NovelToon NovelToon

Mas Duda Next Door

MDND~ Bab 1

Catatan dari penulis :

Dear reader, pilihlah bacaan sesuai umur. Bijaklah berkomentar karena ucapanmu mencerminkan pribadimu 😉 happy reading 🤗

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Blurb...

..."Dear Gilang, Seminggu lalu dadaku yang sesek udah mulai lega menerima hubungan kita. Tapi kini takdir seperti sedang mempermainkanku dengan membuatku menjadi ibu sambung untuk Kai, mampukah aku?"...

......................

September ceria,

Gilang datang dengan wajah pucatnya. Ia begitu terburu-buru dan penuh kecemasan.

"Duh, mamposss e...wes telat iki...telat!" ia berlari namun usahanya sia-sia dan harapannya berceceran sepanjang jalan menuju gerbang sekolah. Ia bukan anak bandel bin nakal di sekolahnya, hanya saja pagi ini ia terpaksa harus datang terlambat karena bangun kesiangan.

Meskipun sebenarnya, ia tak perlu begitu khawatir, namun tetap saja. Ia tak bisa mengandalkan koneksi. Lagipula, masnya itu adalah seorang yang profesional, hubungan keluarga tak membuatnya mendapatkan tempat atau perlakuan spesial.

Ditatapnya dengan sorot kekecewaan dan penyesalan, persis menyesali si dia yang keburu diembat orang.

"Ck!" ia menepis udara kesal, mana satpam sudah tak ada di posnya, padahal biasanya cuma tergelincir 10 menit saja satpam itu masih selalu di tempatnya, tapi hari ini....hofft! Atau mungkin karena hari ini senin...jadi satpam ikut-ikutan sibuk upacara.

"Uhukk---uhuukk..." Gilang terbatuk akibat nafasnya yang dipaksa untuk memburu karena berlari kencang, ia menyeka keringat sembari melihat gembok sekolah yang sudah terpasang cantik sedang meledeknya karena tak bisa masuk.

Kini ia harus dihadapkan dengan tingginya pagar sekolah, padahal usahanya sudah pol-polan buat lari menuju gerbang sekolah kaya lari dari kenyataan, "wedus..gimana carane naik, iki?" kepalanya yang sedikit berkeringat kok ya ikut-ikutan menyiksanya dengan memberi rasa gatal seperti gatal kena ulet bulu dan pusing dadakan, membuat Gilang harus menggaruk-garuk dan memijit-mijitnya tak karuan memikirkan bagaimana ia bisa berteleportasi dari luar gerbang ke dalam gerbang.

Tap--tap---Tap---

Matanya langsung menoleh kilat pada seseorang yang dengan luwesnya melewati Gilang dari samping dan bergegas manjatin gerbang sekolah setinggi gengsi itu.

"Woy, cupu...lo mau nunggu disitu sampe kapan? Mau sampe orang-orang ngasih duit receh apa nunggu sampe jam balik lagi biar tuh gerbang kebuka?!" tanya nya, terkesan sarkas dan kurang ajar memang! Terlebih manusia laknnaatt yang mengatakan itu adalah gadis cantik, kenapa ia baru tau di sekolahnya ada makhluk jejadian seperti ini? Setengah bidadari setengah anak kunti.

Rambut sepunggung yang masih basah itu tak malu ataupun sungkan naik ke atas pagar besi di depannya, "yeee! Malah bengong kaya kambing be go. Mau masuk apa engga, lo? Mumpung si kumis ngejar-ngejar anak-anak yang pada naik lewat tembok belakang?" tanya nya memberikan penjelasan singkat, heran saja dengan cowok satu itu. Aturan mah, pager bukan cuma diliatin, kecuali kalo dia titisan avatar!

Gilang menatap Ceren dengan wajah kebingungan, ia seperti tau jadwal pak kumis, dimana ia dan sedang apa sekarang. Apakah ia seorang mata-mata atau agen, atau justru lalat jejadian yang seneng ngintilin kumis satpam?

Gilang tersentak sadar, "mau lah. Tapi...." ia terlihat risih mengatakannya, apa jadinya jika sampai Gilang mengatakan kalau ia tak bisa memanjat seperti dirinya.

Wajah cantik merona itu masih menunggu jawaban Gilang di setengah gerbang yang telah ia naiki, kaya nunggu kepastian kapan Allah mengundang Ceren ke rumahnya, "kenapa, lo ngga bisa manjat? Akhhh, nyusahin lo." Sarkasnya lagi, namun tak urung gadis itu turun kembali dan menarik tangan Gilang lalu mengajarkan Gilang bagaimana caranya memanjat.

Wangi, cantik, gahar. Itulah kesan pertama saat Gilang melihatnya dari dekat.

Gilang sempat terkejut saat siswi bername tag Cerenia A. Y. itu mendorong punggung dan bo kongnya terlebih dahulu agar ia bisa naik duluan, "buruan, lo dulu. Gue bantuin!"

Seperti burung kakak tua yang manut apa kata majikan, Gilang mengangguk saja meski dirinya sedikit risih dengan bantuan yang terkesan tak sopan itu, perse tan dengan bukan mahrom! Yang penting ia bisa masuk ke dalam sekolah. Sekali saja dalam hidupnya, Gilang ingin merasakan debaran hebat saat melakukan aksi nakal, layaknya anak-anak SMA pada umumnya.

Blugh,

Gilang mendarat tak mulus, tuh tulang apa tahu?! Letoy bener! Ceren menoleh ke arah Gilang setengah mencibir, "jatoh lo?!" dengusnya terkekeh yang dibalas wajah meringis malu dari Gilang.

"Dah lah. Dah masuk kan..." Ceren segera bangkit dan berlari sendiri ke arah kelasnya meninggalkan Gilang sendiri dengan kesannya mengenai Ceren. Gadis itu tak sadar bahwa tindakannya kali ini membuat hati seseorang terkagum-kagum padanya, Gilang menggeleng geli, "gilakk, cantik, gokil..." kekehnya senyam-senyum sendiri, Cerenia...yeah itu namanya! Gilang menaruh nama itu di setiap inci otaknya, layaknya rumus phytagoras yang mesti ia hafalkan sepanjang masa.

Ceren berlari mengendap-endap, ia juga sesekali berhenti di balik tembok saat guru kesiswaan dan satpam menggusur anak-anak nakal untuk kemudian mereka dijajarkan di depan para peserta upacara sebagai tamu kehormatan.

"Huffttt njirrr, selamet!" ia menyugar rambutnya, lalu masuk ke dalam kelas dan menaruh tas, mengeluarkan topi dan dasi yang kemudian sepanjang jalan tangannya begitu rusuh memasang dasinya di leher sampe ngga liat-liat jalan.

Brukkk!

"Eh sorry-sorry!" Refleks Ceren. Kalo jodoh emang ngga kemana, Gilang tersenyum saat sedang berjalan bersama Jojo menuju lapangan, sepaket pakaian rapi, topi, dan dasi yang sudah lengkap terpasang.

"Lo," Ceren tertawa, "selamet juga lo..." ucapnya lantas berlalu sambil berlari saat Maghfira sudah melambai padanya, "Ren! Buru!"

"Iya!"

Tatapnya masih lekat melihat gadis cantik itu berlari, "kamu kenal Ceren, Lang?" tunjuk Jojo. Maksudnya semua orang tau siapa Ceren, tapi saling sapa itu hal tidak biasa bagi mereka yang berbeda circle, kaya semacam manusia bertegur sapa dengan alien.

Circle Gilang jelas berbeda dengan Ceren, lingkungan Gilang tuh lingkungan adem ayem persis suasana kebun bambu yang damai. Klub bahasa, klub catur, perpus, ruang ekskul dan piala. Sementara Ceren ngga jauh-jauh dari warung, BK, ruang ekskul band, weseee, ruangan prasarana dimana sohibnya adalah sapu, pel'an.

"Baru tadi pagi, doi yang bantuin aku manjat gerbang..." jawab Gilang berjalan memasuki lapangan seiring suara pak Nandar sudah koar-koar persis ambulan di atas podium sana.

Ia awalnya tak pernah peduli dengan siapapun, namun sekarang ia mencoba memaksa kinerja otaknya lebih keras demi mengingat dimana dan kelas apa.

"Si Ceren tuh kalo ngga salah IPS 2 kan?" angin pagi belum terasa melambai kulit, namun suhu udara dingin masih tersisa menusuk tulang membuat Gilang menggosok-gosok lengannya kasar, dari tempatnya ia mengedarkan pandangan, sampai ia berjinjit agar seluruh area lapang dapat ia sisir.

"Iya." Jawab Jojo.

Pandangan Gilang tertumbuk ke arah barisan siswi IPS 2 dan gadis itu memang pecicilan, sepertinya. Buktinya ia justru sedang mendongeng sambil memeragakan keseruannya yang entah apa, namun tingkahnya itu mengundang tawa temannya. Gilang ikut tertular senyuman Maghfira sang kawan yang sejak tadi sudah tergelak melihat Ceren mendongeng.

Jojo mengernyitkan alisnya melihat temannya yang mendadak gila pagi ini, apakah saat manjat pager Gilang jatuh, dan kepalanya yang mendarat duluan? Karena sepertinya temannya itu mendadak ngga waras.

"Liatin apa, Lang?" matanya penasaran dan melakukan hal yang sama, mencari apa yang tengah dilihat Gilang, apakah kedatangan guru-guru di depan tak lebih penting dari apa yang ia lihat?!

"Ceren?! Kamu liatin si Ceren, Lang....wah, jangan-jangan kamu suka ya!" tunjuknya usil, Gilang menepis telunjuk Jojo, "opo sih, cuma penasaran doang!" sergahnya meski hatinya sudah berflower meski hanya melihat Ceren tersenyum saja.

"Emhhh, nggaya pake penasaran segala. Awalnya penasaran, lanjut keinget-inget terus, akhirnya gamon. Hati-hati, si Ceren itu banyak yang suka, mana anak-anak bandel semua, wes cari aman aja Lang..." saran Jojo mematikan senyum Gilang, "engga. Aku ngga suka Ceren..." ujarnya, namun matanya tak bisa berbohong, karena kini Gilang justru mencuri-curi untuk melihat Ceren, meski suara pak Hilman Prambodo sang kepala sekolah sudah mengambil alih.

.

.

.

.

.

MDND~ bab 2

"Gilang,"

Seorang guru kesiswaan memanggilnya ketika suara pak Abas sedang menjelaskan teks cerita sejarah di kelas. Beberapa sajak buatan bung Karno dan makna romantis yang terkandung untuk negeri. Gilang teramat suka sampai ia mengoleksi beberapa buku dengan judul kutipan sajak bung Karno untuk negri.

Jika ia memiliki umur panjang dan kesempatan, maka setelah lulus nanti, ia akan melanjutkan kuliah di sastra bahasa.

"Dipanggil pak Hilman." Semua mata yang awalnya begitu fokus pada guru kini bergantian melihat guru itu dan Gilang.

"Iya pak." ia menaruh pulpen diantara lipatan buku catatan paling belakang, dimana rumus matematika selalu ia hitung refleks disana jika tak memiliki kertas buram atau bekas. Disana pula banyak kisah kegabutannya yang hakiki tentang bersama siapa dan dimana dirinya terdampar dalam kehaluan.

"Pak," ijinnya pada pak Abas yang sudah mengangguk meski ia belum sepenuhnya mengutarakan niatannya, persis cenayang.

Langkah Gilang mengikuti guru kesiswaan berpisah di koridor deretan ruang kerja sekolah, "Lang, tadi pesan bapak kepala tunggu sebentar di ruangannya, soalnya bapak sedang berkeliling kelas sebentar."

Gilang mengangguk, "iya."

Ia berbelok ke kanan dimana ruang mas Hilman berada di ujung lorong sana.

Ceren menepuk-nepuk bangku kayu coklat tempat duduk temannya yang tak masuk. Jam kosong memang pelajaran favorit para siswa dari generasi ke generasi, dan Ceren beserta kelasnya adalah anak-anak paling beruntung hari ini di dunia.

Riuh tinggi mengusik kehidupan tenang sekolah, dan bersumber dari kelas IPS 2. Dimana guru ekonomi saat ini tengah berjuang melawan sakitnya dan ketidakadaannya guru pengganti menjadi pemicu keributan. Memang murid-murid ngga tau diri, guru lagi berjuang menahan sakit, anak didiknya bukannya solawatan malah bikin ribut satu kelas.

Ia semakin keras menabuh saat Atariz bernyanyi mengeluarkan suara ciri khasnya, serak-serak becek.

"Di malam yang dingin dan gelap sepi.....benakku melayang pada kisah----" dendangnya.

"Pak Bodo datang!" seketika ia terhenti bernyanyi dan bergegas duduk rapi di bangkunya. Sementara Ceren yang justru menghayati lagu dan tabuhannya sambil merem melanjutkan nyanyiannya lebih kencang lagi.

"Pak Bodo Datangggg!" refleks Ceren mengikuti ucapan lirik Atariz dan membuka matanya, "kenapa liriknya jadi pak Bodo sih, rusak suasana!" ia baru menyadari kebodo hannya.

"Kaya ngga ada orang lain yang lebih cakep aja! Gue heran, padahal gelarnya master tapi tetep aja Bodo," gerutunya, ia melihat wajah teman-temannya yang mendadak pias dan mati kutu persis ditembak penjajah.

"Kamu yang bodo." suara dalam dan berat itu bak ombak tsunami yang menyapu kewarasan.

***Psyuthhhh***! *Kena mental*!

Ceren tak berani melirik ke arah belakang, dimana gawang pintu kelas berada. Kepala sekolah yang tengah ia gibahi dan hina-hina sampe lubang idungnya ternyata ada di sana, mendengarkan ia yang begitu berapi-api menjelek-jelekan namanya.

"Emh, mamam tuh." Kekeh Maghfira, *gue kata juga apa! Diem manis bae-bae ngga bisakah*?! Emang temen kurang akhlaknya itu benar-benar menantang maut. Udah beberapa kali dibilangin kalo jamkos tuh belakangan ini selalu diisi oleh pak kepsek, menurut info yang ia dengar dari kelas lain.

Usia yang tak lagi muda, tak membuat wajah kepala sekolah ini jadi keriputan persis nenek gayung. Ya..meskipun kerutan terkadang terlihat jelas di ujung matanya, menandakan jika ia manusia biasa bukan dewa Yunani yang mandinya pake air susu ibu.

"Eh bapak, sehat pak?" sapanya tak tau malu. Ia berharap kepala sekolahnya itu mendadak lupa dengan semua gelar dan otak cerdasnya, jadi hanya menganggap apa yang ia ucapkan tadi adalah sebuah jokes biar dunia ngga sepi.

Dengan segera Ceren pindah dan duduk di bangkunya sendiri, di samping Fira.

"Emh kan, bibir gue masih basah bilang jamkos sekarang udah ngga asik. Pak Hilman sering ngisi..." bisik Fira terlambat, anak mantan DJ ternama ibukota itu gemas sekali pada temannya, pengen rasanya ia tampol saja kepala Ceren hingga hilang.

"Gue pikir lo cuma fitnah, bawa kabar ayam doang..." balasnya tak kalah berbisik persis bisikan setan.

*Ya kaleee, ayam bawa kabar! Burung oon*!

Fira memutar bola matanya, jengah.

Tak ingin mencari-cari penyakit hati yang bikin fisik tuanya rentan masuk klinik, Hilman hanya bisa mengurut dadanya legowo, ia sudah tak aneh lagi jika siswi yang satu ini begitu, karena jika tidak begitu... bukan Cerenia namanya. Telah banyak laporan tentang buruknya seorang Cerenia Aqila Yumna. Dan mungkin, ia akan mencanangkan program bimbingan konseling untuk anak-anak kurang akhlak di sekolah yang tengah ia kepalai, semisal...kelas pelatihan menerima siksa kubur, may be.

"Jam pelajaran apa sekarang?" tanya Hilman masuk menatap siswa lain setelah sebelumnya mendelik sinis pada Ceren, uhhhh serem!

"Ekonomi pak."

Hilman meraih buku paket dari seorang murid lain yang berada di dekatnya lalu memberikan tugas seabrek-abrek, biar mereka diam, kalo bisa diam sampe kiamat.

Suasana hening kembali sesaat setelah Hilman datang, mungkin si bapak satu ini emang diciptakan untuk menjaga perdamaian dunia bersama the legend of aang, kalo begitu kirim saja ia ke Palestina, begitu pikir Ceren yang mau tak mau membuka buku miliknya juga.

Hilman meneruskan langkah sepatu pantofelnya ke ruangan kerjanya, lupa jika ia telah menyuruh staf kesiswaan memanggil Gilang.

Melihat pintu yang terbuka sedikit, membuat Hilman tau jika Gilang sudah menunggu di dalam.

Keheningan mengusik jiwa Gilang untuk tak berkeliling ruangan, sudah cukup lama ia diam saja duduk termenung menunggu sang kakak, padahal tugasnya di kelas masih banyak. Tau gitu Gilang memilih menemui mas Hilman nanti saja di jam istirahat.

Kantor sepetak, tanpa ruangan tersembunyi apapun layaknya kantor CEO. Terdapat beberapa rak buku kayu yang hampir seusia dirinya. Deretan map tersampul rapi menandakan jika masnya itu adalah pribadi yang rapi. Nuansa kantor tak jauh berbeda dengan kamar masnya yang pendiam ini. Ia simple tak banyak memasukan barang pribadi kesini, seperti orang pindahan.

Foto sepasang pria senja di atas pertanda ia menjunjung tinggi rasa nasionalisme. Foto dan piala yang tertata apik di dalam lemari kaca berbahan kayu jati peninggalan kepala sekolah sebelumnya nampak sesak karena jumlah isinya. Aroma kopi memang terasa memabukan karena sumbernya menempel tepat di depan AC ruangan ini.

"Sudah lama?" Gilang tak langsung menoleh, ia masih asyik melihat-lihat foto tim sepakbola angkatan tahun kemarin yang tertempel berfigura di dekat lemari piala, dimana tahun kemarin adalah tahun keemasan tim sepakbola SMA yang membawa harum nama sekolah diantara sekolah negri lainnya di kota ini.

"Kenapa mas manggil aku?"

"Kamu telat?" Hilman melewati Gilang begitu saja dan mengambil tas kain kecil di atas meja kerjanya, "tadi ibu telfon. Katanya kamu bangun telat terus pergi buru-buru. Sampe lupa bawa bekal, nih..." dorongnya di depan Gilang.

Lirikan mata Gilang jelas menunjukan jika ia sedikit bosan dan lelah dengan perhatian ibunya, bak anak kecil yang masih dikelonin, rasa khawatir ibu sedikit menyentil jiwa remajanya.

"Aku masih bisa jajan di kantin, mas. Toh makanan di kantin ngga beracun, kan? Mas sendiri yang sudah acc mereka buat jualan..."

Wajah Hilman masih datar layaknya papan triplek, "ambil. Ibu sudah capek-capek bikin..."

Gilang menunduk sejenak lantas mengambilnya, "makasih. Aku balik ke kelas, mas." pamitnya.

"Oh ya, tadi kamu masuk lewat mana? Karena setau mas kamu berangkat jam 7 kurang sepuluh, otomatis kamu akan terlambat sekitar 5 sampai 10 menitan. Dan pager sudah pak Muin tutup tepat jam 7? Pak Muin juga sedang menangkap basah anak-anak yang lewat tembok belakang, dan kamu tidak ada disana?"

Gilang menyunggingkan senyumnya di balik badan, "aku punya bidadari tak bersayap," jawabnya ngasal yang langsung menggeleng geli dan melenggang pergi, Gilang sendiri tak percaya kenapa ia bisa mendadak jadi se-pujangga itu.

.

.

.

.

.

MDND~ Bab 3

Bel yang senantiasa berganti setiap satu dekade berdering memanjakan pendengaran, menjawab rasa lapar para perut pelajar atau sekedar memberikan waktu untuk otak beristirahat.

Di bawah pohon bougenville magenta pinggir lapang, Ceren duduk bersama Fira sambil nyemil penganan tepung kanji, katanya sih biar otak sama perut nyambung dan nempel, makanya mereka sering koslet karena si otak yang keseringan terbalut kanji.

Aji melompat seketika bak katak, dan mencomot begitu saja cireng pedas dari tangan Fira yang seketika mendapatkan hadiah tabokan di pipinya hingga pemuda itu terjatuh.

"Hem, makan tuh!" Ceren tertawa memancing rasa pedas menyeruak ke dalam rongga dada, membuatnya terbatuk dan tersedak bubuk cabai.

"Si alan ih! Maen comot aja!" desis Fira ngambek.

"Pelit!" cibir Aji.

"Anak-anak di kantin, kenapa malah pada makan disini? Fix takut di mintain!" ujar Aji.

"Cari angin onyon, di kantin penuh tuh!" delik Fira, masih dendam karena cireng yang cuma ia beli seharga 5 ribu harus dicomot pula oleh makhluk durjana berjuluk cs, mana ngga tau tangannya bekas apa.

"Cari angin disini, cari angin mah di gunung..."

"Kejauhan!"

Ceren masih sibuk menepuk-nepuk dadanya dengan mata berlinang.

"Nah kan, karmanya karena jajan sendirian." Ujar Aji, "gabung yok, anak-anak lagi maenan truth or dare!" alisnya naik turun.

Ceren menggeleng, "maenan bocah."

Aji berseru, "wooo, kalo maenan bocah pasti lo sanggup dong ikutan?!" tantangnya. Cih, Ceren hanya berdecih. Sementara Fira sudah menyenggolnya pelan sambil melotot, emang dasar si paling gengsi!

Salahkan sifatnya yang terlampau arogan dan gengsian, kini ia termakan ucapannya sendiri. Mau tak mau Ceren mengikuti langkah Aji untuk bergabung dengan teman-teman lain.

"Jangan ngadi-ngadi Ren, inget ngga yang waktu itu aja lo sampe dihukum pak Hilman?"

Ck, hidup tak boleh sedatar wajah pak Hilman kaleee! Ceren menepis udara berikut pernyataan Fira, membuat gadis ini menggidikan bahunya, "gue ngga ikut-ikutan kalo lo dihukum lagi...kaya ngga tau anak-anak aja."

"Ah, Fira kan emang cemen!" cibir Aji.

Plak! Pukulan kencang mendarat di bahu bidang personel tim basket ini, "sembarangan. Gue manusia bukan bahan adukan bangunan!"

"Itu semen peak!" sambar Aji dan Ceren mengacak rambut legam Fira, ditambah cubitan kecil di pipi gadis itu dari Aji membuatnya merona tak karuan, bukan karena deg-degan tapi karena kesal pada temannya itu.

Gawang kantin masih tetap berdiri kokoh, meskipun setiap harinya disesaki siswa yang hilir mudik mendatanginya dengan perut lapar.

"Sepi darimana, oncom...rame gini?!" sewot Fira menyalak. Untuk ukuran mereka, mungkin beberapa meja terisi tuh sepi.

"Tuh meja, udah pada kosong!" tunjuk Aji. Ceren tak terusik dengan perdebatan Aji dan Fira, ia lebih fokus mencari dimana gerombolan teman-temannya duduk.

"Ren!" panggil Kanza, duduk diantara teman bercampur gender.

Ketika ketiganya mendekat rupanya permainan sudah berlangsung sejak tadi, Ceren dan Fira datang cukup terlambat ternyata.

"Dari mana aja, ini udah pada main dari tadi...yuk gabung!" ujar Hanan memberikan ruang untuk Ceren dan Fira. Mereka kembali tertawa saat Faiz tengah berteriak seperti o'a jawa jika ia pernah menyukai bu Yanti, guru tata usaha dan patah hati saat bu Yanti nyatanya menikah bulan lalu.

"Saravvv njir, gue kira cuma boongan sukanya!" tawa mereka menjadikan ini sebuah lelucon hidup yang akan mereka kenang kelak nanti setelah lulus sekolah dan dewasa.

"Ikutan gue ah!" merasa sepertinya seru Ceren ikut andil disana.

"Asikk! Udah gue duga lo pasti mau ikut!" kini Hanan menaruh pensil di atas meja licin kantin.

Sementara Fira hanya menggelengkan kepalanya, di samping Aji, "lo ngga ikutan?" tanya Fira pada pemuda yang sejak tadi mendorong-dorong Ceren dan dirinya agar ikut-ikutan.

"Ikut! Liat nih babang Aji ikut!" Aji duduk, saat Faiz kembali bergabung disana, pensil kayu B2 diputar Kanza. Kini pensil itu mengarah pada Aji dan seruan mereka menggema memenuhi satu kantin.

Wajah Aji kini terlihat lesu dengan senyum getirnya mele nguh, "nah kan! Kena lo!" puas Fira mendorong-dorong punggung Aji dari belakang.

"Truth or dare?" tembak mereka, Aji melihat wajah-wajah manusia bergelimang dosa di depannya satu persatu, lalu menghela nafasnya, "truth..."

Faiz yang terlihat puas menggosok-gosok tangannya antusias, "gue tau sob, ada cewek yang pengen lo tembak dari lama, tapi lo galau tiap hari...sekarang lo jujur sama dia atas perasaan lo di depan kita semua..."

Ceren mengernyit, iyakah? Lantas mereka menatap wajah Aji yang mendadak gugup dan pucat, ia tak habis pikir jika Faiz akan memintanya jujur pasal ini. Kini Aji berbalik membuat Ceren menautkan alisnya yang benar saja, Aji? Padanya?!

Untung saja ia tak terlanjur menegur Aji, karena nyatanya Aji justru bukan memandangnya lekat, pemuda basket itu justru meraih tangan yang masih berlumuran chilli oil di samping Ceren.

"Ra, gue suka lo..."

"Njirrrr Aji!"

"Terima! Terima!"

Fira mendadak syok dan melongo, jiwanya seolah melayang entah kemana menghadapi Aji yang begitu, "apa-apaan lo, Ji. Ngga usah becanda di depan umum gini!" salaknya galak. Mereka menertawakan kejadian itu, karena tak habis pikir Aji yang sering menggoda Fira justru menyimpan rasa suka.

"Diterima ngga, Ra?"

"Ya engga lah!" ia justru berujar sewot, "nih tangan gue bekas chilli oil, mau gue tusuk mata lo yang natap gitu?!"

Aji hanya mengehkeh, disaat ia serius pun Fira tak menganggapnya serius. Ceren tertawa melihatnya.

"Jadi suka temen sendiri nih!" bisiknya.

"Yahhh, penonton kecewa! Ditolak gaesss!" seru Kanza menghentikan godaan mereka.

Kini pensil kembali berputar, dan naasnya itu mengarah pada Ceren.

"Yaaaaa!!!!" seru mereka seperti sedang menyoraki timnas.

Ceren mele nguh berat, "gara-gara duduk samping lo nih, jadinya apes!" dorong Ceren pada Aji.

"Truth or dare?!"

Ceren merotasi bola matanya ke atas setengah berpikir apa baiknya, "emhh.. "

"Buruan keburu masuk."

"Iya bentar, gue milih dare...dari tadi truth mulu, ngga seru!" jawabnya.

"Jiahhh! Emang ini yang gue tunggu-tunggu!" Hanan memukul meja excited.

"Oke, gombalin salah satu guru di sini!" tantang mereka, membuat Ceren harus kembali memutar otaknya, "ah gilak! Osis aja lah, osis...."

"Ngga bisa," tembak Kanza.

Ia menarik nafas berat, seolah pasokan oksigen di bumi tuh cuma nyisa setabung doang.

"Pake lagu, apa gimana? Guru siapa?!"

"Terserah lo...bebas."

"Ren, ih!" tegur Fira sudah khawatir.

"Fira diem Fira," ditatapnya Aji dengan sebal karena kejadian tadi sedikitnya memberikan perubahan besar untuk hubungan pertemanannya dan Aji.

Oke! Ceren menggebrak meja mantap, dan beranjak dari sana. Segera saja mereka berhamburan ikut keluar dari ruangan demi melihat aksi si cantik nakal, Ceren.

.

.

.

.

.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!