NovelToon NovelToon

A Royal Runaway Princess

Amira Léopold

Istana Brussels Belgia

Seorang pengawal wanita berlari di koridor istana menuju ruang kerja Raja Arsyanendra Léopold. Wanita itu tampak panik karena dia kehilangan princess yang dikawalnya.

Duh, aku bakalan dipindah ke Timbuktu!

"Ada apa Imelda?" tanya Thomas, pengawal Arsyanendra.

"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia," ucap Imelda panik.

"Soal?"

"Princess Amira kabur !"

***

Di Dalam Kelas Bisnis Qatar Airways

Amira menatap pemandangan dari jendela pesawat yang dinaikinya. Princess Belgia itu tampak asyik makan buah anggur yang diberikan dari pramugari. Gadis itu tampak usil karen bisa kabur dari Imelda yang cerewet dan menyebalkan.

Sebaiknya ke Los Angeles atau ke New York ya? Aku bosan di istana ... Bosan dengan protokoler ... Bosan dengan Omelan mommy. Haaaahhh, kenapa sih aku terlahir jadi putri dua kerajaan sih? Mana si Vava Bloom Bloom masih kecil jadi semua urusan Belanda, aku yang pegang ! Males banget!

Amira membuka Ipad-nya dan mulai merencanakan acara keliling Amerika menggunakan mobil. Amira menggelengkan kepalanya. Kamu bisa ke Afrika atau ke Asia Selatan yang tidak ada saudara tapi tetap saja kamu pilih Amerika? Memang tidak bisa jauh-jauh dari keluarga kamu, Mira !

Amira sengaja mematikan ponselnya tapi iPadnya tetap nyala.

Haaaiissshhh! Sama saja ! Mana GPS aku ada di anting dan jam Patek Philippe aku! Bodohnya Mira, kok ya pakai jam ini sih? Tapi warnanya aku suka.

Patek Philippe

"Maaf Daddy ... Aku pengen liburan setelah lulus kuliah," senyum Amira yang langsung memejamkan mata.

Amira Léopold adalah putri kedua Arsyanendra Léopold dan Violet van Bummel. Amira memiliki kakak laki-laki bernama Akira yang diplot menjadi putra mahkota Kerajaan Belgia. Menjadi pangeran dan putri dua kerajaan, membuat Amira harus berbagi tugas antara Belgia dan Belanda, karena putri mahkota Kerajaan Belanda masih kecil.

Amira adalah seorang putri berusia 21 tahun yang sudah selesai kuliah di ETH Swiss jurusan biologi. Amira suka dengan pelajaran yang berhubungan dengan alam dan seperti ayah dan ibunya yang cerdas, dan mulai kuliah di usia 15 tahun bersama dengan Akira yang mengambil pendidikan militer di ETH dan matematika.

"Maaf Daddy ... Tapi aku pengen liburan...."

***

Ruang Kerja Arsyanendra Léopold

"AAAPPAAA? AMIRA KABUR ?" seru Arsyanendra yang merasa kepalanya pening karena putrinya sangat bandel.

"Maafkan saya yang mulia ...." Imelda membungkukkan badannya.

"Haddeehhh, kemana anak itu !" Arsyanendra mengacak-acak rambutnya.

"Amerika."

Arsyanendra menoleh ke arah Thomas. "GPS?"

"Bukan, manifestasi penerbangan. Princess Amira memakai paspor diplomatik yang menunjukkan tiket ke Amerika. Belum pasti ke JFK atau ke LAX," jawab Thomas.

Arsyanendra melongo. "JFK? LAX ? New York? Los Angeles? Apa Qatar airways ke kedua kota itu ?"

"Iya yang mulia...."

"JFK! Amira paling hapal kota New York..."

"Princess Amira Léopold penerbangan kemana?" Thomas langsung menghubungi maskapai Qatar Airways. "New York?"

Arsyanendra merasa lega. Setidaknya disana banyak saudara.

"Cari pengawal buat Amira di Amerika Serikat. Berikan yang terbaik dari Belgia !" perintah Arsyanendra. Ampun deh putriku satu ini!

***

Consulates General of Belgium in New York

"Baik yang mulia," jawab Konsulat Jendral Belgia. "Saya akan mengirimkan pengawal terbaik bagi princess Amira."

Konjen itu pun keluar dari ruang kerjanya. "Daugherty!"

Seorang pria yang sedang duduk di kursi kerjanya pun menoleh. "Yes Sir !"

"Masuk kamu ! Ada tugas buat kamu !"

***

Bandara JFK New York

Amira pun berjalan keluar dari pintu kedatangan dengan wajah percaya diri. Gadis itu bersyukur tidak ada yang mengenali dirinya apalagi dia datang sendirian dengan gaya ala New Yorker.

Princess Belgia dan Belanda itu pun celingukan mencari taksi ketika seorang pria tampan mendatangi dirinya.

"Princess Amira Léopold," bisik pria itu membuat Amira mendelik.

Bagaimana ada orang yang bisa mengenali dirinya.

"Siapa kamu?" tanya Amira curiga.

"Grady Daugherty, pengawal anda."

Amira mendelik. AAAPPAAA?

***

Amira memajukan bibirnya saat berada di dalam mobil pria bernama Grady Daugherty.

Nama apa sih itu? Grady Daugherty? Mana wajahnya tidak terlihat darah Belgia nya!

"Apa kamu orang Belgia?" tanya Amira.

"Keturunan Belgia."

"Kamu warga negara Belgia?"

"Iya."

Amira melirik lagi. "Siapa yang menyuruh kamu jadi pengawal aku?"

"Ayahanda tuan putri."

Amira semakin memajukan bibirnya. Daddy tuuuuuhhh!

"Yang mulia mengkhawatirkan anda, tuan putri," lanjut Grady.

Amira melengos. "Terus kamu hendak membawa aku ke keluarga O'Grady atau Dewanata atau Blair ?"

Grady menggelengkan kepalanya. "Saya diperintahkan untuk mengawal anda. Pertanyaannya, anda mau kemana dan ngapain?"

Amira menatap Grady. "Serius?"

Grady mengangguk. "Serius."

"Oke, aku mau keliling Amerika dan bercinta dengan banyak pria !"

Grady langsung mengerem mendadak namun tangan kanannya masih sempat melindungi kening Amira agar tidak membentur dashboard.

"Tuan putri!"

Amira menatap Grady. "Apa?"

"Apakah anda ingin ayah anda membunuh para pria itu?"

Amira cekikikan. "Ayo jalan !"

Grady menggelengkan kepalanya. Ya ampun! Ini benar-benar tugas tidak menyenangkan! Siapapun tahu jika Putri Amira Léopold adalah putri Badung, seenaknya sendiri dan tukang merepotkan para pengawal istana.

"Apakah kamu pengawal?" tanya Amira.

"Bisa dikatakan begitu."

"Pengalaman kerja kamu?"

"Mengawal ayah anda, setahun lalu."

Amira mengangguk. "Pertemuan PBB ?"

"Benar tuan putri." Grady membawa mobilnya masuk ke dalam parkiran bawah tanah sebuah apartemen.

"Kita dimana ini?" tanya Amira.

"Apartemen aku. Boleh dibilang aku harus mengambil beberapa barang karena saya yakin, kita akan lama perginya." Grady mematikan mobilnya. "Anda mau ikut turun atau disini saja?"

"Ikut turun. Ingin tahu apakah apartemen kamu seperti tentara." Amira pun ikut keluar dari mobil tanpa menunggu Grady membukakan pintu. Keduanya pun berjalan berdampingan menuju lift.

Amira tidak heran melihat bagaimana bersih dan teraturnya apartemen Grady. Sangat khas militer! Amira bisa merasakan bahwa pria yang ditunjuk menjadi pengawalnya selama di Amerika, adalah seseorang yang dasarnya sama seperti Akira.

Amira melihat ada foto diatas bufet dan tampak Grady bersama dengan orang tuanya. Pantas wajah dia boleh juga, karena kedua orangtuanya juga good looking.

"Ayo princess, kita keliling Amerika!" ajak Grady yang sudah siap dengan koper besarnya.

Amira mengangguk. "Ayo !"

***

Yuhuuuu, up malam Yaaaaa

Akhirnya bungsunya mas Arsya netas juga. Semoga kalian suka.

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

Grady Daugherty

"Kita naik ini?" Amira melongo saat melihat mobil Mustang convertible bewarna merah dan berbeda dengan mobil nissan suv yang dipakai sebelumnya.

"Tuan putri, saya tahu anda sudah memesan mobil sewa supaya tidak terlacak tapi anda kurang hati-hati hingga terlacak oleh kami."

Amira mengumpat dalam hati karena dia masih amatir untuk urusan kabur mengabur serta menutupi jejak. Harusnya tanya Oom MK atau Oom Junjun... Tapi nanti malah ketahuan, berabe ! Nggak tanya saja sudh terlacak !

"Jangan mengumpat tuan putri. Tidak cocok!" senyum Grady membuat Amira menyipitkan matanya. "Saya tahu anda ingin ke California lewat jalur darat dan Thomas sudah menemukan anda memesan BMW convertible untuk perjalanan jadi kenapa tidak memakai mobil saya saja?"

"Ini mobil kamu?" tanya Amira.

"Kenapa princess? Tidak percaya?" balas Grady sambil memasukkan semua koper Amira ke dalam bagasi.

Amira memajukan bibirnya membuat Grady menghitung sudah berapa kali tuan putri bandel ini selalu melakukan itu kalau sedang gusar.

Sepertinya kebiasaan tuan putri seperti itu. Bibirnya makin seksih saja .... Grady menggelengkan kepalanya karena mulai memikirkan yang aneh-aneh soal Amira. Ingat G, dia itu tuan putri, keturunan bangsawan, putri kesayangan Raja Arsyanendra!

"Oke, Grady Daugherty ... Show me what you got ( tunjukan kemampuan kamu )," ucap Amira sambil berjalan masuk ke kursi mobil Mustang itu. "Sangat Amerika, huh?"

"Jika anda memang ingin menikmati acara keliling Amerika dari New York ke Los Angeles, tanpa acara tidur dengan banyak pria," tekan Grady dengan mata tajam ke mata biru abu-abu Amira, "Harus menggunakan mobil buatan Amerika untuk lebih menjiwai."

Grady lalu duduk di kursi pengemudi dan mulai menyiapkan GPS nya. "Apa anda yakin langsung berangkat tanpa harus istirahat dulu?"

"Jalan Daugherty!" perintah Amira dengan gaya princessnya.

"Yes, princess." Grady menjalankan mobil Mustangnya keluar dari parkiran mobil apartemen.

***

Istana Brusels Belgia

"Amira kabur?" seru Sean Léopold heboh lalu melirik ke arah istrinya, Zinnia. "Macam siapa ya?" sindir pria yang masih ganteng meskipun sudah tidak muda lagi.

"Macam siapa Sean?" balas Zinnia dengan wajah polos membuat Sean menyipitkan matanya sebal ke istri cantiknya.

"Untung aku cinta mati sama kamu, Zee," ucap Sean gemas.

"Ampun deh anak itu!" Arsyanendra sambil berjalan mondar mandir dengan wajah kesal.

"Disaat kamu selalu bilang 'Asya pikir-pikir dulu', putrimu langsung kabur tanpa berpikir du kali," kekeh Violet membuat Arsyanendra semakin manyun.

"Amira sama siapa Sya?" tanya Sean yang sebenarnya super khawatir dengan cucu perempuannya yang super bandel terlepas Amira bisa bela diri dan menembak. Tapi Amira sering impulsif!

"Konsulat Jenderal Belgia sudah mengirimkan Grady Daugherty sebagai pengawal anakku," jawab Arsyanendra.

"Grady cakap kok mas," timpal Avaro, adik Arsyanendra. "Dia bisa bela diri, menembak dan ... Cukup ganteng."

Arsyanendra melengos. "Semoga tidak stress dengan Amira."

"Sya, daddy kok lebih khawatir dengan Grady dibandingkan ke Amira..." Sean menatap putra sulungnya.

"Nanti aku siapkan psikiater dan psikolog buat Grady!" jawab Arsyanendra gemas. Ampun deh putriku.... Apa gara-gara Violet hamil Amira, aku ribut dengan duo dokter jagal itu jadi kebawa ke putriku? Ampun deh !

***

Dalam Mobil Mustang Hitam

Grady menyetir mobilnya dengan gaya santai sementara Amira sibuk bermain ponselnya untuk mengabari keluarganya di New York bahwa dirinya baik-baik saja. Opanya, Omanya, Oom, Tante dan para sepupunya sudah ribut macam tawon termasuk Shaqeer Peterson yang sedang menyelesaikan pendidikan di FBI dan Kenneth Ferguson di MI6.

"Haaaahhh ... Pada ngereog!" gerutu Amira sambil menyandarkan kepalanya di headrest kursi mobil.

"Karena anda main kabur, princess."

Amira menoleh ke arah Grady. "Dengar, Darling, menjadi Princess itu capek! Tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun. Bahkan untuk berpacaran pun, banyak pihak yang macam mata-mata KGB meskipun KGB sudah tidak ada ! Aku itu ingin hidup normal, tidak ada jadwal harus kunjungan sana sini, tidak ada ..."

"Kita tidak bisa memilih dimana kita lahir, siapa orang tua kita dan seperti apa kehidupan kita. Orang lain melihat kehidupan princess enak tapi bagi princess itu menyiksa." Grady menoleh ke arah Amira. "Anda harusnya bersyukur, princess. Anda lahir di keluarga yang sangat mencintai anda dimana tidak banyak orang yang merasakan itu."

"Apakah kamu merasakan hal yang tidak mengenakkan, Grady Daugherty?" tanya Amira.

Grady hanya tersenyum rahasia.

Amira menyipitkan matanya. "Grady, kamu sudah membuat aku penasaran. Come on..."

"Tidak semuanya anda harus tahu, princess."

Amira bersedekap sambil memajukan bibirnya... Lagi. Grady melirik ke arah Amira. Princess satu ini memang menggemaskan! Sayang, bandelnya minta ampun!

Suara ponsel Grady berbunyi dan pria itu lalu menerimanya. "Selamat siang yang mulia pangeran Akira."

"Siang Grady. Adikku bersamamu?" tanya Akira melalui panggilan telepon di mobil Grady.

"Iya tuanku pangeran. Apakah anda ingin berbicara dengan tuan putri?" Grady menoleh ke Amira.

"Apa mas?" sahut Amira ogah-ogahan.

"Jangan membuat Grady migrain ya, dik."

"Kalau itu aku nggak janji!" balas Amira.

"Dik ...."

"Iya deh !" Amira manyun lagi membuat Grady tersenyum karena tuan putri satu ini hobinya manyun.

"Hati-hati Grady. Meskipun Amira tidak terlalu dikenal di Amerika tapi bisa saja ada yang mengenali adikku itu."

"Baik my prince," jawab Grady Daugherty.

Akira mematikan panggilannya dan Grady kembali konsentrasi menyetir.

"Anda seharusnya bersyukur, keluarga anda sangat memperhatikan anda," ucap Grady.

"Menurutmu begitu?" Amira menoleh ke pria ganteng yang memakai kacamata hitamnya.

"Keluarga anda panik, iya tapi mereka memberikan kepercayaan pada anda untuk menikmati acara kabur anda," jawab Grady.

Amira membenarkan posisi duduknya dan menatap Grady. "So, kamu umur berapa Grady Daugherty?"

"Lebih tua dari anda yang jelas, tuan putri."

"Aku tahu. 30?" tebak Amira.

"29 tepatnya."

"Tua amat!"

Grady tersenyum. "Kalau itu memang benar dibandingkan dengan anda yang baru 21 tahun."

"Berapa wanita yang sudah kamu tiduri?" tanya Amira tanpa basa basi membuat Grady melongo.

"Pertanyaan apa itu ?" Grady harus menenangkan jantungnya dengan pertanyaan tanpa filter itu.

"Aku hanya ingin tahu...."

"Itu urusan pribadi saya, tuan putri."

Amira mengangguk. "So, apakah menurut kamu, aku itu cantik?" tanya Amira sambil mengibaskan rambut hitamnya yang merupakan warisan dari Zinnia.

Harum shampoo dari rambut Amira tercium di hidung mancung Grady. Semoga aku tidak kena stroke di usia muda gara-gara mengawal putri manja satu ini.

"Anda memang cantik, tuan putri."

"Apakah kamu tertarik padaku?" kerling Amira membuat lidah Grady terasa kelu.

Ya ampun... Perjalanan dari New York ke Los Angeles membutuhkan waktu 41 jam non stop dan jika setiap negara bagian kita berhenti, bisa seminggu. Ini kita menuju New Jersey, belum melewati Pennsylvania, Ohio, Indiana, Illinois, Iowa, Nebraska, Colorado, Utah baru masuk California itu pun masih di San Diego dulu baru kota Los Angeles. Apakah aku tabah dengan putri satu ini.

"Tuan putri, memang kenapa? Alasannya?" tanya Grady Daugherty bingung.

"Aku ingin tahu rasanya bercinta."

Nyaris Grady menabrak jika dirinya tidak sigap sementara Amira tertawa kecil dengan mengerlingkan matanya.

Seru juga nih godain pengawal ganteng satu ini.

***

Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

Tidur Bersama

Grady menatap Amira dengan wajah dingin karena princess satu ini seolah bukan suatu masalah penting bahwa ucapannya membuat dirinya seperti harus menghadapi kru penembak istana karena membuat sang putri amburadul. Padahal Amira memang sudah amburadul!

Amira lalu mengutak-atik audio mobil Mustang Grady dan menautkan akun Spotify miliknya lewat bluetooth. Grady ingin tahu selera musik princess Badung itu.

Sebuah lagu berbahasa Jepang, mengalun di dalam mobil itu. Grady melirik judul dan penyanyinya. Oasis by Do As Infinity.

Kuchibiru ga tsutaetakute hikari yori mo hayaku

kirameita kotoba ga ima

hane hirogeru

Oikakete tsuyogattemo nani mo umarenai

atatameteru omoi dake ga kono fuyu wo tokasu...

Grady menoleh mendengar suara Amira yang sangat merdu dan fasih berbahasa Jepang.

"Aku tidak tahu anda fasih menyanyikan lagu Jepang," ucap Grady.

"Kamu mau dengar aku bisa bahasa apa?" kerling Amira.

"Oke, aku salah tanya." Grady kembali konsentrasi mengemudi.

Amira tersenyum tapi setelahnya dia gabut karena tidak ada obyek yang diusili. Amira menoleh ke Grady dan menowel-nowel pipi dan rahang pria itu yang ditumbuhi brewok tipis.

"Tuan putri .... "

"Aku bosan ! Salah siapa kamu di sebelah aku." Amira lalu mengambil ponselnya dan memotret Grady dari samping. "Ganteng juga."

Grady harus meredam emosinya saat Amira mulai usil akibat gabut. Inhale... Exhale...

"Kamu melakukan teknik pernafasan demi emosi? Duh, kasihan ... Ini belum seberapa, Daugherty."

Ya Tuhan, apa aku sanggup sampai Los Angeles dengan waras?

***

Mobil Mustang merah itu pun masuk pinggiran kota New Jersey dan Grady mengajak mereka makan malam dulu di sebuah dinner. Amira pun tidak mempermasalahkan mereka makan dimana yang penting bersih dan ada ayam goreng serta chocolate milkshake selain air putih.

Grady menatap Amira yang makan dengan tangan begitu santainya, bahkan seperti melupakan manner sebagai seorang putri Belgia.

"Aku kira anda akan makan dengan pisau dan garpu, posisi duduk tegak dan elegan," senyum Grady.

"Di acara kabur aku? No way, Dude!"

Grady mendelik. "Princesses ...!" desisnya.

"Apa?"

"Anda tidak pantas memakai bahasa gaul macam itu!"

Amira mengedikkan bahunya. "Siapa yang melarang?"

"Saya, tuan putri."

Amira memajukan bibirnya dan melanjutkan makannya. Grady hanya menggelengkan kepalanya, gemas dengan kelakuan tuan putrinya.

***

Rencana Grady untuk bisa melanjutkan perjalanan Pennsylvania ternyata tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana. Hujan deras tiba-tiba turun dan membuat pandangan mata pengawal itu tidak bisa terlihat dengan baik.

"Kita terpaksa harus menginap, tuan putri. Hujan deras seperti ini akan sangat berbahaya," ucap Grady.

"Oke. Cari motel tapi jangan yang horor macam film Psycho nya Alfred Hitchcock," pinta Amira dengan wajah serius.

"Baik tuan putri," jawab Grady. Aku juga milih-milih hotelnya princess!

Mobil merah itu menuju ke sebuah tempat penginapan yang ada papannya 'Bed and Breakfast Happy Week' dan Amira menatap Grady.

"Happy Week? Nama apa itu? Buat selingkuhan tiap weekend?" komentar Amira membuat Grady harus mengelus dadanya agar tetap waras mendengar celetukan sang putri.

"Setidaknya itu bentuknya rumah khas Amerika dan bukan motel ala film Psycho," ucap Grady.

Amira memajukan bibirnya lagi. "Oke," ucapnya sambil mengedikkan bahunya. "Kamu ada Glock?"

Grady menoleh ke Amira. "Jangan bilang ...."

"Berikan padaku. Aku membutuhkan untuk menembak orang-orang psycho." Amira mengadahkan tangannya ke Grady.

"Seriously?"

Amira mengangguk. "Aku selalu serius."

"Nope."

"Nope?" Amira mendelik dan Grady melihat mata biru sang putri semakin memucat warnanya kalau marah.

"Princess, anda dalam perlindungan saya jadi anda jangan memikirkan soal senjata. Lagipula, ada yang lebih penting. Gunakan jaket yang bertudung karena hujan sangat deras."

***

Grady dan Amira turun ke rumah yang dipakai untuk Bed and Breakfast, dan melihat sepasang suami istri yang sudah berumur. Amira sangat menyukai interior yang sangat Amerika dan klasik.

"Hai, welcome to 'Happy Week'... Apakah kalian membutuhkan kamar? Hujannya sangat deras bukan? Hai, aku Sarah dan ini suamiku Graham," sapa wanita berumur itu.

"Hai, aku Grady dan ini Amira. Kami ingin menginap semalam disini," jawab Grady sambil mengibaskan rambutnya yang basah kena hujan meskipun sudah memakai payung.

"Oh my God, kalian pasangan yang sangat serasi. Apakah kalian pacaran?" tanya Sarah.

"What? No!" jawab Grady dan Amira bersamaan.

"Oh, aku senang jika kalian bersama. Sangat cocok ! Oke, satu kamar buat kalian berdua," senyum Sarah.

"Dua kamar, please," pinta Amira.

"Sayangnya, princess. Kamar kami sudah penuh," ucap Graham. "Kamu benar honey, mereka sangat cocok."

Grady dan Amira hanya menatap pasangan suami istri itu dengan wajah kikuk.

***

"Kita sekamar?" ucap Amira sambil meletakkan duffle bag nya begitu juga dengan Grady.

"Terpaksa sekamar. Nanti aku laporan ke yang mulia." Grady melihat sekelilingnya. "Kenapa tidak ada sofa panjang disini?"

"Mungkin karena ini 'Happy Week' B n B jadi khusus melakukannya di tempat tidur?" jawab Amira sambil melepaskan jaketnya.

"Princess...."

"Apakah kamu mengorok Grady Daugherty?" tanya Amira.

"Aku ? Sepertinya tidak," jawab Grady sambil membuka jaketnya yang agak basah. Grady bersyukur pemanas di kamar ini berjalan dengan baik hingga mereka tidak kedinginan. "Bagaimana dengan anda princess?"

"Karena aku mengorok, Grady. Jadi, kamu harus terbiasa akan hal itu," senyum Amira sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Grady melongo. Seriously?

***

Grady merasa gelisah saat harus tidur dengan kaos rumah karena dirinya terbiasa tidur hanya mengenakan boxer saja sementara sekarang dia harus memakai baju zirah karena di sebelahnya terdapat seorang gadis cantik yang memakai kaos ETH dan celana legging dengan pose tidur serampangan.

Semoga raja Arsyanendra tidak menghukum aku karena tidur bersama dengan putrinya meskipun harafiah.

Grady masih nyalang matanya dan menatap langit-langit kamarnya, saat dirinya mendengar suara dengkuran. Grady menoleh dan melihat Amira mendengkur seperti seekor kucing. Pria itu tersenyum namun dirinya terkejut ketika Amira langsung memeluk tubuhnya erat seperti guling dan kepalanya berada di dadanya.

Ya Tuhan, ini penyiksaan!

Grady semakin tidak bisa berkutik ketika Amira mendusel ke ceruk lehernya dan tanpa sengaja mencium daerah itu.

Raja Arsyanendra akan membunuh aku!

"Princess ... Bisakah anda pindah?" bisik Grady yang jantungnya makin berdebar kencang karena anggota tubuh lainnya pun bereaksi tanpa diminta.

Amira semakin mengeratkan pelukannya dan suara dengkuran manja itu membuat Grady tidak bisa tidur.

Ya Tuhan, tolong ada gempa bumi, ada kucing berkelahi atau ada ambulans lewat supaya sang putri terbangun!

Namun doa Grady tidak dikabulkan hingga akhirnya, dirinya pun ikut terlelap.

***

Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!