NovelToon NovelToon

Heart Stopover

Prolog

Cinta, benarkah cinta itu indah? Di cintai adalah sebuah anugerah sebab tanpa kita meminta akan ada seseorang yang akan tulus menyayangi kita, perna kah kalian merasakan itu? Sedangkan mencintai adalah sebuah pengorbanan besar,sebuah perasaan yang belum tentu terbalaskan namun kita tetap tidak bisa menghindar atau mengilangkan perasaan itu begitu saja.

Mencintai dan di cintai mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama tidak bisa memilih kepada siapa rasa itu akan berlabu. Kadang rasanya ingin tertawa melihat melihat diri sendiri yang terjebak dalam rasa cinta ini, konyol kenapa dia? Pertanyaan itu selalu muncul tanpa tau jawabannya.

Dia adalah Quranisya Zahra Meka gadis yang beranjak dewasa memendam cinta kepada temannya sendiri semenjak di bangku SMP ( sekolah menengah pertama ). Jika ditanya apa yang membuat dia jatuh hati, tentu pasti karena paras sang idola lah yang menjadi api cinta pertama, namun setelah memendam selama tiga tahun banyak hal yang membuat Ranis kagum. Cerdas, ramah, sholeh,rajin ibadah semua yang ada pada dirinya komplit sesuai dengan harapan Ranis. Mencari imam di dunia dan akhirat.

Mengejar cinta pertamanya bukanlah hal yang muda, apalagi doi tidak terlalu sering berinteraksi dengan perempuan. Namun jika kita bersungguh-sungguh maka Allah akan mempermudah jalan kita, ya seakan Allah memberi kemudahan kepada Ranis, ternyata doi adalah anak seorang pemuka agama di perumahan yang dia tinggali. Dengan sedikit merengek dan memaksa Ranis berhasil menyakinkan kedua orang tuanya agar dia di pindah mengajinya di  TPQ yang di kelola oleh keluaga doi.

Ammar ( Ammar Zaki Abdullah), nama sang pujaan hati. Setelah menyakinkan kedua orang tuanya Ranis kembali menyakinkan sahabat satu-satunya yang dia miliki sejak kecil. Agar dia juga ikut mengaji di tempat Ammar.  Alhamdulillah, Ranis bersyukur berulang kali lantaran sahabatnya itu mau ikut bersamanya agar dia tidak malu kalau bertemu dengan Ammar.

Beruntung Ranis memiliki sahabat seperti Citra, ya Citra Septia. Sang sahabat sekaligus penghibur hati Ranis jika sedang dilanda rasa galau. Citra menjadi pendengar setia semua isi hati Ranis. Dan hanya Citra satu - satunya orang yang tau perasaan Ranis terhadap Ammar.

Sore itu Ranis berlari dalam derasnya hujan, menerjang dinginya udara untul sekedar menemui Citra dan menangis dipelukan Citra. " Apa yang terjadi Ran?" Citra kaget setelah dia membuka pintu tiba-tiba Ranis menumburnya dan memeluknya erat tak peduli jika dia sudah basah kuyub. Citra merasa tubuh Ranis tergoncang akibat isak tangis sang sahabat.

Tak mendapat jawaban Citra langsung merangkul bahu Ranis dan mengajaknya masuk kedalam kamar, memberikan baju ganti agar Ranis tidak kedinginan lagi. " Sebenarnya ada apa Ranis?" Dengan membawakan teh hangat Citra mendekat dan memberikan minuman itu agar bisa sedikit menghangatkan tubuh Ranis.

" Semuanya tinggal angan-angan Cit, semuanya tinggal angan-angan. Hu..hu..hu.." Kembali Ranis menangis.

" Ada apa cerita dong?" Citra duduk disamping Ranis, meletakan teh hangat yang tidak diterima oleh Ranis tadi.

" Ammar, hiks.. Ammar dia pergi" Ranis melanjutkan isak tangisnya.

" Hah! Pergi gimana maksud kamu?" Citra menautkan alisnya dan mulai berfikir negatif. " Innalillahi wa inna ilaihi roji'un"  Ucap Citra karena tidak menjawab petanyaan nya, Citra sudah berspekulasi sendiri.

" Ngawur kamu." Ranis melotot. " Jangan doa'in dia yang jelek-jelek, aku ndak kuat". Lanjutnya.

" Habis kamu di tanyak.i malah tidak menjawab." Citra tak kalah sewot.

"Tadi pas aku disuruh bunda beli sesuatu, aku melihat Ammar pergi naik mobil berlalu begitu saja dihadapanku." Ranis menjeda ucapannya. " Saat aku tanya bu Nyai katanya Ammar akan melanjutkan SMA dipondok pesantren. Hua...hua..." Tangis Ranis kembali pecah keseluruh kamar Citra. Sementara Citra tidak mencegah Ranis menangis, biarlah biar dia tenang batin Citra.

" Aku kira Ammar berpulang." Cuek Citra

" Astagfirullah, jangan kayak gitu ya Cit."

" Kan aku nggak tau, lah kamu sendiri menangis kayak enggak bakal ketemu lagi aja."

" Aku menangis karena di tinggal mondok Ammar, kamu tau kan disana pasti banyak cewek-cewek yang lebih sholeha dari aku, lebih pinter ilmu agamanya, lebih cantik dan yang penting mereka bisa bertemu dengan Ammar tiap hari. " Ranis sudah mulai menggebu - gebu.

" Eh Ran, loe pikir pesantren kayak apa? Kan disana santri -santri dipisah cewek cowoknya." Citra mulai geram dengan tingkah Ranis.

" Awas aja aku tidak iklas."

" Apanya?"

" Kalau sampai dia jatuh hati sama perempuan lain." Tegas Ranis.

" Emang loe siapanya Ammar?" Citra tertawa sedikit meremehkan.

" Calon istrinya aku, insha allah."

" Aamiiin"  Citra mengamini ucapan Ranis seraya berdoa. Ranis langsung memeluk Citra kembali.

Memang semenjak abah Ammar sakit-sakitan TPQ yang dikelolah oleh keluarga sudah di tutup beberapa bulan yang lalu, al hasil Ranis jadi kurang up date informasi tentang Ammar. Bicara dengan Ammar pun bisa dihitung dengan jari.

***

Adakah diantara kalian yang masih terbelenggu oleh cinta pertama, cinta pertama memang yang paling berkesan, tidak mudah mengilangkan perasaan tersebut. Tanpa di pupuk pun rasa itu akan berkembang.

Hanya dalam mimpi Ranis bisa bahagia, malam hari adalah waktu yang dinanti oleh Ranis, agar dia bisa ridur dan memimpikan orang tersayangnya. Karena hanya dalam mimpi Ranis bisa bicara banyak hal dengan Ammar.

Ada yang pernah bilang, jika kita bermimpi bertemu seseorang maka orang tersebut sedang merindukan kita. Apakah benar? Jika iya Ranis sangat bahagia. Itu artinya Ammar juga merindukannya, eh tunggu dulu, Rindu? Apakah Ammar juga mempunyai perasaan dengan Ranis? Mana mungkin.

Nama Ammar sudah memenuhi hatinya, salahkah perasaan itu? Dosa kah mengharapkannya? Tiap sholat Ranis selalu mengangkat tangannya seraya berdoa agar Ammar adalah jodoh yang ALLAH tulis di Lauhul Mahfudz, jika bukan Ammar yang tertulis Ranis akan terus berdoa sehingga nama Ammar lah yang tertulis menggantikan nama orang yang tertulis disana. Emang bisa? Hanya Allah yang tau.

Setelah memutuskan untuk setia meskipun tidak menjalin hubungan atau ikatan apapun. Ranis bertekat akan menutup pintu hatinya rapat-rapat agar tidak ada cela untuk orang lain.

Anggap saja hubungan jarak jauh, begitu pikir Ranis. Dia sudah terlalu jatuh cinta kepada Ammar, atau dia malah terobsesi dengan Ammar.

'Semoga kelak kita dipertemukan dan didekatkan oleh ikatan yang tidak akan pernah bisa memisahkan kita. Sedekat nadi, seirama jantung aku ingin menjadi bagian dalam hidupmu , ku sebut namamu dalam doaku Ammar Zaki Abdullah, semoga allah mendengarkan doa-doa ku ini.'

'Aamiin'

Bisa jadi kemantapan hati seseorang akan membawa awal baik untuk dirinya, begitupun kita.

***

Hay salam kenal, ini adalah karya ke empat ku di noveltoon , mohon dukungan kalian ya. Tinggalkan jejak kalian dengan komentar komentar kalian, semoga kedepannya kakian suka dengan kisah ini.

Untuk nunggu kisah selanjutnya kalian bisa baca novel-novelku sebelumnya, semoga kalian juga suka.

Awal Orientasi

Nis. . . Ranis. . .Bangun,nak. Ini sudah siang" Bunda Desi kembali membuka selimut yang menutupi tubuh anak kesayangannya. Kegaduhan itu berulang kali terdengar, lantaran Bunda Desi  sedang berusaha keras untuk membangunkan anak semata wayangnya.

" Ranis, ayo." Bunda Desi kembali menarik selimut. " Ranis!!" Suara Bunda sudah mulai meninggi dengan penuh penekanan.

" Apa sih Bunda." Ranis mendudukkan tubunya dengan separuh kesadarannya. Sesekali dia menguap dan meregangkan otot-ototnya. " Bunda ganggu aja, orang aku lagi mimpi indah juga." Keluhnya dengan suara khas bangun tidur.

"Mimpi,mimpi. Lihat tu jam berapa? Bukannya kamu MOS hari ini." Setelah mendengar ucapannya sang bunda Ranis langsung terlonjak kaget dan buru-buru masuk ke kamar mandi untuk bersiap.

Bunda Desi menghela nafas melihat tingkah anak semata wayangnya yang  nyatanya sudah gadis namun masih  bersikap seperti anak kecil, kegaduhan mulai terdengar kembali ketika Ranis sudah mulai keluar dari kamarnya.

"Bundaa...bun..." Triaknya mencari keberadaan bunda Desi yang ternyata sang Bunda sedang berkutat dengan kesibukannya didapur.

" Apa lagi sih Ranis?" Menghampiri Ranis yang tidak jauh dari pandangannya. Jarak antara dapur dan ruang tamu yang juga sekaligus menjadi ruang santai itu hanya beberapa meter saja terpisahkan dengan meja makan kecil yang hanya cukup ditempati empat orang saja.

" Bun rambutku harus dikepang hari ini? Tolong" Ranis mencoba memelas. Bunda sudah mendudukkan tubuhnya di Sofa yang tersedia,menghela nafas kecil menggelengkan kepala melihat Ranis." Bunda kan tidak bisa mengepang rambut,Ranis."

" Sebisanya aja Bun, dari pada aku dihukum." Mohonnya, lebih baik berusaha dulu dari pada tidak melakukan apa-apa.

Tanpa menunggu persetujuan sang Bunda Ranis langsung duduk dibawah Sofa,tepat didepan sang Bunda, Memberikan sisir yang dia bawa sejak kekuar dari kamar tadi.

" Makanya, tidur jangan ngebo" Bunda Desi mulai mengomeli Ranis karena gemas dengan kelakuan Ranis. Tangannya mulai mengepang rambut Ranis dengan telaten.

" Namanya juga mimpi indah bun." Kilahnya, Ranis tersenyum sendiri mengingat mimpinya semalam, dimana dia bermimpi bertemu dengan pujaan hatinya, yang sudah mulai dua minggu kemaren pergi untuk menuntut ilmu kepondok pesantren.

" Mimpi apaan sih anak bunda?" Masih dengan telaten membuat kepangan dirambut Ranis.

" Ranis mimpi ketemu sama gebetan bunda, ya walaupun hanya dalam mimpi tapi itu terasa kayak nyata." Senyumnya bisa menggambarkan betapa Ranis bahagianya. " Mimpi aja bisa deg degan gini bun."

" Gebetan, gebetan. Awas ya pake pacar-pacaran ya. Bikin dosa."

" Aku hanya mengagumi dalam diamku Bunda."

"Siapa sih? Dari dulu kenapa nggak mau ngomong siapa orangnya, Bunda kenal?" Bunda Desi mulai kepo sekarang mulai mode mengorek informasi.

" RAHASIA." Ranis menggelengkan kepalanya. Setelah beberapa menit akhirnya jadilah keoang terbaik versi Bunda Desi." Sudah" .Bunda Desi mengakhiri membuat kepang dirambut Ranis. Ranis mulai bangkit dan menuju dapur bukan untuk sarapan namun untuk berdiri didepan lemari es hanya untuk mengaca apakah sudah rapi apa belum.

Salah satu kebiasaan Ranis jika sudah malas kembali kekamar hanya untuk mengaca maka alternatifnya adalah menggunakan lemari es yang bewarna hitam, dari situ dia bisa melihat pantulan dirinya.

" Bun, kok miring gini." Protes Ranis setelah melihat pantulan dirinya didepan lemari es, yang menunjukkan jika rambutnya tidak sama, satunya kepang dari atas yang satunya kepang miring bawah.

"Sudah,sudah. Ndak papa cepat kamu berangkat ini sudah setengah tujuh nanti kamu telat."

Dengan bergegas Ranis langsung mengambil tas dan menjinjingnya,beranjak keluar di ikuti sang bunda, menaiki motor matic yang terpakir di halaman kecil rumahnya. Ranis memang bukan anak orang kaya, Bunda nya mulai menjalankan usaha catering semenjak ayah Ranis meninggal dunia dua tahun yang lalu.

Bukan catering besar, hanya menerima beberapa pesanan dari tetangga sekitar dan juga menerima orderan online, mulai dari kue hingga nasi kotak.

***

Sekitar 20 menit dihabiskan diperjalanan ,akhirnya Ranis memarkirkan motornya diparkiran sekolah, suasana ramai penuh hiruk pikuk memandang sekitar banyak yang berpenampilan sama dengannya. Rok putih atasan putih dan rambut dikepang untuk siswi perempuan , sementara siswa laki-laki tidak menggunakan acsesories di kepala mereka. Setelah mengambil tanda pengenal yang dia buat sendiri semalam, langsung dikalungkan dilehernya. Setelahnya menuju lapangan dimana semua siswa baru telah berkumpul.

" Raniiiiiissss" Seru cewek seumuran Ranis. Siapa lahi kalau bukan Citra

" Citraaaa" Ranis memeluk Citra bahagia, bagaimanapun juga mereka memang sudah merencanakan untuk melanjutkan sekolah bersama.

" Ini apaan Nis?" Citra menelisik penampilan rambut Ranis yang beda sebelah, tak lama kemudian gelak tawanya pecah." Hahahahahaha"

" Apaan sih?" Ranis tidak mau di tertawakan seperti itu, menyatukan alisnya dan menggembungkan pipinya mengeluarkan udara memalui mulut kecilnya.

"Miring gini." Sambil memegang salah satu kepang Ranis. Citra tak sanggup untuk menahan tawa melihat Ranis.

Semua siswa baru tanpa terkecuali sudah berkumpul dan berbaris dengan rapi. Anak osis yang mengatur acara penerimaan sisa baru di SMA GRAHTAMA.

SMA GRAHTAMA, adalah satu SMA swasta yang didirikan oleh GRAHTAMA GRUP, dimana GRAHTAMA Grup sendiri merupakan perusahaan besar ternama di yang ada di Jakarta. Perusahaan yang bergelut di bidang retail dan  Properti, di Jakarta saja GRAHTAMA grup mempunyai tiga mall besar yang menjadi pusat perbelanjaan no wahid di Jakarta. Dan sekarang GRAHTAMA sedang memulau bisnis baru yaitu kontraktor.

Sekolah elite dengan fasilitas yang memadai ini menjadi salah satu incaran para orang tua untuk memasukkan anak mereka dengan harapan mendapat ilmu pengetahuan yang luas dan juga refrensi untuk jenjang berikutnya. Namun yang lebih mengesankan SMA GRAHTAMA  lebih mengutamakan menerima siswa dengan jalur prestasi, seperti Ranis.

Dengan perjuangan yang cukup panjang Ranis akhirnya diterima di SMA GRAHTAMA ini melalui beasiswa dengan tes yang dilakukan dengan tiga tahapan. Berbeda dengan Ranis, Citra masuk SMA GRHTAMA ini karena orang tuanya  termasuk wali murid yang mampu menyekolahkan anaknya di sana.

" Masih Ingat peraturannya? Dalam orientasi kalian akan dibimbing oleh pengurus OSIS, peraturan pertama Senior tidak pernah salah, dan peraturan kedua, Jika senior salah maka kembali ke peraturan pertama." Seru salah seorang pengurus OSIS perempuan sebagai pemimpin kegiatan MOS ini. ( Masa Orientasi Siswa).

Suara triakan pun langsung menggema seantero lapangan, lantaran mendengar peraturan yang sudah khas diucapkan selagi masa orientasi.

" Eh, kamu." Tunjuk selaku ketua acara tersebut yang diketaui bernama Diah.

"Saya kak?"  Ranis menunjuk dirinya sendiri, tak ayal semua siswa baru langsung diam.

" Sini." Perintahnya. Ranis degan ragu maju kedepan dan berdiri disebelah Diah.

"Yang lain silahkan duduk ."

Menuruti perintah Diah semua siswa langsung duduk dengan tertib tanpa kegaduhan. Sekarang semua mata tertuju kepada Diah dan Ranis didepan sana. Begitupun juga puluhan pengurus OSIS yang lainnya, yang masih setia berdiri di sekeliling siswa baru untuk sekedar mengawasi.

" Coba loe lihat semua teman-teman loe yang lain, gimana penampilan mereka." Ranis menuruti ucapan Diah dan memandang sekitar, ada ratusan siswa baru laki-laki dan perempuan yang berpenampilan sama dengannya.

" Sudah kak."

" Sama nggak kayak loe?" Tanyanya tegas.

" Sama kak."

" Penampilan loe emang sama kayak mereka, tapi kenapa kepang loe yang kiri dan kanan beda kek gini." Tegas Diah seraya memegang kepang Ranis yang emang tidak sama disetiap sisinya.

Ranis pun nyengir merasa lucu, seketika semua tertawa melihat kepang Ranis yang pada awalnya mereka semua tidak memperhatikannya. Tak luput sahabat Ranis, Citra juga ikut ngakak.

Diujung sana tanpa sengaja mata Ranis melihat seorang laki-laki yang sudah dipastikan itu kakak kelasnya tersenyum. Senyum cowok itu rasanya sanggup melelehkan Ranis dalam beberapa detik, sampai akhirnya dia memutuskan kontak mata dan kembali sadar.' inget calon imam Ranis.'  gerutunya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Cowok tadipun sudah mulai meredahkan senyumnya namun tetap memperhatikan Ranis yang menurutnya lucu dengan kepolosannya.

" Ngapain geleng-geleng?" Tanya Diah.

" Enggak kak,"

" Perkenalkan diri loe dengan keras."

" Baik kak" Menatap sekeliling sebelum mulai mengenalkan diri, menarik nafasnya sejenak.

" SELAMAT PAGIIIII. . . PERKENALKAN SAYA QURANISYA BIASA DIPANGGIL RANIS, SALAM KENAL SEMUANYA" Teriak Ranis kemudian mengatur nafasnya agar kembali stabil.

" Gue gak mau tau ya Ranis, rambut lho benerin sekarang, gue kasih waktu sepuluh menit " Ucap Diah memerintah.

" Yah kak, gimana? " Sepertinya Ranis masih belum paham ucapan Seniornya ini.

" Terserah, kalo loe gak bisa benerin rambut loe sama seperti yang lain ,gue hukum loe." Diah mengancam Ranis hingga membuat ranis menelan salivanya dengan susah payah.

Ranis langsung ngibrit berlari ke toilet meninggalkan lapangan, jangan lupakan jika Ranis siswi baru disini al hasil dia jadi kebingungan sendiri mencari letak toilet tersebut berlari kesana kemari dengan wajah bingungnya, namun tetap terlihat imut.

" Disana." Suara bass tersebut membuat Ranis memfokuskan dirinya setelah kebingungan.

"Kak" Ranis terdiam melihat laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya.

"Toiletnya disana." Tunjuk cowok itu kesalah satu sudut dengan senyum yang bisa membuat Ranis terpaku.

Beberapa saat Ranis masih terpaku melihat cowok yang tidak lain adalah ALVIAN, yang bisa dipanggil VIAN. Tak berapa lama Ranis memulihkan kesadarannya, dan menuju kearah tunjuk Vian. " Terimakasih kak."

TBC

kepang Imut

Setengah jam kemudian Ranis barulah kembali, namun saat dia kembali semua barisan sudah bubar, dia hanya mengedarkan pandangan mencoba mencari sesorang yang dia kenal yaitu Citra. Namun dia tak menemukan sosok yang ia cari. Ranis menyusuri sekeliling lapangan dengan netranya terlihat beberapa siswa seperti dia seperti mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh pengurus OSIS.

" Kamana sih Citra ini?"  Gerutunya sendiri dalam hati. " Sudah?" Suara perempuan mengagetkannya setelah ditolehnya ternyata dia adalah Diah, senior yang tadi menyuruhnya untuk memebenarkan kepang rambutnya.

" Kak." Ranis kemudian memamerkan hasil kepangannya yang yah. . . Jika dilihat dengan baik itu tidak sempurna namun lebih baik dari pada yang tadi.

" Ok, better. " Diah menganggukkan kepalanya. " Sekarang loe lakukan tugas dari gue, karena loe sudah lebih dari sepuluh menit jadi loe harus dapat hukuman." Dia mengelilingi Ranis yang masih terdiam. Ada rasa was was dalam hati Ranis, hukuman seperti yang akan dia terima.

" Siap kak" Begitu semangatnya Ranis menjawab,menutupi kegugupannya.

" Minta tanda tangan semua pengurus osis yang ada disini, lengkap dengan biodata plus jabatanya dan setelah itu urutkan sesuai usia mereka."

" HAAAAA??" Mata Ranis nyaris melotot dibuatnya.

" Sekarang!!" Diah menegaskan agar Ranis langsung melaksanakannya.

Ranis langsung berlari dan mulai menyiapkan buku  lantas berjalan ke sembarang arah menuju beberapa kakak kelas yang sudah dipastikan adalah pengurus OSIS.

"Permisi kak" Sapanya pada ke tiga cewek yang mengenakan rompi kebesaran OSIS SMA GRAHTAMA. Sontak mereka bertiga pun menoleh kearah Ranis. Tidak ada wajah kesombongan sama sekali dari ketiga orang tersebut, malah mereka tersenyum menyambut salam Ranis. " Boleh minta biodata sama sekalian tanda tangannya kak?" Mohonnya dengan sopan.

" Biodata?" Tanya salah satu cewek yang bernama Ayu,  Ranis mengangguk dengan mata berbinar.

" Siapa yang nyuruh?" Tanya salah seorang lagi , Avi.

" Kakak yang tadi, yang mimpin MOS"  Jawab Ranis.

" Quranisya kan nama loe" Tanya salah seorang lagi yang bernama  Tia.

" Panggil Ranis aja kak."

" Oke Ranis. Peraturannya kalau loe mau minta tanda tangan kita loe harus minta tanda tangan ketua OSIS atau paling tidak wakil ketua OSIS dulu." Tia menjeda ucapannya. " Selama loe belum dapat tanda tangan mereka berdua, dipastikan loe gak bakal dapet tanda tangan siapapun pengurus OSIS." Lanjut Tia.

" Terus kak, ketua OSISnya siapa?" Tanya Ranis sambil menggembungkan pipinya dan menghembuskan udaha dari bibirnya.

"Itu tugas loe Ranis, tugas loe nyari siapa ketua OSIS dan juga wakilnya."

Dengan lesu Ranis berjalan kesana kemari mencari informasi siapa ketua OSIS dan juga wakilnya, namun nihil. "RANIIIISSSS. . ." Merasa namanya dipanggil,Ranis menoleh ke arah asal suara tersebut.

" CITRA!!" Ranis melebarkan senyumnya melihat kehadiran Citra kemudian memeluknya, seakan mereka lama sekali tidak berjumpa.

" Apan sih alay." Citra melepaskan pelukan Ranis dengan paksa.

" Dari mana aja coba?" Tanya Citra.

" Loe yang dari mana gue nyariin loe keliling dunia tapi gak nemu, hiks. . .hiks. . ." Ranis mulai menggerutu.

" Tadi langsung dikasih tugas kelompok, buat minta tanda tangan seluruh pengurus,namun susah buat nyari ketua sama wakilnya." Jelas Citra.

" Gue juga" Mereka sambil berpelukan haru sendiri.

" Tunggu." Ranis melepaskan pelukan mereka. " Jadi minta tanda tangan itu tugas kelompok.?" Lanjutnya dengan pertanyaan.

" Iya." Citra menganggukan kepalanya.

" Kok gue, enggak!"

" Gila! Jumlah pengurus OSIS keseluruhan sekitar lima puluh orang, loe disuruh minta tanda tangan sendiri?" Citra mulai heboh.

"APA?! Lima puluh." Ranis melotot lagi, dan kemudian melemas bahunya pasrah. " Itu hukuman gue karena telat kembali tadi." Lemasnya.

" Sabar ya." Citra mengelus punggung Ranis menguatkan.

Setelah waktu yang ditetapkan seluruh siswa baru sudah berkumpul kembali, semua terlihat was was lantaran mereka semua satupun belum ada yang mendapatkan tanda tangan si ketua OSIS.

" Siapa yang sudah dapat tanda tangan hari ini?" Diam, tanpa kata tidak ada yang berani menjawab ucapan Diah, lantaran tak ada satupun yang dapat melakukan tugas tersebut.

" Gue yakin kalian semua tidak ada satupun yang dapat menyelesaikan tugas dari gue, maka dari itu hukuman untuk kalian yaitu, besok kalian harus datang sambil membawa uang kertas nominal berapapun dengan nomor seri kembar minim tiga angka."

Sontak tanpa aba-aba seluruh siswa baru langsung merogo saku mereka masing-masing dan mengecek sisa uang jajan mereka apakah ada yang nomer Seri yang sesuai.

" Tidak ada syarat khusus, hanya uang kertas dengan nomor seri yang kembar tiga, berapapun nominalnya." Tambah Diah disela kegaduhan namun seluruh siswa baru bisa kembali fokus.

"Cukup hari ini, kalian boleh kembali pulang, besok gue tunggu uang kertasnya dan jangan lupa tugas kalian tanda tangan masih tetap berlaku."

Setelah dibubarkan seluruh siswa sudah berhamburan ta karuan. " Ayo." Ajak Citra langsung kepada Ranis.

" Gue masih mau minta tanda Cit." Paparnya.

" Besok kan juga bisa, masih ada waktu dua hari lagi."

" Loe ma enak, tanda tangannya dikelompok, lah gue perorangan, kayak mau bikin perusahaan aja kan." Keluh Ranis.

" Disamping itu Nis, ada yang lebih penting yaitu nyari uang kertas. Loe gak mau kan besok dihukum lagi." Citra mencoba memberi pengertian mana yang lebih urgent.

" Iya,yah. . . Kalo gitu kita langsung cari yuk." Ranis bergegas menarik tangan Citra dan langsung menuju parkiran.

Saat diparkiran kebetulan Ranis dan Citra bertemu dengan Vian, mereka menyapa Vian hanya dengan menganggukan kepala. Vian pun tersenyum.

Tiba-tiba ide cemerlang hadir dikepala Ranis, mengingat begitu baiknya Vian tadi mau menunjukkan letak toilet saat dia kebingungan." Permisi kak" Sapa Ranis, Vian yang disapa pun terpaksa turun dari motor sportnya dengan senyum yang masha allah bisa membuat jantung tidak aman.

" Saya Ranis." Ranis menyatukan kedua tanggannya didepan dadanya sebagai salam perkenalan.

" Aku Citra kak," Sementara Citra sudah mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Kapan lagi ni ada kesempatan ketemu cowok keren.

"Vian." Jawabnya singkat dengan membalas uluran tangan Citra namun hanya sebentar. Kemudian Vian beralih ke Ranis, namun tiba-tiba Vian menggariskan senyumnya lebar.

" Kenapa kak?" Ranis yang menangkap senyum Vian merasa ada yang aneh.

" Enggak papa. Ada yang bisa gue bantu?"

" Ada banget kak, tolong kasih bocoran ke kita siapa ketua OSIS dan wakilnya?" Citra langsung nyerocos heboh.

Vian kembali melihat ke arah Ranis."iya tolong ya kak please" Kini Ranis yang mulai meminta tolong kepada Vian.

" Kalian tau kan, itu nggak muda." Vian mencoba menggoda mereka.

" Apa kak Diah ya kak, ketuanya? Please kasih bocoran ya kak." Kembali Ranis menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan.

Vian malah menyodorkan HP nya kepada Ranis dengan tersenyum, Ranis pun merasa bingung apa maksud dari kakak kelasnya itu. " maksudnya?"

" Ketik nomor loe, nanti kalo mood gue baik gue kasih bocoran." Tutur Vian.

Ranis tersenyum dan langsung mengetik nomor whatsap di HP nya. Setelahnya Vian langsung langsung menyimpannya dengan nama 'Kepang Imut'.

TBC

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!