NovelToon NovelToon

Skandal Mantan Ipar

BAB SATU

...[PROLOG]...

Malam yang diisi dengan desah, herangan, lenguh, peluh. malam yang menggelora, malam yang tiada layak dilewatkan bagi sepasang insan ini.

Hubungan haram kata orang, tapi mereka suka menjadi teman di atas ranjang. Mereka saling memenuhi kebutuhan birahi satu sama lain malam ini.

Bukan hanya sekali, ini bahkan sudah berlangsung sampai berulang kali. Elang puas Glory senang, begitu jargon dari hubungan yang tiada status ini.

"Mau kah kau menjadi suami ku, Lang?"

Sambil mendesah, Glory membelai dada bidang berbulu tipis Elang. Melamar sudah menjadi kesehariannya meski selalu ditolak dengan cekikikan pria itu.

"Kita di luar ranjang, hanya orang asing, Baby!"

...[BAB SATU]...

"Papi kenapa nggak sama Tante Glo, ngapain pacaran sama Vicka?!" Maurin nama gadis itu, dia sedang protes perihal kekasih baru Elang sang ayah.

"Vicka baik," jawab Elang.

"Tapi dia masih seumuran Maurin, Pi!"

Elang tahu Maurin keberatan, apa lagi Vicka kekasihnya digadang gadang sebagai gadis yang paling menyebalkan di sekolah, dan itu semua Elang ketahui dari mulut Maurin.

Maurin anak tiri kesayangannya, mereka dekat sedari Maurin masih bayi, Elang yang merawat anak ini bahkan dari masih di dalam kandungan mantan istrinya.

Lihatlah, seragam SMA itu sudah membuat Maurin terlihat dewasa. Rasanya, Elang tak siap jika nantinya Elang mengetahui bahwa Maurin memiliki pemuda yang disayanginya.

Elang sudah dinyatakan tidak akan pernah bisa membuahi sedari sebelum menikahi mantan istri yang sekarang sudah bahagia bersama lelaki lain.

Dia mandul, dan memang seperti itu. Karena sudah berkali- kali dia mencoba melakukan hubungan seks dengan beberapa wanita tanpa pengaman, hasilnya selalu negatif.

Itu juga yang membuat Elang sangat menyayangi Maurin. Anak tirinya berusia 15 tahun yang mungkin sebentar lagi memiliki pacar.

Lagi- lagi membahas karir supernya, Elang seorang komisaris. Beruntung perusahaan yang dia tekuni, bukan perusahaan dinasty.

Dia berhak naik jabatan tinggi meski bukan bagian dari kerajaan group. Elang memang selalu menjadi karyawan teladan, makanya mudah baginya meraih jabatan tinggi.

Dia berterima kasih kepada wajah tampan yang membuat dirinya lebih mudah disegani dan disenangi, entah itu karyawan biasa sampai anak CEO, mengagumi sosoknya.

Dirinya sudah tidak lagi muda memang, tapi soal wajah dan ketampanan, dia termasuk lelaki yang awet muda karena getol menjaga pola hidup yang sehat.

Takkan ada yang menyangka jika umurnya sudah masuk ke 41 tahun. Wajah khas Eropa yang dia miliki menambah kesan seksi.

Bercambang tipis, bermanik biru, berpawakan tinggi bidang, memiliki bibir yang merona dan Elang definisi pria yang mendekati sempurna jika menyoal perihal looking.

"Usia Vicka masalah?" enteng Elang.

Lagi pula Elang hanya bermain main, percuma saja mencari wanita yang seperti apa pun, sungguh Elang tidak akan pernah serius menjalani rumah tangga.

Elang sudah cukup memiliki Maurin, dan wanita baginya hanya boneka yang jika dia sudah bosan, dia hempas. Elang yakin, tak ada wanita yang mau menerima Maurin.

Makanya, lebih baik Elang tak menjatuhkan hati pada siapa pun. Kalau kebetulan ada gadis cantik yang menyatakan cinta padanya ya ok, Elang terima jika sesuai standarnya.

Namun, sepertinya Maurin menganggap serius hubungannya dengan Vicka. Lihat saja cara Maurin diam di joknya, begitu muram.

"Sayang..."

"Pokoknya Maurin nggak setuju kalo Papi pacaran sama Vicka! Dia itu cuma manfaatin Papi buat kebutuhan flexing!"

Maurin berteriak sebelum keluar dari mobilnya, membanting pintu sekeras mungkin hingga mata Elang terpejam sekilas.

Sebenarnya Maurin pernah bilang jika Maurin rela Papi Elang menikah lagi. Tapi, dengan Tante Glory yang bahkan sampai sekarang tak mau menerima lamaran siapa pun.

Namum, sungguh Elang tak ada niat untuk menjadikan Glory istrinya. Apa lagi Glory masih kakak kembar mantan istrinya.

Apa jadinya jika mereka menikah, naik ranjang, oh tidak, dia tidak akan pernah melakukan hal itu. Hal yang sangat amat memalukan baginya.

...Note:...

...Alurnya akan dibuat maju mundur, jujur, aku buat cerita ini terinspirasi dari film yang menceritakan masa lalu dan masa sekarang dalam episode yang sama. Hihi, semoga suka......

BAB DUA

"Om, ini bagus nggak?"

Elang tersenyum menatap gadis itu. Vicka asmara nama gadis yang paling ditentang oleh Maurin, tentunya karena umur anak ini baru 16 tahun.

"Bagus." Elang setuju dengan pilihan Vicka, sepatu cantik yang tidak terlalu mahal, yah Elang hapal karena dia terbiasa memilihkan sepatu untuk Maurin.

"Vicka boleh kan ambil ini?"

Elang mengangguk mengiyakan. Dia lalu menarik dagu Vicka, ia tersenyum dan mengusap pipi chubby gadis itu.

Memang tak diajak ngamar, tapi Elang suka bercengkrama dengan daun muda. Elang suka memanjakan gadis- gadis karena itu obat rahasia awet mudanya.

"Lang..." Elang sontak menoleh ke arah sumber suara yang menyeru namanya.

Wanita itu, wanita berbusana elegan, rok span pendek, sepatu heels, dan kerah rendah yang mengekspos dada bulatnya. "Glo."

Entah ada angin dari arah mana yang membuat Elang harus tidak sengaja berpapasan dengan perempuan cantik itu.

Ipar, sekaligus wanita yang sudah beberapa kali menjadi partner ranjangnya. Yah, bukan hanya sekali, keduanya sudah berkali kali terlibat ngamar setelah mabuk di bar yang sama.

Lucunya, mereka selalu berakhir pulang ke rumah masing- masing. Lalu setelah itu tak ada yang membahas tentang malam yang mereka lewati bersama.

"Hey, Glo..." Elang menggaruk tengkuk, dia kikuk karena di sisinya sedang berdiri gadis mungil seumuran Maurin. "Kamu di sini?"

"Hmm." Elang yakin, Glory hapal perangainya, Glory hanya tersenyum kecil lalu melewati Elang dan gadis Elang untuk menuju tempat kasir.

"Tunggu."

Sampai tiba Glory di meja tinggi itu, Elang masih setia menatapnya. Agaknya, Glory baru menyadari ada yang tertinggal, terlihat dari bagaimana Glory meraba seluruh tubuhnya.

"Dompet ku," gumam Glory. "Maaf Kak, ponsel saya tertinggal di mobil. Saya harus ambil..."

Elang meraih dompet miliknya, meraih dan menyodorkan kartu Atm-nya. "Pakai ini saja." Suara berat Elang membuat Glory dan kasir menatap ke arahnya.

"Tidak perlu Lang," tolak Glory. "Aku bisa membayarnya sendiri."

"Pakai ini!" Elang kembali menyuruh kasir untuk segera melakukan transaksi. Sedang gadis di sebelah Elang hanya manyun karena tas yang Glory ambil tas yang Vicka suka.

"Baik, Pak. Totalnya 209 juta."

Lihat, Vicka semakin kesal karena harga tas Glory bahkan berpuluh kali lipat dari harga sepatu yang Elang belikan untuknya.

Glory mendekati telinga Elang. "Lebih baik simpan untuk pacar matre kamu," bisiknya.

Elang tak peduli, dia lekas meraih paper bag dari Mbak kasir untuk diberikan pada mantan kakak iparnya. "Ambil!" ujarnya.

Glory bisa apa, lagi pula, Elang akan malu jika dia terus ngotot untuk menolak. "Baik. Terima kasih," ucapnya lalu tersenyum yang terkesan datar.

Elang hanya mengangguk kecil, menatap punggung dan pinggang ramping yang perlahan menjauh dari jangkauan matanya.

Entahlah, sekelebat dia jadi mengingat saat Glory berada di bawah tubuhnya. Padahal, selama tahu tahun terakhir, Glory tak tampak menyambangi bar lagi.

Tak lama Elang membayar belanjaan tak seberapa milik Vicka, sebuah pesan masuk ke ponselnya. 📩 "Sudah aku transfer lagi."

Elang segera cek saldo rekening di salah satu ATM miliknya, dan dia sudah mendapatkan kiriman uang dari Glory.

"Kamu mengejek ku?"

Elang langsung membalas pesan Glory secepatnya. Hanya karena dia ini bukan pemilik perusahaan, bukan berarti Elang miskin, dia masih memiliki cukup uang.

Dia masih bisa membelikan dua atau tiga tas mahal Glory sekaligus. Namun, sepertinya Glory masih saja meremehkannya dan itu yang membuat Elang tak suka pada keluarga Miller karena Flory dan Glory sama saja.

📩 "Aku tidak mengerti maksud kamu."

Elang memutar bola matanya, Glory ini wanita teraneh yang pernah dia kenal. "Kamu pikir aku akan miskin hanya karena membelikan satu tas kamu, Glo?" balasnya lagi.

📩 "Loh ... Kenapa musti marah? Sama sekali aku tidak mengejek mu. Aku hanya tidak suka ditraktir orang asing."

Elang tak suka kata orang asing karena mereka bahkan sudah sering mendesah di atas ranjang yang sama. "Kita ini..."

Ah, Tuhan...

Elang lekas menghapus balasan pesannya setelah mengingat, bahkan dia sendiri yang pernah memberitahu Glory jika di luar ranjang mereka hanya orang asing.

"Om..."

"Kamu pulang sendiri, Vicka!"

Elang melangkah acuh, meninggalkan gadis mungilnya begitu saja, tak peduli meski gadis itu memanggil manggil namanya sambil mengejar.

Elang sudah tak mood berjalan jalan, apa lagi melihat wajah Vicka. Entahlah, kenapa juga suasana hatinya harus kacau setelah Glory mengembalikan uang tasnya.

BAB TIGA

Sudah dikatakan Elang kaya, makanya dia tersinggung saat Glory yang notabenenya anak perempuan dari pemilik perusahaan besar mengembalikkan uang tasnya.

Elang turun dari mobil sport miliknya, pria tinggi bidang berpakaian serba hitam itu melangkah tegas memasuki sebuah bar. Tempat, di mana dia akan bertemu dengan Glory.

Beberapa waktu lalu, bartender favoritnya memberi tahu jika malam ini Glory datang dan meminta racikan koktail.

Lama Elang tak melihat Glory datang ke bar, dan entah ada apa dengan gadis itu, malam ini Glory menyambangi tempat ini.

Benar saja, di depan meja bartender Glory tampak termenung. Matanya menatap lekat tepian gelas heels berisi minuman putih pekat yang sedikit kekuningan.

Bicara busana, Glory tak pernah gagal membuatnya terkagum. Glory wanita yang tak pernah terlihat menua, selalu cantik dan segar dengan gaya seksinya.

"He-ehm!" Elang duduk dengan sempurna di sisi wanita itu, dan Glory menoleh sesuai dugaannya. "Apa kabar, Glo?" Elang sedikit mendekat agar suaranya terdengar.

Lampu temaram, sorotan disco yang seiring dengan irama dentuman musik remix. Ini hal yang biasa bagi keduanya.

Melihat Elang di sisinya Glory terkekeh kecil, entah kenapa selalu saja ada Elang saat dia datang ke bar ini. "Tidak baik."

Yah, Glory memang terlihat sedang tidak baik- baik saja, dan Elang hapal sekali, biasanya Glory akan mabuk setelah Alex Miller sang mantan mertua menurunkan warisan untuk kedua cucu lelakinya.

Glory sering mengatakan jika dia sedih bukan karena takut kehilangan warisan, tapi takut kehilangan kasih sayang yang Glory yakin sudah berat sebelah.

Sedari Glory masih kecil, seingatnya Alex Miller lebih condong kepada Kakak dan adik kembar Glory yaitu Flory; mantan istrinya.

"Ada masalah?" tanya Elang.

Pria tampan itu memang selalu menjadi teman curhat bagi Glory dan pembicaraan mereka tak pernah jauh dari masalah keluarga.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Glory seharusnya memiliki suami. Tapi lihatlah, Glo masih asyik menyendiri dan melihat teman ranjangnya memacari gadis- gadis cantik.

Tak jarang Glory mengumpat Elang pedof saat mereka bercinta. Tapi lelaki itu hanya terkekeh karena tak merasa memakan para gadis yang dia kencani.

Elang juga punya Maurin si anak tiri kesayangannya, dengan dalih itu dia tak mau merusak masa depan anak gadis orang.

Sejauh ini Elang mengakui, tak ada wanita yang mampu memuaskan biologisnya seperti yang Glory lakukan. Dan menurut Glory, bodoh sekali jika harus percaya pada bualan Casanova gila ini.

"Hanya kesepian." Glory menatap Elang yang kemudian mengusap paha mulusnya.

"Aku di sini bersama mu, Glo."

Glory tertawa pengar, lalu kembali meneguk minumannya secara cepat. Sementara Elang memindai layar ponsel Glory yang bergetar.

"Siapa Lucas?"

Ada panggilan masuk yang diacuhkan Flory. Elang penasaran, siapa kiranya lelaki yang sedang dekat dengan Glory.

"Teman." Glory terkekeh sinis. "Yang pasti bukan teman yang hanya datang disaat dia butuh pelampiasan wanita untuk bercinta."

"Kamu menyindir ku?" Elang segera menyela karena cukup tersinggung. Jelas, hal itu membuat Glory terkekeh- kekeh.

"Tidak sama sekali. Tapi kau selalu datang dan mengajak ku bercinta." Glory yakin ada seseorang yang memberi informasi pada Elang setiap dia datangi tempat ini.

"Mabuk tidak baik untuk mu." Elang menegur.

Elang hanya tidak ingin Glory mabuk- mabukan seorang diri, sungguh dia takut jika Glory dijadikan sasaran lelaki bejat. Padahal menurut Glory elang lebih dari buruk dari kata bejat.

"Mabuk bukan pilihan yang baik."

"Tidak ada yang pernah bisa baik untuk ku sekalipun itu keburukan, Lang. Jangan tanya jika itu kebaikan, pasti lebih tidak baik lagi untukku yang tidak baik ini."

"Kamu depresi?" tanya Elang lagi.

"Mungkin." Ada senyum pilu yang sedang dipaparkan oleh Glory kali ini. "Dulu aku tidak ingin menikah, tapi sekarang aku kesepian."

Elang segera mengusap paha mulus Glory yang lekas menepisnya. "Tidak perlu mengasihani ku, Lang, aku tidak hidup berdasarkan rasa kasihan."

"Mau ke mana?" Elang bangkit sesaat setelah Glory bangkit ingin pergi. "Pulang!"

"Biar aku antar," kata Elang terkesan gagah.

Mendorong, Glory terkekeh pengar ketika Elang memapah jalannya. "Kamu bisa cari wanita lain di bar ini, Lang, aku tidak sedang mencari teman ranjang."

"Kamu mabuk, biar aku antar..."

Elang tahu Glory sedang banyak pikiran, dan membiarkan wanita yang berkali-kali dia tiduri selama status dudanya bukanlah hal yang dia mau saat ini.

"Tidak perlu." Glory meraih tas kecil miliknya dari meja bartender. Lalu ngeluyur pergi dengan langkah sempoyongan.

Elang menghela sejenak lalu mengikuti langkah wanita itu, sudah dia katakan dia serius ingin mengantarnya. Setidaknya Glo butuh seseorang untuk menyetir bukan?

Tiba di parkiran, Elang membuka pintu bagian penumpang, Glory awalnya terdiam menatap lelaki itu sejenak. Sebelum akhirnya dia mau masuk karena Elang memaksanya.

Elang yang ambil kemudi, lalu menarik sabuk pengaman wanita mabuk itu. Dan kedekatan mereka membuat Elang menelan ludah.

Dada besar Glory, kini tepat berada di depan mata sayu-nya. "Aku serius aku tidak sedang mencari teman ranjang, Lang."

Elang terjaga, dan dia sama sekali tak peduli dengan ucapan Glory, dia lekas kembali ke kursinya untuk menyetir. "Pulang ke mana?"

"Penthouse!" Glory akhirnya pasrah, biar saja pria brengsek ini mengantar, lagi pula dia sudah tidak peduli lagi apa kata orang.

Bertahun-tahun dia menjomblo, itu karena adik kembarnya terus melarangnya menjalani hubungan dengan Elang. Selain belajar dari pengalaman, Elang bukan pria yang baik.

Masih banyak lelaki di luar sana yang lebih cocok untuk dijadikan suami. Namun, Glory tak pernah menunjukan ketertarikannya pada pria selain Elang saja.

Rumit bukan, Glory hanya bisa menyendiri di bar dan selalu berakhir bercinta dengan pria yang bahkan selalu bilang jika mereka takkan pernah bisa menjalin hubungan serius.

Pernah Glory iseng, bertanya, apakah kau mau menjadi suami rahasia ku? Dan jawaban Elang hanya tertawa cekikikan saja.

Elang benar benar selalu datang untuk menjadi partner ranjang. Bukan partner hidup, apa lagi dengan cara menikah rahasia.

Tiba di penthouse Elang memapah Glory masuk ke kamar. Membaringkan wanita itu di atas permukaan ranjang empuk bersampul putih.

Elang juga melepaskan satu persatu sepatu heels merah menyala Glory. Rok span merah marun Glory terbilang sangat ketat dan pendek, tanpa menyingkapnya, Elang dapat melihat betapa indahnya surga dunia.

Elang menyelimuti wanita itu. "Mau aku buatkan sup penghilang pengar?" Dan tubuhnya terperosok ke atas tubuh Glory seketika Glory menariknya.

"Temani aku."

Elang terkekeh samar. "Kau bilang tidak sedang mencari partner ranjang?"

"Tapi aku mencari teman bajingan." Elang memutar bola matanya, bisa bisanya wanita itu mengumpatnya terang terangan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!