NovelToon NovelToon

Di Antara Dendam Dan Cinta

Hati yang Mengeras

“Aku mohon Greg, jangan tinggalkan aku. Please !”

Mia menangkup kedua tangannya dan terus memohon agar pria yang berstatus suaminya itu tidak pergi meninggalkan rumah mereka, meninggalkan Mia dan kedua orangtuanya.

“Papi tidak marah apalagi benci padamu. Papi sanggup melepaskan segala harta miliknya kalau semua itu bisa membuat rasa sakit hatimu membaik.”

Greg, pria berusia 32 tahun itu menatap sinis dan tertawa mengejek ke arah wanita yang sedang bersujud memohon padanya sambil berlinang air mata.

“Kalian pikir aku hanya mengincar uang untuk mengobati rasa sakit hatiku ? Kalian pikir harta kalian bisa membayar rasa kehilangan bahkan membuat kedua orangtuaku hidup kembali ?”

“Bukan itu maksudku, Greg. Papi sudah memastikan tidak akan membawa masalah ini ke polisi karena semuanya hanya salah paham.”

“Salah paham ? Kamu pikir seorang Juan Permana akan melepaskanku begitu saja ? Dasar naif ! Sudah terbukti kalau dia tega menghabisi nyawa papaku dan membuat mama akhirnya menyusul papa karena tidak sanggup kehilangan orang yang paling dicintainya !”

Suara Greg begitu menggelegar, membuat Mia sampai memejamkan mata dan mengernyit.

“Lalu bagaimana denganku, Greg ? Apakah kamu akan meninggalkan aku, istrimu ? Aku sangat mencintaimu dan rasanya aku tidak sanggup kalau harus kehilanganmu.”

Greg hanya tersenyum sinis dan menarik kopernya. Mia bergegas bangun, ingin menyusul Greg namun kakinya kesemutan karena terlalu lama berlutut.

“Greg, aku mohon !”

Sambil menahan rasa sakit, Mia memaksakan diri mengejar Greg, menahan lengan pria itu sebelum masuk ke dalam mobil.

“Lepaskan !” bentak Greg sambil menghempaskan tangan Mia hingga wanita itu terhuyung ke belakang.

“Jangan tinggalkan aku, Greg. Aku sedang hamil anak kita.”

Greg menautkan alis dengan tatapan dingin. Ia urung masuk ke dalam mobil dan balik mendekati Mia yang berjarak dengannya.

Mia langsung tersenyum karena berpikir kalau suaminya itu akan berubah pikiran dan batal pergi setelah mendengar kabar bahagia itu.

“Apa kamu bilang barusan ?”

“Aku hamil. Anak kita, Greg,” sahut Mia dengan senyuman lebar.

Belum sempat tangannya menyentuh lengan Greg, pria itu kembali menepiskannya dengan kasar.

“Mulai belajar jadi ratu drama ?” tanya Greg sambil mencengkram rahang Mia dengan tatapan sinis.

“Aku tidak bohong atau main drama,” sahut Mia sambil meringis karena tulang pipinya mulai terasa sakit.

“Jadi kamu berselingkuh dengan pria lain dan sekarang mengaku hamil anakku ?”

“Demi nyawaku, Greg, aku tidak berbohong apalagi selingkuh darimu. Apakah kamu tidak bisa merasakan kalau aku sangat mencintaimu ?”

Greg menghempaskan tangannya dengan kasar membuat Mia sempat memekik kesakitan. Tatapan pria itu begitu dingin dan tidak peduli melihat Mia mengusap kedua pipinya.

“Cinta ? Sejak awal kamu hanyalah target utama untuk menghancurkan Juan Permana. Bagiku tidak cukup merebut perusahaannya karena uang masih bisa dicari, tapi masa depan putri kesayangannya tidak bisa dikembalikan lagi. Aku bahagia bisa membuat hidupmu menderita dan penuh dengan penyesalan karena berhasil membuat matamu dibutakan oleh cinta palsu.”

“Jangan bohongi dirimu ! Aku tahu kalau tidak semua perbuatanmu didasari oleh dendam.”

Greg tertawa sinis dan tatapannya masih terasa dingin namun Mia tidak gentar sedikit pun.

Mungkin ia memang hanyalah perempuan naif yang percaya kalau cinta bisa menghapus benci dan dendam yang menguasai Greg.

“Jangan membuang waktu berhargaku. Sampai kapan pun aku tidak akan percaya dengan dongeng kehamilanmu itu.”

Greg segera berbalik dan bergegas masuk ke dalam mobil lalu menguncinya supaya Mia tidak bisa masuk.

“Aku mencintaimu, Greg,” lirih Mia pada dirinya sendiri.

Air matanya kembali menetes sambil menatap mobil Greg yang perlahan menghilang dari pandangannya.

Dari dalam mobil Greg sempat melirik kaca spion tengah dan kanan.

Kali ini dugaannya salah. Mia tidak berlari mengejar mobilnya sambil memohon supaya Greg kembali. Wanita itu bergeming dan hanya menatapnya dengan bahu yang berguncang pelan.

*****

“Perlu saya pesankan tiket ke Jakarta, Tuan ?”

“Tidak usah ! Mereka sudah bukan mertuaku lagi jadi tidak ada kewajiban untuk menghadiri pemakaman mereka.”

“Tapi Nyonya Mia……”

“Kami sudah bercerai dan tidak ada ikatan anak yang membuat aku harus menjalin hubungan dengannya. Biarkan mereka membayar karma dan hutang nyawa pada kedua orangtuaku.”

Joe menghela nafas menatap tuannya yang sedang berdiri memunggunginya, menatap keluar jendela.

Pria yang dulu pendiam dan ringan tangan itu sudah berubah menjadi manusia yang dingin, keras dan kadang-kadang kejam pada lawan-lawan bisnisnya.

“Pekerjaan kita sudah selesai hari ini. Apa Tuan masih mau tinggal beberapa hari di sini atau ada tempat lain yang ingin Tuan datangi ?”

“Tolong carikan tiket ke Yogya dan pesankan hotel untuk 3 hari. Kamu boleh ikut atau pulang ke Jakarta.”

“Saya akan menemani Tuan.”

Greg merapikan dokumen yang berserakan di atas meja kerja yang ada di dalam kamar hotelnya.

“Tuan.”

“Ada yang perlu dibahas lagi ?”

“Soal dokumen yang dikirim oleh pengacara Radit, apa saya boleh melihat dokumen apa yang dikirim ?”

“Tidak usah, paling-paling hanya surat cerai yang sudah ditandatangani Mia. Lagipula sudah 6 bulan yang lalu dan kantor notaris tidak menghubungimu untuk membahas soal dokumen yang mereka kirim kan ? Abaikan saja dan tidak usah dipikirkan.”

“Tapi Tuan…”

“Joe, kenapa aku merasa kamu selalu protes setiap kali aku mengambil keputusan soal Mia ?”

Nada bicara Greg mulai terdengar kesal. Ia sampai menghentikan aktivitasnya lalu berdiri di pinggir meja sambil menyipitkan mata dan melipat tangannya di depan dada.

“Apa kalian punya hubungan khusus selama ini ?”

“Saya sangat menghormati Nyonya sebagai istri Tuan Greg dan tidak pernah berniat merayu Nyonya Mia untuk mengkhianati Tuan. Nyonya sangat mencintai Tuan……”

“Cukup !”

Suara Greg kembali tinggi dan ia mengangkat telapak tangan kanannya ke arah Joe.

“Jangan pernah lagi membahas soal Mia, Juan Permana atau apapun yang berkaitan dengan mereka. Mendengar kamu menyebut namanya saja, emosiku langsung ingin meledak !”

“Maafkan saya Tuan.”

“Jangan coba-coba mengumpulkan informasi apapun tentang perempuan itu termasuk cerita dari Fahmi. Aku tidak mau lagi mendengar apapun soal dia atau kamu akan kehilangan pekerjaan.”

“Maafkan saya Tuan,” ujar Joe sambil membungkukan badannya sekilas.

“Fahmi ikut meninggal dalam kecelakaan itu bersama Tuan dan Nyonya Juan.”

Greg sempat terkejut dan menatap asistennya seolah ingin meyakinkan telinganya. Joe mengangguk pelan dan posisi berdirinya tetap tegak seperti biasa.

Greg sempat terdiam beberapa saat dan nada suaranya kembali normal saat berbicara lagi.

“Keluarlah dan segera carikan tiket untukku. Pilih jamnya sepagi mungkin.”

“Baik Tuan.”

Setelah Joe menutup pintu kamarnya, Greg menghela nafas panjang sambil menarik kursi dan duduk di situ.

Greg memijat pelipisnya yang mendadak pening. Berita kematian Fahmi membuatnya sedikit shock.

Setelah 7 Tahun

Buughh !

“Dasar anak-anak nakal ! Sudah berkali-kali dibilang jangan main bola di dekat sini !”

Wanita berpakaian kantor itu langsung mengomel dan turun dari mobil mewah yang mengantarnya pulang.

“Kita langsung jalan sekarang, Tuan ?”

“Tunggu sebentar.”

Pria itu memijat kepalanya sambil memperhatikan wanita yang baru turun tadi sedang memarahi bocah perempuan yang menunduk ketakutan sementara bocah lelaki yang berdiri di sampingnya melawan sambil menatap si wanita dengan berani.

“Dasar anak kurang ajar !”

“Jangan gampang main tangan !”

Wanita itu terkejut saat sebuah tangan kekar menahan lengannya yang sudah melayang di udara. Ia baru sadar kalau dirinya sudah kehilangan kendali sampai tidak sadar kalau pria berjas itu turun dari mobil.

Dasar bocah si**alan !

Rusak sudah sandiwara yang dimainkannya selama ini, membangun image wanita idaman yang layak diperhitungkan sebagai calon istri meskipun statusnya janda beranak satu.

“Mereka berdua anak nakal, Greg, bukan kali ini saja membuat onar di sini. Mereka sering bertengkar dengan Ferdi dan tidak segan-segan mengeroyoknya.”

Greg melepaskan cekalannya lalu melewati Juwita dan berdiri di hadapan kedua bocah yang tengah menatapnya.

Alis Greg menaut, sakit kepalanya mendadak hilang namun jantungnya berdegup tidak karuan saat melihat bocah perempuan yang polos itu tersenyum manis sementara si bocah lelaki menatapnya dengan tajam dan sedikit sinis.

Joe yang ikut turun segera menghampiri bossnya yang bergeming. Ia sangat terkejut dan matanya langsung membola saat menatap kedua bocah itu.

“Siapa nama kalian ?” tanya Joe.

“Mereka teman sekolah Ferdi dan….”

“Joe bertanya pada mereka bukan padamu !” tegas Greg.

Juwita terkejut dengan reaksi Greg namun ia tidak berani membantah.

“Aku Senja dan ini kakak kembarku Langit,” sahut si bocah perempuan.

Bibirnya tersenyum sambil mengerjapkan matanya, raut wajahnya tidak terlihat ketakutan seperti tadi.

“Langit, kenapa diam saja ?” Senja menyenggol lengan saudara kembarnya dengan sikut.

Pandangan Greg beralih pada bocah lelaki yang wajahnya benar-benar duplikasi wanita yang sudah 7 tahun dibuangnya jauh-jauh.

Greg mencoba membalas tatapan Langit tapi belum sampai 5 menit kepalanya kembali diserang rasa sakit dan kali ini lebih hebat dari sebelumnya.

“Kita jalan sekarang !”

Greg segera berbalik badan langsung berjalan kembali ke mobil namun baru beberapa langkah, pandangannya berkunang-kunang dan tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

“Tuan !”

“Greg !”

Dengan sigap Joe menahan tubuh kekar itu supaya tidak terjembab ke aspal. Sopir yang sejak tadi menunggu di dalam mobil pun ikut turun dan membantu Joe mengangkat majikan mereka lalu membawanya ke dalam mobil.

“Aku ikut ke rumah sakit Joe !”

Joe ingin bilang tidak namun Juwita sudah masuk ke dalam mobil dan memangku kepala Greg yang pingsan.

Ketiga bocah yang ada di situ hanya berdiri memperhatikan kesibukan para orang dewasa yang kembali pergi ke rumah sakit.

“Kita pulang, Senja.”

Langit menggandeng adik kembarnya dan pergi meninggalkan Ferdi tanpa pamitan.

“Kenapa kamu marah pada om tadi, Langit ?”

“Aku tidak marah !”

“Jangan bohong, aku kembaranmu. Aku bisa merasakan kalau kamu tidak suka padanya. Memangnya kamu kenal om tadi ?”

Langit tidak menjawab hanya mengeratkan gengamannya dan menyuruh Senja mempercepat langkahnya.

*****

“Tolong tinggalkan kami berdua.”

“Tapi Greg…”

“Nona, tolong jangan membantah.”

Juwita menghela nafas dengan wajah kesal. Ia menepiskan tangan Joe yang memegang sikutnya.

“Aku bisa sendiri,” ketus Juwita.

Joe tersenyum sinis mengikuti Juwita. Ia tidak suka dengan wanita yang sok perhatian pada bossnya.

Juwita memang putri salah satu direktur yang bekerja di bagian Humas dan sudah lama mengincar Greg yang berstatus duda.

Wanita sombong itu sering pamer dan bilang kalau dirinya adalah calon nyonya pemilik perusahaan padahal Greg tidak pernah menganggapnya lebih dari karyawan.

Bagi Greg, kedekatan mereka hanya sebatas pekerjaan dan demi perusahaan meskipun ayah Juwita terang-terangan minta pada Greg untuk menjadi menantunya.

“Masih aja tuh cewek nempel kayak ulat bulu,” sindir Charles, sahabat sekaligus dokter pribadi Greg.

Greg tidak menyahut hanya tersenyum tipis.

“Elo yakin kalau kondisi kepala gue baik-baik aja ?”

“Jadi elo nggak percaya dengan kecanggihan teknologi atau nggak yakin dengan kemampuan dokter-dokter spesialis yang ada di sini ?”

“Bukan begitu, pemeriksaan di Singapura juga sama aja hasilnya, tapi sakit kepala ini nggak mau reda meski udah minum obat sakit kepala.”

“Hasil analisa gue dan beberapa dokter di sini, elo menderita psikosomatis *). Sebaiknya elo menemui psikiater untuk mencari penyebabnya.”

“Maksud elo gue sakit jiwa ?”

“Mungkin karena udah waktunya elo mengakhiri status duda apalagi sebentar lagi umur kita udah kepala 4.”

“Nggak ada hubungannya !” sahut Greg dengan nada ketus.

Charles tertawa. Teman sekolahnya yang satu ini memang keras kepala.

“Atau jangan-jangan elo masih mengharapkan Mia ?” tanya Charles dengan mata menyipit.

“Masih betah hidup ?” tanya Greg dengan lirikan maut.

“Atau jangan-jangan elo udah nggak suka sama perempuan lagi ?”

“Elo yakin masih pantas jadi dokter spesialis ? Diagnosa pasien kok kayak main tebak-tebakan.”

Charles tidak tersinggung, malah kembali tertawa melihat kekesalan Greg.

“Joe bilang elo pingsan setelah bertemu 2 bocah di depan rumah Juwita. Dia juga bilang kalau bocah itu…”

“Nggak usah diterusin ! Gue nggak mau membahasnya. Gue mau istirahat, tolong tinggalkan gue sendirian dan titip pesan sama para perawat untuk tidak usah repot bolak balik ke kamar ini kalau nggak penting.”

“Mereka harus menjalankan prosedur, Greg.”

“Elo sendiri yang bilang kalau kondisi tubuh gue baik-baik aja jadi lupakan segala prosedur yang berlaku.”

Charles menghela nafas menatap Greg yang sudah merebahkam tubuhnya sambil memejamkan mata.

“Char, tolong bilang Joe kalau gue tidak menerima kunjungan termasuk dia kecuali gue minta.”

“Ada lagi ?”

“Nggak ada. Thanks a lot.”

Charles kembali menghela nafas sebelum keluar meninggalkan Greg sendirian.

Setelah memastikan tidak ada orang lain di kamar, Greg beranjak bangun. Di tangan kirinya terpasang jarum infus padahal ia merasa baik-baik saja.

Greg menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Bayangan kedua bocah itu benar-benar menganggu pikirannya hingga ia sulit memejamkan mata.

Greg seperti berkaca saat berhadapan dengan Senja dan melihat sosok lain dalam diri bocah lelaki yang bernama Langit itu.

LANGIT SENJA

Greg mengucapkan kedua nama dalam hatinya.

“Nama yang aneh,” gumamnya pada diri sendiri sambil tersenyum sinis.

Greg meraih botol air mineral yang disiapkan oleh Joe dan meneguknya sampai setengah dengan harapan hatinya bisa tenang lagi tapi degup jantungnya malah kembali berdetak tidak karuan.

Greg memejamkan mata sambil memukuli kepalanya dengan satu tangan, berusaha mengusir bayangan yang terus menganggu pikirannya.

“Jangan tinggalkan aku, Greg. Aku sedang hamil anak kita.”

“Demi nyawaku, Greg, aku tidak berbohong apalagi selingkuh darimu. Apakah kamu tidak bisa merasakan kalau aku sangat mencintaimu ?”

Greg menggeleng-gelengkan kepala sambil memukuli kedua pelipisnya dengan tangan, mencoba mengusir suara-suara yang kembali mengusik ingatannya.

“Greg !”

Charles yang baru membuka pintu dibuat terkejut dengan pemandangan di depannya. Ia bergegas menghampiri Greg dan langsung memegangi kedua tangan pria itu.

“Kepala elo sakit lagi ?” tanya Charles saat Greg sudah kembali tenang.

Greg menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Sorry kalau gue melanggar perintah elo,” ujar Charles.

“Maksudnya ?” Charles menoleh ke arah pintu diikuti oleh Greg.

”Selamat sore, Om.”

Mata Greg langsung membola, terkejut melihat ketiga mahluk yang berdiri di pintu kamarnya.

Bertemu

“Mia tunggu !”

Charles bergegas mengejar Mia yang langsung membawa anaknya pergi.

“Mia tunggu ! Tolong dengarkan penjelasanku dulu !”

Mia terpaksa berhenti karena Charles berhasil menahan lengannya. Ditatapnya pria itu dengan perasaan marah sekaligus kecewa.

“Kenapa dokter tidak bilang sejak awal kalau orang yang dicari anak-anak saya adalah dia !”

“Sudah 2 tahun ini Greg sering mengalami sakit kepala dan belum ada dokter yang bisa mendiagnosa penyakitnya.”

“Bukan urusan saya ! Dia sudah punya cukup banyak uang untuk mencari dokter atau apapun yang bisa menyembuhkannya.”

“Ini bukan soal uang karena Greg sudah melakukan pemeriksaan sampai ke luar negeri dan hasilnya baik-baik saja tapi rasa sakitnya tidak kunjung pergi.”

“Mungkin ini saatnya dia membayar karma,” desis Mia dengan senyuman sinis.

“Mungkin saja.”

“Tujuan saya kemari murni karena kedua anak ini ingin minta maaf padanya. Langit tidak bermaksud menendang bola ke arahnya apalagi sampai membuat dia pingsan, jadi tolong sampaikan permintaan maaf kami dan saya berjanji tidak akan membiarkan anak-anak ini mengulangi perbuatannya lagi.”

Charles menautkan alisnya dan menatap kakak beradik itu dengan wajah bingung karena bukan seperti itu kejadian yang ia dengar dari Joe.

Senja mundur ke belakang Mia dan menggelengkan kepalanya pada Charles. Tatapannya memohon supaya dokter itu tidak meralat ucapan Mia dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“Ayo kita pulang !”

Mia kembali menarik kedua anaknya namun lagi-lagi Charles menahannya.

“Mia tolong berikan aku satu kesempatan untuk mencoba pengobatan dengan cara yang berbeda. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi kalau sampai Greg menolak atau tidak ada kemajuan apapun dalam pengobatannya.”

“Tidak ada gunanya ! Suruh dia mengeluarkan lebih banyak uang untuk mencari jalan supaya bisa sembuh.”

Charles tidak ingin memaksa sampai tiga kali namun dahinya langsung berkerut saat melihat Langit menghentakkan tangan sampai terlepas dari genggaman Mia.

“Langit !” tegur Mia dengan tatapan galak.

”Langit tidak mau pulang sebelum bertemu Papi !” tegasnya dengan suara meninggi.

Bukan hanya Mia yang dibuat terkejut tapi Charles dan Senja sama kagetnya mendengar ucapan Langit.

“Maksud kamu apa Langit ?” tanya Senja dengan wajah bingung.

Mia menggeleng saat Langit menatapnya tapi bocah berusia 6 tahun malah menghela nafas panjang.

“Langit tahu kalau diam-diam Mami suka menangis sendirian sambil menatap foto papi dan mami saat jadi pengantin, Langit pernah meliht foto itu dan wajah papi sama dengan om yang tadi.”

Mia tidak menjawab dan membuang muka ke samping karena tidak sanggup melihat tatapan anaknya yang minta penjelasan.

“Langit kamu nggak bohong kan ? Om itu papinya kita ?”

Langit mengangguk tanpa keraguan sedikit pun.

“Senja juga mau ketemu sama Papi, Mi.”

Mia menggigit bibirnya, berusaha menahan gejolak hatinya hingga tanpa bisa ditahan, kedua sudut matanya mulai basah.

“Mami bilang Papi pergi jauh dan nggak akan pernah kembali lagi, terus kenapa sekarang Papi ada di sini ?”

“Senja, maksud Mami pergi jauh ya pergi bukan berarti Papi sudah meninggal.”

Senja mengangguk-angguk saat Langit memberikan penjelasan.

“Mami,” Langit menyentuh jemari Mia yang buru-buru menghapus air matanya.

“Langit mau ketemu Papi buat tanya kenapa nggak pernah datang menemui kita selama ini. Langit mau marahin Papi karena sudah membuat Mami sering menangis. Langit janji nggak akan pergi meninggalkan Mami biar Papi minta sama Langit.”

Senja ikut mendekat dan menggenggam jemari Mia yang sebelah lagi.

“Senja juga sama kayak Langit. Senja cuma pingin tahu kayak apa muka Papi tapi Senja nggak akan ninggalin Mami sekalipun teman-teman bilang kami ini anak haram karena nggak pernah tahu siapa papinya..”

Charles menghela nafas, menahan haru saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh kedua bocah berusia 6 tahun itu.

“Mami tidak mau om itu menyakiti Langit dan Senja karena baginya kalian bukan siapa-siapa.”

Langit dan Senja yang belum paham benar maksud ucapan Mia tidak terpengaruh. Tatapan keduanya masih berharap agar Mia memberikan ijin.

“Berikan mereka kesempatan, Mia. Aku akan mendampingi dan melindungi mereka seandainya Greg menolak atau bahkan menyakiti mereka secara verbal.”

Mia menghela nafas saat kembali menatap Langit dan Senja. Egonya ingin bilang tidak namun nuraninya sebagai seorang ibu merasa kalau kedua anaknya berhak tahu siapa ayah mereka.

“Kalau Om itu tidak mau bertemu, jangan memaksa. Cukup kalian minta maaf dan berjanji kalau kalian tidak akan mengganggu om itu lagi. Bisa ?”

Kedua bocah itu mengangguk sambil tersenyum.

“Mami tunggu di sini dan waktu kalian hanya 15 menit.”

“Yes !”

Keduanya sama-sama menggerakan tangan mereka lalu melakukan tos.

“Apakah setiap anak kembar selalu kompak seperti ini ?“

“Anda ahlinya, dokter Charles.”

Charles mengangguk-angguk sambil tersenyum lalu mengulurkan kedua tangannya, siap membawa si kembar menemui Greg.

Greg masih duduk di ranjang saat Charles masuk bersama Langit dan Senja.

Senja terlihat takut-takut sampai bersembunyi di balik tubuh Charles sedangkan Langit tanpa ragu menatap Greg yang mencoba bersikap biasa-biasa saja saat melihat wajah Langit yang begitu mirip dengan Mia.

“Selamat sore, Om,” sapa Langit sambil tersenyum tipis.

“Selamat sore, Om,” Senja ikut menyapa dengan malu-malu.

“Bagaimana kalian tahu kalau saya ada di sini ?”

Langit langsung menghela nafas, hatinya kecewa mendengar kalimat pertama yang diucapkan Greg. Sepertinya ia mulai mengerti kenapa maminya enggan menemui mereka dengan sang papi.

”Dari Ferdi, Om. Saya memaksa Ferdi untuk memberitahu kemana Tante Juwita membawa Om. Maaf kalau kami kepo dan membuat Om kesal.”

Greg menangkap kalau Lintang kesal dengan pertanyaannya. Bukan kebiasaanya mendadak canggung seperti ini apalagi laki-laki yang berbicara padanya hanya seorang bocah.

Senja yang paham dengan sifat Lintang langsung mendekat dan menggenggam jemari kembarannya. Hatinya juga merasa kecewa dengan sikap Greg namun Senja ingat dengan ucapan Mia kalau pria dewasa di depannya tidak pernah menganggap mereka.

“Kami kemari hanya ingin minta maaf, Om dan kami janji nggak akan datang ke rumah Ferdi lagi supaya tidak ketemu sama Om.”

“Siapa Ferdi ?” tanya Charles dengan alis menaut.

“Anak Juwita,” sahut Greg.

Charles pun mengangguk-anggukan kepalanya.

“Memangnya apa hubungan Ferdi dengan Om ini ?” tanya Charles kembali pada Langit dan Senja.

“Ferdi pernah bilang kalau dia akan punya papa lagi. Ganteng, keren dan orang kaya. Tadi siang kami lihat tante Juwita pulang dengan om ini,” tutur Senja panjang lebar.

“Tapi saya bukan calon papanya Ferdi,” tegas Greg dengan nada kesal.

Charles membuang muka ke samping sambil senyum-senyum melihat reaksi Greg.

“Karena om adalah papi kami ?”

“Senja !”

Senja langsung menutup mulutnya saat Langit menegurnya dengan keras.

“Maaf,” lirihnya dengan wajah menunduk.

Greg menatap ke arah Charles yang mengangkat kedua bahunya, menyuruh Greg bertanya langsung.

“Maaf kami sudah mengganggu Om. Kami pulang dulu.”

Langit menarik tangan Senja dan buru-buru mengajaknya keluar kamar. Suasana terasa aneh dan perasaan Langit juga tidak menentu.

“Tunggu !”

Langit dan Senja langsung menghentikan langkah mereka dan Charles tersenyum mendengar ucapan Greg.

“Bagaiamana kalian bisa bilang kalau saya adalah papi kalian ?”

Langit menghela nafas dan rasa kecewa kembali memenuhi hatinya. Bocah itu berbalik badan dan menatap Greg dengan tajam.

“Senja hanya ngomong asal-asalan karena dia ingin teman-teman berhenti memanggil kami anak haram jadi Om tidak usah terlalu ge-er atau berpikir kami iri pada Ferdi dan ingin punya ayah juga seperti Om.”

Greg terkesima mendengar jawaban Langit dan hatinya sedikit tercubit saat melihat mata Senja mulai berkabut menatapnya namun Greg masih bertahan dengan wajah datar dan biasa-biasa saja.

“Ayo Senja, maaf kalau aku salah melihat orang.”

“Tidak apa-apa Langit.”

Charles hanya bisa menghela nafas dan membiarkan kedua bocah itu pergi keluar kamar sedangkan Greg tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!