Di rumah yang sangat besar dan memiliki sekitar lima sampai sepuluh kamar itu terlihat dua orang perempuan yang sedang duduk di ruang tamu, satu nya sedang bermain puzzle dan yang satunya bermain dengan layar handphone nya.
" Clara ! bantu ibu nak " teriak seorang perempuan yang sudah berumur dari dapur yang memanggil salah satu dari mereka
Biasanya anak pertama yang paling sering di panggil namun dia menyuruh adik nya yang ke sana, itulah yang terjadi antara persaudaraan Clara dan Lyona
" Dek sana " teriak Clara kepada sang adik yang terlihat sedang fokus menyusun puzzle nya
Lyona langsung bergegas berdiri, Lyona type gadis yang langsung mau jika di suruh oleh seseorang yang dia kenal atau yang dia sayang " lain kali awas aja ya kak " berdiri dan menatap puzzle nya dari jauh
Lyona berjalan menuju dapur, dia melihat banyaknya masakan yang ada di meja " wah ibu, kenapa banyak sekali makanan nya? Kakak mau di lamar ya " ucap nya sedikit berteriak agar sang kakak mendengar ucapan nya
" Kamu ini teriak-teriak di rumah, nanti kamu yang ibu nikah kan mau? " ucap sang ibu Amira, kepada putri bungsu nya itu
Lyona kaget menatap Amira " tidak mungkin, lyo masih di bawah umur dan baru tahun depan punya KTP nya " membawa makanan yang sudah di masak oleh Amira ke meja makan
Amira menatap Lyona " kita nikah diam-diam saja dulu, nanti kalau sudah punya KTP baru lanjut nikah yang benar-benar " menuangkan sayur dari panci ke mangkok
Lyona menggeleng " lyo mau acara nikah nya itu mewah dan megah kalau bisa semua teman lyo di sekolah datang Bu " merapikan piring di meja makan
Amran, sang ayah turun dari lantai atas karena mencium aroma yang membuat perut terasa lapar " sudah bisa makan? " ucap Amran sambil menarik kursi meja makan kemudian dia duduk
" Sudah ayah " ucap Lyona dan ikut duduk di meja makan yang sangat megah itu, bahkan meja makan mereka saja muat hingga dua belas sampai lima belas orang
" Clara ayo makan nak " panggil yang ibu ke putri sulung nya yang sedang sibuk dengan handphone nya
Lyona mengambil nasi dan juga beberapa makanan yang ada di atas meja " kakak itu udah punya pacar makanya ga bisa jauh-jauh dari handphone nya " teriak nya dari meja makan
Clara yang mendengar nya langsung meletakkan handphone nya dan ikut makan bersama " baiklah tuan putri ayo kita makan sama-sama " berdiri dan langsung menuju meja makan
Amran menatap Clara " gimana sama bisnis kamu nak? Lancar? " menatap Clara
Clara melihat sang ayah " lancar ayah, semuanya aman cuman tadi ada kendala kalau brand ambassador nya ga bisa datang tapi udah aman " menjelaskan keadaan butiknya
Clara seorang desainer terkenal di kotanya, yang memiliki sepuluh butik belum dengan cabangnya yang ada di mana-mana, tetapi ada satu masalah, Clara tidak mau menikah karena dia masih sibuk dengan bisnis nya itu
" Bagiamana nak, apakah sudah ada pilihan mu? " Amira menatap Clara yang sedang makan
Clara menghentikan makan nya dan menatap sang ibu " ibu, kakak mohon jangan bahas ini lagi ya, kakak ga mau nikah. Kakak masih fokus sama karir dan kalaupun nikah mungkin nanti bu " merengek-rengek
Lyona melihat kakak nya " udah tua kak, umur 24 belum nikah juga " memakan makanan nya
Clara menatap nya sinis " anak bau bawang tau apa? Masih main puzzle juga "
" Sudah makan yang benar jangan ribut di meja makan " ucap Amira kepada dua putrinya itu
Amran menatap kedua putri nya " nanti malam ayah ada acara di restoran bersama teman lama ayah, ayah mau kalian berdua ikut "
Clara yang langsung paham taktik sang ayah " tidak, aku tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi ayah "
" Clara kamu anak perempuan sayang, ini sudah waktu nya kamu untuk menikah dan tidak memikirkan karir mu saja "
" Oke, kali ini Clara ikut tapi ini untuk yang terakhir kali ya ayah ibu " menatap mereka secara bergantian
" Kamu juga ikut ya lyo, nanti sendirian di rumah malah main ke mana-mana nanti "
Lyora memberikan jempol nya dengan wajah imut nga itu
...****************...
Kediaman keluarga Adiwiyata
Yoga Adiwiyata adalah kepala keluarga di keluarga ini, dia memiliki tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama nya Alaska sudah lama berada di luar negri, Alaska menempuh pendidikan nya di sana. Dia hanya tinggal bertiga bersama sang istri Winda dan anak perempuan nya Nayla Adiwiyata.
Satu anak laki-laki nya yaitu Bagas Adiwiyata yang telah lama hilang kini kembali ke rumah dan merubah sikap juga pola hidup nya, yang mereka tau anak nya itu dulu pernah menjadi buronan namun sekarang sudah selesai dan namanya juga sudah di bersihkan, kasus yang di alami oleh Bagas tak seorang pun di keluarga nya yang tau, masa lalu nya kelam dan juga apa pekerjaan saat itu dia rahasiakan
Mereka sedang kumpul di ruang keluarga, yoga meminum teh nya dan menatap Bagas yang sedang mengerjakan pekerjaan nya " Bagas " ucap nya
Nayla menoleh saat nama Abang nya itu panggil " kenapa yah? " saut nya
Inilah yang membuat lucu, Bagas tidak mau menjawab setiap panggilan dari siapapun tetapi Nayla selalu menjawab panggilan tersebut untuk sang Abang
Yoga terkekeh " nanti malam kita ke restoran yang ada di jalan Budi Tomo ya, dinner sama teman lama ayah "
Bagas menatap ayah nya " Bagas ada kerjaan yah, mungkin datang telat " berdiri dari sana dan menuju kamar nya
" Abang mau ayah jodohkan lagi? "
Sama seperti Clara, Bagas juga tidak tertarik pada wanita dan dia hanya suka dengan pekerjaan nya saja, sudah lima kali yoga menjodohkan nya dengan beberapa temanya tetapi selalu saja gagal karena Bagas tidak datang sama sekali
" Kali ini harus jadi karena mau tidak mau, dia harus menikah usianya sudah 26 tahun, mau sampai kapan hidup sendiri " celetus Winda sang ibu yang muncul dari arah dapur dan duduk bersama Nayla dan Yoga
Bagas duduk di meja kerja nya, menatap sebuah foto seorang perempuan yang sangat ia cintai, mereka sempat menjalin asmara namun tidak menikah, karena masalah yang cukup besar Bagas dan wanita itu harus berpisah dan kembali ke hidup mereka masing-masing " haruskah aku membuat lembaran baru? " ucapnya sambil mengambil foto tersebut
...****************...
Pukul 20.00 win Rumah Amar
Malam ini, Amira meminta Lyona dan Clara memakai dress, mereka terlihat sangat anggun dan Lyona terlihat sangat dewasa dengan dress pilihan Amira itu
" Lyona sayang, kau terlihat berbeda, terlihat jauh lebih dewasa " merangkul Lyona
Clara menatap ayah dan ibunya " udah ayo berangkat, kakak mau ke butik nanti "
Sang ayah merangkul semua nya dan segera berangkat ke restoran yang sudah di sepakati bersama
Restoran Budi Tomo
keluarga Adiwiyata sudah berada di sana, dari jauh Clara melihat tidak ada anak laki-laki disana " apakah benar ini hanya makan malam? " batin nya sambil mencari laki-laki mana lagi yang akan di jodohkan dengan nya
" Yoga " ucap Amran menyapa sahabatnya itu dengan semangat dan penuh gairah
Mereka tertawa bersama " ayo silahkan duduk "
Mereka semua duduk dan mulai makan sambil berbincang-bincang
" Benar ini cuman makan malam biasa, aku harap ayah dan ibu tidak akan melakukan ini lagi " batin Clara
Winda melihat ke arah Clara dan Lyona " cantik-cantik ya anak mu "
Amira menatap winda " bisa aja kamu, itu juga Nayla cantik, udah besar dia ya sekarang "
" Iya, udah mau kuliah ini " mengelus rambut Nayla
" Ini anak ku Clara pasti udah tau kan? "tersenyum bersama
" Tentu "
" Dan ini adiknya lyora dia masih kelas 2 SMA sekarang "
" lucu sekali lyora "
Di tengah perbincangan Bagas datang dengan pakaian santai nya namun rapi, dia terlihat sangat tampan dan benar-benar niat untuk datang " ayah maaf terlambat " ucap nya lalu duduk bersama dengan mereka
Winda dari tadi hanya menatap Lyona, tatapan lekat dan juga ada senyuman di wajah nya. Amira melihat tatapan yang cukup dalam dan bermakna itu " ada apa jeng? Apakah ada yang salah dengan anak ku? "
Lyona menghentikan makannya dan melihat ke arah Winda " ada yang salah Tante? " senyum canggung
Winda tersenyum" jeng, anak mu yang ini manis dan juga cantik, apakah dia yang mau kita jodohkan? " ucap Winda sambil menatap Lyona
Amar terbatuk dan menatap Yoga " bukan, ini adalah putri bungsu kami, ini dia Clara yang akan menikah dengan Bagas " menepuk pelan pundak Clara
Bagas menatap Clara dan dia hanya diam saja, tidak ada komentar ataupun ekspresi yang aneh dari nya, dia hanya memasang wajah datar
Lyona berdiri dan menatap semua orang "saya ijin ke toilet dulu ya " pergi ke toilet
Bagas mengeluarkan cincin sebagai tanda bahwa dia menerima perjodohan ini, Clara kaget dan menatap Bagas " bisa bicara sebentar " ucap nya kepada Bagas
Bagas berdiri dan menunjuk ke arah kanan " di sana saja " ucapnya
Amira menarik tanggan Clara " untuk apa bicara secara privasi? Disni saja kita semua juga mau dengar apa yang lain bicarakan "
" Ibu, kami baru kenal jadi aku butuh waktu untuk dekat nya dan biarkan kami mengenal lebih dalam lagi " Clara pergi dan diikuti oleh Bagas
Winda menatap Amira " Jeng, kalau boleh tau umur anak jeng yang Lyona berapa tahun? "
" dia masih kecil, baru enam belas tahun " jawab Amira
Winda menatap Lyona dari jauh yang perlahan mendekat ke meja mereka " nak apakah kau mau menikah dengan Bagas? " tanya Winda langsung dan membuat semua orang yang ada disana kaget
Yoga menatap Winda " kau salah orang, Clara yang akan menikah dengan Bagas, bukan dia "
" Benar Winda, anak ku Clara yang akan menikah, kenapa kau malah bertanya pada Lyona? "
Di tempat perbincangan Clara dan Bagas
" Kenapa kau malah membawa cincin? apakah kau menerima ku? " Omelan Clara mulai keluar
Bagas adalah tipe orang yang tidak suka bertele-tele " jadi kau mau aku menolak nya? Baiklah " ingin pergi dari sana namun dengan cepat tangan Clara menahan nya
" Segampang itu? "
" Sepertinya ibu ku juga tidak setuju dengan mu, karna dari awal dia selalu bilang cari calon istri yang bisa merawat mu, kau lihat itu " menunjuk ke arah meja yang di tepati oleh mereka untuk acara makan malam ini " ibu ku tersenyum ke arah adik mu "
Clara menatap nya " Lyona masih terlalu kecil untuk perjodohan, itu tidak mungkin terjadi " merasa lega karena sepertinya ini tidak akan pernah terjadi pada mereka
Bagas pergi menuju meja mereka dan langsung menatap Lyona " berikan tanggan mu " ucap nya datar
Lyona menatap Bagas sedikit mendongak karena Bagas begitu tinggi " aku? " menunjuk dirinya sendiri dengan tangan nya
Bagas dengan cepat mengeluarkan tangannya dari saku dan menerkam tangan kecil milik Lyona lalu memasukan cincin ke jari manis nya " selesai" ucap nya melepaskan tanggan Lyona dengan pelan
Winda tersenyum " benar inilah yang ibu mau nak, kau sangat paham yang ibu mau sayang " berdiri lalu memeluk Bagas
Amira menatap Amran " apa maksud mu? Ini tidak seperti yang kita rencanakan "
Amran melihat yoga " apakah ini hanya permainan? Sudah ku katakan putri ku yang akan menikah adalah Clara bukan Lyona "
Yoga menarik Winda " apa-apaan kamu? Ini Lyona bukan Clara, Clara ada di sana " menunjuk arah Clara
Lyona menatap tanggan nya dan melepas cincin" maaf sepertinya kalian salah orang " meletakkan cincin nya di atas meja
Bagas mengambil cincinnya " jika putri kalian Lyona menjadi istri ku, maka saham perusahaan kalian yang ada di Singapura akan naik, karena aku Bagas Adiwiyata akan menjadi penanam saham terbesar di sana, jika tidak maka perusahaan kalian akan bangkrut "
Amar menatap Bagas " kau yakin dengan ucapan mu? "
yoga berdiri " ini diluar rencana kita, lagipula nak dia belum cukup umur untuk melakukan pernikahan"
Clara menatap Bagas " aku tidak mau menikah dan aku menolak acara perjodohan ini dan untuk ayah ibu tolong jangan lakukan ini lain kali " mengambil tas nya dan membawa Lyona keluar
Tangan Bagas yang secepat kilat pun menarik Lyona dia menarik pergelangan tangan nya " kau mau bawa kemana calon istri ku? " menatap Clara
Clara menatap Bagas tepat di hadapannya " kau mau apa? jangan hanya karna hubungan pertemanan antara orang tua kita membuat mu sombong " mendorong Bagas dengan jari telunjuk nya
" Bapak Amar bisakah kau menjawab pertanyaan ku tadi? Jika tidak maka kita bubarkan acara ini " tegas Bagas
Amar mulai bingung, perusahan mereka yang di Singapura akan segara bangkrut jika tak ada penanam saham yang besar, namun putri nya juga belum cukup umur untuk menikah
" Kita lakukan pernikahan secara privat" jawaban amar
Lyona menatap ayah nya " ayah, Lyona ga mau nikah, Lyona masih sekolah ayah " melepas paksa tangan yang di pegang oleh bagas
" apa-apaan kau ini " ucap Amira kepada sang suami
Bagas mendekat dan memberikan surat perjanjian penamaan saham " ini sudah ku tanda tangani " pergi dari sana begitu saja
" Menantu ku adalah pilihan ku " ucap Winda sambil mengambil tas nya dan pergi mengikuti Bagas
Lyona mendekati ayah nya " ayah, Lyona ga mau jadi bahan bisnis, Lyona harus sekolah ayah " menangis
Amar memeluk putrinya itu " kau masih bisa sekolah sayang, tidak mungkin Bagas melarang mu untuk sekolah "
Clara menarik Lyona " ayah dan ibu sama saja, mau nya mengambil keputusan sendiri, lihat akhirnya apa yang terjadi " membawa Lyona pulang
Amira menatap Amara " kau ini sudah keterlaluan, Lyona masih di bawah umur, tetapi lihat sikap mu yang yang egois ini " pergi meninggalkan Amar sendirian
...****************...
Pagi pukul 06.45 di rumah Amar
Lyona turun dengan seragam sekolahnya, rambutnya yang di kuncir satu dan sedikit di keluarkan di bagian sisi kanan dan kirinya.
Lyona mengambil tempat makan siangnya, dia langsung keluar dan tak sarapan, bahkan dia tidak menegur ayah dan ibunya yang berada di meja makan " lihat, Lyona bahkan tidak mau menatap mu " ucap Amira sambil menyiapkan makanan
" Tenang saja sesering berjalannya waktu dia akan luluh dan lihat saja nanti " memakan sarapannya
Di depan gerbang rumah sudah ada Bagas yang menunggu dengan jas dan juga mobil nya. Bagas menatap Lyona dari bawah hingga atas " tas " ucap nya datar
Lyona mendekat dan menatap nya " kenapa kau datang ke sini? "
" Tas " ucap nya sabar
" Aku bisa berangkat sendiri, lagipula aku tidak mau diantar oleh om-om seperti mu, apa kata teman-teman ku nanti " berjalan
Bagas menarik tas Lyona saat dia berjalan tepat di samping nya dan memasukkan tas nya kedalam mobil " masuk " membuka pintu mobil
Lyona menatap nya kesal " tidak " berdiri di depan mobil " kembalikan tas ku atau kau tidak akan bisa pergi dari sini " membentang kedua tangannya, menghalangi jalan Bagas
Bagas menghampiri nya dan tanpa basa-basi dia langsung menggendong Lyona, Lyona memukul dada bidang Bagas " dasar om mesum, turunin, " memberontak di gendongan Bagas
Sampai di sekolah Lyona turun dari mobil dan membanting pintu mobil milik Bagas itu, Bagas menurunkan kaca mobilnya, awalnya dia ingin marah karena sikap Lyona yang sangat tidak sopan tetapi saat Bagas membuka kaca, Lyona malah menjulurkan lidahnya, Bagas tersenyum sedikit dan itu cukup lucu baginya
Lyona berjalan menuju kelas dan disana tiba-tiba saja sahabatnya datang, Tiara datang dari arah belakang dan langsung merangkul Lyona " selamat pagi Lyona " menatap wajah Lyona yang di tekuk nya sejak tadi
Lyona menatap Tiara dengan mata yang lesu dan raut wajahnya yang sangat sedih " aku ingin bersekolah dan tidak mau menikah "
" Menikah? " Tiara membesarkan mata nya karena kaget dengan apa yang dia dengar barusan
Lyona sadar bahwa ini adalah aib keluarganya, dia tidak bisa bilang ke siapapun walau itu Tiara sahabatnya sendiri " tidak maksud ku bagaimana kalau aku menikah saja " tersenyum dan mengalihkan topik pembicaraan mereka tadi
Mereka berdua berjalan menuju kelas sambil membicarakan tugas dan juga pengumuman yang mereka dengar kemaren, ada biaya siswa keluar negeri untuk siswa/siswi yang berprestasi. Lyona merupakan kembang di sekolahnya, dia selalu menjadi buah bibir semua orang, tentu saja dia ikuti biaya siswa tersebut
Lyona meletakan tas nya di bangku nya lalu dia berjalan menuju ruang guru dengan map berwarna biru muda di tangganya, map tersebut berisi semua data yang di perlukan untuk mengambil biaya siswa
Tok...... Tok..... Tok....
Lyona mengetuk ruang guru lalu masuk dan menatap meja wali kelasnya " permisi buk " dia masuk sambil menunduk
Lyona sampai di meja wali kelas nya " duduk Lyona " ucap wali kelas nya yang melihatnya datang menanggapinya
Lyona tersenyum lalu menarik kursi untuk dia duduk " buk, Lyona mau menyerahkan berkas untuk biaya siswa " memberikan map biru muda yang ia pegang sejak tadi
Wali kelasnya memeriksa berkas tersebut " semua nya sudah lengkap, sekarang kami tinggal isi dan antar ke ruang tata usaha " memberikan kertas yang berisikan data diri
Lyona mengambil nya dan membaca kertas tersebut, disana ada tulisan single atau menikah, ini sedikit agak janggal " buk maksud ini bagaimana ya? " menunjuk bagian single dan menikah
Wali kelasnya melihat " itu tidak perlu diisi, karena ini biaya siswa serentak jadi formulir nya sama dengan formulir untuk ke kampus jadi begitulah, kau isi saja ya ibuk mau ke ruang bendahara " wali kelas nya pergi setelah menjelaskan semua nya kepada Lyona
pukul 15.30 bel sekolah berbunyi dan semua murid pulang
Lyona masih menatap kertas itu dan dia belum mengisi nya sama sekali " Lyona kenapa kau malah menung? " Tiara menatap Lyona
Lyona melihat kertas formulir nya " aku masih bingung, nanti saja kita bicara " ingin mempercepat langkah nya namun mobil silver Bagas kembali ke sekolahnya dan menunggu dia tepat di depan pagar keluar sekolah
Tiara berjalan laju dan menepuk pindah Lyona " lihat orang yang berada di dalam mobil itu menatapmu, kau kenakl dia? " menunjuk mobil Bagas
Lyona menatap mobil tersebut " itu adalah supir baru ku, aku pamit ya tir " alasannya dan langsung berlari kecil menuju mobil
Lyona masuk dan menaikkan kaca mobil nya lalu menatap Bagas dengan tatapan tajam dan juga kesal " aku sudah bilang tidak perlu mengantar ku, AKU BISA PULANG DAN PERGI SENDIRI " teriak nya di dalam mobil
Bagas menatap nya " bukankah sudah tugas calon suami untuk menjaga istrinya "
Lyona menatap nya jijik " aku bukan istrimu dan aku sangat benci kau ! "
" Benci sama cinta itu beda tipis, awas nanti termakan omongan sendiri " memasang sabuk pengaman milik Lyona
Lyona menjauhkan wajah Bagas dengan mendorong nya mengunakan jari telunjuk nya " ga usah sok perhatian " memasang sendiri
Bagas menarik formulir yang ada di tanggan Lyona" apa ini? " membaca nya
Lyona memberontak ingin merebut kembali formulir itu " kembalikan itu punya ku, dasar ya kamu jahat banget, semua nya rusak karna kamu Bagas aku benci sama kamu " melepaskan sabuk pengaman nya dan keluar dari mobil dengan air mata di wajah nya
Bagas membuka kaca mobil nya " masuklah, aku antar pulang " teriak Bagas
Tetapi Lyona sama sekali tidak mendengarkan Bagas dia berjalan terus hingga menemukan angkutan umum lalu dia masuk dan pergi begitu saja
...****************...
Pukul 19.30 Keluarga Adiwiyata
Bagas masuk dan melihat ibunya sedang menyusun sebuah kertas yang terlihat seperti undangan pernikahan dia mendekat dan mengambil nya satu " apakah kami benar akan menikah? Lyona menolak ku bu " ucapnya kepada sang ibu yang sibuk memberi nama pada undangan tersebut
" Lyona memang menolak tetapi ayah nya setuju. Lagipula ibu sangat suka dengan nya, dia sangat polos dan tidak gila pekerjaan" tersenyum
" Baiklah " meletakkan undangan nya di atas meja kembali dan membuka jas nya, Bagas ingin kembali ke kamar nya dan melihat jam tanggan nya
" Ibu dan ayah sudah melihat rumah yang akan kalian tepati, tolong bawa Lyona kesana saat dia libur, kalian juga harus lihat rumah nya kan"
Yoga turun sambil membawa beberapa berkas pekerjaan nya " iya bagas, ibu dan ayah sudah setuju dengan rumah itu, tidak terlalu besar dan mewah, sangat cocok untuk kalian "
" Aku sendiri yang akan kesana, Lyona tidak mungkin mau, aku merasa dia akan kabur saat hari pernikahan kami " duduk di samping ayah nya
" Apa maksud mu? tidak mungkin dia kabur, ayah dan amar sudah berteman lama, bisnis kami saling membutuhkan kan "
Pembantu rumah tangga keluarga Adiwiyata muncul saat mereka sedang berbincang " ibu, bapak dan tuan ada pesan dari keluarga bapak Amar, spertinya nona Lyona belum juga pulang dari tadi sore, mereka pikir Lyona bersama dengan tuan Bagas " ucap nya
Bagas berdiri dan mengambil kunci mobil nya " aku sudah bilang pada nya untuk ikut pulang bersama ku, dasar anak kecil keras kepala " kembali memakai jas nya dan pergi untuk mencari Lyona
" Apakah cinta sudah tumbuh diantara mereka? kenapa Bagas terlihat sangat khawatir " ucap Winda saat melihat putra nya itu mencari sang menantu yang sangat dia sukai
...****************...
Bagas mencari Lyona ke sekolah dan dia tidak ada di sana, Bagas mencari nya ke semua jalur yang di jalani oleh angkutan umum tadi dan dia juga tidak menemukan Lyona, Bagas mengusap kasar wajah nya " dimana dia " melihat sebuah pangkalan semua angkutan umum dan mencoba untuk ke sana
Benar Lyona ada di sana dia duduk di sebuah kursi di tempat gelap sambil menangis, Bagas melangkah ke sana dan menyalakan senter handphone nya " lyona? " melihat wajah nya
Lyona menatap Bagas, dia langsung berdiri karena tau kalau Bagas yang datang
Bagas menarik tangan Lyona " tunggu "
Lyona menatap nya " aku tidak akan pulang sampai kau membatalkan semuanya "
Melepaskan jas nya dan memberikan kepada Lyona " tolong jangan keras kepala dan ayo pulang "
Lyona tidak bergerak sama sekali " tolong batalkan pernikahan ini " menunduk
Bagas menarik Lyona " kau jalan sendiri atau ku gendong lagi? "
Lyona berjalan dengan cepat menuju mobil sambil menangis
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!