NovelToon NovelToon

Hasrat Sang Kapten

Apartemen Mewah

...Sintia...

...𓆉𓆝𓆟 𓆞 𓆝 𓆟𓇼...

“Habis kena cupang di leher, ya, Nona?" tegur seorang kakek. Dia lagi pencet-pencet tombol yang ada di panel lift, sesekali mencuri pandang sambil menunjuk ke arah leher gue. "Kalau bukan, itu pasti tanda lahir, sudah?"

Tanpa sadar tangan gue justru ikut menyentuh bagian bawah daun telingga, dan itu beneran bikin bulu roma ini berdiri.

“Dulu, saya punya mama pernah bilang, letak tanda lahir itu kasih tahu kita bagaimana seseorang bisa mati di kehidupan masa lalunya. Sepertinya, Nona dulu pernah tikam mati di bagian leher, kah?”

Gue ambil senyum tipis, kaku, tapi masih belum bisa memutuskan, gue harus takut atau terhibur.

Meskipun kakek ini terlihat menyeramkan dengan logat timurnya, tapi jelas dia enggak mungkin berbahaya. Postur tubuhnya bungkuk dan kalau jalan sedikit goyang, itu bikin gue yakin kalau dia mungkin sudah lebih dari delapan puluh tahun menghuni planet ini.

Dia jalan ke salah satu kursi beludru merah yang ada di dinding sebelah lift. Mengeluh saat duduk di kursi kemudian memperhatikan gue lagi. “Nona pasti mau naik ke lantai delapan belas?”

Gue coba mencerna pertanyaannya.

Kenapa dia bisa tahu kalau gue mau ke lantai itu?

Ini pertama kalinya gue ke sini dan untuk pertama kalinya juga bertemu makhluk seaneh ini.

“Iya, Pak, eh Om, ... Kek,” kata gue dengan hati-hati. "Kakek kerja di sini?”

“Betul.” Dia mengangguk ke arah lift, dan mata gue beralih ke angka-angka yang menyala di atas. Masih ada sebelas lantai lagi sebelum pintu lift benar-benar terbuka.

“Saya tukang tekan tombol lift,” tegasnya. “ Saya Pilot di apartemen ini, Nona. Karena setiap hari saya suka antar orang sampai dua puluh lantai ke atas.”

Gue ketawa mendengar kata-katanya, karena Abang dan Bokap gue sama-sama pilot. “Udah berapa lama Kakek jadi Pilot di lift ini?” Rasanya ini lift paling lambat yang pernah gue temui.

“Sejak saya pensiun jadi perawat."

"Oh, dulu kakek kerja di Rumah Sakit?"

"Tentu tidak, saya kerja di sini, saya yang merawat gedung ini sudah 32 tahun sebelum saya jadi Pilot. Sekarang sudah lebih dari 15 tahun saya antar orang ke atas. Pemilik gedung kasih saya kerjaan ini mungkin karena dia orang kasihan, biar saya tetap sibuk sampai saya mati.”

Dia ketawa sendiri. Benar-benar aneh.

 “Tapi dia tidak tahu kalau tuhan masih kasih saya banyak mimpi yang harus saya capai dalam hidup ini, dan saya enggak akan mati cepat-cepat.”

Gue lega saat akhirnya pintu lift terbuka. Buru-buru ambil pegangan koper dan menoleh ke kakek itu sekali lagi. “Nama Kakek siapa?”

"Samuel, Nona. Tapi panggil saja saya Kapten,” katanya. “Semua orang yang ada di apartemen ini juga manggil saya begitu.”

“Kakek... Kapten punya tanda lahir juga?”

“Ada, toh. Ternyata di kehidupan masa lalu, saya ditembak tepat di pantat. Saya pikir dulu saya mati karena kehabisan darah.”

Gue cuma bisa tahan tawa dan taruh tangan di dahi, memberi hormat ala awak penerbangan kepada sang Kapten dengan layak.

Gue berbalik ke pintu lift yang terbuka. Gue heran dengan kemewahan lobi ini. Tempat ini lebih mirip hotel berbintang ketimbang apartemen, karena banyak patung-patung besar dan lantainya juga dari marmer.

Waktu Amio bilang kalau gue boleh tinggal di sini sampai dapat kerjaan, gue enggak nyangka dia hidup layaknya orang dewasa benaran. Gue kira hari ini akan mirip seperti pertemuan terakhir gue, setelah lulus SMA, waktu dia masih baru mulai ngurusin lisensi pilotnya. Itu empat tahun lalu dan kompleksnya yang lama ada di lingkungan kumuh. Gue kira, gue bakal tinggal di tempat seperti itu lagi. Tapi gue salah.

Gue lihat panel dan menekan tombol untuk lantai delapan belas, lalu menoleh ke arah dinding kaca lift yang memantulkan penampakan tubuh gue yang acak-acakan. Capek setelah menyetir sendirian sejauh seribu kilometer dalam dua hari ini.

Rambut gue diikat longgar di atas kepala, dikonde pakai pensil, karena enggak sempat menemukan pengikat rambut selama perjalanan. Biasanya mata gue sama coklatnya dengan rambut hazelnut gue, tapi sekarang tampak seribu kali lebih gelap, berkat kantong mata yang bikin gue terlihat seperti pocong yang pakai wig.

Gue rogoh tas buat cari Lipstick, berharap bisa memperbaiki warna bibir sebelum gue terlihat kering seperti kakek-kakek tadi.

Begitu lift mulai menutup, tiba-tiba pintunya terbuka lagi. Ada cowok yang berlari menuju ke sini dan siap masuk sambil mengangguk ke arah Kapten yang lagi berjaga di sebelah. “Terima kasih, Kapten,” katanya.

Gue enggak bisa lihat Kapten dari dalam lift ini, tapi gue dengar dia membalas dengan suara yang sedikit menggerutu. 

Cowok ini kelihatannya baru berusia dua puluhan. Dia senyum ke arah gue, dan gue tahu persis apa yang ada di dalam pikirannya, karena dia baru saja menyelipkan tangan kirinya ke saku.

Benar.

Tangan yang ada cincin kawinnya.

“Lantai sepuluh,” katanya.

Matanya jatuh ke belahan dada yang terlihat dari baju gue, lalu dia melihat koper. Gue tekan tombol untuk lantai sepuluh. Sedikit menyesal sama outfit yang gue pakai, seharusnya gue pakai sweeter atau hoodie.

“Lagi pindahan?” tanyanya, jelas-jelas menatap belahan gue lagi.

Gue mengangguk, meskipun ragu kalau dia bakal memperhatikannya, karena tatapannya enggak pernah ke arah wajah gue.

“Lantai berapa?”

Sial.

Gue beralih posisi dan menutupi semua tombol di panel dengan tangan, menyembunyikan tombol lantai delapan belas yang menyala, lalu gue tekan semua tombol antara lantai sepuluh dan delapan belas.

Bahaya.

Jangan sampai cowok cabul ini tahu kamar apartemen yang bakal gue tempatin.

Dia melirik ke panel, bingung.

“Bukan urusan lo,” kata gue. 

Dia ketawa.

Dia kira gue bercanda.

Dia mengangkat alis hitam tebalnya.

Alisnya bagus. Tersambung dengan wajah yang cakep, menempel pada kepala yang sedikit kotak, tertaut dengan badan yang atletis. Tapi badan itu, badan yang sudah terjamah oleh banyak wanita.

Sial.

Dia kasih senyuman menggoda setelah sadar kalau gue memperhatikannya, padahal sebenarnya gue enggak memperhatikan dia seperti yang dia kira. Di kepala gue, gue cuma penasaran, berapa kali tubuh itu melekat pada tubuh gadis lain yang bukan istrinya.

Gue cuma kasihan sama istrinya. 

Dia kembali memperhatikan belahan dada gue saat kami sampai di lantai sepuluh. “Gue bisa bantu bawain koper lo,” katanya, sambil menunjuk koper.

Suaranya keren.

Gue penasaran, berapa banyak gadis yang jadi korban karena suara itu. Dia mendekat dan berani-beraninya menekan tombol untuk menutup pintu lift.

Gue melotot dan tekan lagi tombol itu. “Gue bisa sendiri.”

Dia mengangguk seolah paham, tapi masih ada kilatan jahanam di matanya yang bikin gue takut.

Dia keluar dari lift dan berbalik, kasih senyum genitnya ke gue sebelum pergi. “Sampai ketemu lagi nanti, ya, Tia,” katanya, tepat saat pintu menutup.

Bibir gue mengerut, merasa enggak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi. Ada dua cowok yang baru gue temui di gedung apartemen ini, dan mereka sudah tahu nama dan tujuan gue.

Gila.

Gue sendirian di dalam lift saat berhenti di setiap lantai, sampai akhirnya tiba di lantai delapan belas.

Gue keluar, ambil HP dari saku, dan nge-chat Amio. Gue enggak ingat nomor apartemen mana yang dia bilang.

1806 atau 1804.

Mungkin 1816?

Gue berhenti di 1804, karena ada cowok tergeletak di lantai koridor, bersandar di pintu 1806.

Tolong, Amio, jangan 1806.

Gue cari-caru riwayat pesan di percakapan gue sama Amio.

Sial, ternyata benar, 1806.

Gue jalan pelan-pelan ke arah pintu, berharap enggak membangunkan cowok itu. Kakinya berserakan di depan, dan dia bersandar di pintu apartemen Amio. Dagunya menempel di dada dan dia lagi mendengkur.

“Permisi,” kata gue, sedikit lebih keras dari suara angin.

Dia sama sekali enggak gerak.

Gue angkat kaki dan colek bahunya dengan kaki gue.

“Hei, gue harus masuk ke apartemen ini.”

Dia mulai bergerak dan perlahan membuka matanya.

Dia melotot.

Cowok Aneh

Matanya bertemu dengan lutut gue, dan alisnya mengkerut. Dia condong ke depan dengan wajah merahnya. Mengangkat tangan dan menyentuh lutut gue dengan jarinya, seolah-olah dia belum pernah melihat lutut.

Dia turunkan tangannya, menutup mata, dan kembali tidur bersandar di pintu.

Bagus.

Amio baru balik besok, jadi gue telepon nomornya untuk memastikan apakah cowok ini berbahaya.

...📞...

^^^“Tia?”^^^

“Yaps,”

“Gue udah sampai, tapi gue enggak bisa masuk, ada orang mabuk di depan pintu. Gimana, nih?”

^^^“Lantai delapan belas?”^^^

^^^“Lo yakin lo di apartemen yang benar?”^^^

“Yakin.”

^^^“Lo yakin dia mabuk?”^^^

“Yakin.”

^^^“Aneh,”^^^

^^^“Dia pakai apa?”^^^

“Kenapa lo kepo banget dia pakai apa?”

^^^“Kalau dia pakai seragam pilot, dia mungkin tinggal di gedung ini. Apartemen ini kerja sama dengan maskapai tempat gue kerja.”^^^

Cowok ini enggak pakai seragam, tapi gue rasa celana jeans dan kaos hitamnya kelihatan pas di tubuhnya. Dan itu kelihatan seksi.

“Enggak ada seragam,”

^^^“Bisa lewat, gak, tanpa bangunin dia?”^^^

“Gue harus geser dia. Dia bakal jatuh ke dalam kalau gue buka pintunya.”

Amio diam beberapa detik sambil berpikir.

^^^“Coba lo turun ke bawah cari penjaga gedung, cari Kapten. Gue udah bilang ke dia kalau lo bakal datang malam ini. Suruh aja dia bantuin lo buat masuk ke apartemen.”^^^

Gue ambil napas panjang, karena gue udah capek nyetir selama enam jam, dan buat balik ke lantai bawah bukanlah sesuatu yang gue mau sekarang. 

Gue juga enggak habis pikir, karena makhluk reinkarnasi itu justru jadi orang terakhir yang mungkin bisa bantuin gue dalam situasi ini.

“Jangan matiin teleponnya, tunggu gue sampai masuk di apartemen lo.”

Gue lebih suka rencana ini.

Gue taruh telepon di antara telinga dengan bahu gue dan mencari kunci yang dikirim Amio di tas. Pelan-pelan gue masukkan kunci ke dalam lubang pintu dan mulai buka pintunya, tapi cowok mabuk itu selalu jatuh ke belakang setiap kali pintu terbuka sedikit. Dia mengeluh dengan mata tertutup.

“Sayang banget dia mabuk,”

"Dia enggak jelek-jelek amat.”

^^^“Tia, cepat masuk dan kunci pintunya biar gue bisa tutup telepon lo.”^^^

Gue putar mata.

Dia masih saja jadi kakak yang sok ngatur kayak dulu. Gue tahu kalau tinggal bareng dia bakal enggak bagus buat hubungan kita. Tapi, gue enggak punya waktu, jadi ya, enggak ada pilihan lain.

Gue, sih berharap, semoga sekarang keadaan bakal berbeda. Amio beranjak dua puluh lima tahun dan gue dua puluh tiga tahun. Kalau kita enggak bisa akur dan masih sama kayak dulu, waktu kita kecil, ya, berarti kita masih punya banyak PR buat tumbuh dewasa.

Gue rasa, itu tergantung sama Amio. Apakah dia berhasil berubah sejak terakhir kali kita tinggal bareng. Dulu dia punya masalah sama setiap cowok yang gue pacari, semua teman gue, setiap keputusan yang gue buat, bahkan kampus yang gue pilih. Walaupun, gue enggak pernah sih, ambil pusing sama pendapatnya.

Jarak dan waktu yang memisahkan kita selama beberapa tahun terakhir ini bikin dia enggak terlalu nggerecokin, tapi tinggal bareng dia lagi bakal jadi ujian terberat buat gue.

Gue lilit tali tas di pundak, tapi malah nyangkut di pegangan koper, jadi gue biarkan saja tas itu jatuh ke lantai. 

Tangan kiri gue masih erat menggenggam gagang pintu, menahannya, biar orang gila ini enggak jatuh ke dalam apartemen. 

Gue tempel kaki gue ke bahunya, dorong dia dari tengah-tengah pintu. Tapi dia enggak bergerak sama sekali.

"Miooo. Arghh. Dia berat bangeeeet. Bentaran, gue harus tutup telpon biar bisa pakai kedua tangan."

^^^"Jangan ditutup! Taruh aja HP lo di kantong, tapi jangan dimatiin."^^^

Gue lihat ke baju dan legging yang gue pakai.

“Enggak ada kantong, nih. Masuk ke Bra aja, ya.”

Amio langsung bikin suara muntah waktu gue cabut HP dari telinga dan menyelipkannya ke dalam Bra. 

Gue cabut kunci dari lubangnya dan menjatuhkannya ke tas, tapi malah meleset dan jatuh ke lantai.

Gue bungkuk buat tarik cowok mabuk ini biar bisa menggeser dia dari pintu.

“Oke, brooo,” hentak gue sambil susah payah menariknya dari tengah pintu. “Maaf ganggu tidur lo, tapi gue mesti masuk ke apartemen ini.”

Gue berhasil menyangga dia di kusen pintu biar enggak jatuh ke dalam apartemen. Gue dorong pintunya dan balik buat mengambil barang-barang.

Sesuatu yang hangat melilit pergelangan kaki gue. 

Gue langsung diam.

Gue lihat ke bawah.

"Lepasin gue!" teriak gue sambil tendang tangan yang menggenggam pergelangan kaki dengan kuat, gue yakin cakarnya bakal meninggalkan lebam di kaki cantik ini.

Cowok mabuk itu sekarang memelototi gue, dan genggamannya bikin gue jatuh ke belakang, ke dalam apartemen waktu gue coba tarik kaki dari dia.

"Gue harus masuk ke sana," gumamnya. Dia mencoba dorong pintu apartemen dengan tangan yang satunya, dan langsung bikin gue panik.

Gue tarik kaki biar sepenuhnya masuk ke dalam, tapi tangannya juga ngikut. Gue pakai kaki yang satunya lagi buat tutup pintu, dan seketika menghantam pergelangan tangannya.

"Argghh!" Dia teriak.

Dia coba tarik tangannya yang terjepit, tapi kaki gue masih menahan pintu. Gue lepaskan secukupnya biar dia bisa tarik tangannya, terus langsung gue tendang pintunya sampai tertutup rapat.

Gue berdiri buru-buru mengunci pintu, dan pasang rantai pengaman secepat mungkin.

Begitu detak jantung gue mulai tenang, tiba-tiba ada suara yang berteriak di dalam dada gue.

Suara itu benar-benar berteriak dari dalam hati gue.

Suara cowok yang begitu menggetarkan dada gue.

Suara itu seperti lagi teriak,

^^^"Tia! Tia!"^^^

Amio.

Gue langsung lihat ke dada gue dan tarik HP dari Bra, terus gue angkat ke telinga.

^^^"Tia! Jawab gue!"^^^

Gue meringis, terus menjauhkan HP beberapa inci dari telinga gue.

"Gue baik-baik aja,"

"Gue udah ada di dalam. Gue kunci pintunya."

^^^"Ya ampun!"^^^

^^^ "Lo bikin gue hampir mati. Apa yang barusan terjadi?"^^^

"Dia mau masuk. Tapi, gue udah kunci pintunya." 

Gue nyalain lampu ruang tamu dan cuma butuh tiga langkah sebelum gue berhenti.

Bagus, Sintia.

Pelan-pelan balik badan ke arah pintu setelah sadar dengan apa yang telah gue lakukan.

"Aduh, Miooo?"

"Barang-barang gue ketinggalan di luar. Arrrgh! Gimana ini?"

Amio diam beberapa detik.

^^^ "Apa yang lo tinggalin di luar?"^^^

Sang Penyelamat

“Koper gue.”

^^^“Serius?” ^^^

“Sama... tas.”

^^^“Kenapa bisa tas lo ada di luar, sih, Tia?”^^^

“Gue mungkin juga ninggalin kunci apartemen lo di lantai lorong.”

Dia bahkan enggak merespons yang satu itu. Dia cuma menggerutu.

^^^ “Gue bakal telepon Tama, bentar, dia udah pulang atau belum, ya... Kasih gue dua menit.”^^^

“Tu—tunggu. Siapa Tama?”

^^^“Dia tinggal di seberang lorong. Tunggu bentar, jangan buka pintu sampai gue telepon balik.”^^^

Amio tutup teleponnya dan gue bersandar ke pintu depan.

Gue baru tiga puluh menit tinggal di Jakarta, dan udah bikin repot kakak gue.

Keren, kan?

Mungkin gue bakal lebih beruntung kalau dia kasih ijin gue tinggal di sini sampai gue dapat kerja. Semoga saja enggak butuh waktu lama, karena gue udah taruh lamaran buat kerja part time di tiga rumah sakit di Jakarta.

Gue bakal terima entah itu kerja malam, akhir pekan, atau keduanya, yang penting bisa tambah pemasukan.

HP gue berdering. Gue geser jempol di layar dan angkat teleponnya.

“Halo.”

^^^“Tia?”^^^

“Ya,”

^^^“Gue udah hubungin Tama.”^^^

“Bagus. Dia bakal bantuin gue ngambil barang-barang gue, kan?”

^^^“Enggak, kayaknya gue butuh bantuan lo, deh.”^^^

“Bantuan apa?”

^^^“Tama butuh bantuan lo.”^^^

“Tetangga lo?”

Gue berhenti sejenak begitu gue sadar, dan tutup mata.

“Mio, please... jangan bilang kalau orang yang lo telepon buat ngelindungin gue dari cowok mabuk itu adalah cowok mabuk itu sendiri.”

^^^“Gue butuh bantuan lo buat buka pintu dan biarin dia masuk. Biarin dia tidur di sofa. Gue entar pulang pagi-pagi buta. Begitu dia sadar, dia bakal tahu di mana dia, dan dia bisa langsung pulang.”^^^

“Lo tinggal di apartemen kayak apa, sih, Mio? Apa gue harus siap-siap diraba sama orang mabuk setiap kali gue pulang?”

Diam cukup lama.

^^^“Dia ngeraba lo?”^^^

“Mungkin ‘ngeraba’ terlalu kasar. Tapi dia memang megang pergelangan kaki gue.”

^^^ “Lakuin aja ini buat gue, Tia. Telepon gue lagi kalau lo udah temuin dia dan semua barang lo udah di dalam.”^^^

“Oke.”

Gue matikan telepon Amio dan buka pintu.

Cowok itu jatuh, dan HP-nya meluncur dari tangan ke lantai dan mendarat di samping kepalanya. Gue balik badannya, telentang dan gue lihat ke bawah, ke arah dia. Matanya sedikit terbuka.

“Lo bukan Amio,” gumamnya.

“Enggak. Gue bukan dia. Tapi gue tetangga baru lo, dan kelihatannya, lo bakal punya utang ke gue."

Gue angkat bahunya buat membangunkannya, tapi dia masih enggak bisa duduk.

Gue tarik tangannya dan seret dia perlahan masuk ke apartemen, berhenti ketika dia sudah cukup masuk dan gue bisa tutup pintu.

Gue ambil semua barang gue di luar, terus tutup dan mengunci pintu depan. Gue ambil bantal kecil dari sofa buat ganjal kepalanya, dan balikan dia ke posisi miring buat jaga-jaga kalau dia muntah saat tidur. Dan cukup, itu saja bantuan yang bakal dia dapat dari gue.

Dia tidur dengan nyaman di lantai tengah ruang tamu, sementara gue berkeliling apartemen.

Ruang tamunya saja bisa muat tiga kali ruang tamu dari kontrakan Amio yang lama. Dapurnya terbuka mengarah ke ruang tamu, terpisah dengan setengah dinding. Ada beberapa lukisan di sepanjang ruangan, dan sofa tebal yang empuk berwarna krem muda mengimbangi lukisan-lukisan yang cerah.

Terakhir kali gue tinggal bareng dia, dia cuma punya foto keluarga, dan kalender dinding. Kayaknya kakak gue akhirnya mulai dewasa.

"Keren, lo Amio," takjub gue sambil jalan dari satu ruangan ke ruangan lainnya dan menyalakan semua lampu, memperhatikan apa yang sekarang jadi rumah gue buat sementara.

Gue benci karena tempat ini terlalu bagus. Ini bakal bikin gue jadi enggak rela buat pindah ke tempat sendiri begitu tabungan gue cukup.

Gue masuk ke dapur dan buka kulkas. Ada sederet saos di pintu, sekotak pizza di rak tengah, dan sebotol susu masih duduk di rak paling atas.

Tentu saja dia enggak punya stok bahan makanan. Gue enggak bisa berharap dia berubah sepenuhnya.

Gue ambil sebotol air mineral dan keluar dari dapur buat cari kamar yang bakal gue tempati beberapa bulan ke depan. Ada dua kamar tidur, jadi gue ambil yang bukan milik Amio dan menaruh koper gue di atas tempat tidur.

Masih ada tiga koper lagi dan enam kardus di mobil, belum lagi baju- baju gue yang masih di gantungan, tapi gue enggak bakal urus itu malam ini. Amio bilang dia bakal balik besok pagi, jadi gue biarkan itu jadi urusannya.

Gue ganti baju, jadi celana panjang santai dan tank top, terus sikat gigi dan siap-siap buat tidur.

Biasanya, gue bakal waswas kalau ada orang asing di tempat yang sama, tapi entah kenapa gue merasa enggak perlu khawatir kali ini.

Amio enggak pernah minta gue buat nolong seseorang yang dia rasa berbahaya buat gue. Tapi, yang bikin gue bingung, kalau seperti ini kebiasaan Tama, kenapa Amio minta gue buat bawa dia masuk.

Dia enggak pernah percaya sama cowok-cowok yang deketin gue, contohnya Rafael. Dia pacar pertama gue waktu masih lima belas tahun, dan dia sahabat terbaik Amio.

Rafael waktu itu tujuh belas, dan gue naksir banget sama dia selama berbulan-bulan. Tentu saja, gue dan teman-teman sering naksir sama teman-teman Amio, karena mereka lebih dewasa dari kita.

Rafael sering datang hampir setiap minggu buat menginap di rumah, dan kita selalu punya cara buat menghabiskan waktu bersama saat Amio lagi enggak mengawasi.

Setelah beberapa pekan jadian backstreet, Rafael bilang kalau dia enggak mau hubungannya diumbar. Yang jadi masalah adalah bagaimana reaksi Amio saat Rafael benar-benar memutuskan hubungan dengan gue. Dia benar-benar nge-cut off gue.

Bayangkan, hati anak lima belas tahun bisa patah setelah hubungan backstreet selama dua minggu. Ternyata Rafael juga pacaran sama beberapa cewek lain selama dua minggunya sama gue.

Begitu Amio tahu, persahabatan mereka selesai, dan semua teman Amio dikasih peringatan buat enggak dekati gue. Gue hampir enggak bisa pacaran waktu SMA sampai akhirnya Amio pindah.

Bahkan setelah itu, cowok-cowok yang udah dengar cerita horor tentang kakak gue, mereka cenderung menghindar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!