NovelToon NovelToon

Tawanan Hati Sang Presdir

Careless

Siang itu di kantin perusahaan...

Jason, yang menjabat sebagai Presiden Direktur, melangkah gagah di depan para staf dan karyawan yang sedang menikmati makan siang

"Wah, Pak Jason ganteng banget!"

"Sstt... Keren, sumpah!"

"Ough, senyumannya bikin jantungku deg-degan," bisik para karyawan wanita yang duduk dalam satu meja, kehilangan selera makan saat Jason Antonio lewat.

Pria itu tampak gagah dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, rambutnya yang sedikit berantakan tapi tetap terlihat trendy, pakaian formal yang rapi. Ia memiliki tinggi tubuh 190 cm, dan otot-otot yang kekar, membuat semua mata tertuju pada pria berparas tampan dan menawan tersebut.

Terkecuali Cindy, yang tampak sibuk dengan layar ponsel sambil menggenggam gelas jus alpukat.

Tanpa sengaja, keningnya yang licin terbentur dada bidang Jason, membuatnya berhenti dan berubah kaku, tanpa di sadari gelas yang ia genggam meluber, sehingga jus itu sedikit tumpah mengenai pakaian pria tersebut.

"Hais!" Jason memekik kesal atas kecerobohan Cindy.

"Hei, kalau jalan hati-hati dong!" bentak Cindy tanpa menatap wajah lawan bicaranya, tetap fokus dan serius dengan ponsel.

Jason membuka kaca mata hitamnya dan mendongak ke bawah, memandangi wajah Cindy yang terlalu berani, membuat wanita itu langsung menengadah ke atas dan tersenyum cengo.

Sementara, di belakang terdengar backsound sorakan karyawan lain.

"Diam!" Teriak Jason menginterupsi, sesaat suasana menjadi hening, lalu fokus Jason kembali pada Cindy. "Kamu tidak tahu siapa yang kamu hadapi?" tanyanya dengan nada tinggi.

Cindy mengangguk dengan kedua mata indah yang berbinar ketika menyadari lawan bicaranya bukan sembarang orang, melainkan sosok yang sangat penting di perusahaan tersebut.

Sementara itu, dua pengawal Jason berada di belakang, menatap Cindy dengan sebelah mata.

Wanita berambut pendek sebahu itu memandang Jason dengan kaku, sambil menelan ludahnya.

"Pak Ja...Ja... Ja..." Cindy tergagap.

"Sejak kapan nama saya berubah menjadi Jaja?" bentak Jason, sementara Liam, pengawal setianya, mengelap noda bekas jus alpukat di blazer Jason dengan sangat hati-hati.

"Eh, maksud saya Pak Jason," kata Cindy mencoba menetralkan rasa gugupnya sembari menghela nafas dalam.

"Lihat apa yang sudah kamu lakukan?!" Jason menunjuk blazernya yang sedikit kotor akibat ulah Cindy. Gadis itu tersenyum manis.

"Saya minta maaf, Pak," ucapnya, gugup, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aduh, kok aku bisa ceroboh begini, sih?" batin Cindy.

Jason menggerakkan kedua mata sebagai isyarat agar dua pengawalnya membawa Cindy ke ruangannya.

Liam dan Rey segera menggelandang Cindy secara paksa.

"Hei, saya mau dibawa kemana?" teriak Cindy, berusaha melepaskan diri dari genggaman mereka.

Cengkraman tangan Liam dan Rey begitu erat di pergelangan Cindy, membuatnya merasa kesakitan.

"Hei, jangan kencang-kencang, bisa tidak?" bentaknya, tapi Liam dan Rey semakin geram.

"Diam!" balas Rey dengan gemas. Setelah tiba di depan ruangan Jason, kedua pria itu dengan kasar melempar tubuh Cindy hingga jatuh tepat di hadapan Jason yang sedang berdiri.

"Aww!" pekik Cindy, merasa kesakitan di bagian bokong dan pinggulnya.

"Berdiri!" bentak Jason yang berdiri dengan tegap dan gagah.

Cindy dengan susah payah mencoba bangkit sambil menahan rasa ngilu di bagian pinggul dan bokongnya di hadapan Jason dengan tatapan yang bergetar, namun tetap mencoba mempertahankan keberaniannya.

"Ssttth aahhh... " Gadis itu meringis sembari sedikit tertatih. Jason melempar senyum miring saat menatap tajam ke arahnya.

"Maafkan saya Pak Jason, saya sama sekali tak bermaksud membuat masalah," ucapnya dengan suara gemetar, gugup, dan tertunduk lemah.

Jason meraih dagu Cindy dengan satu telunjuk jari agar menatap tepat ke wajahnya, membuat gadis itu semakin gemetar tak karuan, aliran darahnya seketika terhenti, memucat dalam sekejap.

"Aish, menyebalkan!" batin Cindy, terpesona oleh keelokan paras Jason yang tak bisa di abaikan, tetapi ia merasa jengkel atas ulahnya.

"Baru kali ini menemukan perempuan yang berani padaku, hmm... tapi kalau di lihat-lihat, boleh juga," gumam Jason mengangguk, sedikit kesal tetapi merasa sangat tertantang akan keberanian gadis tersebut saat berhadapan langsung dengannya.

"Siapa nama kamu?" tanya Jason kini kembali tegak berdiri di hadapan Cindy, gadis itu kembali tertunduk, seraya menunjukan name tag yang sedari tadi ia masukan ke dalam saku kemejanya.

"Nama saya Cindy Amelia, usia 20 tahun, jabatan saya di bagian tim pemasaran, Pak," jawab Cindy dengan lantang dan tegas, tetapi tak berani menatap Jason kali ini.

Jason cukup puas mendengar keterangan dari gadis tersebut, ia kembali menunjuk noda di jasnya secara tegas.

"Lihat ini karena ulahmu!" tunjuknya. Cindy mengangguk lemah.

"Saya bisa mencucinya, Pak, sekali lagi saya minta maaf."

Jason tertawa kencang mendengar ucapan gadis itu, seolah menganggap urusan ini enteng.

"Kamu pikir ini blazer murahan? Saya tidak sembarangan mencuci blazer ini! Gajimu dalam beberapa tahun saja tidak bisa untuk membayar ganti rugi atas kecerobohanmu!" Jason tampak emosi suaranya meninggi memecah ruangan sepi, membuat degup jantung Cindy bekerja lebih cepat, dan semakin cepat, seakan berada di tepi tebing yang curam, dan tinggal sejengkal lagi ia akan jatuh, begitulah yang ia rasakan saat menghadapi pria ini.

Ia hanya bergeming tidak mampu menjawab, terancam dengan posisinya saat itu.

"Kamu dengar saya ngomong barusan?" bentak Jason tegas. Cindy mengangguk pelan, sekali lagi ia tak berani menatap wajahnya yang angkuh dan dingin.

"Dengar kok, Pak," jawabnya sambil mengelus dada. "Dia pikir aku ini budeg!" batinnya.

Jason menatap penampilan Cindy dari atas sampai bawah, membuat wanita itu semakin tegang dan terintimindasi.

"Gaya pakaianmu sangat norak, norak sekali, pasti kamu membeli kemeja dan rok murahan, ya?" komentar Jason sembari menyentuh ujung kain kemeja Cindy di bagian bahunya, membuat gadis itu semakin terjebak dalam situasi yang campur aduk.

"Aduh, selamatkan hamba, Tuhan..." keluhnya dalam hati saat Jason masih menahan di ruangannya saat ini.

Pria itu pun masih terpaku memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan, sementara waktu istirahat sudah habis.

"Pak, sudah pukul 1 loh, saya harus kembali bekerja," ucap Cindy, mencoba memecah situasi hening.

"Kamu lupa dengan siapa kamu berhadapan?" Jason semakin mendekat, hingga tubuh mereka nyaris tak berjarak.

"Oh, i..iya Pak, saya lupa," kata Cindy, terlihat kikuk.

Jason mengangguk dan kembali duduk di kursinya.

"Untuk saat ini, kamu saya maafkan. Tapi ingat! Jangan pernah mengulangi kesalahan kamu lagi, kalau tidak saya tidak segan-segan memperkarakan kamu! Paham?" tegasnya.

Cindy mengangguk, merasa lega setelah lolos dari situasi yang mendebarkan barusan.

"Ingat Cindy! Saat ini kamu berada dalam pengawasan saya! Dasar, karyawati ceroboh! Sana keluar!" usirnya tegas, membuat Cindy mengangguk paham dan tertunduk hormat di hadapan Jason.

"Terima kasih, Pak," ucapnya, kemudian keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang lega.

Ketika tiba di meja kerjanya, ia mendapat tatapan tajam dari rekan-rekan sesama staf yang sedang menggunjing ria.

"Huh, emangnya enak dimarahin Pak Jason," sindir Mira menatap sinis, Cindy hanya membalas dengan senyuman aneh ke arah rekannya tersebut.

"Jangan macam-macam, tahu sendiri kan akibatnya?" cetus Dian dengan nada ketus memperingatkan Cindy, dan mengingatkan jika Jason adalah sosok yang di segani.

Cindy mendelik ke arah mereka, merasa risih dengan situasi saat itu.

Dua jam berlalu...

Cindy, tergugah untuk membalas chat kekasihnya di tengah kepadatan jam kerja. Tangannya bergerak gesit mengetik di layar ponsel, namun ketika Jason tiba-tiba muncul di belakang, ia kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan ponsel yang sedang ia genggam ke bawah lantai.

Suara bariton Jason membuyarkan keheningan, membuat semua orang menahan tawa saat menatap ekspresi gugup Cindy.

Dengan lembut, Jason meraih ponsel Cindy yang tergeletak mengenaskan di bawah lantai, lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku blazernya.

"Pak, itu handphone saya," ucap Cindy, mencoba meminta kembali ponselnya yang di rampas.

"Kamu tahu ini jam kerja, kan? Kenapa malah main handphone?" tegur Jason, menatap tajam. Cindy yang tertangkap basah, terdiam tanpa berani membantah.

Jason pergi begitu saja, meninggalkan Cindy dalam kebingungan. Gadis itu merasa kesal pada diri sendiri.

"Apes," batinnya, menghela nafas dalam.

Rina rekan sesama staf, tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya atas kecerobohan Cindy.

"Belagu sih, udah tahu jam kerja, ini malah berani-beraninya mainin handphone, rasain!"

Cindy terdiam, merutuki diri sendiri. Meski begitu, jemarinya masih terus bergerak di atas keyboard komputer, dengan pikiran yang tidak sepenuhnya fokus pada pekerjaan.

...

Jason dengan isengnya mengambil ponsel Cindy, melihat beberapa pesan dari Alvian, kekasih Cindy, yang terpampang di layar beranda.

["Sayang, kamu ada duit kan?"]

["Aku pinjam 10 juta buat depo, please bantu aku, katanya kamu sayang sama aku."]

["Sayang, kok gak jawab sih?"]

Jason mengernyitkan dahi saat membaca pesan tersebut.

"Kok bisa ada laki-laki yang nekat meminjam uang kepada pacarnya? Benar-benar tidak tahu malu, dan tidak punya harga diri sebagai seorang laki-laki!" gumam Jason, matanya terbelalak tidak percaya saat menatap layar ponsel karyawatinya tersebut.

Di satu sisi, ia merasa iba pada Cindy yang tampaknya hanya dimanfaatkan saja oleh Alvian. "Dasar perempuan bodoh! Kenapa dia mau-maunya di peras oleh laki-laki seperti itu? Aku benar-benar tak habis pikir," lanjutnya sambil menggelengkan kepala, wajahnya memperlihatkan amarah.

Setelah cukup puas, ia meletakkan ponsel Cindy dengan kasar di atas meja, lalu kembali fokus pada pekerjaannya, sehabis mengawasi karyawan yang bekerja tadi.

Setelah jam pulang tiba...

Cindy melangkah dengan berat menuju ruangan Jason untuk meminta kembali ponselnya yang dirampas. Setelah tiba di depan pintu ruangan berlatar putih itu, ia mengetuk dengan pelan. "Permisi," serunya lirih.

Jason, yang masih sibuk dengan tumpukan pekerjaan, mendengar ketukan itu. "Silahkan masuk!" balasnya.

Cindy membuka pintu perlahan dan memasuki ruangan dengan senyum termanis yang ia miliki, namun Jason memandangnya dengan tatapan dingin, dan seringai tipis.

"Ada perlu apa kamu kemari?" tanyanya tegas.

"Maaf Pak, saya mau mengambil ponsel saya, bolehkah? Boleh ya, please!" pintanya, dengan penuh harapan.

Jason melemparkan senyum sinis. "Kemari!" titahnya singkat sembari melambaikan tangan.

Cindy mendekati meja Jason dan berdiri di seberangnya dengan gugup.

"Kamu akan mengulangi kesalahanmu lagi atau tidak?" tanya Jason dengan nada tajam, membuat Cindy menggeleng pelan.

"Tidak akan lagi, Pak, saya menyesal," jawab Cindy, mencoba memohon.

Jason menulis surat peringatan untuknya. "Ini SP 1 untukmu," ucap Jason sambil menyerahkan secarik kertas tersebut kepada Cindy. Ia memperlihatkan kertas itu tepat di hadapan wanita tersebut agar bisa membacanya dengan jelas.

Cindy memegang secarik kertas dengan mata terbelalak saat membaca detail pelanggaran dan konsekuensi yang akan ia terima jika melakukan kesalahan lagi.

Tatapan kosongnya memperlihatkan kecemasan yang mendalam, seolah-olah dunia di sekelilingnya berhenti berputar. Rintik keringat mulai menghiasi dahinya, menandakan ketegangan yang melanda.

"Kamu paham?" tanya Jason dengan suara tegas, menatap Cindy dengan penuh keputusan.

Wanita itu mengangguk pelan, merasakan aliran darahnya yang seolah-olah berhenti mengalir. Dalam hatinya, ia berdoa agar tidak sampai berbuat kesalahan yang ke tiga kalinya.

"Jangan sampai aku dipecat," batin Cindy, menahan rasa tegangnya.

Jason meraih ponsel Cindy dengan tangan yang kuat, menyerahkan benda itu kepadanya dengan gerakan tegas. "Nih, ambil handphone jadulmu! Saya tidak butuh!" ucapnya dengan nada sinis.

Kedua mata Cindy berbinar, dan ia segera mengambil ponsel itu dengan hati-hati, seolah-olah itu adalah harta yang paling berharga baginya. "Terima kasih, Pak Jason, saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi," ucapnya, mencoba menunjukkan penyesalan.

Jason hanya mengangguk singkat, tanpa ekspresi ramah di wajahnya.

"Ingat satu hal, jangan jadi wanita bodoh yang bisa dimanfaatkan oleh laki-laki!" pesan Jason dengan tajam, seperti menusuk hati Cindy. Kata-kata itu membawa ingatan yang menyakitkan tentang Alvian.

"I-iya, Pak," jawab Cindy, mengangguk pelan, sementara hatinya terasa hancur merasa ucapan Jason menunjukan sebuah fakta, ia seakan tertampar.

Setelah ponselnya kembali, Cindy berpamitan dan pulang setelah mengisi absensi pulang.

Jason berdiri tegak menghadap jendela kantornya, menatap ke bawah dengan sorotan tajam.

Di bawah, Cindy tampak berjalan menuju sebuah mobil hitam yang berhenti di drop-off perusahaan. Jason yakin bahwa mobil itu di kendarai oleh kekasih Cindy.

Raut wajah gadis itu terlihat sangat bahagia, tersenyum lebar saat masuk ke dalam mobil. Jason mengernyitkan kening, melempar senyum kecut melihat adegan itu.

Baginya, Cindy adalah wanita polos dan bodoh yang dengan mudah dimanfaatkan oleh kekasihnya tersebut.

Jason merasa seolah-olah dunia tidak adil, kenapa wanita sebaik Cindy harus terjerat dalam hubungan yang mungkin tidak sehat. Hatinya terasa kesal dan sedikit kasihan melihat gadis itu yang tampak begitu bahagia, tanpa sadar akan situasi yang sebenarnya.

...

Bersambung...

Jangan lupa tinggalkan jejak komentar jika suka dengan cerita baru Author.

Terimakasih...

Terminated

Cindy membuka pintu mobil, lalu masuk dengan senyum lebar yang ia pertahankan sejak kedatangan Alvian yang menjemputnya. Seketika bau alkohol menyeruak ke indera penciuman Cindy saat berada di dekat pria bergaya slengean itu.

"Astaga! Kamu mabuk lagi?" protes Cindy, kesal dengan kebiasaan Alvian yang suka berjudi, mabuk-mabukan, dan ugal-ugalan.

Alvian mengeluh, "Aku stres! Aku kalah lagi!" sambil memegang kemudi dengan gesit menginjak pedal gas, meninggalkan area perusahaan.

Wajah Cindy memucat, kecewa memikirkan masa depan hubungannya dengan Alvian. "Kalau dia terus begini, gimana nantinya, coba?" batin Cindy merasa kesal sambil memilin tali tasnya.

Alvian memacu laju kendaraan roda empat tersebut, membuat Cindy merasa tegang dan refleks memegang seatbelt seraya berteriak, "Al, berhenti! Aku gak mau mati muda!"

Alvian membalas dengan tawa renyah, "Hahaha... Santai aja keleus! Kalau pun harus mati, kita akan mati sama-sama."

Cindy semakin panik, "Jangan gila, Alvian! Turunin aku!" pintanya saat mobil terus melaju tanpa batas hingga akhirnya berhenti dengan mendadak, sampai terdengar bunyi decitan antara ban dan jalanan beraspal.

Cindy mengusap dada lega, "Syukur, syukur!"

Tiba-tiba ti tengah ketegangan yang masih merajai, Alvian tanpa sabar meminta uang 10 juta yang membuat gadis itu semakin kesal dan frustasi.

Ini bukan kali pertama Alvian memanfaatkan situasi untuk meminta uang padanya.

Cindy memijat pangkal hidungnya, mencerna permintaan terlalu sering dari pria tersebut

"Mana?" sentak Alvian.

Cindy tak bisa mengelak, karena Alvian mengancam akan meninggalkan jika permintaannya tak dipenuhi.

"Iya, sabar sebentar!" Cindy mengeluarkan ponsel, mentransfer saldo 10 juta lewat M-Banking.

Ponsel Alvian berbunyi, pertanda saldo telah berhasil masuk. Ia bersorak, dan langsung mengecup pipi Cindy.

"Makasih sayangku, aku janji nanti aku pasti ganti," ucapnya, tapi Cindy tahu itu hanya tipu muslihatnya saja.

Alvian tak akan mungkin mengganti uang yang sudah masuk ke dalam rekeningnya.

Cindy mengungkapkan segenap perasaannya, berharap Alvian akan mengerti.

"Aku mohon, jangan kamu hamburkan uang itu. Kamu tahu, aku cari uang gak gampang. Kadang otakku ngelag kalau lagi pusing dan banyak tekanan dari atasan," ujarnya penuh penekanan. "Tadi, aku habis dimarahi Pak Jason gara-gara sibuk balas chat dari kamu. Aku dapat Surat Peringatan satu darinya, dan dia bilang, kalau sampai aku satu kali bikin kesalahan lagi, aku terancam dipecat dari perusahaan," lanjut Cindy berharap akan di mengerti, sementara Alvian fokus menyetir tanpa mendengarkan sepatah kata pun keluhan gadis tersebut.

"Al, kamu dengar gak aku ngomong?" Cindy menepuk bahunya keras, pria itu menoleh pura-pura peduli meski sebenarnya tidak memperhatikan masalah Cindy dan tak ingin terlibat di dalamnya, yang ia pikirkan adalah kesejahteraan diri sendiri.

"Iya aku dengar kok. Hmmm... Ya, yang sabar aja, namanya juga kerja, dimana-mana gak ada yang enak, kamu nikmatin saja prosesnya. Lagian, uang yang kamu kirim ke aku, sebagian aku tabungin juga buat modal nikah kita," kata Alvian memberikan angin segar pada Cindy.

Gadis itu tersenyum berharap ucapan Alvian benar adanya.

"Wah, kamu serius?" tanya Cindy, diangguk cepat oleh pria tersebut.

"Ya, tentu sayang. Makannya rajin-rajin simpen uang di aku. Dijamin aku ini kan orangnya amanah," tutur Alvian dengan seribu satu akal bulusnya untuk mengelabui Cindy.

Sementara gadis itu tersenyum membayangkan bisa menikah dan berumah tangga dengan Alvian, pemuda yang menjalin kasih dengannya semenjak duduk di bangku SMP, itu sebabnya Cindy sangat mencintai pria tersebut, karena perjalanan cinta mereka sudah sangat lama.

Sesaat setelah mobil mereka tiba di depan gerbang rumah Paman dan Bibi Cindy, gadis itu mengingat masa kecil yang mengharuskan ia jauh dari orangtuanya. Cindy telah merantau sejak lulus SD dan dirawat oleh Paman dari pihak ibu. Di rumah itu, ia tinggal bersama saudara sepupu yang seusia dengannya.

Tidak hanya dimanfaatkan oleh Alvian, Cindy juga sering dimanfaatkan oleh Bibi dan sepupunya tanpa sepengetahuan sang Paman.

...

"Al, kapan sih kamu ajak aku jalan?" tanya Cindy saat membuka seatbelt, namun Alvian selalu mencari alasan.

"Ehm... Lain waktu saja, aku ada acara sama teman-teman dulu sekarang. Maaf ya sayang." ia beralasan, sebenarnya sudah memiliki janji dengan wanita lain tanpa sepengetahuan Cindy.

"Alesan mulu bisanya, huh!" gerutu Cindy kesal, keluar dari mobil dan menutup pintunya kencang.

Alvian membuka sedikit kaca saat akan berpamitan.

"Maaf ya," ucapnya tanpa menunjukan rasa kepedulian.

Gadis itu terdiam sejenak. "Besok aku pinjam mobilmu buat ke kantor, boleh?" pintanya, Alvian hanya mengangguk pelan, dan berlalu.

Saat Cindy melangkah ke halaman rumah, Feny sudah menantinya di teras.

"Mana uang bulanan?" tagihnya, merasa berhak untuk memeras Cindy karena ayahnya telah menyekolahkan Cindy sampai S1.

Padahal, semua gaji Cindy sudah diserahkan pada Alvian, tinggal 5 juta yang tersisa, itu pun sisa gaji sebelumnya.

"Aduh, kalau aku kasih semuanya sama Feny dan Tante Tia, lalu aku sendiri bagaimana?" batin Cindy dalam kebingungan, Feny semakin mendesak.

"Cepatlah!"

Cindy tergugup, ia kesulitan untuk berpikir.

"I-iya Fen." Ia segera mentransfer semua saldo terakhirnya kepada rekening Tia, sang Bibi.

"Sudah masuk ke rekening Tante Tia, coba dicek," kata Cindy dengan perasaan lemas.

Ia memasuki kamar dengan langkah berat, melempar tas ke sembarang arah, dan menengkurapkan tubuhnya di atas kasur.

"Dunia rasanya tak adil, kenapa sulit bagiku menemukan ketenangan," batin Cindy, pikirannya melayang saat melakukan kecerobohan kepada Jason. "Aku takut kalau aku melakukan kesalahan lagi sama Pak Jason. Kalau sampai itu terjadi, aku bisa dipecat. Lalu, perusahaan mana yang akan menerimaku kalau seandainya Pak Jason memblacklist namaku karena kelalaianku sendiri?" tampak kecemasan di wajah Cindy, terlebih ia memikirkan Alvian juga, sehingga semua kepenatannya bercampur jadi satu.

"Tuhan, apakah dia benar-benar mencintaiku atau hanya ingin memanfaatkanku saja?" Cindy kini terasa gundah gulana, ia diselimuti perasaan yang tak karuan.

...

Keesokan paginya, Alvian menunggu Cindy untuk mengantarnya bekerja.

"Aku pinjam mobilmu!" Pinta Cindy, ingin menunjukkan kepada rekan kerjanya bahwa ia juga memiliki kendaraan sendiri, karena selama ini mereka melihat Cindy selalu menggunakan kendaraan umum dan terkadang ojek.

"Pinjam? Enggak! Aku juga ada keperluan lain!" tolak Alvian, wajah Cindy terlihat kecewa karena pria itu tidak bisa memahami perasaannya walau sekejap. "Udah cepat naik, dari pada kamu telat. Gak usah banyak gaya deh!" titah Alvian tanpa sabar.

Cindy naik ke dalam mobil dengan wajah cemberut tanpa banyak berbicara.

"Eh, kamu itu belum benar-benar bisa menyetir, kalau sampai kamu celaka, bagaimana?" kata Alvian menganggap remeh.

Sedangkan, Cindy merasa dirinya sudah mahir mengendarai mobil, tetapi kata-kata Alvian seolah mematikan semangatnya pagi ini.

"Bilang aja kamu gak mau aku pinjam mobilmu! Gitu aja pake banyak alasan!" cetus Cindy kesal, memantik amarah Alvian, sehingga ia kembali ugal-ugalan di jalanan.

Sampai di perusahaan, mobil Alvian tak sengaja menabrak belakang mobil seseorang hingga menyebabkan goresan dan plat nomernya hampir copot.

Cindy, yang sedari tadi terdiam dalam lamunannya sendiri, tak menyadari peristiwa tersebut, tentu hal itu akan mengancam reputasinya.

"Sudah sampai, cepat turun!" Alvian menyuruh tanpa rasa bersalah.

Cindy tersadar dari lamunannya, membuka seatbelt, dan keluar dari mobil. Ia masuk ke lobi perusahaan dan mengisi absen otomatis dengan pemindai wajah. Mesin tersebut beberapa kali enggan memverifikasi wajah Cindy yang tampak lesu, menyebabkan antrian di belakangnya.

"Hei, cepatlah, lama amat!" desak seorang di belakang.

Cindy mencoba sekali lagi, akhirnya berhasil, dan dia melangkah masuk ke dalam lift dengan perasaan yang terombang-ambing antara kesal dan kebingungan.

Cindy dengan hati berdebar memasuki ruangan Hermawan, yang bertugas di bagian administrasi keuangan.

"Permisi," sapanya dengan suara bergetar.

"Ya, silahkan masuk!" Hermawan menanggapi ramah. Cindy tersenyum nervously saat duduk di kursi yang disediakan.

"Ada apa, Cindy?" tanya Hermawan tentang keperluan gadis itu.

"Pak, saya bisa kasbon gak 15 juta?" pinta Cindy, Hermawan mengecek layar monitornya mengenai riwayat dan data Cindy.

Namanya bersih karena ia tak memiliki hutang ke perusahaan, dan baru kali ini gadis itu memberanikan diri.

"Oh, bisa-bisa," kata Hermawan, membuat Cindy tersenyum lega. "Tapi cicilannya 3 kali gajian ya," lanjutnya. Cindy mengangguk setuju, merasa tak memiliki cara lain selain meminjam uang ke perusahaan untuk kebutuhan sehari-harinya.

Sementara itu, Luki yang menjabat sebagai security terkejut melihat garis di belakang mobil Jason, merasa ada ancaman. Ia segera memotret belakang mobil tersebut dan mengirim rekaman CCTV saat kejadian lewat pesan chat ke ponsel Jason. Karena kejadian itu terjadi saat Luki berada di toilet. Sementara, Robi, rekannya, sedang tidak masuk karena sakit, sehingga Luki bertugas sendirian pagi itu.

Jason membaca pesan dari Luki, membuka rekaman CCTV, dan menghela nafas kasar, rahangnya tegang. "Kurang ajar! Dia bikin ulah lagi!" gumam Jason penuh amarah terhadap perbuatan Cindy.

Ia mengangkat gagang telepon dan menekan tiga digit angka yang menghubungkan langsung ke telepon Cindy. Saat Cindy tengah sibuk dengan komputernya, ia terhenti mendengar bunyi telepon di sampingnya. Segera, Cindy meraih gagang telepon dan mendekatkan ke telinga. "Halo," sapanya.

"Cepat ke ruangan saya, sekarang!" titah Jason, suara yang sangat dikenal oleh Cindy.

Kecemasan tergambar di wajahnya yang tegang. Ia beranjak dari duduk, langkahnya berat menuju ruangan sang bos. "Aduh, perasaanku jadi tak enak," batin Cindy.

Saat tiba di depan pintu, ia mengetuk dengan kaku.

"Masuk!" perintah Jason dari dalam, Cindy segera membuka pintu hingga terdengar suara berdecit.

"Kemari kamu!" lanjut Jason tanpa sabar dan tegas.

"Ada apa, Bapak suruh saya kemari?" Cindy memelankan langkahnya, kini berada di depan Jason, hanya terhalang oleh meja.

Jason menunjukkan kesalahan Cindy di layar laptopnya.

"Hais!" Gadis itu menepuk jidat, merasa tak melakukan kesalahan, tetapi itu adalah ulah Alvian. Namun, tetap saja ia yang harus menanggung kesalahan Alvian terhadap Jason.

"Mobil pacarmu sudah menyerempet mobil saya! Kamu tahu berapa harga mobil saya?" pertanyaan ini seakan tak mampu di jawab oleh Cindy.

Gadis itu menggeleng sambil tertunduk lesu. Harga mobil mewah Jason mencapai triliunan rupiah, dan mobil itu sudah menjadi identitas Jason di perusahaannya.

"Aduh Pak, saya minta maaf, saya akan bawa mobil Bapak ke bengkel untuk diperbaiki dengan sebaik mungkin," kata Cindy penuh permohonan.

Jason menggeleng tak habis pikir, merasa mobil mewahnya tak cocok jika berderet dengan mobil-mobil murahan di bengkel yang sering ia temui di pinggir-pinggir jalan.

"Segampang itu kamu ngomong? Reparasi di bengkel biasa? Kamu pikir mobil saya odong-odong?" sentak Jason, Cindy gugup sambil menggigit bibir bawahnya, sehingga warna lipstiknya sedikit memudar.

"Maaf Pak, tapi apa yang harus saya lakukan?"

"Mulai detik ini kamu saya pecat!" Jason tegas berkata, Cindy tak percaya dengan ucapannya, ini seperti sebuah mimpi buruk yang tak pernah ia duga.

Bayangan-bayangan buruk menghantam pikiran Cindy. Ia tak bisa membayangkan kehilangan Alvian jika ia tak memiliki uang dan terutama kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber penghasilannya selama ini.

"Nama kamu masuk ke daftar hitam, itu artinya kamu akan sulit menemukan pekerjaan di perusahaan manapun! Mengerti? Sekarang kamu keluar!" usir Jason. Cindy tertunduk lesu, melangkah tanpa gairah, rasanya benar-benar hancur dalam sekejap.

Jason, yang dikenal sebagai sosok galak, dingin, dan tanpa toleransi, menggerutu kesal melihat keadaan mobilnya.

"Bangsat!" teriaknya sambil menendang kursi hingga terseret dan mengenai dinding dengan keras.

Rasa ingin memberikan pelajaran telak kepada orang yang diduga kekasih Cindy yang telah merusak mobilnya menyala-nyala dalam diri Jason.

Sementara itu, Cindy tampak putus asa dan menangis tersedu-sedu. Dengan gemetar, ia mengemas barang-barangnya di atas meja dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak. Semua rekan menatapnya dengan simpati, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak untuk membantu.

Saat Cindy keluar, Jason diam-diam mengamati dari atas jendela kantornya. "Kasihan juga dia, sebenarnya dia tidak bersalah, tapi tetap saja aku kesal!" batin Jason tanpa ampun. "Lagian, aku gak peduli! Ngapain juga aku mikirin dia, dia siapa aku?" gumamnya merasa terlalu terpaku pada nasib Cindy, tetapi mencoba menepis kepedulian itu.

...

Bersambung...

Jason Liu

Jason Antonio, atau lebih akrab di sapa Jason Liu 刘杰森 (Liú Jiésēn)

Ia merupakan seorang pemimpin yang berpengalaman, mengemban tanggung jawab besar sebagai salah satu tokoh kunci di perusahaan FMCG terkemuka ini. Ia telah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan raksasa Tiongkok, membawa nama QiXin Grup merajai pasar global dengan produk makanan, kebersihan, dan kesehatan.

Di usianya yang sudah menginjak 30 tahun bukanlah penghalang bagi Jason untuk meraih keberhasilan.

Lulusan S3 Manajemen Bisnis dari Oxford University, ia membuktikan bahwa dedikasi dan kecerdasannya membawa kejayaan. Jason dikenal sebagai individu yang tegas, otoriter, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Sikapnya terhadap wanita terkesan dingin; ia tidak pernah terlibat dalam hubungan serius dan jarang terlihat berdekatan dengan lawan jenis. Karena alasan itulah, beberapa karyawan menganggap Jason tidak memiliki minat terhadap lawan jenis.

...

Setelah memastikan Cindy keluar dari area perusahaan, Jason mempertahankan senyum miring penuh ejekan.

"Dia terlalu polos dan lugu," gumamnya, lalu ia kembali duduk di kursi kebesarannya dengan tegap.

Tiba-tiba, Hermawan muncul untuk menyampaikan hal penting pada Jason yang berhubungan dengan dipecatnya Cindy.

"Permisi Pak," sapa pria berusia 34 tahun tersebut tertunduk sopan.

"Masuk dan duduklah!" titah Jason dengan penuh ketegasan.

Segera Hermawan mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan langsung dengan sang presdir.

Ia memberi tahu bahwa Cindy baru saja meminjam uang perusahaan.

"Apa?" Jason kembali bangkit dari duduknya. Biarpun nominal yang Cindy pinjam mungkin tidak seberapa bagi Jason, namun, baginya yang selalu menghitung rugi, ia tak akan meloloskan Cindy begitu saja.

Segera ia menghubungi Cindy kembali, tak ingin uang yang dipinjam hangus begitu saja, atau resikonya data diri Cindy akan menjadi buruk, ia akan kesulitan mencari pekerjaan dan mendapat kepercayaan dari orang lain.

Ketika berada di dalam taksi, ponsel Cindy bergetar, ia melihat nama Jason Liu memanggilnya. Segera ia mengangkat panggilan itu dengan jemari yang bergetar.

"Halo Pak, ada apa?" tanya Cindy dari telpon.

"Kamu meminjam uang perusahaan tanpa memberi tahu saya! Kamu harus mengembalikan uang itu dalam tempo 3 hari! Saya tidak mau tahu!" pinta Jason tegas di setiap tutur katanya, membuat jantung Cindy seperti genderang perang.

"A-apa? Selama 3 hari? Tapi, Pak itu terlalu cepat, sedangkan saya belum mendapat pekerjaan lain," kata Cindy, ini seperti mimpi buruk dalam hidupnya.

"Saya tidak mau tahu, kalau tidak kamu akan terima konsekuensinya. Paham?"

Cindy mengangguk lemah, meski ia sadar Jason tak akan bisa melihat pergerakannya.

"I-iya Pak, akan saya usahakan," ucapnya dengan suara gemetar, tak yakin.

Cindy merasa heran, mengapa ia mendapat kesialan bertubi-tubi selama 2 hari ini. Ketika taksi itu sampai di depan gerbang, ia keluar setelah membayar sambil membawa box yang berisi beberapa perlengkapan kantornya. Sementara di dalam rumah, sang Tante dan sepupunya malah asyik membuat konten. Mereka berjoget riang di depan kamera, karena sang Paman sedang sibuk di luar kota sebagai seorang guru SMA.

Cindy menggeleng melihat tingkah laku mereka yang pemalas, doyan menghamburkan uang. Mereka bahkan membiarkan beberapa barang-barang kotor menumpuk jika tidak Cindy yang mengerjakannya.

"Astaga!" pekiknya. Tia dan Feny melirik ke arah gadis itu.

"Cindy, kenapa kamu sudah pulang jam segini?" bentak Tia bertanya dengan tajam.

"Apa, jangan-jangan kamu dipecat?" timpal Feny dengan senyum sinis.

Cindy tak tahu harus mengatakan apa pada mereka, ia pun tertunduk lesu sambil menggenggam box barang-barangnya.

"Ayo ngaku! Kamu pasti habis dipecat, kan?" goda Feny. Cindy mengangguk pelan.

"I-iya, Fen, sebenarnya aku baru saja dipecat gara-gara Alvian yang menyerempet mobil bosku," imbuhnya. Mendengar hal itu, Tia murka, ia menyoroti wajah tak berdaya sang ponakan dengan tajam.

"Apa? Dipecat? Itu artinya kamu tidak bisa memberikan kami uang? Ah! Itu tidak bisa! Kamu harus mencari pekerjaan lain yang bisa menghasilkan uang yang sangat banyak!" cerocos Tia tanpa berperasaan.

"Kamu ada uang lagi gak?" pinta Tia tanpa mempedulikan kondisi Cindy saat ini. Gadis itu menggeleng, uang yang ia pinjam dari perusahaan sudah ia transfer sebagian kepada orangtuanya, sedangkan sisanya akan ia gunakan untuk modal usaha.

"Jangan bohong! Masa, si Alvian kamu kasih, sedangkan sama kami pelit. Ingat! Kamu ini hanya numpang di sini!" kata Feny, ucapan itu membuat Cindy heran.

"Dari mana Feny tahu kalau aku sering meminjamkan uang sama Alvian?" Ia terdiam, karena untuk melawan hanya akan percuma, Feny dan Ibunya terlalu licik.

"Cepetan, gak usah bohong!" desak Tia. Feny dengan kasar merampas tas saudara sepupunya tersebut, dan mengambil ponsel Cindy.

"Apa password nya? Cepetan buka!" desak Feny, Cindy dengan terpaksa memberikan sejumlah sisa uang di ATMnya, ia transfer ke rekening Tia. Ia tak tahu bagaimana nasib besok atau lusa, ia hanya akan menyerahkan semuanya pada takdir.

"Aku benar-benar pasrah, Tuhan!" gumamnya, melangkah lunglai menuju kamar. Beberapa temannya kerap kali memberi nasihat agar Cindy tinggal sendiri, tetapi ia tak enak pada sang paman, jika ia meminta untuk tunggal berpisah, pasti akan di tuduh yang bukan-bukan.

Ingin bebas dari pantauan mereka. Ini sangat menyulitkan bagi Cindy sebagai seorang perantau. "Apa yang musti aku lakukan?" batinnya berkeluh kesah. "Apa aku harus minta bantuan sama Alvian?"

Cindy bergegas ke bengkel milik ayah Alvian, mencari Alvian dengan penuh harapan.

"Om, Alvian ada?" tanyanya ramah kepada Hilfan, yang sibuk mereparasi mobil pasiennya.

"Baru saja pergi," jawab Hilfan. Cindy mengangguk, yakin Alvian pasti sedang di arena perjudian temannya.

Dengan hati berdebar, Cindy melangkah ke rumah Billy. Tepat seperti dugaannya, Alvian sedang sibuk ngehost secara live, atau live streaming gambling, ia fokus pada layar komputer yang dilengkapi kamera. Ia dan komplotannya tengah asyik bermain game yang sudah akrab di telinga masyarakat, sebuah game yang melibatkan judi dengan menggunakan uang.

Cindy mendekati pria itu, sementara Alvian sibuk menjawab komentar-komentar pengikutnya.

"Ya gais, aku lagi pengen, kira-kira siapa yang mau melayaniku?" tanya Alvian seperti orang yang sedang mabuk saat menjawab komentar lewat ucapan, sementara yang menonton live streaming-nya kebanyakan wanita.

"Ah, aku mau dong."

"Astaga Koh Alvian, aku mau juga dong, mending sama aku aja, aku pintar goyang di jamin kamu puas."

"Kira-kira udah ada yang punya belum Koh? Aku boleh daftar, kan?" Itulah komentar dari para penggemar wanita.

Cindy berada di belakang Alvian, membaca komentar-komentar tersebut dengan emosi bercampur.

"Koh, di belakangmu siapa tuh?" komentar seseorang, membuat pemuda itu menoleh ke arah Cindy.

"Ngapain kamu di sini?"

"Harusnya aku yang tanya, kamu malah asyik-asyikan main judi sama balesin komentar cewe-cewe itu!" sentak Cindy, Alvian menyeret pergelangan tangan gadis itu ke arah lain.

"Kamu gak usah ganggu aku, aku lagi sibuk!" kata Alvian, memantik emosi Cindy.

"Sibuk apaan? Kamu harusnya cari kerja yang pasti Al! Kerjaan kamu nge game mulu, judi mulu, bagaimana masa depan kita? Kamu harus pikirkan itu!" cerocos Cindy, ia hampir saja putus asa, kedua matanya memerah.

"Alah, diam kamu, gak usah ikut campur!" Alvian kembali menuju ke kursi gaming nya.

Cindy mengikuti. "Al, tunggu!" teriaknya, tetapi Alvian tak menggubris sama sekali.

"Udah deh, sebaiknya kamu pulang, jangan gangguin aku!" usirnya.

"Tapi Al, aku butuh kamu, dan aku juga butuh uang, aku baru saja dipecat!"

Alvian yang hendak mengenakan kembali earphonenya, seketika terhenti saat mendengar penuturan Cindy.

"Oh ya? Jadi, kamu gak ada penghasilan lagi, dong?" tanya pemuda tersebut seakan tanpa empati.

Cindy menggeleng sembari sesegukan.

"Iya, makannya aku mau pinjam uang aku yang ada di kamu buat modal usaha," pintanya memohon, Alvian tersenyum kecut.

"Hah? Usaha apa? Ternak anak kodok?" ledeknya, membuat hati Cindy semakin hancur dan terluka, ia merasa percuma meminta pada Alvian, toh, ia tak akan mempedulikan keadaanya.

Cindy berjalan dengan langkah yang berat, batinnya dipenuhi dengan pertanyaan kepada dirinya sendiri, "Aku harus bagaimana, Tuhan?" Sementara itu, ia juga merenungkan bagaimana cara melunasi hutangnya kepada Jason.

"Oh ya, aku kan punya perhiasan, apa aku jual saja?" gumamnya mempertimbangkan, ia merasa buntu tak ada cara lain. Dengan hati yang berat, Cindy akhirnya memutuskan untuk menjual perhiasannya ke toko emas. Uang yang diperolehnya dari penjualan itu akan digunakan untuk membeli keperluan usaha.

Cindy memiliki bakat dalam membuat aneka kue dan dessert, dan ia berencana untuk mengembangkan bakatnya tersebut agar bisa mendapatkan penghasilan. Namun, uang yang diperolehnya dari penjualan perhiasan masih kurang untuk membayar hutang kepada Jason. Cindy hanya mampu mencicil sebesar 7 juta rupiah, dan ia merasa beban hutangnya semakin menghimpit.

Pagi itu, Cindy bersiap-siap untuk menjajakan kue buatannya menggunakan kotak makanan. Di sudut lain, Tia dan Feny tersenyum sinis.

"Cepat sana kerja! Biar bisa ngehasilin duit!" titah Tia dengan tajam. Cindy hanya bisa mengangguk, berusaha untuk tetap tegar meski hatinya teriris.

"Tante, Feny doakan aku ya, mudah-mudahan hari ini jualanku laris," kata Cindy penuh harap, berharap mendapatkan dukungan dari keluarganya. Namun, Tia dan Feny tidak berbuat apa-apa, bahkan Feny dengan kasarnya mendorong punggung Cindy.

"Aduh Fen, kamu itu!" pekik Cindy, merasa kesal dengan sikap Feny. Namun, tanpa menghiraukan celaan itu, Cindy melangkah ke luar dengan penuh harapan, berusaha keras untuk menjual kue-kue buatannya.

Di sisi lain, Feny dan ibunya terus uring-uringan. "Kalau cuma jualan kue mana bisa dia kasih kita uang yang banyak!" keluh Tia, merasa frustasi dengan keadaan mereka.

Feny punya ide jahat. "Ma, aku punya ide cemerlang," bisik Feny, membuat Tia tertarik dan mendekatkan telinga.

"Apa ide kamu?"

"Gimana kalau kita jual si Cindy, dia kan cantik, body... Lumayan lah, pasti harganya tinggi," bisik Feny dengan nada merayu, ia memiliki kenalan seorang mucikari terkenal di sebuah hiburan malam.

Tia mempertimbangkan ide jahat itu, tak peduli dengan nasib dan keselamatan Cindy. Yang ia pikirkan hanyalah uang, uang, dan uang.

Cindy berjalan di sepanjang jalan, sambil berteriak, "Kue... Kue... Kuenya Kak, Bu, Pak..." Suaranya bergema, menarik perhatian beberapa orang yang lewat.

"Ada kue apa saja?" tanya seorang remaja yang akan berangkat sekolah, tertarik dengan penawaran Cindy.

Cindy merasa memiliki pelanggan pertama. Ia tersenyum saat membuka kotaknya, memperlihatkan berbagai macam kue yang terlihat lezat dan beraroma butter serta keju yang kuat.

"Wah, kayanya enak nih," kata Daniel, tertarik dengan kue-kue yang ditawarkan Cindy.

Kue-kue yang ditawarkan Cindy antara lain:

- Red Velvet Cake

- Chocolate Brownies

- Blueberry Cheesecake

- Pandan Chiffon Cake

- Carrot Cake

Daniel membeli kelima jenis kue tersebut dan berniat untuk menguji rasanya kepada teman-temannya di sekolah.

"Makasih ya, Dek, sering-sering jajan sama kakak," kata Cindy, sambil tersenyum.

"Ya, kalau kakak lewat sini lagi, saya akan beli," jawab remaja SMA tersebut dengan ramah.

Setelah selesai bertransaksi, Cindy melangkah pergi. Saat lampu merah di jalan raya, dengan sigap dan tanpa rasa malu, Cindy menawarkan kue jualannya kepada semua pengendara. Beruntungnya, ia mendapat antusiasme positif, banyak yang menyukai kue-kue buatannya.

Pada saat itu, Jason tengah mengemudi dan melihat Cindy sibuk menjajakan kue di sekitar lampu merah. Ia melemparkan senyum sinis. "Hmm... Jadi penjual kue dia sekarang," gumamnya, meskipun ia tertarik untuk mencoba.

Jason membuka sedikit jendela mobilnya dan melambaikan tangan tanpa memperlihatkan wajahnya. Cindy mendekat, dan Jason memberikan isyarat bahwa ia akan membeli satu kue. Cindy mengangguk paham, dan dengan sigap memasukkan satu kue ke dalam plastik, lalu menyerahkannya pada Jason. Pria itu memberikan lima lembar uang besar, lalu pergi.

"Hei, uangnya kebanyakan!" teriak Cindy saat lampu hijau. Ia lupa masih berdiri di tengah jalan, menghalangi pengendara lain.

"Mbak, cari mati ya?" sindir pengendara motor.

Cindy segera menyadari kesalahannya dan dengan cepat bergerak ke trotoar, meminta maaf kepada pengendara lain yang terganggu. "Maaf, maaf, saya tidak sengaja," ucapnya dengan wajah memerah.

Jason masih skeptis tentang rasa kue yang dibelinya dari Cindy. "Pasti gak enak, kue murahan kaya gini," gumamnya dengan nada meragukan, sambil tetap fokus mengemudi.

Namun, begitu ia mencicipi kue itu, Jason terkejut dengan rasanya yang lezat dan menggugah selera. "Wow, ternyata enak juga," katanya terkejut, mengakui kesalahannya karena sudah berprasangka buruk.

...

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!