Namanya Rashaka Abumi Shankara, Of course dia putra tunggal kaya raya dari keluarga konglomerat yang memiliki banyak anak cabang perusahaan di beberapa negara yang bergerak di berbagai sektor, kini ia menjabat sebagai Chief Executif Officer. Orang-orang sih bilangnya CEO tapi ga tau artinya apa, taunya CEO itu keren, udah gitu aja. Tapi emang itu kenyataan sih. Okey next to introduced him. Sekarang ia menjabat di induk perusahaan yang berfokus pada bidang properti.
Dan yap, usianya 27 tahun, usia di saat ganteng-gantengnya. Cukup terbilang sangat sukses bukan? Jangan salah sangka lohh, Rashaka bisa sesukses itu karena pencapaiannya, bukan hanya karena dia pewaris. Rashaka itu gambaran sempurna dari ambisi yang terwujud menjadi nyata. Sebelumnya, dia telah mengukir namanya di panggung global sebagai diplomat muda yang disegani.
Tidak mudah baginya untuk menduduki kursi empuk yang telah didudukinya saat ini, Rashaka berjuang mati-matian untuk bisa mendapatkannya. Pahit, asam, asinnya hidup sudah dirasakan, bahkan masa mudanya pun dihabiskan untuk belajar dan bertekad untuk bisa menjadi pemimpin perusahaan. Tidak ada yang menuntutnya untuk melakukan itu semua, bahkan jika Rashaka tidak berusaha sekalipun, perusahaan itu akan jatuh pada kepemilikannya. Karena sistem perusahaan yang dipakai oleh keluarganya sama seperti sistem kerajaan. Siapa yang pertama lahir, dia yang akan mendapatkannya. Rashaka cucu pertama, jadi ia yang akan mendapatkannya. Namun, Rashaka ingin membuktikan kepada mereka bahwa ia layak untuk mendapatkan posisi tersebut dengan hasil kerja kerasnya, bukan hasil warisan.
Karena Rashaka tidak ingin menyia-nyiakan usaha kerja kerasnya selama bertahun-tahun, ia tidak akan membiarkan posisinya tergantikan dengan mudah, benar. Raka memiliki saingan, sepupu perempuannya. Ya, Rashaka mempunyai satu saudara sepupu perempuan, dia adalah satu-satunya sepupu yang dimiliki Rashaka.
Rashaka menyayanginya seperti adiknya sendiri, umur mereka terpaut cukup jauh. Meskipun begitu, Rashaka tetap menganggapnya sebagai saingan karena bisa dengan kapan saja dapat merebut posisinya. Untuk mempertahankan posisinya Rashaka akan mengabdikan sepenuh dirinya kepada perusahaan.
Sama seperti yang ia lakukan saat ini, sudah dua jam berlalu saat ia menatap layar laptop dengan kacamata yang dipakainya. Padahal, saat ini katanya sedang berlibur pulang ke rumah orangtuanya, Rashaka malah sibuk mengerjakan pekerjaan yang bukan miliknya karena ia tidak ingin ada kesalahan dalam bisnisnya. Apakah saat ini Rashaka pantas dikatakan sebagai orang yang sedang berlibur? Jarang sekali Rashaka pulang kerumah, tahun ini pun kepulangannya bisa dihitung dengan jari, dan itu pun hanya beberapa hari.
"SHAKA, MAMA MASUK" suara lengkingan tersebut tidak lain dan tidak bukan dari Silvia, satu-satunya wanita yang menjadi alasan keberadaan dirinya di sini. Penampilannya bak ibu-ibu sosialita, dengan pakaian glamor, dan lengkap dengan perhiasan yang menyilaukan mata. Shaka adalah panggilan khas dari sang ibu.
Sontak Rashaka membalikkan badannya dengan kursi yang sedang ia duduki.
"SHAKA!" Ucap Silvia dengan kedua tangannya di pinggang.
"iya mah" sahutnya
"KAMU TAU APA?!"
"Shaka tidak tau dan tidak mau tau"
"Ini informasi penting dan kamu harus tau Shaka!"
"Emangnya apa yang harus shaka ketahui?"
"Kamu ingat anak Bu Maya?"
Rashaka mengekpresikan wajahnya terkejut "Ohhh, ga tau"
"Tau apa kamu selain pekerjaan"
Rashaka tertawa kecil "memangnya kenapa, ma?"
Silvia duduk di tepi ranjang yang dekat dengan Raka. "Mamah dapet undangan" ucapnya pilu.
"Memangnya kenapa?"
"Mamah mau, Shaka."
"Mamah mau nikah lagi?"
Silvia melotot pada anak semata wayangnya itu, "kamu ini! Bukan mau nikah lagi, tapi Mamah pengen nikahin kamu. Teman-teman mamah udah pada nikahin anaknya, sedangkan mamah cuman dapet undangan. Kali-kali mamah kek yang ngundang mereka"
Raka menatap malas pada Silvia.
"Kapan kamu mau ngenalin pacar kamu ke mamah?"
"Mau mengenalkannya bagaimana? Pacar aja Shaka tidak punya"
"Ya makanya cari! Kamu pikir perempuan yang akan mendatangi kamu?"
"Kenyataannya memang gitu kan?" elaknya. Rashaka berkata jujur, bahwa memang kenyataannya sudah banyak wanita yang mengantri untuk bisa mendapatkan hatinya. Namun Rashaka tidak pernah sekalipun berkutik.
"Tapi ga ada tuh dari sekian banyaknya perempuan yang datengin kamu ada yang kamu pilih"
"Ya berarti memang bukan tipe Shaka aja, makanya Shaka nolak"
"Tipe kamu itu kayak gimana sih Shaka?! Masa dari banyaknya perempuan ga ada satupun yang mendekati tipe kamu?"
"Bukan masalah tipenya, memang bukan orangnya aja"
Silvia tersadar dengan ucapan Rashaka.
"Jadi maksud kamu, kamu udah punya perempuan yang kamu incar?"
Rashaka mengangguk. Dengan senyum sumringah, Silvia mendekat padanya.
"Yang benar Shaka?! Sejak kapan? Kenapa kamu tidak memberi tahu mamah? Cepat kenalkan dia pada mamah"
"Mah, Shaka sudah lama mengincarnya sejak kecil. Shaka ga tau sekarang dia ada di mana"
"Kamu ini aneh, bagaimana jika perempuan yang kamu maksud itu sekarang sudah menikah?"
Tidak, itu tidak mungkin. Karena perempuan yang Rashaka maksud umurnya terpaut 9 tahun lebih muda darinya, jadi tidak mungkin jika perempuan incarannya itu telah menikah. Jika dihitung mungkin usianya kini 18 tahun, dan masih duduk di sekolah menengah atas.
"Tidak, dia belum menikah"
"Dari mana kamu tau dia belum menikah?"
"Karena jodohnya ada di sini" ucap Rashaka sambil menunjuk dirinya.
"Kamu ini selalu berbicara omong kosong. Mamah khawatir sama kamu Shaka"
"Khawatir apa mah? Shaka udah gede gini masih aja dikhawatirin"
"Mamah khawatir kalau kamu gay"
"Astaga mamah, kenapa ngomongnya kayak gitu?"
"Pikir aja sama kamu, selama ini kamu ga pernah dirumorkan dekat sama perempuan manapun. Temen-temen mamah sempat bilang ke mamah kalau mamah harus perhatiin kamu, takutnya kamu gay"
"Mamah, lain kali ga usah temenan sama mereka ya"
"Kalo kamu mau mamah ga temenan lagi sama mereka, kasih mamah menantu biar mainnya sama istri kamu, bonusnya cucu"
"Mamah ini, mikirnya terlalu kejauhan."
"Pikiran kamu yang dangkal"
Rashaka berdiri dari tempat duduknya, kemudian merangkul bahu Silvia.
"Mah, jika memang udah waktunya. Shaka juga pasti akan menikah dengan wanita pilihan Shaka" Jelasnya.
"Mamah takut kamu kesepian, Shaka. Keseharian kamu cuman bekerja, kamu juga butuh seseorang buat dampingi kamu, yang selalu ada di samping kamu."
Rashaka melepaskan rangkulannya lalu menatap wajah sang mamah "Selagi ada mamah, Shaka ga pernah ngerasa kesepian"
Senyum simpul terukir di bibir Silvia.
"Tapi shaka, mamah teringat. Bukankah kamu memiliki teman perempuan? Kenapa kamu tidak mencoba berkencan dengannya?"
"Mamah, dia hanya teman biasa. Dari awal pertama kita bertemu, Shaka sudah tidak suka padanya"
"Bukannya kamu berteman baik?"
"Tidak. Shaka hanya menganggap nya sebagai kenalan biasa, tidak lebih"
"Shaka, jika kamu belum menentukan pilihan mu, biar mama saja yang menentukannya"
"Mamah berniat mendaftarkan ku ke aplikasi kencan buta sama seperti waktu itu lagi?"
"Tidak Shaka, ini berbeda. Yang waktu itu mamah hanya main-main, lagian waktu itu juga kamu malah ngirim seseorang buat ngegantiin kamu, untuk kali ini mamah serius."
"Mahhh" keluh Raka.
"Shakaa, ini yang terakhir kali. Jika kamu tidak menginginkannya kamu bisa menolaknya"
"Mah, Shaka tidak mau." Bantahnya dengan halus.
"Jangan keras kepala!"
"Silahkan saja, dalam waktu dekat ini Shaka akan pergi ke luar negeri."
"Jangan macam-macam kamu shaka" ucap silvia sambil menunjuk ke arah wajah Rashaka.
Silvia kemudian keluar dari kamar. Rashaka hanya menghela nafas ringan, ia tidak tahu jalan pikir mamahnya itu yang selalu membuat keputusan secara sepihak.
BERSAMBUNG
*visual Rashaka Abumi Shankara
Seorang pria baru saja memarkirkan mobilnya di depan rumah megah milik keluarga Pradita. langkah kakinya cepat agar tidak terlambat mendatangi rapat keluarga. Setelah di depan pintu, ia mengetuknya dan tak lama kemudian ada seorang pelayan yang menyambutnya dan mengantarkannya ke ruang keluarga yang sudah berkumpul, hanya dia seorang yang datang terlambat.
"Maaf aku terlambat" ujarnya.
"Kamu ini dari mana saja, kenapa bisa terlambat?" Sanggah laki-laki paruh baya yang umurnya hampir setengah abad. Dia adalah Geano, ayah pria tersebut.
"Maaf, ayah. Tadi kevan kejebak macet" jawabnya.
"Ya sudah kalo gitu, sini duduk dulu." Ucap Retta, ibundanya. Sambil menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.
Kevan pun langsung duduk di sebelah Retta. Di ruang keluarga ini, ada dua keluarga yang berkumpul, Keluarga pradita dan keluarga Geano. Semuanya hadir kecuali yang bersangkutan.
Kevan melihat ke arah sekelilingnya, ia merasa ada yang kurang. Orang tuanya mengajaknya untuk bergabung dalam pertemuan ini karena akan membicarakannya, namun orang yang akan dibicarakan tidak diikut sertakan dalam pertemuan ini. Kevan merasa aneh.
"Rashaka nya mana tante? Bukannya dia udah pulang dari Amerika ya?" Tanya kevan.
"Kenapa kamu menanyakan Shaka?" Silvia menjawabnya dengan balik bertanya.
"Bukannya kita di sini mau membicarakan soal Rashaka?" Ujar kevan yang masih belum mengerti dengan kondisi saat ini.
"Kita akan menjodohkannya secara diam-diam, jadi untuk apa dia ada di sini?"
Kevan hanya mengangguk, ia tidak percaya dirinya akan terlibat dalam perjodohan teman karibnya. Kevan berharap semoga saja perempuan yang akan dijodohkan dengan Rashaka bisa bertahan dengan sifatnya yang berubah-ubah.
"Sekarang kita sudah terkumpul semua, rela meninggalkan kesibukan masing-masing. Adanya kita di sini tidak lain dan tidak bukan untuk membicarakan masa depan anak-anak kita" ucap Pradita, selaku ayah Rashaka dan suami Silvia memulai percakapan.
"Meski kita masih merahasiakannya dari dua calon mempelai, namun saya rasa kita harus dengan cepat menyatukan keluarga kita" sambutnya.
Kevan terdiam. "Tunggu! Apa? Keluarga kita? Di sini hanya ada dua keluarga. Itu artinya keluarga Rashaka dan keluargaku, Rashaka akan dijodohkan dengan siapa? Tidak mungkin kalau dengan aku, itu artinya apa mungkin dengan Vyora? Tapi dia masih terlalu kecil untuk dijodohkan. Apalagi dengan seorang Rashaka Abumi Shankara." batinnya.
"Tunggu! Keluarga kita? Rashaka akan dijodohkan dengan siapa? Vyora?" Tanya kevan ingin tahu.
Pradita dan Silvia menatap heran pada kevan, mereka menyangka jika kevan sudah mengetahuinya. "Kamu belum mengetahuinya, kevan?" Tanya silvia.
"Ah gini, ibu lupa untuk ngasih tahu kamu kevan. Sebelumnya ibu ingin memberi tahu soal perjodohan ini, namun akhir-akhir ini kamu jarang ada di rumah. Jadi ibu lupa untuk memberi tahu kamu" ucap Retta menjelaskan nya.
Kevan hanya mengernyitkan keningnya, ia masih mencerna ucapan-ucapan yang baru saja ia dengar. Perjodohan ini sudah direncanakan dari lama dan ia baru mengetahuinya sekarang, dan itupun akan segera dilaksanakan.
"Sekarang kamu sudah mengetahuinya kevan, kami mengundang kamu kesini karena kami berharap kamu bisa membantu untuk mempertemukan mereka dan membuatnya menjadi dekat" ucap Geano.
Kevan masih tidak percaya, ayah yang selalu dibangga-banggakan oleh Vyora berbuat seperti ini padanya.
"Kevan, kamu tahu betul keadaan Raka sekarang. Ia membutuhkan seseorang untuk mendampinginya, dan saya rasa seseorang itu adalah Vyora" kini Pradita yang membuka suara.
Kevan hanya diam mendengarkan, tidak menggubris perkataan mereka.
"Meski begitu, bukan hanya itu alasannya. Saya dan Geano sudah merencanakan hal ini sejak lama" sambung Pradita.
"Kamu benar Geano, saya sudah tidak sabar untuk mengubah hubungan persahabatan kita menjadi keluarga" sahut Geano.
"Saya harap yang lainnya bisa menyetujui rencana ini" ucap Pradita.
"Tentu kami setuju, iya kan Retta?!" Tanya Silvia pada Retta disertai dengan anggukan. Kemudian Retta tersenyum menandakan bahwa dirinya juga menyetujui rencana perjodohan anaknya.
Sekilas kevan menatap sang ibu yang berada di sampingnya. wajahnya menggambarkan rasa kekecewaannya.
"Yang kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar mereka menyetujui perjodohan ini" sahut letta.
"Rashaka itu urusanku, walaupun sedikit susah, Saya memiliki cara agar dia mau menyetujuinya" ucap Pradita.
Silvia terlihat keheranan, bagaimana bisa suaminya mempunyai rencana tetapi tidak memberitahunya. Apalagi ini menyangkut dengan Raka anak satu-satunya.
"Kamu punya rencana dan itupun tidak memberitahuku?"
"Ini aku sedang memberitahumu" timpal Pradita.
Silvia menunjukkan wajah sebalnya. "Kalau begitu apa rencananya?"
"Kita ajak kakek untuk bekerjasama" ucap Pradita sambil mengangkat angkat kan kedua alisnya.
Pradita tahu betul jika kakeknya yang meminta Raka untuk menikah, Raka tidak akan bisa untuk menolaknya.
Silvia sangat sumringah setelah mendengar ide rencana dari suaminya. "Suami ku ini sangat cerdas, kamu memakai kelemahan Raka untuk menaklukkannya." Ucapnya.
Pradita tertawa ."kakek juga pasti bersenang hati untuk membantu kita, dan dia juga pasti akan senang jika cucunya itu menikah"
Geano bertepuk tangan setelah mendengar rencana Pradita. "Hebat sekali, saya jadi terinspirasi dari anda, Pak pradi. Anda memang selalu menginspirasi saya" ucap Geano seolah-olah mendapatkan hidayah.
"Kenapa? Kamu juga ingin mengikuti ku?"
"Tentu."
"Kalau begitu, saya ingin tahu apa kelemahan calon menantu ku."
"Tentu diriku sendiri, dia sangat menyayangi saya sebagai ayahnya. Saya akan menggunakan sedikit kemampuan akting ku, bagaimana?"
Pradita pun bertepuk tangan sebagai apresiasinya terhadap rencana Geano "anda hebat sekali Geano, kita sama-sama akan berakting. Jika kita berhasil, kita lanjutkan saja bakat akting kita menjadi seorang aktor." Ucap Pradita dengan tawanya, kemudian disusul oleh tawa Silvia dan letta.
Kevan sudah naik pitam, bagaimana mereka bisa tertawa disaat merencanakan hal konyol seperti itu? Ia sudah tidak tahan lagi, kevan pun berdiri membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Mau ke mana kamu kevan?" Tanya Geano.
"Kevan mau ke toilet, yah."
"Toiletnya ada di bawah tangga, kevan" ucap silvia memberi tahu letak kamar mandi.
"Ya sudah kalau begitu, jangan lama-lama. Ada yang perlu kami bahas"
"Iya ayah. Kevan akan kembali" kevan pun kemudian pergi, ia tidak benar-benar pergi ke kamar mandi. Ia hanya ingin menjauh, tidak nyaman baginya disaat mereka membahas perjodohan itu.
"Retta, apakah kevan baik-baik saja?" Tanya Silvia.
"Ia hanya terkejut dengan perjodohan adeknya, salahku tidak memberitahunya lebih awal"
Beberapa saat kemudian, kevan kembali. Ia sudah tampak lebih tenang dari sebelumnya.
Namun ternyata, perbincangan mereka telah selesai. Kevan kebingungan, bukankah tadi ayahnya bilang untuk cepat-cepat kembali karena ada yang harus dibicarakan dengannya?, dan sekarang mereka sudah menyudahinya.
"Untuk hari ini mungkin hanya itu saja yang kita bicarakan, untuk kedepannya saya harap rencana rencana kita berhasil dan pembahasan kita bisa mencapai tingkat serius" ucap Pradita.
"Saya juga berharap seperti itu" ujar Geano.
"Kalau begitu, kami pamit pergi dulu" sahut Retta.
"Baiklah, hati-hati di jalan" ucap silvia sambil memeluk Retta.
BERSAMBUNG
* visual Kevan
Hari mulai sore, gadis cantik yang sedang berseri-seri itu tengah melihat layar handphonenya. Ia sedang sibuk chattingan bersama pacarnya yang kini sudah berjalan selama 2 tahun, sama seperti anak remaja pada umumnya. Ia sedang menikmati indahnya masa-masa remaja.
Namanya Vyora Queensha Geovana, gadis pemeran utama dalam cerita ini. Ia memiliki paras wajah yang cantik, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik, bibir tipisnya yang berwarna merah muda, dan wajahnya yang mungil. Membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh hati padanya. Sama seperti pacarnya, saat pertama kali dia bertemu dengan Vyora ia langsung menjatuhkan hatinya, dan mulai mendekatinya walaupun banyak cobaan dan rintangan, ia harus bersaing dengan banyak laki-laki lain. Namun dia terus mencobanya dan berhasil mendapatkannya.
Dan ya, sore ini mereka akan pergi berkencan. Di kafe tempat favorit Vyora, sudah menjadi suatu rutinitas bagi mereka untuk pergi berkencan di hari weekend.
Vyora beranjak dari kasurnya, ia menuju walk-in-wardrobe yang berada di dalam kamarnya, ruang itu merupakan tempat ia menyimpan dan mengoleksi semua pakaian, bukan hanya menyimpan pakaiannya saja, Vyora bahkan menyimpan tas, sepatu dan segala macam aksesoris lainnya di sana.
"Bagusnya yang mana ya?," Vyora melihat melihat baju bajunya yang tergantung, yang didominasi oleh dress.
"Kayaknya yang ini udah dipake," ujarnya setelah melihat dress berwarna baby blue. Kemudian ia mengambil dress berwarna milk dengan rompi berwarna coklat.
"Aku coba yang ini aja deh." Vyora pun mulai mengganti pakaiannya.
Warna milk dan warna kulitnya tidak kontras, sehingga membuatnya terlihat menarik, dengan rompinya yang ia pakai menjadikannya sempurna.
Vyora berkaca pada cermin yang ukurannya setinggi badannya, kemudian ia tersenyum terasa cocok dengan dress yang ia gunakan. Sebenarnya Vyora selalu cocok untuk mengenakan pakaian apapun, hanya saja ia terdidik untuk tampil dengan penampilan yang menawan.
Vyora merias tipis pada wajahnya, sedikit foundation, bedak, dan lipstik. Rambutnya ia biarkan tergerai. Lalu ia menyemprotkan parfum bayi pada tubuhnya. Vyora sangat menyukai wangi bayi, wangi bayi itu sudah menempel pada tubuh Vyora. Tak heran jika ada orang yang mengenali Vyora hanya karena wanginya, sehingga wangi tubuhnya sudah menjadi ciri khasnya.
Vyora kemudian berdiri dan mengambil dompet dan sepatu pantofel putih nya. Serasa sudah beres, Vyora keluar untuk menemui pacarnya.
Disaat melewati ruang keluarga, Vyora melihat abangnya itu tengah asik bermain game. Vyora hanya melewatinya seperti angin lalu.
"Mau ke mana? Gaya bener" Kevan bertanya namun wajahnya masih fokus melihat layar game yang ia mainkan.
Kevandra Rhory Geovan atau sering kita sebut Kevan, ia berumur 24 tahun. Tampan, perhatian, namun masih singel. Alasan ia masih bertahan lajang sampai sekarang adalah karena ia takut tidak bisa membahagiakan dan malah menyakiti perasaan perempuan. Sedangkan menurut kevan, menyakiti perempuan sama saja ia menyakiti mamahnya atau pun Vyora. Dan kevan juga tidak mau jika suatu saat karma itu akan terjadi pada anak perempuannya. good thinking kevan.
"Mau pacaran lah, emangnya Abang enggak pernah pacaran. pacaran gih, nanti takut dikira gay"
Kevan menghentikan permainan gamenya, dan melihat ke arah Vyora. "Heh! Buat apa pacaran kalo ujung-ujungnya putus, ujung-ujungnya malah cuman jagain jodoh orang"
Vyora sedikit tersinggung dengan ucapan kevan, memang ada benarnya juga. Bagaimana kalo selama ini mereka hanya Saling menjaga dan tidak berjodoh?. Vyora cepat-cepat menghapus pikirannya.
"Bodo amat, wleeee" ia menjulurkan lidahnya pada kevan, kemudian pergi. Tidak peduli ending dari kisah cintanya seperti apa, Vyora hanya akan berusaha untuk selalu bisa bersama pujaan hatinya.
"Hati-hati vya." Sebuah senyuman terukir di wajah kevan disaat ia melihat sang adik perempuannya itu menikmati masa mudanya seperti ini, entah bagaimana perasaan Vyora jika ia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan laki-laki yang bahkan usianya lebih tua dari Abangnya.
Vyora menaiki taxi untuk bisa sampai di kafe. Setelah sampai di kafe, Vyora memasuki kafe tersebut yang terlihat sudah mulai penuh. Penampilannya yang cantik menarik perhatian di sekitarnya, Vyora langsung menuju kasir.
"Maaf, kak. Reservasi hari ini sudah penuh" ucap waiters.
"Aku tamu dari seseorang"
"Atas nama siapa?"
"Geovan"
"Mari saya antar"
waiters itu mengantarkan Vyora ke tempat meja yang telah dipesan. Vyora senang karena pacarnya itu memesan meja di dekat jendela, karena itu adalah tempat favoritnya.
Setelah duduk, Vyora mengalihkan pandangannya pada luar jendela, ia semakin risih karena bisikan-bisikan para lelaki yang mejanya tidak jauh darinya. Sedari tadi mereka mencuri-curi pandang pada Vyora, bahkan sempat ada yang cat calling.
"Mereka kenapa sih?! Kayak yang ga pernah liat cewe cantik aja" ucap Vyora geram.
Sudah 15 menit berlalu, seseorang yang ia tunggu-tunggu tidak memperlihatkan batang hidungnya, Vyora sudah menelpon nya berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Bahkan para pelanggan pun sudah mulai sepi, hanya beberapa meja yang kini terisi.
Bunyi lonceng berbunyi, menandakan ada pelanggan datang. Vyora tidak mengalihkan pandangannya, ia masih menatap luar jendela, larut dalam kegalauan nya.
"Kamu siapa? Mengapa duduk di kursi saya?" Suara berat tersebut tertuju pada Vyora, membuat Vyora menoleh dan mendongak 90° ke arahnya.
Dahi Vyora mengerut, ia memperhatikannya mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian ia tersenyum sinis.
"Kamu yang siapa?! Dateng dateng bilang ini kursi kamu" bantah Vyora, nada suaranya sedikit meninggi.
Laki-laki itu berdecak "Remaja zaman sekarang sudah tidak ada sopan santun nya"
Vyora tidak bermaksud berbicara dengan nada tinggi seperti itu, ia terbawa emosi karena pacarnya yang tak kunjung datang, ditambah lagi dengan orang ini.
"Maaf, aku ga bermaksud. Tapi meja ini milik aku" nada suara Vyora kini kembali normal.
"Apa yang kamu maksud? Saya yang lebih dulu telah memesan meja ini"
"Ini meja aku! Pacar aku yang udah mesen, lagian aku yang lebih dulu Dateng ke sini"
"Apa hubungannya dengan itu?"
Lelaki itu berupaya untuk tetap tenang, karena perdebatan mereka mengundang perhatian para pengunjung.
Suara bel berbunyi untuk yang kedua kalinya.
"RAKA?!" ucapnya histeris, bukan hanya pemilik namanya saja yang menoleh, bahkan seisi kafe menoleh ke arahnya.
Benar. Pria yang sedang berdebat memperebutkan meja dengan Vyora adalah Raka, laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.
Rasa amarah Raka yang ia pendam mulai mereda, karena sahabat karibnya itu telah datang, dia adalah kevan.
Kevan mendatangi mereka berdua, ia menatap heran pada kedua nya. Ia bertanya-tanya, kenapa Vyora bisa bersama dengan Raka di dalam kafe?. Bukankah Vyora bilang akan pergi berkencan dengan pacarnya? Tidak mungkin jika mereka...
"Kamu ngapain di sini?" Tanya kevan pada Vyora.
"Mau pacaran" singkatnya.
Mata kevan membelalak, ia terkejut bukan main. Jika Vyora dan Raka sudah berpacaran, untuk apa orang tuanya repot-repot menjodohkan mereka.
Vyora yang menyadari ekspresi Kevan langsung meluruskan ucapannya. "Bukan sama dia, aku di sini emang mau pacaran, tapi tiba-tiba orang itu datang ngaku-ngaku yang mesen meja ini"
"Siapa juga yang mau pacaran dengan gadis yang tidak tahu sopan santun seperti kamu" tukas Raka.
BERSAMBUNG
*visual Vyora Queensha Geovana
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!