Cintanya Aqlan~Adira
Prolog
❍🌷⁞ ❝𝑯𝒂𝒊 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒌𝒖....
𝑻𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒊𝒏𝒊
𝑻𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒏𝒊
𝑨𝒑𝒂𝒑𝒖𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒂𝒍𝒂𝒎𝒊 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒍𝒆𝒍𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏...
𝑲𝒂𝒎𝒖 𝒅 𝒄𝒊𝒑𝒕𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒈𝒂𝒈𝒂𝒍 𝒂𝒕𝒐𝒑𝒖𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓 𝒔𝒊𝒂²
𝒅 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒃𝒂𝒅𝒊
𝒌𝒆𝒈𝒂𝒈𝒂𝒍𝒂𝒏,𝒌𝒆𝒔𝒂𝒌𝒊𝒕𝒂𝒏,𝒌𝒆𝒔𝒊𝒂𝒍𝒂𝒏,𝒂𝒕𝒐𝒑𝒖𝒏 𝒌𝒆𝒉𝒂𝒏𝒄𝒖𝒓𝒂𝒏
𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒏𝒈𝒔𝒖𝒓 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒊𝒌,𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒍𝒊𝒉,𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒃𝒖𝒉....
𝑴𝒆𝒏𝒈𝒂𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊,𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒖𝒓𝒂² 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒈𝒊𝒂,𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒎𝒂𝒌𝒂𝒏𝒂𝒏𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒓𝒊²
𝒕𝒂𝒑𝒊....
𝒄𝒐𝒃𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒎𝒖
𝒋𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒌𝒔𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊,𝒈𝒅𝒂 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒐 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒌𝒖 𝒍𝒆𝒍𝒂𝒉,
𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒌𝒖 𝒍𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒓𝒕𝒊 𝒍𝒆𝒎𝒂𝒉
𝑨𝒎𝒃𝒊𝒍 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒋𝒆𝒏𝒂𝒌 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒓𝒊𝒍𝒆𝒌𝒔 𝒑𝒖𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒔𝒕𝒊𝒓𝒂𝒉𝒂𝒕
𝒔𝒆𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉𝒏𝒚𝒂 𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒑𝒓𝒊𝒃𝒂𝒅𝒊 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒉𝒆𝒃𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒔𝒌𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒎𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒆𝒓𝒂𝒕
> coretan Pena, ✨10-12-17
❏_________________
Begitupun dengan kehidupan yang dijalani Adira Humaira Azzahra setiap harinya. semangat dalam hidupnya tidak ada lagi, CAHAYA itu sudah lama redup. Bahkan untuk bernafas saja terasa sulit baginya
Namaku Adira Humaira Azzahra.
Biasa dipanggil Dira. sejak kecil aku sudah tinggal di panti asuhan. Baik mama dan papa tidak ada yang peduli padaku, bahkan mereka tidak menganggap ku ada. Aku dijadikan layaknya pembantu, disiksa bahkan jarang diberi makan di panti itu, hingga aku Lulus sekolah aku memutuskan untuk keluar untuk mencari tunjangan hidup.
Aqlan Fajri Baihaqi. Orang-orang selalu memanggil ku Aqlan. Aku terlahir dari keluarga konglomerat. Namun walaupun begitu Kami selalu menerapkan hidup yang sederhana. Kedua orang tua kami selalu mendidik kami agar kami mengikuti jejak mereka.
Adira
Pagi harinya, setelah membereskan semua pekerjaan rumah Adira kemudian berjalan menuju pasar dengan berjalan kaki. sudah menjadi rutinitas nya setiap hari, pergi belanja keperluan dapur di jam 7 pagi setelah dia membereskan semua pekerjaan rumah. dia tidak keberatan sama sekali, apalagi ibu Ratih pemilik panti itu sudah bersedia merawatnya sedari kecil, walaupun sering diperlakukan tidak adil, dia pasrah saja dengan keadaannya.
Adira
"Ka saya pesan ini seperti biasa ya! Kali ini jumlahnya agak banyak ka, soalnya ibu kedatangan tamu di panti." katanya sambil memilih sayuran yang Nampak segar
Ibu rina
"Iya dek, silahkan dipilih² aja dulu!" Balas nya sambil tersenyum ramah kepada Adira yang menjadi langganannya.
Sembari membantu Adira memilih pesanan nya, mata ibu satu anak itu sangat jeli dalam menelisik sesuatu. Dia sangat yakin dengan dugaan nya.
Ibu rina
"Kamu dipukul lagi Ra? tangan kamu lecet Lo Ra?" tunjuk ibu rina kearah punggung tangan Adira yang nampak lecet, keningnya pun terlihat Sebuah benjolan merah
Adira
"Eh nggak kok ka, kemarin itu Adira kurang hati² aja jalannya! Jadi kepeleset deh." kelakar Adira sambil menutupi kegugupannya
Ibu rina
"Benarkah? Kamu nggak bohong kan dik?" tanyanya lagi yang nampak khawatir dengan keadaan perempuan yang dianggap nya adik itu
Adira
"Iya ka, lagian ntar ini juga sembuh kok!" kata Adira berusaha meyakinkan ibu rina
Tidak lama, semua belanjaan nya telah selesai dibungkus. Adira pun membayar belanjaan nya lalu segera pulang ke panti dengan langkah terburu-buru.
Sesampainya dipanti Adira langsung masuk dengan langkah lebar, lewat pintu belakang karena takut ibu Ratih kembali menamparnya jika dia telat sedikit. Dia segera memasak untuk lauk mereka nanti siang. Tak lama terlihat perempuan sekitar 12 tahun menghampiri nya, membantunya memasak untuk saudara-saudaranya yang lain.
Luna
"Luna bantuin ya ka, kakak pasti Capek kan ngerjain semua sendirian."!! Luna datang lalu mengambil alih mencuci sayuran yang baru dipotong Adira.
Adira
"nggak kok dik, Kaka sudah terbiasa! Kata Adira menoleh sembari meracik bumbu untuk menumis sayur nanti. "kamu ngapain kesini, nanti kalau ibu lihat gimana?" ucap Adira sembari melihat-lihat kearah pintu.
Luna
"Luna kan mau bantuin Kaka! lagian ibu nggak bakalan kesini ka, soalnya ibu lagi mengobrol dengan tamu nya."!!
Adira
"Oh, benarkah! tamunya banyak nggak? Biar kaka masak agak banyak." sahut Adira antusias
Luna
"cuma 2 orang ka, tapi boleh deh Kaka masak lebih aja! Siapa tau tamu ibu makan disini."
Adira
"ok siap laksanakan." ucap Adira dengan semangat sambil membentuk jarinya berbentuk huruf o
sembari menunggu sayuran masak. Adira beralih mencuci piring sembari bernyanyi kecil. Sedangkan Luna sudah kembali ke kamarnya menemui adik-adik panti yang lain.
Setelah semuanya beres, diapun melangkah ke kamar adik² nya. Sebagai sesama anak panti, Adira selalu mengutamakan adik-adik nya, baginya walaupun mereka tak sedarah mereka tetaplah saudara yang dia punya saat ini.
Adira masuk dengan langkah pelan. Mendengar suara gaduh disudut lemari, Adira segera melangkah cepat. Dilihatnya Zain yang sedang menangis yang sedang ditenangkan kaka² yang lain.
Adira
"Kenapa Zain menangis dik?" tanya Adira sembari berjongkok didepan Zain yang sedang menangis menenggelamkan wajahnya dikedua lutut
Luna
"Luna nggak tau ka, soalnya pas Luna masuk adik Zain sudah menangis dibawah ini." papar Luna seadanya, dan diiyakan oleh saudaranya yang lain.
Adira
"Ain ini Kaka Ara! Kenapa? Siapa yang buat adik Kaka ini menangis! Hm." Adira dengan sabar mengelus punggung Zain yang bergetar karena tangis
zain
(mendengar suara Adira, Zain kemudian mendongak dengan matanya yang memerah)
"Ka Ra, hikss." Dia menangis sesenggukan lalu menghamburkan diri ke pelukan Adira
Adira
(Mengelus punggung Zain dengan lembut, dia tahu bahwa Zain sedang merangkai kata, untuk mengungkapkan perasaan sedih nya. Sebagai seorang Kaka, ini bukan pertama kalinya bagi Adira menghadapi tingkah adiknya)
zain
(setelah merasa tenang, Zain mendongak memandang Kaka tersayang nya itu. Adira balas tersenyum melihat adiknya menatap, diseka nya air mata dipipi Zain yang mulai mengering)
Adira
"Adik Kaka kenapa! Ayo cerita sama Kaka?" katanya dengan lembut sambil tersenyum manis
zain
"Ka tadi disekolah Ain diejek sama teman, katanya ain itu anak haram"!! ucapnya dengan pelan sambil menunduk sedih.
Adira
(mendengar itu membuat Adira sedih. Tidak seharusnya anak sekecil itu mendengar sesuatu yang tidak pantas, dia berusaha tersenyum agar adiknya tidak bertambah sedih)
"siapa yang bilang gitu sayang! Justru Zain itu anak baik, Kaka aja senang banget Lo punya adik kayak ain ini."
zain
"mereka bilang Ain nggak pantas untuk bahagia! ain udah bilang kalau ain anak baik, tapi mereka bilang Ain harus sadar diri." katanya lagi dengan suara serak menahan tangisnya.
Adira
"Astaghfirullah, jangan dengerin kata mereka ya, Kaka tau ko kalau adik Kaka ini pantas bahagia! Pokoknya besok biar kaka yang bicara sama mereka." kata Adira dengan lembut sambil menangkup kedua pipi Zain.
zain
"Baik ka, tapi Ain nggak mau buat Kaka capek! Kaka kan juga harus kerja, belajar trus
Adira
"Suttt, udah ya Kaka nggak capek kok! Justru Kaka itu senang kalau lihat senyum Ain yang tampan ini selalu terbit, pokoknya jangan dipikirin ya, Ain fokus aja belajarnya, Ok." kata Adira dengan tegas tapi lembut.
zain
(mengangguk sambil tersenyum manis)
"makasih Kaka, ain sayang Kaka." katanya lalu mencium kedua pipi Adira dengan sayang.
Adira
"Sama² adik manis." balas Adira mencubit gemas hidung kecil Zain. "yasudah sekarang ain cuci muka dulu gih, trus siap itu kita makan deh." katanya lagi memberi instruksi kepada adiknya.
zain
(mengangguk lalu berlari kecil kedalam kamar mandi)
Adira segera keluar dari kamar adiknya. Dia yakin pasti setelah ini ibu Ratih memarahinya lagi. Dan benar saja dilihatnya wanita paruh baya itu sedang berkacak pinggang menatap Adira dengan tatapan nyalang. Adira hanya menunduk sembari membereskan gelas kopi bekas tamu ibu Ratih.
ibu Ratih
"Darimana saja kamu, jam berapa ini, kamu jangan seenaknya ya disini! Kamu pikir tinggal disini gratis apa?" teriak ibu Ratih sambil menunjuk wajah Adira dengan sengit.
Adira
"Maaf Bu, tadi Dira habis dar
ibu Ratih
"Alah nggak usah banyak alasan, sekarang bereskan semua ini lalu siapkan makanan untuk makan siang." katanya lalu berlalu kekamar dengan langkah angkuhnya.
Adira segera melakukan tugasnya, selesai membereskan ruang tamu, dia segera menyiapkan makan siang untuk ibu Ratih dan adik-adiknya.
Zain
Keesokan harinya sesuai janjinya Adira pamit kepada ibu Ratih mengantar Zain, sambil menjelaskan bahwa Zain habis di-bully teman² nya.
Adira
"Ayo dik, mau Kaka gendong?" tanya Adira memandang Zain yang nampak ragu untuk masuk kedalam pekarangan sekolah.
zain
(mengangguk sambil merentangkan tangannya kearah Adira)
Adira
(tersenyum lalu mengangkat Zain kedalam gendongan nya. Sedangkan tas kecil Zain disampirkan dibahunya)
"Nah gini dong, ini baru adik Kaka."
zain
(Zain mengulum senyum di gendongan kakanya, hatinya nampak bahagia melihat Adira yang begitu peduli padanya, tidak ada yang lebih peduli padanya selain Adira. Apapun yang terjadi padanya Adira selalu jadi garda terdepan melindunginya dari gangguan orang²)
Sesampainya didepan kantor guru, Adira mengetuk pintu sambil menurunkan Zain dari gendongannya. Setelah mendapatkan izin dari dalam, dia segera masuk sambil menuntun Zain.
setelah dipersilahkan duduk, Adira langsung menyampaikan maksud kedatangannya kesini, lalu menjelaskan secara rinci yang terjadi kepada adiknya. Setelah diproses akhirnya Bella, kepala sekolah itu segera menyuruh asisten untuk memanggil yang bersangkutan dengan masalah Zain, bahkan dia segera menyuruh orang tua murid untuk menuntaskan masalah itu.
Bella, kepala sekolah
"Apa benar yang dikatakan Zain ini nak?" kata Bella dengan tegas kepada Angga dan Riko
Angga dan Riko mengangguk pasrah, memang betul itu salah mereka.
Bella, kepala sekolah
(menghela nafas) "kalian tahu kan perbuatan kalian salah, trus kenapa harus mengejek teman yang lain? apa ibu pernah mengajarkan ini nak?" kata Bella dengan tegas
Baik Angga maupun Riko menggeleng
Bella, kepala sekolah
"Yasudah lain kali, jangan diulangi ya! Minta maaf sekarang sama temannya." kata Bella dengan lembut. Sebagai orang tertua dan terpelajar dia harus bisa memberikan contoh yang baik pada anak muridnya.
Riko
(mendekat lalu menyalami Zain dengan tulus) "maafin aku ya Ain, aku tau aku salah, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi." katanya dengan pelan
zain
"Aku maafin, lain kali kita saling mengingatkan ya!" balas Zain menerima uluran tangan temannya.
Angga
"maafin aku juga ya, Ain." kata Angga dengan lembut
zain
"iya aku maafin ga, jangan ngebully lagi ya! Kata ka Ara ngebully sesama itu tidak boleh." ucapnya dengan antusias.
Adira
(tersenyum haru melihat adiknya yang tampak dewasa, walaupun umurnya masih 6 tahun, tapi dia memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap sekitarnya)
Setelah permasalahan selesai. Adira berterima kasih dengan semuanya. Lalu berjalan keluar dengan menggenggam tangan kecil Zain.
Adira
"Ain belajar yang benar ya, Kaka pulang dulu, takutnya ibu nyariin Kaka." katanya sambil mengusap rambut hitam adiknya dengan lembut.
zain
"Iya ka, Kaka hati-hati ya! Ain juga berterima kasih banyak sama Kaka, soalnya Kaka udah membantu Ain dengan masalah ini." sahut Zain dengan lembut
Adira
"Maa syaa Allah, adik Kaka ini! Gemas banget deh, pengen gigit aja." kata Adira dengan gemas
zain
"jangan dong ka, nanti ganteng nya ilang loh." tuturnya sambil merapikan rambutnya yang nampak berantakan
Adira
"iya deh, sipaling tampan, yaudah pokoknya Ain harus rajin belajarnya! Masalah yang lainnya nggak usah dipikirin, biar Kaka aja."
zain
"Iya ka, Ain sayang Kaka." katanya sambil mencium kedua pipi Adira
Adira
"Nih jajan buat Ain, disimpan ya! Nanti kalau kalau ain pengen jajan, dipakai aja uangnya." Tutur Adira dengan lembut sambil memasukkan uang 5 rb kedalam saku celana Zain.
zain
"makasih Kaka sayang."
Adira
"Sama² adik manis." balasnya sambil mencubit gemas hidung kecil Zain. "yaudah gih masuk kelas."
zain
(mengangguk lalu menyalami tangan Adira dengan takzim, kemudian setelahnya masuk kedalam kelas yang Dimana gurunya telah menunggu)
Adira
(setelah memastikan Zain masuk kedalam Kelasnya, Adira beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan pekarangan sekolah)
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!