lentur namun kokoh dan tajam itu.

Kebanyakan orang salah paham dengan mengatakan bahwa senjata adalah perpanjangan dari tangan dan kaki dalam sebuah tatanan ilmu silat. Banyak yang berpikiran bahwa yang paling penting sebenarnya adalah kelihaian tangan kosong dan tingkat keunggulan ilmu kanuragan seorang pendekar. Pada kenyataannya, senjata adalah syarat mutlak sebuah pertarungan silat. Seorang petarung dalam sebuah perkelahian harus segera dapat menyelesaikannya karena ini menyangkut hidup dan mati.

Dalam beragam gaya silat dan jurus-jurusnya, hampir selalu menyertai ilmu penggunaan senjata. Tangan kosong hanya digunakan bila terpaksa, misalnya senjata direbut musuh atau terlepas dari tangan. Sedangkan ilmu tenaga dalam cenderung dimiliki segelintir pendekar yang memang sudah kawakan dan benar-benar sakti mandraguna.

Dalam sebuah adu tanding, terutama dalam perang besar semacam ini dimana nyawa benar-benar merupakan taruhannya, senjata menjadi alat yang niscaya. Para prajurit akan menyerang dengan tawur, bukannya pertarungan satu lawan satu. Serangan mereka pun dengan amuk. Membabatkan senjata mereka untuk benar-benar membunuh.

Binatang memiliki senjata secara alami di tubuh mereka untuk berburu atau bertahan hidup. Macan dengan kuku dan taringnya, elang dengan paruh dan cakarnya, bahkan landak pun memiliki bulu-bulu durinya. Sedangkan manusia tidak memiliki senjata-senjata alami tersebut.

Oleh sebab itu, manusia menggunakan beragam senjata untuk melukai dan membunuh musuh-musuhnya. Bahkan silat tangan kosong juga meniru penggunaan senjata ini. Tepi telapak tangan dilatih sedemikian rupa agar menjadi setajam pedang, membelah balok-balok kayu dengan satu gebrakan.

Kepalan tinju dilatih agar sekuat gada membobol dinding batu. Atau tungkai kaki yang dilatih secepat dan sekuat toya. Tidak hanya itu, jurus-jurus silat juga meniru senjata-senjata alami milik hewan. Jari-jari yang membentuk cakar elang dan macan, ujung jari yang meniru patukan ular dan sikut yang meniru kekuatan cula badak.

Seorang prajurit Surabaya menyerang langsung ke arah Endrasena dengan menusukkan tombaknya ke arah perut. Endrasena berkelit sembari menusukkan keris di tangan kirinya yang membentur tameng rotan sang prajurit, namun jian di tangan kanannya menembus leher sang prajurit malang tersebut. Belum sempat ia sadar dengan apa yang terjadi satu sayatan lebar menyilang merobek punggungnya dari sebuah dao atau golok besar salah satu pasukan Cina Endrasena. Ia tersungkur ke tanah, mati.

Dua prajurit lain yang terdiri dari pasukan Mataram dan Surabaya mencoba peruntungan mereka dengan kembali menyerang sang pendekar. Keduanya sama-sama mengarahkan tusukan mereka ke arah dada Endrasena. Endrasena mundur menjauh dari serangan tersebut, namun kedua prajurit masih terus menyerang dengan memburu maju.

Beberapa tusukan lagi mematuk bagai ular menyerang mangsanya. Endrasena kemudian bergeser sedikit membuat satu serangan tombak lolos kemudian maju dengan sangat cepat menyepak kaki penyerangnya, membuat sang penyerang oleng dan berakhir dengan keris yang menancap dalam di dadanya.

Satu penyerang lagi berusaha menahan sakit karena hanya kurang dari satu tarikan nafas ia tak melihat tangannya yang memegang tombak utuh lagi, terpotong oleh jian yang kemudian juga membabat dada dan lehernya. Ia pun jatuh terbaring di tanah dengan darah yang menggelegak keluar dari tubuhnya.

Terlihat jelas penggunaan senjata di dalam perang ini. Sabetan demi sabetan berakhir dengan teriakan keras diikuti dengan darah yang mengucur dan nyawa yang melayang. Keunggulan yang sementara ini terlihat jelas pada sang Endrasena dengan senjata tajamnya yang mematikan.

Dalam jurus-jurus serangan Endrasena pasti ada saja celah yang membuat jian dapat masuk, melukai bahkan membunuh prajurit Surabaya dan Mataram. Tombak panjang para laskar Mataram malah menjadi menyulitkan mereka sendiri ketika Endrasena berhasil mendekat, berputar dan menusukkan keris panjangnya yang ia genggam di tangan satunya. Bagai rerumputan yang berjatuhan ditebas, begitu pula lah yang terjadi pada prajurit-prajurit tersebut.

Namun keadaan berubah secara menyeluruh ketika sang Srikandi, Ratu Pandhansari dari Mataram menembakkan bedilnya melumpuhkan sang pemimpin pasukan duaratus Cina muslim tersebut. Seperti tercatat dalam Serat Centhini di kemudian hari, “Maksih pangah ngamuk, mbijig, njejeg, ndhupak, angemah-ngemah kuping, Ratu Pandhan sigra pistulira winawas, suku Endrasena keni, sakala rebah, prajurit Surawesthi.”

Dan terdengar letusan yang kedua kalinya, mengenai lengan kiri Senapati Giri Kedaton sang Endrasena. Keris terlempar, namun Endrasena masih bisa mengamuk dengan tendangan kakinya, sundulan kepalanya, dengan segala cara, termasuk membabatkan jian nya dengan semakin menjadi. Para prajurit penyerangnya menahan mati-matian serangan sang Endrasena dengan tameng atau mundur menjauh.

Darah mengucur semakin deras dari lengan kanan dan kiri Endrasena yang rasanya semakin lumpuh. Ratu Pandhansari  merasa tak bisa tinggal diam dan segera melepaskan tembakan diarahkan pada kakinya, tembakan yang ketiga kalinya mengenai pahanya, dan Endrasena pun jatuh terjerembab. Jian terlempar jauh bersamaan dengan nafas terakhir yang masih tersangkut di tenggorokannya.

Pasukan Cina mendadak tercengang dan putus semangatnya meihat pemimpin mereka telah tewas. Begitu pula dengan prajurit santri Giri yang turut megandalkan kegananasan Endrasena dan pasukan Cina nya. Sebaliknya, pasukan Surabaya meneriakkan pekik kemenangan sambil terus menggempur pasukan santri Sunan Giri dan sisa pasukan Cina tersesebut. Keadaan berbalik.

Pembantaian tak dapat terhindarkan.

Pasukan Mataram yang dikirim untuk mendampingi pasukan Surabaya dalam penyerangan ini adalah pasukan khusus yang merupakan prajurit laki-laki terbaik. Mereka sangat ahli dalam menggunakan tombak, pedang, dan pertarungan jarak pendek menggunakan keris.

Pasukan Mataram inilah yang sebelumnya telah berhasil menundukkan hampir semua kerajaan di pulau Jawa, termasuk Surabaya itu sendiri. Sedangkan pasukan Surabaya juga tidak mungkin diragukan keberanian dan ketangguan mereka dalam berperang mengingat Mataram saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat menaklukkan Surabaya.

Ketiga prajurit Cina dari duaratus yang tercerai berai ini terdesak terus mundur sampai ke hutan, menjauh dari ladang pembantaian. Maksud mereka memang bukan melarikan diri namun mencari tempat yang lebih baik untuk bertarung, menghabiskan nafas terakhir mereka, mencari tempat yang lebih lapang untuk menarik para pasukan Surabaya dan Mataram dan membunuh mereka sebanyak mungkin setelah Endrasena sang pemimpin telah tewas. Namun, apa daya, ternyata pasukan Surabaya dan Mataram memang lebih tangguh.

Tak lama sebuah teriakan tertahan pecah ketika tombak salah satu prajurit Mataram berhasil menembus dada salah satu prajurit Cina yang bertiga tersebut dan merampas nyawanya dengan seketika. Tak lama berselang, satu tubuh prajurit Cina lagi tumbang. Dua tusukan di leher dan perut menyemburkan darah segar yang kemudian menutupi seluruh baju putihnya.

Tenaga dan nyawa memang telah putus dari raga mereka. Demi melihat kedua temannya telah gugur, Nio Hongko bukannya ketakutan, ia malah menyerang dengan membabi-buta. Ialah prajurit yang memegang keris di salah satu tangannya. Ia masih mampu bertahan sampai sekarang ketika kedua temannya meregang nyawa.

Sambil berteriak ia meloncat, melemparkan jian nya sehingga melukai salah satu prajurit di bahunya. Walau sang prajurit sempat berkelit ketika pedang Cina Nio Hongko itu dilemparkan ke arahnya, malang nyawanya tak dapat tertolong karena Nio Hongko langsung berhasil merebut tombak panjang sang lawan ketika ia lengah dengan cara menancapkan keris panjang miliknya di pinggang sang prajurit dan membiarkannya tertanam di sana. Teriakan tercekik pendek terdengar sebelum tubuh tak bernyawa itu jatuh berdebum ke bumi.

Hongko paham bahwa tombak yang ia rebut memiliki sifat khusus. Kayunya berat dan mata tombak berluk tiga serupa keris menunjukkan tingkat kemampuan sang pengguna. Dengan tombak ini ia memutarkannya seperti sebuah toya, tidak sekedar menusukkannya seperti layaknya sebuah tombak.

Bersama para prajurit Cina selama ini ia memang lebih terpapar pada penggunaan tombak Tiongkok yang lebih ringan dan lentur, yang tidak hanya digunakan untuk menusuk, namun juga membabat. Dengan tombak pasukan Mataram yang lebih berat ini, ia memerlukan tenaga yang lebih besar pula. Syukurnya, daya rusaknya pun sama besarnya.

Dua pasukan Mataram lagi terluka. Hongko Mengamuk. Tombak menusuk datar atau ke atas, ke arah kepala lawan. Akibatnya mungkin salah satu dari dua prajurit Mataram yang berhasil ia lukai juga berhasil ia tewaskan. Dua prajurit Mataram yang lain sepertinya tidak terpengaruh dengan keadaan ini. Mereka tetap merengsek maju, mungkin yakin bahwa bagaimanapun perlawanan ini tidak akan lama.

Memang Hongko terlihat lebih kuat dari para rekan-rekannya. Sedari peperangan tadi, Hongko memang menonjol kesaktiannya. Selain Endrasena dan beberapa prajurit Cina lain, Hongko termasuk prajurit yang berhasil menewaskan banyak pasukan Surabaya dan baru saja menjatuhkan tiga orang pasukan khusus Mataram yang mengejar mereka ke hutan dan juga membunuh kedua teman pasukan Cina nya.

Tusukan demi tusukan menyeruak mencoba menyentuh tubuh Hongko. Dengan tenaga yang mulai habis dan nafas yang sepertinya ingin meninggalkan raganya, bagaimanapun Hongko akhirnya terseok. Kuda-kudanya berantakan karena kakinya sepertinya tidak dapat menopang tubuhnya lagi. Sebagai akibatnya, salah satu mata tombak lawan merobek lengan kanannya. Ini membuat pegangannya pada tombak melemas.

Tak berapa lama sodokan pangkal tombak di bagian berlawanan yang tumpul memukul dadanya, kakinya tersandung akar-akar perpohonan dan membuatnya terpental karena lemahnya otot-otot kakinya karena kelelahan. Darah mengucur dari lengannya. Dadanya nyeri. Namun itu semua tidak seberapa dibandingkan dengan semangatnya yang telah habis bersamaan dengan nafas dan tenaganya.

Ia masih terbaring. Rasanya tidak ingin bangun lagi.

Kedua prajurit Mataram tersebut mendekat. Mereka menarik nafas. Antara lega dan bernafsu menghabisi musuh yang memang sangat kuat ini. Mereka mendekati Nio Hongko yang terkapar di tanah dengan cepat. Mereka saling berpandangan dan mempersiapkan kedua tombak mereka untuk menghujam sang musuh yang kini terkapar di tanah, menyelesaikan tugas mereka.

Nio Kongsing

Anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan selembar cawat itu berdiri tegap namun matanya berbinar terpesona melihat pemandangan luar biasa di depannya. Rambutnya yang panjang tanggung ia biarkan tergerai tanpa diikat atau digelung. Di hadapannya dua orang laki-laki sedang melakukan adu tanding. Dua orang yang sama sekali berbeda bahkan mungkin bertolak belakang dalam hampir semua sisi.

Satu orang yang lebih muda adalah seorang keturunan Cina yang berkulit putih dan bermata sipit, sedangkan satunya lagi lebih tua dengan paras wajah yang tegas. Hidungnya sangat mancung. Bersama keningnya yang menonjol menyembunyikan kedua matanya yang lebar.

Kulit wajahnya yang kemerahan dihiasi rambut-rambut lebat yang membentuk janggut dan brewok panjang. Laki-laki tua ini berasal dari Parsi atau biasa disebut Khorasan oleh orang Jawa. Keduanya juga bertelanjang dada dan mengenakan celana panjang hitam yang diikat di bagian pinggangnya dengan seutas tali.

Si lelaki Cina meliuk-liukkan badannya sambil terus menyabet menggunakan jian, sebuah pedang Tiongkok yang tajam di kedua sisinya. Sedangkan si Parsi tua meloncat-loncat dan memutar-mutarkan pedang shamsir nya yang ditempa di Damaskus. Pedang berbentuk melengkung itu menari-nari di tangan si Parsi tua.

Gerakannya memotong dan membelah. Bentuk shamsir yang melengkung memang dirancang untuk tebasan panjang. Dengan bentuk tersebut, ketika shamsir memotong tubuh lawan, pedang tersebut akan terus melewati daging sehingga dapat langsung digunakan untuk kembali memberikan serangan lanjutan. Bentuk yang melengkung memungkinkannya tidak terhambat karena tersangkut di tubuh lawan seperti pedang lurus misalnya.

Serangan membelah dari atas ke bawah menggunakan shamsir biasanya di arahkan kepada kepala dan meretakkan tengkorak, memapras bahu dan lengan serta pergelangan tangan atau menebas tangkai tombak yang diarahkan musuh. Sebaliknya serangan membelah dari bawah ke atas dilakukan dengan cepat untuk ruang terbuka di ketiak dan ************, menyasar kelamin musuh. Sedangkan serangan mendatar dari kiri ke kanan atau sebaliknya menyasar leher dan memancung kepala, merobek mulut dan wajah, menebas perut atau punggung, menatak tulang kering dan lutut atau kaki secara keseuruhan.

Kedua pendekar berbeda umur dan suku bangsa tersebut berjumpalitan melenting menghindar dan mencari celah untuk memasukkan serangan terbaiknya. Sekali dua kedua bilah pedang tersebut berbenturan menciptakan percikan api. Kedua jurus-jurus silat yang ditunjukkan mereka memiliki keunikan masing-masing meski sama-sama lincah dan sama-sama cepat. Si lelaki Cina yang lebih muda memainkan pergelangan tangannya dengan jian nya yang meliuk-liuk bagai angin puyuh kecil namun membahayakan. Tusukan dibarengi dengan sabetan pendek-pendek mengejar mangsa. Ujung pedang yang tajam juga digerakkan sedemikian rupa sehingga meliuk-liuk bagai kepala ular yang siap mematuk.

Jian yang merupakan pedang khas Tiongkok tersebut selain sebagai senjata, memiliki nilai yang hampir mirip dengan keris. Jian digunakan sebagai petunjuk kebangsawanan atau harga diri si pemilik. Seseorang yang memiliki jian tidak hanya dianggap seorang pendekar atau prajurit, namun juga berasal dari keluarga atau kelompok masyarakat kasta tinggi atau wangsa terhormat. Pada masa sebelum dinasi Qin di Cina, jian dibuat menggunakan bahan dasar perunggu. Pada masa kerajaan wangsa Qin ini yaitu tahun 221 sampai 206 Sebelum Masehi, walau besi baru dikembangkan, jian perunggu sudah terkenal kehebatannya.

Jian perunggu ini memiliki kekuatan dan ketajaman luar biasa sehingga dapat memotong keping uang logam walau jian tersebut telah berusia ratusan tahun dan tertimbun di dalam tanah. Besi baru digunakan sebagai bahan jian pada masa wangsa Han, yaitu tahun 206 sebelum Masehi sampai 220 Masehi, wangsa Jin tahun 265 sampai 581 Masehi dan wangsa-wangsa Selatan dan Utara yaitu tahun 420 sampai 581 Masehi.

Jian yang dipakai lelaki Cina ini jelas menunjukkan tingkatan kemasyarakatannya, paling tidak di kelompok masyarakat Cina. Karena untuk seorang prajurit perang, dao adalah senjata mereka. Yaitu pedang Cina yang lebih lebar dan panjang. Dao ini yang dipakai rata-rata pasukan Endrasena yang berjumlah dua ratus tersebut untuk melawan pasukan Mataram dan Surabaya nanti di kemudian hari. Jian sendiri digunakan oleh para pejabat kerajaan atau perwira tingkat yang lebih tinggi di dalam pasukan.

Sedangkan untuk sang Parsi tua yang menggunakan shamsir nya lebih memiliki jurus yang tegas. Setiap potongan dan sabetan yang diarahkan ke lelaki Cina menderu-deru bagai topan. Badannya juga berputar-putar gesit sembari memapras tubuh lawan. Gerakan utama terletak di lengan bawah dan bahu dalam mengendalikan shamsir. Pedang yang seperti berbentuk bulan sabit itu seakan memang ditakdirkan untuk digerakkan dengan jurus demikian.

Setelah beberapa jurus keduanya mundur, menarik nafas serta secara serentak melipatkan pedangnya di belakang lengan mereka. Keduanya saling menghormat. Sang lelaki Cina muda menyoja dengan cara mengepalkan tangan kanan dan menutupnya dengan telapak tangan kiri.

Gerakan ini menunjukkan rasa hormat orang Cina dengan makna bahwa tangan kanan yang terkepal adalah tangan yang biasa digunakan untuk berkelahi dan bertarung, namun ketika ditutup dengan telapak tangan yang satunya, ini menandakan bahwa kepal tangan perlambang nafsu berkelahi tersebut ditahan dan disembunyikan untuk menunjukkan rasa damai dan hormat.

Anak laki-laki yang sedari tadi memperhatikan pertarungan kedua orang tersebut tak bisa menahan untuk tidak bertepuk tangan dan bersorak, “Hebat.. hebat ..,” ujarnya sembari terus bertepuk tangan dan melonjak-lonjak.

“Ayahanda dan kakek sama-sama hebat,” ujarnya lagi dengan suara melengking khas seorang bocah laki-laki.

Kedua laki-laki berbeda umur tersebut tersenyum memandang anak laki-laki itu. “Nah, apa yang dapat kau pelajari sekarang anakku, Asing?” si pria Cina yang ternyata adalah ayah kandung si bocah laki-laki tersebut bertanya.

“Kalian memiliki jurus-jurus yang hebat walau berbeda.”

“Jelaskan perbedaan itu, cucuku?” si Parsi tua kali ini yang bertanya dengan suaranya yang dalam dan berat. Walau memang sedikit mengherankan, namun kakek Parsi itu juga ternyata adalah benar-benar kakek kandung di bocah.

“Begini kakek Husein. Kakek menggunakan jurus-jurus yang lebih tegas. Sabetan pedang kakek ditujukan untuk memotong dan membelah. Yang paling unik adalah letak kaki kakek yang melangkah pendek-pendek dan juga kerap meloncat-loncat namun sabetannya panjang. Seperti anak seusiaku yang sedang bermain-main namun sangat tepat dan berbahaya. Sedangkan ayah menggunakan jurus pedang yang cenderung menyabet dan menusuk dengan meliuk-liukkan ujung pedangnya. Sulit sekali melakukannya tanpa gerakan yang luwes. Gerakan sabetan pedang ayah pun terkesan pendek-pendek namun bertubi-tubi,” si bocah menjelaskan dengan panjang lebar.

Kedua orang laki-laki yang merupakan ayah dan kakek kandung sang bocah pun mengangguk-angguk menunjukkan kepuasan.

“Lalu, menurutmu bukankah jurus kakek lebih hebat dari ayahmu?” kata sang kakek sembari mengelus jenggotnya.

“Ha ha ha … maafkan atas kekurangajaranku ayah mertuaku yang kuhormati ini. Tapi sudah jelas bahwa jian su empat arah mata anginku yang paling mumpuni. Aku lebih muda, lebih cepat, dan lebih lincah,” si pria Cina tertawa karena tidak setuju dengan ucapan ayah mertuanya.

“Hei Hongko, masih muda saja kau tidak dapat menyentuhkan seujung kuku saja pedangmu itu di tubuhku, apalagi sampai melukaiku. Pedang Damaskus ini terus berputar di sekeliling tubuhku bagai bola baja. Bahkan aku bisa saja melukaimu bila aku inginkan,” kata sang kakek.

“Ha ha ha … jangan membuatku tertawa lebih keras ayah. Pedangmu hanya berputar-putar seperti ayam yang melindungi telur-telurnya. Sama sekali tidak berbahaya. Karena akulah yang sebenarnya menahan jurus-jurusku yang lebih luas dan gesit agar kau tidak terluka.”

Begitulah, walau terdengar kasar, sebenarnya percakapan ini adalah percakapan wajar dari dua orang pendekar sang sama-sama mumpuni dan berilmu tinggi. Pertarungan mereka tadi pun sebenarnya adalah adu jurus, pertunjukan rangkaian serangan dan pertahanan diri menggunakan kedua senjata. Pertunjukan pertarungan mereka berdua seakan memang ditujukan untuk sang putra dan cucu kedua pendekar ini agar menjadi semacam pelajaran kanuragan.

Bila dirunut latar belakang mereka, si pemuda pendekar Cina yang bernama Nio Hongko dalam bahasa Cina Hokkien sebenarnya adalah anak dari seorang prajurit Cina yang menikahi seorang gadis Jawa di pesisir timur. Ketika lahir, karena ayahnya adalah seorang Cina maka ia menerima nama she atau nama keluarga Nio.

Jelas karena ayahnya adalah seseorang dengan ilmu kesaktian mumpuni, Hongko juga mendapatkan gemblengan langsung dari ayahnya yang mengajarkan semua kesaktian dan jurus-jurus bertempur yang ampuh. Menurut cerita sang ayah, keluarga Nio telah beranak-pinak menjadi pendekar. Mereka adalah keluarga Cina muslim yang bila dirunut garis kekeluargaan mereka berasal dari suku Hui di Tiongkok.

Nenek moyang Hongko juga ada yang berasal dari Kanton yang menetap di Giri melalui pelabuhan Gresik. Kedatangan nenek moyang Hongko ini juga diangggap bersamaan dengan kedatangan Maulana Ibrahim, Maulana Mahpur berserta pengikutnya yang berjumlah empat orang dari Geddah yang kemudian menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa.

Nio Hongko, sama seperti ayahnya kemudian mengabdi kepada kesunanan Giri Kedaton. Keluarga mereka juga telah mengabdi kepada Sunan Giri sejak masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Saat pengabdiannya inilah pula Hongko berjumpa dengan anak perempuan sang kakek Parsi.

Sang mertua Hongko yang bernama Husein ini adalah seorang pria asal Parsi yang telah lama tinggal di pulau Jawa. Tujuan dasar Husein adalah berdagang. Namun begitu, ia bukan pedagang biasa. Ia juga dibekali ilmu kanuragan yang mumpuni yang ia pelajari di tanah asal. Ilmu ini sangat berguna ketika ia harus pergi berdagang sekaligus berdakwah di tanah Jawa yang dikenal keras dan kejam pada masa itu. Tidak semua orang Jawa adalah orang-orang yang ramah dan bersikap baik terhadap para pendatang dari mancanegara. Belum lagi perampok dan begal yang bersembunyi di hutan-hutan rimba dan gunung-gunung yang angker.

Husein berlayar ke pulau Jawa bersama beberapa pengikut dan rekan-rekan dagangnya orang-orang Parsi yang kebanyakan mencari nafkah dengan berjualan batu mulia atau obat-obatan. Ia juga kemudian menikahi seorang perempuan Jawa yang hidup dalam daerah kekuasaan kerajaan Mataram.

Pasangan suami istri Parsi Jawa ini kemudian dianugerahi seorang anak perempuan, Siti Aisyah, dan seorang anak laki-laki, Abdul Gafur yang juga dikenal dengan nama jawa nya, Badranaya. Anak perempuan Husein ini lah, Siti Aisyah, yang menurut Hongko merupakan kecantikan sebenarnya.

Parsi dan Jawa yang terpadu membuat mata dan hati Hongko tak dapat lari lagi. Ia kerap memanggil sang istri dengan sebutan Roro Srengenge yang dalam bahasa Jawa berarti putri matahari karena wajahnya yang terang dan menyilaukan hati Hongko, walau sebenarnya Roro sendiri adalah sebuah gelar resmi bagi cucu perempuan susuhunan yang berdarah ningrat atau bangsawan. Tak apa, toh Siti Aisyah adalah ningrat bagi Hongko.

Hebatnya lagi, Hongko dan Husein adalah sesama pecinta oleh kanuragan. Hongko dan Badranaya sang putra kedua Husein juga sama-sama menjadi prajurit pembela keraton Giri sewaktu Giri diserang Surabaya dan Mataram. Beberapa kali pertemuan Hongko dan Husein yang harus dimulai dengan pertarungan malah membuat Husein mantap menerima Hongko sebagai menantunya.

Hongko dan Siti Aisyah tak lama setelah pernikahan langsung dikarunai seorang anak laki-laki.

Sang bocah, yang kemudian diberi nama Nio Kongsing, namun karena ia juga memiliki separuh darah Jawa juga dipanggil Jayaseta, memiliki penampilan yang nyaris berhasil merangkum semua ciri-ciri tubuh orangtuanya. Walau masih belia, ia sudah menunjukkan tubuh yang tegap dan tinggi yang diturunkan oleh kakek melalui ibunya, melebihi tinggi rata-rata teman-teman sebayanya. Walau matanya sipit, hidungnya mancung.

Bagi orang Jawa, sudah barang tentu ia dianggap seorang belia yang tampan. Kulitnya sedikit lebih terang bila dibandingkan dengan teman-teman Jawanya, campuran kulit ayah dan kakeknya, walau akan tersamar oleh warna gelap pula karena sering terpapar sinar matahari. Percampuran ini belum selesai sampai disini.

Kecerdasannya yang luar biasa ternyata mampu membuat orangtuanya, terutama ayah dan kakeknya bangga. Karena dalam olah kanuragan ia sepertinya gampang menyerap apapun yang diajarkan oleh kedua guru utamanya tersebut.

Sejak umur tiga tahunan sewaktu pertama kali digembleng, Jayaseta selalu menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Seperti kali ini, ketika ayah dan kakeknya mulai menunjukkan jurus-jurus kanuragan menggunakan senjata. Ia dengan segera meniru sebisanya.

Dengan rotan panjang di tangannya, ia berjumpalitan meniru jurus-jurus jian su ayahnya. Tak berapa lama dengan rotan yang sama, ia meloncat-loncat sembari meumutar-mutarkan rotan tersebut meniru gerakan pedang sang kakek.

Kakek dan ayah Jayaseta sebenarnya sudah tak terkejut lagi melihat kemampuan meniru jurus Jayaseta ini. Sejak dari usia enam tahun saja, Jayaseta telah menunjukkan kehebatan dan bakat kanuragannya. Ilmu silat dasar dari pasukan santri Giri yang diberikan ayahnya sejenak saja dapat langsung diselesaikan dalam hitungan bulan. Ilmu pedang, keris dan tombak silat Jawa yang menjadi dasar gerakan pasukan Giri ditelan dengan sekaligus. Maka tak heran Hongko dan Husein berpendapat bahwa sudah saatnya mereka mengajarkan jurus-jurus khusus yang menjadi andalan mereka, ilmu pedang Damaskus dan silat Cina.

Hongsing alias Jayaseta mampu menyerap jurus-jurus pedang sang kakek yang berputar-putar dan membelah dengan tegas itu. Tidak hanya itu, ilmu silat Parsi juga terkenal dengan tangan kosongnya. Bedanya dengan silat Jawa, ilmu silat Parsi mengutamakan bantingan, kuncian dan gulat. Ilmu silat ini memang dirancang bagi para prajurit Parsi yang ketika dalam perang terpaksa kehilangan senjatanya.

Dengan menubruk musuk, bergulat di tanah dan menghancurkan musuh dengan mematahkan tangan atau menghajarnya ketika berada di bawah, merupakan sebuah gaya silat yang tepat untuk sesegera mungkin menghindari sabetan pedang yang memang panjang dan tajam dari musuh.

Dalam ilmu silat, Jayaseta dilatih menyerang musuh dengan memukul dengan telapak tangan dan tinju, menendang dan menyikut. Ia juga diajari menghindar dari serangan, berkelit, menangkis atau mundur menghindar. Namun khusus jurus-jurus Parsi sang kakek, Jayaseta dilatih bagaimana bergulat berguling-guling di tanah, membanting musuh ke bumi dan mengunci persendian lengan, kaki atau leher musuh.

Dengan ilmu silat Parsi ini, otot-otot muda Jayaseta menjadi semakin liat dan kepekaan rasanya semakin terlatih. Ia tidak hanya dapat menyerang dan menghindar dari serangan musuh, ia juga dapat melumpuhkan musuh dengan cara yang tidak diduga-duga. Sedangkan dari sang ayah yang memiliki dasar ilmu Cina suku Hui, Jayaseta dilatih kelincahan dan kelenturan tubuh. Ia dapat melakukan gerakan-gerakan gesit seperti melejit ke udara, berputar, mencelat dan beragam gerakan lincah lainnya.

Dalam usia yang sangat muda Jayaseta telah mampu menyerap kelincahan sang ayahanda, termasuk keuletan sang kakek. Tentu saja Hongko dan Husein tak dapat menahan rasa bangga yang meletup-letup di rongga dada mereka melihat sang cucu dan anak yang juga adalah murid mereka sangat berbakat dalam ilmu kanuragan. Mereka akan lebih bangga lagi bila saja mereka tahu bahwa beberapa tahun kemudian, Nio Kongsing alias Jayaseta akan menjadi seorang pendekar tanpa tanding yang terkenal di jagad persilatan dengan gelar Pendekar Topeng Seribu.

Pendekar Bertopeng Panji

Tombak bermata luk bak keris menusuk perut Hongko. Darah segar menyelip keluar dari sela-sela tusukan tombak itu. Tusukan itu tidak sempat masuk terlalu dalam karena dengan kekuatannya yang tersisa dan dalam keadaan terbaring, ia masih dapat menahan tombak itu untuk masuk lebih dalam ke perutnya. Namun untuk berapa lama?

Satu prajurit Mataram lainnya melihat ini sudah siap untuk menusukkan tombaknya ke dada Hongko yang masih dengan segenap sisa kekuatannya menahan tusukan tombak yang pelan-pelan semakin masuk merobek dagingnya. Sang prajurit pun mengambil ancang-ancang. Mengangkat tombak dan siap menghujamkannya.

SLEP!

Tiba-tiba sebuah lempengan gelang besi yang sangat tajam menancap di kepala terbalut iket sang prajurit Mataram yang hendak menghujamkan tombaknya ke dada Hongko. Lempengan gelang besi tajam itu adalah sebuah cakram yang dileparkan dengan ketepatan, kekuatan yang kelihaian yang luar biasa.

Sang prajurit ambruk tanpa suara.

Tak lama sesosok tubuh menyeruak dari pepohonan yang nampaknya darimana cakram itu dilempar. Dengan menggenggam sebuah pedang yang melengkung, sosok itu jelas menunjukkan permusuhan dan berusaha menyerang sang prajurit lainnya.

Sang prajurit yang sedikit terbengong karena temannya tumbang menjadi waspada. Segera ia mencabut tombak yang masih menancap di perut Hongko. Hongko tersedak. Darah mengucur dari luka tersebut.

Dengan tombak yang kini bebas, sang prajurit langsung mempersiapkan kuda-kudanya. Pertarungan tak terhindarkan. Pedang melengkung beradu dengan gagang tombak, namun hanya sekali. Sang sosok berputar dengan gesit dan berhasil membacok bahu sang prajurit. Tanpa menunggu lagi, dengan kecepatan yang luar biasa sang sosok berputar lagi ..

CRAS!

Kepala sang prajurit Mataram menggelinding ke tanah.

Samar-samar Hongko melihat sang sosok yang mengenakan celana pangsi – celana selutut – hitam dan berkaki telanjang. Baju sejenis tui-khim putih tanpa kerahnya ditutupi rompi beskap hitam. Ia mengenakan topeng. Sebuah topeng tokoh Panji berwarna putih yang tidak menampakkan wajah dan perasaan orang dibaliknya sama sekali. Sosok itu mendekat, “Ayah …”

Sudah barang tentu Hongko terkaget-kaget. Ia mengenali suara itu sebagai suara sang putra, Jayaseta. Apalagi Hongko juga mengenai pedang shamsir yang digenggam erat oleh sang sosok bertopeng tersebut. Ternyata memang benar adanya bahwa sosok di balik topeng tersebut adalah sang putra ketika Jayaseta membuka topengnya, meletakkan pedangnya di tanah dan segera mendekati ayahnya yang terbaring luka dan tak berdaya.

“Apa yang kau lakukan disini, nak?” dengan terbata-bata, Hongko berkata-kata. “Aku sudah katakan untuk pergi dari Giri. Lindungi penduduk dari serangan pasukan Surabaya dan Mataram. Gunakan ilmu kanuraganmu untuk membantu mereka!”

“Tapi ayahanda … aku tidak bisa meninggalkan ayah disini. Pasukan Surabaya dimana-mana. Aku berhasil membunuh beberapa diantara mereka dan menyelamatkan penduduk manjauh dari Giri. Lalu aku teringat ayah.”

Mendengarnya entah mengapa dalam keadaan semacam ini, dada Hongko malah bergemuruh. Ia merasakan perasaan bangga yang aneh. Si Kongsing atau Asing alias Jayaseta telah tumbuh menjadi seorang remaja pendekar pada usianya yang masih belasan ini.

Hongko menyaksikan otot-otot tangan dibalik lengan baju koko sang putra meliat. Wajah sang putra tampan dengan rambut panjang yang ia gulungkan di bagian belakang kepalanya serta ditutupi dengan kain. Walau masih menunjukkan hawa keremajaannya, ketegasan seorang jawara telah menunjukkan sinarnya.

Dari awal ketika perang sudah mulai berkecamuk, Hongko telah menegaskan kepada sang anak untuk berani. Berani berperang, berani melawan kesewenang-wenangan dan kebatilan, berani melawan kekuasaan Mataram yang sudah menginjak-injak harga diri orang-orang Giri Kedaton. Sang raja yang sedang sibuk menawarkan, atau lebih tepat memaksakan gambaran Jawa Islam di bawah satu matahari, yaitu Mataram.

Hongko menjelaskan dengan gamblang kepada sang anak agar bersiap untuk berani membunuh siapa saja yang menginjakkan kaki di tanah Giri Kedaton dengan maksud buruk. Walau Jayaseta masih muda dan belum benar-benar paham keadaan masyarakat, kenegaraan dan keagamaan Mataram dan Giri Kedaton, peperangan sudah tidak dapat dihindari dan pasti Jayaseta harus siap suka atau tidak.

Lagipula, inilah inti dari mengapa selama ini Jayaseta ditempa dengan keras. Walaupun ia tak paham dengan segala permasalahan kenegaraan ini, hampir pasti seorang pendekar harus berani membela orang-orang lemah, apalagi orang-orang tersebut adalah sanak dulur dan orang-orang yang dikenalnya, seperti para penduduk Giri ini.

Ia pun awalnya telah dipersiapkan menjadi anggota pasukan Cina Endrasena. Namun Hongko tak menyangka bahwa Jayaseta telah sehebat ini. Baru saja Jayaseta bahkan mengatakan hari ini telah membunuh beberapa pasukan Surabaya dan Mataram. Belum lagi kejadian barusan, dimana sebuah cakram melesak ke kepala sang prajurit serta sebuah kepala terpancung. Bukankah hari ini berarti pertama kali anaknya ini membunuh?

Lalu kesedihan tiba-tiba mengalir di tubuh Hongko. Merayap cepat seperti sepasukan serangga mengerubungi bangkai tikus. Ia memikirkan nasib anaknya yang hebat ini. Apakah anaknya dapat selamat dari kekalahan Giri Kedaton? Ia sudah meminta Jayaseta untuk meninggalkan Giri sembari melindungi para penduduk. Namun ia malah kembali. Akankah ia selamat sebelum benar-benar matang ilmu kanuragannya dan menikmati hidupnya?

Tak sempat berpikir panjang, Hongko melihat serombongan pasukan lagi Surabaya dan Mataram akhirnya berhasil menemukan mereka. Keadaan menjadi semakin runyam sekarang. Sepertinya hal ini tidak disadari Jayaseta karena ia dalam keadaan menunduk ke arah ayahnya dan memunggungi rombongan pasukan yang baru tiba tersebut.

Terlihat jelas olehnya ketika rombongan pasukan ini tercekat melihat pemandangan yang ada dimana beberapa pasukan mereka terbunuh dengan dua orang pasukan Cina lainnya yang telah menjadi mayat. Salah satu prajurit demi melihat pemandangan ini langsung menggunakan tombaknya sebagai lembing dan melemparkannya ke arah Jayaseta yang masih sibuk mempedulikan luka ayahnya.

Demi melihat ini dengan segenap tenaga yang tersisa, Hongko memegang kedua bahu anaknya dan memutarnya hingga Jayaseta terhindar dari lemparan lembing itu. Jayaseta merasakan sang ayah dipelukannya, sebuah tombak menancap di punggung. Nyawa sang ayah mencelat keluar dari raganya tanpa suara. Pandangannya kosong menatap angkasa dan tubuhnya lemah sampai ke tulang-tulangnya. Ia ambruk sembari memeluk anak laki-lakinya.

Jayaseta menatap tak percaya pada tubuh ayahnya yang baru saja berubah menjadi seonggok mayat yang lemas yang menimpanya. Hati Jayaseta hancur berkeping-keping. Tak dapat digambarkan lagi betapa remuk hatinya yang seperti remah-remah, berderai ketika disentuh.

Dengan perasaan yang luar biasa hancur, Jayaseta menggeser tubuh sang ayah, berteriak pilu sembari dengan penuh amarah mengambil pedang shamsir milik almarhum kakeknya sekaligus meluncur cepat meraih jian milik sang ayah yang tergeletak tidak begitu jauh di tanah setelah dilemparkan ayahnya ke arah salah satu prajurit Mataram tadi.

Beruntung bagi Jayaseta karena dua jenis pedang tersebut adalah pedang satu tangan, dimana gagangnya memang diperuntukkan untuk digenggam dengan satu tangan. Ini berbe dengan dandao Cina atau katana dari negeri Jepun yang diperuntukkan untuk dipegang dengan kedua tangan. Dengan kedua senjata ini tanpa pikir panjang ia langsung menyerbu ke arah para prajurit Mataram tersebut.

Kedua pedangnya berputar-putar mencari mangsa dengan murka. Para prajurit menghindar sehingga walau Jayaseta menyerang dengan membabi buta belum ada sedikit bagian tubuh lawanpun yang tergores. Inilah permasalahannya, dengan kalap dan berlinang air mata jurus-jurus Jayaseta menjadi tak berbentuk.

Kemampuan bertarungnya seperti luntur dikarenakan perasaan sedih yang luar biasa. Benar kata orang bahwa kemantapan jiwa dan pikiran jauh lebih hebat dibandingkan kekuatan otot dan tubuh. Ketika pikiran dan jiwa terganggu, tubuh menyerah dan menjadi budak.

Walau paham bahwa ayahnya adalah seorang prajurit dimana kematian dan kehidupan hanya terpisah benang tipis, ia masih tidak bisa menerima kematian ayahnya yang memilukan ini. Sayang ia bingung menggunakan jian Cina di tangan kanannya dan pedang shamsir Damaskus di kirinya. Selain pikiran dan perasaannya yang tercerai berai, dua bentuk dan berat pedang yang sangat berbeda sangat menyusahkannya untuk mengatur gerak kaki dan tangannya.

Sekarang ia dikelilingi sekelompok prajurit Mataram yang demi melihat kebingungan Jayaseta dan wajahnya yang penuh kesedihan menjadi girang dan tertawa-tawa. Bagaimana tidak, pasukan Surabaya dan Mataram telah menang telak sedangkan di hadapan mereka hanyalah tampak seorang remaja yang nampaknya yang orang dicintainya tadi baru saja mati terkena lemparan tombak. Belum lagi sabetan-sabetan kedua pedangnya nampak seperti orang yang tidak bisa menggunakan senjata dan hanya terbawa amarah dan kesedihan.

Jayaseta dengan serangan yang membabi-buta pelan-pelan sadar semua sudah terjadi. Kesedihan menjadi semakin akrab dengan dirinya ketika sang ibu wafat setahun yang lalu karena sakit keras kemudian disusul oleh kakek guru yang sangat dicintainya beberapa hari kemudian. Kali ini ayahnya, sang prajurit sekaligus sang guru yang juga tewas dalam peperangan. Sebuah kematian yang terhormat bagi seorang prajurit sebenarnya. Bisa dikatakan sekarang ia adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki keluarga lagi, baik ayah bunda maupun kakek nenek.

Pelan-pelan Jayaseta mencoba menyerap semua kesedihan itu. Ia tidak mau lagi menghindari kesedihan yang teramat dalam ini. Ia terlanjut mengenalnya, ia mulai dapat menerima kenyataan pahit yang ia terima sekarang. Pesan ibu, ayah dan kakeknya yang pada dasarnya meminta ia untuk menjadi orang yang tangguh dan kuat dalam menghadapi hidup sekarang menjadi kekuatan sebenarnya. Harapan ayahnya agar ia menjadi seorang pendekar yang pilih tanding harus ia penuhi. Ia tidak boleh menyerah dengan perasaan. Seorang jawara harus mampu menaklukkan penghalang dari diri sendiri dahulu baru dapat melawan musuh.

Ia menenangkan diri. Merasakan jian di tangan kanannya yang berbentuk lurus panjang, tajam di kedua sisi dan lancip di bagian ujungnya. Ia teringat kata-kata ayahnya bahwa jian ini adalah hasil tempaan masa kerajaan wangsa Ming di Tiongkok sana dari bahan besi baja.

“Ingat Asing, jian bukan sekedar senjata tajam biasa. Berbeda dengan dao, jian adalah senjata seorang laki-laki terhormat dan memiliki martabat atau tingkatan di masyarakat yang lebih tinggi. Gerakan jurus-jurusmu tidak boleh hanya bersifat lincah dan gesit belaka, namun juga harus indah,” Jayaseta ingat perkataan sang ayah sewaktu mengajarinya ilmu jian. “Gerakanmu pantang kasar dan keras. Semua gerakan harus merupakan bentuk pengendalian dirimu sehingga walau lembut tetap menunjukkan kekuatannya, kekuatan seorang laki-laki sejati terhormat.”

Tak lama Jayaseta juga menimbang-nimbang pedang Damaskus di tangan kirinya yang melengkung dan begitu kokoh. Kali ini iapun teringat kata-kata sang kakek, “Pada awalnya pedang orang-orang Parsi berbentuk lurus dan memiliki dua sisi yang tajam. Namun pada masa Kesultanan Seljuk pada abad ke dua belas shamsir dibawa ke Parsi. Shamsir adalah basa Parsi yang sederhananya berarti pedang.

Shamsir yang juga sangat dikenal dengan lainnya yaitu simitar, berbentuk melengkung dan merupakan ciri pedang Muslim dari Arab dan orang-orang Muslim di tanah Hindustan atau yang dahulu dikenal juga dengan nama Jambudwipa. Bentuk shamsir yang melengkung membuatnya mantap untuk memotong dan membabat, tapi akan cukup sulit untuk digunakan menusuk musuh. Jadi kau memang perlu memiliki kemampuan yang mumpuni cucuku.”

Jayaseta sudah melatih jurus-jurus shamsir dengan bimbingan keras namun penuh kasih sayang sang kakek. Dalam menggunakan shamsir, Jayaseta harus memiliki kekuatan otot dan oleh tubuh yang luar biasa. Dalam pelatihannya, ia harus melatih kedua tangannya dengan melatih menggunakan beban sebelum memegang shamsir dan menggerakannya ke depan dan ke belakang serta ke atas dan ke bawah dengan cepat dan kuat.

Kemudian Jayaseta juga harus menggunakan semacam pemberat lain berbentuk seperti tapal kuda di kedua bahunya untuk membuat serangannya semakin bertenaga dan bagian sendi-sendinya terbiasa bergerak dengan lincah. Ini adalah latihan dasar yang harus dilakukan oleh para pendekar pedang di negeri Parsi sana.

Ia melihat sekelilingnya. Tawa para prajurit membayang diselingi gambaran senyum ayah dan kakeknya. Semua prajurit musuh menertawakan kesedihannya. Wajahnya lusuh dan basah oleh air mata. Jayaseta, meletakkan kedua pedang di tanah. Kemudian mengambil topeng Panji yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Mengenakannya dengan mantap dan kembali mengambil kedua pedang milik ayah dan kakeknya tersebut.

“Hua ha ha ha … hei apa maksudmu bocah?” salah seorang prajurit tertawa terbahak-bahak.

“Nang ning gong ning gong ning gong …” yang lain menirukan suara gamelan. Sedangkan yang lainnya terpancing dengan menggerak-gerakkan bahu dan tubuh mereka mengikuti irama. Mereka mengejek seakan si bocah remaja adalah seorang penari topeng dari Cerbon itu.

Sekarang para prajurit hanya dapat melihat sosok topeng berwajah putih pucat bermata kecil tanpa gambaran raut wajah asli dan perasaan bocah itu di depan mereka. Sejenak kemudian, tanpa diduga sama sekali tiba-tiba satu orang prajurit berteriak keras ketika melihat lengannya sepanjang bahu sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Sepotong tangan tersebut jatuh berdebum ke tanah bersama tombak yang ia pegang. Jayaseta berhasil memaprasnya dengan kecepatan yang hampir mustahil untuk diketahui. Sang prajurit pun ikut tergeletak di tanah menahan rasa sakit di bagian dimana tangannya terpotong dan darah menyembur deras.

Tawa lenyap di wajah pra prajurit. Sekarang teriakan amarah yang menggantikannya, “Serang … bunuh. …!!”

Mengherankan. Sosok bocah ini sama sekali berbeda dibanding beberapa saat lalu yang mereka pikir hanya seorang bocah remaja yang ketakutan. Setelah menggunakan topeng Panji ini, sang bocah berubah menjadi sosok yang liar dan sulit ditebak. Padahal bila disimak jurus sang bocah sama seperti sebelumnya, gerakan yang aneh, seakan tidak benar-benar dapat berkelahi. Namun bacokannya sangat berbahaya. Buktinya sebentar saja dua prajurit lagi tumbang dalam beberapa gerakan saja.

Bagi yang belum paham mungkin melihat Jayaseta tidak mampu bertarung, namun bagi yang mengerti, sebenarnya jurus-jurus yang ia gunakan adalah gabungan jian su empat arah mata angin Tiongkok milik ayahnya dan jurus pedang shamsir Damaskus milik sang kakek. Jurusnya menjadi sulit tertebak.

Setiap sodokan tombak yang menyerang tubuhnya berhasil ia elakkan atau tepis dengan cara berputar-putar, meloncat-loncat, bahkan kadang dengan meliuk di udara dan serangan balasannya membabi buta, sukar ditebak namun sangat mematikan.

Para prajurit walaupun dalam keadaan mengepung dan sepertinya unggul, sekarang malah bingung karena gerakan sang lawan yang liar dan tak tertebak. Dalam waktu singkat lagi seorang prajurit jatuh meregang nyawa dengan sayatan menyilang di dadanya dan bacokan memapras kuping kanan dan melesak ke kepalanya menyemburkan darah kental.

Dua lagi terluka juga dengan beragam sayatan dalam di lengan, bahu dan pinggang. Sisanya langsung mundur dan ragu-ragu sembari bergetar memegang tombak mereka kebingungan dan ketakutan akan keganasan sang lawan. Apakah seorang bocah atau sebenarnya iblis di balik topeng itu? Atau Endrasena yang telah tewas diterjang ***** panas senapan Pranggi Ratu Pandhansari kembali hidup di dalam tubuh sang bocah?

Jayaseta memang sangat tertarik dengan topeng. Di rumahnya ia memiliki beragam macam topeng. Dari topeng barong macan asal Bali, topeng Hanuman sang kera putih, topeng merah membara ganongan yang berhidung panjang dan bermata besar, sampai topeng Panji yang berwajah dingin ini. Ketika menggunakan topeng, ia merasa dapat menyerap semua jurus yang telah ia pelajari.

Dengan topeng ia dapat menjadi siapa saja, atau malah tidak menjadi siapapun. Musuh pun tidak dapat mengenali wajahnya dan apa yang ada di benaknya. Dengan topeng ganongan lah pertama kali dalam hidupnya beberapa tahun yang lalu, Jayaseta berhasil memasukkan bogem mentahnya sekaligus ke tubuh sang ayah dan kakek dalam latihan pertarungan mereka dan unggul dalam sebuah latihan adu tanding.

Jayaseta masih terus mengamuk, berputar-butar membabatkan kedua pedangnya dan membuat para prajurit yang menyeroyoknya berhamburan dan bergulingan menghindari serangannya. Amukan Jayaseta baru berhenti ketika tiba-tiba bunyi letupan senapan terdengar dan betis Jayaseta tertembus *****. Darah menyembur dari luka tersebut diikuti bau terbakar yang cukup menyengat. Ia goyang dan jatuh berlutut dengan sebelah kakinya masih berusaha menopang tubuhnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!