NovelToon NovelToon

One Step Closer

1.PROLOG

'TIK,,,,

'TIK,,,,,

'TIK,,,,,

Suara khas dari bom waktu yang terus berjalan seolah terdengar lebih nyaring dari yang seharusnya.

Jembatan alternatif di atas laut yang menjadi penghubung antara dua kota sudah di tutup da dipenuhi oleh polisi, melarang bagi siapa saja yang akan melintas melewati jembatan.

"Di mana sebenarnya tim penjinak bom berada sekarang?"

Suara teriakan dari inspektur polisi yang turut berjaga membuat mereka yang mendengar seketika berwajah pucat. Mereka sudah memanggil tim penjinak bom dari setengah jam yang lalu, namun tidak ada tanda-tanda tim penjinak bom akan datang. Sedangkan waktu pada bom itu terus berjalan.

Ditengah keributan serta ketegangan yang kian meningkat, dua dari puluhan orang yang berada di dekat jembatan melangkah mendekati salah satu petugas yang berada di dekat garis batas, seolah mereka berdua tahu dengan jelas apa yang tengah terjadi.

"Ijinkan kami membantu," ujar si wanita.

Sang Inspektur segera mengarahkan pandangan pada suara yang baru saja ia dengar, melihat pasangan asing itu mengarahkan pandangan padanya.

"Menjauh dan berlindunglah ke tempat aman," ujar Inspektur.

"Tempat ini berbaha_,,,"

"Bom plastik tipe C4," si wanita memotong cepat.

"Satu ledakan saja mampu untuk meruntuhkan jembatan ini. Termasuk meluapkan air laut jika bom itu meledakkan jembatan,"

"Dilihat dari bentuknya saja, bom itu sudah dimodifikasi, dan detonator bom terhubung dengan ponsel yang dapat meledakkan bom itu kapan saja,"

Apa yang baru saja diucapkan si wanita membuat inspektur tercengang, menyadari wanita asing itu mengetahui dengan jelas apa yang dia ucapkan, lalu beranjak mendekat.

"Apakah Anda berdua mengerti tentang bom,?" tanya sang Inspektur menatap ke arah wanita dan pria bertubuh besar yang kini berada di hadapannya.

"Bukan saya, tapi istri saya," jawab si pria.

"Ahh,,, maaf," sambut Inspektur seraya beralih ke arah wanita yang berada di sisi si pria.

"Ijinkan saya melihatnya lebih dulu untuk memastikan jenis bom-nya," ujar si wanita.

"Baiklah," jawab Inspektur.

Pasangan itu melangkah mendekat ke tempat di mana bom berada. Bom yang berada tepat di tengah-tengah jembatan seolah pelaku sengaja meletakkan bom di tempat yang sangat mudah terlihat dan yakin bom itu akan meledak dengan tujuan meruntuhkan jembatan yang menjadi penghubung antara dua kota.

Si wanita segera berjongkok, berniat untuk memeriksa bom yang ada di depannya dan segera terkejut setelah melihat waktu yang tertera pada detonator berkurang secara drastis.

"Apa-apaan,,," si wanita mendesis tak percaya.

Gerakan tangan si wanita saat akan menyentuh penutup detonator bom terhenti, melihat bagaimana waktu yang tertera di sana berkurang dengan pergerakan cepat, menyisakan waktu satu menit yang mana sebelumnya waktu adalah empat puluh lima menit.

"Menjauh dari tempat ini sekarang!!!" wanita berteriak seraya berdiri diikuti pria di sampingnya.

"Bom akan segera meledak," imbunya.

"B-Bagaimana mungkin?" sambut inspektur.

"Bom itu bisa di kendalikan dari jarak jauh, waktunya telah distel ulang menjadi satu menit," ungkap si wanita.

Serentak mereka segera berlari menjauh secepat yang mereka bisa. Begitupula dengan pasangan asing yang baru saja datang dengan niat untuk membantu.

Disaat mereka merasa tidak bisa berlari terlalu jauh karena berkejaran dengan waktu, dari arah berlawanan sebuah sepeda motor sport melaju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Beberapa petugas berniat untuk menghentikan pengendara sepeda motor itu, namun si pengendara justru menambah kecepatan sepeda motornya.

'Tin,,,,, Tin,,,,, Tin,,,,'

Suara klakson yang diberikan si pengendara memekakan telinga, membuat semua petugas polisi memberi jalan seolah mereka tahu siapa si pengendara itu, hingga si pengendara sepeda motor itu berhenti tepat di samping di mana bom berada.

"Apa yang dia lakukan?" si wanita berseru panik.

Wanita itu melihat dengan jelas bagaimana si pengendara sepeda motor melepaskan helm full face yang terpasang di kepalanya, meraih bom yang menyisakan waktu beberapa detik dan memasukanya ke dalam helm.

Satu tanganya yang lain mengeluarkan tongkat baseball yang terselip di punggungnya, sementara satu tangannya lagi melemparkan helm yang berisi bom ke atas dan tepat ketika helm itu berada di depan wajahnya, ia mengayunkan tongkat baseball di tangannya.

'BUGH,,,,,

'WUSSHHHH,,,!!!

Helm itu seketika terlempar jauh ke arah laut dengan ketinggian yang membuat mereka yang baru saja melihatnya tercengang seketika. Hingga,,,

'DHUARRRR,,,,!!!

Ledakan segera terjadi di udara, mengakibatkan sapuan angin kuat di sertai air laut yang segera mengguyur seluruh jembatan, namun tidak ada sedikitpun kerusakan yang terjadi.

Si pengendara itu hanya menutupi wajah menggunakan satu tangannya. Sementara si pria asing itu menutupi tubuh istrinya menggunakan tubuhnya sendiri, dan para petugas polisi membalikan tubuh mereka saat air laut mengguyur tubuh mereka.

"Apakah kamu baik-baik saja, Liebste (sayang)?" tanya si pria pada istrinya.

"Aku baik-baik saja," jawabnya.

Tatapan wanita itu terus tertuju pada sosok si pengendara sepeda motor yang melakukan aksi gila di depan matanya, ia bahkan tak percaya dengan kekuatan pukulan pengendara sepeda motor itu bisa melemparkan helm melebihi ketinggian normal jika tidak melihat dengan kedua matanya sendiri.

"Siapa pria itu?" desisnya.

Wanita itu memperhatikan si pengendara sepeda motor yang menutupi kepalanya menggunakan hoodie jaket yang dia kenakan. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam serta bagaimana cara dia bertindak memperjelas bahwa dia tahu jenis bom apa yang dia lemparkan.

Pasangan asing yang tidak lain adalah Bernardo dan Cyrene. Mereka berdua yang baru saja tiba di kota dimana mereka akan menjalankan misi mereka, tanpa sengaja membuat mereka bertemu dengan seseorang yang membuat keduanya tercengang. (Tokoh dalam karya sebelumnya berjudul "Silver Bullet)

Pertemuan pertama yang tidak mereka sadari akan menjadi penghubung bagi keduanya untuk kembali bertemu.

Si pengendara sepeda motor itu menoleh sekilas, hingga tatapannya bertemu dengan Cyrene dalam jarak beberapa meter, lalu segera menaiki sepeda motornya dan pergi begitu saja meninggalkan area jembatan setelah ia merasa keadaan telah aman.

"Hei,,,," seru Cyrene.

"Kenapa dia pergi begitu saja?" imbuhnya.

"Apakah diantara kalian tahu siapa pria itu?" tanya Cyrene.

"Kami tidak tahu, tapi dia sudah berulang kali membantu kami para polisi ketika kami dalam kesulitan," ungkap salah satu petugas.

Cyrene kembali mengarahkan pandangan ke arah di mana pengendara sepeda motor sport itu menghilang, berharap dalam benaknya untuk kembali bertemu.

Sementara si pengendara itu menghentikan sepeda motornya di depan sebuah rumah berlantai dua setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, menekan panel yang berada dalam jangkauan jarinya hingga membuat pintu garasi dari rumah itu terbuka otomatis, dan membawa sepeda motornya masuk ke dalam.

Begitu pintu garasi menutup, satu jarinya menekan panel lain yang berada di bawah rem, membuat sebuah pintu rahasia seketika terbuka. Ia segera masuk dengan membawa sepeda motornya, menyusuri lorong panjang menurun dan memperlihatkan puluhan sepeda motor serta mobil dengan jenis berbeda berbaris rapi begitu lorong itu mencapai akhir.

Satu tangan pengendara itu terangkat, menurunkan hoodie yang masih menutupi kepalanya hingga membuat rambut coklat panjang yang dimilikinya terurai. Pandangannya tertuju pada koleksi sepeda motor dan mobil yang ia sembunyikan dari seseorang, menengadahkan kepala dengan sorot lelah.

"Aku merindukan kehidupan damaiku," desahnya.

"Jika kamu tahu siapa aku sebenarnya, apakah kamu akan membenciku, Baby?" ujarnya lirih.

Ia memejamkan kedua matanya sejenak, mengingat kembali kehidupan damai yang bisa ia jalani di masa lalu.

Masa di mana itu terjadi lebih dari lima belas tahun lalu di mana usianya masih sangatlah muda, namun terpaksa menutupi kehidupan gelapnya dari seseorang yang sangat ia sayangi.

...@@@@@@@@@...

### Tujuh belas tahun sebelumnya.....

. . . .

. . . .

To be continued....

NOTE :

- Bom Plastik C4

Merupakan satu jenis bahan peledak yang biasa digunakan untuk tujuan militer. Terdiri dari dua jenis, High explosive dan Low explosive.

- Liebste / Liebster

Adalah kata dalam bahasa Jerman yang memiliki arti Sayang/ Sweetheart dalam bahasa Inggris.

Liebste digunakan pria untuk memanggil wanitanya, sedangkan

Liebster digunakan wanita untuk memanggil pria.

2. OSC 2

### Belasan tahun lalu...

"Apa hanya ini yang belum diantarkan?"

Pertanyaan itu terlontar dari wanita yang baru saja meletakkan kotak berisi puluhan kue dalam ukuran kecil dan telah dikemas cantik sebagai tanda siap untuk diantarkan ke tujuan.

Di belakangnya, wanita yang sebaya dengannya melakukan hal yang sama, meletakkan dengan hati-hati kue yang telah dikemas dan telah disusun dalam kotak berbeda.

Dua wanita yang memiliki karakter dan tingkah laku yang jauh berbeda namun memiiki hubungan yang sangat dekat layaknya keluarga.

Claira Anne Esmira.

Sosok wanita enerjik yang lebih menyukai berpenampilan layaknya pria. Bahkan hampir semua orang yang bertemu dengannya akan menganggap dirinya seorang pria ketika Claira menyembunyikan rambut panjangnya.

Rambut panjang coklat gelap dan terlihat indah ketika rambut itu terurai, namun si pemilik rambut itu sendiri justru lebih sering mengikat rambutnya terutama ketika dirinya berada di dapur untuk membuat kue-kue yang ia jual di cafe miliknya.

Wajah yang memiliki beberapa noda tepung dan cream saat ia keluar dari dapur cafe serta apron hitam yang setia menempel di tubuhnya tidak menutupi kecantikan yang wanita itu miliki.

Sementara sahabatnya yang bernama Grace memiliki rambut hitam segelap malam dan berpenampilan lebih feminim.

"Iya, hanya ini. Kita perlu menunggu Jay datang untuk mengantarkan ini ke universitas XX," jawab Grace.

"Itu terlalu lama, Jay memerlukan waktu setengah jam untuk kembali, itupun masih memerlukan waktu lagi untuk mengantarkan ini ke tujuan," sahut Claira.

"Tapi, kita hanya bisa menunggu Jay datang karena Dean mengambil cuti hari ini. Ben juga tidak bisa karena dia memiliki jadwal belajar," jawab Grace.

"Bukankah ada satu motor tidak digunakan, Grace?" tanya Claira.

"Memang benar, ada satu motor lagi, tapi kenapa?" Grace balas bertanya.

"Aku yang akan mengantarnya," ucap Claira.

"Jangan bercanda!" sambut Grace tidak setuju.

"Kamu baru saja selesai membuat ini semua,"

"Kamu juga lembur tadi malam untuk pesanan sore nanti. Kapan kamu memiliki waktu istirahat jika kamu juga yang mengantarkan ini? Kamu bahkan belum tidur sama sekali," Grace menambahkan dengan ekspresi cemas.

"Kita harus mempertahankan pelanggan kita, Grace," jawab Claira.

"Terutama universitas satu ini sudah menjalin kerja sama dengan kita cukup lama dan meminta kita untuk mengantarkan kue ini ke cafetaria,"

"Kita tidak mungkin mengecewakan mereka, bukan?"

"Karena dari itu juga Cafe ini bisa seperti sekarang," Claira menambahkan.

"Aku tahu, tapi_,,,"

"Tolong ambilkan topi dan jaketku, Grace! Atau kita akan kehabisan waktu," potong Claira dengan intonasi tidak bisa dibantah.

Grace menatap Claira yang tengah membersihkan noda tepung di wajah, lalu melepas apron dari tubuhnya. Ia hanya bisa mendesah panjang, memilih untuk menuruti Claira mengambilkan jaket serta topi yang biasa sahabatnya kenakan ketika melakukan pengantaran ataupun pergi membeli barang yang disimpan di loker.

Claira segera memakai topi dengan memasukan rambut panjangnya ke dalam topi dilanjutkan memakai jaket, lalu melangkah keluar cafe menuju sisi samping di mana sebuah sepeda motor terparkir di sana dengan sebuah box besar di jok belakang.

Claira segera memposisikan sepeda motor itu untuk mempermudah menaikan semua kotak kue yang akan ia bawa. Meletakkan kotak kue dengan perlahan ke dalam box dan memastikan posisinya tidak akan merusak apa yang ia bawa selama perjalanan.

"Kenapa tidak pakai mobil saja? Bukankah kamu memiliki lisensi untuk mobil juga?" tanya Grace.

"Aku malas, lagi pula ini masih bisa dibawa menggunakan sepeda motor," jawab Claira sembari memakai helm tanpa melepas topinya.

"Baiklah, apakah sudah masuk semua?" tanya Claira memastikan.

"Sudah," jawab Grace.

"Ah,, aku hampir lupa, minta Jay untuk mengurus sampah di belakang saat dia kembali nanti, dan Ivy untuk membuat salai baru, aku sudah memesan buahnya dan akan datang sebentar lagi," pesan Claira.

"Lalu untukmu, aku sudah siapkan uang untuk pembayaran bahan minggu ini, pemilik toko bahan memberi kabar akan datang, jadi berikan saja jika nanti dia datang sebelum aku kembali, beri dia satu Panna cotta sebagai ucapan terima kasih dari kita," tambahnya.

"Aku mengerti, berhati-hatilah selama perjalanan," jawab Grace.

Claira mengangguk sambil tersenyum lebar, dan segera melajukan sepeda motornya.

"Dasar,,, dia masih saja penuh semangat dan menghemat semua pengeluaran untuk dirinya sendiri. Tapi jika mengenai gaji dan bonus, dia tak pernah berpikir dua kali untuk memberikan lebih. Pantas saja Jay, Ivy dan Dean sangat menyukai berkerja dengannya termasuk orangnya," gumam Grace diakhiri tawa pelan.

Grace kembali kedalam cafe, bersiap untuk membuka Cafe dibantu beberapa orang yang berkerja disana.

Sementara Claira melaju pelan dengan sepeda motornya. Menempuh perjalanan selama dua puluh menit dan mulai memperlambat laju sepeda motornya ketika memasuki kawasan universitas yang tampak ramai oleh beberapa mahasiswa yang mengisi waktu luang mereka.

Membaca di bawah pohon, duduk mengobrol dan becanda ria bersama teman, fokus mengetik sesuatu di laptop mereka, bahkan beberapa tengah menikmati makanan ringan.

Claira tiba satu jam sebelum masuk jam makan siang, sengaja datang lebih cepat dengan alasan tidak ingin kue yang ia antarkan terlambat dan mengakibatkan para mahasiswa yang berada di sana tidak bisa menikmati kue buatannya.

"Aku masih memiliki sisa waktu," Claira mendesah lega.

Ia melepas helm tanpa melepaskan topinya, lalu menarik resleting jaket sampai mencapai leher dan mengangkat semua kotak kue sekaligus ke cafetaria yang ada di universitas tersebut, melangkah dengan langkah ringan melewati beberapa pelajar yang berada dalam jangkauan langkahnya.

"Hei, lihat,,bukankah dia tampan? apakah dia juga mahasiswa di sini?"

Kedatangannya ke universitas itu segera menarik perhatian, terutama dari beberapa gadis yang melihat kedatangannya. Suara bisik-bisik dari mereka bahkan terdengar saat Claira melewati mereka dengan kedua tangan membawa beberapa kotak kue sekaligus.

"Woww,,, tampan,"

"Apakah dia kurir?"

"Aku tidak peduli dia kurir atau apa, tapi dia tampan sekali,"

Claira tersenyum tipis sembari mengelengkan kepala saat mendengar komentar mereka, merasa hal itu sudah terlalu sering ia dengar. Ia tetap melangkah tanpa menghiraukan semua komentar bahkan panggilan dari beberapa gadis yang ia lewati dalam perjalanan menuju cafetaria.

"Wahh,,, hari ini lebih cepat dari biasanya," sambut wanita paruh baya penjaga cafetaria saat Claira datang.

"Semua yang ada di sini sangat menyukai kue dari cafe kalian," sambungnya.

"Senang mendengarnya jika mereka menyukai kue dari cafe kami," sambut Claira tersenyum ramah.

"Apakah kamu pertama kali mengantarkan ini? Aku ingat biasanya bukan kamu yang mengantarkan kue-kue ini," dia bertanya.

"Tidak, tapi memang benar biasanya bukan saya yang mengantarkannya," jawab Claira.

"Begitu rupanya," sambutnya.

"Atasan kalian tentu orang baik hingga memiliki karyawan yang ramah seperti kalian," puji wanita itu dengan tulus.

"Dia tentu akan senang mendengar Anda berkata demikian," sambut Claira tersenyum hangat.

"Ini dia kotak kosongnya." ucapnya sembari mengembalikan kotak kosong kepada Claira.

"Semoga saja cafetaria universitas ini bisa terus menjalin hubungan baik dengan cafe kalian," harapnya.

"Saya juga mengharapkan hal yang sama," sambut Claira tersenyum.

"Mari," pamitnya sebelum beranjak meninggalkan cafetaria.

Claira melangkah pelan saat keluar dari cafetaria, mengagumi bangunan universitas yang sempat menjadi mimpinya untuk melanjutkan pendidikan, namun dengan cepat ia segera menepisnya.

Pendidikan yang tidak bisa ia selesaikan karena beberapa alasan hingga membuatnya bekerja keras untuk menyambung hidup bersama seseorang yang sangat penting baginya.

Usianya saat ini bahkan belum memasuki dua puluh, namun ia tidak menyesali apapun. Bahkan kini ia memiliki sebuah Cafe dan tiga cabang tempat lain serta memiliki pelanggan tetap.

'BRUUKK,,,,!!!'

"Akh,,," pekik Claira.

Claira jatuh terduduk ketika seseorang menabraknya. Sama seperti dirinya, orang itu juga jatuh terduduk dan terkubur buku-buku yang dia bawa.

"Maaf, maaf, maaf, aku tidak sengaja," ucapnya panik segera bangkit dan mengulurkan tangan pada Claira.

Claira mendongak, mendapati pemuda bertopi dengan jaket yang menempel di tubuhnya membungkuk mengulurkan tangan pada Claira.

"Aku terburu-buru untuk mengejar jadwal kelas," ucapnya lagi dengan nada penyesalan.

Claira menyambut uluran tangan si pemuda, lalu mengambil kotak kue yang terjatuh tanpa mengatakan apapun.

'Aish,,, pecah,,,' rutuk Claira dalam hati.

'Jika sudah begini, terpaksa beli lagi kan? Pengeluaran bulan ini bahkan sudah melebihi batas,' imbuhnya.

Claira menoleh cepat ke arah pemuda yang menabraknya dan tegah mengumpulkan buku-buku yang dia jatuhkan.

'Kumaafkan karena kau membantuku berdiri lebih dulu sebelum mengumpulkan buku-buku itu,' batin Claira.

Pemuda itu kembali berbalik dan menatap Claira.

"Aku sungguh-sungguh minta maaf, aku tidak sengaja menabrakmu," sesalnya.

"Jelas saja," sambut Claira.

"Pandanganmu terhalang tumpukan buku yang lebih tinggi dari kepalamu," imbuhnya menyindir.

Pemuda itu tersenyum canggung, lalu segera pergi dengan terburu-buru setelah meminta maaf sekali lagi.

Claira menaikan bahunya dan bersiap pergi ketika sesuatu di tanah menghentikan langkah yang akan ia ambil. Ia membungkuk dan memungutnya, hingga sebuah kartu identitas mahasiswa milik pemuda yang baru saja menabraknya kini berada ditangannya.

"Jefferi Karl Lysander,"

"Laws,"

'Jadi, orang tadi jurusan hukum, mengesankan,' batin Claira.

Claira membaca sekilas kartu identitas itu lalu mencari sosok pemiliknya yang menghilang entah kemana.

"Jika aku menunggu, aku bisa kehabisan waktu. Tapi, kartu ini tentu sangat penting baginya," gumam Claira pelan.

Dart,,, Dart,,, Dart,,,

Getaran ponsel di saku celana menyadarkan Claira, membuat ia dengan cepat menarik ponsel dari saku celana untuk menerima panggilan dari seseorang.

📞📞📞📞

"Ya, Grace?" sambut Claira setelah ponsel menempel di telinga.

"Apakah kamu masih lama?" tanya Grace.

"Sepertinya begitu, ada apa?" tanya Claira.

"Ada dua tamu yang ingin membooking cafe untuk pesta, dan mereka juga menginginkan menu spesial kita, hanya saja jadwal yang mereka minta bertabrakan. Bagaimana baiknya?" tanya Grace.

"Apakah mereka masih di sana?" tanya Claira.

"Tidak, tapi mereka berkata akan datang lagi setelah urusan mereka selesai," jelas Grace.

"Baiklah, aku yang akan mengurusnya nanti," jawab Claira.

"Baiklah," sambut Grace.

"Omong-omong, apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Bukankah seharusnya kamu dalam perjalanan kembali?" tanya Grace.

"Aku perlu membeli kotak baru, yang ada di tanganku sekarang pecah," ungkap Claira.

"Bagaimana bisa?" tanya Grace heran.

"Aku ceroboh dan menjatuhkannya," kilah Claira tertawa pelan.

"Baiklah, kabari aku jika kamu membutuhkan sesuatu," ujar Grace.

"Tentu," jawab Claira.

📞📞📞📞

Panggilan mereka berakhir tanpa menyadari apa yang baru saja Claira ucapkan terdengar di telinga pemuda yang telah menabrak dirinya

"Permisi," sapanya.

Claira berbalik dan tersenyum lega. Sebelum pemuda itu sempat mengatakan sesuatu, Claira membuka suara lebih cepat.

"Ah,, ini milikmu," ujar Claira sembari menyodorkan kartu identitas.

"Aku menemukannya di tempat kamu terjatuh," ucap Claira.

"Terima kasi_,,,Hei,,,,"

Pemuda itu memanggil Claira yang pergi begitu saja setelah menyerahkan kartu identitas miliknya bahkan sebelum ia memiliki kesempatan untuk mengucapkan terima kasih.

"Pria aneh," gumamnya pelan.

"Tapi, aku tadi tidak salah mendengar bukan? Apakah kotak yang dia bawa rusak karena terjatuh tadi?"

Pemuda itu kembali bergumam, mencatat dalam benaknya untuk mengucapkan terima kasih sekaligus meminta maaf jika mereka kembali bertemu.

...@@@@@@@...

. . . .

. . . .

To be continued...

3. OSC 3

###Keesokan harinya......

Jefferi duduk di bawah pohon sembari membaca buku, sesekali ia mengangkat wajah, lalu mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang, lalu mendesah kecewa dan kembali menunduk menekuni buku yang ada di tangannya.

Kegiatanya terusik ketika dering ponsel di saku celananya menyela yang membuat ia segera mengeluarkan ponsel, menggeser layar untuk menerima panggilan itu ketika melihat nama 'Lover' tertera pada layar ponsel.

📞📞📞📞

"Hai Karl, apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Bisakah kita pergi jalan-jalan setelah kelas selesai?"

Suara manja dari seorang wanita terdengar begitu Jefferi menempelkan ponsel ke telinganya. Menghadirkan senyum hambar di bibir Jefferi namun tetap menyambut panggilan kekasihnya.

"Maafkan aku Fey, aku memiliki jadwal penuh hari ini. Bagaimana kalau akhir pekan?" tawar Jefferi.

"Baiklah, tapi janji akhir pekan?" sambutnya manja.

"Aku janji, kita akan pergi ke mana pun kamu mau akhir pekan nanti," janji Jefferi.

"Baiklah, aku ada kelas setelah ini, semoga harimu menyenangkan, Karl,"

"Love you,,," ucapnya.

📞📞📞📞

Panggilan berakhir begitu saja bahkan sebelum Jefferi memiliki kesempatan untuk membalas apa yang diucapkan sang kekasih dan diakhiri dengan hembusan napas panjang.

Feyrin Marcelie. Wanita cantik yang telah menjadi kekasih Jefferi dalam tiga tahun terakhir. Meski progam study yang diambil antara dirinya dengan sang kekasih berbeda, namun hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja, bahkan terasa hangat dan cukup untuk membuat semua teman-temannya merasa iri dengan hubungan mereka. Namun, secara perlahan hubungan mereka mulai renggang sejak sang kekasih mulai bersikap berbeda.

"Haahh,,," desah Jefferi sembari menatap ponsel.

"Sejujurnya jadwalku tak sepadat itu, hanya saja aku merasakan dia telah berubah, dan aku ingin mencari tahu apa penyebabnya," sambungnya.

Tepat saat Jefferi memasukan kembali ponsel ke dalam saku celana, kedua matanya menangkap sosok seseorang yang sengaja ia tunggu kedatangannya.

Seseorang yang mengenakan jaket dan topi yang sama seperti hari sebelumnya serta membawa beberapa kotak berisi kue.

Hal itu membuat Jefferi mengingat kembali insiden saat ia secara tidak sengaja menabrak orang itu hingga membuat orang yang ditabraknya menjatuhkan kotak kue dan berakhir rusak.

Jefferi menunggu orang itu keluar dari cafetaria menyelesaikan tugas pengantaran, dan segera menghampirinya ketika melihat dia berjalan keluar.

"Hai,,," sapa Jefferi.

Sapaan Jefferi yang tidak pernah dia duga membuat orang itu menghentikan langkah, menatap Jefferi dengan alis terangkat.

"Ya,,?" sambutnya.

"Aku belum meminta maaf dengan benar kemarin, aku sungguh menyesal atas apa yang terjadi, dan aku ingin meminta maaf dengan benar padamu," ucap Jefferi tulus.

"Maaf, apa maksudnya?" sambutnya bingung.

"Ah,, sepertinya kamu lupa padaku, aku tidak sengaja menabrakmu kemarin hingga membuatmu terjatuh, sepertinya aku juga telah merusak kotak yang kamu bawa," ujar Jefferi.

Dia yang tidak lain adalah Claira kembali mengerutkan kening, berusaha untuk mengingat apa yang telah ia lupakan.

"Ah,,, itu,,, tak apa. Aku memang melupakannya, kamu tentu tidak sengaja melakukannya," sambut Claira tersenyum.

"Ijinkan aku untuk menggantinya, biar bagaimanapun juga itu kesalahanku," ujar Jefferi.

"Terima kasih tawarannya, tapi kamu tidak perlu melakukannya," tolak Claira.

"Permisi," pamitnya sembari menunduk singkat.

Claira melangkah melewati Jefferi, berharap masalah itu selesai dan ia bisa kembali ke cafe sesegera mungkin, namun Jefferi tidak melepaskan Claira begitu saja.

"Tolong, aku akan merasa tidak enak jika tidak menggantinya disaat akulah yang merusaknya," harap Jefferi mengikuti langkah Claira dan kembali menghentikannya.

"Permintaan maafmu sudah cukup, dan aku sudah menerimanya," jawab Claira seraya melewati Jefferi.

"Tunggu sebentar," cegah Jefferi menghadang di depan Claira dengan dua tangan terangkat menahan Claira meneruskan langkah.

"Baiklah, tak apa jika kamu tidak ingin aku menggantinya. Tapi, bisakah aku meminta nomor ponselmu? Setidaknya aku ingin mentraktirmu makan siang atau sekedar minum kopi sebagai gantinya," pinta Jefferi.

"Kumohon,,, atau aku akan terus merasa bersalah atas kejadian kemarin," imbuhnya penuh harap.

'Tck,,, kenapa dia keras kepala sekali?' decak Claira dalam hati.

"Baiklah," jawab Claira.

Merasa semua akan selesai dengan cepat jika ia memberikan nomor ponselnya, Claira segera mengetik nomor ponselnya di ponsel Jefferi, lalu mengembalikannya.

"Terima kasih, jika kamu tidak keberatan, bisakah besok kamu meluangkan waktu sebentar saja untuk makan atau minum bersamaku?" tawar Jefferi.

"Tidak harus di cafetaria yang ada di tempat ini, aku tidak keberatan jika kamu ingin ke cafe atau restoran lain," imbuhnya.

"Aku akan menerima tawarannya, namun tidak bisa menjanjikannya," jawab Claira.

"Aku mengerti," balas Jefferi.

Claira beranjak pergi ke tempat di mana sepeda motornya terparkir, meletakkan kotak kosong ke dalam box yang terpasang di sepeda motornya, dan segera pergi meninggalkan universitas di mana Jefferi tercatat sebagai pelajar.

"Eh,, tunggu, aku belum mananyakan namanya, Heii,,,, siapa nama_,,mu," kalimat Jefferi terputus ketika melihat Claira telah menjalankan sepeda motornya meninggalkan lingkungan universitas.

"Tck,,, menyebalkan," decaknya.

"Kotak yang dia bawa tadi, dia mengantarnya ke cafetaria, aku coba tanyakan saja pada penjaga cafetaria, mungkin mereka tahu siapa namanya," gumamnya pelan.

Jefferi melangkah menuju cafetaria dan menanyakan tentang kurir laki-laki yang rutin mengantar kue kesana, namun tak satupun dari mereka mengetahui siapa nama kurir itu. Mereka hanya mengetahui alamat cafe dari kue yang di antar olehnya.

"Terima kasih," ucap Jefferi pada penjaga cafetaria.

Tak lupa ia juga membeli kue yang selalu diantarkan oleh Claira untuk menghindari tatapan heran dari para pelajar yang datang ke cafetaria di mana hampir semua pelajar di sana mengenal dirinya.

"Hei, Jefferi,,,!"

Jefferi menoleh kearah sumber suara dan melihat enam teman dari kelasnya tengah berkumpul menikmati makanan dan minuman mereka, salah satu dari mereka melambaikan tangannya sebagai tanda dialah yang memanggil namanya.

"Bergabunglah bersama kami, sangat jarang kamu datang kemari," timpal yang lain.

Jefferi tersenyum dan mengangguk seraya menghampiri mereka.

"Apa yang membuatmu mau datang kemari?" tanya salah satu dari mereka.

"Aku penasaran dengan ini," kilah Jefferi menunjukkan kue di tangannya.

"Banyak yang mengatakan ini enak," sambungnya.

"Hei, itu memang enak," satu teman Jefferi menyambut antusias.

"Aku bahkan hampir setiap hari membelinya, hanya saja aku sering kehabisan," imbuhnya.

"Uniknya, satu orang hanya boleh membeli satu," sambung yang lain.

"Mengapa begitu?" tanya Jefferi heran.

"Karena kue itu dari cafe yang tidak bisa mengantarkan kemari dalam jumlah banyak sekaligus, dan pemilik cafenya berharap setiap orang bisa mencicipi setidaknya satu potong kue dari cafe itu," terangnya.

"Bukankah jika hanya itu, kita bisa mendatangi cafenya?" sambut Jefferi.

"Kue yang diantarkan kemari, tidak dijual di cafe,"

"Benar, aku pernah mencobanya, dan kue yang ada di sini tidak ada di sana,"

"Bahkan mereka juga menyediakan menu khusus di hari tertentu,"

Suara saling menimpali dari teman-temannya membuat Jefferi tersenyum tipis dan berencana untuk datang langsung ke cafe itu.

Ia mulai mengigit kue ditangannya, lalu tertegun sesaat setelah gigitan pertamanya menyentuh lidah.

'Ini benar-benar terasa sangat lembut, dan rasa manisnya tidak terlalu kuat, aroma dari buah dan susu didalamnya juga seimbang . Sangat cocok dimakan kapan pun. Entah itu pagi, siang atau malam,' batin jefferi.

"Bagaimana? Berbeda dengan yang biasa dijual di cafe atau toko kue lain bukan?" tanya salah satu dari mereka menyadari raut wajah Jefferi.

"Kuakui, ini benar-benar berbeda, bahkan rasa manisnya tidak menempel di tenggorokan," jawab Jefferi.

"Bagaimana kalau kita ke sana?" tawarnya.

"Kurasa kalau kita pergi bersama akan menyenangkan, kudengar cafe itu nyaman untuk bersantai," ujarnya antusias.

"Baiklah, aku ikut," jawab Jefferi.

...@@@@@@@@@@...

Cafe dengan interior hangat, dinding berwarna abu gelap dan lantai coklat kayu. Lampu gantung berbentuk lentera memberikan kesan unik dari cafe itu, disetiap meja memiliki satu tanaman kecil yang membuat suasana lebih segar.

Meja dan kursi pun tersedia dengan jumlah berbeda. Satu baris didekat jendela hanya menyediakan dua kursi untuk satu meja, meja di sampingnya memiliki jumlah kursi empat, dan di sudut lain memiliki meja lebih rendah dengan sofa yang bisa memuat sepuluh orang.

Dan disanalah Jefferi dan teman-temannya duduk. Seorang pelayan segera menghampiri mereka, mencatat semua pesanan yang mereka sebutkan, lalu pergi setelah memastikan semua pesanan telah selesai disebutkan.

Suara lonceng cafe diikuti dengan seseorang yang melangkah masuk membuat pandangan Jefferi tertuju pada orang itu. Dalam hatinya merasa lega ia bisa menemui orang itu dengan mudah hanya dengan datang ke cafe dilain kesempatan.

"Hei, bukankah itu pria yang mengantar kue ke universitas kita dua hari terakhir?" bisik teman wanita Jefferi.

"Eeehh,,, benar-benar,,, ahh,, bahkan dari sini saja dia terlihat tampan," timpal yang lain.

"Tck,,, sekarang mata kalian hampir keluar dari tempatnya," decak teman pria Jefferi.

"Sepertinya dia kurir yang sangat dipercaya cafe ini," sela Jefferi.

"Aku juga berpikir sama setelah melihat ini,"

"Silakan pesanannya,"

Seorang pelayan menyela percakapan mereka seraya meletakkan semua pesanan mereka. Namun, hal itu tidak membuat Jefferi mengalihkan pandangan dari seseorang yang tidak lain adalah Claira.

"Istirahat dulu saja, sisanya di antar nanti," ujar pelayan cafe pada Claira.

Samar-samar Jefferi bisa mendengar percakapan mereka, begitu juga dengan teman-temannya.

"Dan mengecewakan pelanggan? Tidak akan!" jawab Claira cepat.

"Kamu bahkan belum beristirahat setelah mengantarkan kue siang ini," sambutnya dengan suara khawatir.

"Hanya ini dan satu lagi yang terakhir, setelah itu aku bisa beristirahat dengan tenang," ujar Claira tersenyum lebar.

"Aku pergi dulu," sambungnya seraya membawa beberapa kotak kue di kedua tangannya.

"Woah,,, dia bekerja sangat keras,"

Decakan kagum keluar dari mulut teman-teman wanita Jefferi, membuat beberapa pria di depan mereka berdecak kesal.

Jefferi masih terus menatap Claira sampai sosok yang masih ia anggap sebagai pria itu menghilang dari pandangannya, menjalankan sepeda motor dengan box yang terisi penuh dengan kotak kue.

'Dia harus di beri peringatan sesekali, mari kita lihat sampai sejauh mana dia akan bertingkah,'

...@@@@@@@@...

. . . .

. . . .

To be continued...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!