NovelToon NovelToon

Tuan Adipati, Sang Putri Hanya Ingin Punya Bayi

Eps. 1: Ditipu Kaisar

Suara tabuhan musik dari penabuh gendang dan peniup terompet mulai memelan ketika memasuki sebuah hutan belantara yang lebat oleh pepohonan. Lebih dari empat puluh orang berbaris di sepanjang jalan, berjalan seperti sebuah kereta panjang berkecepatan paling rendah.

Kain-kain merah melilit tiang-tiang bendera dan tiang ungkapan ‘kebahagiaan ganda’ yang dibawa oleh beberapa pria. Mereka juga mengaitkan kain merah di pinggang mereka.

Cheng Yao, yang berada dalam kereta merah paling besar terpaksa bangun karena guncangan yang dirasakan semakin hebat. Dia membuka matanya, menguap lalu mengedipkan kelopak matanya beberapa kali.

“Putri, kamu sudah bangun!”

Itu suara Xiuli. Cheng Yao menoleh, lalu melihat Xiuli, pelayannya sedang duduk di bagian lain di dalam kereta sambil memegang sebuah lembaran kain berwarna kuning keemasan. Perasaan Cheng Yao tiba-tiba tidak enak. Ia merasa sesuatu yang buruk terjadi ketika dia melihat lembaran kain yang tergulung tersebut.

“Apa yang terjadi? Kenapa kita ada di dalam kereta?”

Xiuli tampak kebingungan dan ragu untuk memberitahu. Bagaimana ini? Situasinya bahkan terasa lebih buruk sekarang ini. Putri sudah bangun, tapi dia bahkan kesulitan untuk menjelaskan apapun.

“Xiuli, mengapa aku ada di kereta?” Cheng Yao bertanya sekali lagi. Dia melirik tubuhnya yang terbungkus gaun berwarna merah dan diikat dengan tambang yang besar. “Juga, mengapa aku diikat dan mengapa pakaian menakutkan ini melekat di tubuhku?”

“Itu.. itu… Kaisar… Kaisar…”

Dia tergagap. Karena tidak sanggup mengatakannya, Xiuli langsung membentangkan lembaran kain kuning keemasan yang bagian luarnya dihiasi corak naga. Bagian dalamnya yang berisi tulisan dan segel merah kekaisaran ia perlihatkan pada Cheng Yao, memintanya untuk membacanya sendiri.

Isi gulungan itu berbunyi, “Putri Danyang baik hati, berbudi luhur, berbakat, cerdas, dan berkarakter mulia. Dia diberkati dengan keberuntungan yang tidak terbatas. Atas rahmat langit, aku Kaisar menganugerahkan pernikahan untuknya. Dia akan dinikahkan kepada Adipati Ning, Ning Ziyu, putra Jenderal Agung Xian Zhou dan Putri Wanxin dan akan menikah pada tanggal 15 bulan kedua. Titah selesai.”

Cheng Yao kesulitan berkedip. Apa dia tidak salah membaca? Apakah penglihatannya tidak bermasalah? Apakah isi titah itu barusan adalah titah pernikahan untuknya?

Tapi, cap dari segelnya asli, kainnya juga asli. Tulisan di atasnya juga tulisan asli. Cheng Yao tiba-tiba menggeram kesal. Astaga, pantas saja perasaannya tidak enak sejak kemarin.

“Pria tua itu benar-benar licik!”

Cheng Yao adalah Putri Danyang yang dimaksud dalam titah tersebut. Tapi, dia datang ke dunia ini secara kebetulan. Dahulu kala dia adalah Kepala Badan Intelijen Rahasia yang mengumpulkan informasi penting yang tidak dapat diakses oleh pemerintah.

Suatu hari, markas besar Badan Intelijen Rahasia meledak karena bom yang sengaja disiapkan oleh orang yang ingin menjatuhkannya, tidak lain dan tidak bukan adalah rekannya sendiri.

Cheng Yao tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tapi ketika dia membuka matanya, dia tidak dapat bergerak. Suaranya berubah menjadi tangisan dan ocehan yang tidak jelas artinya apa.

Lalu, dia juga punya sepasang tangan dan kaki mungil yang lucu.  Intinya, dia telah bertransformasi menjadi seorang bayi, dan masalah besar lainnya adalah ia telah berpindah ke dimensi lain.

Cheng Yao tidak pernah menyangka dia akan mengalami arus perputaran waktu dan kembali ke masa lalu. Seorang kepala sebuah organisasi intelijen rahasia tiba-tiba menjadi bayi di zaman kuno, itu adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah Cheng Yao alami.

Latar belakang bayi itu juga tidak sederhana. Dia adalah bayi yang dilahirkan seorang selir Kaisar, artinya dia lahir di keluarga kerajaan.

Itu berarti dia adalah seorang Putri. Di sini, dia dinamai Ye Yao. Cheng Yao mengira kehidupan di dalam istana seperti medan perang karena dia banyak membaca novel fiktif dan menonton drama-drama kolosal di waktu senggangnya.

Cheng Yao punya kesimpulan sendiri: jika ingin memiliki umur yang panjang, jadilah tidak berguna. Cheng Yao juga berkaca dari pengalaman hidupnya yang lalu, bahwa bekerja keras dan membuat diri sendiri berprestasi adalah bencana yang mendatangkan iri dengki dan akhirnya mencelakai diri sendiri.

Selama masa pertumbuhannya, Cheng Yao pura-pura bodoh. Hal itu membuatnya tidak disayangi. Cheng Yao tumbuh sebagai seorang putri yang diabaikan di istana, tidak disayangi, dan sangat nakal.

Saat kecil dia pernah menceburkan Putri Chengjia, kakak perempuannya yang seorang anak Permaisuri ke dalam kolam dan membuatnya demam selama seminggu. Alasannya sederhana, dia marah karena Putri Chengjia menginjak seekor semut yang sengaja ia pelihara di sekitar taman istana.

Cheng Yao juga malas belajar. Di kelas khusus Akademi Kekaisaran yang mendidik putra-putri Kaisar, dia punya peringkat terendah karena sering bolos dan menentang guru. Karena dia dianggap bodoh dan tidak berguna, orang-orang dengan hati gelap tentu saja membuangnya dari daftar incaran politik.

Meskipun begitu, jiwanya adalah jiwa seseorang dari masa depan yang punya kecerdasan melebihi orang lain. Hanya karena tidak ingin menonjolkan diri, dia menyembunyikan kemampuannya. Tapi, itu ternyata tidak dapat menahan Cheng Yao untuk mengembangkan rasa ingin tahunya terhadap dunia barunya.

Sewaktu kecil, dia sering menyelinap ke ruang baca Kaisar, mencuri makanan dan membaca dokumen kenegaraan yang sangat rahasia. Dia tidak pernah ketahuan, atau mungkin Kaisar sengaja membiarkannya dengan pura-pura tidak mengetahuinya.

Cheng Yao tumbuh jadi gadis yang pemalas setelah dia remaja. Saat usianya 15 tahun dan ibunya meninggal, Kaisar memberinya gelar sebagai Putri Danyang, memberinya hadiah tempat tinggal di Istana Chonghua dan memberikan banyak sekali emas dan kain serta harta benda. Sejak saat itu, kasih sayang Kaisar tampaknya benar-benar berakhir untuknya.

Cheng Yao adalah gadis remaja dengan jiwa yang sangat dewasa. Kecerdasannya yang di atas rata-rata tapi tidak diketahui orang lain itu lantas ia gunakan untuk membangun kekuatannya sendiri.

Jika seseorang dapat menggunakan otaknya, dia tidak perlu bekerja keras, karena orang-orang akan secara sukarela datang melakukan pekerjaaan untuknya.

Dia menggunakan kekayaan pemberian ayahnya untuk membangun sebuah organisasi rahasia. Dia dengan kecerdasannya menggunakan orang membangun Paviliun Zhanbai, sebuah organisasi yang bergerak di bidang intelijen rahasia. Paviliun Zhanbai adalah organisasi pencari kabar yang sangat besar.

Dalam tiga tahun, organisasinya sudah menjadi organisasi nomor satu di dunia persilatan. Bahkan badan intelijen kekaisaran saja tidak mampu menandingi kekuatannya.

Orang-orang yang bertransaksi dengan Paviliun Zhanbai kebanyakan adalah orang besar dan orang kaya, karena harga yang diatur dan ditawarkan Cheng Yao untuk membeli sebuah informasi sangat besar.

Cheng Yao tidak pernah turun tangan secara langsung, karena orang-orang secara alami menjalankan bisnisnya untuknya.

Selain orang-orang kepercayaannya, tidak ada yang tahu kalau Cheng Yao telah menyembunyikan sesuatu yang sangat besar di balik sikap malas dan tidak bergunanya. Cheng Yao tidak perlu bekerja keras belajar seni beladiri, dia tidak perlu belajar untuk jadi cerdas di Akademi Kekaisaran, dia juga tidak perlu merendahkan diri untuk membangun relasi ke sana kemari.

Ada orang yang sudah melakukannya untuknya. Cheng Yao hanya perlu menerima hasil, duduk santai dan melanjutkan kehidupannya sebagai Putri Danyang yang pemalas dan tidak berguna.

Pundi-pundi uangnya secara alami akan menjadi penuh ketika laba dari hasil transaksi penjualan informasi di paviliunnya sampai ke tangannya.

Dia adalah nyonya besar di balik statusnya sebagai seorang putri. Kehidupan yang sempurna seperti itu, siapa yang tidak menginginkannya?

Tapi, apa yang menimpanya hari ini adalah bencana untuknya. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, dia tiba-tiba dinikahkan begitu saja. Keputusan Kaisar ini tentu saja akan berdampak besar pada kehidupan tenangnya. Cheng Yao tidak rela!

“Pantas saja firasatku tidak enak akhir-akhir ini. Pria tua itu biasanya sangat abai terhadapku, tapi beberapa hari lalu dia tiba-tiba teringat padaku dan mengirimkan banyak hadiah berharga ke Istana Chonghua!”

Siapa yang bisa menyangka kalau kasih sayang Kaisar yang tiba-tiba itu ternyata berbuntut buruk untuknya?

“Karena tahu Putri mungkin menolak habis-habisan, Kaisar terpaksa melakukan ini. Dia menyuruh seseorang membiusmu dan mengirimmu pergi bersama titah pernikahan ini. Wajar bagi Putri untuk terkejut,” ucap Xiuli.

“Bukan hanya terkejut, aku bahkan hampir jantungan! Astaga, rubah tua itu benar-benar licik!”

“Putri, haruskah kita kabur? Adipati Ning tinggal di Kota Feng yang sangat jauh. Xiuli takut Putri akan menderita di sana.”

“Aku memang bisa kabur, tapi bagaimana dengan mereka? Melarikan diri dari pernikahan ini sama dengan melanggar titah kekaisaran. Meskipun aku bisa menyelamatkan diri, kalian tidak akan bisa. Jika Kaisar tahu aku kabur, dia akan mengirimkan pasukannya untuk mencariku dan menangkap kalian, menghukum kalian tanpa ampun. Temperamen rubah tua itu sangat buruk!”

Perkataannya benar. Cheng Yao bisa melarikan diri, dan dengan kekuatan yang dimilikinya dia akan aman. Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang mengikutinya?

Mereka cuma punya satu nyawa dan tidak punya kuasa apapun. Kaisar sangat keras kepala, dia akan melakukan segala cara untuk menemukannya.

Itu merepotkan. Jika terjadi, bayangan yang ia sembunyikan pasti akan ketahuan. Nasibnya jauh lebih buruk jika saat seperti itu tiba.

“Lalu apakah Putri akan tetap menikah?”

“Tentu saja! Siapa pengantin laki-lakinya? Adipati Ning?”

“Ya, Adipati Ning. Dia adalah sepupu Kaisar.”

“Astaga! Rubah tua itu sudah tua, bukankah sepupunya juga tidak akan jauh berbeda?”

Xiuli tidak tahu. Cheng Yao membayangkan dia akan menikahi seorang pria tua yang bungkuk dan berjanggut.

Sekarang usia Kaisar sudah 63 tahun, lalu apakah usia Adipati Ning juga tidak jauh darinya? Astaga, Cheng Yao sungguh merinding membayangkannya!

“Apakah Jun Heng ada di sini? Minta dia berikan informasi terkait Adipati Ning!”

“Putri, Jun Heng pergi seminggu lalu untuk menangani urusan.”

“Kalau begitu suruh dia kembali! Utus seseorang untuk menyampaikan informasi!”

“Tapi, mungkin kita baru bisa mengirimkannya setelah sampai di Kota Feng.”

Cheng Yao berdecak kesal. Sial, pos terdekat milik organisasinya ada di Kota Feng! Bukankah itu sudah terlambat?

Eps. 2: Idola Kaum Muda

“Aku dengar, Putri Danyang itu gemuk dan jelek. Wajahnya bulat, alisnya tipis, bibirnya tebal dan hidungnya agak pesek. Telapak tangannya sebesar piring, kakinya seperti bayi gajah. Tingginya tidak lebih tinggi dari satu meter. Dia juga bodoh dan sangat malas. Tuan, mengapa Kaisar mengirim seseorang yang begitu buruk untuk menjadi istrimu?”

Ning Ziyu menutup matanya sambil tetap duduk tenang di kursi roda ketika dia mendengar Ling Yun menceritakan tentang sosok Putri Danyang yang dikirim Kaisar untuk menjadi istrinya.

Entahlah, dia sendiri tidak tahu apa yang diinginkan oleh kakak sepupunya yang seorang Kaisar itu. Pernikahan keturunan keluarga kerajaan memang diputuskan oleh Kaisar, tetapi mengapa dia mengirim putrinya sendiri untuk menikah dengannya?

“Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh kakak sepupu Kaisar. Kalau dia sudah datang, ya sudahlah.”

Saat ini, Ning Ziyu sedang berjemur di bawah cahaya matahari. Berita mengenai penurunan titah pernikahan untuknya sampai  jauh-jauh hari lalu.

Apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang menyandang gelar adipati sepertinya? Dia tentu saja tidak bisa melawan titah ketika dalam darahnya sendiri mengalir darah keluarga kekaisaran.

Ling Yun seperti kecewa dengan reaksi Ning Ziyu. Di Kota Feng yang sangat jauh dari ibukota ini, tuannya adalah pemuda nomor satu. Dia kekasih impian semua gadis di Kota Feng. Bahkan dia bisa memikat seseorang seperti Putri dari negara lain yang kebetulan berkunjung ke Kota Feng.

Kalau dia menikah, bukankah gadis-gadis di kota ini akan patah hati? Saat itu, Ling Yun tidak bisa lagi punya kesempatan untuk memanfaatkan kepolosan para gadis itu agar mau mengeluarkan uangnya untuk membeli informasi mengenai Adipati Ning.

Tuannya jarang keluar rumah kecuali untuk urusan resmi. Sejak Putri Wanxin dan Jenderal Agung Xian Zhou meninggal, semua urusan pemerintahan dan militer di kota perbatasan ini jatuh ke tangan Adipati Ning.

Adipati Ning adalah adipati yang cakap dan kompeten. Dia adalah sosok idola di kalangan pemuda-pemudi.

Sayang sekali, sosok sempurna ini harus duduk di kursi roda selama tiga hari di setiap bulannya. Bekas pertempuran lima tahun lalu membuat Adipati Ning harus menahan reaksi racun yang tertinggal di tubuhnya.

Setiap tanggal 15 sampai tanggal 18 di setiap bulannya, racunnya akan bekerja kembali. Pada saat itu, dia akan duduk di kursi roda sampai periode kambuhnya berlalu.

“Aku ingin keluar,” ucap Ning Ziyu. Menghabiskan waktu seharian di kediaman entah mengapa jadi membosankan akhir-akhir ini.

“Tapi, Tuan, bagaimana dengan matamu?”

“Tidak apa-apa. Ini bukan masalah besar.”

Ning Ziyu mengambil kain putih selebar tiga jari, menutupi matanya dengan kain dan mengikatnya. Penampilannya saat ini sangat kontras dengan citranya sebagai seorang perwira tinggi yang pernah berjuang di medan perang. Adipati Ning, saat ini seperti seorang tuan muda penyakitan yang tidak berdaya.

Satu-satunya kelebihan yang membuatnya terlihat berharga adalah penampilannya yang menawan.

Wajahnya tampan, rambutnya sehitam batu tinta diurai panjang dan matanya ditutupi kain putih. Duduk di kursi roda dengan balutan pakaian abu-abu muda dan putih, Ning Ziyu betul-betul punya pesonanya sendiri.

Ling Yun menghela napasnya. Dia mendorong kursi roda Ning Ziyu, mengabaikan para pelayan dan keluar dari pintu gerbang samping.

Setelah itu, dia memapah Ning Ziyu menuju kereta dan menutup tirainya. Kereta kuda melaju dengan kecepatan konstan menuju pusat kota.

Ling Yun mengelap tempat duduk di dalam kereta dengan saputangan yang selalu ia bawa ke manapun. Tuan agungnya adalah pria menawan yang cerdas dan sangat berbakat, tapi tidak ada yang bisa menandinginya soal kebersihan.

Adipati Ning ini alergi kotor, semua tempat harus selalu bersih. Setitik debu pun tidak boleh terlihat. Jika tidak, Adipati Ning akan bersin sepanjang hari dan marah-marah.

Yah, di dunia ini memang tidak ada orang yang benar-benar sempurna. Adipati Ning punya segala hal yang tidak dimiliki orang lain, tetapi dia juga merupakan orang yang sangat merepotkan ketika alergi dan penyakitnya kambuh.

Kediaman adipati adalah tempat yang besar, ada lebih dari lima puluh pelayan dipekerjakan di sana. Namun, hanya ada sedikit pelayan yang ditugaskan melayani kediaman utama. Itu karena Adipati Ning tidak menyukai orang asing menyentuh benda-benda miliknya dan dia benci orang yang berisik.

Di tengah kota, para penduduk perbatasan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Kota Feng tidak semakmur ibukota, tetapi punya ciri khasnya sendiri.

Orang-orang di kota ini punya kecenderungan untuk bersikap ramah kepada orang lain. Di jalan-jalan, banyak ditemukan kios-kios pedagang mie dan bakpau, yang akan memberikan makanan gratis bagi setiap orang yang datang tanpa uang.

Walau terancam bahaya setiap saat, namun hidup mereka justru berjalan sangat baik. Ini karena mereka percaya dengan kemampuan Adipati Ning, perbatasan ini tidak akan mengalami gangguan yang serius. Bangsa Jin di negara tetangga tidak bisa menganggu kota ini secara langsung.

Prestasi yang dicapai olehnya dan juga oleh ayahnya, Jenderal Agung Ning Xian Zhou, telah menjadi fondasi dasar untuk kedamaian Kota Feng.

Ning Ziyu dan ayahnya telah berjuang keras untuk menjaga perbatasan ini selama hidup mereka. Jadi, para penduduk di Kota Feng sangat berterima kasih dan sering membagikan hasil bumi mereka untuk dinikmati bersama-sama.

Sayangnya, Adipati Ning ini jarang sekali keluar. Seperti yang diketahui, dia hanya keluar untuk urusan resmi atau saat ada hal penting yang harus dilakukan.

Gadis-gadis Kota Feng yang pernah melihatnya menjadi semakin tergila-gila. Terkadang, seseorang bisa lebih dirindukan ketika dia jarang bisa ditemui.

Kereta kuda tiba-tiba berhenti. Ning Ziyu mengernyit, lalu berteriak pada Ling Yun yang mengawalnya di luar kereta. “Mengapa berhenti?”

Dia punya sedikit urusan di Restoran Yunlai. Koki restoran itu punya hidangan baru. Sayangnya, hidangan baru tersebut hanya dimasak sekali dalam sebulan.

Dengan kualifikasi dan posisinya, Ning Ziyu bisa memanggil koki tersebut ke kediaman dan memasak untuknya.

Tapi, dia tidak suka melakukan hal-hal seperti itu. Kebetulan hari ini adalah hari ketika koki itu menyajikan hidangan barunya.

“Tuan, ada keributan di depan.”

“Oh?”

“Ada seorang pemuda sedang dikejar puluhan gadis. Sepertinya pemuda itu telah membuat mereka marah.”

Sepuluh meter di depan, seorang pemuda yang terlihat flamboyan berlari menerobos kerumunan dan memecah keriuhan pasar.

Pemuda itu bertubuh kecil, tingginya tidak lebih dari 170 sentimeter, memakai pakaian putih tulang dengan rambut disanggul dan diikat tali putih. Di bawah hidungnya tumbuh kumis tipis, yang lebih mirip seperti kumis palsu.

Dibandingkan dengan tampan, pemuda itu lebih cocok disebut cantik. Dia dikejar sepuluh gadis yang terus berteriak sambil melemparkan beberapa benda ke arahnya. Si pemuda terus berlari, menciptakan keributan yang tidak perlu dan menarik perhatian orang-orang.

Apa yang sudah dilakukan oleh pemuda itu hingga dia dikejar oleh gadis-gadis gila Kota Feng?

“Tuan, pemuda itu bergegas kemari!”

Belum sempat Ling Yun mencegah, pemuda flamboyan itu sudah melompat masuk ke dalam kereta. Sepuluh gadis yang mengejarnya merasa kehilangan barang buruan, mereka berhenti sambil mencari ke sana kemari.

Pemuda itu tertegun sesaat setelah dia masuk ke dalam kereta. Sosok pemilik kereta ini memakai pakaian hijau muda dan putih, tubuhnya bagus, mungkin tingginya sekitar 185 sentimeter lebih. Dia terlihat menawan meski memakai penutup mata.

“Siapa kamu?” Ning Ziyu bertanya saat merasakan seseorang yang asing masuk ke dalam keretanya, meski ia tidak dapat melihat seperti apa rupa orang itu.

Pemuda itu tersadar. “Ah, maaf, Tuan Muda, aku ingin meminta pertolonganmu. Pinjamkan aku keretamu sebentar, ya?”

Mengetahui seseorang yang tidak dikenal masuk tiba-tiba ke dalam kereta untuk bersembunyi, perasaan Ning Ziyu jadi tidak enak. Dia yang membenci kehadiran orang asing tiba-tiba merasa mual.

Pemuda ini sudah berlarian di tengah kota di bawah terik cahaya matahari. Ning Ziyu bisa mencium bau keringat di tubuh pemuda itu meskipun sangat samar. Dia langsung menutup hidungnya.

“Tidak! Keluar! Ling Yun, cepat usir orang ini!”

Ling Yun tidak bisa mendengar teriakannya karena ia malah sibuk memperhatikan para gadis

yang sedang mencari itu.

Ning Ziyu semakin merasa mual, dia berteriak dengan marah. Tahu bahwa orang ini akan menimbulkan masalah jika terus berteriak, pemuda tersebut langsung membekap mulutnya dengan tangan.

“Ssstttt… hanya sampai gadis-gadis itu pergi, aku mohon.”

Nadanya terdengar tulus. Ning Ziyu menelan kembali kemarahannya ke dalam perut. Saat para gadis itu sudah pergi, si pemuda menghela napasnya dan melepaskan tangannya. Dia duduk bersandar sambil mengipasi wajahnya.

“Ya ampun, tadi itu benar-benar mengerikan.”

Si pemuda menatap Ning Ziyu penuh rasa penasaran. Di Kota Feng yang jauh dari ibukota ini, ternyata masih ada seseorang yang begitu menawan meski matanya buta. Wajahnya itu sangat tampan dan kulitnya halus.

Dia menebak tuan muda buta ini adalah anak orang kaya yang rapuh. Dia seperti punya tubuh yang akan roboh ketika terkena angin.

“Mereka sudah pergi. Kamu bisa keluar!” Ning Ziyu kembali mengusir pemuda itu. Namun, alih-alih pergi, pemuda tersebut malah memperhatikannya lebih dari yang tadi.

“Tuan Muda, kamu sangat tampan.”

Sekarang perut Ning Ziyu lebih mual lagi. Tidak masalah jika gadis-gadis Kota Feng yang mengatakannya, tetapi jika seorang pemuda asing yang masuk ke dalam kereta yang mengatakannya, Ning Ziyu tidak sanggup menerimanya. Wajahnya ini ternyata tidak hanya memikat wanita, tapi juga pria!

“Keluar!”

Ning Ziyu sangat risih. Si pemuda malah tertawa terbahak-bahak. Dia tahu tuan muda menawan yang buta ini sangat risih dan tidak nyaman, bahkan merasa jijik mendengar pujian itu. Tapi, semakin tuan itu jijik dan risih, semakin menarik di matanya.

“Ling Yun, cepat keluarkan orang ini dari sini!”

Si pemuda tahu pengawal di luar itu sangat kuat, jadi dia buru-buru mengangkat tangannya tanda menyerah meski Ning Ziyu tidak bisa melihatnya.

“Oke-oke, aku akan keluar. Tapi, bisakah kamu membantuku untuk satu hal lagi?”

“Keluar!”

Eps. 3: Tidak Ada Penyambutan

“Tuan Muda, terima kasih! Hati-hati ada pemuda lain yang masuk lagi ke dalam keretamu! Semoga kita cepat berjumpa lagi!”

Cheng Yao melambaikan tangannya ke kereta yang melaju meninggalkannya di keramaian. Dia baru saja lolos dari kejaran sekumpulan gadis gila yang merasa marah karena dia menjelek-jelekkan idola mereka. Ternyata tidak hanya di dunia modern, perilaku mengidolakan yang berlebihan juga ada di zaman kuno!

“Aku menyebutnya tampan, bukankah aku akan terkesan mesum?”

Cheng Yao kemudian berpikir. Setelah datang ke Kota Feng, rombongannya tidak langsung menuju kediaman Adipati Ning.

Jun Heng, orang kepercayaan Cheng Yao yang diminta memberinya informasi terkait Adipati Ning tidak kunjung datang.

Pos cabang Paviliun Zhanbai di Kota Feng juga tidak bisa segera memberikan informasi karena informasi mengenai keluarga kekaisaran hanya bisa didapat di markas utama. Jadi, Cheng Yao hanya bisa mencari informasinya sendiri dengan menyamar menjadi seorang pemuda.

Dia menanyakan hal-hal tentang Adipati Ning kepada sekumpulan gadis yang sedang makan di Restoran Yunlai. Siapa sangka itu akan berakhir dengan aksi pengejaran yang membabi buta setelah Cheng Yao mengatakan kalau Adipati Ning itu pria tua berusia lebih dari 50 tahun dan gemuk. Para gadis itu sudah patah hati karena Adipati Ning akan menikah dengan seorang Putri, seseorang mengatakan hal jelek tentangnya, mereka tentu saja murka!

“Adipati Ning adalah ketampanan nomor satu di Kota Feng, bahkan pemuda ibukota saja tidak bisa menandinginya. Beraninya kamu mengatakan dia tua dan gemuk!”

“Dia sepupu Kaisar, mengapa usianya tidak boleh jauh berbeda dengan Kaisar?” saat itu Cheng Yao menanggapi dengan ringan, namun perkataannya telah memicu kemarahan para gadis dan berakhir dikejar seperti buronan.

Pada akhirnya, Cheng Yao terpaksa menerobos ke dalam kereta seseorang untuk bersembunyi. Tidak ada yang salah dengan itu, kan?

Dia hanya mencocokkan usia Adipati Ning dengan ayahnya yang Kaisar itu, karena secara garis keturunan Adipati Ning adalah sepupu ayahnya. Jadi, rentang usia mereka mungkin tidak jauh berbeda.

Cheng Yao jadi berpikir otak para gadis ini pasti bermasalah. Mata mereka pasti buta karena mengidolakan seseorang yang usianya jauh di atas mereka. Adipati Ning jelas-jelas sudah tua seperti ayahnya!

“Putri! Akhirnya aku menemukanmu!”

Xiuli menghampiri Cheng Yao dengan napas terengah-engah. Wajah pelayan itu penuh dengan keringat. Cuaca hari ini lumayan terik, jadi suhu udara secara otomatis naik. Dia mungkin telah berlarian di kota ini untuk mencarinya.

“Apa Jun Heng sudah kembali?”

“Tidak.”

“Jun Heng sialan! Aku akan memberinya pelajaran setelah dia tiba nanti!”

“Putri, aku pergi mencarimu karena kamu belum juga kembali. Aku takut kamu tersesat di Kota Feng yang asing ini.”

Sudut mulut Cheng Yao berkedut. “Apakah aku, Putri Danyang, begitu mudah tersesat?”

Walaupun itu benar, tapi tidak ada orang yang akan berani mengatakannya dengan jujur. Putri Danyang, selain pemalas, bodoh, dan nakal di mata orang, dia juga buta arah. Dia harus didampingi pelayannya setiap kali keluar istana secara diam-diam. Jika tidak, akan sulit menemukannya setelah beberapa jam tidak kembali.

“Tentu saja Putri yang terhebat dan tercantik. Tapi, kita harus segera kembali. Kita harus segera bersiap menuju kediaman Adipati Ning.”

“Ah?bApakah hari pernikahannya sudah tiba?”

Xiuli mengangguk. “Putri, besok adalah tanggal 15.”

Dalam titah dituliskan bahwa Putri Danyang dan Adipati Ning harus menikah di tanggal 15. Cheng Yao sibuk mencari informasi mengenai orang itu sampai dia melupakan tanggalnya.

Ya Tuhan, kalau sampai dia tidak menikah di tanggal 15, maka ayahnya yang Kaisar itu akan mengirim orang untuk meminta penjelasan! Hal-hal akan semakin merepotkan jika rubah tua itu sudah mengirim utusannya!

“Baiklah. Mari kembali. Utus seseorang untuk mengabarkan kedatangan kita ke kediaman Adipati Ning.”

Xiuli mengangguk. Mereka kembali ke penginapan setelah berjalan selama lima belas menit. Di kamarnya, Cheng Yao merebahkan diri di atas tempat tidur dan menghela napas. Pernikahannya dengan Adipati Ning adalah besok, tapi dia bahkan belum mengetahui apa-apa perihal orang yang akan dinikahinya.

Cheng Yao hanya tahu kalau Adipati Ning adalah sepupu dari Kaisar. Jika dia adalah seorang Putri yang baik dan diperhatikan, dia mungkin dapat menerima beberapa informasi tentangnya di istana.

Tapi, dia adalah Putri Danyang yang pemalas, bodoh, dan diabaikan. Mengetahui soal saudara-saudara sepupu Kaisar bukan sesuatu yang harus ia perhatikan.

Paviliun Zhanbai punya informasi tentang Adipati Ning, tapi titah pernikahan ini terlalu mendadak bagi Cheng Yao. Tidak ada waktu untuk menyelidiki siapa dan seperti apa sosok Adipati Ning yang sesungguhnya.

Dia ceroboh. Seharusnya dia tidak terlalu mengabaikan tentang saudara-saudara ayahnya yang lain. Sekarang saat Jun Heng tidak ada, dia tidak bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan meski dia sudah mengirimkan surat.

Tampaknya, selain memperbaiki sikap malasnya yang pura-pura, Cheng Yao juga harus memperbaiki manajemen pengelolaan organisasi rahasianya.

Cheng Yao menatap sekilas gaun pengantin yang digantung di sisi kiri tempat tidur. Dia benar-benar akan menikah kali ini.

Di zaman modern, Cheng Yao tidak punya waktu untuk memikirkan soal pernikahan. Setelah bertransformasi menjadi bayi keluarga kekaisaran dan tumbuh menjadi seorang Putri, dia diberikan kesempatan untuk menikahi seseorang.

Ah, apakah dia pernah memikirkannya? Entahlah. Cheng Yao malas memikirkannya. Dia memejamkan matanya dan tidur dengan damai.

Keesokan harinya, rombongan pengantin yang diutus dalam pernikahan Putri Danyang dan Adipati Ning meninggalkan penginapan.

Rombongan itu menarik perhatian seluruh penduduk kota, hingga mereka berbaris di sepanjang jalan untuk menyaksikan sebuah rombongan pengantin dengan mewah melewati jalan.

Orang-orang mulai bergosip.

“Apakah itu adalah rombongan pengantin yang dikirim Kaisar untuk pernikahan Putri Danyang dan Adipati Ning?”

“Mungkin. Selain Kaisar, siapa yang dapat mengirim rombongan sebanyak dan semewah ini?”

“Tapi, mengapa mereka pergi sendirian? Aku tidak melihat orang dari kediaman Adipati Ning ada di antara mereka.”

“Mungkinkah Adipati Ning tidak mengutus seseorang untuk menjemputnya? Tapi, dia adalah Putri Danyang, Putri kandung Kaisar. Adipati Ning juga harus menghormatinya.”

“Aiya, apakah kamu tidak tahu? Katanya, Putri Danyang ini tidak disayangi di istana. Dia diabaikan sejak kecil oleh Kaisar. Selain nakal, dia juga malas dan bodoh. Wajahnya bulat, pipinya tembam, tangan dan kakinya bengkak dan berlapis lemak. Selain itu, dia juga pendek dan gemuk. Adipati Ning kita selalu sempurna, bagaimana bisa menikah dengan orang jelek seperti ini?”

“Perkataanmu masuk akal. Karena tidak dapat melanggar titah, mungkin Adipati Ning hanya tidak ingin menjemputnya secara langsung sebagai bentuk protesnya.”

“Hush! Kalian tidak boleh bicara buruk tentang Adipati Ning!”

Xiuli mengintip dari tirai jendela kereta. Ekspresinya buruk. Orang-orang ini sungguh tidak tahu apa-apa! Mereka dengan seenaknya mengatakan kalau Putri Danyang jelek! Mereka kurang ajar!

“Putri, mereka menjelek-jelekkan Putri. Bagaimana bisa dibiarkan begitu saja?”

“Abaikan saja. Kita datang bukan untuk mendengarkan ocehan sekumpulan penggosip itu.”

Xiuli hanya bisa merasa sedih dan marah untuk tuannya. Putri Danyang benar-benar abai terhadap rumor buruk tentangnya di luar sana. Selain makan dan tidur, dia hanya mementingkan urusan bisnisnya di balik layar. Dia sangat tidak peduli pada citra dirinya sendiri.

Cheng Yao tentu tahu apa yang dipikirkan oleh pelayannya. Tapi, apa daya?

Dia sudah memutuskan untuk hidup sebagai orang yang tidak berguna di hadapan semua orang, tetapi sangat terampil dan mengejutkan di belakang layar. Cheng Yao sudah sangat nyaman dengan kehidupan gandanya, jadi, reputasi itu tidak penting untuknya.

“Adipati Ning juga sangat keterlaluan! Tidak hanya tidak menjemput pengantin, dia bahkan tidak mengirim satu orang pun sebagai utusan! Putri, Adipati Ning sangat tidak

menghormati Putri!”

“Dia adalah adipati yang berkuasa, dan aku hanya seorang Putri yang tidak berguna. Mungkin saja pria tua itu sedang terbaring di tempat tidur karena sakit sampai tidak bisa bangun.”

“Yang Mulia….” Xiuli merengut.

“Sudahlah. Lihat riasanku, apakah ada yang kurang? Meskipun aku menikahi pria tua seusia ayahku, aku harus tetap terlihat cantik. Wajah pemberian Tuhan ini tidak boleh sia-sia.”

Ketika Xiuli sibuk merengut karena tingkah acuh tak acuh sang Putri, seseorang dari rombongan pengiring pengantin memberitahu mereka bahwa sepuluh meter di depan adalah kediaman Adipati Ning. Xiuli mengintip dari balik tirai kereta, lalu kembali masuk dan merengut. Kali ini lebih parah.

“Kenapa?” tanya Cheng Yao.

“Putri, Adipati Ning bahkan tidak menyiapkan apapun. Xiuli hanya melihat seorang pria setengah baya dan seorang pemuda berbaju hitam membawa pedang sedang berdiri di depan pintu gerbang.”

“Benarkah?”

Cheng Yao ingin mengintip, tapi kereta kuda tiba-tiba berhenti. Sepertinya sepuluh meter yang dikatakan oleh pengiring di luar dilalui dengan cepat. Suara tabuhan musik berhenti tepat ketika rombongan sampai di depan gerbang kediaman Adipati Ning yang megah dan gemilang.

Jing Fu, yang merupakan kepala pengurus kediaman adipati menunggu di depan gerbang. Ling Ren, saudara Ling Yun ikut menunggu bersamanya. Ketika kereta tiba, keduanyansegera datang menyambut mereka.

Jing Fu berdiri di sisi kereta, menundukkan kepala dan memberi postur penghormatan.

“Putri, selamat datang. Mohon maafkan kelalaian kami dalam menyambut kedatangan Putri. Adipati Ning sedang memiliki urusan penting sehingga tidak dapat menyambut Putri secara langsung. Mohon Putri tidak tersinggung.”

“Lancang sekali! Ini adalah Putri Danyang, Putri Kaisar. Adipati kalian bahkan tidak mengirimkan utusan untuk menjemput Putri kami, apakah Adipati Ning kalian tidak menghormati Putri dan Kaisar?”

Jing Fu, Ling Ren, diikuti oleh para penjaga gerbang kediaman seketika berlutut begitu Xiuli berkata dari dalam kereta.

Setiap kata yang dikeluarkannya membuat mereka bergetar. Ya, calon istri Adipati Ning adalah Putri Danyang, meski tidak disayangi dan tidak punya kekuasaan, mereka tetap harus menghormatinya.

“Xiuli, jangan menakuti mereka dan membuat mereka salah paham,” Cheng Yao dengan malas menegur Xiuli. Teguran itu membuat pelayan tersebut diam, menyerahkan segala urusannya kepada sang tuan.

Jing Fu dan Ling Ren masih berlutut, enggan berdiri jika Cheng Yao belum memaafkan kelancangan mereka. Di dalam kereta, Cheng Yao menghela napasnya, mengambil saputangan putih, pura-pura batuk. Kemudian, dia menyuruh Xiuli untuk membantunya turun.

Ketika Jing Fu dan Ling Ren mendongak, mereka terkejut.

Itu…..

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!