Di dalam sebuah kamar bernuansa Dark, seorang pemuda tampan masih terlelap di atas ranjangnya yang tampak nyaman. Suasana hening, hanya suara pelan detak jam dinding yang menemani pagi itu.
Namun, ketenangan itu terusik oleh sinar matahari yang mulai menyelinap masuk melalui sela-sela tirai jendela, menerangi sudut-sudut kamar yang semula tenggelam dalam bayangan.
"Hm..." gumamnya pelan, dia menggerakkan tubuh seolah enggan meninggalkan kenyamanan tidurnya.
Lelaki itu perlahan bangkit dari tempat tidurnya, mengucek kedua mata sembari mengusir sisa kantuk. Wajah tampannya kini sepenuhnya terlihat, ketampanan yang seolah diwarisi dari para dewa Yunani.
Hidungnya yang mancung sempurna, alisnya tebal membingkai mata hitam pekat yang tajam, serta bibirnya yang bervolume menambah daya tariknya. Rahang yang tegas menjadi pelengkap sempurna dari sosok Arvelio Adalrico Alberto.
Arvelio, namanya selalu menjadi bahan pembicaraan di luar sana. Bukan hanya karena wajahnya yang memikat, tapi juga karena statusnya sebagai putra bungsu keluarga Alberto. Sebuah nama besar yang dikenal di seluruh dunia sebagai "kerajaan bisnis."
Keluarga Alberto menduduki peringkat pertama dalam daftar keluarga terkaya di dunia, dengan kekuasaan yang mencakup berbagai bidang industri.
Tak heran, kalau Arvelio menjadi incaran banyak wanita. Kharisma dan statusnya membuat mereka berlomba-lomba untuk menjadi pendampingnya. Namun, semua itu justru membuatnya risih. Arvelio tidak pernah tertarik dengan perhatian berlebihan dari wanita-wanita itu kecuali dari dua perempuan yang benar-benar ia cintai: Mommy dan Abuelanya.
Namun, di balik wajah tampan sempurnanya, Arvelio menyimpan sisi gelap yang tak banyak diketahui. Ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin, tanpa belas kasih terhadap siapa pun yang jadi musuhnya.
Kemarahannya adalah sesuatu yang harus dihindari, karena saat ia murka, matanya akan berubah merah menyala.
Di dalam tubuh Arvelio, bersemayam sosok iblis tersembunyi yang siap menerkam kapan saja.
Beberapa menit kemudian
Lelaki tampan itu keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya membuat roti sobek 8 kotak miliknya terpampang nyata.
Wah sungguh pemandangan yang sangat indah!
Arvelio berjalan ke arah walk in closet, setelah beberapa menit, ia selesai menggunakan pakainnya.
Tak lama kemudian, ada orang yang mengetuk pintu kamarnya membuat Arvelio mengambil remot dan menekan tombolnya membuat pintu itu terbuka dengan lebar.
Seorang wanita cantik memasuki kamarnya dengan senyuman di bibirnya. "Kamu sudah selesai bersiap, boy?" tanya Krystal_Mommy Arvelio.
"Sudah, Mom." jawab Arvelio dengan singkat.
Dalam keluarganya Arvelio memang dikenal dingin bahkan terhadap keluarganya sendiri, sejak kejadian penculikan dirinya sewaktu kecil membuat Arvelio berubah 360 derajat.
Sikapnya menjadi kutub utara!
Krystal berjalan ke arah Arvelio dan memeluknya. "Jam berapa kamu sampai?" tanyanya.
Arvelio segera membalas pelukan sang Mommy. "Jam 1 malam, Mom." jawabnya.
Krystal melepas pelukannya. "Astaga, itu artinya kamu masih kurang tidur, sebaiknya kamu tidak usah masuk sekolah hari ini." ucapnya.
"Aku harus masuk, Mom. Aku sudah lama libur, tidak perlu khawatir aku baik-baik saja, aku putra Mommy yang kuat." jawab Arvelio memberikan pengertian pada sang Mommy.
Krystal menghela nafas kasar, tentunya dia sangat hafal dengan sifat keras kepala sang putra, jika dia sudah mengatakan A maka akan tetap seperti itu. Tak ada yang mampu membuat keputusan Arvelio berubah kecuali keinginannya sendiri.
"Baiklah." ucap Krystal. "Ingat, kamu jangan banyak kegiatan di sekolah dulu."
"Iya, Mommyku cantik!" jawab Arvelio, dia kembali memeluk Krystal, dengan senang hati sang Mommy membalas pelukan putra bungsunya karena sangat jarang baginya melihat Arvelio manja seperti itu.
"Khmmm..."
Seseorang berdehem dan bersandar di pintu masuk kamar Arvelio dengan melipat ke dua tangannya di dada.
"Wah, berani-beraninya kamu memeluk istriku saat aku tidak ada, boy!" ucap Nathan_Daddy Arvelio.
Arvelio melepas pelukannya, dan menatap ke arah pintu, dia menatap sang Daddy dengan tatapan datar.
"Ck, dasar posesif. Dia putraku!" ucap Krystal kesal, dia terkadang jengah dengan sikap posesif sang suami bahkan pada ketiga putranya sendiri.
"Aku tidak peduli, tetap saja dia pria." ucap Nathan, menarik pelan lengan sang istri dan memeluk pinggangnya.
Arvelio hanya memutar bola mata malas, dia sudah biasa melihat pemandangan seperti itu.
***
"Na na na..." terdengar senandung riang dari kamar seorang gadis. Ia tengah bersiap-siap untuk hari pertamanya di sekolah baru.
Gadis tersebut begitu memikat, dengan mata heterochromia yang unik. Mata kiri memiliki warna cokelat kekuningan. Dan mata kanannya memiliki warna biru cerah dengan sedikit lingkaran cokelat di tengah. Keunikan itu, alih-alih menjadi aneh, justru menambah pesona kecantikannya.
Dengan semangat yang meluap-luap, ia menatap cermin, memantapkan hatinya untuk menghadapi hari yang penuh misteri dan kemungkinan baru.
Gadis cantik yang memiliki alter ego, ketika dirinya marah matanya akan berubah warna menjadi merah dan biru.
Aileen Sheilanna Varisha Waverly adalah seorang gadis cantik yang memiliki kecantikan bak boneka Barbie. Ia memiliki hidung yang mancung, alis yang tebal, serta bibir yang sensual, membuatnya tampak begitu memikat.
Sheila terlihat sangat bahagia akhirnya dia bisa masuk sekolah umum seperti para sahabatnya, selama ini Sheila hanya homeschooling karena sang Daddy yang melarangnya untuk bersekolah di tempat umum.
Saat umurnya 5 tahun dirinya pernah diculik, hal itu membuat sang Daddy memberikan penjagaan yang sangat ketat pada sang putri.
Tok Tok Tok!
Ketukan pintu kamar membuat gadis itu segera menghentikan aktivitasnya dan berjalan ke arah pintu kamar.
Ceklek!
"Mom, Dad!" sapa Sheila dengan senyuman manis, saat melihat kedua orang tuanya.
Alexa membalas senyuman Sheila, dan mengusap rambut gadis itu. "Good morning, baby!" sapanya.
"Ish...Mom, aku bukan bayi lagi tauuu." ucap Sheila dengan cemberut.
Leonard terkekeh melihat putrinya. "Kamu tetap bayi kecil Daddy, sayang! Itu tak akan pernah berubah sampai kapan pun." ucapnya dengan nada tegas.
Sheila hanya menghela nafas pasrah mendengar ucapan sang Daddy yang posesifnya melampaui batas.
Sheila adalah anak gadis satu-satunya di keluarga Waverly membuat Leonard menjaganya dengan sangat ekstra.
Apalagi jika ada yang mengetahui soal keberadaan Sheila sebagai putri kesayangan dari keluarga yang menduduki posisi ke-2 orang terkaya di dunia.
Selama ini identitas Sheila selalu disembunyikan karena Leonard takut jika para musuhnya mengincar sang putri.
"Kamu sudah siap, Princess?" tanya Maira_Granny Sheila yang baru saja datang.
"Aku siap 100%!" jawab Sheila dengan semangat.
Semua orang yang ada di sana terkekeh melihat hal itu, Leonard mendekat dan memeluk sang putri.
"Maaf ya, selama ini Daddy selalu membatasi semua kegiatan kamu, bahkan Daddy tidak mengijinkan kamu untuk sekolah umum." ucap Leonard, merasa bersalah.
Sheila membalas pelukan sang Daddy, dan berkata. "It's okey, Dad. Aku paham!" jawabnya.
Leonard melepas pelukannya, dia mencium kening sang putri. "Ingat, jika ada masalah yang terjadi di sekolah barumu segera lapor pada Daddy, paham!" ucapnya.
"Siap komandan! Daddy tenang saja, jika ada yang macam-macam padaku, langsung banting saja." jawab Sheila tersenyum smirk.
"Itu baru kesayanganku!" sahut Edrick_Grandpa Sheila. "Jika ada yang berani mengusik cucuku, aku akan mengirimkan bom nuklir pada orang itu." tambahnya.
Semua orang mendelik mendengar hal itu, Edrick memang dikenal sebagai sosok yang kejam, dan tak kenal ampun bagi siapa saja yang berani mengusik keluarganya.Meskipun dirinya sudah pensiun dari militer, tapi sosok Edrick tidak bisa dianggap enteng.
***
"Aku pamit!" ucap Arvelio.
"Hati-hati, boy!" jawab Arcilla_Abuela Arvelio.
Arvelio hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu dia mengambil tasnya dan berjalan keluar rumah.
Di tempat yang berbeda. "Dad, what this?" tanyanya, saat melihat beberapa bodyguard di hadapannya.
"Bodyguard kamu, baby!" jawab Leonard dengan santai.
Sheila menganga tak percaya melihat ada sekitar 6 bodyguard di depannya.
Yang benar saja? Jika ia berangkat bersama mereka yang ada dirinya akan menjadi pusat perhatian, dan Sheila tak suka hal itu.
"Aku mau berangkat sendiri, Dad." ucapnya protes. Lalu Sheila menatap Grandpanya seolah meminta pertolongan.
"Kamu..." sebelum Leonard melanjutkan ucapannya, Edrick lebih dulu berkata. "Kamu berangkat sendiri saja, tak usah dengar ucapan Daddymu."
Leonard ingin protes, namun dia mendapat tatapan tajam dari Alexa dan Maira membuatnya tidak jadi bersuara.
Sheila tersenyum sangat lebar mendengar hal itu, lalu Sheila berpamitan, dan berjalan ke arah motor kesayangannya.
Sebelum Sheila berangkat, dia menoleh sebentar menatap sang Daddy. "Dad, aku tidak mau ada yang mengawasiku. Jika Daddy menyuruh mereka semua mengikutiku, aku akan kabur dari rumah, dan tidak akan kembali ke sini lagi!" ucapnya dengan nada mengancam.
Sheila sangat hafal dengan sifat posesif sang Daddy, tidak mungkin dirinya akan dibiarkan berkeliaran di luar sana tanpa adanya pengawasan, namun hal itu membuat Sheila risih.
Leonard menghela nafas kasar, dan mengangguk menyetujui hal itu, dia sangat tau sifat sang putri yang tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Sheila mengangkat jempolnya, kemudian dirinya menjalankan motornya meninggalkan mansion mewah itu.
Melihat motor sang putri sudah melewati pagar, Leo memberi kode pada bodyguard untuk segera menyusul Sheila, namun pergerakan mereka terhenti.
"Jangan macam-macam! Ingat ucapan Ai, kamu mau dia kabur dari rumah, hah!" sarkas Alexa menatap tajam Leonard.
"Kalian kembali ke tempat masing-masing, jangan ada yang berani mengikuti cucuku, jika kalian berani melakukan hal itu, aku akan memasukkan kalian ke kandang, Drako!" ucap Maira mengancam, menatap tajam para bodyguard.
Para bodyguard yang ada di sana segera kembali ke paviliun mereka, rasanya bulu kuduk mereka semua merinding mendengar ancaman Maira.
Siapa yang berani masuk ke kandang Drako?
Mereka akan menjadi santapan singa kesayangan Sheila itu, Drako adalah singa yang tak pernah jinak kecuali pawangnya yaitu Sheila.
***
"Eh, kok mati?" ucap Sheila dengan lirih.
Saat Sheila berusaha menyalakan motornya, dia melihat ternyata bensinnya habis.
"Sh*t! Kenapa harus habis sekarang, sih!" gerutu Sheila kesal.
Gadis itu turun dari motornya, Sheila melihat ke kanan kiri untuk mencari pom bensin.
Sheila menghela nafas kasar. "Kenapa tidak ada yang membangun pom bensin di sekitar sini? Masa, hari pertama masuk sudah telat, sih!" ucapnya.
Gadis itu dengan cemberut membawa motornya, saat Sheila berjalan tiba-tiba ada mobil yang lewat, membuat baju Sheila terkena cipratan air yang ada di sana.
"Shib*l!" umpat Sheila kesal, lalu dia mengeluarkan pistol kesayangannya dan menembak ke arah ban mobil tersebut.
Sheila tersenyum smirk. "Tepat sasaran!" ucapnya.
"Sh*t!" umpat Arvelio, dia melihat ke kaca spion.
"Berani sekali dia mencari masalah denganku!" kesalnya, Arvelio memukul setir mobil miliknya karena geram.
Arvelio turun dari mobil, dia berjalan dengan gagah ke arah Sheila, lelaki itu memasukkan tangannya di saku celana, ditambah kacamata yang bertengger di hidung mancung Arvelio membuat lelaki itu terlihat sangat tampan.
Andai para fans Arvelio melihat hal itu, mungkin saat ini di sana akan ribut akibat teriakan mereka melihat penampilan sang idola.
Di posisi Sheila berdiri, gadis itu mengangkat alisnya saat melihat Arvelio berjalan ke arahnya, dia terlihat sangat santai, bahkan saat ini wajahnya terlihat lebih datar dibanding sebelumnya, disertai tatapan mata yang tajam.
Arvelio berdiri di hadapan Sheila. "Apa maksudmu menembak ban mobilku?" tanyanya dengan nada dingin.
"Balas dendam!" jawab Sheila, tak kalah dingin. "Kau lihat penampilanku jadi seperti ini karena ulahmu, so anggap saja kita impas sekarang!" tambahnya.
Arvelio membuka kacamatanya, hal itu membuat Sheila tertegun melihat wajah tampan Arzhel.
"Cantik!" "Tampan!" batin Arvelio dan Sheila, secara bersamaan memuji penampilan masing-masing.
Arvelio terus menatap Sheila, jujur dirinya terpesona dengan kecantikan gadis di hadapannya saat ini.
Apalagi mata Sheila membuat lelaki tampan kutub itu enggan mengalihkan pandangannya, rasanya Arvelio ingin terus menatap mata indah nan langka itu.
Bukan cuma Arvelio, namun Sheila juga merasakan hal yang sama. Sepertinya, Sheila telah jatuh dalam pesona seorang Arvelio, nyatanya saat ini dia terus menatap wajah Arvelio dengan tatapan memuja.
Kejadian saat ini adalah yang pertama bagi Arvelio dan Sheila, menatap seseorang lebih dari 10 detik, posisi mereka masih sama saling berhadapan, dan saling tatap satu sama lain.
Keduanya tersentak kaget saat mendengar deringan ponsel Arvelio, lelaki itu berdehem, dia mengalihkan pandangannya sebentar, lalu mengambil ponselnya.
"Kau di mana?" tanya seseorang di seberang telfon.
"Jalan!" jawab Arvelio singkat. "Jemput aku di jalan Lenovo, sekarang! Pakai mobil!" titahnya, lalu dia mematikan sambungan telfon tanpa mendengar jawaban dari orang itu.
"Motormu mogok?" tanya Arvelio.
Sheila mengangkat alisnya. "Kau bertanya padaku?" ucapnya, menunjuk diri sendiri.
Arvelio mendengus kesal mendengar respon dari gadis cantik yang ada di hadapannya. "Ck, apa ada orang lain di sini? Selain kita?" sahutnya, masih nada dingin dan datar.
Melihat kesekelilingnya. "Maybe!" jawab Sheila cuek, datar, dan acuh.
Tersenyum smirk. "Menarik!" batin Arvelio melihat respon cuek gadis yang ada di hadapannya, baru kali ini ada gadis yang bersikap seperti itu padanya.
Biasanya Arvelio selalu menjadi pusat perhatian, terutama para gadis. Mereka pasti akan berlomba agar bisa bertukar dialog dengannya, tapi Sheila berbeda.
Gadis cantik itu tetap bersikap datar, cuek, dan acuh padanya.
Benar-benar sesuatu yang langka! Menurutnya.
Hal itu membuat Arvelio merasa ingin mengenal Sheila lebih jauh lagi.
"Arvelio." ucap Arvelio mengulurkan tangannya.
Shelia menatap tangan Arvelio. "Kau mengajakku berkenalan?" tanyanya dengan polos.
Sheila mengerjapkan mata beberapa kali, karena tindakan Sheila membuat Arvelio menekan pipi dalamnya dengan lidah menahan gemas dengan tingkah gadis cantik itu.
Arvelio mengambil satu langkah lebih dekat dengan Sheila, jarak mereka saat ini hanya beberapa centi saja, Arvelio bahkan bisa menghirup aroma vanila dari tubuh Sheila.
Sheila mendongak, bersamaan Arvelio menunduk, pandangan mata mereka bertemu.
Deg! Deg! Deg!
Detak jantung keduanya berdetak sangat cepat seirama, Sheila ingin mundur namun dengan gesit Arvelio melingkarkan tanganya di pinggang gadis itu, membuat Sheila tersentak.
"Lepas!" Sheila menatap Arvelio dengan tajam.
Apa-apaan pria ini? Berani sekali dia menyentuhnya dengan seenaknya seperti itu.
"Your name? Baru aku lepas!" ucap Arvelio, menarik tubuh Sheila lebih dekat dengannya, bahkan Arvelio semakin memeluk erat pinggang gadis itu.
"Sheilanna." Jawab Sheila datar. "Sekarang lepas!" tambahnya berusaha melepaskan diri, tapi usahanya sia-sia karena tenaga Arvelio cukup kuat.
Arvelio masih stay memeluk pinggang Sheila, gadis itu terus berontak, tapi semakin dia berontak, Arvelio juga semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau!" geram Sheila menatap Arvelio dengan tajam.
Arvelio tersenyum manis, Sheila cukup tertegun melihat hal itu.
Sungguh! Senyuman Arvelio sangatlah manis bak permen lollipop, senyuman yang sangat langka di perlihatkan oleh seorang Arvelio.
Untuk pertama kalinya dia tersenyum manis pada gadis yang baru saja Arvelio temui beberapa saat lalu.
Wah, sepertinya Sheila harus diberikan penghargaan khusus karena berhasil membuat lelaki kutub utara itu mencair seketika.
Sheila kembali bersuara saat wajah Arvelio ingin mendekat pada wajahnya, dia menahan dada lelaki itu dan berkata. "Lepas sialan!" menatap tajam Arvel.
Bukannya marah mendapat umpatan dari Sheila, Arvelio justru tersenyum smirk.
Dia mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga gadis itu. "Kalau aku tidak mau, bagaimana?" bisik Arvelio, lelaki itu memejamkan mata menghirup aroma tubuh Sheila.
Entah apa yang merasuki diri lelaki tampan itu, dia sangat enggan untuk melepas gadis cantik dalam pelukannya saat ini.
Rasanya Arvelio ingin terus memeluk gadis itu!
Sheila mematung saat merasakan hembusan nafas Arvelio tepat di sebelah telinga, dan lehernya.
Saat Arvelio masih menikmati aroma tubuh Sheila, terdengar suara deruman mobil dari arah belakang mereka.
Hal itu membuat Arvelio menegakkan tubuhnya lagi, namun belum melepaskan pegangan di pinggang Sheila.
Arvelio menoleh sebentar melihat mobil sepupu dan para sahabatnya, lalu dia menatap Sheila.
"Ikutlah bersamaku!" ucap Arvelio.
"...." belum juga Sheila bersuara.
Arvelio kembali berkata. "Ini perintah! Aku tidak menerima penolakan!"
Sheila menatap Arvelio dengan sangat tajam, namun hal itu tidak membuat leader mafia dan geng motor itu takut.
Justru...
Grep!
Arvelio dengan gerakan cepat menggendong Shiela ala bridal style.
"Kyaaa...!" Sheila berteriak atas tindakan Arvelio yang tiba-tiba menggendongnya.
"Yaaakkk! Lepas! Kau mau membawaku ke mana, hah!" teriak Sheila berusaha melepaskan diri.
"Jika kau terus berontak, aku akan menjatuhkanmu!" ancam Arvelio.
"...." Sheila menatap Arvelio dengan tatapan sangat tajam, wajahnya saat ini sudah memerah karena marah.
"Menurut lah! Aku tidak suka dibantah!" Arvelio melangkah ke arah mobil.
"Buka pintunya!" titah Arvelio.
***
Dragon Devil's merupakan geng motor dengan posisi nomor 1 Amerika, dan Eropa, dikenal sebagai geng motor yang kejam, dan tak kenal ampun, terutama sang ketua geng Arvelio, dia dikenal sebagai sosok pembunuh berdarah dingin dengan julukan King Devil's.
Selain Dragon Devil's, Arvelio juga merupakan Leader dari The Demon's yaitu mafia nomor 1 di dunia, namun tak ada yang mengetahui bahwa Arvelio King Mafia yang paling ditakuti, karena dia selalu menggunakan topeng saat menjalankan misi di dunia bawah sebagai King V.
Si cowok multitalenta yang ahli dalam berbagai bidang.
"Ke mana?" tanya Kenneth datar.
Kenneth Sean Javernest, memiliki sifat cuek, datar, dingin ini menduduki posisi vice chairman Dragon Devil's, dan The Demon's. Prince S adalah nama Ken saat di dunia bawah, dikenal dengan julukan King of Weapons karena keahliannya dalam membuat senjata, selain itu Ken juga penjinak bom, memiliki IQ di atas rata-rata, memiliki wajah yang tampan, alis tebal, bibir sexy, dan hidung yang mancung.
"Markas!" jawab Arvelio singkat.
"Hm!" guman Kenneth.
"Lepas!" ucap Sheila, berusah berontak dalam pangkuan Arvelio.
"Jangan banyak bergerak! Kau bisa membangunkan sesuatu dalam diriku!" bisik Arvelio.
Sheila melotot mendengar bisikan Arvelio, tentu saja dia paham maksud Arvelio, Sheila memukul pundak lelaki itu. "Kau cabul!" ucapnya kesal.
Arvelio hanya mengangkat bahu acuh sebagai jawaban. "Please, aku tidak nyaman seperti ini. Aku tidak akan kabur!" ujar Sheila memohon, mengatup kedua tangannya di depan dada.
Melihat hal itu membuat Arvelio terdiam, dia terus menatap wajah cantik Sheila.
Pemandangan yang sangat indah! Menurut Arvelio, sungguh! Lelaki tampan itu tak mampu mengalihkan pandangan sedetik pun dari wajah Sheila.
Candu! Arvelio sepertinya kecanduan memandang wajah cantik gadis dalam dekapannya saat ini.
Sheila menjadi salah tingkah ditatap dengan intens oleh Arvelio, jatungnya berdetak cepat.
Gugup! Itulah yang dirasakan oleh Sheila saat ini.
Setelah beberapa saat, Arvelio akhirnya mengalah, dan menurunkan Sheila untuk duduk di sebelahnya, lagipula akan bahaya jika gadis itu terus berada di pangkuannya dalam keadaan yang terus berontak.
Kenneth melihat ke arah kaca spion, alis lelaki itu mengernyit heran dan bertanya-tanya. "Siapa gadis yang bersama Arvelio saat ini?" pikirnya.
Melihat tatapan Kenneth pada Sheila membuat Arvelio menatap sepupunya dengan tajam, dia bahkan menendang kursi kemudi. "Fokus! Atau ku congkel matamu!" sarkasnya.
Kenneth meneguk ludah kasar mendengar ucapan sang ice boy itu, dia tentu saja tau bagaimana sifat Arvelio yang tak main-main dengan ucapannya.
Kenneth melajukan mobil ke Markas The Dragon Devil's tanpa melirik ke belakang lagi takut membuat King Devil's terbangun dari tidurnya.
***
Beberapa menit kemudian
Mereka akhirnya tiba di Markas The Demon's, Sheila menatap ke sekelilingnya dengan tatapan bingung.
"Ayo turun!" ajak Arvelio, membuka pintu mobil di sisi gadis cantik itu.
Sheila menatap Arvelio, dia menoleh ke sebelahnya. "Loh, sejak kapan dia turun? Apa dia sebegitu fokus melihat area sekitarnya sampai tidak sadar akan pergerakan Arvelio." pikirnya.
Puk! Arvelio menepuk pelan punggung Sheila, hal itu membuat gadis cantik itu tersentak samar.
"Ayo! Kau tidak mau ganti pakaian? Tidak mungkin kau ke sekolah dengan penampilan seperti itu, kan?" Arvelio sekali lagi mengajak Sheila.
Sheila melihat penampilannya yang kusut, bahkan seragamnya ada cipratan air kotor karena ulah mobil Arvelio, tadi.
Lelaki itu menghela nafas kasar melihat Sheila tetap diam, tanpa aba-aba Arvelio segera menggendong Sheila kembali.
"Eh...!" Sheila kaget saat Arvelio sudah membopong tubuhnya. "Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" ucapnya dengan nada protes.
Arvelio tidak menjawab ucapan Sheila, dia masuk ke dalam Markas tanpa memperdulikan tatapan heran anggota gengnya.
Para anggota geng Arvelio saling pandang seolah bertanya satu sama lain. "Siapa gadis yang di bawa King?"
Baru kali ini Arvelio membawa seorang gadis ke dalam Markasnya, tentu saja hal itu membuat para anggota Dragon Devil's sangat penasaran.
Sheila terus berontak ingin melepaskan diri, Arvelio berhenti dan berbisik. "Diam! Atau aku cium!"
Ucapan Arvelio mampu membuat mata Sheila melotot, dia segera menutup mulutnya.
"#%%$..." Sheila berbicara tidak jelas.
"Aku tidak paham bahasa Alien, jika ingin bicara lepaskan tanganmu." ucap Arvelio.
Melepas bekapan mulutnya. "KAUUUU CABULLLL!" Sheila berteriak, membuat Arvelio, dan anggota gengnya kaget mendengar suara cetar membahana dari gadis itu.
"Buset, suara Queen cetarrrr sekali!" ucap salah satu anggota The Dragon Devil's yang ada dalam ruangan itu.
"Memangnya dia Queen? Dari mana kau tau?" tanya anggota lainnya.
"Entahlah, aku hanya asal menjawab saja. Lagipula ini pertama kali King bawa gadis ke sini, siapa lagi kalau bukan kekasihnya." jawabnya.
Mereka yang ada di sana mengangguk mendengar hal itu, "benar juga ya" pikirnya.
"Jangan teriak! Ini bukan hutan!" ucap Arvelio pelan, lalu dia melanjutkan langkahnya ke lantai 2 Markas.
"Ken!" panggil Reyhan.
Reval Reyhan Alexander, atau Prince R menduduki posisi sebagai King of hackers The Demon's dan Dragon Devil's, selain hackers Reyhan juga ahli menembak memiliki sifat friendly. Tapi hati-hati jika berdekatan dengannya, jangan langsung baper karena Reyhan dikenal sebagai playboy cap badak yang memiliki stok kekasih di mana-mana.
Menurutnya, gonta-ganti pacar itu biasa. Apalagi dia masih muda, katanya dia mau menyeleksi gadis yang didekatinya untuk jadi istri agar nanti dirinya tidak menyesal di belakangan.
"Siapa gadis itu?" tanya Jayden.
Jayden Aaron Louise, sering disapa Prince J sebagai King of poison The Demon's dan Dragon Devil's, dia sangat ahli dalam hal racun, penembak jarah jauh, sifatnya 11 12 dengan Ken.
Kenneth hanya mengangkat bahu tanda tidak tau.
Reyhan hanya menghela nafas melihat jawaban si manusia kulkas itu.
***
Arvelio membawa Sheila ke kamarnya.
Sheila melihat ke sekelilingnya, gadis itu tiba-tiba menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Jangan macam-macam!" ucapnya dingin, tatapan tajam.
Arvelio mengangkat alis sebelah. "Memangnya kau mau aku berbuat apa? Hm?" ucapnya, dia mendekat ke arah wajah Sheila. "Sepertinya yang cabul di sini itu kau, aku bahkan tidak terpikirkan sesuatu yang ada di otak kotormu itu, Nona." katanya, disertai senyum smirk.
Sheila mendorong wajah Arvelio untuk menjauh. "Ini penculikan namanya? Aku akan melapor hal ini pada pihak berwajib." ucapnya.
Lelaki itu terkekeh tampan, dia berjalan ke arah sofa dan mengeluarkan satu batang rokok.
Arvelio menatap Sheila. "Boleh?" tanyanya meminta ijin sambil mengangkat korek.
Sheila mengangkat alis. "Dia meminta ijin padaku?" batinnya, kemudian dia mengangguk tanda setuju.
Arvelio tersenyum tipis. "Kamar mandinya ada di sana." ucapnya, menunjuk arah kamar mandi.
"Hm" guman Sheila berjalan ke arah kamar mandi, dia berhenti dan menoleh. "Jangan mengintip!" ucapnya.
"Kau ingin aku intip?" tanya Arvelio.
Sheila mengambil figuran yang ada di nakas, dan melemparnya ke arah Arvelio. "TENTU SAJA TIDAK, BODOHHH!" teriaknya.
Brak!
Arvelio menggelengkan kepala melihat tingkah Sheila. "Kenapa dia sangat suka berteriak. Tapi, aku suka melihat dia kesal, aneh!" ujarnya.
Beberapa saat kemudian, Sheila keluar dari kamar mandi. Arvelio menoleh.
"Kau tidak mandi?" tanya Arvelio.
"Mandi!" jawab Sheila singkat.
Lelaki itu menatap penampilan Sheila, gadis itu masih menggunakan seragam sekolahnya.
Arvelio berdiri, dia berjalan ke arah Sheila dan memberikan paper bag. "Ganti bajumu!" katanya.
Sheila mengambil paper bag tersebut dan melihat isinya. "Kau dapat dari mana?" tanyanya.
"Itu tidak penting! Segera ganti pakaianmu, kita sudah terlambat." jawab Arvelio.
Tanpa komentar apa pun Sheila berjalan ke arah kamar mandi. Tak lama kemudian gadis itu keluar dengan seragam yang baru, namun penampilannya saat ini cukup berbeda karena Sheila mengikat sedikit rambutnya.
Arvelio terpaku di tempatnya melihat penampilan Sheila. "Cantik!" ucapnya dengan lirih.
"Ekhm! Apa kita bisa berangkat sekarang? Ini hari pertamaku, aku tidak ingin mendapat hukuman." ucap Sheila.
Lelaki itu mengambil tas miliknya dan Sheila, dia berjalan ke arah gadis itu. "Kau murid pindahan?" tanya Arvelio.
"Hm, ayo!" jawab Sheila singkat, dia mengulurkan tangan meminta tasnya.
Tapi, Arvelio tidak memberikannya, dia berjalan ke arah pintu kamar. "Mau sampai kapan kau berdiri di sana? Bukannya kau tidak ingin telat, ayo!" ucapnya, menyadarkan keterdiaman Sheila.
"Hah!" Sheila linglung, Arvelio menghela nafas, dia mendekat dan meraih tangan gadis itu lalu berjalan keluar kamar.
Sesampainya di lantai bawah mereka dikejutkan oleh semua anggota Dragon Devil's yang berkumpul di ruang tamu.
"Selamat datang di Markas Queen Cantik!" sapa anggota DD.
Sheila menganga melihat hal itu. "Apa-apaan mereka? Queen?" batinnya.
Sheila menatap Arvelio seolah meminta penjelasan. Gadis itu tidak berkata apa-apa, tapi Arvelio paham maksud tatapan Sheila. "Apa yang terjadi? Kenapa mereka memanggilku dengan sebutan Queen? Kau mengatakan sesuatu yang aneh?" arti dari tatapan gadis itu.
"Kembali ke tempat kalian! Kalian membuatnya terkejut!" ucap Arvelio dingin, menatap anggotanya satu per satu.
"Sorry King, Queen!" ucap mereka dengan kompak, semuanya bubar.
Reyhan mendekat dan mengulurkan tangan pada Sheila. "Namaku Reyhan, nice to meet you." ucapnya.
(Senang bertemu denganmu)
Sheila hanya menatap uluran tangan Reyhan dengan datar tanpa membalasnya, Arvelio menjabat tangan sahabatnya, dan mencengkramnya dengan kuat.
Lelaki itu menatap sahabatnya dengan tatapan tajam. "Don't touch mine!" ucap Arvelio nada dingin, datar, tegas.
"Sssttt...!" Reyhan meringis karena cengkraman kuat Arvelio. "Tidak akan, sumpah! Aku mana berani mengganggu milikmu." tambahnya.
Arvelio melepas cengkramannya, lalu dia menarik tangan Sheila ke arah luar Markas.
***
Vroom! Vroom!
Mobil Arvelio memasuki wilayah parkiran khusus untuk Dragon Devil's.
Bugh!
"Ada apa?" tanya Arvelio heran, mendapat pukulan dari Sheila.
"YAAAKKK! SUDAH KUKATAKAN TURUNKAN AKU DI HALTE DEPAN, KENAPA KAU MEMBAWAKU MASUK BERSAMAMU! HAH!" Sheila berteriak kesal, nafasnya memburu, bahkan saat ini wajahnya sudah memerah kerena sangat kesal dengan Arvelio.
Sebelumnya Sheila sudah mengatakan pada Arvelio untul menurunkannya di Halte, namun laki-laki itu menulikan pendengarannya.
Arvelio menutup telinganya, wah! Suara gadis cantik di depannya memang patut diberi apresiasi, rasanya gendang telinga Arvelio akan pecah karena teriakan Sheila.
"Tenggorokanmu tidak sakit berteriak seperti itu?" tanya Arvelio.
"Tidak!" jawab Sheila ketus.
Lelaki itu menghela nafas. "Ayo turun!" ajak Arvelio.
Sheila menatap Arvelio. "Kau gila! Yang benar saja, jika aku turun mereka akan memangsaku." ucapnya menatap deretan fans Arvelio yang menunggu di sana.
"Tidak ada yang berani menyentuhmu selama ada aku, ayo." tegas Arvelio.
"Big no, antar aku ke Halte, sekarang!" ucap Sheila.
"Tidak! Kau turun sekarang!" jawab Arvelio.
Sheila menggoyangkan lengan Arvelio, dan berkata. "Ayolah! Ini hari pertamaku masuk, aku tidak ingin bikin ulah," nada memohon. "Please!" mengatup ke dua tangan di depan dada.
Lelaki itu menatap Sheila dengan intens, lalu Arvelio membuka seat beltnya, dan turun dari mobil.
"AAAA, Arvelio makin hari makin cakep aja." teriak siswi yang ada di sana.
"Arvel jangan dingin-dingin, sini aku hangatin!" teriak siswi lainnya.
Saat ini keributan karena teriakan fans-fans Arvelio membuat keadaan yang ada di sana layaknya pasar, sangat ricuh!
Arvelio tak peduli hal itu, dia berjalan dengan gaya khasnya, lelaki itu membuka pintu di sebelah kanan, hal itu membuat para siswi yang heboh berteriak seketika terdiam.
Mereka berbisik-bisik. "Apa Prince Arvel bersama seseorang?"
Sheila masih duduk di tempatnya, Arvelio menunduk dan mengulurkan tangannya. "Everything will be ok, trust me! Aku akan menjagamu!" ucapnya, berusaha meyakinkan gadis itu.
Sheila menatap mata Arvelio, lelaki itu membalasnya dengan tatapan tulus, bahkan ia tersenyum tampan, Arvelio meraih tangan Sheila, dan menarik lembut agar gadis itu segera keluar dari mobil.
Arvelio menaruh satu tangannya di atas kepala Sheila saat gadis itu keluar.
Act to service yang sangat bagus!
Para gadis yang ada di sana menggigit jari mereka, merasa iri! Bukan hanya itu, beberapa orang bahkan meraung lebay melihat perilaku sang most wanted sekolah itu, untuk pertama kalinya! Bersikap manis pada seorang gadis di hadapan mereka.
Arvelio di kenal sebagai sosok kutub utara yang tak tersentuh, banyak gadis yang mendekatinya namun tak pernah mendapat respon baik dari lelaki tampan itu.
Sheila menunduk, rasanya dia sangat enggan untuk mengangkat kepala, gadis itu tidak takut! Hanya saja dia tidak suka jadi pusat perhatian seperti saat ini.
Itulah alasan kenapa dirinya meminta Arvelio untuk menurunkannya di Halte, namun lelaki tampan itu sangat keras kepala dan membuat dirinya terjebak dalam situasi seperti sekarang.
Sheila terus mengumpati Arvelio dalam hati. "Sialan! Arvelio, awas saja kau nanti! Shibal! Niatnya masuk sekolah mau jadi anak baik-baik, tapi kalau kayak gini. Gagal, deh. Aaakkhh... Arvelio anyinggg!"
Arvelio memeluk pundak Sheila dan membawanya masuk. Gadis itu melirik tangan Arvelio. "Hah, fiks setelah ini, musuhku akan bertambah karena ulah dia." batinnya, menghela nafas kasar.
"Ck, kenapa juga aku harus bertemu dengannya." ucap Sheila lirih.
Arvelio menghentikan langkahnya, dia menunduk. "Kau mengatakan sesuatu? Butuh apa?" tanyanya.
"Antarkan aku ke ruang kepala sekolah, sekarang! Aku tidak suka keributan!" jawab Sheila pelan.
Mendengar jawaban gadisnya membuat Arvelio menatap ke sekelilingnya. "Shut up!" ucapnya dingin.
Hal itu membuat semua orang yang ada di sana seketika bungkam!
Wait, gadisnya?
Wah, sepertinya gunung everest itu mulai mencair!
Pesona Sheila memang tak main-main! Karena mampu membuat sosok beku Arvelio mencair dalam waktu sekejap saja.
"Gila! Mereka semua langsung diam! Apa dia sangat ditakuti di sini?" pikir Sheila, mengawasi keadaan sekitar yang sudah tenang.
"Angkat kepalamu!" ucap Arvelio.
Sheila menjawab dengan gelengan kepala.
"Hah" Arvelio menghela nafas dan melanjutkan langkah kakinya masih merangkul pundak Sheila.
Arvelio mengangkat dagu Sheila agar menatapnya, namun gadis itu menggeleng. "Tidak orang di sini." ucapnya.
Sheila akhirnya mengangkat kepala, alis gadis itu berkerut melihat ruangan tersebut. "Ini di mana?" tanyanya.
"Ruanganku!" jawab Arvelio.
"What?" pekik Sheila. "Yaakkk! Aku menyuruhmu mengantarku ke ruangan kepala sekolah, kenapa malah ke sini?"
"Mr. Delon tidak ada, dia tidak masuk hari ini." jawab Arvelio.
Sheila menatap Arvelio bingung, paham. "Mr. Delon adalah kepala sekolah di sini." ujarnya.
"Oh" Sheila. "Lalu aku bagaimana?" tanyanya.
"Bergabung ke kelasku saja." jawab Arvelio.
"Memangnya, boleh langsung masuk? Tanpa lapor dulu?" Sheila menatap Arvelio.
"Boleh!" sahut Arvelio.
"...." Sheila ingin bersuara, namun...
"Percaya padaku!" ucap Arvelio dengan tegas.
***
"Jangan mengusik milikku, jika masih ingin hidup!!!"
~ Arvelio ~
Alberto International High School / Alberto IHS, yaitu sekolah elit milik keluarga Arvelio.
Sekolah menduduki posisi sebagai sekolah elit no 1 di Los Angeles, memiliki fasilitas yang canggih.
"Mau keliling?" tanya Arvelio.
Sheila menatap Arvelio. "Boleh, tapi aku tidak ingin keliling bersamamu." ucapnya.
"Why?" Arvelio menatap Sheila heran. "Apa dia baru saja di tolak?" pikirnya.
Wow, amazing! Sheila adalah gadis pertama yang berani menolak dirinya.
Arvelio masih menatap Sheila menunggu jawaban dari gadis cantik itu. "Urus fansmu dulu, aku tidak ingin menjadi bahan bullyan mereka." ujar Sheila.
"...." Saat Arvelio ingin bersuara, Sheila lebih dulu memotong ucapan pemuda itu. "Bye, sahabatku ada di depan." ujarnya, berjalan ke arah pintu.
Pada saat Sheila memegang gagang pintu, Arvelio muncul di belakangnya dan memeluk pinggang gadis itu, tangan satunya juga menahan pergerakan Sheila yang ingin membuka pintu.
Menoleh menatap Arvelio. "Ada apa?" tanya Sheila.
Lelaki itu tidak menjawab, justru Arvelio menaruh dagunya di pundak Sheila, dan berkata. "Sebentar!" ucapnya lirih.
Arvelio memejamkan mata menikmati aroma wangi dari tubuh Sheila, dia merasakan ketenangan saat ini.
Rasanya, Arvelio tidak ingin melepas gadis itu pergi. Apa dia boleh egois? Dia ingin Sheila terus berada di sisinya.
Aneh, ada apa dengan diriku?
Kenapa aku tidak bisa jauh darinya?
Apa aku jatuh cinta?
Secepat itu?
Begitu banyak pertanyaan muncul di benak Arvelio, dia terdiam memikirkan semua itu.
"Sheila, apa kau mengunakan guna-guna?" tanya Arvelio tiba-tiba.
Kaget mendengar pertanyaan Arvelio. "What!" pekik Sheila. "Aku bukan paranormal!" lanjutnya dengan kesal.
Arvelio menegakkan tubuhnya, dia memutar tubuh gadis itu, menatapnya dengan tatapan intens.
"Kau harus bertanggung jawab Sheila, karena kau penyebab aku seperti ini." ujar Arvelio, menatap Sheila dengan tatapan dalam.
Sheila menatap Arvelio dengan tatapan bingung. "Sepertinya server otakmu sedang bermasalah, bye!" katanya, mendorong tubuh lelaki itu lalu keluar dari ruangan dengan terburu-buru.
Sepeninggalan Sheila, Arvelio masih tetap berdiri di tempatnya, dia menyentuh dadanya yang berdebar sangat cepat.
"Mungkinkah?" Arvelio masih memegang dadanya.
Tersenyum simpul. "Kau berhasil, Sheila. Aku kalah!" ucap Arvelio lirih.
Sheila menoleh ke ruang Arvelio, dia berkata. "Ada apa dengannya? Apa dia kerasukan? Bahaya, aku harus menjaga jarak dari Arvelio."
Sheila merasa merinding dengan sikap Arvelio yang aneh, menurutnya.
***
"Sheila!" panggil Leona.
Leona Alexandra Maven, atau Princess A, Queen of Hackers Black Rose, gadis cantik yang terlihat lugu, namun tak selugu wajahnya, memiliki kemampuan hackers yang luar biasa, ahli dalam menembak, panah, punya hobi boxing, gadis cantik blasteran China-Kanada.
"Kau sejak tadi di sini?" tanya Grace.
Grace Claribel Robinson, atau Princess C, sebagai Queen of Poison Black Rose, ahli dalam racun, bela diri, penembak jarak jauh, merupakan putri tunggal keluarga Robinson, gadis blasteran Korea-Australia. Memilki sifat yang bar-bar, tapi cuek dan datar pada orang yang baru di kenalnya.
"Kau dari mana?" tanya Irene.
Irene Florencia Zephyr, atau sapaan dunia bawah di kenal dengan nama Princess F dijuluki Queen of Weapons, memiliki sifat cuek, datar, dingin, sangat hobi menembak, dan mampu menjinakkan bom.
Irene adalah anak ke tiga keluarga Zephyr, terlibat dunia bawah karena ingin balas dendam pada orang yang membully kembarannya, membuat saudaranya mati. Sejak kematian kembarannya, dan juga melihat kekasihnya selingkuh membuat Irene berubah jadi seperti sekarang
"Aku sudah 30 menit di sini, dari ruangan itu." jawab Sheila, menunjuk ruangan Arvelio.
Sheila sendiri adalah Queen leader mafia balck rose, dikenal sebagai Queen X, yang terkenal kejam, datar, kutub, dan tak kenal ampun terhadap musuhnya, dia tak akan memandang harta martabat orang yang berani mengusiknya.
Mafia black rose menduduki posisi sebagai mafia no 2 dunia.
Ketiga gadis cantik itu saling tatap, mereka menatap Sheila dengan tatapan heran. "Kau tau siapa pemilik ruangan itu?" tanya Leona.
"Arvelio." jawab Sheila singkat.
Mereka tersentak samar mendengar jawaban Sheila. "Bagaiamana kau bisa mengenalnya?" bisik Leona.
"Kita bahas nanti, sekarang antarkan aku ke ruang kepala sekolah!" ucap Sheila.
"Kau belum ke sana?" tanya Irene.
Sheila menggeleng sebagai jawaban. "Cabut!" ajak Grace, menarik tangan sahabatnya.
Tak jauh dari tempat ke empat gadis itu berdiri, ada Kenneth, Reyhan, dan Jayden mengawasi mereka.
"Mereka saling kenal?" ucap Reyhan, menatap kedua sahabatnya, Kenneth, dan Jayden mengangkat bahu tak tau.
Hal itu membuat Reyhan menghela nafas kasar. "Nasib punya sahabat kulkas 10 pintu." gumannya.
Kenneth, dan Jayden melirik Reyhan dengan malas, lalu mereka berjalan ke arah ruangan Arvelio.
***
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Kring! bel jam istirahat membuat semua siswa-siswi keluar dari kelas mereka menuju kantin untuk mengistirahatkan pikiran dan mengisi perut.
"Kantin yuk!" ajak Leona, menatap sahabatnya.
"Hm" jawab Grace dan Irene bersamaan. Seperti biasa Sheila hanya mengangguk sebagai jawaban.
Leona menghela nafas kasar, dia sudah terbiasa dengan sikap ketiga sahabatnya yang menurutnya kembaran dari gunung everest itu.
Leona memeluk tubuhnya sendiri. "Hah, rasanya sangat dingin di kelilingi kulkas 10 pintu. Nasib, jadi orang cantik punya sahabat kutub." ucapnya.
Sheila, Irene, dan Grace hanya menatap gadis itu dengan tatapan datar.
"Gak usah drama, kita lagi gak buka jasa casting." sahut Irene, memutar bola mata malas.
Tanpa mengucapkan apapun, Irene menarik tangan Sheila, dan berjalan keluar kelas.
"Mau makan apa? Western? Atau Korea?" tanya Irene.
"Seperti biasa." jawab Sheila.
Irene mengangguk, dia berbalik arah menuju lantai 3, paham maksud dari sahabatnya.
Sheila menahan tangan gadis itu. "Kenapa balik?" tanyanya bingung, kantin sudah di hadapan mereka saat ini.
"Ini kantin khusus Western, kantin makanan Korea ada di lantai 3." jawab Irene.
Sheila sangat suka makanan khas Negara gingseng tersebut.
Melihat tatapan bingung sahabatnya, Irene kembali berkata. "Di sini ada 3 kantin, lantai 1 ada makanan khusus vegetarian, jika makanan Korea, Jepang, dan lainnya ada di lantai atas."
Sheila mengangguk mendengar jawaban Irene. "Banyak banget kantinnya." ucapnya.
"Hm, tapi ada bagusnya juga, jadi para siswi bisa memilih makanan dari berbagai Negara bukan cuma makanan Western saja." sahut Irene.
"Benar juga, ayo cacing di perutku sudah berdemo." ujar Sheila, mengusap perutnya.
Irene terkekeh kecil. "Dasar perut karet." ucapnya.
Shiela hanya mengangkat bahu acuh, dia memang memiliki nafsu makan yang cukup besar.
Mereka berjalan ke arah lift, seseorang yang berdiri di sudut ruangan mengawasi pergerakan Sheila, dia adalah Arvelio.
Setelah melihat angka yang ada di lift tersebut, Arvelio kembali masuk ke dalam lift khusus menuju lantai 3.
Reyhan menatap Arvelio heran. "Loh, mau ke mana?" tanyanya.
"Lantai 3." jawab Arvelio singkat.
"Tumben!" Jayden menatap Arvelio, tak biasanya lelaki itu ke lantai 3.
Kenneth tanpa mengucapkan sepatah kata pun kembali masuk lift bersama Arvelio.
"Ikut?" tanya Kenneth, sebelum memencet tombol, menatap kedua sahabatnya.
Jayden dan Reyhan masuk kembali.
Irene menatap ke seluruh area kantin, dia mencari tempat yang kosong.
"Udah full!" ucap Leona, baru datang bersama Grace.
Irene menatap Sheila. "Jadi?" tanyanya, melihat wajah gadis itu murung.
Menghela nafas. "Kita ke kantin lain saja." ucap Sheila tak semangat.
Saat mereka ingin berbalik, tiba-tiba seseorang datang meraih tangan Sheila.
"Eh..." Sheila tersentak. "Arvelio? Yak, kau mau bawa aku ke mana?" ucapnya.
Arvelio tetap berjalan ke arah ruangan khsusus miliknya, tanpa memperdulikan ucapan Sheila.
"Loh!" Leona menatap kepergian Sheila dan Arvelio dengan heran. "Terus kita? Gimana?" tanyanya.
"Ikut aku!" ajak Kenneth, menarik tangan Irene mengikuti sepupunya.
Jayden melakukan hal yang sama pada Grace, Leona dan Reyhan saling tatap. "Ck!" decak Leona, lalu melangkah ke ruangan Arvelio yang berada di pojok kanan kantin.
***
Arvelio dan Sheila duduk berdua, sedangkan yang lainnya duduk di satu meja.
Mereka saat ini sedang memesan makanan melalui tab yang ada di meja.
Canggih, bukan?
Sekolah Alberto IHS memang sekolah yang memiliki fasilitas canggih ala restoran Korea, setiap meja makan Kantin tersedia tab canggih untuk memesan makanan untuk memudahkan para murid.
"Psssttt!" Leona memberi kode pada sahabatnya.
Grace, dan Irene sama-sama mengangkat alis sebelah seolah bertanya. "Kenapa?"
Leona merapatkan kursinya mendekat ke arah Irene, dan Grace. "Sejak kapan Sheila kenal sama Arvelio? Apa mereka punya hubungan tersembunyi? Kenapa si bocah tak pernah cerita sama kita." bisiknya.
"Mana aku tau." balas Grace berbisik.
Irene menatap ke arah meja Sheila, namun Kenneth menarik kepala gadis itu dengan pelan melihat ke arahnya. "Arvelio tidak suka jika dipantau." ucapnya.
"Kau tau soal hubungan mereka?" tanya Irene.
Kenneth menatap gadis yang ada di hadapannya, dia tersenyum tipis. "Aku tidak tau, babe." jawabnya.
Rasanya ada perasaan senang dalam diri Kenneth saat Irene berbicara padanya, walau hanya sebatas itu saja.
Mendengar panggilan Kenneth, Irene mendatarkan wajahnya. "Don't call me that!" ucapnya tajam.
"Sayangnya aku menyukai panggilan itu." sahut Kenneth santai.
Irene medengus kesal mendengar jawaban Kenneth, Leona dan Grace saling pandang. "Wait! Apa kalian saling kenal?" tanya Leona.
"Mantan!" Irene menjawab dengan malas.
"Aku belum setuju untuk putus!" balas Kenneth.
"Aku tidak meminta persetujuan darimu!" sahut Irene menatap Kenneth datar.
Kenneth dan Irene pernah menjalin hubungan, tapi hubungan keduanya putus satu tahun lalu.
Suasana di sana seketika menjadi hening setelah mendengar pernyataan Irene, tiba-tiba mode ceplos Leona on.
"Oh, jadi ini mantan yang kau katakan brengsek itu karena dia suka selingkuh." ucap Leona dengan muka polosnya.
Kenneth menatap Leona datar, dan tajam. "Aku tidak pernah selingkuh! Sekali pun tidak!!" ucapnya tegas.
Irene tersenyum remeh. "Cih, mana ada maling mau ngaku. Tidak selingkuh tapi tidur bersama."
"Sudah kukatakan itu jebakan, babe." jawab Kenneth penuh penekanan.
"Whatever!" sahut Irene, tak ingin mendengar alasan apapun. Irene menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya saat Kenneth tidur dengan seorang gadis di Hotel saat itu.
Kenneth menghela nafas kasar, sebenarnya dia ingin menjelaskan kejadian satu tahun lalu pada Irene. Sayangnya dia tidak memiliki bukti apapun, Kenneth sadar apa yang akan dia katakan hanya dianggap sebagai bualan oleh Irene.
Suasana menjadi tegang, Irene berdiri dan pindah ke meja yang ada di sebelahnya, diikuti oleh Grace, dan Leona.
Sheila menatap ke arah meja ketiga sahabatnya, dia penasaran apa yang meraka bicarakan. Saat Sheila ingin berdiri Arvelio menahan lengannya.
"Mau ke mana?" tanya Arvelio.
Sheila menunjuk meja sahabatnya. "Duduk di sini!" Arvelio menarik lengan gadis itu untuk duduk.
"...." Sheila menatap Arvelio dengan tatapan protes.
"Makanannya sudah datang, kau tidak ingin makan? Sejak tadi, aku mendengar suara konser dari cacing di perutmu." ujar Arvelio.
Wajah Sheila seketika memerah karena ucapan Arvelio. "Sial! Ini perut buat malu aja." batinnya.
Melihat Sheila menunduk. "Aku akan berpura-pura tidak dengar, dan melupakan soal kejadian beberapa saat lalu." ucap Arvelio. "Duduklah!" bujuknya.
Sheila akhirnya duduk, matanya seketika berbinar melihat berbagai macam makanan kesukaannya di atas meja.
Gadis itu meneguk ludah. "Apa aku boleh makan?" tanya Sheila, meminta ijin.
Arvelio tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Shiela lembut. "Makanlah!" ucapnya.
Sheila cukup terkejut dengan sikap Arvelio, namun gadis itu berusaha bersikap biasa saja.
Sebenarnya, dirinya cukup bingung.
Kenapa Arvelio bersikap manis padanya?
Bukankah, mereka baru saja saling kenal?
Atau Arvelio sengaja bersikap manis pada dirinya karena memiliki maksud tersembunyi?
Mungkinkah? Makanan itu ada racunnya?
Arvelio ingin balas dendam karena dia menembak ban mobil lelaki itu, tadi.
Banyak pertanyaan muncul dibenak gadis itu.
Namun, Sheila dengan cepat menghilangkan pikiran itu dan memilih fokus pada makanan yang ada di hadapannya.
Sheila makan dengan lahap, Arvelio terus menatap Sheila.
Candu!
Sepertinya, wajah Sheila terlalu candu untuk ditatap oleh Arvelio.
Rasanya pandangan mata Arvelio hanya terfokus pada gadis itu.
Bahkan, makanan miliknya tak dia sentuh sama sekali.
Sheila masih makan dengan tenang, sebenarnya dia risih ditatap seperti itu oleh Arvelio.
Tapi, cacing di perutnya perlu diberikan makanan agar tak berontak, makanya dia berusaha untuk tetap fokus saja.
Setelah beberapa saat, Sheila mulai jengah dengan sikap Arvelio yang terus menatapnya.
Shela menghela nafas kasar. "Berhenti menatapku!" ucapnya.
Menggelang. "Tidak bisa, kau sudah membuatku candu. Menatapmu akan jadi hobi baru buatku, mulai sekarang!" sahut Arvelio, menatap lamat Sheila.
"Kau aneh!" Sheila menatap Arvelio heran.
"Kau yang membuatku seperti ini." balas Arvelio.
Alis Sheila mengernyit. "Sepertinya kau tidak waras! Aku tidak melakukan apapun padamu, bagaimana kau bisa mengatakan aku alasan sikapmu seperti itu." ujarnya.
Arvelio memajukan wajah mendekat ke arah Sheila, gadis itu bergerak mundur, tubuhnya merapat pada tembok.
Gadis itu menahan dada Arvelio agar tidak terlalu dekat dengan wajahnya, saat ini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
Bahkan, Sheila bisa mencium aroma maskulin dan mint dari lelaki itu.
"M-mundur! Aku tidak nyaman." kata Sheila.
Lelaki itu tidak mendengar ucapan Sheila, justru...
Arvelio meletakkan ke dua tangannya di sisi kepala Sheila. "Sheila, sepertinya aku jatuh cinta." katanya.
"Kau mau jatuh cinta, silahkan. Itu urusanmu! Tidak ada hubungannya denganku. Jadi, tolong menjauh lah!" Sheila menatap Arvelio datar.
"Tentu saja kau terlibat." kata Arvelio.
"Maksudmu?" tanya Sheila.
Tersenyum tampan, hal itu mampu membuat Sheila terpesona.
"Aku jatuh cinta padamu, Sheila. Jadi, kau harus bertanggung jawab!" Arvelio berbisik tepat di telinga Sheila.
Mata Sheila membulat mendengar ungkapan Arvelio, dia mematung berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar, apa itu nyata atau tidak?
Arvelio masih tetap dengan posisinya, rasanya dia enggan untuk beranjak dari sana, aroma wangi tubuh Sheila membuatnya menjadi candu.
Di luar ruangan ada seorang gadis yang berdiri, dia mengepalkan tangannya erat melihat posisi Arvelio.
Ruangan Arvelio hanya tertutupi kaca, dan saat ini mereka tidak menurunkan penghalang kaca dalam ruangan tersebut.
Makanya, semua orang yang ada di luar bisa melihat aktivitas mereka.
"Apa dia gadis bersama Arvelio, tadi?" ucap Salsa _ anggota geng Glamour Girls.
"Sepertinya iya." jawab Gladis_anggota geng GG.
"Claudia kau tidak apa-apa, kan?" tanya Sonya, geng GG.
Gadis yang bernama Claudia langsung pergi dari sana tanpa mengatakan apapun, dia berjalan keluar kantin dalam keadaan marah.
Melihat ketua geng mereka pergi, Salsa, Sonya, dan Gladis segera mengikutinya.
Dalam ruangan. "Pasti setelah ini Geng cabe-cabean itu akan mencari masalah sama Sheila." ucap Leona.
"Sheila pasti akan mengatasinya." ujar Grace.
"Hm, dia bukan gadis yang lemah." tambah Irene.
"Tapi? Bagaimana jika dia muncul?" tanya Leona, menatap Grace, dan Irene bergantian.
Kedua gadis itu tersentak samar mendengar ucapan Leona, mereka terdiam.
Kenneth, Jayden, dan Reyhan saling pandang saat mendengar obrolan ketiga gadis itu. "Dia, siapa yang mereka maksud?" bisik Reyhan.
"Entahlah!" jawab Jayden.
Sheila kembali sadar dari lamunannya. "Apa kau ikut taruhan?" tanyanya.
Paham. "Apa kau menganggap aku menjadikanmu bahan taruhan?" Arvelio bertanya balik.
Sheila mengangguk.
"Tidak!" jawab Arvelio tegas.
"Benarkah?" tanya Sheila menatap mata Arvelio mencoba mencari kebohongan di sana.
"Aku tidak menjadikanmu sebagai bahan taruhan, atau apapun hal jelek yang ada di pikiranmu saat ini tentangku." ungkap Arvelio, dengan nada serius, dan tegas.
Sheila terdiam, dia bisa melihat tatapan keseriusan dari mata lelaki itu. "Kita baru saja kenal, bagaimana mungkin?"
Mengangkat bahu. "Entahlah! Ini hal yang pertama bagiku. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya!" sahut Arvelio.
"K...." Arvelio tidak jadi melanjutkan ucapannya.
Sheila mendorong tubuh Arvelio menjauh, dan berdiri, gadis itu berjalan keluar ruangan.
"Cabut!" ajak Irene, mengikuti Sheila begitu juga dengan Grace, dan Leona.
Kenneth mendekat ke arah Arvelio. "Claudia melihat semuanya." ucapnya.
Arvelio menatap Kenneth. "Awasi jal*ng itu, jangan sampai dia menyentuh gadisku." titahnya.
Mereka bertiga menganggukkan kepala mengerti.
***
Sheila membasuh wajahnya beberapa kali.
"Ren, pukul aku!" titah Sheila.
Saat Irene ingin memukul Sheila, Leona lebih dulu bergerak.
Kapan lagi dia bisa memukul Sheila? Bukankah, ini adalah kesempatan emas untuknya. Pikirnya.
Sheila menatap Leona, gadis itu seketika meneguk ludah. "K-kau sendiri yang memintanya." ucapnya, gugup.
"Lagi!" ujar Sheila.
"Kau serius?" tanya Leona, yang diangguki oleh Sheila.
Saat Leona ingin memukul Sheila, Grace lebih dulu menahan tangan gadis itu.
Grace menatap Sheila. "Apa yang kau dengar tadi semuanya nyata, Arvelio memang confess, jika dia jatuh cinta padamu." ujarnya.
"Jadi itu bukan mimpi?" Sheila menatap ke tiga sahabatnya.
"Bukan!" jawab mereka dengan kompak.
"Aku harus bagaimana?" Sheila bertanya lagi.
"Ikuti kata hatimu." sahut Irene.
"Apa yang kau rasakan saat bersama Arvelio?" tanya Grace.
Sheila menggeleng, dia bingung mengekspresikan perasaannya. Dia dan Arvelio baru saja saling kenal beberapa jam yang lalu karena ketidaksengajaan.
Tapi, lelaki itu sudah menyatakan cinta padanya.
Wah, sungguh! Sheila dibuat speechless dengan tindakan Arvelio.
Selama ini memang banyak yang menyatakan cinta padanya, tapi baru kali ini Sheila merasa ada yang berbeda.
"Pikirkan saja dulu. Tapi, menurutku Arvelio cocok jadi pasanganmu." kata Leona. "Iya, kan?" menatap Grace, dan Irene. Keduanya mengangguk tanda setuju.
Sheila menghela nafas. "Ini hari pertamaku, kenapa seperti ini." lirihnya. "Aku ingin pulang!"
Setalah mengatakan hal itu, Sheila berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya.
Sheila berjalan dengan tatapan lurus ke depan, dia melihat banyak orang yang memperhatikannya saat melewati koridor.
Namun, Sheila tak peduli tatapan mereka, dan tetap berjalan.
Tiba-tiba...
Byur!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!