Kenzo duduk diantara orang tua dan dua adiknya. Ruang tamu yang biasanya di penuhi kehangatan dan canda tawa kini berubah menegangkan saat suara penolakan Kenzo mendominasi.
"Tolong Mom, selain itu pasti akan Kenzo lakukan. " Kenzo menolak dengan lantang permintaan Ibunya. Ibu yang sudah membesarkannya tanpa pernah membedakan dirinya dan kedua adiknya.
"Tidak." Diana bersikeras. "Mommy tidak pernah meminta apapun padamu Ken. Kali ini saja Ken. "
"Atau kau ingin Mommy.. "
"Mom." Kenzo mengerang frustasi. Ia menyugar kasar rambutnya hingga berantakan.
"Mommy selalu menuruti keinginan mu Ken, bahkan saat kau ingin meninggalkan mommy dulu. Mommy tidak protes meski kepergian mu membuat dunia Mommy runtuh. " Diana mulai ber'akting, wajah sedihnya akan membuat Ken semakin tidak bisa menolak.
"Atau kau ingin mommy mu ini mati dulu, baru..."
"Stop Mom, hentikan! " bentak Kenzo. baru kali ini Kenzo meninggikan suaranya yang membuat semua orang terkejut.
"Ken, apa apaan kau ini. Beraninya kau meninggikan suaramu pada ibumu Ken. " bentak Prabu. Sejak tadi Prabu diam karena istrinya, tapi ia tidak ada bisa diam jika istrinya di bentak meski oleh putranya sendiri.
Kenzo terdiam menyadari kesalahannya, dadanya kembang kempis. Saat itu juga Kenzo berlutut di depan Ibunya, memohon maaf sedalam-dalamnya.
"Maafkan Ken, Mom, Ken tidak sengaja. " Tangisan Ken membuat Diana merasa bersalah. Selama ini Diana tidak pernah melihat Ken menangis, itu karena Diana tidak pernah membiarkannya.
Kepala Ken yang kini berada di pangkuannya Diana elus dengan sayang."Tidak Ken, jangan menangis. Mommy hanya ingin kau bahagia. tolong kali ini jangan tolak Mommy. "
Kenzo mengangkat kepalanya, menatap ke dalam mata ibunya yang penuh dengan cinta kasih.
"Tapi Mom.. "
Diana bangkit, jalan ke kamarnya diikuti Prabu di belakangnya. Diana tidak bisa melihat kesedihan di mata putra sulungnya itu. Karena itu akan membuat dirinya lemah.
Kenzo semakin prustasi, rasa bersalah karena sudah membentak ibunya menyeruak di dalam hatinya. tapi Kenzo benar-benar tidak bisa melakukan permintaan Ibunya. Sementara Kenzo larut dalam fikiran nya, Damar dan Disa saling menatap. Mereka merasa kasihan pada kakak mereka itu. belum genap sebulan kakaknya di rumah tapi ia sudah mendapatkan masalah yang besar dari Ibu mereka.
"Keputusan semua ada di tangan kakak. tapi seingatku Mommy memang tidak pernah meminta apapun dari kakak, ya dari kita juga. tapi semoga kakak tidak mengecewakan Mommy." ucap Damar.
" Kaka sangat ingin mengabulkan permintaan Mommy, Damar. Tapi kenapa harus dia? "
"Rahasia Tuhan tidak ada yang tahu kak, mungkin memang jodoh kakak itu Kak Nuha. "ucap Disa.
Kenzo menatap adik kesayangannya, Satu-satunya anak perempuan di keluarga Wijaya yang harus Kenzo jaga dengan segenap jiwa dan raga.
" Tidak ada hal yang seperti itu Disa. Dari mana kamu belajar itu? kamu itu masih kecil. tidak usah memikirkan jodoh. "kata Kenzo memperingatkan adiknya.
Disa mengerucutkan bibirnya, tidak Terima jika ia masih dianggap anak kecil. " Disa sudah 22 tahun kak. "protes Disa.
Kenzo menggeleng. " Bagi kakak, kamu tetap Princess kecil kakak. "
Disa tersenyum malu lalu berhambur ke pelukan Kenzo. Meski dia mengatakan ia sudah besar, tatap saja ia akan manja jika sudah bersama Kenzo.
"Kalian selalu membuat aku iri. " protes Damar.
"Ck, kamu itu laki-laki. Harus tahan banting, jangan baper. " kata Kenzo saat Disa sudah menarik diri dari pelukan Ken.
ucapan Kenzo membuat Disa tertawa senang. Kakak kembarannya itu selalu kalah jika sudah ada Kenzo di belakang Disa.
"ok, kembali ke Kak Silvia. Kenapa kakak tidak mau menikah dengannya? "
"Tidak ada alasan. " jawab Kenzo
Disa dan Damar menghela nafas berat bersamaan. Karena jawaban itu sudah beberapa kali mereka dengar, dan mereka, Bosan.
**
Keesokan harinya, di sebuah rumah sederhana terlihat seorang wanita berusia sekitar 25 tahun tengah sibuk menata tanaman di depan rumahnya. Wanita itu baru kembali sekitar 5 bulan yang lalu, wanita cantik dengan tinggi sekitar 165 cm dengan warna kulit kuning langsat, berambut hitam pekat membuat siapapun yang menatapnya pasti terpesona. Begitupun dengan wanita paruh baya yang kini sedang berdiri memperhatikannya. Siapa lagi kalau bukan Diana, ia berjalan mendekati wanita itu dengan senyum tersungging di bibir indahnya yang mulai terlihat tanda penuaan.
"Nuha? " tanya Diana
"Iya." jawab Nuha sambil menyeka peluh yang menetes di dahi.
Setengah terpaku Nuha akhirnya sadar lalu dengan ramah mempersilahkan Diana masuk ke dalam rumahnya.
"Silahkan Bu. " Diana mengangguk sambil menyambut keramahan Nuha dengan senyum.
"Lama tidak bertemu, kau semakin cantik. " puji Diana tulus.
"Ibu juga masih sangat cantik, Paman tidak ikut? " tanya Nuha sebagai tanda basa-basinya.
Diana menggeleng sambil tersenyum. "Tidak, dia sedang berada di pesawat. Ada pekerjaan di luar negeri yang tidak bisa di wakilkan. " jawab Diana
"Oh." Nuha mengangguk tanda mengerti."Ibu tunggu sebentar, Nuha siapkan teh. "Nuha bangkit, berlaku ke dapur dengan cepat membuatkan teh. membawakan beserta camilan.
" Silahkan Bu. "Nuha meletakan nampan berisi teh dan kue di depan Diana. " Ibu apa kabar? "
Diana mengangguk, ia mengambil cangkir berisi teh itu dan menyeruput nya pelan. "teh kamu selalu enak. " puji Diana
"Terimakasih Bu. "
"Kabar Ibu Baik. Kamu bagaiamana kabarnya nak? "
"Alhamdulillah baik Bu. " jawab Nuha
"Kamu tahu Kenzo kembali? " Nuha mengernyit, terkejut akan pertanyaan Diana.
Tapi itu hanya sementara, setelahnya Nuha menjawab. "Ya, aku tahu. "
"Sempat bertemu? " Nuha menggeleng.
"Ohh, sayang sekali. kalian harusnya bertemu. "
"Maaf Bu, tanpa mengurangi rasa hormat pada ibu. tujuan ibu sebenarnya apa? " tanya Nuha to the point
Diana berdeham lalu menjelaskan niatnya menemui Nuha. "Ibu ingin kamu menikah dengan Kenzo. Kalian... "
"Maaf Bu, bukan bermaksud tidak sopan karena memotong ucapan Ibu. tapi aku tidak paham maksud ucapan Ibu. "
Diana sedikit menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Nuha. menggenggam tangan Nuha lalu mengelus nya lembut.
"Kepulangan Kenzo pasti ada alasannya. Maafkan Ibu, tapi Ibu sudah mendengar tentang gagalnya pernikahanmu. Maka dari itu Ibu memberanikan diri untuk menemuimu nak. Kenzo dia.... "
"Tolong di perjelas Bu? Via tidak bisa mengerti maksud Ibu. " Nuha sejujurnya tahu, tapi tentunya Nuha syok dengan tujuan Diana datang ke rumahnya.
"Ibu ingin melamar kamu untuk Kenzo. ini hanya bentuk penyampaian saja, jika kamu setuju ibu akan membawa Kenzo beserta keluarga besar Ibu untuk melamar mu. "
"Apa Ibu sudah memikirkan ini sebelumnya? jika ia, seharusnya Ibu memikirkan nya lebih lama." ucap Nuha.
"Tapi nak...",
" Nuha tidak bisa menerima lamaran Ini Bu, Nuha tidak mungkin dengan Kenzo. maaf. "tolak Nuha. Apapun alasannya Nuha akan tetap menolak.
sejujurnya Nuha dan Kenzo sempat bertemu di sebuah pameran lukisan yang baru saja diadakan seminggu lalu. Tatapan Kenzo yang begitu dalam menyiratkan rasa jijiknya kepada Nuha membuat Nuha memutuskan untuk tidak akan pernah bertemu dengan Pria itu. Bahkan Nuha bersumpah akan pergi sejauh mungkin jika bisa.
*
Nuha berlari di lorong rumah sakit, saking paniknya ia tidak memperdulikan tatapan orang-orang terhadapnya. Sore itu Nuha mendapat kabar jika Diana kecelakaan sepulang dari rumahnya, Nuha merasa sangat bersalah setelah ucapannya siang tadi.
Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di ruangan itu, Nuha masuk ke dalam dengan dada berdebar. Meskipun Kenzo akan menghina dan menolaknya, Nuha tidak perduli. yang ia ingin tahu hanya keadaan Diana.
"Bu." sapa Nuha yang tengah berdiri di depan Pintu.
Tubuh Kenzo menegang saat mendengar suara yang sudah cukup lama tak ia dengar. walau mereka sempat bertemu, tetap saja Kenzo belum siap bertatap muka dengan Nuha.
Dahi Nuha mengernyit saat Prabu berada di sana dan menyapanya, tapi ia tidak bertanya apapun . Hanya Prabu, tidak dengan yang lain. Bahkan Damar dan Disa tidak melihatnya, semua karena perintah Kenzo.
"Ibu Baik, apa ada luka yang lain? " tanya Nuha khawatir. Melihat kepala wajah Diana yang lecet dan ada juga beberpa di bagian tangan membuat Nuha sedih.
Kenzo berdiri, menatap Nuha tajam. "Mommy ingin aku menikah dengan wanita ini. " tunjuk Kenzo. "Wanita ini bahkan di buang oleh calon suaminya karena scandal perselingkuhannya Mom. Aku tidak mau! "
Nuha membeku di tempat, hinaan macam apa yang di lontarkan Kenzo padanya.
"Ken." Prabu memperingatkan putranya agar tidak melewati batasan.
Nuha menahan segala gejolak dalam dirinya. Harga dirinya harus ia selamatkan. karena saat ini hanya itu yang dia punya.
Diana menggenggam kuat tangan Nuha. "Jangan dengarkan dia, Ibu minta maaf atas namanya. Maaf jika ibu terlalu memaksa padahal kau sudah menolak. Tapi kali ini Ibu tidak akan memaksa lagi. "
"Ibu tidak memaksa ku sama sekali. " Nuha menenangkan Diana.
"Kalian semua keluar dulu, Daddy ingin bicara dengan Nuha. " ucapan Prabu tegas. Damar dan Disa keluar tanpa memprotes, sementara Kenzo masih kekuh di tempatnya.
"Ken, keluarlah dulu. Dengar Ayah kali ini ken. " Prabu bicara semakin tegas, kali ini tidak ingin di tolak.
Kenzo kesal, tapi tidak bisa bicara apapun jika sudah ayahnya yang bicara. Setelah pintu ruangan tertutup, Prabu mempersilahkan Nuha duduk.
Nuha duduk di sofa single bad yang tersedia di ruangan itu. Sementara Prabu duduk tidak jauh dari Nuha, menatap gadis itu lembut. sama seperti Disa, Prabu sudah menganggap Nuha putrinya sendiri.
"Nuha.Paman minta maaf atas nama Ken, paman harap kau mengerti. " Nuha mengangguk, ia sangat mengerti reaksi alami Kenzo. Begitulah dia jika sudah membenci seseorang.
"Sebelumnya Paman minta maaf sudah merepotkan mu, Kau pasti bingung saat melihat paman ada disini. Sebenarnya Paman membatalkan keberangkatan paman karena merasa gelisah meninggalkan istri paman tercinta. " Prabu menggenggam tangan Diana sama seperti dulu saat Diana melahirkan si kembar. Rasa cintanya tidak akan pernah berkurang, dan Nuha bisa melihat cinta yang besar dari keduanya.
"Paman mengerti permintaan istri paman sangat tidak masuk di akal, memaksamu menerima pernikahan ini dengan alasan yang tidak kau ketahui. Tapi percayalah kami memutuskan ini untuk kebaikan kalian. " Prabu diam sejenak lalu melanjutkan. "Kau seorang Muslim, paman tahu itu. Dan keluarga mu menolak Kenzo dengan dalih kalian beda keyakinan. "
"Tapi kemi hanya teman paman. "
Prabu mengangguk. "Ya, paman tahu. Tapi kami mengenal Kenzo lebih dari siapapun. Kau juga Nuha, kau mengenal Kenzo lebih dari kami, tapi hatimu tertutup karena satu alasan yang hanya kau yang tahu alasannya."
Nuha diam,karena yang di katakan Prabu benar.
"Paman ingin meluruskan sesuatu tentang Kenzo yang mungkin kau dan orang lain tidak tahu. Setelah penjelasan paman ini, kau bisa memutuskan. Kami akan menerima keputusanmu. " Prabu mengalihkan pandangan kearah Diana, setelah istrinya mengangguk Prabu pun melanjutkan.
"Kenzo seorang Muslim. " pengakuan Prabu membuat Nuha terkejut. Begitu jelas terlihat di wajah cantiknya.
"Ada alasan yang tidak bisa kami ceritakan padamu, Nuha. Yang jelas Kenzo tidak menganut agama kami karena Kenzo bukan anak kandung kami. Tapi Paman mohon kau jangan salah paham. meskipun Kenzo bukan darah daging kami, dia tetap putra kesayangan kami. Jadi jika alasannya karena agama, kalian bisa menikah. Ayah kandung Kenzo seorang muslim. "
Nuha menatap dua orang di depannya dengan bingung. Bukan masalah sekarang ia mengetahui jika Kenzo seiman dengannya, tapi semua sudah terlalu jauh. Kenzo tidak bisa ia jangkau lagi. Kebencian Kenzo tanpa dasar membuat Nuha enggan berhubungan lagi dengan pria itu
****
Pintu ruangan terbuka, Nuha keluar tanpa melihat kebelakang. Fikiran nya di penuhi banyak pertanyaan yang tidak ada jawaban sama sekali. apalagi mengetahui satu fakta baru. Bukan tentang Kenzo anak angkat keluarga Wijaya ataupun Kenzo seorang Muslim. Tapi kebenaran Jika Diana mengidap satu penyakit yang sangat berbahaya.bahkan Kenzo dan yang lain tidak mengetahui itu. Rencananya setelah pernikahan Kenzo dan Nuha, Prabu akan membawa Diana keluar Negri untuk menetap disana sekaligus melakukan pengobatan. Tapi jika Nuha menolak Diana tidak akan pergi kemana pun. Tapi bukankah itu sebuah ancaman.
Nuha menyetop taksi, masuk ke dalam lalu menyuruh supir membawanya ke suatu tempat.
Sementara itu di ruang Diana, Kenzo masih tetap menolak. Sampai pada akhirnya Prabu memberitahu penyakit Ibunya. Syok, satu kata itu cocok untuk menggambarkan wajah tiga anak Wijaya kini. Disa yang paling kecil sudah menangis di pelukan ibunya.
"Kenapa Mommy tidak bilang. Mommy pasti stres karena aku kan, Mommy juga pasti lelah mengurus kami kan, hiks. " ucap Disa sambil menangis tersedu.
Kenzo menatap Ibu yang selama ini merawatnya dengan cinta kasih yang bahkan tidak pernah ia dapatkan dari Ibu kandungnya. Dan sekarang ia di hadapkan dengan kenyataan jika Ibunya mengidap penyakit serius. Rasanya Kenzo ingin berteriak keras. Kenzo sudah gagal menjadi anak, ia sangat gagal.
"Ken, Mommy akan pergi jika kau mau menikah dengan Nuha. Tidak ada gadis yang lebih baik darinya untuk berada di sampingmu sayang. Tolong Ken, kabulkan permintaan terakhir Mommy. "
"Tidak Mom, jangan bicara seperti itu. "Kenzo memeluk kaki Diana, tangisannya pecah memenuhi ruangan. Semntara yang paling tenang adalah Damar, anak itu seperti Prabu. tenang dan Dingin saat menghadapi hal besar dalam hidupnya.
Kenzo mengatur nafas, mencoba untuk tenang. Dia yakin ibunya pasti sembuh, dengan pengobatan intensif dan juga kecanggihan teknologi pasti Ibunya sembuh.
" Baik Mom, Ken akan menikahi wanita itu. "
Diana dan Prabu senang mendengar keputusan Kenzo, Diana akan lebih tenang meninggalkan putranya dengan gadis yang tentunya akan merubah hidup putranya. Tapi yang tidak di ketahui Prabu dan Diana, rumah tangga Kenzo dan Nuha tidak akan semudah bayangan mereka.
*
"Sah." suara para saksi bergema di rumah kediaman Wijaya. Nuha dan Kenzo kini telah sah menjadi suami istri setelah perdebatan panjang yang terjadi beberapa hari lalu dan berujung rahasia Diana di bongkar demi putra sulung mereka.
Senyum Diana dan Prabu merekah, wajah Diana sudah lebih segar setelah satu minggu perawatan. Rencananya besok mereka akan pergi ke Singapura untuk melakukan pengobatan yang akan di jalani Diana. Dan rencananya juga Diana dan Prabu akan menetap disana untuk mengurangi resiko kesehatan Diana.
"Terimakasih sudah mengabulkan permintaan Mommy, maafkan mommy jika selama ini Mommy belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk kalian. " suara Diana terdengar bergetar, Haru menyelimuti hatinya karena kini Nuha telah menjadi menantunya.
"Mom.. "Kenzo ingin menyela ucapan Ibunya, tapi Diana lebih dulu bicara.
"Nuha.Mommy sangat senang kamu sekarang sudah menjadi menantu Mommy. Selama Mommy pergi tolong jaga Disa dan Damar untuk kami. Mommy tau kau sangat mampu menggantikan peran kami sebagai orang tua. "
Nuha mengangguk, menggenggam tangan Diana erat. "Nuha akan berusaha semampu Nuha. Tapi Nuha tidak berjanji Bu. Ibu jangan memikirkan mereka, fokuslah pada pengobatan Ibu dan cepat kembali. "
Diana mengangguk dengan senyum haru, tidak menyangka jika sekarang Nuha sudah menjadi menantunya.
"Ken, segera urusan administrasi pernikahan kalian. " tanpa mengatakan apapun lagi Ken meninggalkan ruangan.
Disa dan Damar menyusul kakak mereka. Suasana di ruangan itu terlalu canggung. Dulu mereka memang dekat dengan Nuha, tapi setelah kakaknya mulai menjauhi Nuha mereka pun terpaksa juga menjauh.Tapi mereka ikut senang karena kakaknya akhirnya menikah juga meski sekarang ini mereka tidak sedang akur tapi Disa dan Damar sangat yakin akan kebahagiaan keduanya.
"Nuha." Prabu memanggil Nuha keluar setelah mengajak istrinya ke kamar untuk istirahat. Beberapa saksi dan penghulu juga sudah pulang setelan jamuan makan.
Prabu dan Nuha duduk di taman seperti seorang ayah dan anak yang bahagia.
Prabu menatap lurus kedepan begitupun dengan Nuha. Gadis itu masih sangat syok dengan apa yang terjadi, bahkan keluarga tidak ada satupun yang tahu. Tapi Untuk apa juga memberitahu mereka, juga mereka tidak akan perduli dengan Nuha.
"kau pasti sangat syok! " kata Prabu memecah keheningan yang tercipta.
Nuha mencoba tersenyum, menggerakkan kepalanya ke kanan dan kebawah sebelum menjawab.
"Aku hanya tidak menyangka jika sekarang ini aku sudah menjadi seorang istri. " Kata Nuha sambil menghela nafas pelan. suara lantang Kenzo masih terngiang di kepalanya saat pria itu mengucap ijab kabul tadi. Nuha tidak pernah berfikir jika Ken akan menjadi suaminya.
Prabu tersenyum samar, ia tahu apa yang terjadi salah. Belum lagi keluarga Nuha tidak ada yang tahu satupun. Tapi mungkin juga hal itu benar, jika mereka tahu juga tidak mungkin perduli, Prabu cukup mengenal keluar Nuha yang membuat dirinya yakin jika menikahkan Kenzo dan Nuha keputusan yang tepat.
"Jangan terlalu di fikirkan, Ayah mohon jangan sampai pernikahan kalian seperti Drama yang ada di kebanyakan Novel. yang menceritakan seorang gadis di paksa menikah lalu diam-diam tidur terpisah dengan suaminya. Ayah ingin kalian menjalaninya dengan Normal, Ayah yakin kamu bisa. "
Nuha menatap Prabu lalu terkekeh pelan. Menurutnya ayah mertuanya itu cukup unik. Jarang sekali marah dan begitu menyayangi anak-anaknya, walaupun Kenzo bukan putra kandungnya. Sekarang Nuha sedikit mengerti kenapa Ken tidak memanggil Prabu dengan sebutan Daddy seperti Disa dan Damar.
"Semoga saja Ken tidak membuat Drama ya Yah. "
"Tentu, jika kau tidak memancingnya lebih dulu "kata Prabu lalu keduanya tertawa seolah tahu apa yang ada dalam fikiran masing-masing.
****
Setelah dari taman, Nuha berpamitan pulang untuk mengambil beberapa barang yang di perlukan. saat datang ke kediaman Wijaya, Nuha tidak membawa apapun. Bahkan pakaian untuk akad nya di persiapkan oleh Diana.
Sampainya di rumah Nuha mendapat tatapan mematikan dari sahabat terbaiknya, Rania. gadis itu berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat di bawah dada, wajahnya masam pertanda Monic sedang kesal.
" Sepertinya akan ada bencana besar. "Ucap Beni, suami Rania yang tiba-tiba muncul dari belakang Nuha.
" Aku bisa mengatasinya, kau juga ada. Jadi aku tidak khawatir. "ucap Nuha mengedikkan bahu acuh.
Nuha berjalan kearah Rania yang masih bergeming di tempat. dengan senyum merekah Nuha mendekati sahabatnya itu.
" Hentikan senyum palsumu itu, kau tahu aku sedang marah dan tidak akan bisa kau bujuk dengan hanya senyum seperti itu. "kata Rania.
Rania beranjak dari tempatnya, duduk di kursi kayu yang ada di depan teras rumah Nuha sambil membelakangi Nuha tentunya.
Nuha membuka pintu rumahnya membiarkan Rania dengan segala kekesalannya. Nuha tidak bisa terlalu lama di rumah karena harus kembali ke rumah Wijaya untuk memulai sandiwara pernikahan yang mengikatnya. Sampai Diana dan Prabu pergi, Nuha harus tetap bersikap baik. Bukan karena Nuha ingin menipu keluarga yang tulus menyayanginya, tapi melihat tatapan Kenzo kepadanya membuat Nuha tahu jika hari-harinya tidak akan mudah.
" Nu, kau ini! " teriak Rania saat Nuha tidak memperdulikannya.
Sambil cemberut dan menghentak kaki akibat kesal, Rania mengikuti langkah Nuha masuk ke dalam. Di dalam kamar Nuha, Rania mulai nge reog dan Nuha tahu itu.
"Kamu sudah gila ya Nu, gimana bisa kamu nerima laki-laki itu hanya karena kondisi ibunya. Kamu lupa apa yang sudah dia lakukan padamu dulu? dan kau juga sudah lupa jika kalian beda keyakinan! bagaiamana bisa kalian menikah? " tanya Rania tak habis fikir.
Nuha sempat mengiriminya pesan jika hari ini ia menikah. Tentu Rania sangat terkejut, bahkan sangat murka karena ia tidak tahu sama sekali. Dan saat tahu jika mempelai prianya Kenzo, Rania semakin tak terkendali bahkan Ben mendapat amukan dari Rania dengan alasan amarahnya harus tersalurkan.
"Ken Memiliki keyakinan sama denganku Ran. " jawab Nuha singkat.
Rania terkejut, mulutnya terbuka lebar dengan mata membola sempurna. saat tersadar Rania memastikan pendengarnya baik.
"Kau yakin, tidak bohong? bagaiamana bisa? lalu kau percaya begitu saja? astaga Nuha! kau itu lugu apa begok sih. Harusnya kamu selidiki dulu Nuha! " pekik Rania kesal.
Nuha menghela nafas pelan, sambil memasukan beberapa pakaian di tas, Nuha berkata. "Semua terjadi begitu cepat Dan, jika bisa aku pasti menolak. Tapi aku tidak bisa mengesampingkan kesehatan Ibu Diana. Kau tahu betapa baiknya dia, begitu juga paman Prabu, beliau sangat baik bahkan sudah menganggapku anak. Jika dengan cara seperti ini bisa membalas kebaikan mereka akan aku lakukan. kau tidak perlu khawatir Ran, aku bisa jaga diri. "
"Tapi Nu.... "
"Jangan di fikirkan, aku akan menghadapi kebencian Ken lagi. Dulu atau sekarang bagiku sama saja. " potong Nuha dengan yakin. Kali ini Nuha memang harus menghadapi Ken, dia juga ingin tahu apa yang mendasari kebencian pria itu padanya.
Ben menawarkan untuk mengantarkan Nuha sampai di kediaman Wijaya. Akan tetapi Nuha menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan.
"Terimakasih atas tawarannya, lebih baik kau membawa Rania pulang. dia kesal sejak tadi dan itu tidak baik untuk bayi dan ibunya. aku takut kalau kalian mengantarku maka Rania tidak akan bisa mengontrol diri untuk tidak mengumpat Ken nanti." kata Nuha.
Rania memutar bola matanya malas. alasan ingin mengantarkan Nuha memang itu, agar dia bisa mengumpati Ken.
Ben mengangguk, dia mengerti maksud Nuha. Akhirnya dengan bujukan Ben, Rania mau melepas Nuha pulang ke rumah Wijaya. Tapi dengan satu syarat, kalau Nuha tidak akan menyembunyikan apapun dari Rania. Dan Nuha menyetujui itu, lagipula dia tidak akan menyembunyikan apapun dari Rania. Karena hanya Rania yang selalu ada dalam setiap kesulitannya selama ini. Bahkan saat keluarganya tidak menerima Nuha karena mereka merasa Nuha adalah aib yang harus di buang karena sudah membuat mereka malu akibat pernikahannya batal dan scandal fitnah yang menimpa Nuha saat itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!