NovelToon NovelToon

Pelahap Dosa

Sang Pelahap Dosa

Era Kerajaan Dinasti Shang Tiongkok...

Di masa Dinasti Shang, setiap keluarga memiliki kepercayaan. Jika dosa seseorang yang telah meninggal dimakan atau dilahap oleh seorang Pelahap Dosa. Maka perjalanannya ke Akhirat akan lebih ringan.

Pada masa itu bermunculan beberapa Aliran perguruan. Namun ada tiga Aliran perguruan terkemuka, diantaranya Aliran Tao, Aliran Giok Putih, dan Aliran Pedang Iblis. Setiap perguruan memiliki jurus khusus untuk memerangkap dosa orang yang telah meninggal.

Aliran Tao yang mengutamakan kebajikan memiliki seorang murid istimewa. Seorang pria muda yang dibuang dari keluarga, karena cacat yang diderita. Takdir membawanya menjadi seorang Pelahap Dosa. Akibat dosa besar yang telah diperbuatnya dimasa lalu.

Setiap Ritual Pelahapan Dosa tak semudah membalikkan telapak tangan. Jika tumpukan dosa dari orang yang meninggal terlampau besar. Lama-kelamaan, tumpukan dosa itu akan menjadi makhluk mengerikan.

Di sisi lain, Aliran Giok Putih memiliki keunggulan jurus memurnikan dosa dan mengubah menjadi permata. Berbeda dengan Aliran Pedang Iblis, yang menghisap dosa untuk menambah kekuatan. Tetapi tidak semua murid dari masing-masing aliran dapat melakukan Ritual Pelahapan Dosa. Inilah awal mula terjadinya pertentangan di setiap Aliran perguruan.

Provinsi Gansu, wilayah Kerajaan Dinasti Shang. Di Kediaman Keluarga Pejabat Zhang.

“Hiks…hua…. hiks…” terdengar suara isakan tangis istri Pejabat Zhang.

Sesekali Nyonya Zhang menyeka air matanya di depan peti Sang Pejabat. Di dalam peti kayu mewah, tubuh Pejabat Zhang membujur kaku tanpa nyawa.

Beberapa sanak saudara Zhang menenangkan Sang Nyonya rumah.

“Aku akan menuntut balas kematian suamiku. Bagaimanapun juga, bunuh semua wanita penghibur di rumah Bordil Duyi!” perintah Nyonya Zhang seraya menatap tajam beberapa gadis penghibur yang berjongkok tak berdaya.

Beberapa pengawal siap menghunuskan pedangnya. Menebas tanpa ampun para gadis penghibur. Pedang terangkat dan melayang ke arah gadis penghibur. Para gadis hanya bisa memejamkan mata dan menunggu Sang Dewa Kematian datang menjemput.

Slap!

Di saat bersamaan, sebuah kemucing berwarna putih melayang. Menghempaskan seluruh pedang milik para pengawal.

Prang!

Semua orang di Kediaman Keluarga Zhang terkejut bukan kepalang. Tak terkecuali Nyonya Zhang.

“Siapa yang lancang menghalangi perintahku?!” mata Nyonya Zhang Mendelik marah.

“Khukhu… perbuatan yang tidak benar akan membawa karma buruk bagi keluarga Zhang Nyonya.” jawab seseorang berpakaian putih dengan corak berwarna biru.

Seorang pria tua berpakaian layaknya Pendeta aliran Tao masuk ke dalam kediaman keluarga Pejabat Zhang. Sembari mengelus jenggot dan memainkan kemucing miliknya. Tepat di belakangnya, seorang pria muda berperawakan kurus mengikuti langkah Sang Pendeta.

Nyonya Zhang mengernyitkan kening, “siapa kau?”

Pendeta aliran Tao yang bernama Shaosheng hanya tersenyum simpul. Hingga salah satu tetua di keluarga Zhang tergopoh-gopoh mendekat ke arah Nyonya Zhang.

“Dia adalah Pendeta Shaosheng dari Kuil Naga Timur. Aku yang memanggilnya kemari untuk melakukan ritual pelahapan dosa pada Pejabat Zhang.”

Nyonya Zhang menatap sinis pada tetua.

“Untuk apa ritual semacam itu? Suamiku adalah pejabat bijak yang setia pada Kaisar. Tidak mungkin memiliki dosa.”

“Khukhu…. manusia tiada yang tidak berdosa. Keserakahan dan ketamakan yang muncul dari dalam dirinya, akan merugikan orang yang berpikiran jahat layaknya buah bambu yang menghancurkan tumbuhnya pohon itu sendiri.” sahut Pendeta Shaosheng sembari mengelus jenggot miliknya.

Pria muda bertubuh tinggi kurus dengan kornea mata putih pucat, berjalan tanpa alas kaki menuju peti mati Pejabat Zhang. Pemuda yang bernama Wang Yi meraba mayat Pejabat Zhang dan mencium bau busuk luar biasa. Menusuk ke dalam hidungnya.

Pupil mata putih pria muda mendelik. Sebuah kilas balik menunjukkan perilaku buruk Pejabat Zhang. Sang Pejabat menilap pajak milik rakyat. Menimbun kepingan emas dan menyiksa rakyat supaya mau membayar pajak dengan tinggi. Menggunakan kepingan emas yang bukan miliknya untuk berfoya-foya dengan para gadis penghibur.

Sesaat kemudian, Wang Yi terhuyung. Dia meraba sekitarnya dan menemukan guci arak persembahan. Meminumnya hingga habis tanpa sisa. Nyonya Zhang yang melihat perilaku sekaligus penampilan orang asing yang ada di hadapannya merasa geram.

“Dasar pengemis miskin! Beraninya dia meminum arak persembahan!” ucap Nyonya Zhang dengan wajah merah padam.

“Prajurit! Beri pengemis itu pelajaran!” perintahnya.

Para prajurit merengsak, mendekat ke arah Wang Yi. Pedang para prajurit melayang ke arah pemuda dengan rambut tergerai panjang tak beraturan tersebut. Wang Yi bersikap tenang, mendengarkan gerakan lawan dengan telinganya. Sekaligus, merasakan langkah para prajurit dengan kaki telanjangnya.

Satu... dua... tiga...empat...lima prajurit, batin Wang Yi.

“Hyaa!!” pedang para prajurit siap menebas pemuda yang berpenampilan seperti pengemis itu.

Di saat semua pedang mengarah pada Wang Yi, dengan sigap dia bergerak begitu lihai. Mengangkat kedua kakinya ke udara dan memberikan tendangan memutar. Maupun pukulan ke arah para prajurit.

Duak!

Bruak!

Suara berdebam keras, tubuh prajurit terhempas ke tanah. Mereka meringis kesakitan. Nyonya Zhang nampak semakin geram menyaksikan hal tersebut. Dia bergegas mengambil pedang salah satu prajurit dan hendak mengarahkan pada Wang Yi. Namun, buru-buru Pendeta Shaosheng menangkap pedang dengan kemucing miliknya. Kemudian menghempas pedang milik Nyonya Zhang.

“Kau?!” pekik Nyonya Zhang penuh amarah.

“Khuhu… Nyonya adalah istri pejabat terhormat. Tidak perlu marah menghadapi pria muda miskin yang bahkan tidak bisa melihat ini."

Beberapa orang langsung mengarahkan pandangan pada Wang Yi termasuk Nyonya Zhang.

“Cih, Pendeta busuk. Tidak perlu menggunakan kebutaanku untuk dikasihani orang lain.” balas Wang Yi sinis.

“Haiyaaa… kau terlalu perasa anak muda. Jadi cepat katakan, apa yang kau lihat? Supaya kita bisa melaksanakan ritual Pelahapan Dosa.” ucap Pendeta Shaosheng.

“Zhang, si Pejabat Korup. Dipenuhi keserakahan dan ketamakan. Dosanya begitu besar.”

Nyonya Zhang tak terima, “dasar pria miskin tukang fitnah. Mana mungkin suamiku, Pejabat Kerajaan yang terhormat memiliki dosa besar. Jangan membual!”

Dia mengedarkan pandangan ke semua orang, “mana mungkin suamiku adalah pejabat korup. Apa kalian percaya pada pemuda miskin dan buta ini?”

Semua orang terdiam dan menunduk. Tidak ada yang berani menjawab, karena apa yang dikatakan Wang Yi semuanya adalah benar. Nyonya Zhang geram dengan semua orang yang ada dalam ruangan itu.

“Dasar kalian?!” pekiknya penuh amarah.

Wang Yi membuka suara, “pejabat busuk ini dibunuh karena perilaku buruknya semasa hidup. Ini adalah karma yang harus dia bayar di dunia ini.”

“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Suamiku berdosa besar!” teriak Nyonya Zhang tidak terima.

Tanpa terduga, tiba-tiba peti mati milik Pejabat Zhang bergetar hebat. Sebuah asap hitam keluar dari tubuhnya. Semua orang ketakukan termasuk Nyonya Zhang.

“A… apa itu?!” teriak semua orang.

Pendeta Shaosheng bersiaga. Wang Yi berada di depan. Dia menggunakan batinnya untuk melihat keberadaan asap hitam. Asap hitam keluar dengan cepat dari tubuh Pejabat Zhang. Wang Yi bergegas menggerakkan tangan. Menggunakan jurus tarian Tao, Tai Ji Gong (Thay Kek Kun), memerangkap tumpukan dosa. Jurus ini menggunakan gerakan Li-Wang dengan 108 postur sebagai gerakan inti dan memusatkan pikiran.

“Tumpukan dosa pejabat korup, aku akan melahapmu!” teriak Wang Yi, menggunakan jurus Harimau galak menghentikan gunung.

Asap hitam melesat dengan cepat, masuk ke dalam mulut Wang Yi. Saat proses pelahapan dosa, rambut Wang Yi yang hitam berubah warna menjadi putih secara perlahan. Akan tetapi, sebuah kilas balik membuyarkan konsentrasi Wang Yi. Hingga asap hitam terlepas begitu saja dan masuk kembali ke tubuh Pejabat Zhang.

...----------------...

Sebuah kilas balik kehidupan Pejabat Zhang nampak dalam benak Wang Yi. Saat ritual Pelahapan Dosa.

Di Provinsi Gansu, wilayah Kerajaan Dinasti Shang. Salah satu pejabat kerajaan terkenal akan ketamakan dan keserakahannya. Sang pejabat menilap pajak rakyat. Menggunakannya untuk berfoya-foya.

"Hahaha! semua emas dan harta benda ini adalah milikku! Kalian bisa mengambil sesuka hati." ucap Sang pejabat korup begitu congkak.

"Tuan, kami sungguh beruntung bisa ikut menikmati semua kekayaan ini." timpal salah satu gadis penghibur.

Jemarinya bermain perlahan di dada Sang Pejabat.

“Hemm, Pejabat Zhang memang murah hati.” balas gadis penghibur lainnya.

Beberapa gadis penghibur tengah berpesta bersama Pejabat Zhang. Sang pejabat mabuk kepayang dan bersenang-senang malam itu. Salah satu gadis penghibur menuangkan arak ke cangkir Pejabat Zhang.

“Tuanku, malam ini masih sangat panjang. Mari bersenang-senang sampai pagi.” goda salah satu gadis penghibur yang mengenakan pakaian hanfu bercorak ungu. Seraya menyerahkan cangkir berisi arak ke tangan Pejabat Zhang.

Pejabat Zhang tertawa lebar dan langsung menenggak arak yang diberikan. Arak yang ditenggak Sang Pejabat mengalir dengan cepat masuk ke dalam tenggorokan. Tanpa dinyana, Sang Pejabat merasa tercekik dibagian lehernya. Beberapa detik kemudian, rasa panas membakar tenggorokannya.

“Arghttt! Ughhhttt!” Pejabat Zhang memegangi lehernya yang panas bak terbakar.

Dia kesulitan bernafas. Matanya melotot dan mendelik seolah hendak keluar. Para gadis penghibur merasa kebingungan.

“Tuan! Tuan! Ada apa? Jangan membuat kami takut?” tanya salah satu gadis penghibur.

Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Akan tetapi darah segar mengalir deras dari mulut Pejabat Zhang.

“Huaaak!!!”

Duar! Diiringi suara ledakan kecil yang membuat perut Pejabat Zhang meledak. Hingga organ dalam tubuhnya berhamburan keluar.

“Kyaaa!!!” para gadis penghibur berteriak histeris.

Darah maupun beberapa serpihan organ dalam Pejabat Zhang mengenai pakaian para gadis penghibur.

Malam itu, Pejabat Zhang mati mengenaskan dengan mata mendelik hampir keluar. Perutnya meledak dan organ dalamnya keluar menjadi serpihan-serpihan.

Kilas balik kehidupan Pejabat Zhang selesai...

...----------------...

Wang Yi terhuyung dan merasakan kesakitan yang luar biasa. Pendeta Shaosheng bergegas menghampirinya.

“Sepertinya, aku harus mencari pembunuh Pejabat Zhang terlebih dahulu.” ucap Wang Yi dengan wajah serius.

Pencarian Jejak Pembunuh

Wang Yi berjalan di sebuah lorong kediaman yang besar. Diantara gelapnya lorong, samar-samar terdengar suara rintihan kesakitan.

Tepat! Di penghujung lorong, sebuah kamar besar tertutup rapat. Dari dalam kamar, suara tawa diiringi tangis kesakitan terdengar bercampur baur. Memecah keheningan malam.

Pemuda itu membuka pintu perlahan dan mengintip ke dalam. Seorang wanita yang tak jelas wajahnya merintih kesakitan. Tangannya yang penuh darah ter-ulur ke arah Wang Yi. Disaat bersamaan mata keduanya saling beradu.

Wang Yi terkesiap. Mata penuh darah diiringi tangan berbentuk cakar tepat menusuk ke matanya. Wang Yi merasakan kesakitan yang luar biasa.

Hosh.. Hosh... Hosh...

Suara nafas Wang Yi naik turun tak beraturan. Wang Yi kesulitan bernafas sembari memegangi matanya yang terasa sakit. Lagi-lagi dalam benaknya muncul sebuah kilasan ingatan.

"Hei, Yi'er kau baik-baik saja?" tanya suara yang tak asing lagi.

"Sudah aku katakan. Jangan memanggilku begitu. Kita tidak pernah sedekat itu." jawab Wang Yi sinis.

"Ckckck... Dasar pria muda pemarah." balas seseorang yang tak lain Pendeta Shaosheng.

Kini, Wang Yi dan Pendeta Shaosheng berasa dalam kamar tempat di mana Pejabat Zhang tewas. Semuanya sama persis. Beberapa barang masih tergeletak begitu saja. Sepertinya Biro Kehakiman memerintahkan untuk tetap menjaga tempat pembunuhan tetap apa adanya.

Wang Yi harus segera mencari tahu siapa pembunuh Pejabat Zhang. Mereka dikejar waktu untuk segera melakukan ritual Pelahap Dosa. Jika ritual tidak segera dilaksanakan. Tumpukan dosa akan terus bertambah dan berubah menjadi makhluk mengerikan.

Pemuda bertubuh tinggi kurus itu, kini tenaganya sudah pulih. Dia lekas beranjak sembari berjalan meraba-raba di sekitarnya. Meski Wang Yi buta, akan tetapi dengan kemampuannya. Dia bisa merasakan sekeliling dengan mata batin. Kakinya yang telanjang tanpa alas kaki. Dapat menyalurkan energi sehingga dapat merasakan benda-benda yang ada di sekitarnya.

Pemuda itu meraba sebuah pilar, dengan jemari tangannya. Dia merasakan sesuatu pada pilar tersebut.

"Pendeta busuk, kemarilah." pinta Wang Yi.

Pendeta Shaosheng segera mendekat.

"Bisa kau melihat sesuatu di pilar ini?" tanya Wang Yi.

Pendeta Shaosheng mengernyitkan kening. Dia melihat seksama tempat yang ditunjuk Wang Yi.

"Ada beberapa goresan, di pilarnya."

Wang Yi mengedarkan pandangan ke arah lain. Pendeta Shaosheng sepertinya memahami maksud pemuda itu.

"Di sini! ada sebuah goresan kecil." pekik Pendeta Shaosheng sembari melihat ke pilar lainnya.

Lantas bergerak sana sini mencari goresan yang sama. Rupanya di setiap pilar dalam kamar tersebut terdapat sebuah goresan.

"Goresannya beraturan atau tidak?" tanya Wang Yi.

Pendeta Shaosheng mengamati dengan seksama, “semua pilar memiliki beberapa goresan yang tak beraturan, sepertinya kedalamannya tak lebih dari satu inci.”

Wang Yi berjalan perlahan sembari meraba meja. Di sana terdapat cangkir dan guci arak yang tergeletak. Wang Yi mengendus bekas arak yang tersisa.

"Apa yang kau cium?" tanya Pendeta Shaosheng penasaran.

Telinga Wang Yi tiba-tiba mendengar sesuatu, "siapa di sana?"

Wang Yi dan Pendeta Shaosheng bergegas membuka pintu. Keduanya melihat sekelebat bayangan seseorang. Keluar dari rumah bordil Duyi. Keduanya berusaha mengejar. Akan tetapi bayangan seseorang itu melarikan diri dan menghilang di balik keramaian.

"Tuan, belilah bakpao ini. Masih hangat dan tentu saja lembut." teriak salah satu pedagang.

"Manisan! Manisan!" teriak pedagang yang lain.

Pendeta Shaosheng kebingungan. Akan kemana lagi mereka mengejar bayangan itu. Telinga Wang Yi memang tajam. Dia mendengar seseorang sedang mengintip dan mendengarkan perbincangan keduanya saat berada di rumah Bordil Duyi.

Di tengah keramaian, pikiran Wang Yi seperti layar besar. Otaknya bekerja mengingat semua peristiwa ataupun orang yang dia temui saat dikediaman pejabat Zhang. Seseorang yang tidak penting tapi selalu ada di beberapa tempat kejadian. Ingatan Wang Yi bekerja dengan keras. Hingga sebuah koneksi membuat Wang Yi menyadari sesuatu.

"Pelayan itu....aroma tubuhnya…" ucap Wang Yi perlahan.

...----------------...

***Flashback***

Saat Wang Yi dan Pendeta Shaosheng berada di kediaman Pejabat Zhang. Seorang pelayan bersembunyi di tengah-tengah keramaian. Dia mengawasi situasi. Matanya melirik ke arah salah satu gadis penghibur dari rumah bordil Duyi yang hendak dieksekusi.

Hingga pada saat berada di rumah bordil Duyi. Seorang pelayan pria yang sama juga menyambutnya.

"Tuan, akan aku tunjukkan ruangan di mana pejabat Zhang tewas." ajak pelayan itu.

Salah satu gadis penghibur yang hendak dibunuh oleh Nyonya Zhang terlihat mengawasi di tengah keramaian gadis penghibur yang sedang berkumpul. Gadis penghibur lain sedang mengamati kedatangan Wang Yi dan Pendeta Shaosheng.

"Ckck, kalian gadis-gadis sungguh sangat cantik." ucap Pendeta Shaosheng menggoda.

"Hemmm, dasar Pendeta busuk penggoda.” ucap salah satu gadis penghibur sembari mengibaskan sapu tangan.

Pendeta Shaosheng segera mengeluarkan tael peraknya. Memamerkan pada para gadis. Mereka segera mengerumuni Sang Pendeta. Bergelayut manja pada Sang Pendeta tua. Pendeta satu ini memang lain dengan Pendeta lainnya yang tak tertarik dengan duniawi.

Meski Wang Yi tidak bisa melihat secara langsung. Tetapi kakinya dapat merasakan getaran ataupun gerakan yang ada di sekelilingnya. Termasuk benda-benda yang ada di sekitarnya. Tak terkecuali salah satu gadis penghibur yang mengawasinya pergi meninggalkan tempat itu.

Flashback End

...----------------...

Duak!

Kini, Wang Yi memojokkan salah satu gadis penghibur yang diketahui bernama Lien Hua. Wang Yi dengan kasar mencekik Lien Hua dan memojokkannya ke dinding. Lien Hua meringis kesakitan. Wang Yi meraba tangan gadis itu untuk memastikan sesuatu.

"Lepaskan aku! Dasar Pendeta busuk!" pekik Lien Hua.

Pendeta Shaosheng nampak panik.

"Haiyaa… Apa yang kau lakukan? Kasihan gadis ini."

Wang Yi tak perduli, “kau yang meracuni Pejabat Zhang. Jadi cepatlah akui dosamu!" desaknya.

Tanpa Wang Yi duga, seseorang mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah. Menggunakan jurus meringankan tubuh. Kakinya terayun menerjang Wang Yi. Wang Yi mundur selangkah. Pendeta Shaosheng bergegas mengibaskan kemucing putih miliknya.

Slap!

Orang misterius yang mengenakan pakaian serba hitam, mundur selangkah menggunakan jurus peringan tubuh. Lantas dengan gerakan sigap menaburkan serpihan bubuk ke arah Pendeta Shaosheng. Sang Pendeta menutup matanya yang kesakitan.

Wang Yi segera bangkit, namun sia-sia. Orang misterius tersebut segera membawa Lien Hua pergi dari tempat itu. Keduanya melayang dari satu tempat ke tempat lain.

“Pendeta busuk! cepat bantu aku mengejar mereka!” perintah Wang Yi.

Pendeta Shaosheng mengibaskan kemucing untuk menghilangkan serpihan bubuk di sekitarnya. Sang Pendeta memegangi tangan Wang Yi, keduanya hendak menggunakan jurus meringankan tubuh dan mengejar Lien Hua. Akan tetapi, tiba-tiba segerombolan prajurit berdatangan. Mengepung keduanya.

Di tengah-tengah gerombolan, muncullah seorang kepala pengawal dari Biro Kehakiman dan Penyelidikan Provinsi Gansu mencegat Wang Yi.

“Tangkap kedua pembuat onar ini!” perintah Kepala Pengawal yang bernama Yuen.

Di Penjara Biro Kehakiman.

“Cepat masuk! Dasar para pendeta busuk!” dorong salah satu prajurit.

Pendeta Shaosheng terlihat kesal dan terlibat adu mulut dengan beberapa prajurit. Wang Yi memilih diam dan berusaha memecahkan teka-teki pembunuhan Pejabat Zhang.

Obor-obor di penjara telah dinyalakan. Suasana semakin hening. Di luar, mendung nampak hitam pekat. Wang Yi beranjak dari duduknya.

“Aku harus pergi ke suatu tempat.”

Pendeta Shaosheng tersenyum simpul, “aku sudah menunggumu mengatakan itu. Para pengawal di Biro Kehakiman memang merepotkan.”

Pendeta Shaosheng berdiri, memusatkan pikirannya. Tangan kirinya mengeluarkan kertas berwarna kuning. Jari telunjuk dan tengahnya berdiri, sedangkan jemari lainnya dia tekuk. Lantas merapalkan mantra.

“Sì yuán shǒuhù sheng, empat dewa penjaga arah mata angin. Langit dan bumi menjadi satu mengikuti perintah Lóngshén.” ucap Pendeta Shaosheng sembari menjejakkan kakinya ke tanah.

Kertas kuning bermantra tiba-tiba terbakar dan berubah menjadi kupu-kupu ghaib. Melayang ke sana kemari dan membuat beberapa penjaga mengantuk. Hingga akhirnya tertidur. Rantai yang mengunci penjara terlepas. Wang Yi dan Pendeta Shaosheng bergegas keluar penjara dan menuju suatu tempat.

Malam semakin larut, hanya mendung pekat yang menemani. Di luar hanya ada penjaga malam yang berkeliling kota Gansu.

Treng! Treng!

“Waktu menunjukkan 12 malam! Hati-hati dengan api! Kunci semua pintu rumah!”

Treng! Treng!

Wang Yi dan Pendeta Shaosheng menyelinap ke sebuah toko obat.

“Apa kau yakin ini tempatnya?” tanya Pendeta Shaosheng.

Wang Yi tak menjawab. Dia hanya mempercayai indera penciumannya. Pelayan yang dia temui beberapa saat lalu berbau obat. Obat yang memiliki aroma khas. Pemuda itu mengetahui seluk beluk Kota Gansu. Di kota ini hanya ada beberapa toko obat. Tetapi toko obat yang dekat dengan rumah Bordil Duyi hanyalah Toko Obat Qingping.

Hidung Wang Yi mengendus beberapa bahan obat di sana, sembari mencari-cari sesuatu. Hingga hidungnya mengendus bau obat khas yang mirip dengan bau dalam arak yang menewaskan Pejabat Zhang.

“Aku sudah mengetahui siapa pelakunya. Segera siapkan ritual Pelahapan Dosa.” ucap Wang Yi dengan tatapan serius.

Tumpukan Dosa

Wang Yi dan Pendeta Shaosheng diam-diam menyusup ke kediaman Pejabat Zhang. Keduanya mencuri peti jenasah Sang Pejabat. Jika tidak diam-diam seperti ini. Nyonya Zhang akan menentang ritual Pelahapan Dosa.

Kini, keduanya berada di Kuil Kuno reyot pinggiran Kota Gansu. Menyiapkan ritual Pelahapan Dosa.

“Pendeta busuk, pergilah ke suatu tempat. Pastikan sekali lagi untukku.” pinta Wang Yi.

Pendeta Shaosheng menatap dengan kesal, “dasar tukang memerintah.”

Lantas melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Akan tetapi sebelum keluar, Pendeta Shaosheng sempat berbalik.

“Jangan memulai ritual tanpaku.” ucap Sang Pendeta, lantas bergegas keluar Kuil.

Wang Yi tak menjawab. Tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa pada matanya. Membuat jantungnya berdegup kencang dan roboh ke tanah.

“Gyaahhhh!” Wang Yi memegangi matanya yang begitu terasa sakit. Layaknya ditusuk ribuan jarum.

“Aku harus segera melaksanakan ritual Pelahapan Dosa. Jika tidak rasa sakit ini akan terus menyiksaku.” ucap Wang Yi pada dirinya sendiri.

Pemuda itu, segera bersiap menggerakkan tangan. Menggunakan jurus tarian Tao, Tai Ji Gong (Thay Kek Kun), memerangkap tumpukan dosa. Jurus ini menggunakan gerakan Li-Wang dengan 108 postur sebagai gerakan inti dan memusatkan pikiran.

“Tumpukan dosa pejabat korup, aku akan melahapmu!” teriak Wang Yi, menggunakan *jurus Harimau galak menghentikan gunung*.

Asap hitam keluar dari mayat Pejabat Zhang. Kali ini lebih hitam pekat. Asap hitam ditarik paksa Wang Yi dan dengan cepat masuk melalui mulut pemuda itu.

“Hyaaa!!!” teriak Wang Yi.

Perlahan rambut hitam Wang Yi berubah menjadi putih. Rambutnya tergerai tak beraturan. Beberapa saat kemudian, dikening Wang Yi muncul simbol berwarna merah darah. Bola mata Wang Yi nampak putih senada dengan rambutnya.

Kumpulan dosa milik Pejabat Zhang masuk ke dalam tubuh Wang Yi. Disaat bersamaan, sebuah rangkaian peristiwa kehidupan Pejabat Zhang terlihat jelas dalam benak pemuda itu.

...----------------...

Kilas balik kehidupan Pejabat Zhang.

“Ha!Ha!Ha!, seret gadis itu.” perintah Pejabat Zhang dengan congkak.

Beberapa prajurit menyeret si wanita. Berusaha memasukkan dalam kerangkeng bambu untuk ditenggelamkan hidup-hidup di danau.

"Tuan pejabat, tolong ampuni putriku. Aku berjanji akan membayar pajak sesuai ketentuan." pinta ibu si wanita memelas sembari bersujud di depan Pejabat Zhang.

Pejabat Zhang tersenyum menyeriangi,

"Puih!" bukannya bersikap bijak akan tetapi Sang Pejabat malah meludahi wajah si ibu dengan angkuhnya.

"Aku sudah berbaik hati dengan meminta putrimu menjadi istriku sebagai pengganti pajak. Tetapi beraninya, putrimu malah mempermalukan ku dan kabur dengan pria lain."

"Maafkan putri hamba tuan... Maafkan dia..." pinta si ibu sembari memegangi kaki pejabat Zhang.

Pejabat Zhang terlihat murka dan langsung menendang si ibu tua dengan kasar.

Duak!

Si ibu terjerembab ke tanah. Wanita yang diketahui bernama Fengying berlari ke arah ibunya setelah menghempaskan pegangan para prajurit.

"Bu... Ibu..." panggil Fengying dengan suara parau.

Penduduk yang mengerumuni hanya diam menyaksikan peristiwa itu. Tak ada yang berani melawan kesewenangan Pejabat Zhang.

"Bunuh mereka semua!" perintah Pejabat Zhang tanpa belas kasih.

Srat!

Pedang salah satu prajurit menebas tanpa ampun ibu Fengying. Mata Fengying terbelalak, darah segar membasahi wajah maupun tubuhnya. Ibu Fengying terkapar tanpa nyawa.

Fengying berteriak histeris, "Ibu! Ibu!"

Para prajurit menyeret Fengying dan memasukkan paksa ke dalam kerangkeng bambu panjang dan ditenggelamkan hidup-hidup di danau. Suara tawa kesombongan meluncur tanpa belas kasih keluar dari mulut Pejabat Zhang.

Kilas balik selesai..

...----------------...

"Gyaaarggghh!!!"

Wang Yi merasakan tubuhnya terbakar panasnya api. Pemuda itu berguling kesana kemari. Merasakan sakit yang luar biasa. Dalam hitungan detik, matanya yang terpejam tiba-tiba terbuka lebar.

Duak!

Pendeta Shaosheng mendobrak pintu kuil dan bergegas masuk. Mengambil kertas berwarna kuning. Lantas dengan cepat menuliskan sekaligus merapalkan sebuah mantra.

“Yīn tānxīn ér shīqù yīqiè, kehilangan segalanya karena keserakahan. Dewa penjaga empat arah mata angin. Musnahkan dosa dan makhluk ini ke neraka. Kembalikan keseimbangan dunia.” ucap Sang Pendeta lantas membakar kertas kuning.

Kertas berisi mantra dengan cepat terbakar habis. Serpihan abunya mengenai tubuh Wang Yi yang kesakitan. Hingga perlahan, sebuah pijaran api keluar dari tubuhnya. Pijaran api yang keluar berubah wujud menjadi makhluk menyeramkan. Melesat keluar diiringi suara auman memekakkan telinga. Kemudian menghilang dibalik pekatnya malam.

Pendeta Shaosheng segera membantu Wang Yi.

“Ini tidak akan mudah.” ucap Pendeta Shaosheng sembari memapah Wang Yi.

Wang Yi terdiam dan menatap jauh ke depan.

“Bagaimanapun juga, aku harus menyelesaikan ini dan melahap dosa Pejabat Zhang yang telah berubah menjadi Iblis Api.”

Langit nampak gelap dan pekat. Hanya suara derik binatang malam yang terdengar mengerikan. Hingga dalam hitungan detik, sebuah kilatan api berpendar menuju Kota Gansu. Makhluk yang tercipta dari tumpukan dosa Pejabat Zhang berubah menjadi Iblis Api. Membakar rumah penduduk. Tak ayal beberapa orang berlarian keluar rumah. Malam yang hening berganti dengan teriakan bersahut-sahutan.

“Tolong! Tolong!”

Tak lama kemudian, Wang Yi dan Pendeta Shaosheng tiba di tempat yang sama. Sang Pendeta segera melayang ke udara menggunakan jurus meringankan tubuh. Dia menggunakan kemucing miliknya dan menyerang iblis api.

“Roarrrr!!!!” Iblis Api mengaum dan membuat Pendeta Shaosheng terhempas.

Wang Yi memasang kuda-kuda. Menggunakan jurus Tarian Tao.

“Apa kau akan melahap Iblis Api disaat seperti ini?” tanya Pendeta Shaosheng.

“Tidak ada pilihan lain.” balas Wang Yi tanpa perduli resiko apa yang akan dihadapinya.

Wang Yi tidak memiliki pilihan lain. Jika tidak segera melakukan ritual pelahapan dosa. Maka tubuhnya akan merasakan kesakitan. Pilihannya hanyalah melahap dosa. Meski kemungkinan tubuhnya akan terbakar dengan panasnya Iblis Api . Hingga kemungkinan terburuk, dirinyalah yang akan dilahap oleh tumpukan dosa Pejabat Zhang.

Wang Yi bergegas menggerakkan tangan. Menggunakan *jurus tarian Tao, Tai Ji Gong* memerangkap tumpukan dosa.

“Tumpukan dosa pejabat korup, aku akan melahapmu!” teriak Wang Yi, menggunakan *jurus Harimau galak menghentikan gunung*.

Tubuh Iblis Api secara perlahan tersedot masuk ke dalam mulut Wang Yi. Bola mata Wang Yi semakin memutih bersamaan dengan warna rambutnya.

“Arghhtttt!!!!” Wang Yi merasakan panas yang luar biasa membakar tubuhnya.

Tumpukan dosa Pejabat Zhang terlampau besar. Energi Wang Yi tak dapat mengatasinya. Tubuhnya mulai terbakar hebat. Pendeta Shaosheng berusaha membantu Wang Yi.

“Sì gè jiǎoluò de shǒuhùshén, empat dewa penjaga arah mata angin. Langit dan bumi bersatu di bawah perintah Lóngshén.” rapalan mantra yang diucapkan Sang Pendeta.

Dari dalam kemucing miliknya, keluar cahaya berwarna kebiruan bercampur dengan putih. Cahaya yang keluar berusaha memadamkan api yang membakar tubuh Wang Yi.

“Arrgtttt!!!” Wang Yi merasakan tubuhnya terus dilahap api dosa Pejabat Zhang.

Pendeta Shaosheng kewalahan dan api yang melahap Wang Yi semakin besar. Sang Pendeta terpental hingga muntah darah.

“Yi’er!” pekik Pendeta Shaosheng.

*Apakah ini akhir hidupku? Jika ini akhirnya, dengan sukarela akan ku serahkan nyawaku*, ucap Wang Yi dalam hati.

Tanpa Wang Yi sadari, sebuah pedang berwarna biru muda melesat dengan cepat. Meluncur ke arah tubuh pemuda itu. Di susul beberapa pedang lain yang membentuk lingkaran dan mengerumuni tubuh Wang Yi. Tak berselang lama, beberapa gadis muda berdatangan. Melayang di udara menggunakan jurus meringankan tubuh.

“Bentuk formasi.” perintah salah satu gadis.

Gadis yang lain mengikuti arahan. Beberapa gadis membentuk rasi bintang.

“Formasi pemurnian dosa!” perintah salah satu gadis yang sepertinya pimpinan gerombolan gadis-gadis tersebut.

Para gadis memusatkan pikiran, pedang-pedang yang membentuk rasi bintang mengeluarkan cahaya terang. Perlahan memurnikan pancaran api yang melahap tubuh Wang Yi.

Pelan tetapi pasti, api yang melahap Wang Yi sedikit demi sedikit berkurang. Hingga akhirnya habis tak bersisa dan kemudian lenyap. Berganti dengan sebuah batu permata. Gadis yang memimpin formasi, segera mengambil batu permata tersebut dan menyimpan dalam kantong miliknya.

Pendeta Shaosheng, menatap gadis yang ada di depannya.

“Aliran Giok Putih……” ucap Sang Pendeta lirih.

Si gadis hanya menyunggingkan seulas senyum sinis di sudut bibirnya. Tepat saat mata Wang Yi dan salah satu gadis dari Aliran Giok Putih beradu pandang. Mata Wang Yi kembali merasakan sakit yang luar biasa. Tiba-tiba kilasan ingatan berkelebat dalam benak pemuda itu.

...----------------...

***Kilasan ingatan dalam benak Wang Yi***…

Seorang pemuda berada dalam ruangan kamar dengan cahaya samar. Dia mengedarkan pandangan. Tiba-tiba muncullah sosok wanita dari belakang dengan rambut panjang menutupi seluruh wajahnya. Membuat pemuda itu terkesiap.

Diantara sela-sela rambut wanita misterius, terlihat pancaran mata penuh dendam. Dalam hitungan detik, mata Si Wanita mengeluarkan darah segar. Tangannya yang berbentuk cakar menusuk mata Pemuda yang ada di depannya. Mencungkil mata Si Pemuda hingga keluar. Si Pemuda menjerit kesakitan dan roboh ke tanah. Senyum menyeriangi dilontarkan Si Wanita.

Kau akan hidup dengan menanggung dosamu dan dosa orang lain. Aku akan merenggut setiap warna yang ada dalam hidupmu… Si wanita berbisik di telinga pemuda yang masih merintih kesakitan.

Setiap kata demi kata yang dibisikkan Si Wanita membuat jantung Si Pemuda berdegup kencang disertai rasa sakit yang luar biasa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!