NovelToon NovelToon

Selalu Aku Yang Tersakiti

Episode 1 Pesta Pernikahan

Sebuah area yang begitu megah dipadu hiasan dekorasi dinding berwarna crem. membuat pesta begitu menarik. Sajian makanan dan suguhan alunan musik menambah suasana menjadi syahdu.

Tamu-tamu penting datang dan langsung memberikan ucapan selamat kepada dua mempelai.

Suasana pesta sendiri berlangsung ramai dengan sebagian tamu merupakan kalangan anak muda.

Konsep pesta pun mengusung nuansa moderen dengan pelayanan yang membuat betah para tamu untuk berlama-lama.

Kedua pihak keluarga begitu amat bahagia. mereka berbincang-bincang dan menemui para tamu. Satu persatu tamu pun tak lupa mengucapkan selamat kepada dua mempelai.

Mempelai pengantin yang begitu tampan dan cantik tak luput dari sorotan para tamu. Mereka begitu serasi dan nampak sangat bahagia. Namun kebahagian itu semua berbeda jauh dengan perasan yang saat ini dirasakan Aksa Bramansta pemeran utama mempelai pria hari ini.

Dia begitu membenci pernikahan ini. Bahkan dia merasa muak berekting tersenyum ria didepan semua orang. Aksa pergi menuju taman. Duduk sendirian dan meratapi nasibnya.

"Kenapa?? kenapa mereka begitu ngotot sekali untuk menikahkanku dengan perempuan kampungan itu.?? padahal mereka tahu sendiri, siapa yang selama ini aku cintai. Aaaaaa....sial....." dengan mengacak-acak rambut kepalanya. Sejenak kemudian dia terdiam.

"Azka...."

Tiba-tiba saja dia mendengar seseorang memanggilnya. Suara itu nampak tak asing untuknya, dia pun menoleh kesumber suara.

"Rere...kenapa kamu bisa sampai disini??"

tanya Azka pada Rere yang berjalan menghampirinya.

"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, kenapa kamu ada diluar?? Apa kamu gak kasihan melihat mempelai wanitanya sendirian didalam, dan pastinya para tamu juga menunggumu." mengambil duduk disebelah Azka.

"Aku hanya ingin menghirup udara segar sebentar lagi juga kembali." melihat kearah langit.

"Sebelumnya aku ucapin Selamat untuk kamu dan Zahra. Semoga kalian hidup bahagia. Dan aku minta maaf karna sudah meninggalkan kamu waktu itu. Sekali lagi maaf." Rere bergegas berdiri yang hendak beranjak pergi.

Namun tangan Azka menahan tangan Rere yang hendak pergi. Dia memeluk tubuh Rere dari belakang dan berbisik disamping telinga Rere.

"Bukan kamu yang seharusnya minta maaf tapi aku, karna akulah yang sebenarnya telah meninggalkanmu dan menikahi dia yang sama sekali tidak aku cintai. Maafkan aku Rere." Rere berbalik dan membalas pelukan Azka begitu erat, seakan-akan melampiaskan rasa kekecewaan mereka yang tidak dapat bersama.

"Apakah kita masih dapat bertemu??" ucap Rere yang masih memeluk tubuh Azka.

"Tentu saja, kenapa tidak. Dimanapun dan kapan pun kita masih dapat bertemu, meskipun sekarang aku sudah menikah tapi cintaku selalu untukmu Re."melepaskan pelukan dan menatap mata Rara dengan kelembutan.

" Terima kasih Azka" Rere mencium bibir Azka dengan lembut begitu pula Azka yang membalas ciuman Rere.

Sedangkan didalam Zahra duduk sendirian, tanpa tahu suaminya bermesraan dengan perempuan lain diluar. Dalam benak Zahra ia tidak pernah menyangka akan menikah dengan Mas Azka seorang pria yang menjadi idaman seorang wanita.

Zahra hanya menjalankan wasiat Abah yang terakhir kali. Abah berwasiat agar Zahra mau menikah dengan anaknya teman abah yang dikota.

Zahra tak bisa menolak karna itu adalah wasiat Abah. Jadi dia harus ikhlas dan menerimanya.

Bukan sebuah perkara mudah untuk menikahi seorang laki-laki yang sama sekali tidah dikenal. Apalagi orang itu sangat tinggi setatus sosialnya sangat jauh berbeda dengan Zahra yang hanya orang biasa-biasa saja. Belum lagi Mas Azka yang anak kota sedangkan Zahra anak desa.

Bisakah Zahra beradaptasi disana. Entahlah dia hanya bisa berdoa semoga semuanya berjalan dengan baik seperti yang diharapkannya.

Zahra merasa cemas dan gelisah. Kenapa suaminya tak kunjung kembali. Sudah lama sekali semenjak dia pergi.

"Mungkinkah terjadi sesuatu??" batin zahra.

Zahra beranjak dari tempat duduknya untuk mencari Mas Azka. Belum sampai zahra mencari, dia melihat suaminya kembali kedalam.

"Tapi siapa wanita yang ada disampingnya, mengapa mereka terlihat sangat akrap sekali." pertanyaan yang mengusik hati zahra.

"Astagfirullahhalazim, aku gak boleh berburuk sangka dulu, mungkin itu sahabatnya mas Azka."

Azka dan Rere berjalan menghampiri Zahra.

"Zahra selamat untuk pernikahanmu, aku Rere temannya Azka." Rere mengulurkan tangan kepada Zahra.

"Terima kasih Mbak" membalas uluran tangan Rere

"Jangan panggil mbak, panggil Rere aja."

"Iya mbak..eh...maksud saya Rere."

"Nah gitu donk, jadi kita bisa lebih akrab."

Zahra hanya membalas dengan senyuman. Dan Rere mencoba mengajak ngobrol Zahra. Sedangkan Azka bergabung dengan para pria.

waktu terus berlalu hingga acara pun tlah berakhir. semua tamu sudah pulang begitu juga kedua keluarga. Azka dan Zahra pun pergi kerumah. Rumah yang sudah disiapkan untuk mereka berdua tempati.

Selama perjalanan mereka sama sekali tidak bicara. Bahkan sampai dirumah sepatah kata pun mereka tidak ucapkan.

Zahra yang baru pertama kali datang kerumah sama skali tidak tahu dimana letak kamarnya. Dia hanya bisa mengekor kemana Azka pergi.

Sampai Azka memasuki sebuah ruangan, yang sepertinya kamar mereka. Karna begitu banyak bunga yang menghiasi ruangan itu.

Langkah Azka terhenti dan dia pun berbalik, sehingga ia dapat bertatap muka langsung dengan Zahra. zahra menyadarinya dan badannya mulai bergetar, tak berani rasanya ia melihat wajah suaminya.

"Kamu tidur disini dan aku akan tidur diruang tamu, dan jangan pernah bilang keorang tuaku kalau kita pisah ranjang. Awas aja kalau kamu mengadu." Azka berjalan pergi

Zahra hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa, tp setelah kepergian Azka tiba-tiba saja cairan bening jatuh menetes dari matanya. Zahra terduduk dengan bersandar diujung ranjang. Kenapa malam itu begitu terasa sunyi bagi Zahra. Zahra yang lelah menangis terlelap dalam tidurnya, dengan posisi duduk yang bersandar diujung ranjang.

Episode 2 Sarapa Pagi

Dipagi yang cerah yang ditemani hangatnya sang mentari, Zahrah si pengantin baru masih disibukkan membuat sarapan untuk sang suami. Zahra tampak begitu ulet saat memasak. tak butuh waktu yang lama makanan sudah tertata diatas meja. Dia melangkah kekamar tamu tempat suaminya berada. Sesampainya didepan pintu langkah Zahra terhenti,ia merasa ragu-ragu apalagi mengingat perkataan suaminya semalam. ia berdiri mematung didepan pintu.

Setelah beberapa menit

"kreet" suara pintu terbuka. Terlihat sang suami yang sudah rapi dengan setelan jas.

"apa yang kamu lakukan" tanya Azka. memadang Zahra yang berdiri didepan pintu.

"Saya hanya ingin memberitahu mas kalau sarapanya sudah siap". jawab Zahra dengan sedikit perasaan gugup.

"Aku buru-buru, aku akan sarapan dikantor saja." balas Azka sambil melangkah pergi. Zahra hanya bisa melihat punggung suaminya dari belakang yang berlalu pergi.

Terdengar suara mobil, dan Azka sudah berangkat pergi kekantor.

Zahra yang sedikit sedih karna sarapan yang sudah disiapkannya tidak dimakan oleh sang suami. Ia duduk termenung melihat makanan diatas meja. Dan mencoba menikmati sarapannya seorang diri.

Setelah sarapan dan membereskan semua, ia melihat-lihat sekeliling rumah barunya. melihat sana dan sini, mencermati setiap sudut-sudut diluar maupun dalam.

Zahra begitu terpukau dan terheran. Diaterpukau karna begitu besar sekali rumah yang saat ini ia tempati dan terheran kenapa rumah sebesar ini hanya ditinggali ia dan suaminya. Bukankah terlalu berlebihan. Mengingat Zahra yang berasal dari kampung. Dan dia tidak mempunyai satu seorang pun teman dosini. namun jangn tanyakan soal pendidukanya. ia adalah mahasiwi keperawatan dari Bandung. Masih dalam proses memperoleh gelar s2. Dan kini ia sudah mengurus surat kepindahanya disalah satu universitas dijakarta. Mungkin tinggal menunggu beberapa hari lagi ia sudah bisa masuk kuliah.

Disisilain ada Azka yang sudah sampai dikantor. Semua karyawan menyambutnya dengan ucapan selamat karna pernikahanya.

Mereka memberikan senyuman manis yang seakan-akan membuat azka merasa jijik.

Menurut Azka pernikahanya adalah sebuah musibah untuknya. Bagaimana tidak,

gara-gara pernikahan konyol itu ia harus berpisah dengan kekasihnya. Dan dia harus menikahi perempuan kampung yang sama sekali tidak dia kenal, bahkan bisa jadi orang itu mulai dia benci.

Namun dia harus tetap berekting bahagia didepan semuanya, kalau tidak semua rencananya akan berantakan.

Azka memasuki ruang kerjanya. Ruang kerja bagi pemimpin(Ceo) perusahan terbesar dinegara ini. Azka sudah begitu sempurna dilihat dari semua aspek. Wajah yang tampan dengan tubuh yang proposional, pemimpin dari perusahaan terkenal, kecerdasan dan terlahir dikeluarga yang terpandang. Itu semua sudah membuat kaum wanita jatuh pingsan berhayal bersanding denganya, begitu juga kaum lelaki yang begitu iri akan kesempurnaannya.

Namun dilihat sesempurna apapun manusia itu pasti memiliki kekurangan. Dan Azka memiliki sebuah kekurangan yang tidak dapat dilihat oleh semua orang, hanya dirinyalah yang mengetahui kekurangan itu.

"tok...tok...tok..." suara ketukan pintu.

" masuk" Azka mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk.

"wah...wah... Apa ini... baru kemarin nikah sekarang udah masuk kerja aja. seharusnya pengantin baru itu dirumah. manja-manja sama istri. yah..ini malah manja-manja sama leptop. dasar orang gak normal." sambil tertawa meledek.

"Apaan si lo. pagi-pagi udah bikin ribut. mau ngapain lo kesini.??" tanya Azka yang sedikit jengkel.

"wih.. udah nikah gak tambah baik malah tambah galak aja lo. gwe kesini mau kasih tau kalau hendra udah balik dari amerika, ntar malem kita kumpul ditempat biasa buat ngrayain kepulanganya. lo harus dateng dan boleh juga tu ajak istri lo kenalin kekita-kita." tersenyum licik.

"Brengsek lo, udah tau dipaksa nikah masih aja lo ngledek gwe. minta dihajar lo ha." Azka mengacungkan tinju.

"Ampun...tuan ampun. saya hanya sedikit tertarik dengan istri tuan. bolehkah saya menjadi suami keduanya?? hahaha" tertawa puas.

"Haist... dasar lo beneran cari mati ya" berdiri menghampiri.

"Lo pokoknya harus dateng sekalian bawa istri lo jangang lupa ntar malem jam 8. Gwe cabut dulu, takut kelamaan disini bisa-bisa digigit macam rabies gwe. daa..sampai jumpa ntar malem." melarikan diri.

"Dasar rubah licik" ucap Azka dengan tersenyum.

"Mana mungkin gwe ngajak dia, bisa-bisa jadi bahan ledekan gwe sama mereka. mendingan gak usah deh." gumamnya dalam hati.

Azka pun kembali terfokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda.

Hari semakin sore, pekerjaan juga udah selesai, sekarang waktunya pulang. Azka tak punya niatan pulang kerumah karna disana ada seseorang yang sangat tidak ingin dia lihat. Dia putuskan untuk pergi kecafe milik Rere.

Sampai ditujuan Azka menanyakan Keberadaan Rere kesalah satu karyawan.

Selang beberapa menit Rere sudah datang

menghampiri Azka.

"Udah lama nunggunya?" tanya Rere yang

duduk didepan Azka.

"gak juga, baru beberapa menit." jawab Azka.

"oke. apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?" Rere kembali bertanya.

"Gak ada, cuma lagi pengen ketemu kamu aja" mencoba memegang tangan Rere diatas meja.

"apaan si kamu, kita kan baru ketemu kemarin dipesta pernikahanmu. apa kamu lupa??" dengan tersipu malu

"Apa gak boleh kalau aku ketemu kamu sekarang."

"Ya bukannya begitu, aku cuma sedikit merasa agak gak enak dengan istrimu. dia sepertinya istri yang begitu baik." jelas Rere.

"Mau baik atau buruk aku gak perduli, yang pengen aku perduliin cuma kamu. waktu ditaman juga kamu menciumku jadi sudah cukup buatku tau kalau kamu juga perduli denganku dan masih mencintaiku." ucap Azka dengan penuh penegasan.

"iya aku mengerti." sedikit tersenyum.

"Oh ya malam ini ada perayaan kepulangan Hendra kamu mau temenin aku kesanakan?" menatap kedua mata Rere.

"Apakah tidak apa-apa kalau aku menemanimu kesana??" sedikit terlihat raut wajah kekwatiran

"Tentu saja tidak apa-apa memangnya apa yang kamu takutkan.??"

"Kamu dan Hendra."

"Semua itu sudah menjadi masa lalu Re, dia pun sudah lama diamerika. pasti dia sudah melupakan semuanya. kamu tenang saja ya."mengelus dengan lembut tangan Rere.

" Em... Okey aku temenin kamu. tapi ada satu syarat..?"

"apa syaratnya??" ucap Azka dengan menaikkan satu alisnya.

"Kamu harus temenin aku beli baju biar aku gak malu-maluin kamu waktu disana, gimana?"

"Okey deal..."

Mereka berdua melangkah pergi meninggalkan cafe. Dengan senyum yang terukir diwajah mereka. Terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Berdua bergandeng tangan tanpa memikirkan Zahra yang sedang menunggu kepulangan sang suami dengan harapan suaminya bisa makan malam bersama dengan dirinya.

Azka Bramansta

Zahra Asfiya

Rere Ayunda

Episode 3 Perayaan Penyambutan

Alunan musik seakan menyambut orang yang baru saja datang.

Hiasan dekorasi yang begitu menarik untuk dipandang, berikan nuansa kehangatan yang terasa nyaman untuk berbincang dengan santai. Suguhan hidangan mewah tampil cantik diatas meja. Semua yang datang terlihat menawan dengan tampilan berkelas mereka.

Apalagi untuk 4 pemuda tampan pewaris dari keluarga-keluarga terkaya yang begitu terpandang.

Mereka seakan memiliki daya tarik magnet yang begitu kuat. Membuat semua hati begitu mudahnya terpikat.

Tak bosan rasanya mata berlama-lama menatap mereka. Yang memiliki julukan The Leader. Tapi satu anggota dari mereka kelihatanya masih belum datang.

The Leader terasa tak sempurna tanpa sosok kehadirannya.

"Kemana dia, kenapa belum datang juga?" keluh Leo anggota The Leader yang paling gak sabaran.

"Mungkin dia lagi main-main sama istri barunya, hahaha." jawab Alex anggota The Leader yang paling suka bercanda.

"Bukankah itu dia?" Ucap Hendra anggota The Leader yang terkenal paling baik hati sambil menunjuk seseorang yang baru saja masuk dari pintu.

"Tapi dengan siapa dia?sepertinya bukan istrinya". Leo yang menatap kearah kedua temanya.

" Dia datang bersama Rere." jawab Hendra menatap seorang gadis yang bersama Azka.

" Sepertinya akan menjadi hal menarik kali ini." Alex tersenyum licik.

"Sorry gwe telat" ucap Azka yang baru saja datang.

"Is okey, Tapi sepertinya lo membawa tamu yang cukup menarik hari ini.?" Alex dengan pandangannya yang menyelidik.

"Oh kebetulan istri gwe gak bisa dateng jadi gwe ajak Rere buat nemenin gwe."

"Kalian gak keberatan kan, aku juga ikut datang?" tanya Rere yang sedikit canggung.

"Tentu, kita malah senang kamu disini. Anggap saja kita sedang bernostalgia. Bukan begitu kawan?" Balas Alex.

"Bener banget Lex, lagian udah lumayan lama juga kita gak ketemu." Ujar Leo.

"Em... sudah lama tak bertemu, kamu semakin cantik aja Re." goda Alex.

"Benarkah...? sepertinya aku harus

berterima kasih untuk itu." ucap Rere

"Ha..ha..ha... sepertinya ucapan

terima kasihmu tidak cukup. Bagaimana kalau kamu menikah saja denganku.?" tersenyum jail.

"Boleh juga, Tapi sepertinya kamu harus lebih berusaha lagi."

"Bukanya Azka sudah menikah. Jadi apakah masih ada seseorang lagi yang kamu harapkan?" Tanya Alex dengan pandangan menyelidik

"Apa kamu sudah beralih pekerjaan menjadi reporter sekarang Alex? begitu banyak pertanyaan yang kamu ajukan, sungguh merepotkan." Azka yang memotong perbincangan.

" Ha...ha..ha aku hanya bercanda, jangan terlalu serius." ucap Alex.

"Sepertinya begitu sibuk lo Hen di Amerika, sampai gak sempet kumpul-kumpul sama kita.?" tanya Azka

"Oh itu, gara-gara bisnis disana ada sedikit masalah, jadi gwe gak sempet ketemu sama kalian. Tapi tenang aja, sekarang gwe bakal tebus itu semua." jelas Hendra.

"Ha..ha..ha, akhir-akhir ini kita semua juga sibuk dengan urusan masing-masing jadi jarang ada waktu, jadi malam ini kita harus bersenang-senang okey." tegas Leo.

"Bersulang" semuanya mengangkat gelas masing-masing. Bersenang-senang sampai mabuk. Hanya Rere dan Hendra yang masih memiliki sedikit kesadaran.

"Aku mau kebelakang sebentar." izin Rere, berjalan meninggalkan mereka.

Setelah beberapa menit Rere keluar dari toilet, ia dikejutkan dengan keberadaan Hendra yang ada didepannya.

"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Hendra

"Seperti yang kamu lihat sekarang, aku begitu sangat baik."

"Azka sudah menikah, sekarang apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku rasa itu gak ada hubunganya denganmu. Kalau tidak ada yang lain, aku balik dulu." ucap Rere yang sedikit tak senang.

Sesaat Rere sudah kembali, semua temannya telah mabuk berat. Tak memungkinkan lagi harapan Rere untuk diantar Azka pulang saat ini. Begitu pula sebaliknya Rere yang tak bisa mengantarkan Azka pulang. Akhirnya Hendra yang mengantar Rere pulang.

Sementara itu Zahra yang berada dirumah begitu mengkwatirkan suaminya yang belum pulang-pulang.

"Dimana mas Azka? Sudah selarut ini kenapa belum pulang-pulang. Semoga tidak terjadi sesuatu kepadanya." kecemasan dalam hati Zahra.

Ting tong....ting tong... Suara bel rumah berbunyi. "Mungkin itu mas Azka." zahra bergegas pergi membukakan pintu.

"Krett" suara pintu terbukak.

"Astagfirulahhaladim, Maz Azka? Apa yang terjadi padamu mas.?" raut wajah Zahra yang masih terkejut.

"Pak Azka tadi kebanyakan minum, jadi saya disuruh untuk mengantarkannya sampai rumah." ucap seseorang setengah baya yang telah mengantar Azka.

"Terima kasih banyak ya pak, sudah mengantarkan suami saya dan saya minta maaf sudah merepotkan bpk". Balas Zahra.

"Tidak apa-apa buk, sudah jadi tugas saya. Kalau begitu saya pamit pulang dulu."

"iya, sekali lagi terima kasih pak."

"Sama-sama buk".

Zahra berjalan masuk sambil memapah Azka yang sedang mabuk. Selama dipapah Azka slalu berbicara nglantur.

"G..we.. gak mau pulang. Gwe ma...sih pingin minum. Hay.... kemana kalian se..mua.." ocehan Azka yang tak jelas.

"Harusnya mas gak minum." ucap Zahra yang masih memapah Azka.

"Gi...mana.. gwe... gak minum, udah ter..lalu ba...nyak beban kebe...cian yang gwe...tanggung. Capek...gwe..." Azka yang masih bisa menjawab.

"Tapi kan gak harus minum kan mas."

"Tum...ben ba..nget kamu cerewet si Re. Kamu... mau... aku hukum ya...ha..." Azka tersenyum aneh.

"Re.... kenapa mas Azka memanggil Re.. mungkinkah itu mbak Rere. Apa hubungan mereka sebenarnya." pertanyaan dalam hati Zahra.

"Nah.... akhirnya kamu... bisa diem juga. Kalau ...gitu... aku akan mem..beri..kan hadiah... untukmu..." tangan kanan Azka meraih wajah Zahra yang begitu dekat dengannya.

"Cup" sebuah ciuman Azka mendarat dibibir Zahra.

"Aku...men..cintaimu..Rere." suara Azka yang terdengar lirih.

"Kenapa dadaku terasa sesak mendengar Mas Azka memnyebut nama mbak Rere. Mengapa harus menganggapku adalah dia. mengapa....??" batin Zahra. Dengan tanpa sadar buliran bening berjatuhan membasahi pipi merahnya.

Zahra merebahkan tubuh Mas Azka ditempat tidur tamu. Dia takut mas Azka marah kalau dibawa kekamar utama. Jadi hanya pilihan itu yang bisa ia pilih. Melepaskan sepatu dan jas Azka. Menyelimutinya dengan hangat. Kemudian ia berlalu pergi. Zahra kembali kekamarnya dengan membawa sebuah kenyataan yang menyakitkan. Kenyataan bahwa suaminya mencintai orang lain.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!