Di tengah hutan belantara yang luas, yang tak berujung hingga mata memandang, tiba-tiba muncul sebuah portal dimensi berwarna emas kemerahan, menyala terang di langit yang gelap oleh sinar bulan purnama. Seperti sebuah fenomena yang tak terduga, portal itu muncul begitu saja, tanpa ada yang bisa menjelaskan dari mana asalnya. Dari dalam portal tersebut, terjatuh sebuah sosok yang menyerupai manusia, namun jelas bukan makhluk biasa—seorang iblis.
Duaaaaaaaak.
Tubuh iblis itu menabrak ranting-ranting pohon besar dengan keras, lalu terjerembab ke tanah, jatuh menghantam batu besar di tengah rawa yang berlumpur. Badannya bergeliat kesakitan, terbenam dalam lumpur yang kental dan berbau busuk. Rasa sakit dan bau menyengat itu hanya menambah amarahnya. Ia mengumpat, suara geram penuh kebencian keluar dari bibirnya, seakan dunia ini adalah tempat yang penuh ketidakadilan baginya.
"Sialan kau, tua bangka!" teriaknya dengan suara serak penuh kekesalan, seakan memendam semua kemarahan yang sudah menumpuk. "Aku pastikan kau akan membayar semua ini!" Suaranya dipenuhi ancaman yang penuh dendam, seolah setiap kata adalah sumpah yang takkan pernah terlupakan.
"Sungguh tak kusangka... tua bangka itu ternyata lebih kuat dari yang aku kira," lanjutnya dengan nada masih penuh kebencian, kembali terbenam dalam pikirannya. "Aku telah meremehkan dia hanya karena dia terlihat seperti makhluk tak berarti, ah... sialan!" Kata-katanya penuh penyesalan, namun juga rasa kebencian yang semakin membara. Setiap bayangan tentang musuh yang baru saja ia hadapi semakin menguatkan tekadnya untuk membalas dendam.
Tepatnya 100 ribu tahun yang lalu, bangsa iblis dengan keberanian yang tak terukur mendeklarasikan perang besar dengan Istana Langit. Di bawah pimpinan Raja Iblis Zhask Agung, bangsa iblis tak hanya berambisi menguasai tiga alam, namun juga mengincar tahta tertinggi sebagai penguasa mutlak, yang tak seorang pun bisa menandingi.
Raja Iblis Zhask Agung bukan sosok yang mudah untuk dilawan. Ia adalah iblis yang mengerikan dan sangat kuat, tak tertandingi oleh siapapun. Jika ada yang berani menolak perintahnya, kematian lah yang menanti, tanpa ampun.
Kisah lalu membawa kita pada pertempuran yang mengguncang tiga alam. 100 ribu tahun lalu, perang besar antara bangsa iblis melawan bangsa langit terjadi dengan kekuatan yang dahsyat. Perang itu berlangsung di alam langit, tempat yang menjadi lambang kedamaian, namun kini tercabik oleh pertempuran. Istana Langit yang megah berguncang hebat, hingga akhirnya hancur berantakan, runtuh akibat gempuran yang tak terhentikan.
Raja Iblis Zhask Agung, dengan 100 juta pasukan iblisnya yang ganas, memimpin penyerangan. Mereka menerobos gerbang dimensi alam dengan kekuatan yang mengerikan, dan bentrokan antara pasukan langit dan iblis pun tak bisa dihindari. Gerbang-gerbang hitam membelah langit, dan langit bangsa dewa dipenuhi dengan kilatan peperangan yang mengerikan.
Tujuan utama Raja Iblis adalah untuk merebut kursi singgasana Kaisar Langit, pemimpin tertinggi dari tiga alam: dunia, neraka, dan langit. Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya membuatnya begitu ingin menguasai tahta itu, tetapi ambisinya yang tak terpuaskan menuntut pengorbanan dan darah.
Namun, perjuangan Raja Iblis tidak berjalan mulus seperti yang telah direncanakan. Meskipun ia memiliki pasukan yang sangat besar, ia menghadapi kenyataan pahit bahwa pasukan Langit memiliki jumlah personel yang lebih banyak, sekitar 150 juta prajurit.
Selain itu, ada satu kekuatan yang bahkan lebih mengerikan daripada jumlah pasukan itu: tujuh Jenderal Langit Agung. Mereka dikenal sebagai sosok yang tak tertandingi, memiliki kekuatan luar biasa yang membuat mereka disebut sebagai "Tujuh Penjaga Keadilan". Setiap dari mereka diberikan gelar sebagai jenderal tertinggi langsung oleh Kaisar Langit, dan setiap jenderal memimpin 20 juta prajurit, menjadikan mereka kekuatan yang tak bisa dianggap remeh.
Namun, Raja Iblis tidak pernah dikenal sebagai sosok yang mundur hanya karena kalah dalam jumlah pasukan. Dengan 100 juta prajuritnya dan dibantu oleh 10 Eksekutif Jenderal terkuat, ia berhasil menembus pertahanan terkuat yang dimiliki bangsa langit, yaitu Benteng Kekaisaran Great Adam.
Benteng itu bukan sekadar benteng biasa. Great Adam adalah benteng legendaris yang kokoh dan tak terkalahkan, bahkan di antara kekuatan paling dahsyat sekalipun. Konon, benteng itu tercipta dari suara semesta itu sendiri dan telah berdiri kokoh sejak jutaan tahun yang lalu, menjadi simbol keadilan sejati bagi bangsa langit.
Terletak di Benua 6 Alam Langit, benteng itu adalah garis pertahanan terakhir yang melindungi Istana Langit. Sebelumnya, bangsa Iblis telah menaklukkan lima benua pertama, dan kini Benua 6, tempat Benteng Great Adam berada, telah runtuh dan hancur, meninggalkan hanya Benua 7 yang tersisa sebelum Istana Langit jatuh ke tangan mereka.
Keberhasilan pasukan Iblis menembus benteng tersebut merupakan bencana besar bagi bangsa Langit. Great Adam bukan sekadar benteng, melainkan monumen suci yang tak ternilai bagi mereka. Itu adalah lambang kehormatan dan keadilan yang mereka pegang teguh selama ribuan tahun. Jebolnya benteng itu membuat rasa aman mereka hancur, dan kekuatan Langit mulai goyah.
Setelah Benteng Great Adam berhasil ditembus, pertarungan yang lebih dahsyat dan menentukan segera dimulai. Benua 7 kini menjadi ladang pertumpahan darah yang tak terhindarkan. Kedua pasukan, yang memiliki tujuan dan cita-cita yang bertolak belakang, berjuang mati-matian untuk kemenangan mereka masing-masing, dengan harga diri sebagai taruhannya.
"Seraaaaaaaaang!"
"Hancurkan prajurit langit sampai tak tersisa!"
"Kita tunjukkan pada mereka siapa itu yang mulia raja iblis Zhask agung!"
Semua wakil jendral iblis memerintahkan prajurit menyerbu dan menghancurkan pasukan langit sampai tidak tersisa, menebar teror malapetaka penuh kengerian dimana-mana.
Jauh sebelumnya tidak ada yang pernah menduga bahwa bangsa iblis akan melakukan pemberontakan sebesar ini, namun kini mereka secara terang-terangan mendeklarasikan perang pada bangsa langit atau lebih tepatnya kekaisaran surgawi.
"Jangan merasa hebat kalian bangsa iblis rendahan."
"Tunduk lah di bawah aturan langit!"
"Kami tidak takut sama sekali dengan bangsa iblis seperti kalian!"
Para wakil jendral langit agung tak tinggal diam membalas gempuran bangsa iblis, mereka juga memerintahkan para pasukan langit untuk melawan balik dan menunjukkan pada bangsa iblis bahwa bangsa iblis akan membayar semua ini.
Raja iblis Zhask agung merupakan raja iblis generasi pertama yang memiliki kemampuan hebat tak kenal ampun pada musuh-musuhnya sekalipun harus mengorbankan semua hanya untuk meraih ambisi gila nya tersebut.
Pasukan iblis bertarung brutal dan tak terkendali menghancurkan semuanya, garda depan pasukan langit sampai di buat kerepotan dan terpaksa harus mundur perlahan demi perlahan memasuki benteng pertempuran..
"Kita mundur dan pancing mereka mendekati benteng pertahanan!"
"Jangan ada yang terlambat cepat mundur!"
Setelah semua pasukan langit sudah mundur memasuki benteng pertahanan, ribuan panah dari dalam benteng melesat dengan cepat langsung menghujani pasukan iblis secara bertubi-tubi penuh kebrutalan.
Jeritan kematian dan kesakitan bangsa iblis benar-benat terdengar begitu memekik telinga, mereka telah terjebak dan masuk dalam rencana pasukan langit, andai mereka tidak mengejar pasukan langit sampai mendekati benteng pertahanan mungkin hal itu tidak terjadi.
Pasukan Iblis yang tadinya memberikan tekanan demi tekanan kini di paksa mundur kembali oleh panah-panah api dan batu yang di luncurkan pasukan langit dari atas benteng pertahanan.
"Jangan biarkan mereka lolos! Kalian adalah bangsa perusak!"
"Tak ada ampun bagi pemberontakan Kekaisaran seperti kalian!" Teriakan itu dipenuhi amarah, rasa balas dendam yang membara, pasukan langit memanfaatkan setiap detik dalam serangan mereka.
Pasukan iblis yang terjebak dalam gempuran itu berlarian tanpa arah, tubuh mereka berhamburan ke sana kemari mencari perlindungan. Di atas langit yang semakin gelap, muncul sosok menakutkan. Salah satu dari sepuluh eksekutif jenderal iblis, sosok yang bisa mengubah jalannya perang dengan kekuatannya yang luar biasa.
Dengan kecepatan tingkat tinggi, ia terbang ke arah pasukan pemanah langit, membakar mereka semua tanpa ampun. Api yang membakar begitu besar, seakan-akan langit ingin menelan mereka hidup-hidup.
Suara kematian terdengar mengerikan, memenuhi medan perang. "Eksekutif jenderal iblis muncul! Cepat berlindung!"
"Hubungi tujuh jenderal langit agung! Ini masalah serius, kita bukan tandingannya!"
Kepanikan mulai melanda pasukan langit. Keberanian mereka mulai tergoyahkan oleh kemunculan ancaman besar ini. Kobaran api besar itu menghantam benteng pertahanan pasukan langit.
Langit yang tadinya cerah kini menjadi gelap dengan asap yang menghalangi pandangan. Situasi semakin tegang, dan ketegangan semakin memuncak. Para prajurit langit mulai merasa kengerian yang nyata, mengetahui bahwa mereka hanya memiliki sedikit waktu sebelum api itu melahap mereka hidup-hidup.
Akibat serangan besar itu, pasukan iblis yang mundur kembali bangkit, memberikan tekanan hebat pada garda depan pasukan langit yang kini terjepit di antara dua ancaman besar. Pertempuran ini belum berakhir, dan nasib mereka masih sangat terombang-ambing di tangan takdir yang tak bisa diprediksi.
"Serang kembali mereka!"
Suara perintah dari wakil eksekutif jenderal iblis menggema seperti guruh yang memecah angkasa, memacu semangat pasukan iblis yang sempat terpuruk. Gelombang pasukan kegelapan itu kembali bangkit, menyerbu tanpa ampun seperti ombak badai yang menghantam karang.
Pasukan langit berjuang mati-matian, menggenggam sisa harapan dalam pertahanan yang mulai runtuh. Setiap tebasan pedang dan benturan tameng terdengar seperti simfoni perang, penuh dentuman dan jeritan.
"Jika kita terus bertahan seperti ini, kita akan kalah!" Teriak salah satu wakil jenderal langit agung, napasnya terengah-engah di tengah kekacauan.
"Apa bala bantuan sudah datang?!"
"Belum! Mungkin sebentar lagi!" seru seorang prajurit sambil menangkis serangan yang hampir merobek tubuhnya.
Wajah wakil jenderal itu mengeras, kerut di dahinya menggambarkan tekanan yang tak terkira. "Ah, sial! Ini semakin buruk!" Ia menggeram, darah membasahi lengan armornya.
Dan kemudian, harapan muncul. Di cakrawala, formasi besar pasukan langit tampak mendekat seperti gelombang cahaya yang menghapus bayangan gelap. Suara terompet perang memecah udara, mengisi hati para prajurit langit dengan semangat baru.
Bala bantuan akhirnya tiba, ribuan pasukan bersenjata lengkap berbaris rapi, membawa kemarahan surgawi ke medan pertempuran. Begitu mereka bergabung, pertempuran kembali memanas, menjadi duel hidup-mati yang melibatkan kekuatan dari dua dunia. Jual beli serangan terjadi tanpa henti, setiap benturan membawa percikan api dan bau darah.
Pertempuran kemudian terpecah menjadi empat wilayah yang berbeda. Kehadiran para jenderal langit agung mengubah jalannya perang. Mereka turun langsung ke medan laga, aura mereka begitu luar biasa hingga membuat tanah bergetar dan pasukan iblis mundur ketakutan.
"Apa yang harus kita lakukan? Para jenderal langit agung terlalu kuat!" Komandan iblis yang biasanya penuh percaya diri kini terlihat kehilangan arah, wajahnya memucat saat melihat pasukan mereka di pukul mundur kembali tanpa ampun.
"Tenang! Yang Mulia Zhask pasti punya rencana. Percayalah, kekuatan kami tidak akan kalah dari langit!" sahut komandan lainnya, meski suaranya bergetar mencoba menyembunyikan rasa takut.
"Jangan gentar! Kita bertarung untuk Yang Mulia Zhask Agung!" teriak seorang komandan iblis, suaranya menggema, membakar kembali semangat para prajurit kegelapan yang tersisa.
Namun, tiba-tiba, dari tempat yang tak terduga, terdengar suara mendesing yang memekakkan telinga. Langit menjadi gelap seketika, diikuti oleh ledakan dahsyat yang mengguncang alam langit.
Blaaaaaaaaar!
Blaaaaaaaaar!
Blaaaaaaaaar!
Ledakan itu seperti akhir dari segalanya. Rentetan tembakan nuklir menghancurkan hampir satu juta pasukan langit dalam hitungan detik. Tubuh-tubuh mereka hancur tanpa sempat mengeluarkan jeritan terakhir. Ledakan itu menciptakan gelombang kejut yang membuat tanah bergetar hebat.
Di bagian utara medan perang, terbentuk lubang besar sedalam ribuan meter, dikelilingi asap tebal berbau sangit yang membuat prajurit yang tersisa tersentak mundur dengan tubuh gemetar.
"Apa yang baru saja terjadi?!" teriak salah seorang wakil jenderal langit agung, tatapannya terpaku pada kehancuran yang baru saja terjadi.
Pasukan langit mulai berhamburan, kekacauan melanda di seluruh penjuru medan perang. Tidak ada yang bisa memprediksi langkah gilanya bangsa iblis. Kini, perang ini bukan sekadar pertarungan antara kekuatan, tetapi tentang siapa yang mampu bertahan menghadapi malapetaka yang semakin tak terkendali.
“Apakah aku terlambat?” Sebuah suara dingin memecah hiruk pikuk pertempuran. Dari balik kepulan asap dan api, muncul sesosok pria dengan rambut putih seperti salju. Ia mengenakan zirah tempur hitam yang memancarkan aura kegelapan. Setiap langkahnya membawa getaran, membuat tanah di sekitarnya retak. “Berani-beraninya kau bertingkah sesuka hatimu, dasar tidak berguna. Atau... aku harus memanggilmu Ares si bodoh?” ucapnya dengan nada mengejek.
Wajah Ares mengeras. Ia tahu siapa yang kini berdiri di hadapannya. "Lucifer..." desisnya, suara penuh kebencian.
"Iblis sepertimu memang harus segera dilenyapkan!"
Mendengar itu, Lucifer tertawa. Tawa rendah yang dipenuhi kesombongan. "Kau tidak pantas berhadapan denganku, Ares," ucapnya sambil melipat tangan. “Apa kau lupa? Aku adalah Entitas. Cepat panggil Gabriel atau Mikael jika kalian serius ingin menghadapi aku.”
Tekanan aura kutukan yang dilepaskan Lucifer begitu kuat hingga para prajurit langit di wilayah utara merinding ketakutan. Keringat mengalir deras di dahi mereka, tangan gemetar, sementara mata mereka berusaha menghindari tatapan iblis di depan mereka. Namun, keberadaan Ares sebagai salah satu jenderal langit agung masih memberikan mereka secercah keberanian.
Ares menggenggam pedangnya erat. "Aku tidak peduli kau Entitas atau bukan! Bagiku, kau hanyalah iblis rendahan!" bentaknya, nadanya menggelegar di udara.
Lucifer tersenyum dingin, tatapan matanya berubah tajam seperti pisau. "Jaga ucapanmu, anak kecil. Di hadapanku, kau tak lebih dari bocah ingusan. Sungguh sangat tidak pantas untuk berdiri melawan aku."
"Aku adalah jenderal langit agung! Kau pikir siapa dirimu bisa meremehkanku?!" balas Ares, kini auranya membara. Angin kencang berputar mengelilinginya, membawa kilatan cahaya yang menyilaukan.
Benturan aura keduanya menciptakan badai besar. Angin menerpa dengan keras, mengguncang tanah, membuat pasukan langit dan iblis di sekitar mereka terdiam dalam ketakutan. Mata mereka terpaku pada dua sosok itu, seolah seluruh medan perang hanya milik Ares dan Lucifer.
"Ha-ha-ha! Mengejutkan..." Lucifer terkekeh kecil. "Seorang bocah berani menantangku? Jangan bercanda!" Dengan tawa yang sinis, tubuhnya mulai memancarkan kilatan energi gelap. “Baiklah, anak kecil. Aku akan bermain denganmu.”
Lucifer masuk ke mode tempur tingkat satunya. Kegelapan menyelimuti tubuhnya, memancarkan aura kutukan yang membuat tanah di bawahnya retak lebih dalam. Prajurit langit yang lebih lemah jatuh bergelimpangan, tak mampu menahan tekanan yang begitu dahsyat.
"Kau terlalu sombong, Ares. Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir, panggil Gabriel atau Mikael. Jika tidak, aku akan menghabisimu di depan pasukanmu sendiri."
Namun, Ares tidak mundur. Ia menghunus pedangnya, cahaya kuning terang menyelimuti bilahnya, membuat kegelapan di sekitar mereka tersingkir sesaat. "Iblis rendahan sepertimu tidak layak menghadapi mereka. Aku sendiri cukup untuk membinasakanmu!"
Pasukan langit menatap dengan campuran ketakutan dan kekaguman, sementara pasukan iblis tampak tersenyum penuh harapan pada kemenangan yang hampir di tangan mereka. Lucifer menyeringai.
"Jika itu pilihanmu, Ares... Maka bersiaplah mati."
__________________
Nama : Lucifer.
Status : Bangsa iblis/salah satu dari 10 eksekutif jendral iblis (Entitas).
Ultimate : - (belum di sebutkan).
__________________
__________________
Nama : Ares.
Status : Bangsa dewa/salah satu dari 7 jendral langit agung.
Ultimate : - (belum di sebutkan)
__________________
Berpindah ke wilayah pertempuran bagian selatan, masih di benua tujuh alam langit. Di sini, pasukan langit terpojok, perlahan tetapi pasti dipukul mundur hingga akhirnya tak berdaya. Bagaimana tidak? Tiga eksekutif jenderal iblis berada di tempat itu, menebar teror yang begitu mencekam. Suasana di medan pertempuran berubah menjadi mimpi buruk yang tak terbayangkan oleh siapa pun.
“Ini di luar kemampuan kita! Bagaimana ini?” seru seorang prajurit dengan suara gemetar, matanya menyapu medan pertempuran yang penuh kekacauan.
“Tiga eksekutif jenderal iblis ada di sini... Kita semua pasti akan mati! Cepat panggil bala bantuan secepatnya!” tegas komandan dengan suara yang berusaha terdengar tenang, meski kegelisahan tampak jelas di wajahnya. Perintah itu segera dijalankan oleh prajurit bagian informasi yang berlari dengan napas tersengal.
“Kami sudah mengirimkan permintaan bala bantuan! Kemungkinan sebentar lagi mereka akan datang! Kita hanya perlu bertahan sedikit lebih lama!” jawab prajurit informasi dengan penuh harapan, meskipun hatinya dipenuhi keraguan.
Namun, ketakutan itu tidak bisa disembunyikan. Trauma mendalam tercermin dari raut wajah pasukan langit. Tiga eksekutif jenderal iblis tidak memberikan ampun sedikit pun, menyerang tanpa henti dengan kekuatan yang tampaknya tak terbatas.
Guncangan demi guncangan terus menerpa wilayah selatan. Tanah retak, pohon-pohon tumbang, dan langit menjadi gelap oleh asap pertempuran. Teriakan kesakitan menggema, melukiskan pemandangan neraka di dunia fana. Formasi pertempuran pasukan langit hancur berantakan. Dalam satu serangan, mereka kehilangan dua puluh wakil jenderal langit agung, sebuah pukulan telak yang membuat semangat prajurit runtuh.
“Matilah kalian! Kha-ha-ha! Dasar tidak berguna!” tawa Belhegar bergema, penuh dengan kesenangan sadis. Sosoknya berdiri di tengah reruntuhan, menikmati penderitaan yang ia ciptakan.
“Kalian semua harus tunduk di hadapan yang mulia Zhask Agung!” lanjut Satan dengan nada lembut tetapi dingin. Ia duduk di atas ribuan mayat pasukan langit, matanya memancarkan kekejaman tanpa batas.
Tidak ada harapan yang tersisa di medan pertempuran selatan. Pasukan iblis telah mendominasi, menguasai setiap sudut wilayah. Keberadaan tiga eksekutif jenderal iblis benar-benar mengubah jalannya pertempuran menjadi mimpi buruk tanpa akhir.
“Kalian akan binasa! Keadilan tidak pernah kalah!” ucap seorang prajurit langit dengan suara tertatih, darah mengalir dari luka-lukanya. Ia berdiri dengan sisa-sisa keberanian, meski tahu ajal sudah di depan mata.
“Keadilan? Aku ingin tahu siapa yang kau maksud dengan keadilan itu. Ha-ha-ha! Matilah, bodoh!” Balasan penuh kesombongan itu diakhiri dengan tebasan brutal. Kepala prajurit langit jatuh ke tanah, membawa serta harapan yang semakin menipis.
Namun, di tengah keputusasaan itu, sesuatu terjadi. Sebuah tekanan energi luar biasa kuat tiba-tiba terasa, menggetarkan seluruh medan pertempuran. Bahkan para iblis merasakan bulu kuduk mereka merinding. Aura itu semakin mendekat, membawa ancaman yang tidak bisa diabaikan.
“Ada yang datang! Tekanan besar ini... pasti dia!” seru Satan, memperingatkan dua rekannya yang masih asyik menyiksa para prajurit langit yang tersisa.
Seketika, cahaya terang menyilaukan memenuhi hamparan medan pertempuran di bagian selatan. Cahaya itu begitu suci, membawa harapan baru bagi pasukan langit. Tidak salah lagi, bala bantuan telah tiba. Kini, waktu bagi pasukan langit untuk membalikkan keadaan sudah datang.
Satan segera memberitahu dua rekannya sesama eksekutif jenderal iblis yang masih asyik menyiksa dan mempermainkan prajurit langit yang sudah tak berdaya.
“Tekanan besar ini... pasti dia!” serunya dengan nada panik.
Seketika, cahaya terang keadilan kembali menyilaukan seluruh hamparan pertempuran di wilayah bagian selatan. Tidak salah lagi, itu adalah bala bantuan dari pihak langit. Akhirnya, saatnya bagi pasukan langit untuk membalikkan keadaan.
“Kesenangan ini akan segera berakhir. Lihatlah siapa yang datang!” lanjut Satan, menatap sosok Mikael yang melesat terbang dengan kecepatan penuh menuju arah mereka bertiga.
“Sial... kenapa harus dia yang datang!” keluh Belhegar, raut wajahnya berubah tidak nyaman. Ia tahu, kehadiran Mikael akan sangat merepotkan.
Luapan energi tempur Mikael terasa begitu mengerikan, membuat mereka bertiga langsung memasang kewaspadaan penuh. Musuh yang datang kali ini jelas bukan lawan sembarangan. Jenderal Langit Agung Mikael, sang Keadilan Absolut, akhirnya memutuskan untuk bergerak.
“Aku merasakan energi iblis kutukan tingkat kuno di wilayah ini! Aku kira yang ada di tempat ini adalah Lucifer... ternyata dugaanku salah. Kalian bertiga tak lebih dari makhluk kotor!” Suara Mikael dingin, tatapannya penuh dengan kesombongan saat melirik mereka bertiga.
“Apa katamu? Kami bertiga adalah eksekutif jenderal iblis! Apa kau meremehkan kami, wahai Keadilan Absolut Mikael?” kesal Belhegar sambil menunjuk Mikael dengan marah.
Tanpa berkata banyak, Mikael mengeluarkan aura tekanan intimidasi yang begitu kuat ke arah Belhegar. Dalam sekejap, iblis itu terdiam, tubuhnya gemetar. Dalam hatinya, ia sadar bahwa Mikael bukanlah makhluk yang bisa diremehkan.
“Lama tak bertemu, Mikael! Senang berjumpa denganmu kembali,” sapa Satan dengan nada santai. Anehnya, ia tidak terpengaruh oleh efek skill intimidasi Mikael, yang saat itu sedang bekerja dengan sempurna pada Belhegar.
Skill unik Mikael memungkinkan dirinya untuk memanipulasi jiwa lawan yang memiliki rasa takut sekecil apa pun. Namun, skill ini tidak berfungsi jika lawan tidak memiliki rasa takut sama sekali terhadapnya.
“Sepertinya kau tidak terpengaruh oleh skill-ku? Menarik... Aku akui keberanianmu, iblis!” Mikael menatap Satan dengan sinis, penuh rasa meremehkan. Tidak butuh waktu lama, Mikael langsung masuk ke mode tempur.
Mikael adalah salah satu dari tujuh Jenderal Langit Agung serta penyandang gelar Keadilan Absolut. Gelar itu sendiri adalah julukan yang diberikan oleh Kaisar Langit kepada tiga Jenderal Langit Agung terkuat saat ini.
“Kalian sudah terlalu lama bersenang-senang di tempat ini! Tapi itu tidak akan lama lagi, karena aku sudah datang!” seru kembali Mikael dengan suara lantang. Enam sayap keadilan muncul dengan gemilang di punggungnya, menandakan bahwa ia benar-benar serius akan menghabisi mereka bertiga.
Semua penduduk langit memiliki sayap putih di punggung mereka sebagai ciri khas bangsa langit. Semakin banyak sayap yang mereka miliki, semakin hebat pula kekuatan yang mereka punya. Jumlah maksimal sayap adalah enam, tanda kekuatan yang luar biasa.
Di tengah keterpurukan dan hampir putus asanya prajurit langit wilayah selatan, kedatangan Jenderal Langit Agung Mikael membakar kembali semangat mereka. Kobaran api kemenangan menyala terang, seperti arti sejati keadilan yang tidak pernah padam.
“Jenderal Langit Agung Mikael telah datang! Kemenangan akan datang bersama perdamaian sejati!” seru para wakil jenderal langit agung serempak, disambut pekik semangat prajurit yang tersisa.
“Yeaaaaah!”
“Yeaaaaah!”
“Yeaaaaah!”
“Yeaaaaah!”
Sorak-sorai penuh harapan menggema di tengah puing-puing kehancuran. Semua mata kini tertuju pada sosok Mikael, sang pemimpin yang dianggap simbol dari harapan tak tergoyahkan.
Pertempuran sesungguhnya di wilayah selatan baru saja dimulai. bantuan personel langit juga tak lama kemudian muncul tanpa henti, menyusul Mikael dari belakang.
Sekitar kurang lebih 20 juta pasukan terus berdatangan, memadati medan perang yang kini bergetar oleh langkah kaki mereka serta kepakan sayap tanpa henti.
Mikael berdiri gagah di garis depan, enam sayap keadilan yang terpampang di punggungnya memancarkan aura kemegahan luar biasa. Sosoknya bak mercusuar di tengah lautan kehancuran, memimpin jutaan personel langit menuju pertempuran yang menentukan.
“Keadilan Absolut tidak pernah berbelas kasih... Sebentar lagi kalian akan binasa, wahai makhluk-makhluk kotor!” suara Mikael bergema tegas, memenuhi udara dengan keteguhan yang tidak tergoyahkan.
Beberapa prajurit iblis yang masih berada di barisan depan tampak saling pandang, raut wajah mereka perlahan berubah, campuran antara kebingungan dan ketakutan. Aura Mikael begitu besar hingga udara di sekitar mereka terasa berat, seperti menekan seluruh keberanian yang tersisa.
“Siapkan formasi! Kita tidak akan membiarkan mereka melangkah lebih jauh!” teriak Satan, mencoba menguasai situasi. Namun dalam hati, ia tahu, pertempuran ini tidak akan berjalan seperti sebelumnya.
Di bawah langit yang kini dipenuhi gemuruh pasukan, pertempuran antara keadilan dan kegelapan benar-benar akan mencapai klimaksnya. Setiap detik yang berlalu membawa mereka semakin dekat pada akhir yang tak terhindarkan.
_________________
Nama : Belhegar.
Status : Bangsa iblis/salah satu dari 10 Eksekutif raja iblis.
Skill : - ( belum di sebutkan)
_________________
_________________
Nama : Satan.
Status : Bangsa iblis/salah satu dari 10 Eksekutif raja iblis.
Skill : - ( belum di sebutkan)
_________________
Nama : Belial
Status : Bangsa iblis/salah satu dari 10 Eksekutif raja iblis.
Skill : - ( belum di sebutkan)
_________________
_________________
Nama : Mikael.
Status : Bangsa dewa/salah satu dari 7 jendral langit agung penyandang gelar keadilan Absolut (3 yang terkuat dari 7 jendral langit agung)
Skill : - ( belum di sebutkan).
_________________
Berpindah menyorot bagian wilayah pertempuran sebelah barat, kedua pasukan di tempat ini sama-sama seimbang satu sama lain, berbeda halnya dengan wilayah selatan sebelumnya. Namun, keseimbangan ini tidak berarti ketegangan mereda—sebaliknya, penuh kegelisahan yang menyayat hati.
Jual beli serangan begitu sangat intens, ledakan dan bunyi benturan senjata terdengar di mana-mana. Asap dan debu memenuhi udara, menyelimuti medan perang yang dipenuhi jeritan kesakitan dan pekikan penuh amarah. Setiap serangan yang diluncurkan membawa dampak besar, setiap benturan meninggalkan jejak kehancuran yang sulit dihapus. Ketegangan kedua pasukan tak dapat digambarkan dengan kata-kata.
Namun semuanya berubah drastis ketika salah satu eksekutif jendral iblis muncul. Dengan satu gerakan tangan, ia memanggil lima ribu monster Numbers besar yang langsung turun ke medan perang. Bayangan mereka yang masif menutupi matahari, memberikan aura suram yang menekan seluruh pasukan langit.
Numbers adalah raksasa setinggi 500 meter dari alam Neraka yang sudah berumur puluhan ribu tahun. Tubuh mereka dipenuhi simbol kutukan kuno yang memancarkan energi hitam pekat. Setiap langkah mereka mengguncang tanah, dan suara raungan mereka memekik bagai deru kematian. Dalam hitungan detik, Numbers menyerbu tanpa kendali, menghancurkan formasi pasukan langit dengan brutal.
"Hancurkan mereka, wahai teman-temanku!" seru Kaiju, Jenderal Langit Agung, dengan suara penuh kesenangan. Matanya berbinar seperti seorang maestro yang menikmati simfoni kehancuran.
Numbers bertarung dengan insting liar, tanpa rasa belas kasihan. Keunggulan badan besar mereka membuat setiap perlawanan tampak sia-sia. Pedang-pedang pasukan langit yang menghujani tubuh Numbers hanya meninggalkan luka dangkal yang dengan cepat sembuh, seolah waktu tunduk pada kehendak monster-monster itu.
"Monster keparat! Apa yang akan kita lakukan, Komandan?" teriak seorang prajurit langit, suaranya serak oleh ketakutan.
"Monster besar bodoh itu terus bergerak maju! Jika dibiarkan, formasi pasukan kita akan hancur berantakan!" balas yang lain, matanya penuh kekhawatiran.
"Sialan! Apa tidak ada cara untuk menghentikan amukannya?" seorang wakil jenderal menggertakkan giginya. Keringat dingin membasahi wajahnya.
Pasukan langit mencoba berbagai cara untuk menahan amukan Numbers, tetapi semua usaha mereka terasa seperti debu di tengah badai. Setiap serangan yang diluncurkan, meskipun tampak dahsyat, hanya berhasil menumbangkan segelintir Numbers, sementara ribuan lainnya terus melaju, tak terhentikan.
"Mundur! Perintahkan pasukan memperkuat formasi garda belakang!" seru komandan dengan suara bergetar, lebih sebagai upaya menyelamatkan nyawa daripada strategi.
"Apa-apaan monster bodoh ini... tidak ada habisnya! Sialan!" salah satu prajurit menahan amarah sekaligus keputusasaan yang meluap di dadanya.
Seorang wakil jenderal langit agung melompat dengan keberanian luar biasa, memotong tubuh salah satu Numbers paling besar hingga terbelah dua. Namun, sebelum ia sempat kembali ke posisinya, tubuh Numbers yang terluka langsung menyatu kembali. Monster itu berdiri seakan-akan tidak pernah terluka.
"Keparat! Bahkan tebasan terkuatku tidak berguna! Apa kita harus terus menggunakan serangan gabungan seperti tadi?" pikir sang wakil jenderal dengan getir. Matanya berkaca-kaca, menahan rasa frustasi yang semakin menyesakkan dada.
Di tengah kebingungan pasukan langit, situasi semakin buruk. Numbers semakin brutal, menyapu medan perang tanpa terkendali. Pasukan langit terlempar ke sana kemari, seperti daun kering di tengah badai.
Namun, tiba-tiba, ledakan besar menghantam para Numbers satu per satu. Gelombang energi dahsyat menghancurkan mereka hingga tak mampu beregenerasi. Suara jeritan kesakitan Numbers menggema, merobek keheningan yang sempat menyelimuti.
Slash!
Slash!
Slash!
Rentetan ledakan terus menghujani Numbers. Tebasan cahaya kuning keemasan turun dari langit seperti hujan meteor, langsung menghancurkan ribuan Numbers tanpa ampun. Setiap tebasan memancarkan aura yang begitu murni, membawa harapan yang selama ini nyaris padam.
"Apa itu?" seorang prajurit langit berseru dengan mata terbelalak.
"Bantuan! Itu bala bantuan dari pihak kita!" seru prajurit lainnya, suaranya penuh harapan.
Rentetan ledakan dan tebasan itu menghentikan amukan Numbers. Perlahan, pasukan langit kembali menemukan harapan. Mata mereka yang tadinya redup kini menyala dengan semangat baru.
“Berani-beraninya kau menyakiti teman-temanku... Aku pastikan kau akan membayar semua ini!” teriak Kaiju dengan suara penuh amarah, menatap sosok yang telah menghancurkan Numbersnya.
Di tengah langit yang mendung, muncul Julius, seorang Jenderal Langit Agung dengan enam sayap keadilan yang bersinar terang. Cahaya dari sayapnya seolah memotong kegelapan, mengisi setiap sudut medan perang dengan aura kemenangan.
“Kalian bangsa rendahan sangat lancang telah melakukan pemberontakan ini. Aku, Julius, sang Keadilan Absolut, tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya!” Suara Julius bergema lantang, membawa ketegasan yang membuat gemetar siapa saja yang mendengarnya.
Dengan satu gerakan, Julius memancarkan energi penghancur yang luar biasa, meluluhlantakkan sebagian besar wilayah barat. Tanah berguncang, udara bergetar. Bahkan pasukan iblis yang berada jauh di belakang merasa tekanan energi itu menusuk hingga ke jiwa mereka.
“Energi penghancur sebesar ini... Apa kau ingin pamer kekuatan, anak muda?” sebuah suara dingin terdengar dari balik dimensi. Perlahan, muncul Asmodeus, Eksekutif Jenderal Iblis yang bangkit dari tidurnya. Dengan tunggangan kura-kura besar miliknya, ia melangkah ke medan perang dengan tenang, seolah keberadaan Julius tidak mengganggunya sedikit pun.
“Mundur, Kaiju. Kau bukan lawan yang sepadan untuknya. Biarkan aku yang akan menghadapi anak muda ini!” Asmodeus berkata santai namun penuh kewibawaan. Matanya yang tajam menatap Julius dengan senyum sinis.
Namun Julius hanya terkekeh. “Jangan sok kuat, kau iblis rendahan. Aku bahkan bisa mengalahkan kalian berdua dengan mudah!” balasnya, matanya memancarkan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan.
______________
Nama : Kaiju.
Status : Bangsa iblis/salah satu dari 10 Eksekutif raja iblis.
Skill : - ( belum di sebutkan)
______________
Nama : Asmodeus.
Status : Bangsa iblis/salah satu dari 10 eksekutif jendral iblis (Entitas)
Ultimate : - (belum di sebutkan).
______________
______________
Nama : Julius.
Status : Bangsa dewa (langit)/salah satu dari 7 jendral langit agung (Keadilan Absolut).
Ultimate : - (belum di sebutkan)
______________
Pertempuran di wilayah timur Benua 7 berlangsung sengit, tetapi hasilnya sudah hampir pasti. Pasukan Langit, yang dipimpin oleh dua Jenderal Langit Agung, berhasil memukul mundur pasukan iblis dengan telak. Tidak ada perlawanan berarti. Seolah-olah para iblis itu hanyalah domba-domba yang dilempar ke dalam kawanan singa lapar.
Langit di atas medan perang berwarna merah tua, seperti darah yang tumpah dari ribuan jiwa. Cambuk-cambuk cahaya melesat cepat, menyambar tubuh para iblis yang berusaha kabur, mematahkan semangat mereka untuk melawan. Tebasan pedang raksasa membelah udara, menciptakan suara menderu yang membuat bulu kuduk meremang. Para iblis yang terpotong tebasan lenyap tanpa bekas, hanya meninggalkan jejak asap gelap.
Hera, Jenderal Langit Agung, berdiri di tengah-tengah ladang pembantaian. Armornya yang berkilauan memantulkan sinar keemasan, menambahkan aura ilahiah pada sosoknya. Pedangnya berlumuran darah hitam iblis, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia tidak menunjukkan emosi apa pun kecuali rasa dingin yang menusuk.
"Jangan lari, kalian makhluk rendahan!" suaranya menggema, keras dan tajam.
"Itulah harga yang harus kalian bayar jika berani melawan Pasukan Langit!" seru salah satu prajurit Pasukan Langit dari belakang, suaranya penuh kemenangan.
Di mana-mana, para iblis berjatuhan, terjerat oleh cahaya atau tertebas pedang tanpa ampun. Tidak ada belas kasih. Tidak ada kelonggaran. Pasukan Langit bertempur seperti mesin perang tanpa hati, dipandu oleh ketegasan Hera dan kebrutalan Salomon, rekan sesama Jenderal Langit Agung.
"Jangan biarkan satu pun dari mereka melarikan diri!" seru Hera dengan suara penuh wibawa, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Tangkap mereka semua. Habisi para pemberontak ini!"
Namun, suara lain terdengar di antara hiruk-pikuk pertempuran.
"Yho-ho-ho! Menarik sekali..." Salomon tertawa lepas, perutnya yang besar berguncang. Ia memakan cemilan dengan lahap, seolah tidak ada perang yang sedang terjadi di sekitarnya. "Apa hanya begini kekuatan eksekutif Jenderal Iblis? Memalukan!"
Tatapannya melewati dua sosok eksekutif jenderal iblis yang terkapar tak berdaya di tanah, darah mereka membasahi pasir hitam di bawah kaki. Wajah mereka dipenuhi luka, mata mereka memancarkan ketakutan bercampur kebencian.
"Butuh banyak pengalaman lagi bagi kalian untuk mengalahkanku," Hera berkata dingin, pandangannya menusuk seperti pedang. "Seharusnya kalian tahu itu."
Pertempuran yang awalnya berjalan seimbang berubah drastis saat Hera tiba di medan perang. Kehadirannya seperti badai yang menghancurkan semua halangan. Dengan keahliannya yang luar biasa, ia memimpin Pasukan Langit untuk mendominasi pertempuran ini sepenuhnya.
Tidak ada yang menyangka bahwa dua eksekutif jenderal iblis bisa ditumbangkan begitu cepat. Kekalahan mereka memperparah situasi bangsa iblis yang sudah berada di ambang kehancuran. Di kejauhan, sisa pasukan iblis berlarian tak tentu arah, kehilangan komando dan harapan.
“Pada akhirnya, kami tetap akan menjadi pemenang,” gumam Hera sambil mengangkat pedangnya yang bersinar terang. Ia melangkah maju dengan tenang, langkahnya penuh keyakinan. Tatapannya tajam, memindai medan perang untuk memastikan tidak ada lagi musuh yang tersisa.
Aura Hera memancarkan rasa hormat dan ketakutan. Tidak peduli berapa banyak iblis yang sudah tumbang, ia tetap siaga. Ia tahu, kemenangan sejati hanya datang saat tidak ada ancaman yang tersisa.
"Kakak memang hebat! Andai Kakak tidak datang, mungkin kami akan kesulitan menghentikan mereka!” seru Amon, adik angkat Hera, dengan nada penuh kekaguman.
Namun Hera hanya meliriknya dingin. “Hentikan, Amon. Ini belum waktunya untuk merayakan kemenangan. Jangan lengah sedikit pun,” tegurnya tegas. Suaranya seperti petir yang membangunkan adiknya dari angan-angan. Hera juga menambahkan, “Dan jangan pernah tiru tingkah Salomon.”
Belum sempat Amon menjawab, Salomon menyela dengan tawa khasnya. “Yho-ho-ho! Padahal aku masih punya skill ultimate yang kusimpan, tapi kau datang dan mengalahkan mereka semua! Akibatnya, aku jadi terlihat lemah!” katanya sambil menggigit cemilan di tangannya.
Hera menghela napas panjang. “Ini bukan waktunya bermain-main, Salomon. Kau seharusnya lebih fokus bertarung, bukan makan cemilan di medan tempur!” Teguran itu seperti menusuk, tetapi Salomon hanya meringis.
“Perempuan memang sulit diajak santai,” gumam Salomon dalam hati sambil mengunyah.
Hera memalingkan pandangannya, menatap ke sisih lain. “Pertempuran sengit masih terjadi di wilayah utara dan selatan. Kita harus segera ke sana setelah memastikan tempat ini benar-benar bersih.”
Alasan dua eksekutif jenderal iblis terkapar tak berdaya adalah karena skill ultimate Hera, sebuah kemampuan yang dapat melumpuhkan siapa pun, bahkan iblis tingkat mistis. Kedua jenderal iblis itu sebelumnya tidak menyangka bahwa Hera, yang tampak anggun, memiliki kekuatan yang melampaui ekspektasi mereka.
“Keparat! Kita kalah hanya dengan satu serangan. Ini memalukan!” geram salah satu eksekutif iblis, berbaring tak berdaya di tanah.
“Kau benar!” rekannya menimpali dengan nada penuh getir. “Azazel sudah memperingatkan kita untuk menghindari Tiga Keadilan Absolut, tapi apa-apaan kekuatan wanita jalang ini? Dia sangat mengerikan!”
Hera, tanpa memedulikan rintihan musuh, memandang Amon dengan tatapan serius. “Pergilah ke wilayah utara. Aku bisa merasakan aura kutukan mengerikan yang memporak-porandakan pasukan Langit di sana.”
Amon yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Hera bertanya, “Ada apa, Kak? Kau terlihat murung.”
“Kutukan ini...” Hera menggigit bibirnya. “Tidak salah lagi, pasti iblis itu...”
Sebuah bayangan dari masa lalu melintas di benaknya. “Lucifer,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
“Aku penasaran sekuat apa Lucifer. Apa dia benar-benar sehebat yang dirumorkan, atau itu hanya kebohongan belaka?” Amon bertanya dengan nada riang, tetapi Hera langsung menghantam kepalanya dengan tangan terbuka.
“Jangan meremehkan iblis kuno! Mereka adalah monster yang sesungguhnya,” kesal Hera. Namun, nada suaranya menyiratkan kekhawatiran yang dalam.
“Aku akan berhati-hati, Kak. Jangan khawatir,” Amon akhirnya menjawab dengan nada lebih serius. Ia tahu, di balik sifat dingin Hera, ada kasih sayang yang tulus sebagai seorang kakak.
Beberapa saat setelah Amon pergi, Salomon akhirnya mengeluarkan skill ultimate-nya. Cahaya putih menyilaukan turun dari langit, menyerap energi dari para iblis yang telah tumbang. Tubuh para iblis itu mengejang, menyusut, hingga akhirnya tinggal kulit dan tulang.
“Yho-ho-ho! Sangat berenergi!” Salomon tertawa puas. Tubuhnya yang semula tambun kini berubah kekar, penuh otot yang menggambarkan kekuatan luar biasa.
“Bagaimana? Apakah kau sudah menganggapku serius sekarang, Hera? Yho-ho-ho!” tanyanya, memperlihatkan otot-ototnya dengan bangga.
“Dasar aneh,” balas Hera singkat, tanpa ekspresi.
Namun, suasana tiba-tiba berubah. Sebuah tekanan mengerikan meliputi medan perang. Hera merasakan hawa kutukan yang begitu kuat, membuatnya siaga penuh.
“Apakah kau merasakannya, Salomon?” tanya Hera dengan nada waspada.
“Ya! Aku juga menyadarinya,” jawab Salomon, meski ia tetap santai.
Tanpa peringatan, bola-bola air berwarna hijau meluncur deras dari langit, menghujani mereka tanpa henti. Hera dan Salomon berhasil menghindar, tetapi mata mereka melebar saat melihat bayangan besar di atas kepala mereka. Seekor kura-kura raksasa, dengan kulit berlumuran energi hitam, muncul dari balik awan.
“Sejak kapan makhluk itu di atas kita?” gumam Hera tak percaya.
Salomon, alih-alih khawatir, malah terkagum-kagum. “Itu besar sekali! Aku tidak sabar untuk menyerap energi itu sampai kurus kering. Yho-ho-ho!”
Hera memutar bola matanya. “Ini bukan waktu untuk kagum, Salomon! Makhluk ini memancarkan aura bahaya. Bersiaplah!”
Dari atas kura-kura raksasa itu, dua siluet iblis melompat turun. Salah satunya adalah Asmodeus, sosok dengan tanduk kambing melingkar, memancarkan aura yang hampir menyamai Lucifer. Hera mengerutkan dahi, matanya penuh tanda tanya.
“Keparat! Aku tidak akan memaafkan perbuatan kalian! Bersiaplah untuk mati!” Kaiju, yang dikenal dengan temperamennya yang meledak-ledak, membuka serangan tanpa basa-basi. Namun sebelum ia sempat mendekati Hera, Salomon menghantam wajahnya dengan palu emas, membuatnya terlempar ribuan meter.
“Yho-ho-ho! Itu pasti sakit sekali!” ejek Salomon, tertawa puas.
Mengetahui dua rekannya sesama eksekutif jenderal iblis telah tumbang, amarah Kaiju membara. Sorot matanya merah menyala penuh kebencian, cakar-cakarnya berkilauan, siap bangkit kembali menghantam lawan-lawannya tanpa ampun. Raungan Kaiju menggema di seluruh medan perang, memecah keheningan.
Kaiju lalu melesat dari puing-puing, mengusap darah hitam yang mengalir dari sudut mulutnya. "Kalian akan membayar semua ini," desisnya dengan suara rendah yang menggema penuh ancaman. Tatapan matanya, menunjukkan tekad yang tak tergoyahkan.
Kaiju dikenal sebagai salah satu jenderal iblis yang paling setia dan penuh solidaritas. Biasanya ia adalah sosok riang, selalu membawa kebahagiaan di tengah pasukannya.
Namun, ketika rekan-rekannya dalam bahaya atau membutuhkan bantuan, ia tak segan-segan maju ke depan, bahkan jika itu berarti menghadapi ancaman yang jauh lebih kuat darinya.
Dan hari ini, ia bertekad untuk membalas kekalahan rekan-rekannya, tidak peduli betapa besar harga yang harus ia bayar.
"Kau benar-benar keras kepala." ujar Hera dengan suara datar. Tatapannya tajam, penuh kehati-hatian, tetapi tidak ada sedikit pun rasa takut dalam dirinya. "Menghadapi kami tanpa perhitungan hanya akan mempercepat kehancuranmu."
Sementara itu, Salomon dengan santai mengeluarkan sekantong kecil cemilan dari balik jubah armor nya. Dia menggigit salah satu makanan ringan itu, lalu berkata dengan nada bercanda, "Yho-ho-ho, dia terlihat marah sekali. Kau pikir dia punya rencana? Atau hanya bertingkah gegabah?"
"Entahlah, tapi dia sepertinya tidak akan menyerah dengan mudah," jawab Hera.
Kaiju tidak memberikan mereka banyak waktu untuk berbicara. Tubuhnya kembali melesat dengan kecepatan luar biasa, menciptakan gelombang udara yang mengguncang tanah di sekitarnya. Kali ini, serangannya diarahkan langsung ke Hera.
Namun, dengan kelincahannya, Hera menghindari setiap cakar yang mengarah padanya. Serangan-serangan Kaiju menghantam tanah, menciptakan lubang-lubang besar di mana-mana.
"Aku tidak akan memaafkan kalian!" teriak Kaiju dengan suara yang penuh kemarahan dan kepedihan. Kepedihan itu bukan hanya karena kekalahan rekan-rekannya, tetapi juga karena dirinya merasa gagal melindungi mereka. Bagi Kaiju, kehormatan pasukan iblis adalah segalanya.
"Kau terlalu emosional," Hera berkata sambil melompat mundur untuk menciptakan jarak. "Kemampuanmu luar biasa, tapi amarahmu mengaburkan penilaianku."
Di kejauhan, Asmodeus berdiri diam, memperhatikan pertempuran dengan tatapan tajam. Sebelumnya, ia dan Kaiju tengah bertarung mati-matian melawan Julius, salah satu dari 3 Keadilan Absolut. Namun, entah bagaimana, mereka berdua tiba-tiba ada di tempat ini. Sungguh membingungkan dan penuh tanda tanya, lantas bagaimana kondisi Julius sekarang.
Asmodeus tidak mengatakan apa-apa, tetapi dari cara ia memandang Hera dan Salomon, jelas bahwa ia sedang menilai situasi dengan sangat hati-hati dan terstruktur.
"Kita harus menyelesaikan ini dengan cepat," gumam Asmodeus pada dirinya sendiri. Ia tahu, jika terlalu lama bertarung melawan Hera dan Salomon, peluang menyusul raja iblis Zhask agung ke istana langit tersendat.
Kaiju, dengan penuh tekad, kembali bangkit. Kali ini, energi gelap mengelilingi tubuhnya, menciptakan aura yang menakutkan. "Aku akan menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya," katanya dengan suara yang lebih rendah tetapi lebih mengancam.
Hera memperhatikan perubahan ini dengan serius. "Salomon, berhenti bermain-main. Dia mulai menunjukkan kekuatan aslinya. Kita tidak boleh lengah."
"Yho-ho-ho, baiklah, baiklah," Salomon menjawab sambil mengangkat palu emasnya. "Tapi aku masih merasa ini akan menyenangkan."
Pertarungan itu pun semakin memanas, dengan kedua belah pihak menunjukkan kemampuan luar biasa mereka. Kaiju terus menyerang tanpa henti, sementara Hera dan Salomon bekerja sama untuk menghadapinya. Di tengah-tengah semua itu, Asmodeus mulai bergerak, bersiap untuk melancarkan serangan kejutan yang bisa mengubah jalannya pertempuran atau bahkan membunuh mereka berdua dengan satu serangan yang sudah Asmodeus analisis.
____________
Nama : Salomon.
Status : Bangsa dewa/salah satu dari 7 jendral langit agung.
Ultimate : Penyerapan Super The Great.
_____________
_____________
Nama : Hera.
Status : Bangsa dewa/salah satu dari 7 jendral langit agung.
Ultimate : - (belum di sebutkan)
______________
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!