NovelToon NovelToon

Sikerei

Kita mau Kemana Kak?

Dalam kapal yang perlahan menjauh dari dermaga, cahaya dari menara Suar yang termakan oleh kabut malam yang diterangi rembulan. Suasana hening, hingga terdengar suara tangis gadis kecil memecah keheningan malam.

Seketika orang sekitar menyorot tajam dengan tatapan nya. Gadis lainnya dengan perawakan yang tak jauh berbeda menghampiri nya. “Jangan menangis, Karie. Usap air matamu itu. Jika ibu melihatmu berlinang air mata, itu hanya akan membuat ibu sedih,” kata Erin dengan lembut, mencoba menenangkan adiknya yang masih terisak. “Tapi kenapa ibu tidak ikut bersama kita, Kak Erin?” tanya Karie, suaranya bergetar sambil memegang erat sebuah lukisan yang menggambarkan kenangan indah mereka bersama ibu.

Erin menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya sendiri. “Ibu bilang ada hal yang harus ia lakukan,” jawabnya sambil menghapus air mata adiknya dengan lengan bajunya. “Mulai saat ini, kita akan selalu bersama. Padang rumput yang luas dengan hamparan bunga yang kamu gambar itu, mari kita cari. Karie akan aman selama bersama kakak.”

Di dalam kapal yang bergoyang membelah deburan ombak di malam yang sunyi, orang-orang tidur di lantai kapal dengan helaian kain sebagai alas. Bagi mereka yang tidak memiliki uang lebih, kenyamanan bukanlah prioritas. Selama bisa berbaring dan memejamkan mata, itu sudah cukup.

Karie memandang sekeliling, melihat wajah-wajah lelah yang terlelap di bawah cahaya remang-remang. Kebanyakan orang tidak bisa tidur di tempat yang baru mereka tempati, dan itu yang terjadi pada Karie. Ia masih terjaga di larutnya malam, pikirannya dipenuhi kekhawatiran dan kerinduan.

Saat dahaga Erin tak tertahankan, ia menyadari bahwa adiknya masih belum memejamkan mata. Erin meraih tempat minumnya dan menyodorkannya kepada Karie. “Apa kamu masih gelisah, Karie?” tanya Erin dengan suara lembut.

Karie mengangguk pelan, menerima tempat minum dari kakaknya. “Untuk mengisi malam yang panjang, kamu mau mendengarkan cerita?” tawar Erin, mencoba mengalihkan perhatian adiknya dari kesedihan.

Karie mengangguk lagi, duduk di samping kakaknya dalam pelukan selimut, berlindung dari dinginnya malam. Erin membuka cerita dengan menunjuk bintang berekor di langit yang gelap.

“Jauh sebelum tanah ini dapat dihuni, Sang Maha Pengasih menjatuhkan tiga bintang berekor. Yang pertama membawa air, sehingga terciptalah kehidupan. Yang kedua membawa logam, dengan itu peradaban dimulai. Yang terakhir membawa Maya sebagai pelindung dari rasa takut. Saat itu, manusia belum ada,” Erin bercerita dengan suara yang tenang dan menenangkan.

Karie memandang bintang-bintang dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana kita bisa ada di dunia ini, Kak?” tanya Karie sambil erat memegang tangan Erin, mencari kenyamanan dalam cerita kakaknya.

“Sang Maha Pencipta menciptakan kita dari segenggam tanah dan mengembang dari segumpal darah di dunia. Atas pilihan nenek moyang kita, mereka berakhir di tanah persimpangan ini. Sebuah pohon menghasut ras pertama, yaitu Insani, untuk melanggar perintah. Mereka terus mengikuti ke mana pun Insani pergi untuk membuktikan bahwa menjadikan Insani pemimpin di tanah persimpangan ini adalah sebuah kesalahan, memperlihatkan keburukan sifat manusia yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah,” Erin melanjutkan ceritanya, suaranya penuh dengan kehangatan dan kebijaksanaan.

Karie mengerutkan kening, mencoba memahami cerita yang disampaikan kakaknya. “Kakak, yang aku tahu bukannya ras manusia itu ada lima ya?” tanya Karie, penasaran.

Generasi demi generasi, manusia taat pada petunjuk Sang Maha Pencipta. Namun, permusuhan mulai terlihat di antara mereka, dan sebuah pohon ajaib menyadari kesempatan untuk memanfaatkan keadaan tersebut.

Kerajaan Eden dan Elinalis adalah dua kerajaan pertama yang tercatat dalam sejarah. Alarik dan Tharik adalah pewaris kerajaan Eden. Namun, keputusan ayah mereka untuk menjadikan Tharik sebagai pewaris tunggal tanpa membagi kerajaan membuat Alarik marah. Alarik dan pengikutnya pergi, bersumpah untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Mereka mendirikan kerajaan baru di tempat matahari terbenam, yang dinamai Elinalis, sesuai nama istri Alarik.

Kerajaan Elinalis selalu kalah dalam perang, dan rasa putus asa menghantui Alarik. Suatu hari, ia bertemu dengan pohon ajaib yang keindahannya tak terlukiskan. Pohon itu bisa berbicara dan mengetahui masalah Alarik. Pohon tersebut menawarkan kemenangan dengan syarat Alarik harus mengorbankan tubuh orang yang paling ia cintai. Istrinya, Elinalis, rela berkorban demi suaminya dan kerajaan mereka. Pohon itu menghilang bersama Elinalis, meninggalkan tulisan di sebuah batu.

Kerajaan Eden memutuskan untuk menyerang Elinalis dengan kekuatan penuh, menghukum setiap darah yang ada di kerajaan tersebut karena dianggap menyimpang dari ajaran. Alarik, dalam keputusasaan, pergi ke sungai di Eden dan merapalkan syair yang diberikan oleh pohon itu, merobek isi perutnya sendiri sambil bersumpah, “Untuk rakyat, tujuan, dan keturunanku, aku akan melakukan apapun!”

Tahun berlalu, dan sebuah peristiwa yang dianggap berkah terjadi. Mereka melahirkan manusia dengan rupa indah dan kekuatan Maya yang sangat bersifat menghidupan di Eden. Mereka adalah manusia dari ras Peri dan Elf. Namun, mereka yang terlahir sebagai Siluman dan Nagha dianggap sebagai kutukan dengan kekuatan mereka yang sulit dikendalikan, menyerukan perintah dari Kerajaan Eden untuk setiap orang tua mereka harus membunuh anak-anak tersebut. Kecewa dengan tidak ada usaha membantu mengembalikan wujud Insani mereka yang terlahir menjadi Siluman dan Nagha serta memikirkan jalan keluar lainnya, Ketidakadilan ini menyebabkan perpecahan di kerajaan Eden, yang perlahan hancur.

Pangeran Elinalis pertama akhirnya menyadari bahwa ancaman dari Eden tidak pernah terwujud. Pengorbanan ayahnya ternyata tidak sia-sia. Dengan tekad yang bulat, mereka mengumpulkan pasukan besar dan bersiap untuk menyerang Eden.

Pasukan Elinalis menang dengan gemilang, namun kemenangan ini membawa mereka pada keputusan yang kelam. Untuk mengakhiri lingkaran kebencian yang telah berlangsung selama berabad-abad, mereka memutuskan untuk membunuh semua manusia yang tersisa di Eden, tanpa memandang laki-laki atau wanita. Namun, upaya ini gagal karena sebagian besar manusia berhasil melarikan diri, meninggalkan Eden yang mereka tahu akan segera hancur.

Di tengah kekacauan ini, setiap ras mulai menyadari akar masalah dari perang abadi mereka. Mereka mendengar tentang keajaiban dari legenda pohon Ajaib dahulu, dan berlomba-lomba mencari keturunan dari ras pohon tersebut, yang konon disebut ras Floral.

Setelah menceritakan kisah panjang lebar ini, Erin menutup cerita dengan sepenggal kalimat yang penuh makna, “Setiap harapan selalu diiringi dengan pengorbanan sebagai bayaran.” Dengan matahari yang mulai muncul dari ufuk, Karie yang sudah merasa lebih baik memejamkan mata di pangkuan Erin.

Seorang remaja menghampiri Erin dengan lembaran kertas di tangannya, “Aku sudah mengumpulkan semua yang kita perlukan. Apa selanjutnya? Dan kemana kapal ini membawa kita?”

Erin memberinya sebuah selimut, “Beristirahatlah selagi sempat, Hagetz. Kita akan menuju Elinalis, tempat dimana semuanya akan dimulai kembali.”

Kenapa.

Sekumpulan orang di desa bubar setelah mendengar pengajaran dari seorang polimatik, yang mengabdikan diri untuk berbagi ilmu kehidupan kepada sesama manusia.

“ Membeli lembaran seni Maya lagi, tidak takut ketahuan kakakmu lagi, Karie?” tanya Hani dengan senyum menggoda.

Karie menghela napas, “Ini kubeli supaya aku dapat menyiram ladang dengan mudah, bukan seni Maya merusak, Hani.”

Hani mengangguk, “Karie, akhir-akhir ini aku lihat kamu rajin bekerja mulai dari menyirami ladang, berjualan sampai pergi ke pesisir Aisir. Kamu tidak jadi kupu-kupu malam kan? Apa yang mempengaruhi mu?”

Karie mengerutkan dahinya, “Apa yang kamu bicarakan? Aku pergi ke Aisir bersama Hagetz untuk membantu di pelabuhan. Uangnya lumayan, selain itu aku suka Aisir, terutama saat matahari terbenam di lautan.”

Hani mendekat, “ Aku hanya bercanda tidak perlu terlalu dipikirkan, tapi?, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu, “Satu hal yang belum kamu beritahu… Ah, alasan nya!” katanya sambil mengambil lembaran dari tangan Karie, “beritahu aku dong, janji aku tidak akan bilang ke siapapun.”

Karie mendekat, namun bukan untuk memberitahu alasannya. Diam-diam, ia mencoba merebut lembaran itu dengan seni elemen airnya, tetapi Hani menyadarinya dan membekukan jerat tersebut sebelum mengikatnya dengan sifat Mayanya. “Kita ini teman yang bagai hidung dan jari kelingking, tidak dapat dipisahkan,” kata Hani dengan wajah sedih. “Apa kamu tidak mempercayai ku, Karie?”

Melihat wajah Hani yang seperti itu, Karie akhirnya mengalah. “Aku ingin menjadi Sikerei, kesatria Maya,” katanya pelan.

Hani tertawa, “Menjadi Sikerei minimal kamu harus menguasai dua dasar antara sifat Maya, Elementalis, atau Penyembuhan. Kamu yakin ingin menjadi Sikerei?”

Karie termenung, tidak tega melihat sahabatnya sedih. Hani menyadarkannya, “Nah, ambil lembaran ini. Aku tidak bermaksud mengejekmu, aku hanya khawatir padamu. Berlatihlah, aku akan mendukungmu.”

Sebelum berpisah di persimpangan, Karie mengucapkan terima kasih atas dukungan Hani. “Jangan lupa yakinkan kakakmu, supaya kakakmu mengerti kemampuanmu,” kata Hani sambil berjalan hilang dari pandangan.

***

Di dapur kecil, Karie sibuk dengan bahan dan resep stew yang direkomendasikan pedagang pasar. Awalnya, ia pikir akan mudah membuatnya, tetapi rasanya terus terasa kurang. Setelah pertarungan antara gula dan garam, akhirnya rasa yang diinginkan tercipta. Namun, kakaknya masih belum pulang dalam larutnya malam.

“ Kenapa kak Erin belum kunjung pulang, biasanya tidak pulang terlalu larut?” gumam Karie

Dengan cahaya lentera yang semakin meredup diatas meja dengan tertata makan roti dengan panci berisi masakan Karie yang semakin dingin, Karie tertidur diatas meja lesehan menunggu kakaknya tak kunjung pulang.

Dari luar terdengar perbincangan, “Selama masih terukir, kalian aman tinggal di sini. Tenang saja, Nona. Jika tidak ada yang ditanyakan lagi, saya pamit.” Erin mengajak mampir, namun wanita paruh baya dengan rambut kecokelatan menggelengkan kepala, “Tidak usah, lagipula ini sudah larut. Esok kita bertemu lagi.” Saat wanita itu perlahan meninggalkan Erin, ia berkata, “Kami berhutang banyak, Bibi Istar, atas semuanya,” sambil melambaikan tangan hangat.

Karie terbangun mencium bau tungku api. Ia pikir belum mematikannya, tapi ternyata Erin, kakaknya, yang sedang memasak. “Sepertinya aku membangunkanmu,” kata Erin sambil menuangkan sup dan roti hangat untuk Karie.

“Tumben sekali kamu memasak,” ujar Erin heran. “Apa ada hal yang kamu inginkan, Karie?”

Erin tersenyum tipis, namun matanya menunjukkan kekhawatiran. Karie mengambil roti dan mulai makan, lalu dengan suara pelan ia bertanya, “Kenapa kakak selalu melarangku mendekati hal-hal yang berbau Sikerei? Bukankah itu pekerjaan mulia yang melindungi banyak orang dan negeri ini? Aku hanya ingin kita punya kehidupan yang lebih baik.”

Erin menghela napas panjang, lalu berkata, “Adakalanya tidak tahu itu lebih baik untukmu. Lagi pula, kamu pandai dalam banyak hal lain. Kamu suka membuat agenda yang rapi, pandai menghitung, dan kamu juga bisa memasak. Ada pekerjaan lain selain menjadi Sikerei, kan?”

Karie menatap Erin dengan tajam. “ Untukku? Lagi, jawaban kakak selalu seperti itu, kakak tidak mengerti menakutkannya melepaskan hal yang kamu suka.” Karie berdiri dihadapan Erin, “ Apakah aku masih cukup dewasa untuk tahu tentang dunia ini dan memutuskan sendiri pilihan ku?!”

Erin sedikit marah, biasanya adik kecilnya yang penurut mulai berontak, terlihat dari dahinya yang mengkerut. “Cukup sampai di sini pembicaraan kita. Beberapa kali pun kamu bertanya, itu yang akan menjadi jawaban kakak. Inilah yang terbaik untuk saat ini.” Erin menyuruh Karie untuk kembali melanjutkan makan bersamanya, jika tidak ada hal lain yang ingin ditanyakan.

Karie berdiri dengan cepat, membuat kursinya terjatuh. “Aku lelah dengan semua rahasia ini! Andai saja kakakku itu Hagetz, ia selalu membantuku mendapatkan hal yang kubutuhkan,” katanya dengan suara bergetar, lalu berlari keluar dari ruangan, air mata mulai mengalir di pipinya.

Erin tetap duduk, menatap pintu yang baru saja dibanting oleh Karie. Ia menggenggam erat sendok di tangannya, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. “Maafkan aku, Karie,” bisiknya pelan, “Aku hanya ingin melindungimu.”

***

Angin dingin berhembus lembut dari lautan, membawa aroma asin laut. Dedaunan kering berwarna kuning dan cokelat berguguran, menutupi papan kayu yang mulai lapuk. Langit abu-abu pucat memantulkan cahaya redup di permukaan air yang tenang. Perahu-perahu kecil dan besar berlabuh di daratan yang dikenal Astri sebagai intan dari Utara Elinalis, karena julukan itu sesuai dengan kota Astri dengan bangunan-bangunannya yang berwarna-warni seperti intan yang bercahaya.

Pekerjaan bongkar muat di pelabuhan tampak mudah berkat bantuan Maya dengan Seni mencipta, yang memungkinkan orang menggandakan kekuatan fisiknya meski dengan pengorbanan dan efek samping. Setiap hari Hagetz bekerja tanpa sadar terlalu banyak. Teman-temannya mengajaknya ke rumah bordil di distrik Seide, dan sebelum sempat menolak, ia sudah ditarik ikut. “Memang uang yang kamu kumpulkan itu untuk apa? Aku tak pernah melihatmu menggunakannya. Tak takut busuk itu uang?” canda mereka. Hagetz termenung sejenak, dalam hati terbesit, “Untuk apa? Lari aku tidak bisa sembunyi darinya. ‘Ingat kesepakatannya.’ Iya juga, kenapa aku menahan diri untuk kesenangan.”

Dalam perjalanan, Hagetz dan rekan-rekannya berpapasan dengan Erin. Erin adalah wanita muda dengan rambut birulangit yang tergerai indah, matanya tajam dan penuh determinasi, serta kulitnya yang halus dengan riasan. “Hagetz? ini teman-teman mu?” tanya Erin dengan nada curiga.

Rekan-rekan Hagetz sedikit tersipu melihat Erin, “Kami hanya ingin bersenang-senang sebentar, Erin,” jawab Hagetz yang terus menarik rekannya menjauh Erin.

Erin tiba-tiba menatapnya tajam, lalu berkata, “Bisa kita bicara empat mata sebentar?”

Hagetz meminta menunggu rekan-rekannya dan mengikuti Erin ke sudut yang lebih sepi. “Ada apa, Erin?”

Erin menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Karie bilang kau yang selalu mengajarinya menggunakan Maya. Aku ingin kamu mulai berhenti mengajari Karie tentang Seni Maya.”

Hagetz mengerutkan kening. “Kenapa? Apa salahnya? Karie sangat berbakat dan itu bisa membantunya.”

Erin menggelengkan kepala, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. “Karena itu, dia jadi ingin menjadi Sikerei. Kamu tahu betapa berbahayanya itu.”

Hagetz tersenyum tipis. “Bukankah itu bagus? Menjadi Sikerei adalah pekerjaan mulia. Selain itu bukanya ia sudah tidak mewarisinya, jadi tidak masalah kan? Apa mungkin kamu tidak mengambil sepenuhnya?”

Erin marah, dahinya berkerut, “ Menghilangkan sifat Maya seseorang sama saja dengan membunuh mereka, aku menyisakan sedikit pada Karie dan menyegelnya.”. Erin balik bertanya, “Bagaimana jika identitas kita ketahuan segel ini, dari.” Erin menunjukkan pola unik di lehernya, “bisa rusak jika menggunakan Maya terlalu sering.”

Hagetz terkejut. “Aku tidak tahu hal itu. Maafkan aku, Erin.”

“ Bagaimana membujuk Karie berhenti berkeinginan menjadi Sikerei?”Erin menghela napas lega. “Terima kasih atas pengertianmu, Hagetz. Maafkan aku jadi bersikap keras padamu.”

Hagetz mengangguk. “ Lebih baik beritahu saja Karie yang sebenarnya, ia sudah dewasa juga aku pikir ia akan mengerti

Erin tersenyum hangat. “Terima kasih, Hagetz. Aku sangat menghargainya.” Sembari meninggalkan Hagetz, “ Aku ingin Karie tidak memikul beban ini, kebenaran yang menyakitkan.”

Cara.

Di bawah langit senja yang mulai memudar, Karie dan Hani berdiri di tepi amfiteater kuno yang megah. Batu-batu besar membentuk struktur oval dengan tiang-tiang yang berdiri tegak. Daun-daun yang tersisa berwarna merah dan kuning, menciptakan karpet alami di tanah yang berderak di bawah kaki mereka.

“Bukannya kamu bilang akan mentraktirku makan sesuatu, kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Hani.

“Kita ke sini karena…” Karie menyerahkan sebuah surat kepada Hani.

Setelah melihat sekilas, Hani sedikit terkejut. “Karie, aku tidak percaya kamu sudah sampai di tahap akhir kualifikasi ini. Tapi, sejak kapan? Dan apakah kamu benar-benar yakin bisa menghadapi duel terakhir di amfiteater?”

Hani, dengan rambut panjangnya yang terurai dan mata yang penuh kekhawatiran, menatap Karie dengan cemas. Dia mengenakan jubah panjang berwarna biru tua yang berkibar pelan di tiup angin. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak khawatir.

Karie, dengan postur tubuh yang tegap dan mata yang penuh ambisi, menjawab, “Setiap tahun aku mengirim, tapi tahun ini baru bisa lolos sampai sini. Kenapa kamu bertanya begitu, Hani? Wajahmu terlihat aneh.”

Hani menghentikan langkahnya, mengingatkan kembali, “Karie, aku tahu kamu sudah berjuang keras untuk sampai di sini. Tapi, apakah kamu benar-benar yakin bisa menghadapi duel terakhir di amfiteater? Kamu belum membuka sifat maya-mu, dan itu seperti membaca kartu tarot hanya dengan menggunakan kartu Minor Arcana. Lawanmu memiliki seluruh dek, termasuk Major Arcana yang kuat dan penuh makna.”

Karie mengerutkan kening, mencoba memahami maksud Hani. “Minor Arcana? Major Arcana?” tanyanya kebingungan.

Hani mengangguk, mengeluarkan sejumlah kartu. “Ya, dalam tarot, Minor Arcana adalah kartu-kartu yang mewakili kejadian sehari-hari dan tantangan kecil, sementara Major Arcana mewakili pelajaran hidup yang besar dan kekuatan yang lebih mendalam. Tanpa sifat maya-mu, kamu seperti hanya memiliki sebagian kecil dari kekuatan yang sebenarnya kamu butuhkan.”

Karie tahu kartu tersebut sering digunakan untuk meramal, namun itu tidak mengurungkan niatnya. “Aku tahu, Hani. Tapi aku percaya pada kemampuan dan tekadku. Mungkin aku hanya punya satu jenis kartu, tapi aku akan memainkannya dengan sebaik mungkin.”

Hani menghela napas panjang, menunjukkan betapa besar kekhawatirannya. “Karie, setiap festival musim dingin, duel ini disaksikan oleh seluruh kota. Petarung yang kalah sering kali tidak bisa kembali normal, dan kematian bukanlah hal yang jarang terjadi. Aku mengerti tekadmu, tapi ini bukan hanya tentang menang. Ini tentang bertahan hidup. Aku tidak ingin melihatmu terluka karena…”

Karie tiba-tiba merasa marah. “Hani, kamu sama saja seperti kakakku. Selalu meremehkanku!” katanya dengan suara bergetar. Tanpa menunggu jawaban, Karie berbalik dan meninggalkan Hani, membuang kertas kecil yang diremasnya ke tanah.

Hani memungut kertas itu dan mendapati sebuah tiket amfiteater festival musim dingin. Dia hanya ingin memahami kekhawatirannya dan mencoba memanggil Karie. “Karie, jangan marah seperti itu. Setidaknya belikan aku dulu cumi bakarnya!”

***

Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah-celah dedaunan. Karie berdiri di depan pintu rumah Hagetz dengan sepasang sarapan di tangan, merasakan kehangatan sinar pagi yang menenangkan.

“Tidak ada yang perlu kuajarkan padamu, Karie.” Nada suara Hagetz terdengar lembut namun tegas.

“Eh! Kenapa tiba-tiba seperti ini, Kak Hagetz? Apakah kakakku mengatakan sesuatu?” tanya Karie dengan nada sedikit khawatir, matanya mencari-cari tanda di wajah Hagetz.

Hagetz tersenyum tipis. “Ini tidak ada kaitannya dengan Erin. Hanya saja kamu sudah menguasai dasar apa yang aku ajarkan sebelumnya. Kamu tinggal mengembangkannya saja, Karie. Hingga takdir itu datang.” Ia mengusap kepala Karie sembari berjalan meninggalkannya. “Maaf, tapi masih ada hal yang harus aku lakukan.”

“Tapi aku tidak terlalu mengerti, Kak Hagetz, tunggu…” Melihat sikap Hagetz yang menjadi dingin, Karie berpikir ini pasti ulah kakaknya, Erin. Pada akhirnya, ia berlatih sendiri menuju bukit di balik hutan desa Aetra, mengulang semua kemampuan Maya yang ia kuasai dalam seni Elementalis.

Saat Karie beristirahat sejenak di bawah pohon yang telah rontok daunnya, ia teringat saat pertama kali datang ke bukit ini di musim semi, ketika pohon plum berbunga putih bersih. Hal itu membuat Karie sadar cara kerja Maya.

“Kenapa aku terlalu memikirkan sifat Maya? Yang terpenting seberapa jauh aku bisa memvisualisasikan seni Maya yang aku kuasai saat ini…” Karie terlihat dilema dengan pemikirannya sendiri.

“Meskipun aku tahu katalisnya—menggambar, menulis, berucap, dan gerakan tubuh untuk membantu memvisualkan Maya—aku masih bingung.” Dengan ranting di tangan yang terus menggores tanah, Karie berpikir keras untuk memperbesar peluang kemenangannya di ujian terakhir menjadi Sikerei.

“Aku tidak bisa menggambarkan, menulis aku malas, gerakan sih keren tapi pose apa yang harus aku lakukan?” pikirnya. Ia sempat terpikir membuat gerakan seperti air yang mengalir, namun mengurungkannya setelah melihat refleksi dirinya di air. “Ah, ini memalukan. Memang yang terbaik membuat syair, tapi saat gambaran di kepalaku dan syair sudah selaras, kenapa masih tidak wujud?”

Karie mencoba mengingat kembali ucapan yang selalu Hagetz katakan saat berlatih seni Maya bersama, “Yang selalu ia katakan, ‘Ingat, Karie, aku sukanya medium, tidak terlalu besar atau kecil, yang penting pas di tangan!’ Bukan yang ini…” Karie mengerutkan keningnya dalam ingatan yang kabur. “Ini terjadi setiap kali mencoba melewati batas. Apa mungkin ingatan kabur gara-gara terlalu banyak mengorbankan perasaan? Sekarang aku paham, perasaanku harus sesuai dengan isi syair yang kubawakan.”

Karie membuka telapak tangannya, mencoba mengumpulkan air yang terdapat di udara, sembari mengingat perpisahan dengan ibunya. “Hai, perantara kehidupan yang tercerai, berkumpullah.” Terkumpul bulir air sebesar kelereng. Seketika, Karie melemparnya ke dahan pohon dan mengingat orang yang meremehkannya. Bulir air itu melesat menembus batang kayu yang tebal. “Jadi begitu ya! Harus mengorbankan perasaan yang sesuai.”

“ Sepertinya cukup untuk hari ini.” Sesuatu menetes di pundak Karie. “Keringat?” pikirnya, mengernyitkan kening. Tetesan selanjutnya terasa dingin. “Ah!?Salju…” Karie menatap langit, melihat butiran salju pertama turun perlahan. “Ini memang takdirku,” bisiknya, rona kebagian terlukis dari senyum nya. Karie bergegas pergi ke ladang gandum untuk panen, bagiannya telah tiba.

***

“Kenapa aku harus turun tangan, apa yang dipikirkannya, Senna? Setiap tahun juga aku biasa duduk di kursi hangat,” keluh Eon, pemimpin yang biasanya mengatur dari balik layar.

Gadis berambut coklat panjang itu menatapnya dengan tegas. “Ia telah melihatnya, saatnya telah tiba.”

Eon menghela napas panjang. “Seperti itu ya… Saat menagih bayaran!”

“Sebelum itu, lakukan dengan rapi dan sesuai rencana pilihan salah satu dari mereka. Panen ini sangat penting,” tambah Elara, ahli strategi mereka, dengan nada serius.

“Iya, iya aku tahu,” jawab Eon dengan nada malas. “Kemana aku pergi?”

“Aisir, Elinalis cahaya pertama,” jawab Senna sambil menunjuk peta besar di meja mereka.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!