NovelToon NovelToon

Ceo Casanova Dan Gadis Tengil

BAB 1. Club Malam

Suara dentuman musik terdengar sangat keras menghiasi ruangan temaram itu. 

"Tuang lagi!" Titah seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi dan tegap terlihat sangat gagah ke salah satu bartender yang ada di sana. 

Datanglah wanita cantik yang sangat sexy mendekati pria tersebut. Tanpa aba-aba wanita itu duduk di pangkuan pria tampan yang sedang meneguk alkohol itu. 

Ya, pria yang sedang meminum alkohol itu ialah Bara Adi Wijaya, seorang Ceo tampan yang banyak di kagumi para wanita. Tetapi, sayang sepak terjang nya sebagai casanova sudah tidak diragukan lagi. 

Bara menarik wanita tadi membawa nya kedalam kamar yang sudah di sediakan di club malam elit tersebut.  

"Lakukan tugasmu! tapi ingat, kau tidak boleh menyentuh area wajah saya dan saya sama sekali tidak bekerja, kaulah yang harus bekerja!" perintah nya pada wanita yang ada dihadapannya.

  ***

Bara tiba di apartemennya ternyata sudah ada Bella di sana, teman ranjang yang paling dekat dengannya yang sudah tau akses masuk kedalam apartment Bara.

"Halo baby, aku udah nunggu dari tadi. Kamu kemana aja kok baru pulang?" Tanya Bella mendekati Bara lalu memeluk pria tampan itu.

"Pasti habis dari club, kan?" karena dia mencium aroma alkohol dari tubuh Bara.

Bella sengaja menggoda Bara agar terangsang. Dia melumat habis bibir Bara mendorong laki laki itu agar duduk di sofa.

Bella mulai melancarkan aksinya. Dalam hati Bella menggerutu, tidak kah Bara puas hanya dengan dirinya saja.

Bella menyusuri perut six pack Bara, meninggalkan bekas kemerahan juga di sana lalu membuka celana Bara hingga benar-benar polos.

Satu jam kemudian permainan panas diantara mereka usai. Bella ambruk di sofa karena kewalahan memimpin permainan.

Pemainan panas malam ini tidak di rencanakan, jadi dia tidak menyiapkan pengaman. Karena biasanya dia selalu memakai pengaman agar bisa bermain dengan aman.

Bara duduk di sofa menetralkan nafas nya begitu juga dengan Bella.

"Kamu kenapa sih Bar masih nggak bisa juga berhenti main cewek di club? nggak cukup aku aja yang jadi teman ranjang kamu?" Cecar Bella membuat Bara kesal.

"Seperti biasa jawaban nya, kamu nggak berhak atur-atur aku! karena kamu hanya teman ranjang aku bukan kekasih apalagi istriku. Jadi, kamu nggak berhak atur-atur hidup aku. Aku masih ingin bebas tanpa ada nya aturan ataupun komitmen. Dan kita melakukan ini atas dasar sama-sama mau." Ujar Bara yang terlihat tidak suka lalu masuk ke kamarnya meninggalkan Bella seorang diri

***

Didalam kamar, Bara masuk ke kamar mandi berendam air hangat agar tubuh nya bisa sedikit rileks.

Setelah 20 menit berendam air hangat, tubuhnya menjadi lebih rileks dan segar. Dia memakai celana pendek dan kaos oblong biasa karena tidak akan keluar lagi.

Kemudian duduk di balkon kamarnya menikmati angin malam sembari menghisap rokok di temani sebotol wine yang tersedia di lemari kecil dalam kamarnya.

Bara Adi Wijaya, Ceo berumur 30 tahun, anak tunggal dari pasangan Ayu Safitri dan Gama Wijaya pemilik perusahaan Wijaya Corporation.

Ceo Casanova yang selalu bermain dengan wanita malam setiap harinya. Sampai kedua orang tuanya selalu ingin menjodohkannya karena belum menikah hingga usia nya sudah menginjak kepala tiga.

Di usia nya yang sudah menginjak kepala tiga, dia sudah berhasil mengembangkan perusahaan milik Papanya hingga ke mancanegara. Tapi sayang, hubungan asmara nya tidak sesukses karirnya.

Rokok dan alkohol merupakan satu kesatuan bagi Bara, teman dikala dia sedang merasa jenuh.

Bermain wanita dan bergonta ganti wanita adalah hobbynya dan hanya dia yang tau kenapa melakukan itu semua.

Puas merokok dan minum alkohol Bara kembali ke kamar lalu merebahkan dirinya diatas ranjang king size.

Bara lebih memilih tidur meninggalkan Bella yang mungkin saja masih berada di ruang tv. Karena dia enggan mendengar ocehan wanita itu, baginya Bella hanya pemuas nafsunya saja tidak lebih.

BAB 2. Kembali Kuliah

Libur semester telah usai, kini wanita cantik yang mempunyai body goals bak gitar Spanyol itu telah memasuki semester akhir.

"Pagi, Bunda, Ayah dan adekku sayang," Sapa Luna kepada kedua orang tua dan juga adiknya.

"Pagi, Kak. Hari ini sudah mulai kuliah lagi, ya?" tanya bunda.

"Iya, Bun."

"Ya sudah, ayok sarapan dulu!" titah sang kepala keluarga.

Selesai sarapan, Luna pamit untuk pergi ke kampus begitupun dengan Kenzo yang berangkat ke sekolah.

Luna Olivia, gadis cantik yang mempunyai body seperti model, tetapi bukan seorang model. Hanya seorang mahasiswi manajemen bisnis, wanita muda yang baru berumur 22 tahun.

Luna mengendarai mobil sport jenis Lamborghini ke kampus. Di kampus dia sudah di tunggu oleh kedua sahabatnya, yaitu Ajeng dan juga Devan.

"Wih, makin bahenol aja nih, Mpok Juleha," goda Devan dengan gaya khas Betawi nya.

"Kebiasaan lu mah, Van."

"Au nih si Devan, nama lu kecakepan Devan, harusnya enyak lu ngasih lu nama Jaenal baru cocok," timpal Ajeng.

"Bujug buset, nama gue udah keren gini Devan Anggara di ganti sama Jaenal. Capek-capek enyak gue bikinin nasi kuning buat selametan bikin nama buat anaknya, lah lu maen ganti aja dasar Inem."

"Lah, lebih cocok nama lu Jaenal Abidin anak nya babeh Rozak enyak Fatimeh," sambung Ajeng membuat Luna geleng-geleng kepala dengan kelakuan kedua sahabatnya.

"Udah, ayok lah masuk kelas jangan pada gelut mulu," ajak Luna.

Mereka semua masuk ke kelas karena dosen sebentar lagi datang.

***

Di kantor pekerjaan Bara sangat banyak sampai dia lupa untuk sarapan, karena memang pria itu tinggal sendiri di apartment nya.

Tok..tok..tok

Feli sekertaris nya datang membawakan makanan dan juga kopi hitam.

"Ini Pak sarapan dan juga kopinya." Feli meletakkan nampan yang dia bawa diatas meja dengan gaya yang di buat erotis.

Bara dapat melihat bongkahan sintal milik sekertarisnya, karena kancing kemeja Feli sengaja dia buka tiga kancing bagian atas. Dan rok Feli yang hanya sebatas paha, membuat Bara langsung saja mendorong Feli ke sofa.

"Puaskan, saya!"

Feli dengan senang hati melakukan nya, karena memang dia sengaja menggoda bosnya.

Feli mulai membuka jas yang menempel di tubuh atasan nya. Lalu mulai membuka kancing kemeja Bara satu persatu dengan gerakan perlahan sembari tangan nya meraba dada bidang itu.

Bara mengeluarkan pengaman dari saku celana kerjanya, menaruhnya di sofa agar nanti bisa langsung dia pakai.

Kini tubuh Bara sudah polos tanpa sehelai benang pun. Feli melancarkan aksinya karena dia sudah pernah berhubungan dengan Bara sebelumnya, jadi sudah tau apa yang tidak boleh dilakukan.

"Arrgghh." Desahan lolos dari bibir lelaki tampan itu setelah berhasil mencapai puncaknya.

Bara mendorong tubuh Feli agar menyingkir dari atas pangkuannya. Dia membuka pengaman itu lalu membawanya ke kamar mandi.

"Cepat keluar dari sini!" Seperti biasa yang Bara butuhkan hanya tubuhnya saja, jadi dia tidak perlu berbuat baik pada wanita yang menggodanya.

***

Dimansion Wijaya, Papa Gama mendapat laporan dari anak buahnya kalau Bara masih sering bermain wanita dan menyewa wanita malam.

Pria paruh baya itu menghela nafas nya kasar, harus dengan cara apalagi menghentikan kelakuan buruk anak lelakinya itu.

"Pasti ulah Bara lagi ya, Pa?"

"Ya begitulah Ma, Papa bingung kelakuan Bara semakin hari semakin parah," jawab Papa Gama.

"Kita paksa Bara saja Pa, kita jodohkan dengan anak sahabat Papa si Fahmi itu," usul Mama Ayu.

"Papa sih setuju saja Ma, tapi apa mau anak nya Fahmi dengan Bara yang seorang casanova?'

"Nggak ada salah nya Pa kita coba, Papa hubungi saja Fahmi ajak mereka bertemu biar kita bicarakan langsung sama mereka."

"Baiklah Ma, akan Papa coba."

***

Mata kuliah pertama selesai, Luna dan Ajeng beserta Devan berjalan menuju ke kantin untuk istirahat, sambil menunggu kuliah berikutnya 1 jam lagi.

Mereka bertiga memang satu kelas karena mengambil jurusan yang sama. Mereka bertiga sudah berteman semenjak memasuki bangku SMA, jadi sudah mengetahui seluk beluk masing-masing.

"Pesen gih, Van! lu sebagai cowok harus gentle pesenin kita makanan sekalian." Ujar Luna cengengesan.

"Bener tuh, Van."

"Bukan gue yang nggak gentle, tapi lu pada yang males mesen sendiri."

"Nah entu lu tu, Van." Jawab Luna tertawa.

"Dah lu pada mau pesen apa? sekalian minum nya apaan? biar gue kagak bolak balik kek setrikaan," tanya Devan.

"Bakso aja gue mah sama es teh manis kagak pake es." Jawab Luna membuat Devan bengong.

"Maksud lu es teh manis kagak pake es tuh gimana, ogeb? lu bikin pala gue puyeng doang, apa susah nya sih bilang teh anget gitu kan kagak pake es, Juleha."

"Et dah lu berdua pada gelut aja, kapan pesen nya ini? udah laper gue, Jaenal. Buruan sonoh pesen! gue samain aja sama Luna," titah Ajeng.

"Iya, ini gue otw. Dasar cewek selalu bener, untung temen lu, coba kalo bukan udah gue bagel pake sendok lu pada," gerutu Devan.

Setelah Devan memesan makanan untuk dirinya dan juga kedua sahabatnya, dia kembali dengan nampan di tangannya.

Tiga serangkai itu asyik menikmati makanan nya masing-masing hingga habis tak tersisa.

"Eh, nanti kalo udah jadwal nya kita magang, lu pada pilih kantor mana?" tanya Luna memulai obrolan.

"Wijaya Corporation sih menurut gue keren, perusahaan terbesar nomer 1 di Asia bahkan Eropa juga. Kan berita nya, anak perusahaan nya tersebar di mancanegara. Keren kagak tuh?" jawab Devan.

"Iya sih keren, tapi masuk nya pasti seleksi nya ketat. Perusahaan bokap gue aja yang dibawah Wijaya Corporation masalah karyawan dan staf nya selektif banget pemilihan nya," jawab Ajeng.

"Bener banget tuh, Jeng. Bokap gue juga gitu sih perusahaan nya."

"Iya, hampir rata-rata gitu. Beruntung sih yang bisa masuk kesana nanti," ujar Devan.

"Berdoa aja supaya bisa masuk kesana dapet pengalaman kerja di sana, biar bisa cepet lulus juga," ujar Luna bijak.

"Iya, kagak muluk-muluk gue mah, Lun. Yang penting lulus kagak ngulang aja udah girang banget gue," sambung Devan.

"Yoi, Nal. Bagi kita yang kapasitas otaknya kecil udah bersyukur banget kan lulus sesuai waktu nya kagak ngulang," ujar Ajeng menyetujui jawaban Devan.

Mereka lanjut kembali ke kelas karena sebentar lagi dosen datang.

BAB 3. Rencana Perjodohan

Hari ini papa Gama dan mama Ayu akan bertemu dengan ayah Fahmi dan juga bunda Desi. Mereka telah mengatur waktu untuk makan bersama nanti siang di restoran yang telah di tentukan.

"Apa kabar, Fahmi?" Sapa Papa Gama memeluk teman baik nya itu.

"Baik, Gam. Gimana kabar kalian? betah lama-lama di Aussie sampe lupa Negara nya sendiri," Ejek Ayah Fahmi yang memang baru bertemu lagi dengan sahabat baiknya, karena sudah 2 tahun ini mereka tinggal di Aussie.

"Ya mau gimana lagi, Mi. Bara nggak mau urus kantor cabang yang di sana. Jadi, mau nggak mau kita sebagai orang tua yang mengalah."

Mama Ayu dan bunda Desi juga asyik mengobrol masalah wanita, tidak seperti para laki-laki yang setiap bertemu pasti membahas masalah pekerjaan yang tidak ada habisnya.

"Bagaimana, Mi? kamu setuju nggak kalo Luna di jodohkan dengan Bara? aku tau pasti kalian berat untuk menerima Bara, karena track record dia sebagai casanova. Tapi, aku yakin seiring berjalan nya waktu, pasti Bara akan bisa menerima dan mencintai Luna. Hanya Luna yang cocok bersanding dengan Bara. Luna wanita yang mandiri, tangguh dan berani cocok untuk Bara yang keras kepala."

Permohonan papa Gama membuat ayah Fahmi dilema, pasalnya dia tidak mungkin menolak permintaan teman baik nya itu. Orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Berkat Gama lah sekarang perusahaan nya menjadi besar dan berkembang, itu semua tidak luput dari peran seorang Gama Wijaya.

"Aku coba bicarakan dengan Luna dulu ya, Gam. Kita kasih dia pengertian dulu."

"Baiklah, Mi. Tolong kabarkan nanti, ya. Semoga Luna bersedia," ucap papa Gama penuh harap.

"Baik, Gam. Secepatnya aku kabarin kamu."

Mereka berempat melanjutkan makan siang setelah lapa Gama dan mama Ayu menceritakan semuanya kepada mereka, tentang apa yang membuat Bara bisa menjadi seorang casanova.

***

Bara dan asistennya sedang menghadiri undangan makan siang sekaligus membahas masalah kerja sama mereka di salah satu restoran ternama di daerah Jakarta Barat.

Dua jam membahas masalah kerja sama antar perusahaan mereka, kini Bara dan Kenan pamit untuk kembali ke kantor karena waktu masih menunjukkan pukul 2 siang.

"Terimakasih, Pak Bara dan Pak Kenan atas waktu nya. Semoga kerja sama kita bisa terus berjalan dengan baik."

"Sama-sama, Pak. Kita pamit kembali ke kantor," ucap Kenan berpamitan.

Mereka sedang dalam perjalan kembali ke kantor dengan Kenan yang menjadi supir nya. Kenan asisten sekaligus sepupu Bara, karena Kenan merupakan anak dari adiknya mama Ayu.

Bara dan Kenan tumbuh bersama sedari mereka kecil sampai ke jenjang kuliah. Karena orang tua Kenan berada di Jerman, sementara Kenan sekolah di Indonesia bersama dengan Bara, baru setelah kuliah mereka melanjutkan kuliah di Aussie.

"Bar, kata Papa kalo bisa kurang-kurangin main di kantor bareng Feli sekretaris, lo," ujar Kenan membuka obrolan karena mereka kini masih dalam perjalanan.

"Kasian Papa sama Mama kecewa sama lo, Bar. Sampe kapan sih lo mau jadi seorang casanova? nggak ada manfaat nya buat lo Bar, yang ada entar kena penyakit HIV baru tau rasa lo."

"Udahlah, bosen gue denger lo ngomong itu mulu."

Semoga lo bisa nemuin cewek yang bisa bikin lo berubah Bar. Gue kangen lo yang dulu, bukan lo yang kek sekarang ini, batin Kenan.

Tiba di kantor, Bara langsung masuk keruangan nya yang ternyata sudah ada Bella di sana.

"Ngapain kesini?" tanyanya ketus.

"Kok, gitu sih Bar nanyanya, aku kan kangen sama kamu," jawab Bella manja.

"Pasti mau minta sesuatu lagi, kan? udah bisa ditebak sih," sinis Bara.

"Baiklah, layani aku dulu!"

Bella membuka kancing kemeja Bara perlahan-lahan, memainkan jari lentiknya di dada bidang sang casanova, kemudian mengukir pola abstrak di sana membuat Bara memejamkan mata nya.

Walaupun sudah lama menjadi pemuas nafsu Bara, Bella tidak mendapatkan fasilitas apapun dari Bara termasuk kartu untuk berbelanja. Wanita itu hanya diberikan kartu akses apartment nya saja.

***

Di kampus Luna dan kedua sahabatnya keluar dari kelas menuju ke parkiran, karena jam kuliah mereka telah selesai.

"Weh, nongki dulu yuk di cafe depan!" ajak Ajeng.

"Gas lah," sahut Luna.

"Jaenal, lu ikut kagak?" tanya Luna yang melihat Devan hanya diam saja.

"Et dah, Juleha lu ngagetin aja."

"Lagi, lu ngeliatin apaan sih?" tanya Luna penasaran.

"Onoh si Elsa makin bening aja, ya. Sayang udah ada yang punya doi," keluh Devan.

"Et dah Jaenal, lu kek kagak ada cewek laen aja si Elsa mulu yang lu liat. Kek nya kudu di ruqiah ini Jeng si Jaenal, biar mata hatinya kebuka bisa liat cewek lain jangan si Elsa mulu," guyon Luna membuat Devan mencebikkan bibir nya kesal.

"Au lu, move on cuy move on! disabet pacar nya si Elsa baru tau rasa lu," sambung Ajeng.

"Lu berdua kira move on itu gampang? kagak segampang membolak balikan telapak tangan cuy, ini masalah hati yang rapuh sangat sensitif."

"Ceileh, Jaenal bahasa lu. Makan masih sama jengkol ikan asin aja bahasa lu tinggi bener."

"Udah, ayok Lun kita tinggal aja dia." Ajak Ajeng menarik tangan Luna.

"Weh, tungguin napah." Devan berlari mengejar kedua sahabatnya yang sudah menyebrang jalan menuju cafe.

Di cafe mereka bertiga masih asyik mengobrol. "Lun, entar malem jadi balapan?" tanya Ajeng melirik kearah Luna.

"Jadi, Jeng. Jam 10 malem," jawab Luna.

"Okey, gue pasti dateng, lu Van dateng kagak?" tanya Ajeng beralih kearah Devan.

"Gas lah, entar gue dateng kasih support," jawab Devan santai.

"Ya udah, balik yuk udah sore!"

"Ayok, bye sampe ketemu entar malem," ujar Luna yang di anggukan oleh Ajeng dan juga Devan.

***

Malam hari di mansion Nugroho sedang makan malam bersama. "Selesai makan malam kalian jangan langsung kembali ke kamar! ada yang mau Ayah bicarakan."

"Okay," jawab Luna dan Kenzo bersamaan.

Kini mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga menanti kepala keluarga yang akan berbicara.

"Luna, Ayah mau menjodohkan kamu dengan anak teman baik Ayah nama nya Bara Adi Wijaya, Ceo Wijaya Corporation," ujar Ayah membuat Luna shock.

Bagaimana tidak shock, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba sang Ayah ingin menjodohkannya. Tidak terbesit dalam benaknya menikah sebelum lulus kuliah.

"Lho, kok gitu sih, Yah? Luna kan masih belum kepingin nikah masih kuliah juga. Terus itu dijodohin sama Bara Adi Wijaya, Ceo casanova itu? ya ampun, Ayah mau ya Luna sakit hati terus sama kelakuannya yang minus itu," jawab Luna yang terang-terangan menolak permintaan Ayah nya.

"Kenzo juga nggak setuju Kak Luna nikah sama dia, memangnya Ayah nggak tau sepak terjang nya dia seperti apa? ya boleh dalam dunia bisnis dia unggul karena kemampuan nya, tapi kelakuan nya sudah terkenal seantero kalo Bara seorang casanova," sambung Kenzo yang tidak ingin kakaknya menikah dengan laki-laki brengsek.

"Tolong Ayah Lun, Ayah yakin Bara akan berubah jika bersama kamu, karena kamu wanita yang cocok untuk Bara. Tolong Ayah Lun, Ayah juga nggak enak menolak permintaan Om Gama, Papa nya Bara. Karena beliau orang yang sangat berjasa dalam hidup Ayah. Karena beliau lah Ayah sekarang bisa seperti ini, karena beliau perusahaan Ayah bisa maju dan berkembang," jelas ayah Fahmi.

"Dulu saat Ayah di usir dari rumah orang tua Ayah karena lebih memilih Bunda kamu, Ayah tidak mempunyai apa-apa, karena semua fasilitas Ayah di cabut nenek kamu karena menolak perjodohan yang sudah beliau rencanakan. Om Gama lah yang selalu support dan membantu Ayah, mengajari gimana caranya membangun perusahaan dan memberikan modal yang cukup besar untuk Ayah tanpa pamrih meminta balasan." Ujar Ayah dengan sendu menceritakan perjalanan hidupnya yang terjal.

Mendengar cerita sang ayah membuat Luna terdiam, hatinya bisa merasakan sesusah apa dulu Ayahnya.

"Baiklah, Yah. Luna bersedia menikah dengan Bara demi Ayah."

Kenzo pun tidak bisa berbicara apa-apa lagi setelah mendengar cerita Ayahnya, sementara Bunda hanya diam saja.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!