Aryo bersiap untuk pergi ke tempat kostnya yang terletak tidak jauh dari kampusnya nanti. Dia mendaftar kuliah di kampus swasta saja, agar bisa bebas bekerja. Bahkan dia juga mengambil kelas karyawan, di mana perkuliahan di mulai sore hari hingga malam hari.
Banyak sekali memang barang yang akan dia bawa ke tempat kostnya. Sampai ibunya juga membantunya mengepak semua barang-barangnya.
"Kamu bawa barangnya banyak sekali, Aryo. Apa tidak repot nanti? Kan motormu tidak bisa menampung banyak barang." kata ibunya.
"Tidak apa bu, nanti bergilir saja bawanya. Yang penting-penting saja dulu yang di bawa, tempat kostnya juga belum aku bereskan kok. Kata ibu kostnya kamarnya masih kotor." jawab Aryo.
"Ya sudah, ibu bantu bereskan bawaan kamu saja di masukkan ke dalam kardus." kata ibunya lagi.
Aryo memasukkan buku-buku yang sempat dia beli sebelumnya. Karena dia juga suka membaca buku bisnis dan cerita rakyat, dua buku itu selalu dia bawa. Meski di tempat kerja, karena waktu luangnya dia gunakan untuk membaca.
Aryo bekerja di sebuah perusahaan yang tidak besar, dia sebagai staf di sana. Gaji tidaklah cukup besar sebenarnya karena di bagian di mana Aryo tempati. Tapi karena ada tuntutan dia harus kuliah lagi dan mengambil kelas karyawan, jadi terpaksa Aryo mendaftar ke kampus yang dekat dengan tempat kerjanya. Belum lagi sebagian uang gajinya di berikan pada ibunya, untuk membantu meringankan kebutuhan rumah tangga.
"Nanti kamu akan sering pulang juga kan?" tanya ibunya lagi.
"Ya, nanti Aryo akan pulang di hari libur." jawab Aryo.
"Iya, soalnya ibu sendirian di rumah." kata ibunya lagi.
"Kan ada Sima bu yang sering datang kesini. Suruh saja dia tinggal di rumah, dari pada bolak balik pulang ke rumahnya. Jauh juga kan." kata Aryo memberi usul.
Sima adalah sepupu Aryo yang tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Dia tinggal sendirian di rumahnya, sudah di suruh tinggal dengan ibunya agar tidak bolak balik dan rumahnya di kontrakan. Tapi gadis itu tidak mau, jadi jika hari libur kerja maka Sima akan menginap di rumah budenya. Ibu Aryo.
Setelah mengepak barang-barangnya, Aryo segera mandi. Hari sudah sore, dan pukul empat dia harus segera berangkat kuliah sambil membawa barangnya sekalian ke kostannya.
_
Pulang dari kampus, Aryo segera pulang ke kostan barunya. Rencananya mau merapikan kamarnya yang masih berantakan karena akan segera di pakai malam ini untuk tidur. Besok pagi berangkat ke kantor dan pulangnya ke rumah untuk mengambil sisa-sisa barang yang akan di bawa ke kostnya.
Aryo merebahkan diri di ranjangnya yang hanya berukuran satu saja, matanya menatap ke atap plafon berwarna putih tapi sudah usang. Dia menarik napas panjang, kepalanya menoleh ke arah meja kecil yang memang sudah di sediakan oleh ibu kostnya.
Meja kecil, lemari berukuran dua ambalan dan juga ranjang satu ukuran untuk satu orang. Beruntung sekali kasurnya masih baru, jadi dia tidak usah membeli kasur lagi untuk tidurnya. Aryo bangkit dari rebahannya, melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul sembilan malam, perutnya terasa lapar.
"Aku harus keluar lagi buat cari makan malam, malas rasanya harus keluar lagi. Tapi aku lapar," ucap Aryo bimbang ingin keluar dari kostnya.
Matanya kembali mengedar ke segala penjuru kamar, berhenti di sudut kamar di bagian bawah. Ada sebuah kaleng biskuit masih tertutup. Matanya memicing ketika perhatiannya pada tutup kaleng biskuit itu tertutup rapat, bahkan ada kilapan selotip menempel di tutupnya.
Aryo bangkit dan mendekat, dia penasaran apakah kaleng biskuit itu masih baru dan ada isinya. Di ambilnya kaleng biskuit itu dan di pegang lama, terasa ringan. Di kocok perlahan, ada suara di dalamnya.
"Ini ada isinya bukan sih? Kok enteng banget, tapi bunyi kalau di kocok ya," gumam Aryo.
Dia mengocoknya lagi beberapa kali. Terasa berat tiba-tiba, heran kembali Aryo rasakan.
"Tadi ringan, kenapa sekarang jadi berat. Apa isinya ya?" tanya Aryo pada diri sendiri karena heran.
Di bolak balik kaleng biskuit itu, mencari selotip yang menutup rapat penutupnya. Dia ingin membukanya dan ingin tahu apa isi di dalamnya. Beberapa kali di putar, tapi tidak juga menemukan selotipnya, dia pun akhirnya meninggalkan kaleng biskuit itu dan mengambil gunting untuk mencongkel tutup kaleng yang rapat itu.
"Aku tadi bawa gunting, taruh di mana ya?" gumam Aryo mengacak kantung tas depannya.
Setelah di acak-acak, kini tangannya mendapatkan gunting yang dia cari. Segera mengambil kaleng dan mencoba membuka tutup kaleng tersebut, dengan susah payah Aryo membuka kaleng itu.
"Kok susah sekali ya, padahal ini selotip tidak menempel dengan baik. Kenapa susah di buka, bahkan di guntingnya," ucap Aryo.
Beberapa kali dia coba, namun tetap tidak bisa. Dia menghentikan usaha membuka kaleng biskuit, hanya di pandangi kaleng bergambar keluarga dengan dua anak tanpa ada gambar ayah.
"Sudahlah, mungkin kaleng ini tidak berguna. Lebih baik besok aku buang saja di tempat sampah," ucap Aryo sambil berlalu dan membiarkan kaleng itu teronggok di pojok ruangan.
Saat dia meletakkan gunting di meja, Aryo di kejutkan suara kelontang dari dalam kaleng yang tadi dia coba buka. Dia menoleh ke arah kaleng, matanya memicing karena kilat cahaya keluar secara perlahan dari dalam kaleng. Dia mendekat, kaleng itu semakin nyaring bunyinya dan juga bergerak perlahan. Rasa deg-degan Aryo karena penasaran ada apa di dalam kaleng biskuit itu.
"Apa isinya, apa di dalamnya ada tikus? Tapi kalau tikus, kenapa bisa menyala begitu?" gumam Aryo.
Dia terus mendekat, tangannya terulur ingin memegang kaleng biskuit tersebut. Hingga beberapa saat, kaleng sudah ada di genggaman tangan Aryo. Tiba-tiba tutup kaleng itu membuka secara perlahan, membuat laki-laki yang sedang berdebar dan kaget menjadi semakin kaget ketika tutup kalengnya terpelanting jauh. Cahaya berpendar ke segala arah di ruangan kamar kost Aryo, laki-laki itu menyembulkan kepalanya pada isi kaleng.
Jiwa penasarannya terus mendorong hingga kepalanya hampir menyentuh bibir kaleng. Beberapa detik kemudian, seolah ketarik masuk kepala Aryo ke dalam kaleng biskuit tersbut. Aryo berteriak kencang, dia mencoba menahan tangannya pada sisi kaleng biskuit agar kepalanya tidak masuk ke dalamnya.
"Aaaargh! Tolong!"
_
_
*******
Aryo mencoba menahan tubuhnya agar tidak masuk ke dalam kaleng, entah dia bingung kenapa bisa kaleng kecil itu bisa di masuki kepalanya bahkan tubuhnya. Dia kaget bukan main, tangannya mencoba menahan agar keluar dari lubang kaleng.
Tarik menarik antara tangan Aryo untuk menahan kepalanya juga cahaya yang berpendar di depannya menarik tubuhnya agar masuk. Cahaya dari dalam kaleng itu menyilaukan mata Aryo, hingga dia ingin membuka matanya tapi terasa susah sekali. Bahkan kilauan cahaya itu benar-benar membuatnya tidak bisa membuka mata lagi.
Beberapa detik kemudian, Aryo berteriak kencang. Tangannya terlepas. Tubuhnya tiba-tiba melayang ke atas dan kakinya merapat, cahaya itu menarik kaki Aryo untuk masuk ke dalam kaleng. Teriakan Aryo menggeman dalam kamar, tapi tak seorang pun mendengarnya bahkan ingin menolongnya. Aryo terus berteriak meminta tolong.
"Toloong, tolong lepaskan aku!" teriak Aryo berusaha sekuat tenaga agar tubuhnya tidak tertarik ke dalam kaleng biskuit itu.
Semakin dia mencoba untuk bertahan, semakin kuat dorongan cahaya menarik tubuhnya. Hingga beberapa menit akhirnya Aryo masuk juga ke dalam kaleng biskuit tersebut. Kepalanya pusing seperti mai pecah karena benturan hebat di kepala bagian belakangnya, dia mencoba membuka matanya. Tapi kilauan cahaya itu masih berpendar hingga Aryo tak sadarkan diri.
Tubuhnya melemah, dia terkulai ketika tubuhnya itu melayang ke udara. Beberapa saat kemudian dia terhempas di atas ranjang empuk, belum sadarkan diri. Dia merasa seperti sedang tidur nyenyak sekali, bahkan dengkurannya terdengar oleh telinganya sendiri. Belum mau membuka matanya, Aryo justru berganti posisi hingga menarik selimutnya menutupi sampai dadanya.
"Papa, bangun! Papa bangun!" teriak seorang anak kecil berusia delapan tahun.
"Papa bangun, mama sudah menunggu papa di meja makan. Katanya mau sarapan sama-sama," kata salah satu anak gadis berusia lebih tua dari yang tadi.
Tangan mungil kedua bocah itu menempel tubuh Aryo dan menggerakkan tangannya, menggoyang tubuh Aryo dengan kencang. Mau tidak mau Aryo pun membuka matanya dengan malas sambil berujar memanggil ibunya.
"Ibu, jangan ganggu tidurku!" teriak Aryo, lalu memejamkan matanya kembali.
Dia belum sadar di mana dia berada, dalam ingatannya masih berada di rumah ibunya. Tapi tak lama, suara teriakan bocah kembali menggema di telinganya. Mau tidak mau Aryo pun membuka matanya.
"Papa bangun! Udah siang, papa kerja!" teriak bocah kecil lagi berusia lima tahun.
Aryo diam, dia menatap bocah kecil dengan senyum yang menampilkan gigi susunya. Wajah kebingungan Aryo menatap bocah kecil, kemudian matanya beralih pada perempuan yang mendekat padanya dengan senyum gembiranya.
"Sayang, sudah ya. Nanti mama yang bangunkan papa, sekarang cepat sarapan dulu sana," kata sang perempuan cantik dengan senyum mengembang.
Aryo masih diam terpaku, matanya berkeliling ke setiap sudut kamar. Kedua alisnya saling bertaut, bingung dengan keadaan paginya kali ini.
"Mas sudah bangun, ayo mandi lalu sarapan. Anak-anak menunggu di meja makan," kata perempuan itu duduk di sisi ranjang menatap Aryo.
"Kamu siapa?" tanya Aryo masih bingung.
"Lho, aku istrimu mas. Kok lupa sih?" tanya perempuan yang mengaku istrinya.
"Tapi, sejak kapan?" tanya Aryo lagi masih bingung.
"Ya ampun mas, aku Ralin Shafa. Istrimu yang kamu nikahi lima tahun lalu, masih lupa?" tanya perempuan yang bernama Ralin.
Aryo diam, dia bingung kenapa tiba-tiba jadi seorang suami yang memiliki istri dan dua anak. Ingatannya di coba mengingat kejadian sebelumnya, dia ingat akan pertama ke kostnya. Membersihkan kamar kost dan melihat ada sebuah kaleng biskuit, dia mengambil kaleng biskuit tersebut dan muncul cahaya yang berpendar. Tiba-tiba kepalanya ketarik masuk ke dalam kaleng biskuit.
Sejak saat itu dia di tarik masuk ke dalam kaleng biskuit itu dia tidak mengingat apa pun. Dan kini, setelah bangun dari keadaannya itu justru membuatnya bingung. Dia memiliki seorang istri dan memiliki dua anak?
"Ralin?"
"Ya, ya ampun mas. Kamu pasti mengigau lagi dan lupa lagi, sudah cepat mandi sana. Anak-anak menunggu di meja makan, biasanya mereka akan sarapan dengan kamu lalu mengantar Naura sekolah," kata Ralin pada Aryo.
Dia beranjak dari duduknya untuk keluar dari kamar itu, tapi Aryo menahannya.
"Tunggu!" teriak Aryo.
Ralin berbalik, berhenti dan menatap Aryo.
"Ada apa lagi mas?" tanya Ralin.
"Ini tahun berapa?" tanya Aryo masih bingung.
"Ini tahun dua ribu dua puluh sembilan, kenapa? Kamu lupa lagi? Atau kamu ingat mau beri kejutan ulang tahunku?" tanya Ralin dengan senyumnya.
"Eh, ulang tahunmu?"
"Iya, satu bulan lagi ulang tahunku," jawab Ralin.
Aryo kembali diam, jadi lima tahun lalu dia masih di tahun dua ribu dua puluh empat. Apa jangan-jangan dia masuk ke dunia masa depannya?
"Oh Tuhan, jadi aku masuk ke dunia masa depan?" gumam Aryo.
"Ada apa mas? Kok bicara sendiri," tanya Ralin.
"Oh tidak dek, eh maksudku istriku," jawab Aryo gugup.
Ralin hanya tersenyum saja, Ralin pun hanya menggeleng kepala kemudian dia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu. Sedangkan Aryo masih posisi duduk, mengingat akan kejadian sebelum dirinya berada di kehidupan masa depan itu.
"Aku harus bagaimana? Bingung juga menghadapi mereka yang belum aku alami sebelumnya. Punya istri dan anak? Ibu, tolong aku!"
Kedua tangan Aryo menutupi wajahnya, dia masih bingung dengan semuanya. Ingin dia kembali ke masa lima tahun ke belakang, di tahun dua ribu dua puluh empat. Tapi bagaimana caranya? Dia sudah masuk ke dunia masa depan dengan kaleng biskuit itu.
Dengan cepat Aryo bangkit dari duduknya, dia ingin mencari kaleng biskuit yang telah membawanya ke masa depan. Dia melangkah menuju meja kerja yang terletak di pojok, berjongkok ke kolong meja. Tidak di temukan kaleng apa pun, kini beralih ke lemari kecil berisi buku-buku. Tetap tidak mencari kaleng itu.
Berlanjut ke kolong ranjangnya, membuka sprei yang menjuntai itu. Tapi tepat tidak menemukan apa pun, Aryo kembali duduk di sisi ranjang. Menatap sekeliling kamar, beralih matanya menuju sebuah ruangan. Langkahnya cepat menuju ruangan itu, melihat ada lemari lengkap dengan rak sepatu. Semuanya di uber, di buka satu persatu tapi tetap tidak menemukan kaleng biskuit.
"Huh, kemana kaleng itu ya? Kok tidak ada," gumamnya lagi.
Saat sedang melamun, dia melangkah gontai. Terus terang saja dia bingung dengan keadaannya yang secara tiba-tiba itu dia alami. Langkahnya kembali ke ranjang, duduk kembali di sana.
"Mas Aryo, kenapa masih duduk saja?" tanya Ralin tiba-tiba berdiri di depan Aryo.
"Eh, kenapa?"
"Kok kenapa sih? Ya cepat mandi terus sarapan. Anak-anak menunggumu sejak tadi," kata Ralin lagi.
"Iya, aku mandi." jawab Aryo lemah.
Bangkit dari duduknya masih dalam keadaan bingung, langkahnya menuju kamar mandi. Ralin hanya menggeleng kepala saja, kemudian berbalik dan melangkah pergi dari kamar itu.
"Kenapa dengan mas Aryo sih?"
_
_
*****
Awalnya Aryo bingung mau mengantar Naura, gadis cilik yang bersekolah PAUD. Dia juga masih berpakaian santai, tapi istrinya mengomel karena Aryo pergi mengantar Naura hanya memakai baju santai.
"Lho mas, kok baju santai begitu? Kamu kan sekalian pergi ke kantor, nanti bosmu marah lagi seperti kemarin katanya," ucap Ralin.
"Marah? Bos? Siapa?" tanya Aryo kembali bingung.
"Ya ampun mas, kenapa mas Aryo lupa lagi sih? Itu lho, kemarin mas Aryo cerita kalau bosnya pak Santoso marah-marah karena mas berangkat telat lagi ke kantor. Makanya sekarang cepat ganti baju, aku sudah siapkan tas kerjanya," kata Ralin pada Aryo.
Laki-laki itu semakin bingung, dia memikirkan kehidupannya di masa depan itu. Sudah bekerja di sebuah kantor dan memiliki bos bernama Santoso, tapi masalahnya dia bekerja di mana? Perusahaan apa?
Saat sedang bingung begitu, tangannya di tarik oleh gadis cilik bernama Naura.
"Pa, nanti pulangnya di jemput ya. Kata bu guru, Naura harus kenalkan papa sama guru-guru lain," kata gadis kecil bernama Naura itu.
"Kenapa harus di kenalkan? Memangnya tidak sama mama?" tanya Aryo bingung.
"Ngga pa, kemarin papa udah janji mau jemput Naura di sekolah," jawab Naura.
"Iya mas, kamu kemarin janji sama Naura lho. Harus di tepati janjinya," Ralin menimpali.
"Memangnya aku janji itu?" tanya Aryo heran.
"Ya ampun, kamu lupa lagi sih mas. Kamu itu janji sama Naura hari ini jemput dia kalau pulang sekolah. Kok kamu jadi lelet gitu? Apa di kantor pekerjaan sedang numpuk?" tanya Ralin.
"Emm, mungkin. Ya, mungkin aku lagi banyak kerjaan di kantor," jawab Aryo sekenanya hanya untuk mengiyakan ucapan perempuan yang kini mengaku jadi istrinya.
"Papa juga janji lho sore ini temani Salma potong rambut di salon," kata Ralin lagi.
Lagi-lagi Aryo di buat bingung sekaligus pusing. Entah apa yang di lakukannya sebelum dia masuk ke dunia masa depan, apakah dia seorang kepala keluarga yang baik dan cinta keluarga?
Sepertinya memang iya, karena dari ucapan Ralin sejak dia bangun pagi kalau dirinya adalah papa yang baik. Selalu saja kedua anak perempuan kecil itu ingin dekat dengannya, dan Aryo harus mencari artikel tentang bagaimana menjadi papa yang baik. Selain dia ingin kembali ke kehidupannya sebagai mahasiswa dan pekerja juga. Tapi bukan bekerja di kantor yang di sebutkan Ralin istrinya.
_
Rangkaian permintaan anak-anaknya dan Ralin, sudah Aryo penuhi. Mulai dari menjemput Naura dan berkenalan dengan guru anak gadis kecil itu, juga mengantar Salma sang putri kecil pergi ke salon untuk potong rambut.
Ralin bilang, kalau Salma akan mau di potong rambutnya jika di antar oleh papanya. Aryo sendiri tidak keberatan, di samping dia juga sedang belajar jadi seorang papa yang tiba-tiba dia alami dalam waktu satu hari itu.
Apa lagi kebingungannya di kantor, dia di marahi lagi oleh sang bos seperti apa kata istrinya. Dan dia belum mau menceritakannya pada Ralin.
Ralin menatap Aryo, ada raut kelelahan yang dia tangkap di wajah tampan suaminya. Dia tahu mungkin di kantor suaminya di marahi lagi oleh bosnya.
"Mas, kamu kenapa? Kok lesu begitu wajahnya," tanya Ralin ketika malam hari keduanya duduk santai setelah menidurkan dua anaknya.
"Ngga apa-apa dek," jawab Aryo reflek memanggil Ralin dengan ucapan dek.
Membuat Ralin melebarkan matanya, menaikkan kedua alisnya. Heran dengan sebutan dek itu, karena tidak pernah dia mendengar Aryo memanggilnya dek.
"Mas, kamu merubah panggilan sama aku? Biasanya panggil mama," kata Ralin.
Aryo menoleh, mengerutkan dahinya. Bingung lagi yang dia dapatkan dari ucapan perempuan yang mengaku sebagai istrinya itu.
"Memang kenapa? Salah aku panggil kamu dek?" tanya Aryo heran.
"Ya ngga sih, tapi kamu ngga biasanya panggil aku dek," jawab Ralin dengan tersenyum.
"Wajar aja kan aku panggil kamu dek, atau kamu keberatan jika aku panggil kamu dek?" tanya Aryo.
"Ngga sih, aku justru senang mas Aryo panggil dek. Lebih romantis gitu kesannya, heheh," ucap Ralin sambil tertawa kecil.
Aryo tersenyum, ternyata panggilan sederhana itu bisa membuat seorang perempuan sangat senang. Apa lagi pada seorang istri, dia teringat akan mantan kekasihnya dulu di kampus. Dia senang memanggil pacarnya itu dengan panggilan dek, dan mantan pacarnya juga senang mendengar Aryo memanggil dek.
Tapi sayangnya hubungan Aryo dan mantannya harus kandas karena mantan kekasihnya itu harus di jodohkan dengan laki-laki lain. Dan sejak saat itu, Aryo lebih fokus untuk menyelesaikan kuliahnya dari pada memikirkan mantan kekasihnya yang sudah pindah keluar kota.
"Mas, kamu melamun lagi? Apa pak Santoso memarahimu lagi?" tanya Ralin, tangannya memeluk lengan tangan Aryo.
Kepalanya pun di senderkan di pundak lelaki itu, membuat Aryo jadi diam mematung. Terkejut dengan sikap Ralin yang bergelayut manja padanya, karena ini pertama kalinya sejak putus dengan mantan kekasihnya. Ada seorang perempuan bergelayut manja padanya.
Tapi, bukankah itu wajar?
Karena dia adalah suaminya, Aryo menghela napas panjang. Tak terasa tangannya memegang puncak kepala Ralin dan tersenyum. Dia benar-benar memerankan sebagai laki-laki yang beristri dan memiliki dua anak.
"Mas, kalau kamu tidak betah kerja di kantornya pak Santoso. Kamu keluar aja, nanti kerja saja di kantornya papa. Papa sudah lama lho minta kamu untuk kerja di kantornya, tapi kamu selalu menolaknya. Katanya di tempat kerja yang sekarang adalah bidangmu, tapi kalau kamu selalu saja di marahi dan di tegur sama pak Santoso terus hanya gara-gara telat masuk kerja. Itu sih sudah tidak nyaman mas kerja di sana," kata Ralin.
"Memang papamu memintaku untuk kerja di kantornya?" tanya Aryo.
"Ya, dulu kamu menolaknya. Dan papa sering meminta sama aku untuk membujukmu mau kerja di kantor papa, tapi aku tahu kamu pasti akan menolaknya. Jadi aku tidak pernah menyampaikannya sama kamu, mas," kata Ralin lagi.
Lagi-lagi Aryo bingung, dia menarik napas panjang. Seolah ada rasa keberatan dalam dirinya yang di tangkap Ralin, padahal dia bingung saja dengan semua kejadian demi kejadian yang tidak dia ketahui sebelum dia masuk ke dunia masa depan itu.
Entah apa yang dia lakukan sebelum tahun dua ribu dua puluh sembilan ini, dia ingin mempelajarinya secara perlahan apa yang dia katakan, yang dia janjikan pada istri dan anak-anaknya.
"Mas, emm Salma udah tiga tahun lho. Aku ingin punya anak laki-laki," kata Ralin seperti memberi kode.
Tangannya menempel di dada Aryo, tentu saja laki-laki itu jadi tegang. Kenapa jadi tegang sendiri mendengar ucapan Ralin tentang anak laki-laki?
"Mas Aryo, aku pengen."
"Eh, dek?"
_
_
*******
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!